Title : Element Bracelets

.

Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae, and other Super Junior members (13 + 2)

.

Pair : Haehyuk (Donghae x Eunhyuk) and other Super Junior official pairings

.

Rated : T

.

Genre : Fantasy, Romance, Action, Angst, Hurt/Comfort

.

Warning : Yaoi, Speedy Plot

.

Disclaimer : All the characters inside this fanfiction is definitely not mine, I only use their name. But this fanfiction and its plot are 100% mine

.

"…" = Talk

'…' = Think

.

.

~Eunhyuk POV~

'Apa aku… akan mati?'

BRUK!

"Aduh!"

Namun alih-alih mendarat di magma yang kental dan bertemperatur tinggi, punggungku malah membentur sesuatu yang keras dan dingin. Sambil mengelus punggung dan meringis kesakitan, aku mengubah posisi tubuh dari telentang menjadi duduk.

"I-Ini di mana?"

Aku melempar pandang ke segala penjuru dan baru menyadari kalau aku tidak lagi berada di kepulauan Hawaii. Donghae dan gunung berapi tempat kami bertarung sudah lenyap, digantikan oleh sebuah ruangan berbentuk melingkar dengan atap seperti kubah. Dindingnya bercat hitam dan lantainya dilapisi keramik dengan warna serupa.

Kalau aku bisa memberi gambaran sederhana, ruangan tempatku berada kini laksana ballroom gelap atau planetarium berukuran raksasa, sampai-sampai aku merasa kecil sekali berada di dalamnya seorang diri.

"Halo? Apa ada orang lain di sini?"

Tidak ada jawaban, suaraku hanya bergaung di ballroom kosong ini. Ditambah lagi aku tidak bisa menggunakan indera penglihatanku dikarenakan tidak adanya penerangan dari lampu, pintu, ataupun jendela.

Jantungku mulai berdegup kencang, rasa was-was kini melingkupi diri. Ballroom ini mirip sekali dengan dua tempat yang pernah aku kunjungi sebelumnya.

Yang pertama ialah arena pertempuran buatan Conquistadores, tempat kami dipertemukan dengan lawan masing-masing sebelum berteleportasi ke destinasi yang berbeda.

Sementara tempat kedua yakni ruangan serba hitam di dalam mimpi buruk kreasi Kyuhyun (alias Marcus Cho) saat aku terkena tebasan Death Scythe, senjata berbentuk sabit besar miliknya, ketika The Dark Seeker dan Conquistadores bertarung waktu itu.

Aku buru-buru menggelengkan kepala dengan keras, mencoba mengusir visualisasi makhluk bertudung putih yang waktu itu mengepungku dalam mimpi buruk. Yah, semoga saja dugaanku keliru. Lagipula bukankah aku harus diserang terlebih dulu oleh Kyuhyun agar bisa mengalami hal itu?

Kemudian lamunanku dibuyarkan oleh seberkas penerangan yang mendadak muncul dari arah kubah. Sebuah lampu sorot (yang seingatku tidak ada di sana sebelumnya) terarah ke satu titik di tengah-tengah ballroom, cahaya dari lampu sorot itu jatuh menerpa seseorang yang berdiri memunggungiku.

Eh?

Tunggu sebentar.

Bukankah tadi tidak ada siapa-siapa selain aku di ruangan ini?

Kalau begitu siapa orang ini? Dan bagaimana bisa dia berdiri di sana sementara tidak ada satupun pintu atau jendela yang menjadi akses untuk keluar-masuk ballroom ini? Apa dia bisa berteleportasi seperti kami, para pemilik gelang elemen?

Lagipula setelah mengamati postur tubuh serta perawakannya… Sepertinya aku kenal atau pernah bertemu dengan orang itu, tapi di mana?

Seakan menjawab segala pertanyaan dalam kepalaku, orang itu memutar tubuhnya hingga menghadap ke arahku. Seketika aku tercengang, mataku sampai melebar dan aku bangkit berdiri secepat kilat begitu mengetahui identitas dari pria yang kini meretaskan senyumnya kepadaku.

"Shindong hyung?!" panggilku tidak percaya.

"Halo, ketua kelas." Shindong hyung belum melepaskan senyum ramah yang dia sunggingkan. "Tampaknya kau satu-satunya pemilik gelang elemen yang berhasil bertahan dalam turnamen ini."

Saking banyaknya informasi yang datang menghampiriku dan semua itu harus ku terima dengan bertubi-tubi, otakku sampai tidak bisa memproses sebagaimana mestinya dan aku hanya bisa tergagap ketika berbicara pada teman sekelasku itu. "A–Apa maksudmu? Hanya aku? Ta–Tapi bukannya aku…? Dan hyung sendiri kenapa–"

"Whoa whoa whoa, tenangkan dirimu dulu Eunhyuk-ah." Shindong hyung tertawa melihat reaksiku yang bisa dibilang aneh. "Sementara kau menyusun pertanyaan dalam benakmu, izinkan robot milik Conquistadores untuk menyembuhkan luka-luka yang kau derita."

Usai Shindong hyung berbicara begitu, sebuah robot mungil yang sama seperti pengawal turnamen kami selama ini muncul dari belakang kaki Shindong hyung dan melaju menghampiriku.

"Healing mode, activated." Terdengar suara robot tersebut saat dia memulai tugasnya untuk mengobatiku.

"Sekarang kau bisa mengajukan pertanyaanmu satu per satu, kita masih punya cukup banyak waktu," ujar Shindong hyung.

"Kenapa aku bisa berada di sini? Bukankah sebelumnya aku sedang bertarung melawan Donghae dan terjatuh ke kawah gunung berapi?" Aku memulai sesi bombardier (atau interogasi?) dengan menanyakan perihal kepindahanku yang bisa dibilang ajaib.

"Akulah yang memindahkanmu. Atas kemauanku, aku membuat tubuhmu berteleportasi kembali ke tempat kalian bertemu lawan masing-masing sebelum berpindah ke arena pertempuran selanjutnya."

"Kalau begitu… ruangan ini adalah bagian dari tempat pertempuran yang disediakan Conquistadores?" Aku mencoba mengambil kesimpulan sendiri setelah mendengar penjelasan Shindong hyung.

Shindong hyung mengangguk. "Leeteuk hyung yang mendesain tempat seperti labirin ini, didanai oleh Siwon dan didukung oleh teknologi mutakhir ciptaan Kyuhyun. Ruangan yang kita tempati sekarang adalah jantung dari maze tersebut dan tadinya akan digunakan sebagai arena pertarungan terakhir bagi finalis dari turnamen yang mereka rancang."

"Apa maksud hyung dengan kata 'tadinya'? Apa itu berarti aku yang memenangkan turnamen ini? Atau jangan-jangan…" Aku menghentikan kata-kataku sejenak. "Hyung adalah bagian dari Conquistadores?"

Anehnya, Shindong hyung malah kembali tertawa melihat sikapku yang penuh kewaspadaan. "Tentu saja tidak, aku bukan pengendali elemen seperti kalian. Lihat saja, aku bahkan tidak memiliki gelang elemen."

Shindong hyung memperlihatkan kedua tangannya ke arahku. Memang benar, tidak ada aksesoris apapun yang menghiasi pergelangannya. Tapi hal tersebut tidak membuatku lengah. "Kalau begitu kenapa hyung bisa memindahkan tubuhku kemari dengan teleportasi? Dan bagaimana hyung bisa menjelaskan segala hal tentang Conquistadores sedemikian rincinya padahal hyung bukan anggota dari mereka?"

"Pertanyaan yang berhubungan dengan identitasku akan ku jawab nanti setelah semua pertanyaan lain terjawab," jawab Shindong dengan senyum misterius namun menenangkan.

Tadinya aku hendak melayangkan protes, tapi ku urungkan karena memang masih banyak teka-teki lain yang memenuhi pikiranku dan menunggu untuk ditemukan jawabannya.

"Kalau hyung benar-benar bukan anggota Conquistadores, itu berarti aku berada di sini karena akulah pemenang dari turnamen ini?" tanyaku.

"Tepat sekali. Kau dan teman-temanmu dari The Dark Seeker berhasil mengalahkan para anggota Conquistadores, meskipun hanya kau yang tetap sadarkan diri sampai akhir."

"Tapi bukankah Donghae masih sadarkan diri sementara aku terjatuh ke dalam kawah?"

"Tidak, dia kehilangan kesadaran sepersekian detik sebelum aku memindahkan tubuhmu ke sini."

Shindong hyung menjentikkan jarinya. Bersamaan dengan komando yang diberikan pria itu, kurang lebih selusin layar LCD berukuran besar menyala dengan sendirinya dari dinding hitam di kiri-kanan kami. Masing-masing LCD tersebut menampilkan rekaman dari pertarungan yang terjadi sepanjang turnamen.

Sambil menyaksikan rekaman yang terpampang, kedua alisku bertautan. Seingatku tadi ruangan ini kosong tanpa LCD atau perabotan apapun di dalamnya.

"Ini diambil dari sudut pandang robot yang menjadi wasit pertandingan kalian." Sepertinya Shindong hyung salah mengartikan ekspresi bingung di wajahku. "Aku acungkan jempol untuk Cho Kyuhyun. Meskipun usianya masih cukup belia, dia sungguh memiliki kepintaran yang luar biasa hingga bisa menciptakan robot dan teknologi yang sangat mutakhir bagaikan di film science-fiction."

"Oh iya, bagaimana nasib Donghae dan yang lainnya?" Mataku belum lepas dari layar LCD, aku mulai cemas akan nasib kekasihku dan semua pengendali elemen yang kalah dalam turnamen. Hampir semua video pertarungan kami berisi pertumpahan darah dan serangan-serangan fatal. "Apa mereka baik-baik saja? Di mana mereka sekarang? Robot-robot itu sudah menyembuhkan luka mereka kan? Atau jangan-jangan mereka…"

Aku tidak berani menyelesaikan kata-kataku sendiri. Tidak, ketakutan terbesarku tidak boleh terjadi. Jangan sampai ada yang kehilangan nyawa dari kedua belah pihak hanya karena pertarungan konyol yang tidak seharusnya terjadi ini…

Seakan bisa memahami hal yang paling aku takutkan, Shindong hyung menjawab, "Tenang saja, mereka semua selamat dan masih berada di lokasi masing-masing. Hanya saja luka yang mereka derita cukup parah, sehingga aku belum bisa memindahkan mereka semua ke sini dan membiarkan para robot menjalankan tugas mereka untuk melakukan penyembuhan."

"Syukurlah kalau begitu…" ucapku seraya menghela nafas lega.

Lalu Shindong hyung berjalan hilir mudik di antara beberapa LCD. "Sekarang coba kau amati baik-baik, adakah persamaan di antara pertandingan yang ditayangkan di layar-layar ini?"

Dengan seksama, ku amati layar-layar yang yang ditunjuk oleh Shindong hyung. LCD-LCD tersebut rupanya menampilkan pertandinganku dengan Donghae, Yesung hyung melawan Kyuhyun, Hankyung hyung melawan Leeteuk hyung, serta Leeteuk hyung dan Kangin hyung.

Awalnya aku tidak menemukan kemiripan di antara pertandingan-pertandingan itu, tetapi barulah aku mengerti tatkala layar tersebut menampilkan ekspresi kesakitan dari wajah para anggota Conquistadores serta warna mata mereka yang berubah.

"Apakah dalam pertandingan-pertandingan ini… Donghae, Kyuhyun, dan Leeteuk hyung telah terbebas dari belenggu gelang elemen jahat yang mereka miliki?" tanyaku tidak percaya.

"Kalau memang dugaanmu benar, kira-kira hal apa yang bisa melepaskan mereka dari efek gelang elemen jahat yang selama ini begitu kuat mengontrol mereka?" Alih-alih menjelaskan atau memberi jawaban pasti, hyung yang berdiri di hadapanku kembali mengajakku untuk memutar otak mencari jawaban sendiri atas misteri ini.

Sial, ini pertanyaan yang sulit. Aku sampai memijat pelan pelipisku, kepalaku mulai sakit karena terlalu banyak disuruh berpikir. Aku tidak mengetahui apa yang terjadi pada mereka, aku bahkan tidak bisa berbuat apa-apa ketika Hae dilanda kesakitan.

Perhatianku beralih ke video yang menampilkan momen-momen sebelum Kyuhyun dan Yesung hyung tumbang.

'Aneh…' pikirku saat mengamati perubahan Kyuhyun. 'Kenapa di video ini Kyuhyun bisa kembali normal tanpa merasakan sakit seperti dua temannya yang lain?'

Kata demi kata, ku dengarkan penuturan Kyuhyun tentang perasaannya yang mendalam terhadap Minnie. Sesaat aku terenyuh, Minnie sungguh beruntung memiliki kekasih yang begitu mencintainya sepenuh hati dan selalu siap untuk melindunginya. Sesungguhnya aku pernah meragukan ketulusan Kyuhyun karena sifatnya yang licik dan penuh teka-teki.

Barulah aku sepenuhnya mengerti saat beralih ke video pertarungan Leeteuk hyung melawan Hankyung hyung. Leeteuk hyung mulai melolong kesakitan setelah Hankyung hyung memakaikan cincin titipan Kangin hyung kepadanya, sepertinya cincin tersebut menyimpan banyak kenangan selama Kangin hyung dan Leeteuk hyung masih menjalin hubungan dulu.

"Apa mungkin…" Aku mencoba menerka. "Apa mungkin anggota Conquistadores bisa terlepas dari belenggu gelang elemen jahat ketika mereka diliputi kenangan dengan orang yang paling mereka cintai?"

"Kurang lebih begitu. Lebih tepatnya, mereka bisa kembali seperti sedia kala disebabkan karena adanya perasaan cinta dan kasih sayang yang terpupuk dalam hati mereka," tutur Shindong hyung. "Timbal balik cinta yang mereka berikan dan dapatkan dari dan untuk partner mereka akan melakukan pemberontakan terhadap kekejaman dan kebengisan gelang elemen jahat, sehingga hal tersebut akan menimbulkan semacam pertentangan batin di dalam diri anggota Conquistadores yang mengalaminya."

"Meskipun begitu," lanjutnya. "Fenomena ini tidak hanya terjadi akibat kenangan dari pasangan kekasih mereka saja. Seandainya kau dan Sungmin bertemu dalam pertarungan, aku yakin hal yang sama bisa terjadi pada Sungmin karena kalian telah bersahabat sejak kecil."

Untuk kedua kalinya, Shindong hyung menjentikkan jarinya. Tiga layar LCD baru kembali muncul namun kali ini tidak menampilkan pertempuran seperti sebelumnya, melainkan beberapa kejadian yang sepertinya pernah terjadi di masa lalu.

"Video apa ini?" tanyaku ingin tahu.

"Ini adalah flashback yang terjadi dalam benak Lee Donghae, Cho Kyuhyun, dan Park Jungsoo ketika terjadi perlawanan dalam diri mereka." Shindong hyung mengetuk layar yang menampilkan adegan yang pernah aku alami bersama dengan Donghae semenjak pertemuan pertama kami sampai sekarang. "Tampaknya sisi hitam-putih Donghae-lah yang gejolaknya paling kuat, dia sampai bisa mendengar gaung kalimat-kalimat yang pernah diucapkan olehmu."

Di atas rasa haru yang kini membuncah dalam hatiku, sekali lagi aku mencoba menanyakan hal yang paling membuatku penasaran. "Tapi kenapa hyung bisa mengetahui hal semacam ini? Bukankah semua kenangan yang kau perlihatkan ini hanya bisa dilihat oleh orang yang mengalaminya? Bahkan aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada Donghae ketika dia menjerit kesakitan di depan mataku."

"Walaupun ayah hyung yang ahli sejarah itu mungkin menceritakan segalanya padamu, tapi mustahil kalau hyung yang notabene 'orang awam yang awalnya tidak percaya dengan keberadaan gelang elemen karena belum pernah melihatnya' bisa membuat begitu banyak analisis tentang benda ajaib yang hanya ada dalam legenda." Aku mencoba menyampaikan alasan kuat atas rasa penasaranku terhadap sosok Shin Donghee selama ini. "Bahkan aku berani bertaruh kalau informasi yang dimiliki Leeteuk hyung serta Hankyung hyung masih kalah jauh dan belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang hyung punyai, meskipun seluruh pengetahuan milik mereka berdua digabungkan."

Lagi-lagi jantungku berdetak lebih cepat daripada seharusnya, perasaanku campur aduk antara ingin tahu, takjub, dan ketakutan. "Jadi… sebenarnya hyung ini siapa?"

Di luar dugaan, Shindong hyung bertepuk tangan lambat-lambat. Suara tepukannya bergaung di dalam ballroom nan sepi ini.

Dan… sekarang mengapa bulu kuduk di sekujur tubuhku mulai meremang hanya karena mendengar gaung tersebut? Sial, Shindong hyung yang tengah berdiri menghadapku sekarang sangatlah bertolak belakang dengan Shindong hyung si pria berbadan tambun nan humoris yang selama ini ku kenal.

"Sepertinya kita berdua sudah berhasil menemukan jawaban dari pertanyaan yang selama ini menghantui benakmu, Eunhyuk-ah." Binar kepuasan jelas terpancar dari setiap senti wajah Shindong hyung usai laki-laki itu berhenti bertepuk tangan. "Kecuali satu pertanyaan mengenai jati diriku yang sebenarnya, tentu saja."

Dengan sengaja, tak ku lontarkan respon apapun terhadapnya. Yang harus aku lakukan adalah menunggu, menunggu sembari mengingatkan diri untuk tidak bersikap gegabah dan tidak berhati-hati.

"Setelah kau melihat ke arah bayanganku, kau pasti akan mengerti dan bisa membuat kesimpulan sendiri mengenai diriku."

Menuruti perkataan Shindong hyung, ku gerakkan kedua bola mataku untuk melihat bayangan di bawah kakinya yang dihasilkan dari sinar lampu sorot yang jatuh menerpa tubuhnya. Bersamaan dengan jawaban yang otakku berikan atas sesuatu yang ditangkap oleh indera penglihatanku, seketika itu juga aku menarik nafas tertahan.

Alih-alih siluet dari tubuh gempal Shindong hyung, yang kini tengah ku pandang ialah bayangan samar berbentuk makhluk berukuran besar, berleher panjang, serta berekor sama panjangnya dengan kulit kasar yang aku yakini adalah sisik. Sayap terbentang lebar di kedua sisi bayangan tersebut.

Shindong hyung menyunggingkan senyum kepadaku untuk yang terakhir kalinya ke arahku sebelum tubuhnya diselimuti cahaya keemasan yang sangat menyilaukan, lelaki itu perlahan berubah bentuk secara ajaib.

Wujud Shin Donghee telah lenyap dari hadapanku, digantikan oleh seekor naga maha besar dengan tanduk kecil bertengger di kepalanya yang nyaris menyentuh atap ballroom. Makhluk magis itu mengepakkan sayapnya dan melayang di tengah udara dengan ekor berayun pelan di belakang tubuh raksasanya, setiap jengkal kulitnya dilapisi sisik tebal keemasan yang entah bagaimana seakan menyinari seluruh sudut ruangan ini dengan kilaunya yang mengagumkan laksana sinar surya.

Aku terpaku cukup lama di tempatku berdiri sebelum jatuh berlutut ke lantai dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Rasanya seperti berada di antara alam mimpi dan negeri dongeng, keberadaan naga yang hanya pernah ku dengar dari penuturan Hankyung hyung ini saja sudah sangat bertentangan dengan logika dan akal sehat.

Inikah… naga dalam legenda yang menciptakan gelang elemen kami?

"Berdirilah." Suara naga tersebut tenang dan dalam, keagungan dan kearifan terpancar jelas dari setiap patah kata yang dia ucapkan.

Segera ku turuti perintah sang naga, aku bangkit dan membungkuk lebih dari sembilan puluh derajat untuk memberikan penghormatanku terhadapnya.

"Pertama-tama ku ucapkan selamat kepadamu, Lee Hyukjae. Sebenarnya aku tidak menduga kau akan sanggup melewati berbagai macam ujian hidup yang mungkin tidak bisa dilalui oleh kebanyakan manusia lainnya, dan semua itu berkat kegigihan serta keteguhan hatimu yang luar biasa." Yang Mulia Naga mendarat di lantai dengan sangat perlahan, keempat kaki makhluk ajaib yang sekokoh pohon kini menyangga seluruh berat tubuhnya.

"Aku yakin kau pasti ingin bertanya apakah aku ini Shin Donghee atau bukan," ucap sang naga bahkan sebelum aku sempat mengutarakan tanda tanya baru dalam benakku. "Segera setelah Tan Hangeng dan Park Jungsoo menemukan pasangan gelang elemen yang terpisah, aku berubah wujud menjadi manusia dan tinggal di dunia manusia untuk sementara waktu agar bisa mengamati perkembangan mereka dan juga pengguna gelang elemen lain nantinya. Itu berarti keberadaan Shin Donghee tidaklah benar-benar nyata dalam kehidupanmu, Lee Hyukjae."

"Jadi Anda sudah mengawasi kami cukup lama, Yang Mulia?"

"Benar, dan sekarang kau pasti sudah tahu alasan kenapa aku kembai ke wujudku yang semula dan memunculkan diri di hadapanmu."

Seketika aku tertegun. Saking banyaknya kejadian yang ku alami dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, mulai dari pertarungan melawan Conquistadores hingga detik kemunculan sang naga, aku sampai nyaris melupakan kemungkinan bahwa Yang Mulia Naga akan mengabulkan tiga permohonan yang akan aku sampaikan pada beliau karena akulah yang menjadi pemenang dari turnamen ini.

Maka dari itu aku menganggukkan kepala. "Tentu saja aku tahu, Yang Mulia."

"Kalau begitu kau bisa memberitahukannya padaku sekarang juga," ujar sang naga.

Dari jauh-jauh hari aku sudah mempertimbangkan dengan matang isi dari permintaan yang akan ku sampaikan, sehingga aku tidak perlu lagi memikirkannya. Toh sebelumnya aku sudah mendiskusikan pilihanku bersama anggota The Dark Seeker lain dan mereka semua setuju.

Ku tarik nafas dalam-dalam menuju ke paru-paru sebelum kembali menghembuskannya dengan perlahan. "Untuk permohonan pertama, aku ingin ketujuh pengendali elemen dari tim Conquistadores dilepaskan dari pengaruh gelang elemen jahat dan kembali ke kepribadian mereka semula."

"Kemudian yang kedua, aku memohon agar hal-hal yang berkenaan dengan gelang elemen, turnamen ini, serta perselisihan dan pertumpahan darah yang selama ini terjadi antara The Dark Seeker dan Conquistadores dihapuskan dari ingatan keempat belas pemilik gelang elemen, termasuk aku."

"Dan yang terakhir…" Ku eratkan kepalan kedua tangan di sisi tubuh, seakan ingin membulatkan tekad. "Aku harap Yang Mulia dapat menghancurkan seluruh gelang elemen, baik yang normal ataupun yang jahat, dan melenyapkan benda itu dari peradaban untuk selamanya."

"Melenyapkan gelang elemen?" Aku tidak tahu apakah Yang Mulia Naga memang benar-benar terkejut atau sekedar berpura-pura, namun dari nada suaranya aku bisa menebak kalau beliau nampak terkesan dengan permohonan yang ku ajukan. Atau tertarik? Entahlah, aku tidak tahu kata mana yang lebih tepat untuk mendeskripsikannya.

"Benar, Yang Mulia. Menurut saya, benda tersebut lebih banyak mendatangkan malapetaka ketimbang manfaat bagi siapapun yang bisa mengendalikannya, terutama gelang elemen jahat. Aku tidak mau lagi ada perasaan yang terluka dan korban yang berjatuhan setelah ini, cukup kami dan si bungsu dalam legenda saja yang mengalaminya. Yang diinginkan oleh saya dan anggota The Dark Seeker lain hanyalah hidup normal, seperti yang seharusnya kami jalani jika tidak ditakdirkan untuk menjadi pemegang gelang elemen."

Selama kurang lebih tujuh menit, tidak ada jawaban atau reaksi apapun yang diberikan oleh sang naga, beliau hanya memandangku lewat pupil sempit khas reptil yang seakan mengamati dan menilaiku dengan seksama.

Mendadak aku merasa salah tingkah. Mungkinkah permohonan yang aku ajukan terlalu berlebihan, terutama yang ketiga? Biar bagaimanapun Yang Mulia Naga adalah pencipta dari gelang elemen, mana mungkin dia akan semudah itu menghancurkan benda buatannya sendiri.

Di luar dugaan, seutas senyum kecil menghiasi wajah sang naga nan tegas dan terkesan galak. "Pilihan yang bagus, Lee Hyukjae. Dilengkapi dengan alasan yang cerdas serta penuh pertimbangan. Kalau begitu aku akan mengabulkan keinginanmu."

"Be–Benarkah, Yang Mulia? Terima kasih banyak!" Mataku terbelalak tidak percaya, tapi aku bisa segera mengendalikan diri dan membungkukkan badan untuk kedua kalinya sebagai rasa terima kasih.

"Itu berarti pertemuan kita kali ini adalah pertemuan pertama sekaligus terakhir." Sang naga mendongakkan kepalanya yang berleher panjang untuk menatap langit-langit ballroom. "Setelah ini aku akan memulangkanmu serta pemilik gelang elemen lain ke rumah masing-masing, kalian semua akan tertidur pulas demi merestorasi tenaga yang terkuras. Begitu kalian terbangun esok hari, tubuh kalian tidak akan lagi dipenuhi luka. Semuanya akan kembali seperti sedia kala dan otak kalian mungkin tidak akan lagi menyimpan ingatan apapun tentangku, gelang elemen, dan juga soal pertarungan kalian."

Sekali lagi, makhluk di hadapannya mengembalikan atensinya kepadaku dan mengucapkan sesuatu yang misterius, "Tetapi bukankah kenangan akan lebih bermakna jika bersarang dalam benak manusia dalam waktu yang lama sehingga dapat terus diingat?"

Alisku terangkat dan sepasang mataku mengerjap dua kali, bingung dengan kalimat terakhir yang diucapkan Yang Mulia Naga. "Maksud Anda?"

Namun sebelum aku mendapatkan jawaban atas pertanyaanku, mendadak diriku dikelilingi oleh cahaya berspektrum tujuh warna pelangi seperti pusaran spiral yang kaya akan warna.

"Apa i–?!" Dengan panik, aku merentangkan tangan kananku seraya mencoba menggapai-gapai ke arah Yang Mulia Naga seakan-akan beliau bisa menyelamatkanku. Namun tidak ada yang terjadi, pusaran warna tadi malah menenggelamkanku dan memerangkapku.

Detik berikutnya, aku lenyap begitu saja dari ruangan hitam melingkar dengan atap seperti kubah tersebut. Meninggalkan Yang Mulia Naga sendirian di tengah ruangan.

"Terima kasih dan selamat jalan, Lee Hyukjae. Semoga takdir mengizinkan kita untuk kembali bersilang jalan di lain waktu."

.

.

.

TBC