Title : Element Bracelets
.
Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae and other Super Junior member (13 + 2)
.
Pair : Haehyuk (Donghae x Eunhyuk) and other Super Junior official couple
.
Rated : T
.
Genre : Fantasy, Romance, Action, Angst, Hurt/Comfort
.
Warning : Yaoi, Typo(s), Speedy Plot
.
Disclaimer : Semua tokoh dalam fic ini bukan punya Risa, Risa cuma minjem nama mereka. Tapi fic ini 100% punya Risa
.
"…" = Talk
'…' = Think
.
^^DON'T LIKE DON'T READ^^
.
.
Setelah kembali ke ruangan hitam berpintu biru, Aiden teringat kalau dia memerlukan gelang elemen lawannya sebagai akses untuk masuk ke ruangan berikutnya. Dia berjongkok di sebelah tubuh pingsan yang tergeletak di lantai.
"Aku ambil gelangmu, Bryan-ssi," ucap Aiden sambil menyeringai. "Dan bolehkah aku melepaskan topengmu? Aku ingin tahu identitasmu yang sebenarnya, siapa tahu kau kenal dengan Hyukkie hingga bisa satu tim dengannya."
Dengan agak tidak sabar, Aiden melepaskan topeng biru lawannya. Namun seringai kekasih Spencer itu memudar, dia tertegun begitu menyadari siapa orang yang baru saja dia kalahkan.
"Kalau tidak salah dia Kim Kibum bukan? Salah satu teman dekat Hyukkie di SM," gumam Donghae terperangah. "Kalau begitu, apa jangan-jangan semua anggota tim The Dark Seeker juga murid SM seperti kami…?"
DEG!
Setelah menarik kesimpulan demikian, mendadak saja kepala Donghae berdenyut sakit. Memori-memori masa lalunya mulai berkelebat samar, sebagian besar adalah ingatannya semenjak pindah ke SM High School. Wajah teman-temannya datang dan pergi, namun wajah Eunhyuk-lah yang mendominasi semua memori Donghae.
'Ugh… Ada apa dengan kepalaku?' batin murid pindahan dari Mokpo itu.
Namun rasa sakit di kepala Donghae menghilang sama cepatnya seperti kemunculannya, ingatan-ingatan tadi tidak cukup kuat untuk melenyapkan pengaruh gelang elemen jahat dalam diri seorang Lee Donghae.
"Memori bodoh seperti itu tidak akan sanggup mengubah pendirianku, aku akan terus berjuang demi Conquistadores dan Dennis hyung," janji Donghae sambil bangkit berdiri.
Dengan penuh percaya diri, Donghae berbalik dan berjalan menuju pintu biru yang akan membawanya menuju pertandingan selanjutnya.
.
.
Setelah tiba di depan pintu berwarna coklat, Joshua memasukkan gelang elemen tanah milik Mochi ke lubang yang terletak di tempat kenop pintu seharusnya berada. Bagaikan di film-film science-fiction, pintu itu kemudian mengeluarkan cahaya terang berwarna coklat dan mulai bergeser sendiri secara perlahan-lahan.
'Teknologi yang Conquistadores gunakan untuk pertandingan ini sungguh menakjubkan, kira-kira dari mana mereka mendapatkan dana dan semua peralatan ini?' batin Joshua.
Setelah pintu tadi terbuka sepenuhnya, Joshua melangkah menuju ruangan yang sudah menunggu di depannya. Asap tebal memenuhi ruangan tersebut dan sedikit menghalangi pandangannya, namun Joshua tetap berjalan dengan mantap. Anehnya, lawan Joshua belum juga tiba meskipun dia telah berdiri tepat di tengah ruangan.
WUUSSH!
Tanpa diduga, sebuah hembusan angin kencang datang dari pintu putih yang berdiri kokoh di seberang ruangan. Untung saja refleks Joshua bagus, dia langsung menghentakkan kaki ke tanah dan tanah itu membentuk sebuah tembok besar yang melindungi tubuhnya. Kontan saja angin tadi menabrak tembok Joshua dan menghilang tanpa jejak.
PROK! PROK! PROK!
Suara tepuk tangan seseorang bergaung di ruangan kosong itu, Joshua segera meruntuhkan tembok yang dia buat untuk melihat siapa yang melakukannya. Walaupun sebenarnya dia sudah bisa menerka jika dilihat dari angin yang mendadak muncul tadi.
Pintu putih di hadapan Joshua telah terbuka sepenuhnya, menampilkan seorang namja berjubah putih dan bertopeng putih yang membawa sepasang kipas semi-transparan. Orang itu menyunggingkan senyum berwibawa namun berbahaya, lesung pipi juga tak lupa menghiasi kedua pipinya.
"Aku tidak menyangka kau akan bereaksi secepat itu, Joshua-ssi. Pemimpin The Dark Seeker memang sudah seharusnya begitu agar layak bertarung denganku," ujarnya.
Joshua mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Dennis Park, jadi kaulah lawanku?"
Dennis memperlihatkan gelang elemen udara yang terlingkar di pergelangannya. "Inilah pertandingan yang sudah lama ku tunggu-tunggu, Joshua Tan. Sebentar lagi kedua pemimpin Conquistadores dan The Dark Seeker akan segera bertarung, ku harap ini tidak akan berakhir dengan mudah."
'Leeteuk gege, apa kau tahu kalau lawanmu sebelumnya adalah mantan namjachingumu sendiri?' batin Joshua sambil memasang sikap waspada.
.
.
Di sisi lain, Marcus memasukkan gelang elemen milik Casey ke dalam lubang di pintu sambil bersenandung sendiri.
"Kira-kira siapa ya lawanku berikutnya? Aku akan senang sekali jika mendapatkan lawan yang sulit."
Kemudian pintu di hadapan Marcus mengeluarkan cahaya hitam misterius dan bergeser sendiri, namja itu melangkah melewatinya dan tersenyum penuh percaya diri. Satu hal yang Marcus tidak tahu, ternyata seseorang berjubah hitam dan bertopeng hijau sudah tiba lebih dulu di ruangan tersebut.
Jerome terbelalak begitu melihat siapa yang baru saja tiba, itu berarti sebentar lagi dia akan bertarung melawan Marcus Cho, orang yang paling tidak ingin dia hadapi dari tim Conquistadores untuk saat ini.
Sekarang Marcus dan Jerome saling berhadapan, Marcus memandang lawannya itu dari atas sampai bawah dengan tatapan meremehkan saat mengetahui kalau Jerome-lah yang berdiri di hadapannya.
Marcus berdecih. "Oh, jadi kaulah lawanku selanjutnya? Aku kira aku akan berhadapan dengan namja yang lebih kuat dari Casey hyung, ternyata tidak ada bedanya."
'Aku tidak peduli separah apapun Marcus mengejekku, tapi ku harap dia tidak menyadari sesuatu…' mohon Jerome dalam hati.
Selang beberapa detik, sesuatu seperti menghantam otak si anggota tim Conquistadores itu. Dia teringat akan sesuatu, lebih tepatnya siapa yang menjadi lawan Yesung sebelum ini.
"Kenapa kau yang menjadi lawanku, Yesung hyung? Itu berarti… kau berhasil mengalahkan Sungmin hyung, namjachinguku?!"
'Sial, Kyuhyun menyadarinya!' umpat Yesung dalam benaknya.
Keterkejutan Kyuhyun bertambah tatkala melihat noda merah samar yang berlumuran di jubah hitam Yesung, prasangka negatif mulai hinggap di benaknya.
Kyuhyun mengertakkan gigi, amarahnya sudah berada di ambang batas. "Jangan katakan kalau darah yang ada di jubah hyung adalah darah Sungmin hyung…"
Yesung melirik jubahnya dan buru-buru menggelengkan kepala. "J-Jankkaman, Kyuhyun-ah. Ini tidak seperti yang kau bayangkan, namjachingu-mu baik-baik saja. Aku tidak-"
"GEOTJIMAL!" Kyuhyun memotong ucapan Yesung. "Aku yakin hyung pasti berbohong!"
"Aku tidak berbohong, Kyuhyun-ah!" Yesung ikut berteriak. "Dengarkan dulu kata-kataku. Ini adalah darahku sendiri, aku sama sekali tidak melukai kekasihmu."
"Kalau memang Sungmin hyung tidak terluka, kenapa hyung bisa menang darinya?"
"Aku hanya membuatnya syok hingga pingsan."
Kyuhyun tidak mengatakan apapun, tangan kanannya terentang dan tiba-tiba saja dia telah menggenggam sebuah sabit besar seperti milik malaikat pencabut nyawa.
"Aku tidak akan mempercayaimu begitu saja, Kim Jongwoon hyung," geramnya. "Aku tidak peduli kau lebih tua dariku, karena aku tidak akan mengampuniku. Aku harap Leeteuk hyung tidak keberatan jika aku 'sedikit' melanggar peraturannya."
Yesung menelan ludah dengan susah payah seraya membatin, 'Inilah sebabnya kenapa aku tidak ingin melawanmu, Cho Kyuhyun. Kau pasti ingin membalas kekalahan kekasihmu dan itu bukan hal yang bagus untukku, aku yakin kau pasti akan berusaha membunuhku.'
.
.
Spencer melangkah gontai memasuki ruangan baru di depannya, matanya tidak fokus dan masih terdapat bekas air mata di wajahnya.
'Berapa orang lagi yang harus aku kalahkan setelah Zhoumi? Siapa lagi teman-temanku yang harus kalah dalam pertempuran?' batin Spencer miris. 'Walaupun tidak sampai membunuh satu sama lain, tapi kenapa Conquistadores tega mengadakan kompetisi sekeji ini? Apa ini karena efek dari gelang elemen jahat?'
Karena pikirannya sedang melayang entah kemana, Spencer tidak sadar kalau di hadapannya telah berdiri seorang namja berjubah putih. Anggota Conquistadores yang akan menjadi lawan selanjutnya.
BRUK!
Entah kenapa namja itu tidak menghindar ataupun menghentikan langkah Spencer, sehingga Spencer menubruk tubuhnya hingga jatuh terduduk.
"Auww, appo…" erang Spencer sambil memegangi bokongnya yang mencium lantai dengan keras.
Kemudian namja misterius itu mengulurkan tangannya ke arah Spencer dan bertanya, "Gwaenchanayo?"
Spencer tertegun. 'Sepertinya aku pernah mendengar suara ini, jangan-jangan…'
Sebelum menggenggam tangan di hadapannya, Spencer menengadahkan kepala untuk melihat wajah si pemilik tangan itu. Begitu menyadari siapa yang berada di depannya, raut wajah Spencer mulai berubah perlahan-lahan.
Spencer terlihat senang, takut, kaget, dan… rindu?
"Lee Donghae…" gumam sang pemilik elemen api.
Donghae alias Aiden Lee tersenyum. "Annyeonghaseyo, nae Lee Hyukjae~"
Hampir saja Eunhyuk jatuh ke dalam pesona kekasihnya itu, namun dia menyadari kalau bibir Donghae membentuk seringai dan bukan senyum hangat. Mata merah yang tersembunyi di balik topeng birunya juga memancarkan aura negatif.
'Sadarlah, Lee Hyukjae. Saat ini dia bukanlah Donghae yang kau kenal, dia sedang dikendalikan oleh gelang elemen jahat.' Sebuah suara bergaung dari dalam kepala Eunhyuk.
Tanpa suara, Eunhyuk membalas uluran tangan Donghae dan berdiri. Namun sebelum Donghae sempat melakukan apapun, Eunhyuk menarik tangannya dan…
GREB!
Direngkuhnya tubuh tegap Donghae dalam dekapan.
"Fishy, bogoshipda…"
Meskipun dia tahu kalau gelang elemen jahat masih mengendalikan pikiran namja yang dia peluk, namun Eunhyuk tidak bisa menampik bahwa dia merindukan Donghae. Suaranya, sentuhannya, senyumnya, gerak-geriknya, tatapan matanya. Betapa Anchovy sangat merindukan semua yang ada pada diri Fishy-nya.
Awalnya tangan Donghae hanya menjuntai di sisi tubuhnya, namun tanpa sadar kedua tangan itu terangkat dan kini melingkar di pinggang Eunhyuk.
'Kenapa tanganku bergerak sendiri tanpa bisa ku kendalikan?!' pikir Donghae kaget.
DEG!
Mendadak kepala Donghae berdenyut sakit untuk yang kedua kalinya, kali ini memori yang terlintas di benaknya terlihat lebih jelas daripada sebelumnya. Sebagian besar dari memori tersebut menampilkan saat-saat ketika Donghae dan Eunhyuk berpegangan tangan, berpelukan, bercumbu, dan segala bentuk kontak fisik yang pernah mereka lakukan.
"Aarrgh…!" Saking sakitnya, Donghae sampai jatuh berlutut dan menjambak rambutnya frustasi.
"Donghae-ya, waeyo?!" tanya Eunhyuk begitu melihat gelagat aneh Donghae, dia ikut berlutut.
Eunhyuk baru saja hendak menyentuh pundak Donghae, namun namja berambut brunette itu segera menepisnya dengan kasar. Matanya yang semerah darah beradu pandang dengan mata hitam Eunhyuk.
"Tidak usah menyentuhku, aku tidak butuh bantuan darimu!" bentak Donghae.
DEG!
Eunhyuk terkejut, baru kali ini dia dibentak oleh Donghae yang tidak pernah sekalipun bersikap kasar padanya. Dadanya sesak, ingin rasanya Eunhyuk meneteskan air mata lagi, namun dia berusaha tegar agar tidak terlihat lemah di hadapan Donghae yang akan menjadi lawannya sekarang.
Setelah denyut di kepalanya mereda, Donghae bangkit dan kembali mengulurkan tangannya pada Eunhyuk. Kali ini ekspresinya dingin dan tidak bisa ditebak, dia menatap tajam Eunhyuk seakan ingin melubangi isi hatinya.
"Pegang tanganku," titah Donghae. "Aku tidak peduli kau namjachingu-ku atau bukan, tapi kompetisi tetaplah kompetisi. Jangan mengharapkan belas kasihan dariku saat bertarung nanti, karena aku akan serius."
Ucapan itu terasa seperti ratusan pisau yang menghujam Eunhyuk dari segala arah. Di satu sisi, pemilik elemen api itu merasa terluka karena Donghae bersikap seakan-akan mereka adalah musuh dan bukan sepasang kekasih. Namun sebagai lelaki, jiwa kompetitif Eunhyuk juga tertantang dan dia tidak ingin setengah-setengah dalam bertarung.
Eunhyuk tertawa sarkastik. "Rasa percaya dirimu sungguh berlebihan, sejak kapan aku meminta belas kasihan dari orang lain? Jangan bersikap seakan-akan kau sudah pasti akan memenangkan pertandingan ini."
Sebuah senyum miring menghiasi bibir Donghae. "Semangat yang bagus."
.
.
"Jadi ini arena pertandingan kita?" tanya Joshua.
Dia dan Dennis baru saja berteleportasi ke pinggir pantai yang sangat sepi, air lautnya berwarna biru jernih sampai-sampai kita bisa melihat dasarnya. Mentari telah terbenam di ufuk barat dan hanya ada mereka berdua di tempat itu.
Dennis mengangguk. "Panorama yang bagus bukan? Aku sengaja memilih tempat yang spesial ini, aku melihatnya di sebuah katalog tempat wisata luar negeri. Sayang sekali kita tidak bisa menikmati pemandangan senja di sini karena harus bertarung, mungkin aku akan kembali ke sini saat liburan tiba."
"Liburan masih lama, Dennis hyung. Lagipula kau masih harus berhadapan denganku sebelum bersekolah kembali."
Dennis sedikit tercengang. "Darimana kau tahu kalau aku masih bersekolah, Joshua-ssi?"
Joshua mengangkat bahu. "Mollayo, mungkin postur tubuhmu yang berkata demikian. Atau bisa saja… keberadaanku di kehidupan sehari-hari ternyata lebih dekat dari yang kau bayangkan."
"Mungkin saja kau benar, lagipula Korea Selatan tidak terlalu luas." Dennis tertawa renyah.
"Ku rasa sudah cukup basa-basinya, sudah siap untuk bertarung?"
"Sejujurnya aku siap kapan saja. Rock Shoes!"
Karena kali ini arena mereka adalah pantai berpasir, otomatis Rock Shoes milik Joshua terbentuk dari butiran-butiran pasir yang saling merekat mantap. Sementara Dennis sudah sedari tadi menggenggam kedua Zephyr Fan-nya.
Tanpa aba-aba, Dennis mengibaskan kedua kipasnya ke arah Joshua. Kibasan tersebut menciptakan pisau angin berbentuk X dan melaju kencang menuju sasaran, untungnya Joshua bisa menghindari serangan itu dengan baik.
Joshua memikirkan taktik yang harus digunakannya agar bisa menang, 'Leeteuk gege adalah tipe petarung jarak jauh karena senjatanya yang berupa kipas, itu berarti aku harus memperkecil jarak agar dia tidak bisa menyerang.'
Kali ini giliran Joshua yang menyerang, dia memusatkan pikiran sejenak dan dia menghilang begitu saja di tengah udara kosong. Hanya ada sepasang jejak sepatu di atas pasir tempatnya berdiri tadi.
"Dia berteleportasi, eoh?" gumam Dennis. "Pengecut, sekarang aku harus menebak kira-kira dia akan muncul darimana."
Biasanya titik buta seseorang adalah bagian belakang tubuhnya, karena itu sesekali Dennis menoleh ke belakang untuk mengecek apakah Joshua akan muncul dari sana. Beberapa menit telah berlalu, tapi namja Cina itu belum juga nampak batang hidungnya.
Kemudian Dennis teringat akan sesuatu. 'Saat sedang berteleportasi, seorang pengendali elemen tanah pasti akan muncul di tempat yang memiliki unsur tanah. Apa jangan-jangan dia akan muncul dari bawah pasir?'
Dennis baru saja hendak melirik ke tanah ketika sesuatu yang aneh terjadi, pasir yang menjadi pijakan Dennis mendadak terasa seperti mencengkeram kakinya. Sepersekian detik sebelum Dennis menyadari apa yang sedang terjadi, kakinya ditarik oleh sesuatu yang tidak kasat mata hingga tangan dan separuh tubuhnya terbenam ke dalam pasir.
Pasir itu berubah menjadi pasir hisap!
Setelah itu, Joshua muncul begitu saja di depan Dennis. "Bagaimana 'perangkap semut' dariku, hyung? Aku harap kau tidak alergi dengan pasir."
"Sayangnya aku adalah manusia, bukan semut," desis Dennis sambil berusaha melepaskan diri.
Joshua sudah bersiap untuk menyerang bagian tubuh Dennis yang tidak terbenam, tapi lagi-lagi suatu keanehan terjadi. Sebuah pusaran angin besar muncul di dekat Dennis dan menerbangkan pasir yang membelenggu pemimpin Conquistadores itu, baik Dennis maupun Joshua sampai menutup mata mereka agar tidak terkena debu dan pasir yang berterbangan.
Pusaran angin itu menghilang sama mendadaknya seperti kemunculannya tadi, kini Dennis pun terbebas karena angin tersebut menimbulkan rongga yang cukup besar supaya dia bisa bergerak.
Namja berjubah putih itu mengibaskan salah satu kipasnya ke arah pantai dan kipas lainnya ke arah pasir di antara dia dan Joshua. Angin besar yang dihasilkan dari kibasan itu sukses menciptakan badai pasir dan pusaran angin.
Mendadak raut wajah Dennis berubah menjadi dingin dan penuh amarah, iris merahnya berkilat jahat di balik topeng putih yang dia kenakan. Senyum serta lesung pipinya juga ikut lenyap.
"Sudah cukup main-mainnya, sebaiknya kita mulai serius sekarang. Aku penasaran apakah pemimpin The Dark Seeker sehebat dirimu bisa menghindari badai pasir dan pusaran angin ini."
.
.
Sementara itu Yesung dan Kyuhyun tengah berdiri di atas taman bunga yang nampak angker, mungkin karena di sana sudah tengah malam. Bunga mawar beraneka warna mendominasi taman tersebut, terdapat juga beberapa pohon yang daunnya telah berguguran di tanah. Bulan purnama bersinar tepat di atas kepala mereka.
"Awalnya aku ingin menjelaskan tentang arena pertarungan kita yang sekarang, tapi moodku sudah terlanjur rusak karenamu, Yesung hyung."
Si penguasa elemen tumbuhan dari The Dark Seeker bisa melihat dengan jelas kalau Kyuhyun menggenggam Death Scythe-nya dengan erat saat berkata demikian, sampai-sampai jarinya memutih. Bahkan buluk kuduk Yesung sempat meremang, entah karena suasana kelam tempat itu atau hasrat pembunuh Kyuhyun yang sangat kuat.
"Aku sudah cukup mendapat gambaran hanya dengan melihat sekeliling kita, Kyuhyun-ah. Yang pasti tempat ini bisa mendukung kedua elemen kita dan letaknya bukan di Korea-"
WUUSH!
Dengan kecepatan tak kasat mata, Kyuhyun berlari dan melingkarkan sisi tajam Death Scythe di sekitar leher Yesung. Matanya yang semerah darah menatap mata hitam Yesung dengan tajam, seakan ingin mencabik-cabiknya hingga ke tulang sumsum.
"Aku tidak suka berbasa-basi, pertandingan harus segera dimulai. Dalam hitungan ke-3, hyung harus sudah membuat senjata atau ayunan sabitku akan membuat kepala hyung terputus dan menggelinding di tanah."
Yesung menelan ludah, 3 detik?!
Kyuhyun mengangkat jari telunjuknya. "Hana…"
Dengan panik, Yesung mengedarkan pandangan ke tanah di sekitarnya. Tapi tidak ada satupun tumbuhan di dekat tempat mereka berdiri!
"Dul…" Jari Kyuhyun membentuk huruf V, tangannya yang satu lagi mulai memegang sabit seerat mungkin.
Yesung semakin panik. 'Kelihatannya bocah ini tidak sedang bermain-main, eotteokhe?'
Di situasi yang mendesak itu, mendadak Yesung mendapat ide. Jika kondisi mereka digambarkan sebagai komik, pasti sebuah bohlam baru saja menyala terang di atas kepalanya.
Namun pada saat yang bersamaan, Kyuhyun mengangkat jari ketiganya. "Set!"
Dengan sekuat tenaga, namja berjubah putih itu mengayunkan Death Scythe raksasanya untuk menebas kepala Yesung.
CRASSH!
Kyuhyun pikir serangannya tepat mengenai sasaran, tapi ternyata Death Scythe-nya hanya menebas jubah hitam milik Yesung. Sepertinya pemilik jubah itu berteleportasi sepersekian detik sebelum Kyuhyun mengayunkan sabitnya.
"Cih, kemana namja itu per-"
JLEB!
Sebelum Kyuhyun sempat menyelesaikan ucapannya, rasa sakit mulai merayap dari punggungnya. Dia menoleh dan mendapati kalau Yesung baru saja menusukkan Leaf Dagger ke bagian belakang tubuhnya.
"Aarrgh…" Kyuhyun merintih kesakitan, jubah putih yang dia kenakan mulai ternodai dengan warna merah dari darahnya sendiri.
Dengan perlahan, Yesung mencabut pisau daun yang dia tancapkan di punggung lawannya itu. "Mianhae Kyuhyun-ah, aku benar-benar terpaksa melakukan ini. Lagipula robot itu pasti akan menyembuhkanmu nanti."
Kini Leaf Dagger milik Yesung memang berlumuran darah, tapi pemilik pisau daun itu tidak menyadari kalau cairan merah tersebut terus menetes tepat di bayangan Kyuhyun.
Sama seperti saat melawan Heechul sebelumnya, bayangan Kyuhyun keluar dari tanah dan berubah bentuk menjadi seperti manusia karena ditetesi darah. Bayangan yang tadinya hitam itu mulai berubah warna dan menjadi persis seperti Kyuhyun, bahkan dia juga membawa Death Scythe.
Secara tidak langsung, Yesung baru saja membangkitkan Darkyu.
.
.
Pertarungan yang tak kalah seru juga telah berlangsung antara sepasang kekasih yang berbeda tim, yaitu Eunhyuk dan Donghae. Mereka bertarung di salah satu pulau di Hawaii yang gunung berapinya sedang aktif! Karena elemen mereka adalah api dan air, tempat ini bisa menjadi arena yang bagus karena stok magma-nya melimpah dan dekat dengan laut.
Memang agak berbahaya, tapi mereka berdua sudah tidak peduli lagi. Toh robot milik tim Conquistadores telah diprogram untuk memastikan agar tidak ada seorang pun dari mereka yang meninggal.
Secara teori, pertarungan ini tidak menguntungkan Eunhyuk karena elemennya adalah api sementara elemen Donghae ialah air. Air memang bisa memadamkan api, tapi Eunhyuk bertekad untuk menciptakan api yang besar agar tidak mudah untuk dipadamkan oleh air Donghae.
Lagipula di sini Eunhyuk tidak menggunakan api, melainkan magma yang terus mengalir dari gunung berapi. Selain itu Donghae juga tidak bisa sembarangan menyerang, tubuhnya tidak tahan panas dan dia masih harus menghindari serangan magma dari Eunhyuk agar kulitnya tidak melepuh karena luka bakar.
Eunhyuk sibuk mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, sedari tadi dia berusaha menghindari serangan Donghae yang menggunakan ombak laut. Di sisi lain, Donghae juga tidak bisa mendekati Eunhyuk dengan mudah karena namja bersurai hitam itu melindungi diri dengan kubah yang terbuat dari lahar panas.
"Keluarlah dari sangkar panasmu, Anchovy. Aku tidak percaya kalau ternyata kekasihku adalah seorang pengecut," ejek Donghae.
"Ini adalah taktik pertahananku, Fishy. Penentu kemenangan dari sebuah kompetisi bukan hanya penyerangan semata, selain itu aku tidak pengecut."
Liquid Tentacle yang terlilit di kedua lengan Donghae bergerak cepat ke arah kubah Eunhyuk, Donghae mencoba menembus pertahanan itu dengan gedoran dari tentakel air dingin. Dengan dorongan yang agak keras, perlahan-lahan tentakel Donghae berhasil membuat kubah magma itu membeku menjadi batu.
"Sial!" Eunhyuk terpaksa melakukan teleportasi sebelum kubah itu membeku sepenuhnya agar dia tidak terperangkap di dalam.
Donghae melempar pandangan kesana-kemari, mencoba mencari tahu dimana Eunhyuk akan muncul setelah berteleportasi. Namun karena tidak kunjung terlihat, Donghae pun memejamkan mata lalu memfokuskan indera pendengarannya.
'Anchovy pasti akan muncul tidak jauh dari magma, karena dia membutuhkan elemen api agar bisa berteleportasi,' prediksi Donghae dalam hati. 'Kalau begitu, dia akan muncul di…'
GREB!
Dengan cepat, semua Liquid Tentacle bergerak menuju satu-satunya jalur magma yang mengalir di dekat kaki Donghae. Tentakel air itu kemudian melilit sesosok tubuh yang baru saja muncul dari tengah udara kosong.
"Ugh… Lepaskan aku tentakel bodoh…!" Eunhyuk meronta-ronta agar bisa terbebas dari jeratan Liquid Tentacle.
Tentu saja Donghae tidak mengabulkan permohonan Eunhyuk. Dia hanya berdecak, seringai puas terpatri di sudut bibirnya.
"Aigoo, nampaknya aku baru saja menangkap buruan besar. Kerja bagus, Liquid Tentacle."
Donghae kembali memberi perintah pada tentakel kesayangannya, dia mengarahkan kedua tangannya yang terlilit tentakel menuju ke kaki gunung. Dengan satu kali sentakan yang mirip gerakan mencambuk, Liquid Tentacle melempar tubuh Eunhyuk ke kaki gunung berapi.
BRAK!
Kontan saja punggung dan kepala Eunhyuk menghantam bebatuan dengan keras.
"Aakhh…" rintih Eunhyuk, darah mulai mengalir dari dahinya yang menghantam gunung.
Sang pengendali elemen air sama sekali tidak kenal ampun walaupun lawannya kali ini adalah namjachingu-nya sendiri. Walaupun sudah berhasil melukai Eunhyuk, Donghae tidak berniat untuk melepaskan tubuh namja itu dari jerat Liquid Tentacle.
Donghae berjongkok di sebelah Eunhyuk yang masih tergeletak tidak berdaya lalu menjambak surai hitam Eunhyuk dan menarik kepalanya mendekat. Eunhyuk sendiri menggigit bibir bawahnya sekuat mungkin agar tidak menjerit kesakitan, dia tetap tidak sudi terlihat lemah di hadapan Donghae.
"Anchovy, apa kau masih sanggup berdiri di atas kakimu sendiri? Kalau tidak kuat, aku akan memerintahkan Liquid Tentacle untuk menyeretmu ke puncak gunung. Kita akan pergi ke atas sana untuk melihat pemandangan." Donghae membisikkan ajakan tersebut tepat di telinga Eunhyuk. "Dan jangan menggigit bibirmu seperti itu, kau hanya akan membuatnya berdarah dan melukai dirimu sendiri."
Aneh bukan? Donghae benar-benar seperti seorang psycho sekarang, dia tidak mau Eunhyuk melukai diri sendiri namun dia malah melukai Eunhyuk dengan tangannya sendiri.
.
.
Kelihatannya efek gelang elemen jahat semakin memperburuk kondisi kejiwaan tiga anggota tim Conquistadores yang tersisa, sampai-sampai mereka tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Teman serta kekasih mereka juga turut menjadi korban.
Walaupun sedang berada dalam bahaya, apakah The Dark Seeker bisa memenangkan turnamen ini dan bertemu dengan naga dalam legenda?
Lalu misteri apakah yang tersembunyi di balik memori yang berputar di benak Donghae dan Leeteuk serta denyut menyakitkan yang mereka alami?
.
.
.
TBC
^Risa's Note^
Akhirnya Risa kembali dari vakum (dan Writer's Block)! \(^o^)/ Untungnya Risa bisa nemuin ide buat ngelanjutin fic ini, gak kebayang kan kalo Element Bracelets terpaksa di-discontinued gara-gara otak authornya stuck? Salahkan otak Risa yang udah berdebu dan gak keasah ini -_-
Dengan berat hati, Risa sampein kalo 2-3 chapter lagi fic ini bakal tamat T.T *hiks* Jeongmal gomapseumnida buat readerdeul yang udah setia nungguin kelanjutan fic ini sampe lumutan, Risa janji chap selanjutnya bakal cepet dipost. Paling lambat tahun 2099 wkwk *plak*
Oh ya, Risa minta maaf kalo chapter ini rada… sadis? Darah dimana-mana, permainan psikologi yang dialamin sama The Dark Seeker (terutama pas Eunhyuk lawan Donghae). Aku sama sekali gak ada niatan buat ngebash SJ oppadeul atau nyumpahin mereka luka-luka, ini semua murni demi kelancaran alur cerita. Jeongmal mianhamnida~! *deep bow*
Huge thanks for:
fitri. flames / KyoKMS26 / FishyMonkey / myhyukkiesmile / Lee Eun Jae / Anonymouss / J. clou / YukimaruNara / Hoseki Sora / sung hye neul / indahpus96 / Rilianda Abelira / hera3424 / futari chan / qyukey / andinihaehyuk / shizu indah / lyndaariezz / tika yeoja / LeeShinHye / allika. azallika / Arit291 / boo young / Kimyewookaegya / Guest / Lee Hyuk Nara / InaaKim / sari mutia 23 / secretadmire
Also for the Silent Readers and everyone who follow and favorite this fic. Thank you for your appreciation! ^^
