Title : Element Bracelets
.
Author : Ayugai Risa
.
Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae and other Super Junior member (13 + 2)
.
Pair : Haehyuk (Donghae x Eunhyuk) and other Super Junior official couple
.
Rated : T
.
Genre : Fantasy, Romance, Angst, Hurt/Comfort
.
Warning : Yaoi, BL (Boys Love), Boy x Boy, Typo(s), Alur Ngebut, Gak Sesuai EYD
.
Disclaimer : Semua tokoh dalam fic ini bukan punya Risa, Risa cuma minjem nama mereka. Tapi fic ini 100% punya Risa
.
"…" = Talking
'…' = Thinking
.
^^DON'T LIKE DON'T READ^^
.
^^ENJOY READING^^
.
.
"Akhirnya pulang juga~!" pekik Donghae setelah mendengar lonceng gereja SM berdentang untuk yang terakhir kalinya hari itu. Dia langsung mengambil tasnya dan mencolek-colek pundak Eunhyuk yang duduk di sebelahnya. "Hari ini kita aku akan mengantarmu pulang, chagiya. Kajja~"
"Sebentar, Hae, aku belum selesai berkemas," balas Eunhyuk sambil memasukkan semua barang miliknya ke dalam tas.
Donghae memasang wajah seimut mungkin dan terus menunggu namjachingunya itu dengan sabar. "Aish, nae Anchovy ternyata imut sekali jika dilihat dari samping seperti ini. Aku jadi ingin 'melahapmu' sekarang juga."
"Mwo? Apa maksud-"
GRAK!
Pertanyaan Eunhyuk diinterupsi oleh suara pintu kelas 11-B yang bergeser dengan keras. Segelintir anak yang belum keluar kelas menoleh ke arah sumber suara dan melihat segerombolan namja berbondong-bondong masuk ke dalam kelas itu.
"Minnie? Siwon-ah? Zhoumi-ah? Kyuhyun?" Eunhyuk memanggil satu per satu namja yang tiba-tiba menghampiri mereka.
"Mwo? Mau apa kalian ke sini?" tanya Donghae bingung. "Kenapa kalian tidak pulang?"
"Karena kami ada 'urusan' denganmu, Lee Donghae hyung~" jawab seorang namja berjaket Unknown dengan nomor punggung 3, diikuti dengan anggukan dari yang lainnya.
"Kenapa harus aku, Kyuhyun? Jangan-jangan… kalian akan membully aku karena aku anak baru?!"
"Mungkin iya, mungkin juga tidak," sahut Zhoumi misterius.
"Hyukkie, apa kami boleh pinjam namjachingumu khusus untuk hari ini? Besok akan kami kembalikan dengan utuh kok, tenang saja." Sungmin meminta izin pada sahabatnya itu.
"Tentu saja boleh, Minnie. Pakai saja dia sesuka hati kalian," jawab Eunhyuk setengah bercanda.
Setelah mendapat persetujuan, Zhoumi dan Siwon dengan sigap mengunci kedua lengan Donghae dari belakang. Donghae berusaha meronta-ronta, tapi tenaganya kurang kuat karena dia hanya sendirian.
"Jangan meronta-ronta begitu, Donghae. Itu hanya akan membuat tenagamu habis," ujar Siwon.
Donghae bertanya dengan nelangsa, "Kenapa kau mengizinkannya, chagi?! Jadi kau tidak mau pulang bersama dengan namjachingumu yang tampan ini?"
Tanpa diduga, Eunhyuk maju menghampiri Donghae dan mengecup hidung mancungnya. Keempat teman mereka dan murid lain yang menyaksikannya kontan saja tercengang, tidak ada yang menyangka kalau Eunhyuk akan melakukan itu.
"Bukan begitu, Hae. Aku yakin mereka pasti memiliki urusan yang penting denganmu, lagipula besok kita akan bertemu lagi kan? Jadilah anak yang baik dan jangan nakal, jangan lupa juga untuk mengirimiku SMS. Arra?" Eunhyuk mengelus-elus surai brunette Donghae seperti sedang menasihati anak kecil.
Donghae mengangguk dengan wajah imut dan senyum polos. "Arraseo, Hyukkie!"
"Wow, percintaan antar dua spesies yang berbeda," celetuk Kyuhyun. "Seekor ikan bisa takluk pada seekor monyet."
Celetukan sang magnae dibalas dengan deathglare dari pasangan Haehyuk, mereka tidak terima dipanggil ikan dan monyet. Tapi Kyuhyun santai-santai saja ditatap seperti itu, dia malah bersiul-siul riang seakan tidak memiliki dosa.
Sungmin tiba-tiba menepuk dahinya, ada sesuatu yang baru dia ingat. "Hyukkie, sebenarnya aku, Wookie, dan anggota Unknown lain ingin menanyakan sesuatu padamu sejak di kantin. Tapi perhatian kami teralihkan karena Zhoumi melakukan Truth or Dare," tambahnya sambil menunjuk namja bersurai merah di belakangnya.
"Apa yang ingin kalian tanyakan?"
Sungmin melanjutkan pertanyaannya dan menunjuk lengan Eunhyuk yang diperban. "Ada apa dengan tanganmu? Kenapa diperban?"
"Oh ini." Eunhyuk mengangkat tangannya itu. "Pada Jumat malam, tanganku tersayat pisau saat membantu eomma memasak."
Keempat temannya itu manggut-manggut mendengar alasan Eunhyuk yang dibuat-buat itu, dia tidak mungkin mengatakan bahwa luka itu disebabkan karena menahan cambuk dari sulur berduri yang diayunkan oleh Vincent bukan?
Lagipula bukankah ini ironis? Orang yang menyebabkan Eunhyuk terluka seperti itu sama dengan orang yang menanyakan kondisi Eunhyuk barusan. Ne, Vincent Lee dan Lee Sungmin adalah orang yang sama.
"Kajja, kita berangkat," ajak Sungmin sambil menggamit lengan Kyuhyun. Siwon dan Zhoumi mengikuti mereka di belakang, masih sambil menyeret Donghae.
"Jaga Hae baik-baik, chingudeul~" Eunhyuk melambai-lambaikan tangan pada rombongan itu, yang dibalas oleh acungan jempol dari mereka. Dia pun melanjutkan aktivitas membereskan barangnya yang sempat tertunda dan keluar dari 11-B setelah semuanya selesai.
Entah suatu kebetulan atau tidak, Eunhyuk berpapasan dengan Hankyung, Kibum, Yesung, dan Heechul di depan pintu kelas 11-B.
"Kenapa kalian ada di sini?"
Kibum menjawab, "Kami memang ingin menemuimu, Hyukkie hyung."
"Mwo? Untuk apa?"
"Sebaiknya kita bicarakan di mobilku saja, di sini terlalu berbahaya. Kajja," ajak Hankyung tanpa berbasa-basi lagi.
.
*SKIP TIME*
.
"Berlatih?" ulang Eunhyuk.
The Dark Seeker sedang berada di dalam mobil sport Hankyung dan mengarah menuju rumah pemimpin mereka itu. Kelimanya sudah sepakat bahwa rumah itu akan menjadi markas mereka mulai sekarang karena lokasinya yang strategis dan segala perlengkapan bertempur mereka, mulai dari gelang hingga jubah, berada di sana.
"Ne. Kita akan mengambil perlengkapan dulu di rumahku, lalu berlatih di suatu tempat supaya kita bisa lebih mengendalikan kekuatan elemen masing-masing. Bahkan Kibum, Yesung, dan Heechul sama sekali belum pernah menggunakan kekuatan mereka." Hankyung menjawab sambil menyetir mobil.
"Tapi masih ada satu tujuan lagi selain itu," tambah Yesung.
"Tujuan apa?"
Kali ini Kibum yang menjawab, wajahnya agak tegang. "Kita akan mengumpankan diri agar Conquistadores datang ke tempat kita."
"Mwo?! Untuk apa? Itu terlalu berbahaya!" protes Eunhyuk.
"Pabbo, justru itu ide yang bagus!" Heechul yang duduk di sebelah Hankyung akhirnya buka suara. "Kita bisa sekalian mengetes kemampuan kita dan mencari tahu sudah berapa banyak anggota mereka yang terkumpul. Bukankah begitu, Hannie?"
Wajah Hankyung langsung merona karena Heechul memanggilnya Hannie. "N… ne, kurang lebih seperti itu."
"Lagipula cepat atau lambat mereka pasti akan sadar kalau kita sedang menggunakan gelang elemen dan langsung melesat menuju tempat kita," sahut Kibum.
Eunhyuk terdiam sejenak. "Baiklah, aku setuju."
.
*SKIP TIME*
.
Setelah mengambil jubah, gelang, topeng, dan sebagainya di rumah Hankyung, mereka bertolak ke sebuah danau di pinggir hutan yang berhasil Kibum temukan atas rekomendasi teman sekelasnya. Hari sudah cukup larut, sekitar pukul tujuh malam.
"Kenapa tempat ini yang dipilih?" tanya Eunhyuk setelah kelimanya turun dari mobil dan menjejak di tanah berbatu di kaki mereka.
Dengan datarnya, Kibum menjawab, "Karena semua elemen yang kita miliki ada di sini. Tanah untuk Hankyung hyung, pepohonan untuk Yesung hyung, kegelapan malam untuk Heechul hyung, air danau untukku-"
"Bagaimana dengan elemenku? Dari tadi aku tidak melihat api di sini." Eunhyuk memotong penjelasan Kibum.
Heechul malah merogoh sakunya dan melemparkan sesuatu ke arah Eunhyuk, untung saja Eunhyuk dapat menangkapnya.
Eunhyuk memandangi benda di tangannya. "Korek gas?"
"Jangan banyak tanya lagi, kau bilang kau butuh api kan?" kata Heechul. "Dan jangan tanya aku dari mana aku mendapatkannya!"
"N… ne, hyung." Eunhyuk membatu dibentak seperti itu.
Yesung tertawa kecil. "Jangan takut begitu, Eunhyuk. Heechul memang bermulut tajam."
"Jadi kau lebih membelanya, Yesung?" cecar Heechul. "Mentang-mentang dia lebih muda dari kita eoh?"
"Aku hanya membela apa yang menurutku harus dibela," jawab Yesung santai. "Kalaupun aku memang berpihak pada Eunhyuk, percayalah kalau Hankyung pasti bersedia untuk membelamu."
Heechul bingung. "Apa maksudmu, Yesung?"
Hankyung memberi deathglare gratis pada Yesung, sementara yang ditatap serta Eunhyuk hanya tertawa. Yesung sengaja memberikan kode-kode agar Heechul tahu kalau Hankyung menyukai namja bermulut tajam itu.
"Sudah, lupakan saja bualan Yesung tadi. Kajja, kita mulai latihannya." Hankyung mengenakan topeng, gelang, dan jubahnya. "Oh iya, aku baru membordir nama samaran pada jubah milikku, Kibum, dan Eunhyuk. Punya Yesung dan Heechul akan menyusul."
Eunhyuk melihat punggung jubahnya. Terdapat tulisan The Dark Seeker cukup besar di bagian atas, lambang api di tengah, dan namanya di bagian bawah. Setelah puas memandangi jubah, Eunhyuk mengenakan seluruh atributnya.
.
.
"Spencer, coba kau contohkan bagaimana cara membuat Hot Scarf. Aku mau lihat," titah Casey yang terlihat semakin misterius dengan rambut, jubah, gelang, dan topeng serba hitam.
Spencer kemudian menyalakan korek gas milik Casey dan sebuah api kecil terbentuk di ujungnya. Dengan nekat, dia mengarahkan api itu ke lehernya.
"Pabbo, apa yang kau lakukan?!" Casey berniat maju untuk mencegah Spencer membakar diri, tapi Joshua merentangkan tangannya dan menghalangi jalan Casey.
"Sebaiknya kau perhatikan dulu baik-baik, Casey," ujar sang pemimpin.
"Hot Scarf," gumam si namja pengendali api.
Tiba-tiba api dari korek membesar dan menjadi seperti syal yang melilit leher Spencer. Jerome dan Casey tercengang melihat kejadian di hadapan mereka. Sementara Bryan dan Joshua tenang-tenang saja karena sudah pernah melihat sebelumnya.
"Kini giliranku," ucap Joshua. "Rock Shoes."
Sama seperti pada pertarungan sebelumnya, bebatuan di kaki Joshua bergerak dan menempel di sepatunya. Kini dia terlihat seperti memakai alas kaki dari batu.
"Kaki hyung sudah tidak terkilir lagi?" tanya Bryan.
"Aku sudah sembuh kok, dan seharusnya lenganmu juga sudah sembuh, Spencer."
"Molla, aku tidak terlalu yakin. Tapi aku akan melepas perbannya sekarang."
Dengan sekali tarik, perban putih dari lengan Spencer sudah terlepas dan terjatuh ke tanah.
Spencer kemudian menggerakkan tangannya itu. "Hyung benar, sudah tidak sakit lagi. Tapi masih ada sedikit bekas lukanya."
Setelah melihat kedua teman satu timnya membuat senjata, Casey berkata, "Kalau begitu sekarang giliran-"
Namun namja itu tidak melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba mereka berlima dikepung oleh sekumpulan orang berjubah putih yang muncul dari udara kosong.
Bukan, bukan udara kosong. Kalau kalian perhatikan baik-baik, ada yang muncul dari dalam danau, dari balik pepohonan, tepat di bawah cahaya lampu jalan, ataupun dari bagian gelap yang tertutup bayangan. Ada juga yang muncul saat angin sedang berhembus cukup kencang. Bahkan ada salah satu dari mereka yang muncul tepat di belakang Spencer.
"Conquistadores!" seru Joshua.
.
(Mulai sekarang, bagian battle akan dimulai. Risa saranin bacanya sambil nyetel EXO K - MAMA biar lebih dapet feel berantemnya, arra? :D)
.
"Aku menepati janjiku bukan? Aku datang saat luka kalian sudah sembuh," kekeh Dennis Park, pemimpin Conquistadores yang berteleportasi dengan bantuan hembusan angin.
'Cih, enam lawan lima. Kami kalah jumlah!' batin Bryan sembari memasang posisi siaga.
Namja di belakang Spencer berbisik di telinga Spencer. "Terima kasih karena telah meminjamkan api dari syalmu, topeng merah. Berkat itu, aku jadi bisa berteleportasi."
"Ya! Aku ini punya nama dan namaku Spencer Lee!" Spencer tidak terima dipanggil seperti itu, tapi ekspresi wajahnya berubah. "Tunggu… Berarti kau juga pemilik gelang elemen api?!"
Vincent Lee maju dari balik pepohonan sambil tertawa sarkastik. "Ternyata seorang Spencer Lee tetap saja pabbo, eoh? Dan kau tidak perlu menjawab pertanyaan namja itu, Koala," tambah Vincent yang ditujukan pada namja di belakang Spencer.
Tiba-tiba sebuah tawa menghina keluar dari bibir seorang anggota Conquistadores bertopeng hitam, semua orang yang ada di sana menatapnya dengan heran.
"Apanya yang lucu, Marcus Cho?" desis Koala pada rekan satu timnya itu.
"Hahaha, kenapa kau memilih nama samaran seperti itu, hyung? Aku tahu wajahmu memang mirip dengan binatang itu, tapi mana ada namja yang menggunakan nama samaran seperti itu!" jawab Marcus, masih sambil tertawa.
Koala mempout bibirnya. "Tadi aku sedang tidak punya ide, jadi ku gunakan saja nama binatang itu."
Sementara itu, anggota Conquistadores bertopeng kuning mencoba menarik temannya yang muncul dari danau. "Gwenchanayo?"
"Ne, gwenchana, Andrew." jawab si namja bertopeng biru.
"Wah, tubuhmu tidak basah. Padahal kau baru saja keluar dari air." Andrew Choi menatap si topeng biru dengan heran.
"Mungkin ini termasuk bagian dari kekuatanku."
"Sudah cukup basa-basinya!" Tanpa diduga Jerome berteriak marah, dia tengah menggenggam sehelai daun. "Leaf Dagger!"
Daun itu memanjang dan sisi-sisinya menjadi tajam seperti pisau, Jerome berhasil membuat senjatanya sendiri.
Lain lagi dengan Casey, dia menyentuhkan tangannya pada bayangan pohon di tanah. "Shadow Spear!"
Tiba-tiba bayangan itu seperti keluar dari tanah dan berubah bentuk menjadi tombak hitam panjang dengan ujung yang meruncing bagaikan pedang.
Bryan tidak meneriakkan nama senjatanya, dia hanya merentangkan tangannya ke arah danau. Cukup banyak air di sana yang menyatu dan membentuk sebuah pedang transparan untuk Bryan.
"Kelihatannya kalian sudah siap untuk bertempur," ucap Dennis sambil melihat senjata lawannya satu per satu senjata lawannya. "Kalau begitu kami juga tidak mau kalah, Zephyr Fan!"
"Aku pinjam lagi apinya ne," celetuk Koala sambil menyentuh Hot Scarf dengan kedua tangannya. "Flame Knuckle!"
"Death Scythe."
"Thorn Whip!"
"Liquid Tentacle!"
"Holy Arc."
Masing-masing anggota Conquistadores memunculkan senjata masing-masing dengan elemen di sekitar mereka. Marcus membuat Death Scythe, sabit besar seperti milik malaikat pencabut nyawa. Vincent dan Dennis menciptakan masing-masing Thorn Whip dan Zephyr Fan seperti biasanya.
Namja bertopeng biru membuat Liquid Tentacle, tentakel air yang terlilit di kedua lengannya. Andrew menciptakan panah dari cahaya yang dia beri nama Holy Arc, sementara Koala membuat Flame Knuckle, sarung tangan api dengan bermodalkan api dari Hot Scarf milik Spencer.
Karena posisinya yang menguntungkan, Koala langsung melayangkan tinju apinya ke arah kepala Spencer. Tokoh utama kita tentu aja tidak akan membiarkan dirinya terluka, dia memerintahkan Hot Scarf untuk melilit tangan musuhnya. Berhasil, pergerakan Koala terhenti karena lengannya tertahan.
"Untung saja elemen kita api, jadi kita tidak perlu takut terbakar," kata Koala sambil berusaha melepaskan tangan kanannya.
Spencer tidak menanggapi, tatapannya telah berubah dingin sekarang. Dia menggerakkan kakinya untuk menendang perut Koala, tapi Koala dapat menangkapnya dengan satu tangan yang bebas.
"Tidak semudah itu, Spencer."
Tanpa diduga, Koala menarik kaki Spencer yang dia pegang. Tak ayal lagi Spencer terjatuh ke tanah karena kehilangan keseimbangan, tenaga Koala jauh lebih besar dari tenaganya.
Belum sempat Spencer berdiri, ujung sabit Marcus ternyata sudah tertempel di lehernya. Walaupun belum sampai menggores, tapi Spencer bisa merasakan dinginnya benda tajam itu. Spencer tidak bisa bergerak, apalagi tatkala melihat senyum iblis yang terpatri di wajah stoic Marcus.
'Namja ini berbahaya, entah kenapa auranya terasa lebih menyeramkan dari anggota Conquistadores lain…' pikir Spencer ngeri.
"Koala hyung tidak akan bisa menang melawanmu, karena elemen kalian sama. Sekarang giliranku untuk bersenang-senang denganmu, kajja," ajak Marcus sambil menjilat bibirnya dengan tatapan lapar.
CRASSH!
Tanpa aba-aba, Marcus menebas leher Spencer dengan mudahnya. Anggota The Dark Seeker lain benar-benar tidak percaya melihat kejadian mengerikan itu.
Bryan langsung berlari menghampiri tubuh Spencer yang tergeletak tidak berdaya. "Andwaeee! Spencer hyung!"
Begitu tubuh Spencer sudah berada dalam jarak pandangnya, Bryan melihat suatu keanehan. Kepala Spencer masih terhubung dengan lehernya, bahkan tidak ada luka atau darah apapun di sana. Hanya saja matanya memang tertutup.
Melihat Bryan mendekat, Marcus langsung mengacungkan sabitnya pada Bryan. "Jangan dekati dia, pertarungan kami masih berlangsung."
Bukannya takut atau mundur, Bryan malah balas mengacungkan ujung pedangnya pada Marcus. "Apa yang sudah kau lakukan pada Spencer hyung?!"
"Aku tidak membunuhnya dan dia masih hidup, tenang saja. Aku tidak mau menyudahi permainan secepat itu, aku hanya mendatangkan mimpi buruk padanya. Itu salah satu kekuatan elemen kegelapanku."
"Mimpi buruk?"
"Ne, dia sedang tertidur dan mendapat mimpi terburuknya sekarang," jawab Marcus. "Karena kau sudah mengetahui semuanya, alangkah baiknya jika kau menghadapi musuhmu sendiri, Bryan Kim."
"Apa maks-"
CTAR!
Untung saja Bryan melihat pergerakan tiba-tiba dari belakang punggungnya, jadi dia bisa langsung menghindar. Ternyata barusan Vincent menyerang Bryan dengan Thorn Whipnya, suara barusan adalah suara dari ayunan cambuk sulur berduri itu.
"Annyeong, Bryan~ Akulah lawanmu kini," sapa Vincent pura-pura ramah.
Bryan mengalihkan perhatiannya, pedang airnya dia arahkan tepat ke dada Vincent.
"Berhati-hatilah, chagiya. Jangan sampai kau terluka," Marcus memperingatkan Vincent, yang ternyata adalah namjachingunya. "Dan kau, Bryan. Kalau sampai kau mengalahkannya, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu."
Bryan menjawab ucapan Marcus dengan meludah ke tanah. "Jika aku sudah menghabisi namjachingumu yang manis ini, kaulah yang akan menjadi lawanku berikutnya."
Vincent tertawa meremehkan. "Itupun kalau kau berhasil mengalahkanku, bocah."
.
.
Di lain pihak, Koala sudah mendapatkan lawan baru. Ne, dia optimis akan menang melawan Jerome Kim karena elemen apinya bisa membakar habis elemen tumbuhan milik Jerome.
"Cih!" Jerome berdecih kesal, dia baru saja menggerakkan batang pohon besar di belakangnya untuk dijadikan tameng karena Koala terus saja berusaha meninjunya dengan Flame Knuckle.
Koala tidak sempat menarik tangannya, jadi dia malah meninju batang pohon itu dan mengerang kesakitan. Tapi sarung tangan apinya menyebabkan pohon itu terbakar menjadi abu.
"Appo…" Koala mengelus jarinya yang kesakitan.
Jerome langsung memanfaatkan kondisi Koala yang sedang lengah, dia berniat menusukkan Leaf Dagger ke wajah Koala, tapi berhasil Koala hindari dan serangan tersebut hanya mengenai tulang pipi Koala.
"Aish, rasa sakitku jadi bertambah sekarang…" Koala mengusap darah yang mengalir di tulang pipinya dan menatap cairan kental itu sejenak. "Tapi tidak apa-apa, aku jadi bisa melihat cairan yang berwarna sama dengan rambutku ini."
Jerome tersentak saat melihat mata Koala menjadi lebih dingin kala melihat darah di tangannya, dan dia lebih kaget lagi saat Koala menjilat darah itu seperti menjilat sesuatu yang manis.
'Sial, sebenarnya manusia macam apa yang sedang ku hadapi saat ini?!' Jerome mengumpat dalam hati.
Koala bertanya, "Now, shall we start again?"
Dengan cepat, Koala meraih pisau daun milik Jerome dan menggenggamnya erat-erat. Jerome langsung melepaskan senjatanya agar tangannya tidak terbakar, segera saja Leaf Dagger di tangan Koala berubah menjadi abu.
'Tunggu…!' pikir Jeroma saat melihat sesuatu di belakang Koala. 'Aku bisa memanfaatkan situasi seperti ini untuk menyerangnya!'
"Kali ini giliranku untuk menyerangmu, Jerome!" Koala melayangkan tinjunya lagi ke arah Jerome.
Tapi apa yang terjadi? Jerome tiba-tiba menghilang dari hadapan Koala hanya dalam sekejap mata!
"Cih, dia berteleportasi!" Koala celingukan ke segala arah, berusaha menduga dari pohon mana Jerome akan muncul.
Beberapa menit kemudian, Jerome ternyata muncul dari balik semak-semak di belakang Koala. Dia berusaha menyerang dari titik dimana mata Koala tidak bisa melihatnya, di tangannya telah tergenggam Leaf Dagger yang baru.
DUAK!
Tapi apa? Sebelum Jerome sempat menyerang Koala, namja berelemen api itu sudah melihat keberadaan Jerome dan menendang perutnya. Jerome yang sama sekali tidak siap langsung terjatuh dan memuntahkan cukup banyak darah, matanya berkunang-kunang dan dia ambruk di kaki Koala.
"Gamsahamnida, Jerome. Kau pingsan dengan memuntahkan darah yang berwarna sama dengan rambutku."
.
.
Beberapa meter dari Jerome dan Koala, Joshua sedang melawan dua orang sekaligus. Dennis dan namja bertopeng birulah yang menjadi lawannya sekarang.
Dennis mengibaskan kedua kipasnya dan sebuah angin puyuh kecil terbentuk. Angin puyuh itu bergerak menuju Joshua. Joshua menghentakkan kakinya ke tanah dan tanah itu membentuk sebuah tembok besar yang melindungi Joshua. Angin puyuh Dennis pun menabrak tembok itu dan hilang, tidak berhasil mengenai Joshua.
"Jadi begini taktikmu, Dennis? Kau sengaja membuat keadaanku tidak imbang dengan bertarung satu lawan dua, eoh?" terka Joshua dari balik tembok.
Di luar dugaan, Dennis malah tertawa. "Picik sekali pikiranmu, Joshua. Aku kasihan pada anggota timku ini, dia tidak memiliki lawan untuk bertarung. Karena itu aku mengajaknya untuk membantuku, lagipula pasti dia merasa terhormat karena bisa membantu pemimpinnya bertempur. Bukankah begitu, Aiden?"
Aiden, si namja bertopeng biru, mengangguk. "Dennis hyung benar."
Kemudian Aiden memerintahkan Liquid Tentacle untuk bergerak diam-diam melewati tembok buatan Joshua. Joshua kaget karena tidak menyadari keberadaan tentakel itu, tiba-tiba saja kakinya sudah dililit oleh tentakel transparan itu.
"Sial!" umpat Joshua.
Dengan satu kali perintah, Liquid Tentacle menyentak kaki Joshua dan membuat kepala namja itu menabrak tembok buatannya sendiri. Karena cukup keras, tembok tidak permanen itu sampai hancur.
Dennis berjalan mendekati Joshua yang sudah tak sadarkan diri. "Ku rasa kau terlalu berlebihan, Aiden. Bahkan kepalanya sampai berdarah begitu, padahal aku masih ingin bermain-main dengannya. Ah, untunglah dia hanya pingsan," tambahnya setelah mengecek apakah Joshua masih bernafas.
Aiden membungkuk hormat. "Jeongmal mianhae, Dennis hyung. Lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi."
Dennis bergumam pelan sehingga hanya dirinya sendiri yang mendengar. "Tiga orang telah tumbang, sisa dua lagi."
.
.
.
TBC
^Author's Note^
KENAPA TBC-NYA NANGGUNG? *digorok reader*
Di chap ini udah kejawab kan Donghae masuk tim mana? Ne, Donghae alias Aiden Lee masuk Conquistadores dengan elemen air. Pasti pada sedih kan? Marah kan? Silahkan keroyok Risa rame-rame, karena sebenernya Risa udah ngerencanain semua sejak pertama kali ngetik fic ini *evil laugh* *dibantai reader* Tapi jujur aja, Risa nentuin semua anggota tim ini dengan undian, bukannya sengaja atau pengen ngebash mereka. Mianhae ne? ^^v
Gimana battlenya? Udah asoy? Biar lebih asoy, bacanya sambil dengerin EXO K - MAMA ya :3 Aigoo di chap ini Conquistadores tega banget! Eunhyuk, Yesung, sama Hangeng sampe dibikin kayak gitu. Aaa :'(
Next chap bakal ada battlenya Heechul sama Kibum, mereka ngelawan sisa anggota Conquistadores yang belom berantem~ Dan bakal ada juga isi mimpi buruknya Eunhyuk, jadi… TUNGGUIN NEXT CHAP YA~! *teriak lagi pake toa Zhoumi* *ditebas*
Waktunya bales review~
dhianelf4ever: Yang ketemu sama Teukie tuh Hae, dan dia masuk Conquistadores hehehe :3
angel wookie: Karena itulah hasil undian Risa *plak* Tenang aja, ini belom tentu kayak yang kamu pikirin kok ;)
hana ryeong9: Hehehe Risa kan penuh dengan kejutan, gak segampang itu ditebak :P Kangin udah muncul, tapi belom dapet gelang elemen. Ditunggu aja ne? :)
Anonymouss: Wkwkwk emangnya Hyukkie dkk imannya lemah? XD Ani, itu bukan Kangin, tapi Hae~ *evil laugh* Kangin udah nongol kok, tapi belom dapet gelang. Conquistadores kejer setoran tuh, 1 hari dapet 3 orang haha
Fitri jewel hyukkie: Ne, yang elemen air di tim jahat tuh Hae ^^
ressijewelll: Molla, silahkan dinantikan jawabannya :P Yah harapanmu gak terkabul chingu, Hae masuk tim Teukie. Mianhae *bow*
casanova indah: Wah jangan males dong chingu, tiap fic pasti punya kelebihan & kekurangan~ Ketagihan? Emangnya fic ini narkoba? XD *plak*
cho devi: Belom tentu The Dark Seeker itu baik atau Conquistadores itu jahat ^^ Henry sama Kangin? Belom tau deh, tungguin aja ne?
Rio: Wow ada juga namja yang baca fic ini, Risa kagum (?) X3 Tertarik? Emangnya fic ini magnet? *duak* Ini udah Risa lanjut~
Just Call Me Guest: Masa Risa baru tau kalo kamu itu namja, lebih muda dari Risa pula ._. Jinjja? Risa jadi malu :$ Gwenchana, Risa malah seneng sama reviewer yang suka cuap-cuap ^^
Huge thanks for:
indahpus96 / dhianelf4ever / kyukyu / nyukkunyuk / cherrizka980826 / Park Ri Yeon / AmaterasuUchih1 / heeli / angel wookie / futari chan / nurul. p. putri / Chwyn / hana ryeong9 / Anonymouss / Fitri jewel hyukkie / ressijewelll / Yecky lucky linang / casanova indah / RieHaeHyuk / cho devi / Lee Eun In / Rio / Just Call Me Guest / nvyptr
Also for the Silent Readers and everyone who follow and favorite this fic. Thank you for your appreciation! ^^
Akhir kata, boleh Risa minta review dari readerdeul? Gak baik lho jadi Silent Reader terus (?) Lagian Risa gak bakal gigit (?) kalian kok, jebal~ *aegyo bareng Hyukie & Minnie*
