Title : Element Bracelets
.
Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae and other Super Junior member (13 + 2)
.
Pair : Haehyuk (Donghae x Eunhyuk) and other Super Junior official couple
.
Rated : T
.
Genre : Fantasy, Romance, Action, Angst, Hurt/Comfort
.
Warning : Yaoi, Typo(s), Speedy Plot
.
Disclaimer : Semua tokoh dalam fic ini bukan punya Risa, Risa cuma minjem nama mereka. Tapi fic ini 100% punya Risa
.
"…" = Talk
'…' = Think
.
^^DON'T LIKE DON'T READ^^
.
.
DOR! DOR! DOR!
Suara tembakan yang membabi buta kini meramaikan perkebunan teh yang menjadi arena pertarungan pemilik elemen udara, rupanya Jordan sedang menembak ke segala arah menggunakan kedua Air Guns miliknya. Dia tidak mengetahui keberadaan Dennis karena sedari tadi mantan namjachingu-nya itu berteleportasi untuk melarikan diri darinya.
"Keluarlah, Dennis hyung! Aku percaya kalau kau bukan namja yang pengecut!" seru Jordan, dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Beberapa saat kemudian, Jordan merasa ada sesuatu yang menghalangi cahaya matahari dan menimbulkan bayangan cukup besar di tanah. Dia mendongak ke atas dan mendapati kalau Dennis muncul di tengah udara, tepat beberapa meter di atas kepala Jordan.
"Cih!" Secara refleks Jordan mengarahkan kedua pistolnya ke atas untuk menyerang Dennis.
DOR!
Setelah Jordan menarik pelatuk, angin kencang meluncur dari ujung Air Guns menuju ke arah Dennis. Namja yang menjadi target serangan hanya mengibaskan kedua kipasnya dengan santai dan membuat angin puyuh kecil dari kibasan barusan. Kedua angin itu bertabrakan dan lenyap, tidak ada satupun yang berhasil mengenai musuh mereka.
Baru saja Jordan berkedip, tahu-tahu Dennis telah berteleportasi lagi dan menghilang di tengah udara. Si pemilik elemen udara dari tim The Dark Seeker kembali memfokuskan perhatiannya pada keadaan sekitar, karena Dennis bisa muncul dari manapun.
Tapi biar bagaimanapun, manusia pasti memiliki titik yang tidak terjangkau oleh indera penglihatan mereka. Dennis tahu akan hal itu, karena itu dia berteleportasi ke bukit kecil tempat robot mereka berada. Dennis merunduk agar Jordan tidak melihatnya, sebuah senyum lengkap dengan lesung pipi tengah menghiasi wajahnya.
"Kali ini tamat riwayatmu, Jordan Kim." Dennis berbisik sendiri, mata merahnya berkilat menatap punggun Jordan di kejauhan.
Dennis mengangkat kedua kipasnya dan mengibaskannya dengan kuat, alhasil dua buah angin topan besar tercipta. Angin topan itu bergerak dengan cepat menuju sasarannya, yaitu Jordan.
Jordan mendengar suara angin dan daun teh beterbangan dari belakangnya. Tapi begitu dia menoleh, semua sudah terlambat karena kedua angin topan tersebut sudah semakin dekat.
DOR! DOR! DOR!
Dengan menggunakan sepasang Air Guns miliknya, Jordan berusaha sekuat tenaga untuk menghancurkan angin topan tersebut. Tapi karena tembakan udara yang dia ciptakan terlalu kecil, serangan tersebut tidak ada artinya di hadapan angin topan buatan Dennis.
'Aish, eotteokhe?' pikir Jordan frustasi.
Lalu Jordan mengarahkan sepasang senjatanya ke salah satu angin topan dan menahan pelatuk dari pistol tersebut selama beberapa detik, kemudian…
DOR! DOR!
Dua buah bola angin berukuran besar meluncur dari Air Guns Jordan, keduanya bersiap menghantam angin topan yang tadi Jordan bidik.
WUSSH!
Dengan kekuatan yang sangat dahsyat, salah satu bola angin Jordan berhasil bertabrakan dengan angin topan Dennis. Keduanya lenyap dengan meninggalkan sisa angin yang sanggup merontokkan dedaunan salah satu pohon di sana.
Tapi angin topan yang satunya lagi masih mengarah ke Jordan, sementara salah satu bola angin Jordan juga terus bergerak menuju Dennis. Jordan tidak bisa lagi men-charge serangan karena angin topan itu sudah terlalu dekat, bagaimana dengan Dennis?
Ketua dari Conquistadores itu mengulurkan tangannya yang dilingkari gelang putih sambil berkata, "Mianhamnida, Jordan Kim. Tetap saja aku yang memenangkan pertandingan ini."
Seusai berkata demikian, gelang elemen Dennis memancarkan cahaya putih menyilaukan dan bola angin di hadapannya malah berbalik arah menuju Jordan. Karena bola tersebut terbuat dari udara, tentu saja Dennis juga bisa mengendalikannya sesuka hati walaupun bola tersebut dibuat oleh Jordan.
Jordan tidak sempat lagi menghindari angin topan dan bola angin yang akan menyerangnya, sehingga…
"AAARRGH…!"
Yang pasti, tubuh Jordan terlempar cukup jauh setelah terkena kedua serangan tersebut. Dennis turun dari bukit tadi dan bergerak ke tempat tubuh Jordan berada untuk mengecek keadaannya, salah satu lengannya memeluk robot.
"Itu artinya aku menang tanpa terluka sedikit pun, eoh? Daebak."
.
.
Sekarang kaki Joshua tidak lagi menggunakan Rock Shoes dan Mochi juga tidak membawa Clay Hammers, sejak awal keduanya sama-sama berusaha menghancurkan senjata lawan mereka dan kali ini mereka tidak menciptakan senjata lagi karena kelelahan.
"Aku ingin mengadakan tawar-menawar denganmu," ucap Joshua sambil terengah-engah. "Bagaimana kalau kita bertarung tanpa menggunakan senjata? Toh sedari tadi kita terus-menerus melenyapkan senjata satu sama lain."
Mochi tampak mempertimbangkan penawaran Joshua dengan sungguh-sungguh, tak lama kemudian kepalanya mengangguk dan senyum terkembang di wajahnya. Senyuman yang entah kenapa terasa ganjil di mata Joshua.
Bukannya menjawab pertanyaan Joshua, Mochi malah langsung berlari menerjang Joshua bahkan sebelum ketua The Dark Seeker itu siap dengan kuda-kudanya.
Mochi melayangkan pukulannya yang cukup berbahaya ke wajah Joshua, namun tangan namja itu berhasil ditangkap oleh Joshua. Mochi tidak menyerah sampai di situ saja, dia mencoba meninju perut Joshua dengan tangannya yang bebas. Tapi Joshua menyadarinya dan memegangi tangan itu juga.
Walaupun kedua tangannya dikunci, Mochi tetap berusaha menyerang Joshua. Dia menggunakan lututnya untuk menendang perut Joshua.
DUAK!
Kali ini usaha Mochi berhasil, serangan itu mengenai perut Joshua dengan telak.
"Ugh…" rintih Joshua, secara refleks dia melepaskan genggamannya terhadap tangan Mochi dan terjatuh sambil memegangi perutnya.
Mochi melempar tatapan sinis pada Joshua yang terbaring di tanah. "Kenapa kau mendadak lemah begini, Joshua gege? Aku kira kau kuat karena kau adalah pemimpin The Dark Seeker."
Tidak ada jawaban dari Joshua, hal itu malah membuat Mochi kesal karena merasa terabaikan. Magnae dari Conquistadores itu hendak melayangkan tendangannya ke arah Joshua, tapi…
'Kenapa kakiku tidak bisa digerakkan?!' batin Mochi.
Namja itu menunduk ke bawah dan mendapati kalau kedua kakinya telah diikat dengan rantai yang terbuat dari bebatuan, dia langsung mengalihkan pandangan menuju Joshua untuk meminta penjelasan. Joshua berjalan dengan mantap menuju lawannya, dia sama sekali tidak memegangi perutnya dan tidak ada lagi ekspresi kesakitan yang sempat dia tunjukkan tadi.
"Aku sengaja menerima serangan darimu dan berpura-pura kesakitan supaya kau tidak menyadari rencanaku," Joshua tertawa kecil. "Tim kalian sama saja, selalu merasa cepat puas dan mudah lengah. Asal kau tahu, aku tidak merasakan apa-apa dari seranganmu tadi."
Mochi menatap gelang coklat Joshua yang sedari tadi bercahaya. "Gege membuat rantai ini dengan kekuatan gelang elemen, eoh? Kalau begitu aku akan menghancurkannya dengan gelangku juga!"
Tapi beberapa detik kemudian, tidak ada perubahan pada rantai batu itu. Padahal Mochi sudah mengarahkan gelangnya pada rantai tersebut, tapi rantai yang mengikat kakinya sama sekali tidak hancur ataupun bergeming. Bahkan sekarang kakinya terasa sakit karena belenggu rantai itu semakin erat.
"Bagaimana bisa? Kenapa rantai ini tidak hancur? Dan… ikatannya malah bertambah kuat!" gumam Mochi tidak percaya.
"Sederhana saja. Sepasang gelang elemen tidak bisa digunakan dalam waktu yang berbarengan jika lawannya memiliki elemen yang sama, harus ada satu gelang yang 'mengalah'. Elemen kita sama-sama tanah dan itu berarti kekuatanmu tidak bisa digunakan karena sedari tadi gelangku masih bercahaya."
Mochi mengalihkan pandangannya ke gelang elemen Joshua, ternyata gelang tersebut memang masih mengeluarkan cahaya kecoklatan. Ketika Mochi mengerjapkan mata, sosok Joshua sudah menghilang dari hadapannya.
'Gege itu pasti berteleportasi lagi,' pikir Mochi marah, dia hanya bisa menoleh kesana kemari karena kakinya masih dirantai.
Tanpa Mochi sadari, Joshua muncul di belakang punggungnya. Kemudian…
DUK!
"Argh…"
Joshua segera menyikut bagian belakang leher Mochi sebelum namja itu menyadari kemunculannya yang mendadak. Meskipun serangan itu tidak keras, Mochi langsung terjatuh dan kepalanya berdarah karena membentur tanah. Dia pingsan.
Bersamaan dengan munculnya robot yang akan menjadi penyembuh, Joshua menghembuskan nafas perlahan dari mulutnya. "Mianhae, Henry. Aku menyerangmu begini atas dasar keterpaksaan dan tidak ada maksud apapun."
.
.
Walaupun berlokasi di bawah air, pertandingan antara Aiden dan Bryan berlangsung dengan kecepatan tinggi. Keinginan mereka untuk menang sama besarnya, keduanya saling bertahan dan menyerang.
"Serang dia!" perintah Aiden pada Liquid Tentacle, senjata miliknya.
Tentakel-tentakel yang terlilit di kedua lengan Aiden bergerak cepat ke arah Bryan, namun Bryan sudah mengantisipasinya. Dengan Frozen Saber, dia memutuskan Liquid Tentacle hanya dengan satu kali tebas.
Aiden tidak menyerah sampai di situ, gelang elemen airnya memancarkan cahaya kebiruan dan Liquid Tentacle baru telah terbentuk lagi di lengannya. Tanpa suara, Aiden memerintahkan semua tentakelnya untuk melilit Frozen Saber milik Bryan.
"Jangan seenaknya menempel di senjataku, dasar tentakel aneh," gerutu Bryan sambil mengibaskan Frozen Saber agar Liquid Tentacle terlepas.
Anehnya, semua tentakel itu malah semakin mempererat cengkeraman mereka pada pedang es milik Bryan. Rupanya ini memang rencana Aiden, yang dia perlukan hanyalah mengubah temperatur Liquid Tentacle agar bersuhu tinggi.
Tidak lama kemudian, terjadi perubahan pada Frozen Saber. Pedang es itu meleleh karena Liquid Tentacle yang melilitnya sudah berubah menjadi tentakel panas, akibatnya senjata Bryan tersebut semakin menyusut dan lenyap.
Tak ingin menyia-nyiakan waktu, Aiden menunjuk Bryan dan memberikan komando pada tentakelnya untuk menyerang namja itu. Karena tidak bersenjata, Bryan terpaksa melakukan teleportasi saat Liquid Tentacle semakin dekat ke arahnya.
Bryan muncul di belakang Aiden dan kembali menciptakan Frozen Saber dalam waktu singkat, dia siap untuk menyerang diam-diam.
Magnae dari tim The Dark Seeker tersebut menghunuskan pedangnya ke punggung namjachingu dari Spencer. 'Mau tidak mau, aku harus melakukan ini pada Aiden hyung.'
Tapi tanpa Bryan sadari, Liquid Tentacle milik Aiden bergerak secepat kilat ke bagian belakang tuannya. Tentakel pertama langsung melilitkan diri di Frozen Saber untuk menghentikan serangan Bryan, sementara tentakel kedua mencekik leher Bryan seerat mungkin.
"Ukh…" Bryan kesulitan bernafas karena lehernya tercekik.
Aiden menoleh ke belakang dan berdecak. "Ternyata kau bersembunyi di belakang, eoh? Taktik cerdas, namun sayang sekali Liquid Tentacle bisa melacakmu dengan mudah. Mereka bagaikan ular yang sanggup melacak mangsanya bukan?"
Si anggota tim Conquistadores memutar tubuhnya, sehingga kedua namja pemilik elemen air itu berhadapan sekarang. Dengan satu tangan yang bebas, Bryan mencoba melepaskan Liquid Tentacle yang mencekiknya. Namun tindakannya tidak membuahkan hasil, senjata Aiden malah semakin mempererat ikatannya dan nafas Bryan mulai putus-putus.
"Le… pas… khan…!" Suara Bryan terdengar parau saat berkata demikian.
Bryan pikir Aiden tidak akan pernah melepaskan tentakel itu hingga Bryan kehabisan nafas, tapi nyatanya namja yang lebih tua dari Bryan itu malah menjawab dengan riang, "Baiklah, Bryan Kim~"
Ternyata Aiden benar-benar melepaskan cekikan Liquid Tentacle dari leher Bryan! Sebagai orang yang jeli dan tidak mudah lengah, tentu saja hal tersebut mengundang tanda tanya di benak Bryan.
'Kenapa Aiden hyung melepaskannya begitu saja? Apa dia sedang bercanda? Atau… dia punya rencana lain?'
"Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku memerintahkan Liquid Tentacle-ku untuk berhenti mencekikmu," ujar Aiden seakan bisa membaca pikiran Bryan, lalu dia tersenyum sarkastik. "Aku akan segera mengakhiri pertarungan ini dan menjadi pemenangnya, karena itu aku ingin mengabulkan permintaan terakhir dari pihak yang kalah."
Bryan memegang pedang esnya dengan dua tangan, tatapannya waspada. "Percaya diri sekali kau, Aiden hyung."
Sesudah Bryan berkata begitu, tanpa diduga gelang elemen Aiden memancarkan cahaya kebiruan. Tiba-tiba saja sebuah pusaran air besar muncul dan mengurung Bryan di tengahnya.
"Ige mwoya?" Bryan terkejut melihat wujud dari serangan mendadak lawannya.
Aiden berteriak dari luar pusaran air agar Bryan bisa mendengar suaranya. "Inilah hasil latihanku selama seminggu, Bryan Kim. Sebentar lagi riwayatmu akan tamat karena aku akan mengalahkanmu!"
Bryan tidak tahu lagi harus berbuat apa, dia tidak bisa melenyapkan ataupun melewati pusaran air di depannya. Sesaat dia menatap Frozen Saber yang dia genggam dengan pandangan mantap.
"Aku tidak yakin ini akan berhasil, persentase keberhasilannya terlalu kecil… Tapi setidaknya aku telah mencoba," bisik Bryan. "Mianhae, chingudeul. Aku tidak bisa mengalahkan Aiden hyung."
"Selamat tinggal, Bryan Kim-ssi~!" seru Aiden jahat.
Kemudian Liquid Tentacle di lengan Aiden memanjang dan bergerak maju menuju pusaran air. Pada saat yang bersamaan, Bryan juga melemparkan Frozen Sabernya lurus keluar pusaran air. Bryan menargetkan supaya pedangnya itu bisa melukai Aiden walaupun hanya sedikit.
"Membekulah, Liquid Tentacle," perintah Aiden dalam bisikan.
Saat tiba di pusaran air, mendadak Liquid Tentacle membeku dan menjadi es. Pusaran air tersebut ikut membeku sampai ke bagian dalamnya, otomatis Bryan pasti juga membeku di dalam sana.
JLEB!
Di saat yang bersamaan, Frozen Saber lolos dari pusaran air tersebut dan berhasil menusuk pinggang Aiden. Darah segar kini keluar dari sana dan bercampur dengan air laut, membuat warna air di sekitar Aiden berubah jadi merah pekat.
Aiden berusaha melepaskan pedang es yang menancap di pinggangnya, sesekali erang kesakitan keluar dari mulutnya.
"Namja sialan, dia berhasil melukaiku di saat-saat terakhir. Tapi biarlah, toh robot di perahu itu bisa menyembuhkanku. Setidaknya aku menang."
"Bryan Kim, sama sekali kau tidak menyangka kalau aku juga bisa membekukan pusaran air itu bukan?" Aiden menyudahi monolognya dengan seringai sadis.
.
.
Toko yang menjadi tempat pertarungan Andrew dan Nathan telah hancur sebagian, pecahan-pecahan lampu hias aneka warna berserakan di lantai dan rak-rak etalase patah menjadi beberapa bagian.
Anehnya, baik Nathan maupun Andrew sama sekali tidak terluka. Tidak ada satupun sayatan atau memar yang terlihat, kulit mereka tetap mulus. Hanya saja nafas mereka tersengal-sengal, keduanya berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin dengan paru-paru mereka.
"Ternyata percuma saja kita menyembuhkan diri," kata Andrew. "Semakin banyak kita melakukan penyembuhan, maka semakin banyak pula energi kita yang terkuras."
"Aku tahu itu."
"Kalau kau sudah mengetahuinya, kenapa kau masih menyembuhkan diri?"
"Toh sama saja bukan? Kalau aku menyembuhkan diri, maka energiku yang terkuras. Kalau tidak menyembuhkan, maka sekujur tubuhku yang terluka."
"Benar juga, tapi bagaimana kalau ku tambahkan satu kesakitan lagi untukmu?" Tanpa diduga Andrew mengangkat Holy Arc-nya dan mengarahkannya tepat ke perut Nathan, ditembakkannya sebuah anak panah yang terbuat dari cahaya.
Karena berada dalam kondisi yang terjepit, Nathan melemparkan kedua Halo Rings miliknya menuju Andrew selagi namja itu belum membuat anak panah baru. Senjata Nathan itu melayang bak piring terbang dan melingkar begitu saja di kedua pergelangan tangan Andrew bagaikan borgol.
JLEB!
Karena tidak sempat melindungi diri, dengan mudahnya anak panah Andrew menancap di perut Nathan. Darah segar berwarna merah mulai menetes mengotori jubah dan baju yang dikenakan anggota The Dark Seeker tersebut.
"Uhuk… uhuk…!"
Nathan menutup mulutnya dengan tangan karena terbatuk, namun dia kaget tatkala melihat cairan merah pekat menempel di telapak tangannya akibat batuk tadi. Dia juga bisa mencium bau anyir darah dan mengecap rasa besi di mulutnya.
Di lain pihak, Andrew melihat sepasang benda asing yang ada di tangannya dan berusaha melepaskannya. "Ige mwoya?! Lepaskan benda ini!"
Nathan tidak serta-merta menuruti perkataan Andrew, dia masih bisa menggerakkan jari jemarinya dengan sisa tenaganya. Sesuatu yang ajaib terjadi, kedua lengan Andrew bergerak seirama dengan Nathan seakan-akan dia adalah boneka yang sedang dikendalikan oleh tali tak terlihat.
Sekarang Nathan mengayunkan tangannya, tak ayal lagi lengan Andrew ikut bergerak ke arah yang ditunjuk Nathan. Bahkan tubuh Andrew juga ikut tertarik dan tidak bisa dikendalikan oleh pemiliknya.
"Bagaimana kau bisa mengendalikanku?! Hentikan, sebentar lagi aku akan menabrak rak itu!" Andrew menatap ngeri rak etalase yang berdiri kokoh di depannya, jarak antara keduanya semakin menyempit.
Entah kenapa, tiba-tiba saja Nathan menghentikan pengendaliannya ketika jarak Andrew dan rak etalase hanya tinggal sejengkal.
Andrew langsung mengucap syukur pada Tuhan dan berkata, "Gomawo, Nathan. Aku tahu sebenarnya kau orang baik-"
"Apa kau yakin aku sebaik itu?" Tanpa diduga Nathan menyela kata-kata Andrew. "Sayang sekali hari ini aku tidak sedang bermurah hati, aku punya misi khusus yang harus ku jalani bersama anggota The Dark Seeker lain."
"Mwo?"
Tanpa basa-basi, Nathan mengayunkan tangannya dengan cepat. Alhasil tubuh Andrew langsung menabrak rak etalase dengan keras.
"Aaargghh…!" erang Andrew kesakitan.
PRANG!
Saking kerasnya tabrakan tersebut, tubuh Andrew dan rak etalase tadi langsung terjatuh ke lantai dan menimbulkan bunyi yang memekakan telinga. Tapi di saat yang bersamaan, Nathan juga ambruk karena kehilangan banyak darah.
"Apa… aku menang…?" gumam Nathan sambil berusaha mencabut anak panah yang bersarang di tubuhnya. "Tidak mungkin Andrew hyung masih sadar jika dihantam dengan keras seperti itu, apalagi dari jarak dekat…"
"Ukh…" Setelah beberapa saat, anak panah tadi berhasil ditarik keluar oleh Nathan. Tapi hal tersebut mengakibatkan rasa sakit yang amat sangat di perut Nathan dan erangan kesakitan meluncur dari mulutnya, darah segar juga semakin mengucur deras.
"Kelihatannya aku tidak bisa meneruskan pertarunganku, butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka sedalam ini…" Nathan bermonolog dengan lirih. "Semoga Jerome hyung dan yang lainnya bisa menang untuk menyelamatkan Vincent hyung dan anggota Conquistadores lain…"
"Mianhamnida, Andrew hyung…" Itulah yang terakhir dikatakan oleh Nathan sebelum kesadarannya menghilang.
Pertarungan antara kedua pemilik elemen cahaya berlangsung seri, karena Andrew dan Nathan sama-sama kehilangan kesadaran dan tidak bisa melanjutkan.
.
.
'Ternyata bocah ini tidak bisa dianggap remeh,' batin Heechul sambil menyeka sudut bibirnya yang berdarah.
Semenjak Kyuhyun membangkitkan Darkyu, Heechul jadi kesulitan untuk melukai lawannya itu. Ketika dia hendak menyerang, Kyuhyun bisa langsung bertukar tempat dengan 'bayangannya' itu dan Shadow Spear hanya menembus tubuh Darkyu dengan sia-sia.
Walaupun Heechul tidak bisa menyerang Darkyu, namun makhluk artifisial tersebut tetap bisa melukai Heechul dengan Death Scythe imitasinya. Kini Heechul seperti sedang berhadapan dengan dua musuh bersenjata.
"Apa hanya segitu kemampuan hyung? Aku bahkan belum mengerahkan separuh dari kekuatanku yang sebenarnya," ejek Kyuhyun sambil memutar-mutar Death Scythe besarnya dengan kedua tangan.
"Sedari tadi kita baru melakukan pemanasan, tapi sekarang aku akan serius."
"Kalau begitu coba tunjukkan padaku kemampuanmu yang sesungguhnya, Heechul hyung."
Anggota tertua The Dark Seeker tersebut memutar-mutar Shadow Spear di atas kepalanya seperti baling-baling, lalu dia menusukkan senjatanya tersebut ke pasir.
Sepersekian detik setelah Heechul melompat, sebuah gelombang hitam aneh merambat dari tempat yang ditusuk Shadow Spear dan terus menyebar hingga ke kaki Kyuhyun serta Darkyu.
Anehnya, pandangan Kyuhyun seketika menggelap ketika gelombang itu mengenai kakinya. Sekarang dia tidak bisa melihat apapun seperti orang buta, semuanya berwarna hitam.
"Cih, jadi hyung bermaksud membutakan-"
DUAK!
Sebelum Kyuhyun menyelesaikan ucapannya, sebuah tendangan telah mendarat di perutnya dan membuatnya jatuh ke belakang.
"Uohok…!" Akibat tendangan tadi, Kyuhyun memuntahkan cukup banyak darah. Walaupun dia tidak bisa melihatnya, tapi Kyuhyun bisa mengecap rasanya yang seperti besi.
Ketika mencoba untuk berdiri, Kyuhyun merasa ada angin berdesir di sebelah telinganya. Ternyata Heechul baru saja mencoba menusuk namja itu dengan tombaknya, namun luput karena Kyuhyun bangkit dari jatuhnya.
Kyuhyun mengacungkan kepalan tangannya ke udara, gelang elemennya mengeluarkan cahaya hitam misterius dan pandangannya langsung kembali normal, walaupun butuh beberapa detik bagi Kyuhyun agar matanya terbiasa dengan cahaya yang masuk.
Setelah dia bisa melihat dengan jelas, Kyuhyun baru menyadari kalau Heechul tidak ada di sekitarnya.
'Kelihatannya dia berteleportasi, tapi dimana dia akan muncul?' Kyuhyun mencengkeram Death Scythe-nya erat, matanya mencari kesana kemari dengan waspada.
Beberapa detik kemudian, ekor mata Kyuhyun menangkap gerak-gerik aneh dari belakang punggungnya. Nampaknya itu Heechul, namun dia tidak gegabah untuk menyerang dan lebih memilih untuk pura-pura tidak tahu.
TRING!
Ketika dia merasa Shadow Spear milik Heechul semakin mendekat ke arahnya, barulah dia memutuskan untuk berteleportasi.
Sekarang giliran Heechul yang mengira-ngira di mana kemunculan Kyuhyun berikutnya. "Sial, kemana bocah itu? Seharusnya aku tidak terburu-buru menyerangnya tadi."
CRASSH!
Dari kiri-kanan Heechul, Kyuhyun serta Darkyu muncul dengan kecepatan tinggi. Keduanya menebaskan sabit mereka di kedua lengan Heechul dengan posisi vertikal. Tak tanggung-tanggung, darah segar langsung menyiprat dari luka tersebut.
"Brengsek kau… Cho… Kyuhyun…" Itulah yang dikatakan Heechul sebelum dia pingsan karena kehilangan banyak darah.
Kyuhyun menjentikkan jarinya, seketika itu juga Darkyu lenyap menjadi kepulan asap hitam.
"Anggap saja itu balasan dariku karena hyung berhasil menendangku," kata Kyuhyun seraya menengadah kepala untuk menatap bulan purnama.
.
.
Pertarungan antara Eunhyuk dan Zhoumi malah terlihat seperti adu cekik. Zhoumi mencekik leher Eunhyuk dengan tangannya, namun Hot Scarf milik Eunhyuk juga terlilit erat di lehernya.
"Percuma saja kita menyerang satu sama lain dengan kekuatan gelang elemen, toh kita berdua sama-sama kebal api." Zhoumi susah payah mengeluarkan suara. "Bagaimana kalau kita saling melepaskan cekikan satu sama lain?"
Mendengar Zhoumi berusaha bernegosiasi dengannya, Eunhyuk berpikir sejenak. "Baiklah. Dalam hitungan ketiga, kau dan aku harus melepaskan cekikan di leher lawannya."
Zhoumi mengangguk untuk mengiyakan. "1… 2… 3!"
Sang pemilik elemen api dari Conquistadores memang menepati janjinya, dia melepaskan tangannya yang berapi dari leher Eunhyuk. Namun dia segera menarik tangannya dan melayangkan tinju ke wajah Eunhyuk.
GREB!
Hot Scarf milik Eunhyuk langsung bergerak dan menahan kepalan tangan Zhoumi tersebut, tanpa aba-aba dia menendang perut Zhoumi dengan lututnya.
"Ukh…" erang Zhoumi kesakitan.
"Lempar dia." Seakan belum cukup, Eunhyuk memerintahkan Hot Scarf-nya untuk menarik tangan Zhoumi.
BRAK!
Saking kerasnya hentakan Hot Scarf, Zhoumi sampai terpelanting dan tubuh jangkungnya menabrak dinding. Kepalanya terluka serta mengeluarkan darah karena membentuk dinding yang keras.
Dengan sekujur tubuh yang terasa ngilu, Zhoumi mengusap kepalanya dan menatap darah di tangannya dengan tatapan lapar. "Tidak ku sangka kau bertambah kuat hanya dalam waktu seminggu."
Eunhyuk tidak menanggapinya, dia hanya mengulurkan tangan pada namja Cina itu untuk membantunya berdiri. "Menyerahlah, kau sudah kalah dan aku tidak ingin melukaimu lebih jauh."
Selama beberapa detik, Zhoumi menatap tangan Eunhyuk dan tersenyum sinis. "Aku tidak sudi ditolong oleh musuh."
Tanpa diduga, Zhoumi memukulkan Flame Knuckle-nya ke dinding tempat dia bersandar, lalu…
BRUK!
"Zhoumi!"
Dinding yang dipukul Zhoumi runtuh dan menimpa tubuh namja jangkung itu, Eunhyuk tentu saja kaget melihatnya, dia sampai jatuh terduduk karena lemas dan cairan bening mulai menggenangi kedua pelupuk matanya.
"Mianhae, Zhoumi… Jeongmal mianhae… Aku melakukan semua ini untuk menyelamatkan kalian semua…"
Eunhyuk baru melawan Zhoumi, namun hatinya sudah mulai rapuh. Bagaimana jika nanti dia dihadapkan dengan Donghae?
.
.
Dengan teleportasi, robot putih berhasil mengantarkan Yesung dan tubuh Sungmin kembali ke ruangan berpintu hijau. Setelah digendongnya, Yesung meletakkan tubuh pingsan Sungmin di lantai.
Si pemilik elemen tumbuhan dari tim The Dark Seeker berjalan menuju pintu hijau di seberang ruangan untuk melaju ke babak selanjutnya, namun pintu tersebut tidak memiliki pegangan. Alih-alih kenop, sebuah lingkaran aneh malah terletak di tempat kenop pintu seharusnya berada. Di bawah lubang tersebut terdapat sebuah tulisan dan kini Yesung sedang membacanya.
"Masukkan gelang elemen milik pihak yang kalah untuk melaju ke babak berikutnya," gumam Yesung. "Berarti aku harus memasukkan gelang Sungmin?"
Mau tidak mau, Yesung harus kembali menghampiri tubuh Sungmin yang pingsan dan mengambil gelang hijau yang terlingkar di tangannya.
"Pinjam gelangmu ne, Sungmin-ah?"
.
.
Leeteuk baru saja melepaskan gelang elemen milik lawannya agar bisa membuka pintu menuju babak selanjutnya, namun entah kenapa terbersit di pikirannya untuk membuka topeng namja yang tengah pingsan itu.
"Kita lihat siapa wajah di balik topeng putihmu itu~" Leeteuk bersenandung sendiri sambil melepas topeng lawannya secara perlahan.
DEG!
Tapi senyum Leeteuk segera memudar setelah melihat wajah asli lawannya, entah kenapa jantungnya juga ikut berdebar tidak karuan. Dia mengenal orang itu.
"Kanginnie…?"
Tak terelakkan lagi, kenangan masa lalu mereka saat masih menjadi sepasang kekasih langsung berputar di benak pemimpin Conquistadores tersebut. Namun…
"Aaaarghh…! Appo…!"
Hal itu justru membuat kepala Leeteuk berdenyut sakit, pertentangan batin antara kepribadian aslinya dan pengaruh gelang elemen jahat tengah berlangsung sengit. Saking hebatnya, Leeteuk sampai menjambak rambutnya sendiri untuk mengurangi rasa sakit yang dia derita.
"HENTIKAAAN…!"
Sayangnya, ingatan masa lalu itu tidak cukup kuat untuk melenyapkan pengaruh gelang elemen jahat dalam diri seorang Park Jungsoo.
.
.
"Kenapa kau yang menjadi lawanku, Jerome hyung? Itu berarti… kau berhasil mengalahkan Vincent hyung, namjachinguku?!"
'Inilah sebabnya aku tidak ingin melawanmu, Marcus Cho. Kau pasti ingin membalas kekalahan kekasihmu dan itu bukan hal yang bagus untukku.'
.
.
"Inilah pertandingan yang sudah lama ku tunggu-tunggu, Joshua Tan. Sebentar lagi kedua pemimpin Conquistadores dan The Dark Seeker akan segera bertarung."
'Dennis Park, apa kau tahu kalau lawanmu sebelumnya adalah mantan namjachingumu sendiri?'
.
.
"Annyeonghaseyo, nae Anchovy~ Kajja, kita akan 'bersenang-senang' dalam pertempuran kali ini. Apalagi karena aku menghadapi namjachinguku sendiri."
'Fishy, bogoshipda…'
.
.
.
TBC
^Risa's Note^
Risa tau pasti di review selanjutnya bakal pada bilang 'Yeay akhirnya diupdate juga!' atau 'Kok updatenya gak kilat sih?' Karena itu Risa minta maaf yang sebesar-besarnya seperti biasa OTL *deep bow* Tapi walaupun ngaret, tapi Risa tetep berusaha ngetik semaksimal mungkin supaya gak terlalu ngecewain para readers :3
Final battle's first round is here! Di battlenya Eunhyuk-Zhoumi sama Heechul-Kyuhyun, mereka saling panggil nama asli karena mereka udah tau identitas lawan mereka. Risa sengaja pisahin jadi dua chap, soalnya takut kepanjangan kalo digabung jadi satu chap. Supaya readers gak bingung, Risa bikinin rangkuman battle babak pertama + pemenangnya:
Kibum VS Donghae - Donghae
Yesung VS Sungmin - Yesung
Eunhyuk VS Zhoumi - Eunhyuk
Ryeowook VS Siwon - -
Hangeng VS Henry - Hangeng
Kangin VS Leeteuk - Leeteuk
Heechul VS Kyuhyun - Kyuhyun
Silahkan tebak siapa yang bakal lawan siapa di babak kedua, bisa diliat dari beberapa potong dialog di akhir chap ;)
Huge thanks for:
indahpus96 / Anonymouss / raemi. han / FishyMonkey / Lee Eun Jae / love haehyuk / Hseki sora / shizu indah / myhyukkiesmile / nurul. p. putri / KyoKMS26 / Malidaminne / Park Ri Yeon / YukimaruNara / EunsooJewel / sweetyhaehyuk / RieHaeHyuk / futari chan / Arit291 / HyeInKyuhyun / Just Call Me Guest / Hyukkie'sJewels / Han Eunkyo / lyndaariezz / snowersparkyupump / andiniHaeHyuk / Rio / shovariah / qyukey / Sabrina Lia Aisyah / MicheliaAdhaa
Also for the Silent Readers and everyone who follow and favorite this fic. Thank you for your appreciation! ^^
