Title : Element Bracelets
.
Author : Ayugai Risa
.
Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae and other Super Junior member (13 + 2)
.
Pair : Haehyuk (Donghae x Eunhyuk) and other Super Junior official couple
.
Rated : T
.
Genre : Fantasy, Romance, Angst, Hurt/Comfort
.
Warning : Yaoi, BL (Boys Love), Boy x Boy, Typo(s), Alur Ngebut, Gak Sesuai EYD
.
Disclaimer : Semua tokoh dalam fic ini bukan punya Risa, Risa cuma minjem nama mereka. Tapi fic ini 100% punya Risa
.
"…" = Talking
'…' = Thinking
.
^^DON'T LIKE DON'T READ^^
.
^^ENJOY READING^^
.
.
~Eunhyuk POV~
Aku membuka indra penglihatanku, namun aku terpaksa sedikit mengernyit untuk membiasakan mataku dalam menerima banyaknya cahaya yang masuk.
Setelah terbiasa, aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Aku sedang terduduk di lantai dalam sebuah ruangan serba putih, tidak ada benda-benda apapun di dalam sini. Hanya ada aku yang terlihat kontras dengan jubah hitam The Dark Seeker.
"Di mana aku?" gumamku sambil menangkupkan kedua tangan di wajah, berusaha menarik keluar ingatan tentang hal-hal yang terjadi sebelum aku tiba di ruangan aneh ini.
"Ah, aku ingat sekarang… Kami dikepung oleh Conquistadores, lalu Marcus menebas leherku dengan Death Scythe miliknya. Apa itu berarti aku… sudah mati?" Lagi-lagi aku bergumam.
Setelah menyingkirkan kedua mataku, aku menengadah. Tiba-tiba saja sebuah tembok putih berdiri kokoh di hadapanku, lengkap dengan pintu yang juga putih. Padahal seingatku, tadi aku duduk persis di tengah ruangan.
Kemudian aku bangkit dan memutar gagang pintu itu, ingin tahu apa yang ada di luar sana. Dan lagi-lagi mataku harus membiasakan diri lagi, namun kali ini dikarenakan begitu gelapnya sesuatu yang ada di depan pintu itu.
Setelah mengerjapkan mata beberapa kali, aku tersentak. Aku sekarang berada di suatu tempat yang hanya pernah ku kunjungi sekali seumur hidupku, namun di tempat inilah aku mengalami peristiwa yang berhasil mengubah hidupku.
"London…" gumamku ternganga.
Kini aku berdiri di tengah jalan raya yang lebar namun kosong, tidak ada kendaraan apapun yang berlalu lalang di sana. Persis di sebelah jalan ini, Big Ben berdiri menjulang dengan indahnya. Kalau saja langit malam di atas kepalaku menaburkan bintang-bintangnya, mungkin saja pemandangan malam ini akan semakin sempurna.
Aku pernah membaca di sebuah buku, hal ini disebabkan oleh lampu-lampu jalan ataupun kendaraan yang menyala di malam hari dan membuat langit menjadi terang. Akibatnya, bintang pun kalah terang dan seperti tidak nampak di langit. Padahal sebenarnya mereka ada, hanya saja kalah terang dengan cahaya buatan manusia tersebut.
Itulah yang dinamakan 'pencemaran cahaya'. Fenomena ini memang kurang populer jika dibandingkan dengan pencemaran udara, pencemaran tanah, pencemaran air, ataupun pencemaran suara yang bisa membahayakan benda mati maupun makhluk hidup di dunia. Sebagian orang mungkin akan berpikir, kehidupan mereka tidak akan terganggu hanya karena bintang tidak terlihat bukan? Mungkin satu-satunya orang yang akan merasa terganggu akan pencemaran cahaya hanyalah para peneliti luar angkasa, karena objek yang akan mereka teliti menjadi berkurang.
Lagipula zaman sekarang jarang sekali ada manusia yang menyempatkan diri untuk menengadah ke langit bukan? Mereka terus menatap jalanan di depan mereka agar tidak terjadi tabrakan, atau hanya menunduk ke bawah karena takut dipelototi senior dan agar tidak disuruh mengerjakan soal di depan kelas oleh guru.
Sebagian besar orang hanya melihat setinggi batas pandangan matanya saja, itulah yang membuat mereka jarang menengadah ke atas dan melihat langit.
Aku mengacak rambutku frustasi. "Kenapa mendadak kau menjadi orang yang sok bijak begini, Lee Hyukjae? Kau seperti orang gila yang berbicara dengan kepalanya sendiri. Kau harus mencari cara untuk keluar dari sini!"
Begitu aku celingukan kesana kemari, aku tersentak. Sekarang tidak hanya ada aku sendiri di jalan raya ini. Entah sejak kapan dan muncul dari mana, lautan manusia telah memenuhi jalan ini. Mereka semua menatap satu titik yang sama, yaitu jarum si menara jam yang menunjukan pukul 11:45 malam. Aku dikelilingi oleh mereka, turut berdesakan di tengahnya.
Aku memegangi dadaku yang mulai naik-turun karena sesak nafas dan membatin, 'Oh Tuhan, ku mohon jangan sekarang… Agoraphobia-ku tidak boleh kambuh sekarang…'
Sekali lagi terjadi sesuatu yang pasti tidak mungkin terjadi di dunia nyata, seorang anak kecil lewat di depanku dengan berdesakan melewati tubuh orang dewasa yang menjulang di atasnya. Kelihatannya berusia kurang lebih sepuluh tahun.
Pasti ada beberapa dari kalian yang berpikir, 'Apanya yang aneh? Dia hanya anak kecil biasa.' atau 'Kita sering bertemu dengan anak kecil di dunia nyata bukan?'
Coba kalian perhatikan anak itu sekali lagi. Anak berjenis kelamin namja itu memiliki surai hitam yang tidak terlalu gondrong, bertubuh kurus, dan rahangnya tegas. Aku yakin kalau anak itu tersenyum, pasti gusinya akan terlihat seperti senyumnya Monkey D. Luffy, tokoh dalam manga One Piece.
Ne, dia adalah aku. Lee Hyukjae saat masih berumur sepuluh tahun.
Entah apa yang sudah Marcus perbuat padaku, tapi kelihatannya dia berusaha mengembalikan ingatanku pada masa lalu. Karena tidak mungkin memutar waktu untuk kembali ke masa lalu, jelas-jelas Marcus tidak menggunakan mesin waktu.
Di tempat inilah, aku memiliki agoraphobia untuk pertama kalinya.
Kakiku tergerak untuk mengikuti anak yang tidak lain adalah diriku sendiri, aku terus berdesakan melewati orang-orang asing yang berhamburan di jalan. Karena kurang lebih ini adalah ingatan masa laluku, mungkin saja aku bisa membuat anak itu terhindar dari agoraphobia yang akan sangat menyusahkan dirinya di masa depan.
Supaya kalian tidak bingung, aku akan menceritakan sedikit masa laluku ini. Saat aku berumur sepuluh tahun, orangtuaku mengajakku untuk berlibur ke ibukota Inggris ini. Kami akan merayakan malam pergantian tahun bersama dengan orang-orang di jalan, karena itulah orang di sekitarku saat ini sedang menengadah menatap Big Ben.
Naasnya, aku terpisah dengan eomma dan appa karena betapa ramainya jalanan ini. Aku berusaha mencari mereka, terus berdesakan melewati orang-orang asing yang lebih tinggi dariku. Kala itu nafasku sangat sesak karena aku mencari sambil menangis, selain itu aku juga kekurangan pasokan di tengah lautan manusia seperti ini.
Tersesat di negeri orang dan tidak tahu cara kembali ke hotel adalah hal yang mengerikan bukan? Bagaimana jika aku tidak bisa bertemu dengan eomma dan appa lagi selamanya?
Sudah cukup ceritanya, karena kalian pasti akan mengerti jika melihat gelagat anak kecil itu sekarang. Dia terlihat mulai kelelahan, nafasnya terengah dan…
BRUK!
Persis seperti pengalamanku dulu, kaki kecil anak itu tak kuasa lagi menyangga berat tubuhnya dan akhirnya dia terjatuh.
"Berdirilah, Eunhyuk! Kau bisa terinjak-injak kalau terus seperti itu!" Aku berteriak-teriak seperti orang gila pada anak itu, apalagi nama kami sama.
Tapi anehnya tidak ada seorang pun yang mendengar teriakanku, padahal tubuhku terasa padat di sini. Walaupun aku berada pada ingatan masa laluku, tapi aku bukanlah sosok gaib yang bisa seenaknya melayang menembus orang lain.
Entah anak itu mendengar atau tidak, dia mulai bangkit saat tubuhnya nyaris terinjak oleh orang-orang dewasa di sekelilingnya. Dia menyeka air matanya dan mengatur nafas, kemudian dia memulai pencariannya lagi.
Aku kembali mengingat apa yang akan terjadi setelah ini. Kalau tidak salah, aku pernah berpikiran begini, 'Karena mustahil mencari eomma dan appa di tengah kerumunan manusia seperti sekarang, sekarang aku harus mencari orang dewasa yang bisa membantuku menemukan mereka.'
Benar saja, anak itu mulai beringsut menyingkir dari lautan manusia dan mengarah ke satu titik yang sengaja dikosongkan dari keberadaan manusia. Kelihatannya anak itu tahu, ada orang dewasa yang bisa membantunya di titik itu. Aku pun mengikutinya dari belakang, memastikannya selamat.
Ternyata titik itu adalah pos polisi yang sengaja dibentuk untuk mengamankan malam pergantian tahun di depan Big Ben itu, aku bisa melihat kalau ternyata di sana sudah ada sepasang suami-istri yang sedang berbicara dengan salah satu polisi. Sang istri sedang menangis tersedu-sedu, sementara sang suami mendekap erat pundak istrinya dan membicarakan sesuatu dengan sang polisi.
Ne, merekalah eomma dan appaku. Aigoo, mereka tetap terlihat awet muda dan mesra seperti pada masaku sekarang.
Aku tidak keluar dari kerumunan, agar tidak menarik perhatian orang-orang di pos polisi itu. Diriku versi umur sepuluh tahun langsung menghambur ke sana begitu melihat appa dan eommanya (sebenarnya mereka juga appa dan eommaku sih).
"Appa! Eomma!" pekik anak itu, lagi-lagi air matanya tidak bisa terbendung. Ternyata aku yang sekarang dan yang dulu sama saja, sama-sama cengeng.
Tepat saat anak itu dipeluk oleh eomma dan appa, lonceng di Big Ben berdentang ke seluruh penjuru London. Jarumnya telah menunjukan tepat pukul 12 tengah malam, tahun pun akhirnya berganti. Suara terompet bersahut-sahutan dan kembang api berbagai warna telah diluncurkan ke langit, menambah semaraknya malam itu.
"Selamat tahun baru, eomma, appa, dan versi lebih kecil dari diriku…" gumamku sambil menatap keluarga kecil di pos polisi, sebulir air mata lolos dari kelopak mata dan turun begitu saja mengikuti garis rahangku.
Ada satu hal yang perlu kalian catat dalam benak kalian. Walaupun aku berhasil menemukan eomma dan appa, tapi sejak itulah aku memiliki ketakutan terhadap keramaian, yang biasa disebut dengan agoraphobia.
Aku mengusap air mataku sejenak, dan…
DEG!
Pemandangan di depanku telah berubah. Tidak ada lagi Big Ben, tidak ada lagi pos polisi, tidak ada lagi keluargaku versi masa lalu.
~Eunhyuk POV~
.
.
~Author POV~
Eunhyuk berada di sebuah ruangan serba hitam, namun yang membuatnya kaget adalah kenyataan bahwa ada banyak orang bertudung putih yang berdiri di hadapannya. Wajah mereka tidak terlihat karena tertutupi tudung kepala, tapi Eunhyuk bisa melihat iris mata mereka yang semerah darah.
Agoraphobia Eunhyuk kambuh lagi. Nafasnya memburu, otaknya tidak bisa memikirkan apa-apa, jantungnya berpacu dahsyat, dia peluk tubuhnya yang gemetar hebat sambil memandang orang itu dengan tatapan ketakutan.
Eunhyuk mencoba mundur ke belakang, karena seingatnya di sana tidak ada siapa-siapa. Tapi punggungnya seperti membentur dinding yang tidak terlihat, bahkan tangan dan kakinya juga seperti terikat oleh rantai yang tak berwujud. Dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
Orang-orang itu semakin mendekat, mengepung Eunhyuk dari segala arah. Eunhyuk menggigil, keringat dingin mulai mengucur deras dari pori-pori tubuhnya. Semua orang di hadapannya itu merentangkan tangan untuk menjangkaunya, di wajah mereka terpatri seringai jahat yang seakan mencabik-cabik organ dalam Eunhyuk.
Bahkan sekarang tawa jahat khas Marcus mulai terngiang di kepala Eunhyuk. Sang namja bersurai hitam tidak bisa lagi membendung air matanya, dia meringkuk di bawah sambil menutup mata. Tangannya dia gunakan untuk menutup telinga, sementara dia bisa merasakan derak nafas orang-orang itu.
"AAAAAAAAAA!"
.
(Mulai sekarang, battle akan dilanjut. Silahkan setel EXO K - MAMA biar lebih dapet feel berantemnya :D)
.
"AAAAAAAAAA!"
Sementara itu di dunia nyata, Bryan dan Casey terkejut saat mendengar teriakan seorang namja. Begitu melihat ke arah suara, ternyata Spencer telah berada dalam posisi meringkuk dengan tangan menutupi telinga. Walaupun telah berteriak seperti itu, matanya masih saja terpejam.
"Spencer hyung!" pekik Bryan.
"Marcus, apa yang terjadi dengan Spencer?" tanya Dennis yang telah menyelesaikan pertarungannya, dia berdiri di sebelah Marcus dan keduanya tengah mengamati Spencer.
"Nampaknya mimpi buruknya telah dimulai, hyung."
Dennis tertawa kecil. "Sayang sekali aku tidak bisa melihat isi mimpi itu, aku penasaran seberapa buruknya mimpi yang dia alami."
"Hyung ingin mengalaminya? Aku bisa menebas leher hyung dengan Death Scythe." Marcus mengacungkan sabit miliknya ke leher Dennis.
Melihat kejadian itu, Aiden langsung berdiri di antara Dennis dan Marcus. Liquid Tentacle-nya telah terulur mengancam di wajah Marcus.
"Apa kau gila, Marcus? Jangan menyerang pemimpinmu sendiri!" sahutnya.
Di luar dugaan, Dennis dan Marcus malah tertawa terbahak-bahak. Tentu saja Aiden bingung, kenapa dia malah ditertawakan?
"Aku ini cuma bercanda, Aiden hyung. Aigoo, ternyata kau adalah tipe orang yang tidak bisa diajak bercanda!" seru Marcus di sela derai tawanya. "Dennis hyung saja tidak mengeluarkan reaksi apa-apa, tapi kenapa malah kau yang marah? Pabbo!"
Dennis menepuk pundak Aiden dari belakang. "Tapi aku hargai kesetiaanmu itu, Aiden. Gomawo karena sudah melindungiku, walaupun sebenarnya Marcus memang tengah bercanda."
"N… ne. Cheonmaneyo, hyung…" Aiden bergumam dengan wajah merona karena malu.
Bryan hanya bisa mengertakkan gigi dengan geram, bisa-bisanya ketiga orang itu bercanda di atas penderitaan orang lain. Tapi dia tidak bisa menerjang ketiganya begitu saja, karena dia harus menepati janjinya untuk mengalahkan Vincent Lee yang sedang tersenyum mengejek di depannya.
.
.
Casey tengah melompat kesana kemari guna menghindari anak panah yang terus-menerus diluncurkan oleh Holy Arc milik Andrew, Shadow Spear miliknya tidak bisa menjangkau Andrew karena jarak mereka cukup jauh.
Andrew menghela nafas. "Kenapa kau selalu saja menghindar, Casey?"
"Aku tidak akan menjadi seperti ini kalau kau berhenti menyerangku dengan panah bodohmu itu, bocah!" sembur Casey.
"Hahaha, mianhae. Tapi aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu itu."
Andrew kembali membuat anak panah dari cahaya lampu jalan di atasnya, tapi kali ini tiga sekaligus. Dia membidik Casey dan menembakkan ketiganya dengan busur.
Karena jaraknya terlalu dekat, Casey tidak bisa menghindar dan terpaksa menggunakan Shadow Spearnya sebagai tameng. Dia memutar-mutarkan tombak itu di depan tubuhnya bak baling-baling, ketiga anak panah Andrew pun lenyap karena menabrak tombak itu.
Selagi Andrew belum membuat anak panah lagi, Casey langsung berlari menerjang Andrew dan mengarahkan Shadow Spear ke arah namja bertopeng kuning itu. Andrew tidak bisa mengelak, Holy Arc miliknya tidak bisa digunakan dalam pertarungan jarak dekat.
Mendadak Andrew mendapat ide, masih ada satu hal yang bisa dia lakukan dalam posisi genting begini. Karena beresiko, Andrew melakukannya sambil memejamkan mata.
JLEB!
Andrew membuka matanya, ternyata Casey berhasil menusukkan Shadow Spear cukup dalam di bagian pundak. Rasa sakit mulai menjalar ke seluruh tubuhnya dari titik itu. Tapi…
"N… nampaknya kondisi kita seri, Ca… Casey…" gumamnya dengan susah payah.
Ternyata beberapa detik sebelumnya, Andrew berhasil membuat dua anak panah dan menusukkannya dengan cepat di perut Casey.
"An… Andrew, kau b… brengsek…" umpat Casey.
Akhirnya mereka berdua tumbang bersamaan, pertempuran mereka barusan kurang-lebih dapat menyimbolkan pertentangan antara The Dark Seeker dan Conquistadores. Antara cahaya dan kegelapan, kejahatan dan kebaikan. Walaupun kita tidak tahu siapa di antara mereka yang benar atau salah.
Tapi bagaimana kalau tidak ada satupun pihak yang benar atau salah di antara keduanya?
.
.
"Dennis-gege, Andrew dan Casey saling serang dan pingsan bersamaan." Koala melaporkan apa yang baru saja dia lihat.
Dennis mengalihkan perhatiannya dari Spencer dan berbalik menghadap Koala. "Jinjja? Di mana mereka?"
Koala menunjuk satu titik dimana terdapat dua tubuh yang tergeletak berdekatan, satunya berjubah hitam sementara yang lain berjubah putih.
Sebenarnya kondisi tempat itu sudah cukup mengenaskan. Tubuh Joshua tergeletak di dekat reruntuhan tembok buatannya sendiri yang membuat kepalanya berdarah, tubuh Jerome juga tergeletak dengan genangan darah di dekat mulutnya. Casey dan Andrew pingsan pada jarak yang berdekatan, sementara Spencer masih meringkuk tak sadarkan diri dengan dikelilingi anggota Conquistadores yang penasaran melihatnya.
Tanpa sadar Koala menjilat bibirnya sendiri. "Aish, indah sekali pemandangannya. Ada banyak darah yang tumpah di tanah."
"Aku tidak menyangka kalau kau sebegitu sukanya dengan darah, Koala hyung," Marcus menggeleng-gelengkan kepala. "Ku kira selama ini kau adalah namja baik-baik dan normal."
Aiden memekik, "Jangan-jangan kau itu psycho? Atau vampire?!"
Koala tertawa. "Molla, awalnya aku hanya menyukai warnanya. Tapi ternyata rasanya juga tidak buruk, seperti besi."
"Tentu saja sama, darah kan mengandung zat besi." Marcus memutar bola matanya. "Aigoo, apa Koala hyung tidak pernah menyimak pelajaran IPA?"
"Mianhae karena telah menginterupsi pembicaraan seru kalian," pekik seseorang dari kejauhan. "Tapi bisakah kalian memelankan suara kalian? Aku tidak bisa konsentrasi bertarung!"
Dennis, Koala, Aiden, dan Marcus menengok, ternyata Vincent yang berteriak begitu. Dia melakukannya sambil terus menyerang Bryan, sementara Bryan hanya bisa menghindar.
Marcus melambai-lambaikan tangan "Mianhae, chagiya! Apa hyung perlu bantuan?"
"Tidak usah, karena kelihatannya orang di depanku ini sudah mulai kelelahan." Vincent mengerling Bryan.
Memang benar, nafas Bryan sudah putus-putus karena harus selalu menghindari Thorn Whip milik Vincent.
"Jangan remehkan aku!" Bryan mencoba menebas Thorn Whip agar terpotong.
Tapi bukannya terpotong, cambuk dari sulur berduri itu malah menyerap pedang air milik Bryan hingga habis tak bersisa. Bagaikan tanaman yang selalu diberi air dan pupuk, kini Thorn Whip memanjang dan membesar dua kali lipat dari ukuran sebelumnya.
CTAR!
Dengan sentakan horizontal, Vincent berhasil melukai dahi Bryan hingga mengeluarkan darah. Kini wajah Bryan telah dikotori oleh cairan merah pekat yang terus mengucur itu, tubuhnya juga terpental karena serangan tersebut cukup keras.
"Yes! Akhirnya aku berhasil melukaimu, bocah!" pekik Vincent girang.
Sambil berusaha berdiri, Bryan berhasil membuat pedang air yang baru dengan bantuan air danau. Tapi dia tidak tergesa-gesa untuk menyerang Vincent agar tidak terjadi kesalahan untuk yang kedua kalinya.
Vincent tertawa sarkastik. "Untuk apa kau membuat pedang baru lagi, Bryan Kim? Apa kau tidak pernah belajar dari kesalahanmu tadi, atau kau malah ingin membantuku untuk memperbesar Thorn Whip?"
Bryan tidak menjawab, peluh mulai bercucuran di wajahnya karena kelelahan. Seakan ingin menghapus peluhnya, sebuah angin malam nan dingin baru saja melewati Bryan. Bukan, itu bukan angin dari Dennis, itu benar-benar angin malam.
Kemudian Bryan merasakan sesuatu yang tidak wajar, pedang di genggamannya tidak lagi terasa basah. Tapi…
'Kenapa jadi terasa dingin?' batin Bryan.
Dia melirik pedang airnya dan cukup terkejut, pedang di genggamannya telah membeku menjadi pedang es! Apa ini karena pedang itu juga terkena angin malam tadi?
Vincent tidak menyadari perubahan pada senjata Bryan, karena itu Bryan tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dia menghunuskan pedangnya ke arah Vincent dan berlari menerjangnya.
Aiden, yang menyadari pergerakan tiba-tiba dari Bryan, berteriak, "Vincent, awas!"
Vincent langsung menoleh, tapi dia sudah terlambat untuk mengeluarkan reaksi apapun karena jaraknya dan Bryan sudah terlampau dekat. Vincent hanya bisa pasrah…
TRANG!
Terdengar bunyi seperti besi beradu. Ternyata sebelum pedang es Bryan menyentuh Vincent, Marcus berlari ke sana dan melindungi namjachingunya dengan Death Scythe. Kini Marcus berdiri di antara Bryan dan Vincent.
Mungkin karena syok, Vincent malah jatuh pingsan di belakang Marcus.
"Wah wah wah, jadi kau mempunyai senjata baru, eoh? Apa kau sudah punya nama untuknya?" tanya Marcus.
"Frozen Saber," jawab Bryan. "Singkirkan sabitmu itu atau kau akan ku tebas bersama Vincent."
"Sombong sekali kau," ejek Marcus. "Sekarang Vincent hyung pingsan dan itu karena kau mencoba menyerangnya, jadi aku tidak akan pernah mengampunimu!"
Bryan menambah tenaganya untuk mendorong sabit Marcus, tapi Marcus juga tak mau kalah. Mereka sedikit demi sedikit bergeser dari posisi mereka semula karena dorongan yang mereka buat.
"Romantis sekali Marcus, dia melindungi namjachingunya dengan seluruh jiwa dan raga," puji Aiden. "Seandainya aku juga bisa seperti itu terhadap namjachinguku sendiri, sayang sekali Hyukkie tidak tahu kalau aku memiliki kekuatan gelang elemen."
Memang benar apa yang dikatakan oleh Aiden, namun dia tidak tahu kalau namjachingunya itu juga memiliki kekuatan gelang elemen. Bahkan orang itu tergabung dalam tim yang menjadi musuh dari Conquistadores.
Mungkin hubungan Aiden dan Spencer yang seperti ini bisa disebut dengan 'bad romance'.
.
.
Bryan dan Marcus masih saja beradu senjata. Saling menyerang, saling bertahan. Sejauh ini keduanya belum menderita luka apapun, karena mereka mempertahankan diri dengan baik dari serangan lawan.
Tapi jauh di dalam benaknya, Bryan baru saja menyadari beberapa kejanggalan. Apa sajakah itu?
'Jika aku tidak salah dengar, Koala memanggil Dennis dengan sebutan 'gege'. Bukankah itu sebutan untuk kakak laki-laki dalam bahasa Mandarin?' batin Bryan.
DEG!
Tiba-tiba jantung Bryan berdebar, sebuah fakta lain baru saja lewat dalam kepalanya. 'Koala memiliki rambut merah dan dia orang Cina, jangan-jangan dia…!'
SSSH…
Karena lengah, Bryan tidak menyadari kalau Koala telah berada di sana dan menggenggam Frozen Saber dengan Flame Knuckle-nya, pedang dari es itu tentu saja langsung meleleh di tangan Koala.
Setelah sadar, Bryan melompat menjauh dari jangkauan tangan Koala. Dirinya sudah tak bersenjata sekarang.
CRASSH!
Tapi apa? Bryan tetap saja tidak bisa menghindari jangkauan Death Scythe milik Marcus, namja berelemen kegelapan itu berhasil melukai kaki kanan Bryan dengan tebasan vertikal. Darah segar mulai mengucur deras, mengenai celana Bryan yang sobek dan menetes ke tanah.
"Asyik, ada darah lagi~!" Koala bertepuk tangan girang. "Setelah dahi, sekarang kakinya yang berdarah~"
"Kau harus berterima kasih padaku, hyung. Karena aku telah membuatmu senang," celetuk Marcus.
"Ne, ne. Gomawo, Marcus."
Koala menatap bergantian Bryan dan kaki Bryan yang berdarah. "Sekarang, apa yang akan kita lakukan pada namja yang tersudut ini?"
Bryan benar-benar tak bisa berkutik sekarang. Tepat di belakangnya, danau biru menghampar luas. Duo namja mengerikan dari Conquistadores masih berdiri di depannya. Tidak jauh darinya, Dennis dan Aiden masih mengamati Spencer. Apa yang harus dia lakukan? Dengan kakinya yang berdenyut-denyut itu, berlari pun tidak akan memungkinkan.
Bryan merasa dirinya terlalu lemah. Dia tidak bisa melindungi Spencer, sampai-sampai sunbaenya itu mendapat mimpi buruk dari Marcus. Dia juga tidak bisa membantu Casey, Jerome, dan Joshua dalam menghadapi lawan-lawan mereka. Lihatlah sekarang, ketiganya sudah tergolek pingsan di tanah.
Yang tersisa hanyalah dirinya seorang diri, terhimpit dalam kondisi yang tidak menguntungkan dengan kaki serta dahi terluka dan tangan tak bersenjata.
"AAAAARRGGH!" Bryan berteriak sambil menjambak rambutnya frustasi.
Tanpa diduga, air danau di belakang Bryan membentuk ombak besar yang tinggi menjulang.
BYUUUR!
Ombak besar itu pun menghantam semua yang ada di pinggir hutan tersebut, baik manusia maupun benda mati. Bryan sama sekali tidak bergerak dari tempatnya, elemen air yang dia miliki membuat dirinya kebal terhadap air. Dia mengedarkan pandangannya untuk melihat kondisi sekitar.
Tempat itu sudah porak-poranda, tubuh anggota The Dark Seeker yang pingsan terlempar beberapa meter dari tempat sebelumnya. Bahkan Marcus, Dennis, dan Koala juga terhempas, namun mereka masih tersadar.
"Sial! Kekuatan macam apa itu?!" seru Marcus.
"Hebat juga dia…" Dengan tubuh yang basah kuyup, Dennis mencoba berdiri.
"Argh! Flame Knuckle-ku!" Koala menatap tangannya muram, sarung tangan api kebanggaannya sudah padam terkena air.
Yang masih berdiri kokoh hanyalah Aiden, karena dia juga berelemen air seperti Bryan.
"Mwo? Kenapa aku tidak kenapa-kenapa?" Aiden sendiri tercengang, kenapa hanya dia dan Bryan yang masih bertahan.
Dennis berkata, "Ku rasa hari ini cukup sampai di sini. Marcus, gendonglah Vincent. Koala dan Aiden, boponglah Andrew. Kajja, kita pulang."
"Kenapa?! Padahal tinggal dia sendiri yang belum dikalahkan, gege!" protes Koala sambil menunjuk Bryan.
Dennis menjawab dengan nada selembut malaikat, namun penuh penekanan semengerikan iblis. "Karena permainan ini tidak akan seru tanpa pion yang lengkap, Koala. Kedua belah pihak belum menemukan semua anggotanya, jadi tidak akan seru kalau mereka kalah begitu saja sekarang. Apa masih ada lagi yang ingin kau keluhkan?"
Ketua Conquistadores mengeluarkan senyum penuh ancamannya pada Koala. Diberi senyum seperti itu, Koala hanya bisa menelan ludah dan menggeleng cepat.
Dennis berjalan menghampiri Bryan. "Dan kau, ingatlah ucapanku baik-baik. Aku tidak akan pernah membiarkan tim jahat seperti kalian mengacaukan perdamaian dunia."
Bryan marah sekaligus heran. "Apa maksudmu? Kau tidak sadar kalau tim pimpinanmulah yang sebenarnya jahat?!"
Dennis berdecih. "Terserah kau sajalah mau mengaku atau tidak, karena memang tidak pernah ada orang jahat yang akan mengaku jahat. Satu hal yang pasti, kali ini timmu kalah."
Dennis berbalik dan berteleportasi menggunakan angin malam yang bertiup, anak buahnya pun mengikuti jejak sang pemimpin dan berteleportasi. Meninggalkan Bryan yang masih mencoba mencerna ucapan Dennis.
.
.
Dengan sangat susah payah, Kibum membopong tubuh teman-temannya satu per satu dan mendudukkan mereka di dalam mobil Hankyung. Untung saja dia cakap dalam mengemudikan mobil, jadi dia merogoh saku Hankyung dan mengambil kunci mobil tersebut untuk menjalankan kendaraan Hankyung.
Selama di perjalanan, kaki Kibum terus saja berdenyut-denyut tiap kali Kibum menginjak pedal gas dan rem. Tapi Kibum menahan segala rasa sakit yang dia derita di sekujur tubuhnya, dia harus segera menyadarkan keempat temannya.
Kibum sudah memutuskan akan melaju ke rumah Hankyung. Begitu sampai di sana, Kibum sempat bingung. Di mana dia harus membaringkan tubuh mereka? Tapi dia yakin, orang sekaya Hankyung mungkin saja memiliki kasur yang besar.
Benar saja, ternyata kasur di kamar Hankyung berukuran king size dan cukup untuk menampung empat orang yang pingsan. Setelah membaringkan keempatnya bersebelahan, Kibum meminta bantuan pelayan rumah Hankyung untuk mengambilkan kotak P3K. Dia berdalih, mereka baru saja berpiknik dan terjadi kecelakaan di lokasi.
Kibum mengobati mereka berempat sendirian. Dia membersihkan darah yang mulai mongering di kepala dan perut Heechul, kemudian memberinya antiseptik. Kibum sedikit ngeri melihat luka tusuk di perut Heechul, walaupun sebenarnya tidak dalam. Sebagai sentuhan akhir, Kibum membalut luka mereka dengan perban.
Kibum mengamati Eunhyuk dan Yesung, tidak ada luka luar di tubuh mereka. Seingat Kibum, perut Yesung ditendang dan kaki Eunhyuk dihentak oleh orang yang sama, yaitu Koala.
Setelah selesai dengan temannya, Kibum mengobati dirinya sendiri. Kini dia terlihat seperti mumi, dengan kaki dan kepala dibalut perban. Dia menatap cemas Hankyung, Eunhyuk, Heechul, dan Yesung bergantian.
"Hyungdeul, ireona. Jebal…"
.
.
Yesung membuka matanya dan mengerjap beberapa kali untuk menerima cahaya yang masuk. Dia cukup bingung melihat lampu yang bertengger di atas, bukankah harusnya dia pingsan di bawah langit malam?
Setelah mendudukkan diri, Yesung melihat sekelilingnya. Dia berada di dalam sebuah kamar, Eunhyuk tertidur di sebelahnya, dan Hankyung menatapnya cemas dari kaki tempat tidur.
"Yesung! Akhirnya kau sadar!" Hankyung langsung memeluk Yesung dengan lega, kepala namja Cina itu terbalut perban.
"Appo…" Yesung mengaduh kesakitan dan memegangi perutnya. Melihat itu, Hankyung langsung melepaskan pelukan mereka.
"Mianhae, Yesung-ah. Apa pelukanku terlalu erat?"
"Gwenchana, Hankyung-ah. Bukan kau yang membuat perutku sakit, ini akibat tendangan dari si Koala itu." Yesung teringat kejadian saat Koala menendang perutnya, mungkin itulah yang menyebabkan perut Yesung menjadi sakit. "Di mana yang lain? Dan kenapa Eunhyuk belum sadar?"
"Heechul sedang membuatkan teh untuk kita semua, dan itu Kibum." Hankyung menunjuk sudut kamarnya, di sana Kibum sedang memandang keluar jendela kamar.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kita semua terluka begini, bahkan Eunhyuk juga belum sadar," tanya Yesung.
"Molla, aku juga pingsan karena diserang Aiden dan Dennis."
Di saat bersamaan, Heechul datang membawa baki dengan empat cangkir teh di atasnya. Karena semuanya sudah berkumpul, Kibum bangkit dan menghampiri hyungdeul-nya dengan terpincang-pincang.
"Heechul, gwenchana? Apa perutmu masih sakit?" tanya Hankyung cemas.
"Masih sedikit sakit, tapi tidak separah saat Andrew menusuknya."
"Aku akan menceritakan semua yang terjadi selama kalian pingsan," gumamnya.
Kibum menceritakan segala peristiwa yang terjadi selama pertempuran tadi, termasuk tentang Frozen Saber dan ombak besar yang dia buat.
Tapi ada satu hal yang sengaja tidak dia beritahukan, yaitu mengenai ucapan Dennis yang mengatakan kalau The Dark Seeker-lah yang jahat.
Seusai Kibum bercerita, terjadi keheningan panjang di antara mereka. Tidak ada satupun yang membuka suara, mereka terlalu bingung ingin mengatakan apa.
"Sebaiknya kita mencari cara untuk menyadarkan Eunhyuk." Hankyung berdiri di sebelah hoobaenya yang masih pingsan. "Aku takut terjadi apa-apa dalam mimpi buruknya."
"Aku akan mencoba melakukan sesuatu, karena elemenku dan Marcus sama-sama kegelapan," ujar Heechul.
Heechul lalu membungkuk menyentuh bayangannya dan membuat Shadow Spear dari bayangan tersebut. Dia berdiri di sebelah Hankyung, menyentuhkan tangannya pada tangan Eunhyuk, lalu…
JLEB!
Heechul menusukkan Shadow Spear tersebut tepat ke jantungnya. Kalau saja Hankyung tidak menangkap tubuhnya, tubuh namja cantik itu pasti akan terjatuh ke lantai.
"Gwenchana, jantungnya masih berdetak," kata Hankyung begitu melihat tatapan ngeri dari Yesung dan Kibum. "Ku rasa dia menggunakan cara yang sama seperti Marcus, tapi dengan tujuan yang berbeda."
.
.
"Pergi! Jangan sentuh aku, jebal… Aku takut…" isak Eunhyuk.
Di dalam mimpi buruknya, Eunhyuk masih saja menangis memohon agar orang berjubah putih di sekelilingnya segera menghilang. Dia tidak tahu sudah berapa lama ketakutan seperti ini, rasanya seperti seabad. Matanya sudah lelah terus mengucurkan air mata.
JLEB!
Eunhyuk mendengar suara tusukan berkali-kali dan memberanikan diri untuk mendongak. Gerombolan jubah putih telah menghilang, kini seseorang berjubah hitam berdiri di hadapannya dan mengulurkan tangan.
"Aku datang untuk menjemputmu, bocah. Kajja, kita kembali," ajak namja yang ternyata adalah Heechul, nada bicaranya tetap saja ketus. "Barusan akulah yang membunuh gerombolan aneh tadi, tapi berterima kasihnya nanti saja setelah kita kembali ke dunia nyata."
Saking girangnya, Eunhyuk langsung memeluk Heechul setelah bangkit dengan bantuan namja cantik itu.
"Heechul hyung, jeongmal gomawo! Akhirnya ada yang datang untuk menyelamatkanku!" pekiknya sambil menangis terharu.
"Aish, lepaskan! Sesak, pabbo!"
Wujud mereka berdua perlahan menghilang dari dunia serba hitam itu.
.
.
.
TBC
^Risa's Note^
AKU MENANG KUIS BERHADIAH MUG SHINEE LHO! Gak dapet tiket SMTown, mug pun jadi~ Ada gambar mereka pas Dazzling Girl pula, alhamdulillah… Rada galau juga sih karena gak bisa nonton SMTown. Selain karena gak punya duit, Risa juga takut agoraphobia-nya kambuh :'(
Karena banyak yang ngeluh kalo chap kemaren kependekan, chap ini malah Risa jadiin chap terpanjang yang pernah Risa buat. Semoga gak ngebosenin ya ^^ Gomawo buat Kim Sang Ri yang pernah ngusulin The Dark Seeker dibikin tumbang, supaya gak menang terus-terusan dan gak ngebosenin :)
Di chap ini Kibum/Bryan yang jadi centernya, Frozen Saber sama ombak yang (gak sengaja) dia bikin keren banget! Dia juga kayaknya sadar sama identitas Zhoumi/Koala & agak bingung sama omongannya Leeteuk/Dennis. Dan untung Heechul bisa nyelametin Eunhyuk dari mimpi buruk :')
Kalo ada yang reviewnya belom pernah dibales sama sekali, kasitau Risa aja. Risa akan nyoba adil pada semua~ *dibakar pake Hot Scarf*
Time to reply the reviews!
nyukkunyuk: Wah daebak, kamu bisa nebak kalo mimpinya bakal kayak gitu *applause* Risa sengaja bikin Mimi rada psycho, tapi cuma pas ngeliat darah. The Dark Seeker masih kurang 2 dong, kan mereka baru ber-5. Selamat menebak siapa anggotanya~
ressijewelll: Untuk saat ini masih rahasia, ditunggu aja gimana jadinya :3
myhyukkiesmile: Udah tau kan isi mimpinya apa? Pemenangnya masih rahasia :P
dewdew90: Gak juga ah, Kyumin sama Hanchul satu tim tuh :)
cherrizka980826: Gimana ya~? Kasitau gak ya~? *duak* Ini udah Risa usahain bikin battle yang menegangkan, semoga suka :3
RieHaeHyuk: Hae alias Aiden masuk Conquistadores, coba kamu baca di Author's Note chap sebelumnya karena Risa udah jelasin di sana :) Ada, tapi belom tau kapan. Ditunggu aja
triple3r: Siapa sih author yang bikin fic ini? Tebalikin aja dia! (?) Ne, Risa juga kasian T,T
Just Call Me Guest: Aaa mianhae, Risa udah panjangin chap yang ini kok. Semoga se-wow harapan kamu *bow* Suju oppadeul dapet gelang semua kecuali Shindong oppa, dia punya peran sendiri nanti. Elemen Wookie? Rahasia :P
cho devi: Rahasia dong~ Lagian tim jahat yang dulu gak mati kok, si bungsu udah minta sama naga supaya mereka dibangkitin lagi. Mimi-ge jadi psycho cuma pas liat darah :D
HyumilikHae: Gomawo pujiannya~ Pasti ada hikmah kok di balik permusuhan HaeHyuk (?)
AngeLeeteuk: Jangan tahan nafas, ntar sesek lho (?) Gak dong, Risa kan pengen fic ini unpredictable, supaya readernya penasaran :P
angel wookie: Karena Risa gak pengen The Dark Seeker jadi terlalu superior, kan ngebosenin kalo mereka menang mulu. Hae/Aiden masuk Conquistadores, udah ketauan di chap sebelum ini :)
hana ryeong9: Problem kayak gimana contohnya? Nanti Risa pikirin lagi deh, siapa tau ada konflik yang pas ;)
GrisELF VIP: Nyut-nyutan? Makanya minum obat! *plak* Hae ada tuh, tapi di tim Conquistadores 3:)
dinEunHae: Yang udah terjadi biarlah terjadi (?) Tenang, Risa gak setega itu kok ;)
yumiewooki: Liat nanti oke? Gak seru kalo dibocorin sekarang ^^
Huge thanks for:
AmaterasuUchih1 / Anonymouss / kyukyu / me / Arit291 / Guest / nurul. p. putri / nyukkunyuk / futari chan / Lee Eun Jae / ressijewelll / casanova indah / myhyukkiesmile / indahpus96 / Lee Eun In / Fitri jewel hyukkie / dhianelf4ever / dewdew90 / cherrizka980826 / RieHaeHyuk / triple3r / Just Call Me Guest / cho devi / HyukmilikHae / AngeLeeteuk / angel wookie / Chwyn / Sikyuminkihae / Lia Sabrina Aisyah / hana ryeong9 / GrisELF VIP / dinEunHae / yumiewooki / Rio
Also for the Silent Readers and everyone who follow and favorite this fic. Thank you for your appreciation! ^^
Akhir kata, boleh Risa minta review dari readerdeul? Gak baik lho jadi Silent Reader terus (?) Lagian Risa gak bakal gigit (?) kalian kok, jebal~ *aegyo bareng Hyukie & Minnie*
