Title : Element Bracelets

.

Author : Ayugai Risa

.

Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae and other Super Junior member (13 + 2)

.

Pair : Haehyuk (Donghae x Eunhyuk) and other Super Junior official couple

.

Rated : T

.

Genre : Fantasy, Romance, Action, Angst, Hurt/Comfort

.

Warning : Yaoi, BL (Boys Love), Boy x Boy, Typo(s), Alur Ngebut, Gak Sesuai EYD

.

Disclaimer : Semua tokoh dalam fic ini bukan punya Risa, Risa cuma minjem nama mereka. Tapi fic ini 100% punya Risa

.

"…" = Talk

'…' = Think

.

^^DON'T LIKE DON'T READ^^

.

^^ENJOY READING^^

.

.

Heechul tidak bisa mempercayai perkataan Eunhyuk barusan. "Apa katamu? Bisa kau ulangi?"

"Aku tidak akan mau terlibat dengan gelang elemen dan lain sebagainya, aku akan kembali ke kehidupanku yang normal," jawab Eunhyuk mantap. "Aku... tidak tega menghadapi teman-teman dan namjachinguku sendiri."

Tanpa diduga Heechul menyambar kerah baju Eunhyuk, keduanya saling melempar tatapan tajam dari jarak yang dekat.

"Pengecut! Seharusnya kau tidak usah menjadi anggota The Dark Seeker sejak awal! Harusnya kau sudah memikirkan segala resikonya saat pertama kali Hannie memintamu untuk bergabung! Kau ini namja atau bukan?!" sembur Heechul. "Jangan-jangan selama ini kau hanya ingin bersikap seperti superhero? Dasar bocah!"

DEG!

Eunhyuk mengejang, ucapan Heechul tepat menghujam ke jantungnya. Sunbae-nya itu benar, tidak pernah terlintas di benaknya kalau dia akan berhadapan dengan Sungmin, Donghae, dan anggota Conquistadores lainnya. Dia tidak pernah membayangkan resiko memiliki kekuatan seperti ini.

Yesung menepuk pundak Heechul. "Hyung, hentikan. Lihatlah, dia sampai memucat begitu karena kau bentak."

Heechul memprotes, "Tapi dia tidak akan pernah mengerti kalau tidak dibentak seperti ini, selama ini dia menganggap kalau kekuatan kita bagaikan superhero di komik-komik!"

"Chullie, biar aku yang mengambil alih." Hankyung melepaskan tangan Heechul dari kerah Eunhyuk, akhirnya dia angkat bicara. "Sebagai pimpinan The Dark Seeker, aku izinkan kau untuk vakum dari tim sampai batas waktu yang tidak ditentukan."

"Mwo? Apa kau gila, Hannie?! Kita bisa kekurangan kekuatan saat menghadapi Conquistadores nanti!" Heechul tidak terima.

"Heechul hyung, menghadapi musuh tidak selalu menggunakan kekuatan fisik semata," sindir Eunhyuk.

"Tapi itu jauh lebih baik daripada melarikan diri sepertimu, setidaknya kita sudah berusaha untuk menghentikan dan menyadarkan mereka," balas Heechul tidak kalah sengit.

"Heechul hyung, Hyukkie, hentikan! Jangan sampai terjadi perpecahan dalam tim hanya karena masalah seperti ini!" Yesung memperingatkan.

Keheningan total menyerbu mereka setelah Yesung berkata demikian, masing-masing sibuk memikirkan entah-apa dalam kepala mereka.

Akhirnya Eunhyuk beranjak dari tepi kolam dan memunggungi keempat temannya.

"Aku pulang dulu, gamsahamnida karena kalian telah mengizinkanku untuk bergabung dalam The Dark Seeker selama kurang lebih seminggu ini. Dan mianhamnida karena aku tiba-tiba memutuskan untuk vakum hanya karena masalah sepele," gumamnya lirih. "Meski begitu, kita masih tetap bisa berteman dan berbincang-bincang."

Eunhyuk membalikkan badannya, ternyata dia sudah menumpahkan air matanya lagi. Kemudian dia membungkuk sembilan puluh derajat dan keluar dari rumah Hankyung.

Tapi saat hendak pergi, Eunhyuk berani bersumpah kalau Kibum membisikkan sesuatu dengan sangat pelan.

"Kabur tidak akan pernah menyelesaikan masalah, Hyukkie hyung."

.

*SKIP TIME*

.

Keesokan harinya, sikap Eunhyuk berubah 180 derajat seperti bukan dirinya. Dia menjadi pemurung, pendiam, dan menghindari Donghae serta teman-temannya yang lain. Walaupun duduk bersebelahan dengan Donghae, dia sama sekali tidak menegur. Jangankan berbicara, bahkan kontak mata pun dihindari oleh Eunhyuk.

"Hyukkie, sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau jadi berubah begini…?" gumam Donghae tatkala Eunhyuk membuang muka darinya untuk yang kesekian kali hari ini.

Sekedar informasi, anggota Conquistadores yang sudah mengetahui identitas asli The Dark Seeker hanyalah Kyuhyun. Yang lainnya, bahkan Leeteuk sekalipun, belumlah sadar. Karena itu Donghae tidak tahu alasan mengapa Eunhyuk mencoba menghindarinya.

Saat istirahat pun Eunhyuk langsung bangkit dan meninggalkan kelas 11-C, karena pasti Donghae akan mengajaknya ke kantin. Dia sama sekali tidak berkeinginan untuk pergi ke kantin, karena di sana semua teman-temannya pasti akan berkumpul.

Teman-teman?

Masihkah sebagian dari mereka layak Eunhyuk sebut sebagai teman, kalau mengingat fakta bahwa mereka adalah anggota Conquistadores?

Eunhyuk tidak tahu kemana dia akan pergi sekarang, dia ikuti saja arah yang ditujukan oleh kakinya. Yang pasti dia tidak bisa pergi dari sekolah ini, karena bel pulang belum berdentang.

Dari kejauhan Eunhyuk dapat melihat Kibum sedang berjalan menuruni tangga bersama murid lain, cepat atau lambat mereka pasti akan berpapasan.

Kibum juga dapat melihat Eunhyuk dari tempatnya sekarang, tapi apa? Ketika dia hendak menyapa sunbae-nya itu, Eunhyuk malah membuang muka dan berjalan begitu saja melewatinya.

Eunhyuk akhirnya tiba di atap SM High School, tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada sebuah gundukan hitam yang tergeletak di atas deretan bangku, tapi Eunhyuk tidak peduli. Dia berjalan gontai menuju pagar pembatas agar bisa melihat kendaraan yang berlalu-lalang di bawah sana.

Karena tidak ada yang menarik, Eunhyuk mendongak ke atas. Langit biru nan cerah dengan awan yang berarak sedang menaunginya saat ini, sangat bertolak belakang dengan suasana hati Eunhyuk yang porak-poranda.

Eunhyuk ingat, di atap ini Donghae pernah menyatakan cinta dan mengecup keningnya. Saat itu Donghae belum memintanya menjadi namjachingu, karena dia hanya mengatakan 'saranghanikka'.

Eunhyuk tidak yakin apakah hubungannya dengan Donghae akan semulus yang mereka harapkan. Di kehidupan sehari-hari, mereka boleh saja terlihat seperti sepasang kekasih yang selalu mesra. Tapi di sisi lain, mereka adalah musuh yang mungkin saja akan membunuh satu sama lain.

Karena tidak bisa dibendung lagi, sebutir air mata jatuh menuruni rahang tegas Eunhyuk. Dia tidak bisa menceritakan mengenai masalahnya pada orang lain, karena dia pasti akan menyebut-nyebut gelang elemen yang bisa membuat orang lain gempar.

Lagipula dia lelah, sampai kapan dia akan menghindari teman-temannya? Bisa-bisa dia kehilangan teman-temannya itu.

"Mianhae, Hae… Mianhae, chingudeul… Jeongmal mianhae…" isak Eunhyuk.

Yang tidak Eunhyuk sadari, gundukan hitam yang tadi Eunhyuk lihat mendadak bergerak dan mengeluarkan suara. Saat Eunhyuk melihatnya, dia langsung bergidik ngeri.

Eunhyuk bergumam, "A… apa itu?"

Rupanya itu bukanlah gundukan hitam, tapi seorang murid namja yang baru saja terbangun dari tidurnya. Karena jas SM High School berwarna hitam dan namja itu bertubuh agak gemuk, makanya dia terlihat seperti gundukan hitam.

Namja itu berdiri, meregangkan tubuhnya, dan melihat Eunhyuk yang masih terpaku di tempat. Eunhyuk buru-buru menghapus air matanya, tidak ingin namja itu memergokinya sedang menangis. Dan setelah selesai mengucek mata, barulah Eunhyuk menyadari siapa namja itu.

"Shi… Shindong hyung?!" pekik Eunhyuk.

"Annyeong, ketua kelas. Apa yang kau lakukan di sini? Kau ingin menghukumku karena tidak mengikuti pelajaran?"

Namja itu adalah Shin Donghee, atau yang biasa dipanggil Shindong. Namja bertubuh agak gemuk itu adalah teman sekelas Eunhyuk di 11-B, terkenal dengan hobi makannya yang membuat tubuhnya seperti itu. Walaupun sekelas dengan Eunhyuk, tapi umur Shindong lebih tua satu tahun. Dia berteman akrab dengan Kangin si ketua klub bela diri.

"A… ani, aku hanya sedang mencari udara segar saja, rasanya penat setelah menghadapi pelajaran yang rumit." Eunhyuk memaksakan diri untuk tertawa. "Hyung sendiri kenapa tidak mengikuti pelajaran tadi?"

Shindong menjawab santai, "Aku bosan dan mengantuk karena begadang semalam, jadi aku memutuskan untuk tidur saja di sini. Toh jarang ada guru yang datang ke sini, jadi aku tidak akan ketahuan."

Keduanya tertawa bersamaan. Setelah tawa mereda, Shindong melanjutkan, "Ngomong-ngomong, tadi aku melihatmu sedang menangis. Ada apa? Ceritakan saja padaku, aku tidak akan membocorkannya. Aku bisa menjaga rahasia dengan baik."

Eunhyuk memandang Shindong dari atas ke bawah, seperti sedang menilai namja tersebut. Eunhyuk akhirnya memantapkan diri untuk menceritakan semuanya, karena sejauh ini Shindong memiliki reputasi yang baik dan humoris. Apalagi Eunhyuk membutuhkan tempat untuk menceritakan segala keluh kesahnya.

Sang pemilik elemen api akhirnya menceritakan segalanya dari awal pada Shindong, sementara Shindong mendengarkan dengan seksama. Sesekali Shindong menampilkan wajah terkejut mendengar penuturan Eunhyuk yang bisa dikatakan tidak logis, tapi Shindong tetap mendengarkan.

Tapi selain terkejut, entah kenapa Shindong juga terlihat tertarik dengan topik gelang elemen yang Eunhyuk ceritakan.

"Jadi ternyata namjachingu dan teman-temanmu adalah musuhmu sendiri?" Shindong membuat rangkuman sendiri setelah penuturan Eunhyuk selesai.

Eunhyuk mengangguk. Walaupun wajahnya muram, tapi dia merasa kalau beban pikirannya sedikit berkurang setelah bercerita pada Shindong.

"Sebaiknya kau jangan kaget, tapi…" Shindong berhenti sebentar. "Aku tahu banyak tentang gelang elemen. Appaku adalah ahli sejarah, appa pernah membaca sebuah tulisan yang terpahat di dinding kuil yang terletak di pedalaman hutan. Sayang sekali kuil itu runtuh tak lama setelah appa mengunjunginya."

'Perkamen milik Hankyung hyung ditemukan di gua oleh si pemilik toko barang antik, Bummie bilang Leeteuk hyung menemukan perkamennya di padang pasir, dan sekarang appanya Shindong hyung menemukan sebuah kuil yang berhubungan dengan gelang elemen di pedalaman hutan,' batin Eunhyuk. 'Naga itu benar-benar memisahkan semuanya dengan baik.'

Eunhyuk bertanya. "Lalu apa saja yang tertulis di sana?"

Shindong menggaruk lehernya. "Sebenarnya aku juga bingung harus memulai dari mana, karena sejujurnya aku tidak mempercayai keberadaan gelang itu. Tapi tiba-tiba kau datang dan menceritakan semuanya seperti ini, makanya aku kaget."

"Jika seseorang telah menemukan keberadaan gelang elemen itu, maka otomatis pemilik dari gelang-gelang tersebut adalah orang-orang yang berada di lingkungannya sendiri. Karena kebetulan Leeteuk hyung adalah ketua OSIS SM High School dan Hankyung hyung akan pindah ke sini, maka anggota lainnya pun ada di sekolah ini."

Eunhyuk mengangguk-angguk paham. "Jadi begitu? Awalnya aku juga kaget, ku kira aku harus berkeliling dunia untuk mencari anggota lain."

"Apa dari kedua tim telah menemukan seluruh anggotanya?"

"Belum. Timku masih dua orang lagi, sementara Conquistadores tinggal satu. Waeyo?"

Raut wajah Shindong berubah serius. "Jika kedua kelompok telah menemukan semua anggotanya, maka tim jahat akan mulai menampakkan sifat asli mereka. Ah bukan, sifat asli yang dibawa oleh gelang jahat milik si sulung dulu."

"Tim jahat? Bukankah sebenarnya tidak ada tim yang jahat? Buktinya kedua perkamen itu menuliskan hal yang sama."

Shindong menggeleng. "Sebenarnya ada."

Mata Eunhyuk melebar kaget.

"Walaupun kedua pihak memiliki perkamen yang bertulisan sama, namun sebenarnya tetap ada tim yang jahat. Gelang yang dimiliki oleh si sulung menghisap sifat jahat tim si sulung dan terus menyimpannya hingga sekarang, menunggu untuk menyalurkan sifat tersebut pada pemiliknya yang baru. Kau harus mencari tahu siapa tim jahat itu, apakah timmu atau Conquistadores," lanjut Shindong.

"Bagaimana caranya? Beritahu aku, hyung!" Eunhyuk mengguncang pundak Shindong tidak sabar.

"Ketika kedua tim bertemu lagi dengan semua anggota yang telah lengkap, maka bagian iris mata dari tim yang jahat akan berubah warna menjadi merah. Tidak ada yang bisa mencegahnya, bahkan tim baik sekalipun. Jika mereka sudah seperti itu, maka mereka tidak akan segan-segan untuk membunuh tim baik."

Eunhyuk menangkupkan tangan di depan mulutnya, dia sama sekali tidak kuat untuk membayangkan tim mana yang akan menjadi jahat.

"Apa memang tidak ada cara untuk mencegahnya?" tanya Eunhyuk.

Shindong menggeleng. "Tapi masih ada cara untuk menanggulanginya."

"Maksud hyung?"

"Kau akan tahu nantinya. Mianhae, hanya segitu yang bisa ku beritahu padamu. Kau harus berusaha mencari tahunya bersama timmu, aku akan ke kantin untuk makan siang. Annyeong~" Shindong pamit dan berjalan memunggungi Eunhyuk.

Baru beberapa langkah berjalan, Shindong memutar tubuhnya lagi. "Aku akan beri sebuah petunjuk untukmu, kau akan menemukan jawabannya di dalam perkamen. Dan kau harus tetap membela kebenaran yang kau junjung tinggi, walaupun lawan dari kebenaran tersebut adalah namjachingu dan temanmu sendiri."

Terlepas dari selera humornya yang bagus, rupanya seorang Shin Donghee tidak kalah misterius dengan gelang elemen.

Namun berkat ucapan Shindong tadi, Eunhyuk jadi meragukan keinginannya untuk vakum dari The Dark Seeker. Dia harus memberitahukan informasi ini ke anggota The Dark Seeker lain serta menyelamatkan Donghae dan yang lainnya.

.

.

Istirahat pertama baru saja usai dan mencetak beberapa sejarah baru.

Pertama, permainan Truth or Dare ala geng Unknown dilakukan sebanyak empat kali. Hankyung diharuskan untuk meneriakkan ke seisi kantin kalau Heechul adalah namjachingunya, Kangin mengakui kalau Leeteuk sang ketua OSIS adalah mantan namjachingunya setahun yang lalu, Kyuhyun dipaksa memakan sayuran sepiring penuh, dan Siwon menyatakan kalau tipe idealnya adalah orang seperti Kibum.

Kedua, Eunhyuk sama sekali tidak menampakkan diri di kantin. Padahal namja itu termasuk namja berperut karet yang suka makan banyak walaupun berbadan kurus, nafsu makannya hampir sama besar dengan Shindong. Tidak ada satupun yang mengetahui kemana dia pergi, bahkan Donghae sekalipun.

Ketiga, akhirnya Henry, Heechul, dan Leeteuk berkenalan dengan Sungmin dan kawan-kawan. Karena meja lain sudah penuh, akhirnya ketiganya memilih untuk duduk bersama Sungmin, Ryeowook, dan Kibum dan berkenalan satu sama lain.

Murid lain berangsur-angsur keluar dari kantin dan menuju kelas mereka. Entah disengaja atau tidak, Kyuhyun dan Hankyung masih tinggal di meja tempat Unknown bermarkas.

Hankyung bertanya, "Kenapa kau masih di sini, Kyuhyun-ah?"

"Bagus juga sandiwaramu, Joshua hyung." Sebuah seringai terpatri di bibir Kyuhyun, seringai yang identik dengan milik seorang Marcus Cho. "Kau masih saja ramah di depan semua orang, walaupun kau tahu kalau teman-temanmu itu adalah musuh."

Hankyung langsung menanggalkan raut wajah ramahnya ketika mendengar Kyuhyun menyebut nama samarannya. "Sebenarnya apa maumu? Bukannya bermaksud menyombongkan diri, tapi aku bukan orang yang mudah digertak."

"Jinjja? Baguslah kalau begitu, aku hanya ingin agar kita tetap berpura-pura sampai yang lainnya tahu akan rahasia ini. Aku tidak ingin mencampurkan kehidupan sehari-hari dengan urusan gelang elemen, itu saja."

Hankyung diam saja dengan kedua tangan mengepal di sisi tubuhnya.

"Dan jika saatnya telah tiba, mau tidak mau tim kita akan bertempur, Hankyung hyung. Cepat atau lambat itu akan terjadi, karena hitam dan putih tidak pernah memilih jalan yang sama."

"Kenapa kau sama sekali tidak kelihatan sedih atau cemas? Hyukkie dan yang lainnya adalah temanmu!" geram Hankyung.

Kyuhyun terkekeh. "Molla, mungkin karena aku hanya menganggapnya sebagai permainan?"

Kalau saja di sana tidak ada murid yang bertebaran, Hankyung pasti akan mendaratkan tinjunya di wajah stoic Kyuhyun. Jadi dia biarkan saja Kyuhyun tertawa keras dan berlalu melewatinya.

.

*SKIP TIME*

.

"Hyung, kenapa kau tidak bilang kalau namjachingumu juga akan ikut?" keluh Kangin. "Kalau tahu akan begini jadinya, lebih baik aku pulang sendiri. Aku merasa seperti kutu busuk di antara kalian."

Yesung yang mengemudikan mobil menoleh ke belakang, melirik Kangin yang tengah duduk sendirian karena Ryeowook duduk di kursi sebelah Yesung. "Apa kau bilang? Pulang sendiri? Bukannya kau sedang tidak punya uang, makanya menumpang mobilku?"

"Iya sih," gumam Kangin, dia kalah telak.

"Kau ikut saja, Kangin-ah. Aku sama sekali tidak keberatan kok, aku usahakan agar tidak membuatmu risih," lanjut Yesung.

Ryeowook berkata, "Tenang saja, Kangin hyung. Aku tidak keberatan kalau hyung ada di antara kami, semakin ramai akan semakin bagus bukan? Selain itu aku tidak akan membiarkan Yesungie hyung mengabaikanmu, akan ku paksa dia untuk mengobrol bersamamu."

Anggota Unknown dengan nomor jaket 24 mendesis, "Gomawo atas dukunganmu, chagi."

Baik Wookie maupun anggota Unknown bernomor jaket 17 tertawa, mereka senang sekali bisa bersekongkol untuk mengerjai Yesung. Setelah tawa mereda, Kangin melihat jaket Unknown milik Yesung teronggok di sebelahnya. Di saku jaket tersebut, dua buah benda berwarna kuning dan putih terlihat sedikit menyembul ke luar.

Kangin menarik jaket itu dan mengamati sakunya dari dekat, ternyata kedua benda itu adalah gelang karet.

"Hyung, sejak kapan kau suka memakai gelang? Kenapa di saku jaketmu ada dua buah gelang karet?" tanya Kangin sembari mengambil kedua gelang tersebut.

"Jinjja? Kenapa kau tidak memberitahuku juga, Yesungie hyung?" Ryeowook kaget. "Atau jangan-jangan kau akan memberikan gelang itu secara diam-diam padaku?"

Yesung tergagap. "Err, itu…"

Kangin memberikan salah satu gelang yang berwarna kuning pada Ryeowook. "Coba kau lihat, Ryeowook-ah. Gelang ini cukup bagus."

Begitu Ryeowook menerima benda tersebut dari tangan Kangin, sebuah keanehan yang pernah dialami pemilik gelang elemen lain terjadi. Kedua gelang itu melayang serta memancarkan cahaya kuning dan putih. Beruntung mobil Yesung sedang mengantri menunggu datangnya lampu hijau, jadi Yesung tidak akan mengerem mendadak karena kaget.

Kejadian tersebut hanya terjadi selama beberapa detik, lalu kedua benda mati tersebut jatuh menggelinding ke bawah jok kursi yang Kangin dan Ryeowook duduki.

"Chagiya, yang barusan itu apa?" Ryeowook masih terpana akan apa yang dia lihat.

Kangin mengguncang jok kursi pengemudi yang diduduki oleh Yesung. "Hyung, bisakah kau jelaskan pada kami apa maksud dari semua ini? Kau pasti mengerti tentang ini semua kan?!"

Yesung tidak menjawab, dia juga sama kagetnya seperti Kangin dan Ryeowook. Di satu sisi dia senang karena Ryeowook juga pemilik gelang elemen seperti dirinya, dan untungnya mereka berada di tim yang sama. Namun dia juga sedih karena harus melibatkan namjachingunya itu dalam medan pertempuran.

"Mianhae, kelihatannya aku tidak bisa langsung memulangkan kalian ke rumah masing-masing. Karena kalian menginginkan penjelasan, maka aku akan membawa kalian pada orang yang bisa menjelaskan ini semua," ujar Yesung, matanya memandang lurus ke lampu lalu lintas. "Tenang saja, kalian mengenal orang tersebut."

Begitu lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau, Yesung langsung menginjak gasnya dan mobil yang mereka tumpangi melesat cepat mengarungi jalan raya.

"Dan… ku harap kalian tidak mengeluh karena telah terpilih menjadi salah satu pasukan The Dark Seeker."

.

.

Sementara itu di sebuah taman hiburan, Zhoumi dan Henry sedang menaiki sebuah bianglala besar. Bukannya ketakutan seperti orang pada umumnya, Henry justru malah terus-terusan melihat pemandangan yang ditawarkan oleh jendela bianglala itu.

"Aigoo, pemandangannya bagus sekali jika dari ketinggian seperti ini! Seandainya saja aku membawa kamera," ujar Henry.

Sementara itu, Zhoumi yang tengah duduk di sebelah Henry malah sibuk mengamati tiap senti wajah namja berpipi bak mochi tersebut. Nampaknya Zhoumi mulai menyukai Henry.

Tiba-tiba Henry menyeletuk, "Gege, kau tahu legenda yang ada di bianglala ini? Katanya kalau sepasang kekasih berciuman saat kapsul mereka berada di puncak, maka hubungan mereka akan awet dan bahagia selamanya."

"Jinjja?" kata Zhoumi kaget. "Sekarang kita sudah sampai di mana?"

"Baru setengahnya, waeyo?"

Mendadak Zhoumi menggenggam kedua tangan Henry, Henry tentu saja terkejut dan pipinya merona.

"Zhou… Zhoumi gege?"

"Boleh aku mengatakan sesuatu? Sebenarnya aku sudah menyukaimu sejak permainan Truth or Dare itu dan aku sangat senang saat kau duduk di meja sebelah tadi siang. Wo ai ni, maukah kau menjadi milikku?" pinta Zhoumi.

Butuh beberapa detik bagi Henry untuk membalas perasaan Zhoumi dengan anggukan. "Aku juga menyukai gege sejak saat itu. Wo ai ni, aku mau menjadi milik gege."

Zhoumi lalu menggenggam dan mengecup punggung tangan Henry bak seorang pangeran, Henry merasa sangat terharu karena diperlakukan romantis dan istimewa seperti itu.

Beberapa menit kemudian, Henry mengintip ke luar jendela dan memekik, "Gege, kapsul kita sudah mencapai puncak!"

"Jadi kau ingin dicium olehku, eoh?" kekeh Zhoumi. "Aigoo, kita baru beberapa menit menjalin hubungan, chagi. Selama ini ku kira kalau kau adalah namja polos."

"Ani, bukan itu. Aku ingin hubungan kita terjalin selamanya, dan satu-satunya cara untuk mewujudkan legenda itu adalah dengan-"

"Arraseo, arraseo," potong Zhoumi. "Kau tidak perlu menjelaskannya lagi, aku sudah mengerti. Karena kita sudah menjadi sepasang kekasih, jadi…"

Zhoumi tidak meneruskan ucapannya, dia merengkuh Henry dalam dekapannya dan bibir mereka bersatu tidak lama kemudian. Ciuman tersebut dilatari dengan mentari senja yang menyeruak dari jendela kapsul yang mereka tempati.

Setelah saling melepaskan diri, sebuah gelang coklat menggelinding jatuh dari saku jaket Zhoumi karena bergesekan dengan tangan mereka berdua. Henry yang melihatnya langsung mengambil gelang tersebut.

"Ini milikmu, ge-"

Ucapannya terpotong karena gelang itu melayang dan mengeluarkan cahaya kecoklatan, membuat Henry terpana.

"Gege, kenapa gelangnya bercahaya?" tanya Henry.

Zhoumi tidak bisa menyembunyikan seringainya, untung saja Henry tidak mengerti makna dari seringai tersebut. "Kalau kau ingin tahu, ikutlah denganku. Akan ku ajak kau menemui pemimpin kami, dia yang akan menjelaskan padamu tentang semua ini."

Henry mengangguk. "Baiklah, tapi pelankan kecepatan motormu. Aku takut, chagi."

"Ne, ne, arraseo."

.

.

Hitam sering diibaratkan dengan kejahatan, putih diibaratkan dengan kebaikan. Putih dan hitam, yin dan yang, siang dan malam, The Dark Seeker dan Conquistadores. Kedua unsur tersebut saling bertolak belakang, namun saling melengkapi.

Tapi pernahkah kalian terpikir jika ada unsur lain di antara keduanya? Abu-abu sering diibaratkan dengan kejahatan yang berpura-pura baik atau kebaikan yang berpura-pura jahat. Putih yang samar, hitam yang samar. Seorang penjahat bisa saja menganggap kalau apa yang dilakukannya adalah sebuah kebaikan.

Conquistadores dan The Dark Seeker, keduanya tidak mengetahui pihak mana yang baik dan pihak mana yang jahat. Mereka masih saja terjebak dalam kesalahpahaman yang mereka simpulkan sendiri.

Tidakkah mereka belajar dari kejadian yang menimpa si sulung dan si bungsu dahulu? Biar bagaimanapun, kejahatan pasti akan tetap kekal hingga akhir dunia. Tuhan mencari hamba-Nya yang taat dengan melihat pahala dan dosa mereka, kebaikan dan kejahatan mereka.

Percayalah, di antara The Dark Seeker dan Conquistadores, pasti ada pihak yang jahat.

.

.

.

TBC

^Risa's Note^

Masih adakah yang nungguin kelanjutan fic ini? Ayugai Risa bener-bener minta maaf atas keterlambatan yang amat sangat, bahkan hampir 2 minggu. Semakin hari pelajaran di kelas 3 SMA makin menggila, dan kayaknya Risa bakal hiatus kalo fic ini dan Super Junior's Love Declare udah selesai. Jeongmal mianhae ne? *super deep bow* *sujud depan reader* :'(

Cieee ada couple baru lagi *lirik ZhouRy*, chukkae ne ^^ Battle masih ada kok, mungkin chap depan atau chap depannya lagi. Tungguin aja ;)

Mianhae Risa gak bisa banyak bacot dan bales review, tugas-tugas sudah menanti di kiri-kanan Risa *cakar tembok* T_T

Huge thanks for:

Lia Sabrina Aisyah / angel wookie / indahpus96 / Just Call Me Guest / cherrizka980826 / kyukyu / futari chan / Me Naruto / nyukkunyuk / ressijewelll / dhianelf4ever / Fitri jewel hyukkie / myhyukkiesmile / nurul. p. putri / RieHaeHyuk / Rio / Lee Eun In / Guest 1 / Lee Eun Jae / Anonymouss / Choi Sooyeon / nvyptr / AmaterasuUchih1 / GrisELF VIP / heeli / Ji0298 / casanova indah / Putri Hamiza Yumna Amilia / cho devi / Helloimhhs / dinEunHae / baekkisseu / Guest 2 / SaranghaeHaeHyuk