Title : Element Bracelets
.
Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae, and other Super Junior members (13 + 2)
.
Pair : Haehyuk (Donghae x Eunhyuk) and other Super Junior official pairings
.
Rated : T
.
Genre : Fantasy, Romance, Action, Angst, Hurt/Comfort
.
Warning : Yaoi, Speedy Plot
.
Disclaimer : All the characters inside this fanfiction is definitely not mine, I only use their name. But this fanfiction and its plot are 100% mine
.
"…" = Talk
'…' = Think
.
.
Leaf Dagger milik Yesung memang berlumuran darah, tapi pemilik pisau daun itu tidak menyadari kalau cairan merah tersebut terus menetes tepat ke bayangan Kyuhyun.
Sama seperti saat melawan Heechul sebelumnya, bayangan Kyuhyun keluar dari tanah dan berubah bentuk menjadi seperti manusia karena ditetesi darah. Bayangan yang tadinya hitam itu mulai berubah warna dan menjadi persis seperti Kyuhyun, bahkan dia juga membawa Death Scythe.
Secara tidak langsung, Yesung baru saja membangkitkan Darkyu.
"Ma–Makhluk apa i–"
CRASSH!
Suara tebasan dari Death Scythe yang diayunkan oleh Darkyu terdengar membelah kesunyian malam di taman bunga nan kelam tersebut.
Entah karena jaraknya yang terlalu dekat dengan Darkyu, refleksnya yang sedang tidak terlalu bagus, ataupun pertahanannya yang melemah karena merasa telah mengalahkan Kyuhyun, namun Darkyu berhasil menebas tubuh Yesung bahkan sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya ataupun berteleportasi. Duplikat dari Kyuhyun tersebut menyerang dengan kecepatan yang nyaris tidak kasat mata.
Bagaikan diberi efek slow motion, perlu beberapa saat bagi otak Yesung untuk memproses segala kejadian yang baru saja dia alami. Telinganya mendengar suara baju yang terobek oleh tajamnya sabit kegelapan, kedua indera penglihatannya merekam saat-saat ketika cairan merah pekat menyembur dari kulitnya dan mengotori tanah serta pakaiannya sendiri.
Kemudian hal yang paling Yesung takutkan pun terjadi setelahnya, syaraf-syarafnya mulai mengirim rangsangan ke otak dan…
"AAAAARRRGGGHH!"
Sang pengendali elemen tumbuhan meraung sekeras yang dia sanggup karena dia mulai merasakan rasa sakit yang teramat sangat dari bagian depan tubuhnya.
BRUK!
Bersamaan dengan lenyapnya Darkyu menjadi kepulan asap hitam, kaki Yesung juga tidak sanggup lagi menahan berat tubuhnya sehingga pria itu ambruk ke tanah dan tergeletak di tengah kubangan darahnya sendiri.
Luka yang dia derita pastilah cukup dalam, jika dinilai dari betapa kencangnya Yesung berteriak serta dari garis diagonal panjang berwarna merah yang terbentang dari pundak, dada, perut, hingga pinggang Yesung.
Sementara itu, sepasang bola mata milik Kyuhyun nampak terbelalak menyaksikan bagaimana Darkyu baru saja melayangkan serangan fatal terhadap lawannya. Cipratan darah Yesung yang cukup deras mengotori wajah dan jubah putihnya serta bercampur dengan darah Kyuhyun sendiri.
"Apa dia… sudah mati?!"
Kontras dengan pertanyaan yang baru saja dia lontarkan, seringai kemenangan perlahan menghiasi wajah si pria berjubah putih. Meski demikian, matanya belum tersentuh oleh pertanda kekejaman dan masih menyorotkan campuran antara keterkejutan dan rasa sakit akibat luka tusuk yang juga dia alami.
Dengan luka di punggung yang masih belum kering, Kyuhyun mencoba merangkak mendekati Yesung untuk mengecek denyut nadi musuhnya itu, Namun senyumnya perlahan memudar ketika dia merasakan sesuatu. Sesuatu yang aneh yang seharusnya tidak terjadi pada tubuhnya.
"Kenapa… kakiku tidak bisa digerakkan? Kenapa aku tidak bisa merasakan bagian bawah tubuhku?!"
Kengerian kini nampak jelas terpeta di wajah anggota Conquistadores tersebut. Dengan panik, Kyuhyun mencoba menggerakkan, mencubiti, menggelitik, dan bahkan memukul-mukul kakinya sendiri. Tapi bagaikan mati rasa, syaraf-syaraf di kakinya sama sekali tidak merasakan apapun.
Lalu sayup-sayup indera pendengaran Kyuhyun mendengar suara lemah dari tawa seseorang, Kyuhyun menoleh dan mendapati kalau Yesung masih hidup. Meskipun terpuruk di atas tanah dan genangan darah, kedua matanya separuh terbuka dan bibirnya melengkungan senyum yang tidak bisa Kyuhyun artikan.
"Apanya yang lucu, hah?! Apa yang sudah kau perbuat pada tubuhku?" hardik Kyuhyun.
"Nampaknya kondisi kita tidak jauh berbeda sekarang…" Yesung berkata dengan nafas tersengal-sengal. "Aku tidak tahu apakah dugaanku benar, tapi sepertinya Leaf Dagger yang ku gunakan untuk menusukmu terbuat dari daun beracun yang bisa melumpuhkan anggota tubuhmu. Tapi ku rasa itu hanya akan berlangsung sementara, tidak permanen. Tenang saja."
"Itu kan hanya dugaanmu, kau bahkan tidak tahu tanaman jenis apa yang kau gunakan! Bagaimana kalau kakiku lumpuh selamanya? Bagaimana aku bisa menghampiri Minnie hyung kalau aku tidak bisa berjalan seperti ini?!"
Yesung menatap pria yang lebih muda darinya itu dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak. "Secinta itukah kau pada Sungmin?"
Kyuhyun berdesis sarkastik. "Pertanyaan bodoh. Kau tidak tahu seberapa besar pengorbanan yang aku lakukan agar dia terus berada di sisiku, he's my only reason to stay alive until now and I really don't want him to leave."
"Sesungguhnya aku bergabung dengan Conquistadores hanya karena Minnie hyung yang menemukan kekuatanku, lagipula dia juga tergabung di dalam grup ini," lanjut Kyuhyun. "Aku harus memastikan kalau dia baik-baik saja dan tidak terluka selama pertarungan berlangsung. Aku selalu ingin melindungi Minnie hyung, karena itu aku membuat robot dan seluruh sistem untuk menunjang pertandingan kali ini."
"Kau yang menciptakan semua teknologi itu?!" Yesung terkejut.
"Tidak tahukah kau kalau aku cukup menguasai ilmu robotika dan mekanika?" Tapi Kyuhyun tertawa meremehkan setelahnya. "Oh tentu saja kau tidak tahu, sebenarnya hanya Minnie hyung yang mengetahui bakat rahasiaku itu sampai dia memberitahu seluruh anggota Conquistadores. Leeteuk hyung sangat senang mendengarnya, dia pun memerintahkanku untuk menciptakan teknologi untuk mendukung turnamen ini."
"Awalnya aku tidak senang dengan ide Leeteuk hyung, bagaimana bisa dia mengusulkan pertarungan seperti ini sekaligus menjamin bahwa tidak akan ada pertumpahan darah pada saat yang bersamaan? Sebenarnya dia itu pemimpin yang kejam atau berhati mulia?" Sang pemilik elemen kegelapan berdecih. "Selain itu sejujurnya aku juga tidak suka jika keahlianku terekspos, tapi apa yang bisa ku perbuat? Minnie hyung sudah terlanjur membocorkannya dan aku tidak bisa menyalahkan kekasihku yang polos itu."
"Tetapi Minnie hyung meyakinkanku untuk menuruti perintah Leeteuk hyung, toh sistem itu akan menjamin keselamatanku dan Minnie hyung. Persetan dengan kelompok kalian dan anggota Conquistadores lainnya."
"Sebenarnya aku sangat paham dengan rasa cinta dan sifat protektifmu terhadap Sungmin, karena aku juga merasakan hal yang sama terhadap Ryeowook. Tapi apa kau benar-benar tidak peduli dengan orang lain selain Sungmin? Bahkan anggota Unknown dalam Conquistadores seperti Donghae, Siwon, atau Zhoumi sekalipun?!" Yesung terperangah.
"Bahkan setelah Siwon menyumbangkan dana agar aku bisa menciptakan teknologi-teknologi canggih itu, aku masih tetap tidak bisa mempercayai orang la–"
Kyuhyun tidak bisa menyelesaikan penuturannya karena mendadak dia terbatuk-batuk dengan hebat, bahkan tangannya sampai harus menutupi mulut. Kyuhyun mendeteksi sesuatu yang janggal setelah lidahnya mengecap rasa besi yang anyir tak lama setelahnya. Benar saja, dia menjauhkan tangannya dari mulut dan mendapati cairan merah pekat kini mengotori telapaknya.
"Cih, sepertinya waktu kita semakin menipis, Yesung hyung," ucap Kyuhyun sembari menyeka mulutnya yang berlumuran darah. "Kita berdua tidak akan bisa melanjutkan pertarungan ini, tidak akan ada yang menang ataupun kalah. Kau dan aku sudah terlalu banyak kehabisan darah, aku bahkan ragu apakah robot ciptaanku bisa menyembuhkan luka-luka kita dan kakiku yang lumpuh ini…"
"Aku tahu, aku bisa merasakan tubuhku perlahan-lahan mulai melemah…" Yesung terkekeh. "Tapi sebelum kita berdua kehilangan kesadaran, sebenarnya masih ada beberapa hal yang ingin ku tanyakan padamu."
"Apa yang ingin kau tanyakan kepadaku, Jongwoon hyung?"
"Walaupun kau mengetahui identitas asli dari seluruh anggota The Dark Seeker, tapi kenapa kau tidak memberitahukannya kepada Leeteuk hyung, Sungmin, ataupun anggota Conquistadores lain? Kalau aku jadi kau, itulah yang akan ku lakukan karena pasti akan sangat menguntungkan bagi tim."
Kyuhyun menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk melengkungkan senyum sinis. "Itu karena… aku menganggap semua ini hanyalah permainan. Sama seperti game pada umumnya, jalan ceritanya tidak akan seru kalau kau mengetahui rahasianya lebih awal dari yang seharusnya bukan? Biarkan mereka mencari tahu sendiri rahasia kelompok kalian, seperti yang aku lakukan."
Yesung tidak mempercayai apa yang dia lihat setelahnya, dia pasti akan mengusap kedua matanya seandainya dia memiliki cukup tenaga untuk melakukan itu. Seringai dingin pria di hadapannya perlahan berubah menjadi senyum pesimis penuh ironi, iris matanya yang semula berwarna merah darah serta dipenuhi nafsu untuk membunuh kini berubah menjadi hitam kecoklatan. Kyuhyun tidak lagi dipengaruhi oleh efek gelang elemen jahat yang bersemayam dalam tubuhnya.
"Lagipula aku tidak ingin Minnie hyung terluka secara psikologis, karena bagaimanapun juga sebagian besar sahabat karibnya berada dalam timmu. Ryeowook hyung, Kibum hyung, dan Eunhyuk hyung. Bayangkan betapa terguncangnya batin Minnie hyung kalau sampai dia mengetahui kenyataan kalau yang dia lawan selama ini adalah teman-teman terdekatnya sendiri."
Pandangan Kyuhyun terlihat menerawang seperti sedang membayangkan suatu memori yang indah namun menyedihkan. "Sesungguhnya Minnie hyung adalah orang baik, tapi entah kenapa gelang elemen membuat kepribadian dan sikapnya berubah 180 derajat. Karena itulah sejak awal aku curiga kalau gelang yang dimiliki tim Conquistadores sebenarnya adalah gelang elemen jahat. Tapi lagi-lagi aku egois, aku menyimpan sendiri rahasia itu rapat-rapat agar tidak melukai hati Minnie hyung…"
Seusai berkata demikian, Kyuhyun merasakan kelopak matanya terasa kian memberat. Dia tahu tubuhnya telah mencapai ambang batas karena kehilangan terlalu banyak darah. Perlahan, kedua mata milik Cho Kyuhyun tertutup dan pria itu tak sadarkan diri dalam posisi berlutut di tanah.
"Aku tahu sebenarnya kau tidak sepenuhnya jahat, Cho Kyuhyun," gumam Yesung sembari memandang tubuh berjubah putih di depannya. "Sekarang yang bisa aku lakukan hanyalah berdoa dan berharap agar salah satu anggota The Dark Seeker memenangkan turnamen ini, karena hanya itulah satu-satunya cara untuk membuat segalanya kembali normal seperti sedia kala."
"Selain itu, aku tidak tahu apakah kau masih bisa mendengar ini atau tidak," lanjutnya dengan suara lemah dan nyaris berbisik. "Tapi dari caramu menceritakan segalanya padaku barusan, aku yakin kalau kau bukanlah manusia yang tidak memiliki hati dan perasaan. Kau masih bisa mempercayai dan menaruh harapan pada orang lain selain Sungmin…"
Yesung memandang langit hitam yang terhampar di atas kepalanya, bulan purnama masih setia menerangi setiap sudut taman bunga dengan sinarnya yang elok rupawan namun misterius. Dan sama seperti Kyuhyun, kesadaran Yesung pun mulai meninggalkan tubuhnya tidak lama berselang.
Bunga mawar, pohon-pohon, serta dedaunan menjadi saksi bisu dari pertarungan berdarah yang baru saja terjadi antara Kim Jongwoon dan Cho Kyuhyun.
.
.
Dennis mengibaskan salah satu kipasnya ke arah pantai dan kipas lainnya ke arah pasir di antara dirinya dan Joshua, angin besar yang dihasilkan dari kibasan itu sukses menciptakan badai pasir dan pusaran angin.
Mendadak raut wajah Dennis berubah menjadi dingin dan penuh amarah, iris merahnya berkilat jahat di balik topeng putih yang dia kenakan. Senyum serta lesung pipinya juga ikut lenyap.
"Sudah cukup main-mainnya, sebaiknya kita mulai serius sekarang. Aku penasaran apakah pemimpin The Dark Seeker sehebat dirimu bisa menghindari badai pasir dan pusaran angin ini."
Joshua menatap ngeri dua fenomena alam yang diciptakan oleh Dennis melalui kibasan senjata andalannya, Zephyr Fans. 'Sial, bagaimana aku bisa menghindari keduanya sekaligus?'
"Serang dia!" Bersamaan dengan perintah yang Dennis teriakkan, badai pasir dan pusaran angin itu mulai bergerak ke arah Joshua.
Dengan kecepatan mengerikan seperti itu, Joshua tidak akan memiliki cukup waktu untuk melakukan teleportasi. Lagipula tidak ada gunanya juga dia melarikan diri kemanapun, karena sepertinya kedua fenomena tersebut bisa menyapu seluruh tempat yang dia lewati mengingat ukurannya yang sangat besar.
Sebuah strategi terlintas di benak Joshua. 'Kelihatannya kedua pusaran tersebut akan lenyap jika bertabrakan satu sama lain. Hanya ada satu cara untuk menghadapinya, aku harus membuat semacam benteng pertahanan yang kuat di antara mereka dan bertahan selama mungkin di dalamnya.'
Sang ketua The Dark Seeker bertumpu pada satu lutut di tanah sambil menggenggam gelang elemen berwarna coklat yang melingkar di pergelangan tangannya, menunggu momen yang tepat untuk menjalankan rencananya yang beresiko tinggi.
Di lain pihak, Dennis beranggapan bahwa tindakan Joshua merupakan suatu bentuk kepasrahan. Dia tertawa gelak. "Ya, bagus. Bersikaplah seperti itu, Joshua. Gemetarlah, takutlah pada ancaman yang sebentar lagi akan datang menghampirimu!"
Jarak antara Joshua dengan badai pasir dan pusaran angin itu sudah begitu dekat, kurang dari lima meter. Angin yang berhembus begitu kencang membuat jubah hitam Joshua berderu dan kepalanya tidak lagi tertutupi oleh tudung. Namun Joshua tetap pada posisinya, bahkan ketika pasir di sekelilingnya mulai beterbangan menuju ke arah pusaran di hadapannya.
'Sekarang!' batin Joshua sambil berputar menggerakkan salah satu kakinya yang mengenakan Rock Shoes dan membentuk sebuah lingkaran cukup besar di pasir.
Mendadak pasir-pasir beterbangan ke udara dan berkumpul di lingkaran yang Joshua buat, partikel padat nan kasar itu saling tumpuk-menumpuk menjadi satu dengan ukurannya yang beraneka ragam. Detik berikutnya, Joshua sudah berada dalam istana pasir yang cukup besar untuk melindungi dirinya.
Dari tempatnya berdiri, Dennis memberikan reaksi terhadap perbuatan Joshua dengan berseru mencemooh, "Tidak ada gunanya kau menggunakan taktik pertahanan seperti itu, bodoh!"
Badai pasir dan pusaran angin buatan Dennis akhirnya bertemu dan bertabrakan di tempat Joshua membangun istana pasir, bangunan itu cukup kokoh untuk bertahan selama beberapa menit dari terpaan angin maha dahsyat yang menyerbunya sebelum akhirnya pecah menjadi pasir-pasir yang beterbangan dalam pusaran.
Tetapi ketika kedua badai tersebut telah sepenuhnya lenyap bersama butiran pasir yang beterbangan dan suasana telah kembali tenang, alangkah terkejutnya Dennis ketika dia tidak menemukan tubuh Joshua di manapun.
"Brengsek, pasti dia berteleportasi dari dalam benteng konyol tadi!" umpat pemimpin Conquistadores itu dengan berang.
Tanpa pikir panjang, Dennis segera membalikkan badan dan tangannya langsung mencekik Joshua yang baru saja muncul dari udara kosong.
Dengan susah payah, Joshua mencoba melepaskan tangan Dennis yang mencengkram lehernya. "Ba-Bagaimana kau bisa tahu kalau aku–"
"Kalau kau akan muncul dari belakangku?" Dennis menyunggingkan seringai kemenangan. "Sederhana saja, kau pasti menyadari kalau satu-satunya tempat yang aman dari pusaran itu adalah tempatku berdiri dan kau berusaha menyerangku dari titik butaku. Ku hargai rencanamu untuk selamat dari badai tadi cukup bagus, hanya saja kau melupakan fakta kalau aku adalah pemimpin yang tidak pernah lengah dan selalu memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi."
Perlahan, Joshua menyadari sesuatu yang janggal terjadi pada tubuhnya. Dennis memang mencekik lehernya dengan sekuat tenaga hingga dia kesulitan bernafas, namun seharusnya matanya tidak berkunang-kunang separah ini seakan-akan dia tidak lagi mempunyai cadangan oksigen pada otaknya. Semestinya dia masih punya cukup udara dalam paru-parunya untuk berbicara, bernafas, ataupun melakukan perlawanan. Kecuali…
"Ah, sepertinya kau mulai menyadarinya ya?" Dennis seakan bisa membaca pikiran orang yang tengah dia siksa. "Kau tentu masih ingat kalau elemen yang dapat ku kendalikan adalah udara bukan? Kalau kau memang cermat, seharusnya kau sudah menyadarinya sekarang."
Mata Joshua segera tertuju pada benda di pergelangan tangan Dennis yang kini memancarkan cahaya putih menyilaukan, lalu indera penglihatan tersebut membelalak setelah Joshua menyadari apa yang telah Dennis lakukan padanya.
"Kau… membuat daerah di sekitarku menjadi hampa udara? Atau… kau menyerap semua udara yang ada dalam tubuhku…?" Joshua terperanjat.
Dennis mengedikkan bahu. "Kau bisa menganggapnya begitu. Aku terlalu malas untuk menjelaskannya padamu, toh kau sudah tidak mungkin bisa mengalahkanku dengan kondisimu yang sekarang."
Dennis melempar tubuh Joshua ke tanah, dia tertawa terbahak-bahak seraya menghampiri tubuh Joshua yang tergeletak tak berdaya dan menginjak musuhnya itu tanpa belas kasihan.
"Sekarang mari kita lihat wajah yang tersembunyi di balik topengmu ini," kata Dennis sambil berjongkok di depan wajah Joshua. "Aku ingin tahu bagaimana wajah orang bodoh yang mencoba melawan tim kami."
Joshua melepas topeng coklat Joshua dengan kasar, namun senyum iblisnya perlahan memudar tatkala menyadari kalau dia tengah berhadapan dengan Tan Hankyung, murid baru dari kelas 12-C di sekolahnya.
"Kau…!" Leeteuk tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja menghantamnya.
"Ni hao, gege." Hankyung terkekeh lemah ketika menyapa orang di depannya. "Kalau memang kau selalu memikirkan segala kemungkinan seperti yang tadi kau katakan, seharusnya kau sudah menduga ini akan terjadi. Bukankah kau mengalahkan Kangin sebelum bertarung denganku? Semestinya kau sudah bisa menebak siapa saja anggota kami."
"Tapi kau… dan Kanginnie…!" Leeteuk gelagapan dan kehabisan kata-kata. "Kenapa kalian…?!"
"Oh iya, ngomong-ngomong soal Kangin." Hankyung bersusah payah menggerakkan tangan untuk mengambil sesuatu dari saku jubahnya lalu memakaikannya ke jari manis Leeteuk. "Dia menitipkan benda ini padaku tempo hari saat kami masih berlatih."
Butuh waktu beberapa saat bagi Leeteuk untuk menyadari bahwa benda yang diserahkan oleh Hankyung adalah sebuah cincin perak dengan tulisan 'LT & KI' kecil terukir di bagian dalamnya.
"Cincin ini… Bukankah…?"
Hankyung mengangguk pelan. "Waktu itu Kangin bercerita padaku kalau dia membeli sepasang cincin dan memberikan salah satunya pada gege saat kalian masih bersama, namun kau mengembalikan milikmu pada Kangin saat kau memutuskannya secara sepihak karena kau akan disibukkan dengan ujian masuk universitas dan sebagainya."
Si pemimpin The Dark Seeker melanjutkan, "Kangin bilang sebenarnya dia tidak mengerti kenapa gege menyudahi hubungan kalian hanya karena alasan sepele seperti itu, tapi dia percaya kalau gege juga masih memiliki perasaan yang sama seperti yang dia rasakan terhadap hyung dan memutuskan untuk menyimpan cincin itu sampai tiba saatnya dia bisa memberikannya kembali pada gege saat gege sudah siap. Dia masih sangat mencintaimu."
DEG!
Sama seperti ketika dia menyadari kalau lawannya adalah mantan pacarnya sendiri, denyut menyakitkan kembali mampir di kepala Leeteuk secara tiba-tiba. Masa-masa indah yang pernah dia lalui bersama Kangin serta kilasan pertarungan mereka beberapa waktu yang lalu sekali lagi berkelebat dalam benaknya seperti sebuah film hitam-putih yang dimainkan dengan proyektor tak kasat mata, bahkan kali ini lebih jelas dan lebih nyata daripada sebelumnya.
"Tidak… Tidak! Kanginnie, kenapa kau… Kenapa aku– AAARGGHH!" Dalam diri Leeteuk, pertentangan hebat terjadi antara kepribadian asli pria itu dan pengaruh gelang elemen jahat yang mengontrolnya. Kaki Leeteuk sampai tidak sanggup menyangga berat tubuhnya sendiri dan dia jatuh berlutut di pasir. Gemetar, kedua tangan Leeteuk menjambak rambutnya dengan kasar seakan hal tersebut bisa mengusir rasa sakit di kepalanya. "Sakit… SAKIT! Seseorang, ku mohon tolonglah aku…! Hankyung, Kanginnie, SIAPAPUN!"
Dengan takjub, Hankyung mengamati warna mata Leeteuk perlahan kembali ke warnanya semula, yakni hitam. Selain itu wajah Leeteuk bersimbah air mata dengan warna merah pekat seperti darah, seakan warna kejam yang sempat menghiasi iris Leeteuk sebelumnya kini ikut luruh bersama dengan kesedihan pria itu.
Park Jungsoo, anggota pertama sekaligus pemimpin dari kelompok Conquistadores, akhirnya terlepas dari pengaruh gelang elemen jahat.
"Syukurlah…" Itulah hal terakhir yang dibisikkan Hankyung dengan penuh rasa lega sebelum kesadaran meninggalkan tubuhnya.
"Kanginnie, maaf… Maafkan hyung…" Tak lama berselang, jeritan Leeteuk melemah dan dia juga tak sadarkan diri karena kelelahan dan syok hebat yang melandanya.
.
.
Donghae berjongkok di sebelah Eunhyuk yang masih tergeletak tidak berdaya lalu menjambak surai hitam pria itu dan menarik kepalanya untuk memperkecil jarak di antara wajah mereka berdua. Eunhyuk sendiri menggigit bibir bagian bawahnya sekuat tenaga agar tidak menjerit kesakitan, dia tetap tidak sudi terlihat lemah di hadapan Donghae.
"Anchovy, apakah kau masih sanggup untuk berdiri menggunakan kedua kakimu sendiri? Kalau tidak kuat, aku akan memerintahkan Liquid Tentacle untuk menyeretmu ke puncak gunung. Kita akan pergi ke atas sana untuk melihat pemandangan Hawaii yang indah, bagaimana?" Donghae membisikkan ajakan tersebut tepat di telinga Eunhyuk. "Dan jangan menggigit bibirmu seperti itu, kau hanya akan membuatnya berdarah dan itu akan melukai dirimu sendiri."
Eunhyuk meludahkan darah ke tanah. "Untuk apa kau berkata seperti itu dan menyuruhku untuk tidak melukai diri sendiri kalau pada akhirnya kaulah yang akan membuatku menumpahkan darah lebih banyak lagi dari ini?!"
"Salahkan keadaan kita sekarang ini, Anchovy-ku sayang. Sudah tertulis dalam suratan takdir kalau kita akan ditempatkan dalam dua tim yang berseberangan, kita bukanlah pasangan seperti Zhoumi-Henry dan Kyuhyun-Sungmin yang dipilih oleh gelang elemen untuk berada dalam tim yang sama! Terima saja kenyataan ini, apa susahnya?" Lawan bicara Eunhyuk tertawa jahat, dia tidak peduli ataupun menyadari kalau dia baru saja membocorkan nama beberapa anggota satu timnya di Conquistadores. "Lagipula anggap saja pertarungan kita ini adalah bagian dari sebuah film action, tidak akan seru kan kalau tidak ada pertumpahan cairan berwarna merah pekat bernama darah?"
"Kau ini gila atau apa, hah?! Lekaslah sadar, ku mohon! Lee Donghae yang ku kenal bukanlah seorang pria psycho sepertimu!" teriak Eunhyuk sambil mencoba bangkit berdiri dan berusaha untuk melepaskan diri dari belenggu Liquid Tentacle yang membelit tubuhnya.
"DIAM DAN JANGAN MEMBERONTAK!" Donghae memerintahkan sepasang tentakelnya untuk melilit tubuh Eunhyuk lebih erat lagi hingga membuat pria itu sesak nafas. "Kalau kau tidak bisa diajak bekerja sama seperti ini, aku terpaksa menggiringmu dengan cara kasar!"
Sambil menyeret tubuh Eunhyuk yang tidak bertenaga menggunakan Liquid Tentacle-nya, Donghae melangkah menyusuri jalan setapak yang akan membawa mereka ke puncak gunung berapi. Pengendali elemen air dari tim Conquistadores itu sama sekali tidak menoleh ke belakang untuk mengecek keadaan Eunhyuk, matanya terus terpancang ke jalan di depannya.
Meskipun kakinya tidak menapak tanah karena dibelit kedua tentakel Donghae, sesekali Eunhyuk terantuk bebatuan yang ada di jalan setapak tersebut dan membuat tubuhnya limbung.
'Bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan? Aku harus berbuat sesuatu agar terlepas dari belenggu ini…' batin Eunhyuk setengah putus asa.
Selagi Eunhyuk sibuk dengan pikirannya, tak butuh waktu lama bagi Donghae untuk membawa Eunhyuk sampai ke puncak gunung berapi. Tanpa takut dan gentar, Donghae berjalan santai hingga mereka berdua berada di ujung kawah.
"Lihat warna merah di sana itu? Indah bukan?" ucap Donghae seraya mengagumi entah apa yang tengah dipandangnya.
Digerakkannya Liquid Tentacle agar Eunhyuk bisa melihat lebih jelas ke bawah. Eunhyuk memekik tertahan, magma kental dengan warna merah menyala menggelegak pelan di dasar kawah gunung berapi tersebut bak cairan yang tengah dimasak di dalam kuali raksasa. Sesekali magma tersebut membulat membentuk gelembung panas yang meletup pelan tak lama setelahnya.
Meskipun elemen yang bisa dikendalikannya adalah api, tapi Eunhyuk tidak bisa membayangkan apa jadinya jika ternyata diam-diam Donghae berencana untuk melemparnya atau menenggelamkannya ke dasar kawah. Walaupun Eunhyuk memiliki kemampuan untuk menahan panas, namun dia ragu apakah kulitnya akan sanggup untuk tidak melepuh jika magma yang dihadapinya berjumlah sebanyak itu.
"Kau tidak bermaksud untuk membunuhku di dalam sana kan?" tanya Eunhyuk takut-takut.
"Wah entahlah. Kalau boleh jujur, sebenarnya aku belum memikirkan sampai ke sana. Aku memang hanya ingin melihat magma-magma itu." Sekali lagi Donghae meretas senyum keji. "Tapi kau memberiku ide yang sangat cemerlang. Terima kasih, sayang."
Kemudian Eunhyuk merasa cengkraman erat tentakel di sekeliling tubuhnya mulai mengendur, rupanya Donghae memang melepaskan Eunhyuk dari kungkungan senjatanya itu.
"Berdirilah, Hyukkie. Hadapi aku secara jantan kalau kau memang ingin mengalahkanku," tantang Donghae sungguh-sungguh, Liquid Tentacle melayang di kanan-kirinya seakan mengancam akan membelit Eunhyuk lagi jika dia berani memperkecil jarak ke arah Donghae.
Eunhyuk mengangguk mantap, segera saja Hot Scarf melilit lehernya seperti ular api yang melingkar di sekeliling tuannya. Tanpa diduga, anggota The Dark Seeker tersebut berteleportasi dan sepersekian detik kemudian dia muncul di belakang Donghae dan menendang punggungnya. Donghae, yang sama sekali tidak menduga serangan Eunhyuk akan datang secepat ini, tidak sempat melakukan pertahanan dan mengakibatkan tubuhnya terpelanting ke bebatuan empat meter di belakangnya.
"Cih, kenapa aku lengah–" Donghae baru saja menyeka darah di ujung bibirnya dan hendak bangkit ketika Eunhyuk kembali berteleportasi mendekatinya dan melayangkan tinju ke wajahnya.
DUAK!
Satu pukulan berhasil Eunhyuk daratkan dengan keras di wajah Donghae. Tapi ketika dia hendak melakukan pukulan untuk kedua kalinya, salah satu Liquid Tentacle sudah terlilit di lengannya untuk mencegah Eunhyuk menyerang Donghae.
"Aku masih punya satu tangan lagi!"
BUK!
Dengan telak, tangan kiri si pemilik elemen api yang masih bebas sukses melayangkan tinju ke sisi wajah Donghae yang lain. Wajah tampan Donghae kini dipenuhi lebam keunguan, darah segar mengucur dari hidung serta sudut bibirnya.
"Kau–!" Sang korban pemukulan berang dengan aksi membabi buta Eunhyuk, dia kembali membelit kedua lengan Eunhyuk dengan tentakel.
Seakan hal tersebut tidak menghalanginya untuk mencederai Donghae lebih lanjut, Eunhyuk mengangkat kakinya dan melayangkan tendangan memutar yang mendarat di pinggang pria itu.
"Argh…!" Mencoba melindungi sekujur tubuhnya yang dipenuhi rasa sakit, Donghae tanpa sengaja melepaskan ikatan Liquid Tentacle pada lengan Eunhyuk dan lebih memilih untuk melindungi dirinya dengan tentakel itu.
"Lakukan." Eunhyuk memberikan perintah pada Hot Scarf-nya agar bergerak mendekati Donghae.
"Jangan mendekat! Tentakelku bisa mematikan senjatamu dengan air yang dikandungnya!" teriak Donghae.
Ancaman yang sia-sia, sebenarnya, karena justru hal itulah yang dinantikan oleh Eunhyuk. Tempat mereka berdua bertarung sekarang berada di dekat kawah sehingga menyebabkan temperaturnya lebih tinggi daripada di kaki gunung, itu berarti Eunhyuk lebih diuntungkan karena suhu api yang dibuatnya akan menjadi jauh lebih panas daripada sebelumnya.
Tanpa basa-basi, Hot Scarf milik Eunhyuk berbalik membelit Liquid Tentacle dengan erat dan tidak butuh waktu lama hingga tentakel tersebut lenyap begitu saja tak berbekas. Eunhyuk memanaskan senjata pamungkas Donghae dan berhasil mengubahnya menjadi uap air berkat temperatur tinggi yang dimiliki Hot Scarf.
"Apa yang– Kemana tentakelku pergi?!" Donghae memekik panik, dia tidak memiliki senjata apa-apa sekarang. "Ti–Tidak, tunggu! Jangan mendekat!" serunya ketika Eunhyuk berjalan mendekatinya, dia mencoba mundur namun gagal karena punggungnya menubruk bebatuan. Donghae tidak bisa kabur lagi.
Donghae terlalu takut untuk memikirkan hal buruk apa yang bisa Eunhyuk perbuat padanya ketika dia sedang tersudut begini, apalagi kekasihnya itu menghampirinya dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak dan Hot Scarf berkobar mengerikan di lehernya. Karena itu yang bisa Donghae lakukan hanyalah meringkuk dan menutup mata serta telinganya rapat-rapat.
Namun hal menyeramkan yang Donghae bayangkan tak kunjung datang. Alih-alih pukulan atau tendangan atau kobaran api yang panas, sesuatu melingkari tubuhnya dengan lembut. Perlahan, Donghae membuka matanya dan mendapati kalau Eunhyuk baru saja merangkulnya dengan penuh perasaan.
"Maafkan aku, Hae," bisik Eunhyuk di telinga Donghae. "Sebenarnya aku sama sekali tidak bermaksud untuk bertindak kasar kepadamu, tapi tidak ada cara lain untuk menghentikan kegilaanmu. Jadi aku terpaksa melakukannya."
"Hyukkie…"
"Sudah cukup, aku tidak mau lagi ada korban berjatuhan di kedua belah pihak. Aku akan menyudahi semua ini, aku akan menyelamatkan kau dan juga anggota Conquistadores lainnya. Aku lelah bertarung melawan teman-temanku sendi–"
Perkataan Eunhyuk terhenti tatkala dia merasakan sesuatu yang tajam dan panas menancap ke dalam perutnya, dia mengendurkan pelukannya dan terbelalak kaget begitu menyadari bahwa hal yang dia takutkan terjadi begitu saja tatkala dia sedang lengah.
"Kalau kau memang lelah, bagaimana kalau kau berhenti sampai di sini saja dan tidak usah sok menjadi pahlawan penyelamat dunia?" Senyuman licik kembali tersemat di wajah Donghae. Tangannya menggenggam pedang yang serupa dengan Frozen Saber milik Kibum, hanya saja berwarna merah dan panas karena terbuat dari magma. "Panggil aku pengecut karena menyalahgunakan belas kasihanmu dan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan."
BRUK!
Donghae mencabut pedang tersebut sebelum Eunhyuk ambruk ke tanah, darah mengalir dari luka di perutnya dan merembes mengenai pakaian serta jubah hitam The Dark Seeker yang dia kenakan. Sebenarnya Eunhyuk masih bisa mencegah hal itu terjadi jika dia mengubah kembali pedang tadi menjadi magma, tetapi magma tersebut keburu membeku menjadi pedang tajam yang padat. Lagipula keterkejutan yang dia alami membuatnya tidak sempat mengambil tindakan penanggulangan.
"HAHAHAHAHA, semudah itukah pertahananmu runtuh? Payah, tidak ku sangka kau selemah ini," ejek Donghae keji. "Ku kira kaulah anggota terkuat dari tim itu, melebihi ketua timmu sendiri, si Joshua itu."
Selagi Eunhyuk tersengal-sengal menahan sakit, sebuah benda jatuh dari saku celananya dan membentur tanah dengan bunyi 'tuk' pelan. Donghae membungkuk untuk melihat benda apa itu, rupanya ponsel Eunhyuk.
Akan tetapi perhatian Donghae teralihkan saat melihat gadget tersebut dengan seksama, Donghae merasa sangat familiar dengan tali strap berwarna kuning bermotif monyet yang terhubung ke ponsel itu.
"Ini…" gumamnya tidak percaya.
"Itu gantungan ponsel yang kau berikan padaku saat menyatakan cinta padaku. Aku yakin kau juga menyimpan pasangannya yang berwarna merah dan bermotif ikan, itupun kalau belum kau buang…" Donghae tersentak dan menoleh ketika mendengar gumaman lirih yang berasal dari Eunhyuk. "Coba nyalakan ponsel itu."
Donghae sendiri tidak mengerti kenapa dia menuruti perkataan Eunhyuk begitu saja, dadanya mendadak nyeri saat mengetahui kalau gambar yang menjadi wallpaper ponsel Eunhyuk adalah foto yang mereka ambil di photobox saat mereka berkencan pada hari yang sama.
"Sadarlah, Hae-ya. Kembalilah menjadi dirimu yang dulu pernah ku kenal dan ku kagumi. Aku mencintaimu sedemikian dalamnya, dan aku yakin seharusnya perasaanmu terhadapku juga sama besarnya, sama dalamnya sepertiku." Sekilas nada suara Eunhyuk terdengar pasrah dan memohon. "Tidak bisakah seluruh kenangan kita meluluhkan hatimu yang tengah dikendalikan oleh gelang jahat itu?"
DEG!
"Berhenti bersikap narsis seperti itu, aku mual mendengarnya."
"Kalau sekali lagi kau berani mengganggu ketentraman kelas ini, aku jamin itu akan menjadi saat terakhirmu berada di dunia. Ingat itu, Lee Donghae."
"Oh ya, tadi penampilanmu bagus sekali. Kau berhasil membuat aku dan seluruh pengunjung café terpukau. Berarti aku beruntung bisa melihat penampilan pertamamu, Donghae-ya."
"Tentu saja aku akan memaafkanmu, Hae."
"Kenapa? Apa aku sudah melakukan sesuatu yang membuatmu marah? Maaf…"
"Aku juga mencintaimu, Lee Hyukjae mau menjadi kekasih dari Lee Donghae."
"Lagipula besok kita akan bertemu lagi kan? Jadilah anak yang baik dan jangan nakal, jangan lupa juga untuk mengirimiku pesan. Mengerti?"
"Aku hanya ingin berada di sisimu."
"Jangan pergi, Hae… Jangan pergi dari hidupku… Kau tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya…"
"Aiden– Ah bukan, Hae… Ini aku, Hyukkie… Sadarlah, jebal…"
"Aku mencintaimu, Fishy."
Untuk yang kesekian kalinya, reaksi perlawanan atas kontrol gelang elemen jahat kembali terjadi dalam diri Donghae berupa flashback kenangan-kenangannya bersama Eunhyuk serta rasa sakit yang teramat sangat di bagian kepalanya. Tetapi perlawanan kali ini jauh lebih kuat dan nyata daripada sebelumnya, bahkan berbagai kalimat yang pernah Eunhyuk ucapkan kepadanya sejak pertama kali bertemu sampai sekarang mulai bergaung di telinganya dan terus terngiang-ngiang dalam benak pria pengendali elemen air dari tim Conquistadores.
Donghae menjatuhkan ponsel Eunhyuk dari genggamannya untuk memegangi kepalanya yang berdenyut. "Aaarghh hentikan! Kepalaku…!" Betapapun kerasnya Donghae berteriak, sakit yang diderita oleh kepalanya tak kunjung mereda.
Eunhyuk, yang tidak mengetahui pertentangan batin yang sedang dialami oleh pacarnya, bersusah payah mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk. Dahinya mengernyit menahan rasa sakit akibat luka tusuk pada perutnya, namun hal tersebut tidak menyurutkan niatnya untuk menolong Donghae.
"Hae-ya, ada apa? Apa yang kau rasakan? Katakan padaku," ucapnya sambil menggenggam tangan Donghae.
Akan tetapi sama seperti sebelumnya, pria itu segera menepis tangan Eunhyuk dengan kasar. Matanya dengan liar membelalak ke arah Eunhyuk. "Pergi…!" hardiknya.
Kali ini tekad Eunhyuk tidak padam begitu saja, sekali lagi dia mencoba memeluk Donghae. Yang Eunhyuk tidak ketahui adalah segala perhatian dan kasih sayang yang dia curahkan kepada pria yang dicintainya tersebut ternyata malah semakin membuat pengaruh jahat dari gelang elemen Donghae makin mengganas dan memberontak tak terkendali.
"AAAAARRRGHH…! Ku bilang pergi! Jauh-jauh dariku! Jangan dekat-dekat denganku!" Donghae mendorong tubuh Eunhyuk sekuat tenaga, berusaha menyingkirkannya dari pandangan. "Kepalaku… KEPALAKU SAKIT!"
Dorongan yang kuat sekaligus kondisi fisik Eunhyuk yang tidak fit membuat dia kehilangan keseimbangan, kakinya terantuk batu dan tahu-tahu tubuhnya melayang jatuh menuju kawah gunung berapi.
Seakan terkena efek slow motion, segalanya terjadi begitu lambat di mata Eunhyuk. Teriakan nelangsa Donghae tidak lagi terdengar, indera pendengaran Eunhyuk kini dipenuhi desis dan gelegak magma di bawahnya yang terdengar ratusan kali lebih mengerikan daripada sebelumnya. Tangannya hanya bisa menggapai udara kosong karena tubuhnya sudah terlalu jauh dari tempatnya berpijak semula.
Eunhyuk sekilas melihat wajah Donghae dengan air mata seperti darah berderai mengotori wajahnya, topeng dan tudung kepala yang menutupi wajahnya telah terlepas entah sejak kapan. Iris matanya tidak lagi berwarna merah, melainkan hitam kecoklatan.
Itulah hal terakhir yang tertangkap oleh penglihatan sang pengendali elemen api dari tim The Dark Seeker sebelum segala yang berada di sekelilingnya menggelap.
'Apa aku… akan mati?'
.
.
.
TBC
