Title : Element Bracelets
.
Author : Ayugai Risa
.
Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae and other Super Junior member (13 + 2)
.
Pair : Haehyuk (Donghae x Eunhyuk) and other Super Junior official couple
.
Rated : T
.
Genre : Fantasy, Romance, Action, Angst, Hurt/Comfort
.
Warning : Yaoi, BL (Boys Love), Boy x Boy, Typo(s), Alur Ngebut, Gak Sesuai EYD
.
Disclaimer : Semua tokoh dalam fic ini bukan punya Risa, Risa cuma minjem nama mereka. Tapi fic ini 100% punya Risa
.
"…" = Talk
'…' = Think
.
^^DON'T LIKE DON'T READ^^
.
^^ENJOY READING^^
.
.
Eunhyuk baru saja keluar dari studio tari yang merupakan markas dari klub dance yang dia ketuai. Latihan hari itu berjalan cukup lancar, walaupun sesekali konsentrasi Eunhyuk terpecah karena benaknya terus saja memikirkan persoalan gelang elemen.
Dengan sebotol air mineral di genggaman dan ransel tersampir di bahunya, Eunhyuk melangkah menyusuri koridor sekolah yang sudah mulai sepi. Namun langkah mantapnya itu terhenti tatkala melihat sebuah mobil sport hitam yang familiar di mata Eunhyuk tengah terparkir rapi di gerbang sekolah.
Pintu pengemudi dari mobil tersebut terbuka dan seorang namja berseragam SM keluar dari sana. Karena sudah hafal dengan mobilnya, Eunhyuk sudah menduga siapa yang akan keluar dari sana. Dan dugaannya tepat.
.
(Mulai sekarang, bagian galau akan dimulai. Risa saranin baca part ini sambil nyetel lagu Super Junior manapun yang ballad biar lebih dapet feel sedihnya, arra? Kalo Risa sih ngetiknya sambil dengerin Someday)
.
"Hae…" Eunhyuk bergumam lirih.
Donghae mengeluarkan senyum andalannya. "Apa kau sudah selesai dengan klub dance-mu? Kajja, aku akan mengantarmu pulang. Hari sudah semakin sore, berbahaya jika kau pulang sendirian."
Entah apa yang sedang merasuki Eunhyuk, sehingga dia mengiyakan ajakan sang namjachingu. Padahal seharian ini dia telah bersusah payah menghindari semua orang, termasuk Donghae. Apakah ucapan Shindong tadi siang memberinya semangat baru untuk tetap berjuang?
Donghae membukakan pintu mobil untuk Eunhyuk dan mempersilahkan namja itu masuk, Eunhyuk pun langsung masuk ke dalam mobil itu. Setelah keduanya memasang sabuk pengaman, Donghae pun menginjak pedal gas dan mobil tersebut meninggalkan areal SM High School.
"Waeyo, chagiya? Kenapa kau selalu menghindariku? Apa aku lagi-lagi berbuat salah padamu?" Sambil menjalankan mobilnya, Donghae menanyakan hal yang mengganggu pikirannya seharian ini.
Tapi Eunhyuk tidak menjawab, dia malah menarik perlahan salah satu tangan Donghae yang sedang memegang kemudi dan menggenggamnya. Kini tangan mereka berdua saling bertautan dan Donghae hanya mengemudikan mobil dengan satu tangan.
'Biarlah seperti ini…' batin Eunhyuk pilu. 'Walaupun aku terus menghindarinya, tidak bisa ku pungkiri kalau aku membutuhkan dia. Biarlah sentuhan ini mewakili segala perkataan yang tak bisa terucapkan.'
Seakan mengerti dengan Eunhyuk yang terus bungkam, Donghae mempererat genggaman mereka dan mengelus punggung tangan Eunhyuk. Mereka terus seperti itu hingga mobil Donghae berhenti di perempatan dengan lampu lalu lintas yang sedang berwarna merah.
Semesta seakan mendukung mereka berdua, radio mobil Donghae tiba-tiba memutar lagu ballad yang dibawakan oleh Super Junior. Eunhyuk sudah tidak peduli lagi apa judulnya, karena suasana melankolis mulai menjalar merasuki hati kedua orang yang ada di dalam mobil tersebut.
"Anchovy…"
Eunhyuk, yang sedari tadi memandang keluar jendela sambil bertopang dagu, menoleh ketika Donghae memanggilnya dengan panggilan spesial mereka. Eunhyuk kini langsung berhadapan dengan mata Donghae, indera penglihatan yang selalu saja memancarkan aura teduh dan mampu membuat siapapun jatuh cinta, termasuk Eunhyuk.
"Fishy…"
Eunhyuk bisa melihat pantulan dirinya dan semburat warna jingga di kedua mata Donghae, mengingat kalau saat itu senja tengah menjelang.
Tapi entah sampai kapan Eunhyuk bisa terus menatap mata itu, apakah Eunhyuk masih bisa merasa tenang tiap kali menatapnya?
Bagaimana jika mata tersebut berubah warna menjadi semerah darah? Apa yang akan terjadi jika aura teduhnya berubah menjadi tatapan bengis penuh kebencian?
Atau… bagaimana jika bola mata Eunhyuk yang berubah warna?
Eunhyuk buru-buru menepis pemikiran mengerikan itu, dia kembali terfokus pada namja di hadapannya. Sekarang namja itu menangkupkan kedua tangannya di pipi Eunhyuk dan mendekatkan wajah mereka berdua secara perlahan.
Jarak keduanya semakin dekat, sampai-sampai Eunhyuk bisa merasakan terpaan nafas Donghae nan hangat. Secara refleks keduanya menutup mata mereka, menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.
Namun telinga Eunhyuk menangkap suara klakson kendaraan di luar sana, dia membuka mata dan mendapati kalau warna lampu lalu lintas telah berubah menjadi hijau.
Menyadari hal yang sama, akhirnya Donghae membuka mata dan keduanya saling menjauhkan diri. Donghae mengembalikan fokusnya pada jalanan di hadapannya.
"Mi… mianhae, kelihatannya aku terbawa suasana." Sambil memegang kemudi, Donghae memaksakan sebuah tawa. "Padahal waktunya sedang tidak tepat, eoh?"
Bukannya mencairkan suasana, ucapan Donghae barusan malah membuat keduanya menjadi canggung. Eunhyuk memilih untuk melihat pemandangan di luar jendela lagi, sementara Donghae fokus menyetir mobil.
'Hae, tidak tahukah kau bahwa aku sangat menantikan ciuman tadi…?'
'Hyukkie, aku yakin kau pasti sangat menginginkannya. Apakah aku mengecewakanmu? Mianhae…'
Seperti orang yang menyukai skinship, lagi-lagi Eunhyuk menggenggam tangan Donghae. Donghae pun melepaskan tangannya dari kemudi dan menggenggam jemari Eunhyuk untuk yang kedua kalinya, dia tidak merasa keberatan terhadap perubahan sikap kekasihnya yang mendadak senang bermanja dalam diam.
Langit semakin menghitam kala mobil Donghae berhenti di depan rumah Eunhyuk, Donghae baru saja hendak turun dan membukakan pintu Eunhyuk, namun tangan yang sedari tadi dia genggam tak kunjung melepaskan diri, seakan tidak rela untuk ditinggalkan.
Saat Donghae membalikkan wajahnya untuk melihat Eunhyuk, tanpa diduga Eunhyuk mengalungkan kedua lengannya di leher Donghae dan menarik kepala Donghae mendekat. Dalam waktu singkat, pertemuan antara kedua bibir mereka pun tak terhindarkan lagi.
Awalnya Donghae kaget, dia tidak menyangka kalau Eunhyuk akan seagresif ini. Namun seiring berjalannya waktu, Donghae turut mengalungkan lengannya di leher Eunhyuk dan menekan kepala Eunhyuk untuk memperdalam ciuman mereka.
Keduanya saling mencumbu, melumat, dan memagut bibir kekasih mereka. Decak saliva dari rongga mulut mereka menandakan bahwa lidah keduanya tengah beradu, berusaha saling mendominasi. Suara-suara hisapan pun turut meramaikan suasana.
Jika dilihat-lihat, pasti orang lain akan menyangka kalau ciuman tersebut hanya berlandaskan nafsu semata. Namun ketahuilah, rasa pilu makin menyeruak ke dalam relung hati Eunhyuk tiap kali ciuman mereka diperdalam.
Bagaimana jika ini adalah ciuman terakhir yang bisa mereka rasakan saat hati keduanya masih saling terhubung? Apakah setelah ini Eunhyuk masih bisa merasakan rasa yang sama dari bibir Donghae?
Karena setelah ini, hubungan keduanya tidak akan pernah sama lagi. Cepat atau lambat, salah satu dari mereka pasti akan kehilangan hati nurani karena efek dari gelang jahat yang dimiliki oleh salah satu tim.
Karena oksigen dalam paru-paru mereka semakin menipis, mau tidak mau Eunhyuk dan Donghae saling melepaskan diri.
Donghae menatap sosok namjachingu di hadapannya. Wajah Eunhyuk merah padam dan bersimbah keringat, nafasnya tersengal-sengal, matanya sayu, dan mulutnya mengkilap karena saliva dengan kondisi separuh terbuka karena berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
Walaupun disuguhi pemandangan menggoda seperti itu, tapi Donghae harus menahan hasrat untuk melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman tadi. Ini bukan waktu yang tepat, entah kenapa Donghae merasa kalau hati Eunhyuk sedang terluka. Lagipula Donghae telah bersumpah tidak akan menyakiti perasaan Eunhyuk.
Kemudian Donghae mengusap bibirnya yang basah dengan punggung tangan dan keluar dari mobilnya, bergegas membukakan pintu untuk kekasihnya. Eunhyuk pun keluar dari mobil setelah mengusap bibirnya yang juga basah.
Keduanya berpegangan tangan cukup lama sebelum Eunhyuk berjalan menuju pagar rumahnya, Donghae pun menyunggingkan senyum terbaik pada sang namjachingu dan berbalik badan setelah yakin kalau Eunhyuk sudah masuk ke dalam rumah tersebut.
Tapi baru beberapa langkah Donghae berjalan, Eunhyuk langsung berlari menghampiri Donghae dan menyelusupkan kedua tangannya di pinggang Donghae. Donghae tentu saja kaget, dipeluk dari belakang secara tiba-tiba seperti itu.
Donghae bisa merasakan tubuh di belakangnya gemetar disertai dengan isakan yang sesekali terdengar, punggung jas Donghae yang terasa basah semakin membuktikan kalau Eunhyuk tengah menumpahkan air matanya.
"Kajima, Hae… Kajima…" pinta Eunhyuk di sela tangisnya, akhirnya namja itu buka suara. "Jangan pergi dari hidupku…"
Donghae mengejang, Eunhyuk membisikkan kalimat itu tepat di telinganya karena tinggi mereka yang hampir sama. Akhirnya Donghae membalikkan tubuhnya dan menangkupkan wajah Eunhyuk dengan kedua tangannya.
"Pabbo, memangnya aku akan pergi kemana?" kekeh Donghae.
Eunhyuk menjawab, "Kau tidak tahu, Hae… Kau tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya…"
"Bukankah aku sudah berjanji tidak akan pernah berubah ataupun pergi meninggalkanmu? Apa kau sudah lupa dengan janji kelingking yang kita lakukan saat kencan itu?"
Eunhyuk menggeleng. "Bukan begitu, tapi… kondisinya sudah lain sekarang."
Donghae hanya tersenyum, lalu tangannya memeluk punggung Eunhyuk juga. Eunhyuk memejamkan mata sambil menghirup dalam-dalam aroma tubuh Donghae yang khas, Eunhyuk tidak tahu apakah dia masih bisa menghirup aroma tersebut setelah ini.
Lalu Eunhyuk mulai mengecup bagian wajah Donghae yang bisa dia jangkau. Dahi, pipi, hidung, kelopak mata, belakang telinga, hingga leher pun tak luput dari kecupannya. Hanya kecupan, tidak lebih dari itu.
"Saranghae… Bogoshipo, nae Fishy… Kajima…" Eunhyuk menggumamkan kata-kata itu satu per satu di sela kecupannya.
Donghae sama sekali tidak membalas, dia hanya memejamkan kedua matanya dan membiarkan Eunhyuk melampiaskan segalanya. Donghae tidak menampik kalau sentuhan Eunhyuk merupakan candu baginya, sungguh terasa memabukkan dan membuat Donghae ketagihan.
"Na do saranghae, na do bogoshipo, nae Anchovy."
Tepat ketika keduanya selesai berpelukan, ponsel Donghae berdering. Donghae merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda tersebut.
"Yeoboseyo?" sapa Donghae. "…. Zhoumi-ah? Waeyo?"
Eunhyuk sedikit mengernyit mendengar nama yang Donghae sebutkan, entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak.
"Jinjja?! Chukkae ne!" pekik Donghae setelah mendengar entah-apa yang Zhoumi katakan. "Jadi aku harus pergi ke rumah uri leader sekarang juga?"
Insting Eunhyuk terbukti saat Donghae menyebut-nyebut 'uri leader', yang pasti dialamatkan untuk Leeteuk. Nafas Eunhyuk mulai memburu, dadanya terasa pedih sekaligus sesak.
'Jangan bilang ini mengenai gelang elemen, kenapa harus sekarang?' pikir Eunhyuk frustasi.
Donghae menjawab, "Ne, aku akan ke sana sekarang juga. Sampai jumpa~"
Setelah menjejalkan ponselnya ke saku, Donghae berpaling kembali ke namjachingunya. "Mianhae, Hyukkie, tapi aku harus bertemu dengan Zhoumi dan kawan-kawan sekarang. Kau tidak marah kan?"
Eunhyuk memaksakan sebuah senyum palsu di wajahnya agar Donghae tidak curiga. "Ne, gwenchana. Pergilah dan hati-hati di jalan, arra?"
"Arraseo." Donghae lalu mengecup dahi Eunhyuk. "Sampai jumpa besok, Hyukkie. Saranghae."
Donghae kemudian memasuki mobilnya dan menjalankan kendaraan tersebut, Eunhyuk terus melambai seiring dengan kepergian mobil namjachingunya. Namun setelah memastikan bahwa mobil Donghae telah menghilang di tikungan, Eunhyuk langsung mengarah ke garasi dan menaiki skuter matiknya.
Hanya ada satu hal yang terlintas dalam benak Eunhyuk sekarang, dia harus segera menyambangi rumah Hankyung secepat yang dia bisa dan memberitahu segalanya. Tentang ucapan Shindong dan juga tentang Conquistadores yang kelihatannya akan melakukan sesuatu malam ini.
'Semoga anggota lain juga ada di sana…' harap Eunhyuk sambil mempercepat laju skuter matiknya dan meninggalkan kediaman yang baru saja dia pijak.
Donghae tidak perlu menunggu esok hari untuk bertemu Eunhyuk, karena malam ini sepertinya The Dark Seeker dan Conquistadores akan kembali bertemu.
.
.
Di lain tempat, sebuah rumah megah tengah menjadi markas bagi sekelompok remaja yang berkumpul malam itu. Pemilik rumah tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah orangtua dari Park Jungsoo, atau yang lebih kita kenal sebagai Leeteuk.
"Leeteuk gege, Donghae akan segera datang ke sini," ucap namja bersurai merah yang baru saja menutup ponselnya.
Leeteuk menyunggingkan senyum malaikat sambil memainkan topeng putih di tangannya. "Bagus, akan jauh lebih baik jika dia tiba lebih cepat. Semua anggota harus mendengar kabar bahwa anggota kita telah lengkap."
Namja berpipi tembam di sebelah si surai merah memainkan jemarinya dengan gugup. "Jangan terlalu banyak berharap dariku, hyungdeul. Aku baru saja bergabung tadi sore."
Si rambut merah, yang tidak lain adalah Zhoumi, mengelus rambut namja di sampingnya. "Tenang saja, chagi. Aku akan membantumu kalau kau mengalami kesulitan nanti."
Seseorang yang duduk di sofa ruang tamu langsung bersiul mendengar ucapan Zhoumi. "Romantis sekali pasangan baru ini, tapi jangan sampai kalian terluka karena bermesraan saat bertarung."
Zhoumi mendelik pada Kyuhyun, namja sarkastik tadi. "Perlukah aku menaruh cermin di depan wajahmu agar kau berkaca?"
"Tidak perlu, semua orang tahu kalau aku sangat tampan."
Zhoumi berpura-pura muntah, sementara Sungmin tertawa dalam pelukan Kyuhyun. "Aigoo, nae namjachingu tetap saja narsis."
Tiba-tiba Siwon muncul tepat di bawah sorotan lampu ruang tamu, dia baru saja berteleportasi menggunakan elemen cahayanya. "Mianhae, aku terlambat."
"Ani, kau tidak terlambat. Donghae saja belum datang," kata Leeteuk.
"Ngomong-ngomong, untuk apa hyung mengadakan pertemuan? Apa kita akan memancing pertempuran dengan The Dark Seeker lagi?" tanya Siwon.
"Bisa dibilang begitu, karena kita akan mengumumkan pada mereka kalau ketujuh anggota Conquistadores telah terkumpul."
"Jinjja? Nuguseyo?"
Leeteuk menunjuk Henry yang masih berdiri malu-malu di sebelah Zhoumi.
"Henry?" kata Siwon terkejut.
Zhoumi mengangguk. "Ne, namjachingu baruku."
Untuk sesaat Siwon terpana, dia merasa melihat sesuatu yang janggal barusan. Tapi dia langsung mengerjapkan mata dan kejanggalan tersebut menghilang sama cepatnya seperti kemunculannya.
'Mungkin aku hanya salah lihat,' pikir Siwon.
Karena Siwon baru saja melihat warna mata Zhoumi dan Henry berubah menjadi merah walaupun hanya sekejap.
.
.
"Kalau memang anggotanya ada tujuh, kenapa kita hanya berenam?" tanya Kangin.
Tadi sore, Yesung langsung mengarahkan mobilnya menuju rumah Hankyung untuk menjelaskan kepada Ryeowook dan Kangin mengenai gelang elemen. Yesung juga menelepon Kibum dan menyuruhnya untuk pergi ke sana agar mereka semua bisa berkumpul.
Minus Eunhyuk, tentu saja. Karena namja itu masih dalam masa vakumnya.
"Karena… pemilik elemen api dari tim kita sedang memutuskan untuk vakum." Rasanya agak berat bagi Yesung untuk mengatakan hal itu.
"Memangnya siapa dia?" tanya Ryeowook.
Hankyung menjawab, "Sahabatmu, Lee Hyukjae."
Bola mata Ryeowook membulat. "Jinjja? Jadi Hyukkie hyung juga masuk dalam tim ini?"
"Ne, tapi dia vakum karena tidak sanggup menghadapi namjachingunya sendiri," balas Heechul ketus.
Kangin bertanya, "Maksudnya Donghae? Kenapa Eunhyuk harus menghadapi Donghae?"
Hankyung menghela nafas, kedua anggota baru itu memang belum diberitahu perihal musuh yang mereka hadapi. Hankyung juga tidak tega memberitahukan hal tersebut pada Kangin dan Ryeowook.
Kibum tahu kalau hyungdeul-nya tidak sanggup untuk bercerita, karena itu dia berinisiatif untuk memberitahu Kangin dan Ryeowook. Bukannya Kibum tak memiliki hati, namun berkata jujur jauh lebih baik daripada menyembunyikan fakta.
Tepat sesuai dugaan, Kangin dan Ryeowook sangat kaget mendengar penuturan Kibum.
"Jadi Minnie hyung dan Donghae hyung adalah musuh kita…?" ulang Ryeowook tidak percaya.
"Kyuhyun, Siwon, dan Zhoumi juga…" gumam Kangin. "Bahkan Teukie hyung menjadi pemimpin mereka…"
Yesung menepuk dahinya, dia teringat akan sesuatu. "Kangin-ah, tadi siang kau mengakui kalau Leeteuk hyung adalah mantan namjachingumu bukan?"
Kangin mengangguk.
"Apa kau masih memendam perasaan padanya?" tanya Heechul. "Aku harap kau tidak seperti Eunhyuk, yang takut untuk melukai namjachingunya sendiri."
Kangin menghela nafas. "Memang aku masih menyayangi Teukie hyung, tapi aku berjanji akan profesional. Siapa tahu aku bisa menyelamatkan Teukie hyung dari kesalahpahaman ini."
"Na do," tambah Ryeowook. "Walaupun Minnie hyung adalah sahabatku, tapi aku juga bertekad akan menyelamatkannya."
Heechul berkata, "Baguslah kalau begitu, aku pegang ucapan kalian."
Hankyung bertanya, "Ngomong-ngomong, apa kalian sudah menentukan nama samaran kalian.
Kangin mengangguk. "Nama samaranku adalah Jordan Kim."
"Dan nama samaranku Nathan Kim," tambah Ryeowook.
Hankyung baru saja hendak berbicara karena ketujuh gelang elemen dalam peti di hadapan mereka mendadak mengeluarkan cahaya yang berbeda warna secara serempak, menandakan bahwa Conquistadores tengah menggunakan kekuatan mereka saat itu.
'Kenapa harus di saat tim kami tidak lengkap?!' batin Kibum.
"Ppali, kenakan semua atribut kalian! Kita akan coba berteleportasi menuju tempat mereka, aku yakin mereka juga menggunakan cara yang sama," titah pemimpin The Dark Seeker.
Setelah mengenakan topeng, gelang, dan jubah masing-masing, keenam orang tersebut memejamkan mata dan berusaha berkonsentrasi karena mereka belum pernah melakukan teleportasi sebelum ini.
Entah disengaja atau tidak, mereka berenam membatin, 'Antarkan aku menuju ke tempat Conquistadores berada.'
Dan berhasil! Dalam satu kedipan mata, mereka semua menghilang tanpa jejak dari ruang tamu rumah Hankyung. Tapi beberapa menit kemudian, pintunya menjeblak terbuka dan seorang Lee Hyukjae masuk ke dalamnya.
"Mwo? Kenapa sepi sekali di sini?" gumam Eunhyuk. "Tapi kenapa petinya diletakkan di sini? Bahkan dalam posisi terbuka, bagaimana kalau ada yang mencuri isinya?"
Eunhyuk melirik isi peti tersebut, hanya terdapat perkamen lusuh, sebuah jubah hitam, serta topeng dan gelang elemen berwarna merah. Semua itu adalah atribut milik Eunhyuk.
'Kenapa hanya ada benda-benda milikku? Apa jangan-jangan… mereka sudah pergi menemui Conquistadores? Gelang elemen cahaya dan angin pun juga tidak ada, apa pemiliknya sudah ditemukan?!'
'Kalaupun anggota tim kami sudah semuanya ditemukan, semoga Conquistadores belum menemukan anggota terakhirnya…' batin Eunhyuk pasrah.
Kelihatannya doa tersebut tidak terkabul, karena kedua tim sudah menemukan semua anggotanya.
Eunhyuk langsung mengenakan seluruh atribut itu, tapi dia teringat dengan perkataan Shindong tadi siang. Petunjuk mengenai cara untuk menanggulangi sifat asli gelang elemen jahat, bukan cara untuk mencegahnya.
'Aku akan beri sebuah petunjuk untukmu, kau akan menemukan jawabannya di dalam perkamen.'
Eunhyuk membuka perkamen tersebut, tapi dia baru ingat kalau isinya ditulis menggunakan aksara Cina. Eunhyuk pun terpaksa mengingat-ingat isinya hingga beberapa kali.
'Kalau tidak salah, sang naga muncul setelah pertarungan sepasang anak kembar itu. Kemudian naga itu akan mengabulkan tiga permintaan si bungsu,' pikir Eunhyuk. 'Apa naga itu juga akan muncul jika kami menang melawan Conquistadores? Kalau aku mengajukan permohonan untuk menormalkan kembali Conquistadores, apa naga itu akan mengabulkannya?'
Eunhyuk membatin lagi, 'Berarti kedua tim harus benar-benar saling bertarung agar aku bisa memohon pada sang naga?'
Setelah melalui pertimbangan yang matang selama beberapa menit, Eunhyuk akhirnya bergumam, "Aku akan menyelamatkan Hae dan yang lainnya, dan sekarang aku harus pergi ke tempat mereka. Aku akan berusaha mencegah agar tidak ada satupun dari kami yang iris matanya berubah warna."
Eunhyuk memejamkan matanya dan berkonsentrasi memikirkan tempat tujuannya, sama seperti keenam temannya sebelum ini. Sedetik kemudian, Eunhyuk juga menghilang dari tempat itu.
.
(Mulai sekarang, bagian battle akan dimulai. Risa saranin bacanya sambil nyetel EXO K - MAMA biar lebih dapet feel berantemnya, arra? :D)
.
Spencer merasakan kalau kakinya telah kembali menjejak di tanah, dia melempar pandang ke sekeliling. Dia sedang berada di ujung terowongan bawah tanah yang sudah lama tidak difungsikan, namun lampu di sepanjang terowongan tersebut masih menyala.
Spencer berhasil berteleportasi ke tempat tersebut dengan bantuan sebuah obor, entah siapa yang menyalakannya. Spencer mengambil obor tersebut dan mendekatkannya ke leher, dia akan membuat Hot Scarf untuk berjaga-jaga karena dia tidak membawa korek gas yang dipinjamnya dari Casey.
"Hot Scarf," gumamnya.
Seperti biasanya, sebuah syal api tercipta dan langsung melingkar di leher Spencer. Spencer meletakkan kembali obor itu pada tempatnya dan berjalan perlahan menuju ke bagian tengah terowongan.
Begitu Spencer tiba di tengah terowongan, ternyata anggota lain The Dark Seeker memang sudah ada di sana. Tidak hanya mereka, tim Conquistadores pun juga ada. Kedua kubu tersebut berdiri berhadap-hadapan dengan senjata masing-masing, mereka saling menatap dengan benci.
"Wah wah wah, kelihatannya anggota terakhir kalian baru saja datang," decak Vincent, orang pertama yang menyadari kehadiran Spencer. "Kau terlambat, Spencer."
Serentak anggota The Dark Seeker menoleh dan tercengang melihat Spencer.
"Spencer? Benarkah itu kau?" gumam Joshua.
Spencer mengangguk. "Ne, hyung. Aku membatalkan rencanaku untuk vakum dari tim, dan sekarang aku kembali."
Casey berjalan cepat menghampiri Spencer, tiba-tiba saja namja cantik itu menodongkan Shadow Spear-nya ke wajah Spencer.
"Ca… Casey hyung?!" Spencer tentu saja terkejut melihat tombak hitam itu diarahkan padanya, bahkan oleh rekan satu timnya sendiri.
"Dasar namja plin-plan," desis Casey. "Secepat itukah kau berubah pikiran?"
Anggota The Dark Seeker yang lain juga menghampiri Casey dan Spencer, termasuk pemilik elemen angin dan cahaya yang belum Spencer ketahui identitas aslinya. Begitu mereka sudah dekat, tiba-tiba semuanya langsung memeluk Spencer secara bersamaan.
"Mwo? Ada apa ini?" tanya Spencer heran.
"Ternyata kau masih ingin berjuang bersama kami!" pekik Jerome senang.
"Gomawo karena sudah mempertimbangkan kembali keputusanmu, Spencer hyung," ujar Bryan. "Aku yakin hyung pasti tidak akan pernah mengecewakan kami."
"Ne. Aku kembali, chingudeul."
"Spencer hyung!" panggil namja bertopeng kuning, pemilik elemen cahaya yang baru. "Apa kau mengenaliku?"
Eunhyuk menggeleng. "Tentu saja tidak, kau kan mengenakan topeng."
Namja itu lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Spencer dan berbisik, "Ini aku, Wookie. Tapi nama samaranku adalah Nathan Kim."
Mata Eunhyuk membulat. "Jinjja?!"
"Ne, dan yang mengenakan topeng putih itu adalah Kangin hyung." Nathan berbisik lagi. "Nama samarannya Jordan Kim."
"Ne, ne, arraseo." Spencer masih belum terlepas dari rasa keterkejutannya, sehingga dia mengucapkannya dengan cepat.
Setelah Nathan menjauhkan diri dari Spencer, Spencer bergumam pada teman-temannya. "Dengar, aku punya sebuah informasi yang penting. Sebenarnya-"
Belum selesai Spencer berbicara, terdengar suara tepuk tangan beberapa kali dari kejauhan. Ternyata Marcus yang melakukannya.
"Apakah kalian sudah selesai berpelukan seperti Teletubbies? Aku bosan," ujarnya sinis.
Koala menjilat sudut bibirnya, "Ppali, segeralah mulai pertumpahan darah seperti pertarungan waktu itu."
"Aku tidak tahu konflik apa yang terjadi dalam kelompok kalian, hingga Spencer nyaris vakum dari tim." Dennis berkata dengan penuh wibawa. "Tapi kami di sini bukan hanya untuk menonton drama yang kalian pertunjukan. Kami akan memperkenalkan anggota terakhir kami, Mochi."
Namja bertopeng coklat yang dipanggil Mochi tersenyum singkat. "Annyeong."
Aiden memutar bola mata. "Jangan terlalu baik pada musuh, Mochi."
"Ku lihat kelompok kalian juga sudah mengumpulkan semua anggota, tapi aku tidak peduli siapa nama mereka." Dennis memandang remeh The Dark Seeker. "Jadi bagaimana kalau kita mengadakan perang seperti yang dulu dilakukan oleh si bungsu dan si sulung?"
"Kau gila?! Untuk apa kau lakukan itu?" seru Jerome tidak terima.
"Aku hanya ingin memastikan siapa di antara kita yang merupakan tim baik, karena entah kenapa kedua tim menganggap kalau mereka adalah tim baik. Sebagai pemberi tantangan, aku sudah menyiapkan tempat khusus untuk perang kita nanti. Aku juga memastikan kalau tidak akan ada yang terbunuh seperti dulu, karena aku tidak ingin teman satu timku mati sia-sia."
"Sistemnya adalah turnamen dan di babak pertama pemilik elemen yang sama akan saling berhadapan," lanjut Marcus. "Misalkan aku melawan Casey, lalu Casey yang menang. Maka Casey akan melaju ke babak selanjutnya dan melawan competitor dari tim lawan yang juga memenangkan babak pertama."
"Tapi bukan begitu cara untuk mengetahui tim baik dan tim jahat!" sela Spencer. "Caranya adalah-"
Tiba-tiba saja Andrew melepaskan sebuah anak panah ke arah Spencer, tapi Spencer berhasil menghindarinya.
"Turuti saja apa kata Dennis hyung dan Marcus. Jangan menyela mereka, Spencer," kata Andrew.
'Kenapa Siwon yang baik menjadi seperti ini? Apa jangan-jangan gelang jahat itu ada pada tim mereka? Atau malah gelang itu sudah mulai bereaksi?!' batin Spencer.
"Dengarkan aku!" teriak Spencer. "Salah satu dari tim kita memiliki gelang elemen yang menyimpan kekuatan jahat si sulung dulu. Dan jika kedua tim bertemu dengan anggota yang sudah lengkap, maka mata dari tim jahat itu akan berubah warna menjadi merah!"
Anggota The Dark Seeker lain terkesiap kaget, tapi anehnya Conquistadores diam saja. Entah kenapa, wajah mereka semua tertunduk.
"Benarkah itu, Spencer hyung?" tanya Bryan.
Spencer mengangguk.
Kali ini giliran Joshua yang bertanya, "Dari mana kau tahu informasi itu?"
"Ceritanya panjang, aku akan beritahu lain kali. Yang penting kita harus mencari tahu tim mana yang kini memiliki gelang jahat itu."
"Bagaimana kalau ternyata tim kita yang memilikinya?!" pekik Jerome panik.
Spencer sama sekali tidak bisa membayangkan kedua kemungkinan yang bisa mereka dapatkan, apakah timnya atau Conquistadores yang memiliki gelang tersebut.
Lalu ketujuh anggota Conquistadores mengangkat wajah mereka yang tertunduk dan menatap lawan mereka yang berjubah hitam.
Ada sesuatu yang aneh pada wajah mereka, kelihatannya berbeda dengan saat mereka belum menunduk.
Tiba-tiba…
"Andwaaeeeeeeee!" Spencer berteriak kencang saat menyadari keanehan apa yang dimiliki Conquistadores.
Mata Dennis, Aiden, Marcus, Andrew, Vincent, Mochi, dan Koala, telah berubah menjadi merah.
.
.
Spencer tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan, ketakutan terbesarnya telah terjadi. Namjachingu serta teman-temannya telah berubah menjadi jahat.
Dengan nekat, dia membuka topeng merah serta tudung jubah yang menyamarkan identitasnya. Lalu dia berjalan menghampiri Conquistadores, lebih tepatnya Aiden.
"Spencer! Apa yang kau lakukan?!" pekik Jordan.
Casey ikut berseru, "Kenapa kau membuka topeng?!"
Spencer malah langsung memeluk Donghae dan terisak di dada namjachingunya itu. "Aiden… Ah bukan, Hae… Ini aku, Hyukkie… Sadarlah, jebal…"
Nathan menangkupkan tangannya di mulut, air matanya ikut tumpah. Dia bisa merasakan bagaimana temannya itu tengah mengalami perang batin melihat namjachingunya kini menjadi musuhnya.
Spencer mendekatkan wajahnya dengan wajah Aiden dan berniat mengecup bibirnya, tapi tiba-tiba saja Aiden mendorong tubuh Spencer dengan keras hingga namja itu terjatuh.
Aiden mengangkat tangannya yang terbelit Liquid Tentacle dan mengarahkannya ke Spencer, tentakel-tentakel air tersebut segera melesat menuju Spencer untuk menyerangnya. Karena jaraknya yang terlalu dekat, Spencer tidak bisa mengelak lagi. Dan…
"Speed of Light!"
Entah siapa yang berteriak, tapi detik berikutnya Spencer merasa seseorang menarik tubuhnya dan dia telah tiba di dekat anggota The Dark Seeker lainnya. Saking lemas dan takutnya, Spencer sampai jatuh berlutut.
"Hyung, gwenchanayo?" Nathan berjongkok di samping Spencer. "Untung saja aku masih sempat menarik hyung."
"Ne, gwenchana."
Sementara itu, Koala malah menjewer telinga Aiden. "Pabbo, Dennis hyung sudah memerintahkan kita agar jangan menyerang mereka!"
"Appo… Lepaskan, Koala…" Aiden mengaduh kesakitan. "Lagipula walaupun dia itu namjachinguku, tetap saja kita harus mengalahkan musuh kita. Tidak peduli siapa yang jahat atau baik."
DEG!
Mendengar ucapan Aiden, Spencer merasa jantungnya melewatkan satu detaknya. Aiden telah benar-benar berubah sekarang, tidak ada lagi Aiden yang baik hati dan menyayanginya.
"Ku rasa hari sudah semakin larut. Seminggu dari sekarang, berlatihlah dengan serius agar bisa mengalahkan kami," kata Dennis seolah tidak terjadi apa-apa. "Kalau waktunya telah tiba, kami akan menggunakan kekuatan dan mengirimkan sinyal seperti tadi. Yang perlu kalian lakukan hanyalah berteleportasi ke tempat yang telah kami siapkan."
Dennis berbalik, diikuti oleh anggota Conquistadores lainnya. Mereka bersiap untuk berteleportasi dengan media senjata mereka masing-masing, karena di senjata tersebut terdapat elemen mereka.
Namun sebelum berteleportasi, Vincent menoleh dan berseru, "Gomawo karena sudah membocorkan identitasmu, Hyukkie. Tapi kami tetap tidak akan ragu untuk mengalahkan kalian~"
Setelah berkata demikian, ketujuh anggota Conquistadores menghilang.
.
.
.
TBC
^Risa's Note^
Di chap ini Hyukkie bener-bener perang batin, si Hae ternyata matanya berubah jadi merah & jadi jahat. Apa chingudeul juga bisa ngerasain apa yang Hyukkie rasain setelah baca chap ini? Risa udah nyoba bikin chap ini berasa nyeseknya, semoga memuaskan :D
Tapi ini belum seberapa lho, beberapa chap ke depan bakal ada kejadian yang lebih nyesek lagi dari ini *spoiler*
Sebentar lagi pertarungan final bakal dimulai, sistemnya turnamen dan pemilik elemen yang sama dari kedua tim akan saling berhadapan di babak pertama. Yang berhasil menang akan maju ke babak selanjutnya dan berhadapan dengan pemenang babak pertama yang lain, otomatis elemen mereka dan lawannya akan berbeda pada babak kedua.
Semoga dari penjelasan di atas, chingudeul bisa dapet gambaran kira-kira siapa yang bakal ngelawan siapa ^^
Huge thanks for:
Lia Sabrina Aisyah / nurul. p. putri / HyeInKyuhyun / Lee Eun Jae / Anonymouss / Me Naruto / nyukkunyuk / kyukyu / Fitri jewel hyukkie / Just Call Me Guest / cherrizka980826 / futari chan / nvyptr / Arit291 / indahpus96 / Rio / RieHaeHyuk / cho devi / dhianelf4ever / hana ryeong9 / Ji0298 / myhyukkiesmile / dinEunHae / SaranghaeHaeHyuk / EunsooJewelSomnia
Also for the Silent Readers and everyone who follow and favorite this fic. Thank you for your appreciation! ^^
