Title : Element Bracelets
.
Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae and other Super Junior member (13 + 2)
.
Pair : Haehyuk (Donghae x Eunhyuk) and other Super Junior official couple
.
Rated : T
.
Genre : Fantasy, Romance, Action, Angst, Hurt/Comfort
.
Warning : Yaoi, Typo(s), Speedy Plot
.
Disclaimer : Semua tokoh dalam fic ini bukan punya Risa, Risa cuma minjem nama mereka. Tapi fic ini 100% punya Risa
.
"…" = Talk
'…' = Think
.
^^DON'T LIKE DON'T READ^^
.
.
Bryan memasuki ruangan berpintu biru di hadapannya, pintu tersebut langsung menutup sendiri ketika dia telah tiba di dalamnya. Kegelapan langsung menyergap Bryan karena tidak ada satupun sumber cahaya, selain itu ruangan tersebut juga berwarna hitam. Tapi…
CTEK!
Seseorang menjentikkan jari dan sebuah lampu menerangi ruangan itu, persis menyorot seorang namja berjubah putih. Wajahnya tampak samar karena tudung yang dia pasangkan, namun Bryan sudah tahu siapa yang dia hadapi.
Namja berjubah putih di hadapan Bryan menurunkan tudungnya, sehingga wajah yang menggunakan topeng biru itu pun tampak lebih jelas. Senyumnya yang sarkastik selaras dengan warna merah darah pada iris matanya.
"Annyeonghaseyo, Bryan Kim~ Kajja, sebentar lagi kita akan 'bermain air' sampai puas," ucap namja dengan nama samaran Aiden Lee itu.
'Spencer hyung, mianhae. Sepertinya aku memang tidak boleh menganggap remeh Aiden hyung, namjachingumu ini.'
Kemudian Aiden mengulurkan tangannya pada Bryan, Bryan tentu saja bersikap waspada terhadap gerak-gerik Aiden yang mencurigakan.
"Mau apa kau?"
"Karena kita sama-sama berelemen air, aku sudah menyiapkan tempat yang tepat untuk melatarbelakangi pertarungan kita. Namun kita harus melakukan kontak fisik agar bisa berteleportasi ke sana bersama-sama."
Tanpa banyak bicara, Bryan menjabat tangan Aiden dan keduanya memejamkan mata bersamaan. Biasanya Bryan akan membuka matanya ketika merasa telah menginjak tanah, tapi kali ini dia tidak merasakan apapun berada di bawah kakinya.
'Apa teleportasinya gagal?' pikir Bryan.
Kemudian telinga Bryan menangkap suara Aiden mengatakan, "Sekarang bukalah matamu, Bryan."
Bryan membuka matanya dan terpana, ternyata mereka sudah berhasil berteleportasi. Kini keduanya telah mengambang di tengah air yang berwarna biru jernih, di sekitar mereka terdapat banyak ikan yang beraneka ragam dan di bawah mereka terdapat terumbu karang berwarna-warni.
"Di mana ini?"
"Ini di tengah laut. Tenang saja, tidak akan ada orang lain yang melihat kita karena di dekat sini hanya ada pulau terpencil," jawab namjachingu dari Spencer itu.
Bryan mengangguk-angguk, pertanda mengerti. "Tidak ku sangka kau memilih lokasi yang bagus hanya untuk tempat pertarungan kita, ini pujian untukmu."
Alis Aiden bertautan. "Kau memuji musuhmu sendiri?"
"Waeyo? Kalau kau tidak suka, akan ku tarik kembali ucapanku."
"Tidak usah, aku suka dipuji." Aiden tertawa sinis. "Kau tahu tidak? Berkat gelang elemen yang kita punya, kita bisa tetap bernafas dan berbicara dengan leluasa walaupun berada di dalam air. Tubuh kita juga tidak akan basah saat naik ke permukaan."
"Sudah tahu, buktinya aku langsung berbicara duluan tadi."
Jawaban Bryan yang singkat membuat Aiden kesal, dia mengertakkan gigi. "Tidak ku sangka ternyata The Dark Seeker memiliki anggota sedingin kau."
"Gomawo, aku menganggap itu sebagai pujian."
Selesai Bryan berkata begitu, sebuah bayangan hitam menggelapkan tempat mereka berdua mengambang. Bryan menoleh ke atas, kelihatannya ada sebuah perahu yang mengapung tepat di atas kepala mereka.
"Aiden, kau bilang tidak akan ada orang yang melihat kita?"
"Mollayo. Chakkaman, akan ku periksa sebentar."
Aiden berenang ke arah perahu tersebut, sementara Bryan menunggu di bawah. Tak lama kemudian, Aiden kembali ke tempatnya semula.
"Ternyata itu robot yang akan menjadi wasit kita, ku kira robot itu tidak ikut berteleportasi. Aku bahkan lupa kalau harus ada robot di tengah pertempuran kita," jawab Aiden. "Now, shall we start the first round?"
Bryan mengangguk, tangannya telah terentang ke depan. "Frozen Saber."
"Liquid Tentacle."
.
.
Di waktu yang sama, Jordan juga tengah berhadapan dengan 'penguasa' dari ruangan berpintu putih yang tadi dia masuki. Siapa lagi kalau bukan Dennis Park, pemilik gelang elemen udara sekaligus pemimpin dari tim Conquistadores.
"Selamat datang di area udara, Jordan Kim," sambut Dennis penuh wibawa. "Apa pertarungannya sudah bisa kita mulai?"
'Dennis hyung, jadi kau masih belum menyadari identitasku yang sebenarnya…?' batin Jordan frustasi.
Sebenarnya keadaan Jordan tidak jauh berbeda dengan Spencer, orang yang mereka sayangi sama-sama berada di jalan yang berseberangan dengan mereka. Tapi Jordan cenderung menyimpan semuanya rapat-rapat dalam hati dan tidak mudah goyah seperti Spencer, dia juga bersungguh-sungguh ingin menyelamatkan Dennis walaupun harus saling melukai sekalipun.
Sekarang Dennis terkekeh sendiri. "Tutup matamu, Jordan. Sekarang kita akan berteleportasi ke tempat lain yang pas, tidak seru kalau bertarung di tempat sesempit ini. Aku tidak akan melukaimu diam-diam, tenang saja."
Jordan percaya dengan Dennis, karena itu dia memejamkan matanya tanpa ragu-ragu. Beberapa saat kemudian dia merasa kedua tangannya digenggam oleh seseorang dan kakinya tidak lagi menjejak tanah, itu berarti dia tengah melakukan teleportasi.
'Jangan-jangan… Dennis hyung saat ini sedang berpegangan padaku?!' batin Jordan tidak percaya.
Dalam sekejap, kaki Jordan terasa kembali menjejak tanah dan menandakan bahwa mereka telah selamat sampai di tujuan. Jordan membuka mata perlahan dan mendapati kalau pemandangan sekelilingnya telah berubah menjadi perkebunan teh di dataran tinggi.
Dennis melepaskan genggamannya pada tangan Jordan. "Untung saja hujan telah reda dan udara yang kita butuhkan sedang berhembus cukup kencang. Perkebunan teh ini pun bisa dimanfaatkan sebagai tempat untuk berkamuflase nanti."
Kemudian namja yang lebih tua dari Jordan itu celingukan kesana kemari, seperti sedang mencari sesuatu. Lalu pandangannya terhenti pada suatu benda berwarna putih yang berdiri di atas bukit kecil di kejauhan.
"Nampaknya itulah robot yang akan menjadi wasit kita nanti." Dia menunjuk benda putih tersebut. "Berarti sekarang kita sudah bisa mulai bertarung bukan?"
"Ne…" jawab Jordan pasrah.
"Zephyr Fans!"
"Air Guns!"
Unik memang, kedua namja ini sama-sama memiliki senjata yang berjumlah dua untuk tangan kiri dan kanan mereka. Perbedaannya hanya terletak pada bentuk, Zephyr Fans milik Dennis adalah kipas sementara Air Guns milik Jordan adalah pistol.
Apakah itu berarti mereka sehati? Atau jangan-jangan mereka berjodoh?
.
.
Kita lihat bagaimana keadaan pemilik elemen api, mereka sudah berada di sebuah rumah kosong yang sudah tak terurus. Kalian pasti heran, kenapa di sini tidak ada api sama sekali? Tunggu saja klarifikasi dari Koala, namja yang mengajak Spencer berteleportasi ke sini.
Di antara semua anggota Conquistadores dan The Dark Seeker, penampilan Koala-lah yang paling serasi sekaligus mencolok. Rambut, topeng, gelang, serta iris matanya berwarna merah!
"Selamat datang di area api, Spencer Lee. Ah, bukan… maksudku Lee Hyukjae." Koala menjilat sudut bibirnya. "Aku sudah tidak sabar untuk menikmati darah milikmu itu."
Spencer balas menatap Koala dengan dingin. "Kau tidak akan mendapat setetes pun darah dariku, Koala. Atau haruskah ku panggil kau dengan Zhoumi?"
Seketika senyum Koala memudar saat mendengar nama aslinya disebut. "Darimana kau tahu nama asliku?"
"Rahasia~ Karena kita berdua telah mengetahui identitas masing-masing, bagaimana kalau kita saling memanggil dengan nama asli? Aku selalu ingin tertawa tiap kali mendengar nama samaranmu yang lucu itu."
"Baiklah, tapi aku akan menghajarmu kalau sekali lagi aku mendengar kau menghina nama samaranku itu."
"Hajar saja, toh setelah ini kita akan saling bertempur," ujar Eunhyuk memanas-manasi. "Ngomong-ngomong kenapa di sini tidak ada api sama sekali? Tadi kau bilang ini adalah area api, harusnya ada api walaupun hanya sedikit."
"Aish, kau ini hanya tamu tapi keluhanmu banyak sekali. Tenang saja, aku akan buatkan api untukmu."
Lalu Zhoumi menggulung kedua lengan bajunya hingga gelang elemennya tampak melingkar di pergelangan tangan kanan, dia mengepalkan kedua tangannya dan mendekatkan mereka.
"Flame Knuckle," ucapnya.
Segera saja kedua tangan Zhoumi terbalut oleh kobaran api, seakan-akan dia memakai sarung tangan yang berwarna merah. Dia menempelkan kedua tangannya di dinding terdekat dan…
BWOOSH!
Dinding itu langsung terbakar dan apinya segera menjalar hingga ke bagian rumah lainnya, hanya dalam beberapa detik rumah tersebut sudah dilalap si jago merah.
"Kau gila, Zhoumi-ya?! Bagaimana kalau ada orang yang melihat rumah ini terbakar dan mereka segera memanggil pemadam kebakaran? Bisa-bisa identitas kita terbongkar atau kita ditangkap karena telah menyebabkan kebakaran!" seru Eunhyuk murka.
"Aish, tidak perlu panik begitu. Rumah ini terletak di sebuah pulau tidak berpenghuni, jadi tidak akan ada seorang pun yang mengganggu kita." Kemudian Zhoumi menunjuk sebuah brankas yang berada di samping Eunhyuk. "Oh ya, tolong bukakan brankas itu dan cek isinya. Kodenya 1904."
Eunhyuk berlutut di depan brankas itu dan menekan tombol 1904 seperti yang diperintahkan Zhoumi, brankas tersebut langsung terbuka dan Eunhyuk melihat isinya. Ternyata terdapat sebuah robot berwarna putih di dalamnya.
"Tutup kembali brankas anti api itu, jangan sampai robotnya terbakar," perintah Zhoumi.
Eunhyuk pun menutupnya. "Itukah robot yang menjadi wasit kita? Apa dia bisa melihat pertarungan kita walaupun diletakkan di dalam brankas?"
"Tentu saja bisa, kami sudah memprogramnya," jawab Zhoumi singkat. "Sebaiknya kau segera membuat Hot Scarf, siapa tahu aku akan menyerangmu yang sedang tidak bersenjata."
"Aku percaya kalau kau sama sportifnya dengan Dennis hyung. Hot Scarf."
Setelah Eunhyuk berkata demikian, sebuah syal api telah terbalut di lehernya seperti biasa.
"Semuanya telah menjadi serba merah di sini, tapi masih ada satu yang kurang." Zhoumi menyeringai. "Darahmu."
.
.
Di lain pihak, Andrew dan Nathan baru saja tiba di sebuah toko lampu hias. Di kiri-kanan mereka terdapat banyak sekali lampu beraneka ragam yang berderet di rak-rak, semua lampu itu sengaja dinyalakan untuk menunjang kekuatan elemen cahaya mereka.
Sebagi bentuk sopan santun, Andrew memberi hormat pada Nathan. "Annyeonghaseyo, Andrew Choi imnida. Bangapseumnida."
"A… Annyeonghaseyo, Nathan Kim imnida. Nado bangapseumnida," balas Nathan kikuk, baru kali ini dia menghadapi lawan yang memberi hormat sebelum bertarung.
"Tidak usah kaku seperti itu, Nathan. Santai saja," ucap Andrew. "Tapi kau jangan sampai terbawa suasana, jangan sampai kau lengah karena aku tidak akan bermain-main saat melawanmu nanti."
"Aku juga akan serius, Andrew hyung."
Andrew mengedarkan pandangannya ke sekeliling, lalu matanya terhenti pada sebuah robot putih yang bertengger di salah satu rak di belakang Andrew.
"Itu dia robotnya," celetuk Siwon sambil menunjuk robot itu. "Nathan, apa kau sudah siap untuk memulai pertarungan?"
Nathan mengangguk mantap, kedua tangannya terarah ke depan. "Halo Rings!"
"Kau akan membuat senjata milikmu? Kalau begitu aku juga, Holy Arc."
Kedua namja itu menciptakan senjata masing-masing dengan menggunakan cahaya lampu sebagai media. Andrew menciptakan busur dan anak panah, sementara Nathan menggenggam dua buah cincin cahaya yang berbentuk seperti lingkaran di kepala malaikat.
Nathan melemparkan salah satu Halo Rings miliknya dan benda tersebut berputar dengan mengerikan ke arah Andrew, namun Andrew berhasil menghindari serangan tersebut.
PRANG!
Karena Andrew menghindar, Halo Rings malah menabrak rak lampu hias dan memecahkan semua lampu yang ada di sana. Beberapa pecahan lampu tersebut mengenai lengan dan punggung Andrew, membuatnya berdarah.
Andrew meringis menahan sakit saat mencabuti serpihan lampu di tubuhnya. "Kau sengaja menghancurkan lampu-lampu itu agar bisa melukaiku, eoh?"
Nathan menggeleng. "Aniya, aku memang tidak sengaja melakukannya. Awalnya aku ingin menyerangmu, tapi kau malah menghindar."
"Begitukah?" ujar Andrew sambil menyeka darah yang mengalir di sepanjang lengannya. "Tapi sayangnya luka-luka ini tidak terlalu berarti bagiku."
Setelah berkata demikian, Andrew mengambil salah satu anak panah dari Holy Arc-nya dan menancapkannya begitu saja ke salah satu luka. Nathan memekik kecil, dia pikir Andrew sedang melukai dirinya sendiri. Tapi dugaannya salah, anak panah itu malah membuat luka-luka Andrew mengering dan sembuh secara perlahan.
"Kau bisa lihat sendiri bukan? Berkat kekuatan elemen cahaya ini, aku bisa menyembuhkan luka."
'Ternyata dia juga bisa melakukan penyembuhan sepertiku!'
.
.
Sementara itu, Joshua dan Mochi telah berteleportasi ke puncak dari pegunungan berbatu untuk mendukung kekuatan elemen tanah mereka. Rock Shoes telah terpasang di kaki Joshua, sedangkan Mochi menggenggam senjata berupa dua buah palu yang dia beri nama Clay Hammers.
Mochi membuka percakapan di antara mereka. "Ni hao, Joshua gege. Wo jiao Mochi, aku harap gege tidak mengasihaniku hanya karena aku terlihat lebih muda dari gege."
"Baiklah, kalau itu permintaanmu. Jangan menyesal karena telah berkata demikian, karena aku akan serius. Tapi apakah itu robot yang dimaksud Dennis gege?" tanya Joshua sambil menunjuk robot putih di dekat mereka.
Mochi mengangguk. "Apa pertarungannya bisa kita mulai, gege?"
Joshua langsung memasang kuda-kuda. "Silahkan saja, aku sudah siap."
Tanpa aba-aba, Mochi langsung berlari menerjang Joshua. Dia memegang kedua palunya dengan mantap, matanya yang tersembunyi di balik topeng coklat menatap lurus ke wajah Joshua.
Awalnya Joshua pikir namja di depannya akan menyerang dari jarak dekat, tapi dugaannya salah. Mochi melempar salah satu palunya, palu tersebut berputar dengan mengerikan menuju Joshua. Untung refleks Joshua cukup bagus, jadi dia bisa menghindarinya dengan mudah.
"Sayang sekali, kau gagal melakukan serangan. Sekarang kau malah kehilangan salah satu senjatamu."
Mochi tersenyum sinis. "Begitukah? Gege lupa kalau aku bisa melakukan ini?"
Sembari berbicara, Mochi mengarahkan tangannya yang kosong ke tanah. Segera saja bebatuan di bawahnya berkumpul dan membentuk palu baru untuk namja itu.
"Jangan sampai kau lengah, gege~" seru Mochi, kali ini dia melemparkan kedua Clay Hammer-nya sekaligus.
Joshua menghentakkan kakinya ke tanah dan tanah itu membentuk sebuah tembok besar yang melindungi Joshua. Kedua palu yang Mochi lempar langsung menabrak tembok tersebut dan hancur.
Mochi mengarahkan gelang elemennya pada tembok buatan Joshua. "Percuma kau membuat tembok dari tanah, gege. Karena aku juga bisa menghancurkannya dalam sekejap!"
Gelang coklat milik Mochi memancarkan cahaya kecoklatan. Benar saja, tembok yang terlihat kokoh itu langsung hancur hanya dalam sekejap. Tapi tidak ada siapapun di balik tembok tersebut, Joshua menghilang.
Sang pemilik elemen tanah dari tim Conquistadores mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Cih, namja itu telah berteleportasi."
.
.
Di tempat lain, Casey dan Marcus telah saling berhadapan satu sama lain. Sebuah padang pasir berlatarkan langit malam menjadi tempat pertarungan mereka sekarang, bulan purnama juga menyinari kedua namja itu dari langit. Sebuah robot putih berdiri tidak jauh dari mereka berdua.
"Bukankah di Korea Selatan masih pagi?" tanya Casey.
"Kita telah berteleportasi ke negara lain, tapi aku tidak perlu mengatakan kita berada di negara mana karena itu tidaklah penting," jawab Marcus. "Kajja, Casey Kim. Jangan banyak berbasa-basi lagi."
"Aku jijik mendengar kau berpura-pura bodoh begitu, Marcus Cho. Supaya adil, aku akan memanggilmu dengan Cho Kyuhyun dan kau boleh memanggilku Kim Heechul. Eotteokhe?"
Heechul kira namja di hadapannya akan terkejut karena Heechul menyebut nama aslinya, namun dugaannya meleset. Bukannya menampilkan ekspresi kaget, wajah pucat Kyuhyun malah tampak senang. Bibirnya melengkungkan senyum sarkastik.
"Jadi hyung sudah tahu identitasku sebenarnya, eoh? Daebak, aku tidak perlu lagi menyembunyikan semuanya di depanmu," decak Kyuhyun takjub. "Darimana hyung mengetahuinya? Apakah dari Hankyung gege, namjachingumu? Atau dari si pintar Kim Kibum?"
"Bukan urusanmu." Heechul menempelkan tangannya yang memakai gelang elemen hitam ke bayangannya di tanah. "Shadow Spear."
Kyuhyun bersiul, dia mengangkat kedua tangannya. "Rupanya hyung sedang tidak bisa diajak bercanda, arraseo~ Death Scythe!"
Dalam sekejap mata, Heechul telah menggenggam sebuah tombak panjang dengan ujung yang meruncing bagaikan pedang. Di lain pihak, Kyuhyun juga memegang sebuah sabit besar seperti sabit milik malaikat pencabut nyawa.
"Kita lihat kegelapan siapa yang lebih pekat, Heechul hyung."
Setelah berkata demikian, Kyuhyun berlari menerjang Heechul. Dia siap menebas tubuh Heechul dengan Death Scythe miliknya. Merasakan tanda bahaya, Heechul melindungi dirinya dengan Shadow Spear.
TRANG!
Terdengar bunyi yang keras saat kedua senjata mereka berbenturan. Kyuhyun mencoba melukai Heechul, sementara Heechul terus bertahan dari serangan Kyuhyun yang agresif. Heechul tidak bisa menjulurkan tombaknya untuk menusuk Kyuhyun karena jarak mereka yang terlalu dekat.
Kyuhyun menyeringai. "Hyung kewalahan, eoh? Padahal aku belum mengeluarkan seluruh kemampuanku."
"Jangan sombong dulu."
Heechul memanfaatkan kesempatan dengan melangkah mundur untuk menjaga jarak dari Kyuhyun, setelah itu dia segera menghunuskan tombaknya untuk menyerang sang lawan. Walaupun Kyuhyun sempat menghindar, namun serangan itu berhasil menyerempet pelipis kirinya dan membuat topeng hitam Kyuhyun sobek.
"Lepas saja topeng busukmu itu, toh aku sudah tahu siapa kau," kata Heechul.
Kyuhyun menarik paksa topengnya yang sudah rusak dan melemparnya ke tanah, dia juga menyeka darah yang mulai mengalir dari pelipisnya.
"Gomawo, hyung. Akhirnya aku mengeluarkan darah juga." Entah apa maksudnya, Kyuhyun meneteskan darah tadi ke bayangannya di pasir.
Lalu sebuah keanehan terjadi, bayangan tersebut keluar dari pasir dan berubah bentuk menjadi seperti manusia. Malah bayangan yang tadinya hitam mulai berubah warna dan menjadi persis seperti Kyuhyun, seakan-akan ada dua Kyuhyun yang berdiri berdampingan. Bahkan bayangan tersebut juga membawa Death Scythe.
"Mustahil, bagaimana bisa kau melakukannya…?" ucap Heechul kaget.
"Ini hasil latihanku selama seminggu, darah itu berfungsi untuk menghidupkan 'bayanganku' sendiri. Hebat bukan?" Kyuhyun tertawa jahat. "Kalau saja hyung tidak melukaiku, aku tidak akan mendapatkan darah itu. Karena aku sendiri tidak tega mencederai seluruh tubuhku yang sempurna ini."
'Sial!'
"Aku akan menamainya… Darkyu. Gabungan dari Dark dan Kyu, bagus bukan?"
.
.
Di sebuah hutan hujan tropis, seorang namja berjubah putih dan bertopeng hijau tengah bersiul-siul sembari mengayunkan cambuknya yang berbahaya. Kedua indera penglihatannya sibuk mencari entah-apa yang bersembunyi di balik semak-semak atau pepohonan.
Namja yang bernama Vincent Lee itu berseru, "Jerome Kim~ Eodineunde~? Jangan bermain kucing-kucingan begini, aku bosan."
Rupanya Jerome sedang melarikan diri dari dari kejaran Vincent. Barusan Vincent melukai kaki Jerome dengan Thorn Whip, karena itu Jerome berteleportasi ke balik pepohonan karena keadaannya yang tidak memungkinkan untuk bertarung.
Dengan nafas terengah-engah menahan sakit, Jerome segera melepaskan jubah hitam yang dia pakai dan membebatnya ke kaki yang terluka agar pendarahannya terhenti.
'Mianhae, Joshua gege. Aku terpaksa menggunakan jubah tim sebagai perban darurat, di hutan seperti ini tidak ada perban sungguhan,' batin Jerome.
Sesudah memasang 'perban' dengan benar, Jerome mengambil sebuah daun yang terjatuh ke tanah.
"Leaf Dagger," kata Jerome dalam bisikan.
Segera saja daun tersebut memanjang dan sisi-sisinya menjadi tajam seperti pisau, Jerome membuat senjata sebagai antisipasi jika Vincent tiba-tiba menemukannya.
Beberapa menit kemudian, samar-samar Jerome melihat bayangan hitam mendekat ke arahnya dari arah depan. Nampaknya itu bayangan Vincent, apakah dia menyadari keberadaan Jerome?
Jerome berusaha keras agar suara nafasnya tidak terdengar oleh Vincent, jarak mereka hanya terpaut beberapa langkah sekarang. Cepat atau lambat Vincent akan menemukannya…
"Apakah kau ada di situ, Jerome~?" tanya Vincent sambil menengok ke balik pohon yang menjadi tempat persembunyian Jerome.
Tapi dia tidak menemukan siapa-siapa, hanya ada dedaunan kering yang berguguran di tanah. Kalau begitu kemana perginya Jerome?
"Sekarang!"
Vincent mendengar seseorang berteriak demikian dari belakang punggungnya. Begitu dia berbalik, ternyata Jerome sudah berada di sana sambil mengayunkan Leaf Dagger dengan cepat ke arahnya. Rupanya tadi Jerome berteleportasi ke belakang Vincent supaya dia bisa menyerang diam-diam.
CRASSH!
Sebenarnya refleks Vincent cukup bagus, buktinya dia bisa menahan tangan Jerome yang memegang Leaf Dagger agar namja itu gagal menyerangnya. Namun tetap saja pisau daun itu berhasil menggores tangan Vincent.
Anggota dari Conquistadores itu mengejek, "Kalau ingin menyerang diam-diam, harusnya kau tidak perlu berteriak seperti itu agar keberadaanmu tidak ketahuan."
"Gomawo atas nasihatnya," jawab Jerome sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman erat Vincent. Tapi ternyata tenaga orang itu lebih kuat dari yang Jerome bayangkan, tangannya sama sekali tidak bergeming.
Vincent memandangi Jerome dari ujung rambut hingga ujung kaki, entah kenapa ada yang berbeda dari penampilan namja itu. "Kemana jubahmu? Kenapa kau hanya mengenakan t-shirt? Bukankah tadi kau mengenakan jubah itu?"
Jerome hanya menggoyangkan kakinya yang terluka untuk menjawab pertanyaan Vincent yang sebenarnya tidak penting.
"Menjadikannya sebagai perban, eoh? Kreatif sekali," puji Vincent sinis, lalu dia meludah ke tanah. "Kenapa aku harus memiliki elemen yang sama denganmu, Jerome Kim? Padahal aku ingin sekali melawan Hyukkie, bertarung denganmu sungguh membuatku bosan."
Jerome menjawab dengan kesal, kesabarannya sudah di ambang batas. "Jangan tanya aku, tanyalah pada entah-siapa yang menentukan elemen yang kita miliki ini. Lagipula berani-beraninya kau berkata seperti itu, Vincent Lee. Apa kau sama sekali tidak menganggap Spencer sebagai teman baikmu?"
"Jangan bandingkan hubungan kami di sekolah dengan hubungan kami saat menjadi anggota The Dark Seeker dan Conquistadores," jawab Vincent. "Tapi bagaimana kau bisa tahu kalau aku dan Hyukkie berteman di dunia nyata? Apa jangan-jangan kau mengenal kami?"
"Berhentilah menanyakan hal-hal yang tidak penting, aku pusing mendengarnya."
Seusai berkata demikian, dengan cepat Jerome menjegal kaki Vincent dari belakang menggunakan kakinya yang tidak terluka.
BRUK!
Kontan saja Vincent kehilangan keseimbangan dan jatuh ke belakang, tapi Jerome juga ikut terjatuh karena tangannya masih dipegangi oleh Vincent.
"Appo…" erang Vincent saat punggungnya mendarat dengan keras di tanah, genggamannya pada tangan Jerome tidak sengaja terlepas.
Merasa mendapatkan kesempatan emas, Jerome berguling ke samping dan mengarahkan gelang elemennya pada Vincent. Ketika gelang itu mengeluarkan cahaya kehijauan, tiba-tiba saja beberapa sulur keluar dari tanah dan mengikat tangan serta kaki Vincent.
"Lepaskan!" teriak Vincent sambil meronta-ronta.
Jerome memandang musuhnya yang terikat dengan posisi telentang. "Menyerahlah sebelum ada pertumpahan darah di sini, kau tidak akan pernah menang melawanku."
Mendadak Vincent mendapat ide. "Apa kau yakin aku akan menyerah semudah itu, Jerome hyung?"
Tanpa diduga gelang elemen Vincent bercahaya dan sulur-sulur ciptaan Jerome tadi langsung melepaskan ikatan mereka. Malah sulur-sulur itu berubah menjadi Thorn Whip, senjata Vincent yang berupa cambuk berduri. Sekarang namja itu memiliki lima Thorn Whip.
Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Vincent langsung berlari menerjang Jerome. Kepercayaan dirinya meningkat berkat senjata yang baru dia dapatkan.
"Coba lawan aku dengan pisau kecilmu yang tidak berguna itu!" Vincent berkata dengan lantang sambil mengayun-ayunkan kelima cambuknya ke arah Jerome.
Jerome melangkah mundur untuk menghindari Vincent, tapi punggungnya membentur sebuah pohon besar tidak lama kemudian. Jerome tidak bisa menghindar lagi karena Vincent sudah semakin dekat dengannya.
Vincent terkekeh dan menatap sang musuh dengan mata merahnya, dia sama sekali tidak mengurangi kecepatannya. "Aigoo, kelihatannya ada yang tersudut~"
'Apakah aku akan kalah sampai di sini…?' kata Jerome dalam hati, tangannya mengepal erat.
Tapi tatkala dia menunduk dan melihat banyak sekali dedaunan di tanah, sebuah ide mendadak terlintas di otaknya. Dia yakin ide itu akan mengantarkannya pada kemenangan.
Vincent menghentikan larinya saat jarak mereka hanya terpaut beberapa langkah, senyumnya mengembang melihat Jerome yang tidak bergeming dari tempatnya berdiri. "Kenapa kau tidak kabur? Apa kau sudah menyerah secepat itu?"
"Aku tidak kabur karena aku yakin akan menang darimu." Jerome menjawab dengan mantap.
Mendengar ucapan namja di depannya, Vincent tertawa gelak-gelak. "Apa kau tidak sadar akan posisimu? Kau tidak bisa kabur lagi karena jarak kita yang terlampau dekat, bahkan aku bisa menyerangmu dari sini. Apa itu yang kau sebut sebagai kemenangan?"
"Bukan begitu, tapi begini."
Gelang elemen Jerome kembali berpendar kehijauan, seluruh dedaunan di tanah melayang dan memanjang serta memiliki sisi-sisi yang tajam. Sekarang ratusan daun tersebut berubah menjadi Leaf Dagger.
"Omo?!" pekik Vincent terkejut, dia sampai menjatuhkan kelima Thorn Whip-nya karena ketakutan.
Jerome menunjuk Vincent dan memberi perintah pada ratusan Leaf Dagger yang melayang, "Serang dia."
Semua pisau daun itu benar-benar mematuhi perintah Jerome, mereka melesat cepat ke arah si namja berjubah putih dengan ujung yang siap menusuknya.
Vincent tidak bisa kabur kemanapun, dia sudah terkepung oleh kumpulan pisau daun itu. Dia hanya bisa menunduk, menutup kedua telinganya, dan berteriak, "Andwae!"
Seluruh Leaf Dagger tersebut telah mengepung Vincent dalam radius setengah meter, bahkan Vincent bisa mendengar bunyi mengerikan dari pisau-pisau yang bergerak cepat itu. Tapi…
"Hentikan."
Beberapa sentimeter sebelum mengenai Vincent, Jerome berbisik dan memerintahkan pisau-pisau itu untuk berhenti. Kontan saja semua Leaf Dagger itu terjatuh ke tanah dan kembali menjadi daun kering.
Vincent sendiri tidak menyadari kalau serangan yang ditujukan padanya telah dihentikan, dia masih berdiri mematung dengan tubuh gemetar. Mendadak kaki Vincent terasa lemas dan…
BRUK!
Namja itu jatuh ke tanah, dia pingsan karena dilanda syok yang teramat sangat. Jerome sendiri melangkah mendekati tubuh Vincent dan berjongkok di sebelahnya.
"Ternyata kau ini mudah digertak, eoh? Aku tidak menyangka akan menang semudah ini." Jerome bermonolog sembari menaruh tangan di dada Vincent untuk mengecek apakah namja itu masih hidup.
Setelah merasakan detak jantung Vincent, Jerome menghela nafas lega dan bangkit berdiri.
"Baguslah kalau kau hanya pingsan," ucap Jerome sambil membungkuk pada tubuh Vincent. "Jeongmal mianhae, Lee Sungmin. Aku terpaksa melakukan semua ini karena aku ingin menyelamatkan kalian semua."
Setelah berkata demikian, Jerome berbalik dan mendapati kalau robot putih yang menjadi wasit mereka sudah berdiri di kakinya.
"Healing mode, activated," kata robot itu sambil menyembuhkan luka di kaki Jerome.
Sembari menunggu pemulihan kakinya, Jerome bermonolog lagi. "Aku harap aku tidak berhadapan dengan Kyuhyun, dia pasti akan menuntut balas atas apa yang baru saja ku lakukan pada namjachingunya."
.
.
.
TBC
