Disclaimer: Naruto © Kishimoto Masashi
SAIGO NO KIMOCHI © Hitomi Sakurako
PREVIOUS:
Sakura hendak bangkit. Namun, tiba-tiba…
Sakura tercengang menatap wajah Sasuke yang begitu dekat dengannya. Yang jadi masalah, Sasuke mengunci tubuh Sakura.
"Apa maumu? Kenapa mengikutiku?" Tanya Sasuke dingin.
"E-eh?!" Sakura mulai panik.
"Berhenti mengikutiku." Sasuke berbisik pelan. Nafasnya yang menghembus membuat wajah Sakura memerah.
"Tunggu, kenapa kau bisa melihatku?" ucap Sakura.
Sasuke tetap mempertahankan posisinya. Ia menyeringai perlahan. "Kau sungguh ingin tahu?"
Sakura mengangguk pelan. "Y-ya!"
Sasuke akhirnya menyingkir dari tubuh Sakura. Ia duduk di sisi ranjang diikuti oleh Sakura.
.
.
.
Sakura berjalan mondar-mandir di ruang tamu keluarga Uchiha. Ia tampak ketakutan. Ketakutan? Karena apa?
"Hah, si Uchiha itu kenapa bisa begitu, sih?" gerutu Sakura.
"Hey. Sudahlah, tak usah kau pikirkan lebih panjang mengenai kelebihanku itu."
—FLASHBACK ON—
"Sebenarnya aku punya sixth sense!" ucap Sasuke sambil tersenyum licik.
Sakura terkejut. "Hah? Indra keenam? Jadi benar, ya ada orang yang memilikinya?"
"Hah, tentu saja. Dasar!"
"Tapi, tapi! Apa keluargamu juga memilikinya?" Sakura menatap Sasuke serius.
Sasuke menggeleng kecil. "Hanya aku saja."
Sakura menghela napas kecewa. 'Bagaimana aku bisa membalas dendam padanya?'
—FLASHBACK OFF—
"Tapi, bagaimana bisa kau-arghh! Aku pusing memikirkannya!" Sakura menjambak rambutnya frustasi.
"Hoi, hoi, hoi! Sudah, pinky! Kau mau jadi gila?!" Sasuke menarik tangan Sakura.
Sakura memicingkan mata, "Ya, aku sudah gila! Karena sudah gila makanya aku mau membunuhmu dan juga Ino!"
"Aku? Apa salahku?" Sasuke menunjuk-nunjuk dirinya.
"Kalau bukan karena kau, Ino tidak akan memutuskan persahabatannya denganku. Kalau bukan karena kau, Ino tidak akan menjadikanku rivalnya. Kalau bukan karena kau, Ino tidak akan terus-terusan mengolokku. Kalau bukan karena kau, Ino tidak akan membunuhku! Semuanya karena kau, brengsek!" Sakura menunjuk-nunjuk wajah Sasuke dengan amarah yang meluap.
Sasuke menahan jari Sakura. "Lalu, kenapa harus aku?" tanyanya dengan wajah super datar.
Sakura menggeram. "Kau memang tidak peka atau kau hanya pura-pura? Ino menyukaimu, Uchiha! Sangat..." mendadak nada bicara Sakura tampak lirih.
"Oh, aku tahu itu kok!" Sakura mengangkat wajahnya dan menatap Sasuke serius.
"Kau tahu, lalu kenapa kau tidak pernah menerimanya? Ia selalu mengungkapkan perasaannya padamu. Kapanpun kau mau, Uchiha. Ino selalu berusaha! Mencoba mengungkapkan agar kau mau menerimanya kapanpun kau bersedia."
"Siapa kau? Seenaknya saja mengatur perasaanku. Aku tidak menyukainya, hanya itu saja. Tapi ia selalu menggangguku."
Sakura duduk lemas. "Lalu apa yang harus kulakukan? Apa yang dikatakan ghost rider itu benar. Apa aku harus menyerah begitu saja? Apa aku harus pergi ke neraka begitu saja? Rasanya sulit…"
Sasuke duduk di depan Sakura. "Memangnya kau sudah meninggal?"
Sakura menggeleng. "Aku koma dan mungkin sebentar lagi meninggal."
"Kalau begitu aku punya saran!"
"Hah? Apa?" Tanya Sakura antusias.
"Kembali ke tubuhmu, jalani harimu seperti biasa, dan berbuat baiklah lebih banyak lagi!"
"Berbuat baik lebih banyak lagi? Aku sudah berbuat baik, kok! Malahan aku sampai harus diolok-olok oleh Ino karena aku lebih memilih untuk tidak memperpanjang masalah."
"Kau pikir kau sudah berhati baik? Sayangnya tidak. Apa buktinya sifatmu baik jika kau ingin membalas dendam pada sahabatmu sendiri?! Meskipun dia membunuhmu, harusnya kau tidak perlu menyimpan dan membalas dendam suatu hari nanti."
Sakura terdiam sambil menundukkan kepala. "Ah, ya. Satu lagi!" Sasuke membuat Sakura terpaksa mengangkat wajahnya.
"Apa?" Tanya Sakura heran.
"Hidupmu tak lama lagi. Kalau kau melakukan dosa lagi, maka kau tak akan merasa tenang disana. Kau hanya bisa tersenyum puas di dunia ini setelah balas dendam, tapi tidak ada kata tersenyum lagi kalau kau sudah di neraka." Sasuke mengakhiri pembicaraannya dengan senyum tulusnya.
"A-a…"
Sasuke heran dengan wajah Sakura yang mendadak membatu. Ia berharap Sakura akan terpesona pada senyum yang mungkin hanya sekali setahun keluar itu. Tapi…
"K-kau! Kau pasti ghost rider tadi! Aku yakin itu! Bicaramu sama! Aku tahu kau sedang menyamar."
"Hoi! Apa-apaan kamu?! Aku bukan ghost rider. Jelas-jelas aku si Pangeran Es 'Sasuke Uchiha' yang terkenal seantero sekolah!"
"Hah, percaya diri sekali orang ini! Ya, sudah. Aku pergi dulu." Kata Sakura lelah.
"Kau mau kemana?"
"Aku harus ke rumah sakit melihat tubuhku. Siapa tahu saja aku bisa memasukinya. Wah, seperti drama korea kesukaanku. Ada adegan roh masuk dalam tubuh gitu. Aissh…" sementara Sakura asyik dengan pikirannya, Sasuke malah hanya bisa memutar bola mata bosan.
"Ya, sudah! Sana!" usir Sasuke.
.
.
.
Sakura memasuki ruang perawatannya. Kebetulan ia dimasukkan di ruangan yang sama dengan ayahnya yang juga sakit dan berada di rumah sakit yang sama pada saat itu. Ia menghembuskan napas pelan. Sakura dapat melihat ibunya sedang menangis tersedu-sedu. Pasti ini berat bagi ibunya, menerima kondisi dengan dua anggota keluarganya terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Dengan agak gemetar, Sakura melangkah mendekati tubuh lemahnya. Ia tersenyum kecil. "Sakura, setelah ini kau akan menjalani kehidupan baru."
Sakura berbaring di samping tubuhnya. Ia masih ragu apakah ia bisa kembali ke tubuhnya ini? Tapi, Sakura segera meyakinkan diri dan memasuki tubuhnya.
Perlahan demi perlahan Sakura membuka matanya. Putih. Ya, yang ia lihat hanya warna putih. Tunggu! Apa ia sungguh telah berada dalam tubuhnya kembali?! Sakura hendak mendudukkan diri, namun ia merasakan sakit yang teramat sangat pada tubuhnya. Rupanya itu adalah efek dari kecelakaannya.
"Saku-chan!"
Suara Mebuki menyadarkan Sakura sepenuhnya. Ia menatap ibunya yang tengah menatapnya dengan tatapan cemas. Tiba-tiba, ia menitikkan air mata. "Ibu! Aku ba–" GREP! Mebuki langsung memeluk Sakura erat.
Tiba-tiba Kizashi yang saat itu sedang tertidur langsung terbangun mendengar suara gaduh di sekitarnya. Ia menoleh kearah Sakura. Rupanya putrinya itu sudah sadar. Dengan segenap kemampuan ia bangkit mengubah posisinya menjadi duduk. "Kau sudah sadar rupanya. Syukurlah!" ucap Kizashi sambil menangis tersedu-sedu.
"Ayah? Kau sudah bangun?" ucap Mebuki dengan perasaan senang. "Syukurlah! Terima kasih, Kami-sama!" Mebuki mengeratkan pelukannya.
"Ibu. Tubuhku sakit…" rintih Sakura.
Mebuki segera melepaskan pelukannya, meskipun terpaksa. "Maaf! Kami terlalu bahagia!" ucap Mebuki penuh syukur.
"Aku juga sangat senang bisa melihat wajah ayah dan ibu lagi. Aku senang…" Sakura menyeka air matanya.
Sekali lagi mereka berpelukan. Sakura tersenyum bahagia. "Terima kasih, Kami-sama!"
.
.
.
"Ohayo." Sakura membungkuk hormat di depan kelas. Ia seakan menjadi murid baru saja. Mengingat sudah seminggu Sakura tidak hadir setelah siuman. Dokter bilang, ia masih butuh perawatan yang lebih memadai.
"Baiklah, semua. Sakura kini telah sembuh. Ia telah kembali menjadi anggota keluarga di kelas kita ini. Nah, Sakura. Duduklah di tempatmu." Kata Kakashi-sensei dengan bijaknya.
Sebelum duduk, Sakura sempat menoleh ke luar kelas. Di ambang pintu, sosok Sasuke tengah berdiri dengan kerennya. Sasuke tersenyum kearah Sakura. Sakura pun membalasnya.
.
.
.
Waktu istirahat merupakan waktu yang paling menyenangkan bagi semua murid KHS dan kantin merupakan surganya. Sakura berjalan menuju UKS, hendak mengganti kasa yang masih menempel di pelipisnya. Sakura melihat Sasuke yang sedang menata beberapa obat-obatan yang baru di UKS. Maklumlah, dia 'kan ketua kesehatan sekolah. Jadi, lantaslah jika Sasuke harus mengecek selalu keadaan di dalam ruangan kesehatan itu.
Sakura membuka pintu UKS. "Hei, Uchiha. Kau di sini rupanya?! Kupikir tidak ada orang." kata Sakura sambil duduk di atas ranjang.
Sasuke menghentikan kegiatannya dan menatap Sakura. "Memangnya kenapa? Aku di sini untuk mengecek obat baru yang sudah habis. Kau?"
Sakura menunjuk pelipisnya. "Aku harus menggantinya." Sakura berjalan mengambil kasa yang ada di kotak P3K, namun tiba-tiba Sasuke menahan tangannya.
"Biar aku yang menggantikannya!"
Sakura menggeleng cepat. "Jangan! Kau sudah membantuku banyak. Aku tidak suka merepotkan orang."
"Sejak kapan aku membantumu banyak?"
"Kau sudah memperingatiku. Aku harus menjalani kehidupanku seperti biasa dan berbuat lebih banyak lagi kebaikan." Sakura tersenyum simpul.
"Tapi ini tugasku sebagai seorang ketua." Sasuke mendesak.
"Ketua? Ketua apa?" Sakura memiringkan wajahnya, heran.
"Hah, tentu saja sebagai ketua kesehatan di KHS. Kau tak tahu itu? Semua murid-ah! Bukan! Lebih tepatnya semua penghuni di sekolah ini tahu akan hal itu."
"Hm, berarti pernyataanmu itu sudah meleset. Buktinya aku tidak tahu. Aku 'kan penghuni sekolah ini juga."
"Berarti ada yang salah denganmu!" tuding Sasuke.
Sakura megerutkan alis. "Apa?! Kau ini su-" Sakura hendak memukul Sasuke, namun Sasuke menahan tangan Sakura.
"Sudahlah. Dekatkan wajahmu. Biarkan aku melihatnya." Sasuke menarik wajah Sakura untuk mendekat kearahnya.
"E-eh?!" muka Sakura memerah dibuatnya.
Setelah itu, Sasuke duduk di samping Sakura. Ia tersenyum kecil. "Kau tahu, rasanya bisa menjadi terkenal itu benar-benar menyebalkan." Sakura mengangguk kecil sebagai tanggapan, kemudian menundukkan kepala.
"Kau selalu dikejar-kejar, disoraki, diapalah. Semua menyebalkan. Awalnya aku menikmati semua itu. Namun, semuanya berubah semenjak Ino menyukaiku. Ia membuat sekelompok fansgirls yang membuatku mati rasa. Aku selalu dikejar tiap kali aku melewati koridor, mereka selalu meneriakkan namaku disertai pujian konyol mereka, dan itu membuatku pusing. Terkadang aku selalu bersembunyi di atap sekolah atau perpustakaan. Setelah itu, Ino berteman dengan Karin yang juga menyukaiku. Mereka adalah ketua kelompok penggemar yang paling kubenci. Begitu Karin pindah sekolah, Ino-lah yang mengambil kekuasaan tertinggi sebagai ketua penggemar. Kau tahu, itu sangat meny–"
"Zzzzzz…" kepala Sakura bersandar di bahu Sasuke. Rupanya ia tertidur pulas. Sasuke hendak marah karena omongan panjang lebarnya tadi sudah terlanjur menjadi kacang yang diabaikan, tapi niat itu ia urungakan begitu melihat wajah manis Sakura saat tertidur.
Sasuke pun memperbaiki posisi kepala Sakura agar nyaman di bahunya. "Dasar pinky."
.
.
.
Sakura berlari kearah gerbang sekolah. Ia celingukan kesana-kemari. "Kemana si Uchiha itu?"
Sakura ternyata sedang mencari sosok Sasuke. Ia ingin berterima kasih karena Sasuke sudah mau mengobatinya tadi. Tapi, kemana si ayam itu?
Sakura akhirnya menyerah dan berjalan pulang. Ia akan berterima kasih besok saja. Begitu berjalan agak jauh dari sekolah, mendadak kepala Sakura pusing. Ia merasa pandangannya kabur. Rasanya ada yang mendesak keluar darinya.
BRUK! Tubuh Sakura terjatuh di semak-semak. Hah? Terjatuh?
"Aduh, kepalaku sakit." Sakura memegang kepalanya yang masih agak nyut-nyutan. Ia membuka matanya dan terkejut mendapati tubuhnya yang jatuh tersembunyi diantara dedaunan semak.
"A-ada apa ini? Kenapa tubuhku? Tolong! Tolong! Tolong!" Sakura berteriak sekuat tenaga. Ia begitu panik. Ia tahu orang-orang yang lewat tidak akan mendengarnya. Tapi, inilah yang namanya panik.
Sakura mencoba memasuki tubuhnya. Berharap ini hanya hal sepele yang tidak terulangi lagi. Tapi, ia salah. Tubuhnya menolak rohnya. Ada apa ini?
Sakura menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia ingin minta tolong ke Sasuke, tapi orang yang dibutuhkan tidak ada di sini.
"Hei, kau!" panggil seseorang.
"Eh? Kau bukankah ghost rider itu?" Tanya Sakura.
Sasori mengangguk. "Jangan panggil ghost rider. Itu terdengar menyeramkan. Aku bukan tengkorak yang terbakar. Kau panggil aku Sasori saja, bagaimana?"
"Apapun itu, Sasori. Masalahnya, aku tidak tahu apa yang sedang teradi pada diriku dan aku pun tidak tahu harus berbuat apa!" Sakura berteriak.
"Ah, pasti kau berpisah dengan tubuhmu 'kan?" pernyataan Sasori membuat Sakura mengangguk cepat.
"Iya, iya. Apa yang terjadi?"
"Ekhm, itu dikarenakan kau punya tugas."
"Tugas? Tugas apa?" Sakura menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kau ingat apa yang dikatakan pria berambut pantat ayam itu? Mengenai kau yang harus berbuat baik lebih banyak lagi."
"Iya! Aku ingat!"
"Nah, itu menjadi tugasmu. Kau harus menjalankannya sampai kau berhasil. Peristiwa ini tidak akan berhenti sampai kau berhasil. Kalau kau berhasil, maka kau bebas memiliki tubuhmu, apabila tidak, maka kau akan meninggal."
Sakura terkejut. "Apa-apaan ini? Jadi, ini hanya tubuh pinjaman?! Lalu, apa ada efek yang terjadi bila peristiwa ini selalu terjadi? Seperti aku bisa sakit jantung atau apalah?!"
"Hmmm, tidak ada. Hanya saja semua harus kau selesaikan secepatnya. Mengerti?"
Sakura mengangguk cepat. "Yah, yah. Tapi, apa yang harus kulakukan sekarang? Dengan keadaan ini, kemana aku harus membawa tubuhku? Aku tidak bisa apa-apa…"
"Naiklah. Kau harus ke rumah pria itu. Minta tolong padanya." Sasori menawarkan.
"Apa? Ehm, terima kasih, Sasori!" Sakura beringsut menaiki motor Sasori.
"Sama-sama. Cepatlah! Waktu perjalanan kita empat detik."
"Apa? Empat? Detik? Kau sedang bergurau, Sasori?" Tanya Sakura tak percaya.
Sasori menggeleng kecil. "Tidak. Memangnya kenapa?" tanyanya polos.
"Harusnya kau tahu, itu akan membuatku terluka. Lima kilometer dalam empat detik itu benar-benar berbahaya."
"Ya, sudah. Kau mau berapa?"
"Ehhm, kuhitung dulu. Bagaimana kalau sepuluh menit?"
"Apa? Sepuluh menit? Aiih, itu bukanlah tipeku. Aku ghost rider hantu pengendara tercepat dan hari ini harus berkendara selama sepuluh menit? Itu menggelikan! Lagipula, kalau lebih cepat sampai, tubuhmu akan baik-baik saja disini. Kau mau, ada sesuatu yang terjadi pada tubuhmu? Kau juga tak perlu takut terluka. Kau ini 'kan roh. Jadi kau tidak akan merasakan apapun!" tolak Sasori mentah-mentah.
Sakura agak mepertimbangkannya sebentar. Ia menatap Sasori ragu, kemudian tersenyum kecil. "Baiklah. Tapi, aku masih ragu apakah aku bisa sel-Kyyaaa!" perkataan Sakura berhenti tatkala Sasori langsung tancap gas. Dengan refleks Sakura memeluk erat pinggang Sasori.
"Hei, lepaskan tanganmu itu!" teriak Sasori dengan wajah yang agak memerah.
.
.
.
Sakura memasuki rumah Sasuke begitu saja. Ya, iyalah. Dia 'kan roh. Sakura mencari Sasuke di kamarnya. Rupanya ada, Sasuke sedang berbaring di atas ranjangnya. Sakura segera menghampiri Sasuke.
"Uchiha, bangunlah! Kumohon bantu aku." Teriak Sakura sambil mengguncang bahu Sasuke yang sedang asyik berbaring sambil membaca buku.
"Eh, hei. Kau kenapa? Ada apa sebenarnya?" Sasuke menutup bukunya terpaksa.
"Tubuhku berpisah dengan rohku. Parahnya, rohku tidak bisa kembali."
"Apa? Gawat!" Sasuke begegas menarik tangan Sakura.
.
.
.
Akhirnya roh Sakura pun dapat kembali. Sakura duduk lemas di halte. "Syukurlah."
"Hah, kau akan menghadapi kehidupan yang berat, pinky." Sasuke menghembuskan napas lelah.
"Yah, pasti akan sulit. Aku harus bisa mempertahankan tubuhku. Aku harus menjaganya apabila suatu saat nanti rohku akan keluar lagi. Kalau itu terjadi, aku akan mencarimu lagi. Maaf karena aku merepotkanmu, Uchiha."
Sasuke menatap Sakura serius, kemudian menggenggam tangannya. "Hei, mulai sekarang aku akan selalu di sampingmu. Aku akan membantumu. Kau tidak akan mungkin meninggalkan tubuhmu begitu saja kemudian mencariku apa bila rohmu keluar lagi, 'kan? Kalau begitu, aku akan selalu membantumu. Kau tak perlu minta tolong padaku karena aku akan selalu berada disaat kau membutuhkan bantuanku."
Sakura hanya cengo sesaat. "Hah?"
Sasuke menyadari ucapannya. Kemudian menggelengkan kepala. "Eh, bukan! Aku terlalu berlebihan mengatakannya. Abaikan yang tidak penting!" elak Sasuke.
"Arigatou…" ucap Sakura dan dibalas anggukan kecil dari Sasuke.
Sakura tersenyum geli. Kemudian menyentuh pipi Sasuke. Awalnya, Sakura hanya menempelkan tangannya, namun ia segera mencubit gemas pipi Sasuke. Membuat sang empunya menjerit kesakitan.
"Adaaw! Sakit, tahu!" Sasuke mengelus pipinya sambil melayangkan deathglare andalannya ke Sakura yang tengah tersenyum polos.
"Gomen ne, kau lucu, err–Sasuke!" pertama kali bagi Sakura dalam menyebut nama panggilan Sasuke.
Sasuke menatap Sakura. Masih dengan wajah kesal. Tapi, ia segera tersenyum senang. Ada apa ini?
–TBC–
Ada apa ini? Ada apa ini? Ada apa ini?
Kenapa rasanya chapter ini agak menggelikan. Hah? Waeyo? Wae? Wae? *digebukin*
Tapi, aku suka chapter ini, kok. -..-a
Masih sama, boleh minta review? Boleh? Boleh? Boleh? Please…
Sampai jumpa di chapter depan. Adios! Ja!
