Naruto ( c ) Masashi Kishimoto
"Saigo no Kimochi"
( c ) Hitomi Sakurako
Chapter 3: Melindungimu!
.
.
.
Sekilas Sakura masih memikirkan kata-kata yang diucapkan Sasuke. Sebagai perempuan tentunya ia merasa bahagia. Bahagia. Eh. Bahagia, ya.
Coba pikir, apa kalian tidak merasa bahagia apabila seorang lelaki –yang baru beberapa hari yang lalu kau kenal langsung berjanji akan melindungimu. Iya, sih. Ini berlaku keras apalagi karena lelaki yang dimaksud itu bukan lelaki sembarangan. Ini Uchiha Sasuke. Uchiha. Sasuke.
Sakura menggelengkan kepalanya cepat. Ia berharap perasaan bahagia yang sempat menyelinap di hatinya tadi hanya mimpi. Sasuke bukan orang yang harus ia miliki. Sakura sadar kalau Ino masih menyukai Sasuke.
Jika Sakura masih ingin membalas dendamnya kepada Ino, ia mungkin sudah lama memanfaatkan Sasuke seperti ini. Tapi Sakura benar-benar melupakan perasaan balas dendamnya karena Sasuke.
Oh, jangan sekalipun berpikir Sasuke mengatakan kata-kata bijak itu karena ingin menyadarkan Sakura atau karena ingin melindungi Ino, karena sejujurnya ia mengatakan itu karena ingin melindungi dirinya sendiri dari balas dendam Sakura.
Sakura berjalan menuju sekolahnya sambil terus memikirkan hal tersebut. Ia mengkhawatirkan hidupnya yang tidak lama itu. Ia terus berpikir keras, ia ingin mengetahui hal baik seperti apa yang harus ia lakukan agar ia dapat meninggal dengan tenang?
Sambil memikirkan itu, tiba-tiba Sasori –atau yang paling akrab Sakura sebut adalah Ghost Rider karena Sasori menggunakan motor dan mengendarainya dengan sangat cepat, datang menghampirinya.
"Selamat pagi." Sasori berucap sambil menghentikan motornya di sisi Sakura.
Sakura mencengkeram tasnya. "Kenapa kau ada di sini?" ucap Sakura risih. Ia cukup kesal bersama dengan orang-eh dengan hantu ini. Tentunya Sakura berbicara dengan suara yang sangat pelan. Kalian tahu apa jadinya kalau Sakura berbicara normal dengan Sasori.
"Aku bertugas mengawasimu. Jadi aku bebas mengikutimu. Lagi pula orang lain tidak ada yang melihat."
"Sampai saat ini aku tidak ingin diawasi. Heh, untuk apa mengawasiku?" Tanya Sakura.
"Kalau rohmu keluar lagi, siapa yang akan membantumu?" ucap Sasori sambil memperlambat jalan motornya agar dapat terus menyesuaikan langkah Sakura.
Sepertinya perempatan sudah muncul di jidat Sakura. "Waktu itu kau juga tidak menolongku. Aku meminta bantuan Sasuke."
Sasori mengangguk beberapa kali. "Sasuke itu… apa ia bisa menyadarinya? Ia menolongmu karena kau mendatanginya, 'kan?"
Sakura menatap Sasori dengan tatapan kesal. "Bukan begitu! Kau sendiri tidak menolongku waktu itu!" teriak Sakura kesal.
Seketika pandangan menatap kearahnya. Sasori bersiul ria. Sedangkan Sakura sudah menahan amarahnya. Wajahnya memerah karena malu dan marah.
Dengan cepat Sakura menundukkan wajah. "Sialan. Aku harus pergi!" gumam Sakura tanpa menghiraukan Sasori.
Sakura memasuki gedung sekolahnya. Ketika tiba di koridor kelasnya, Sakura melihat Ino yang sedang duduk bersama teman-temannya. Sakura berdiam di tempat. Ia tetap menatap Ino yang tertawa bahagia.
Tiba-tiba mata Ino menatap Sakura. Pandangan mereka bertemu, Ino masih mempertahankan tatapannya. Sakura menghembuskan nafas.
"Ya, aku memang tidak bisa menatap mata seseorang lebih dari duapuluh detik." Sakura melangkah memasuki kelasnya. Ia mengacuhkan Ino yang sedari tadi menatapnya.
Ini bukan berarti Sakura takut dengan tatapan Ino, tapi Sakura benar-benar tidak tahan menatap mata seseorang dalam waktu lama. Makanya, dalam festival budaya tahun lalu Sakura tidak diikutsertakan dalam audisi putri pada pertunjukan drama, karena dalam drama itu ada adegan dimana pangeran menatap putri dalam waktu lama. Sakura pernah mencobanya. Tapi dalam waktu sepuluh detik saja ia langsung tertawa karena tidak tahan.
Sakura langsung menduduki kursinya ketika sempat mendengar desas-desus dari orang di sekitarnya mengenai dirinya yang berteriak di depan sekolah.
"Mereka pasti sudah mengira aku gila!" batin Sakura kesal. Bukan lagi mengira, tapi temannya yakin bahwa Sakura sudah gila.
"Oh, di sini!" Sasuke memasuki kelas Sakura. "Oi! Kapan kau datang?" Tanya Sasuke.
Sakura memalingkan wajahnya ke luar jendela begitu melihat orang-orang menatapnya dengan heran. Heran karena Sasuke tiba-tiba akrab dengan Sakura.
"Jangan bicara padaku. Aku tidak ingin terlibat masalah lagi!" ucap Sakura cuek.
"Masalah?"
Sakura menyuruh Sasuke berbalik. Begitu Sasuke berbalik, ia dapat melihat semua orang menatap dengan heran. Heran dengan sikap Sasuke yang tiba-tiba perhatian ini.
"Kau tidak suka itu?" Tanya Sasuke dengan suara berat.
Entah mengapa, tiba-tiba Sakura terkejut dengan ucapan itu. Sakura menatap wajah Sasuke agak lama. Apa itu? Ucapan apa itu? Sasuke berbicara seolah-olah sedang melindunginya.
Sakura menahan tawanya. "Uh, apa yang kau pikirkan? Aku… aku…," Sakura ingin mengatakan ia tidak terganggu. Katanya supaya mirip adegan di film-film romantis. Tapi tatapan orang-orang itu membuyarkan khayalannya.
Sakura menarik nafas. "T-tentu saja aku terganggu!" teriak Sakura.
Sasuke terdiam sejenak. Apa ini? Sasuke tidak bergerak? Maksudnya pertanyaannya tadi itu cuma ingin sok perhatian yang berujung mempermainkan dan mempermalukan Sakura? Apa setelah ini Sasuke akan tertawa? Sakura menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Tapi… "Kalau begitu aku pergi." Sasuke meninggalkan kelas Sakura dengan tenang.
Sakura mengangkat kepalanya. "Pergi… ia benar pergi seperti yang kukatakan…" Sakura terkejut karena Sasuke benar-benar mengikuti perkataannya.
.
.
.
Bel makan siang berbunyi. Sakura meletakkan buku-bukunya di dalam tasnya. Kemudian ia mengambil kotak bekalnya. Jarang-jarang ia bisa memakan bekal buatannya sendiri. Dalam hal ini, Sakura mengambil posisi makan di atap sekolah.
I-ini bukan karena penulis ingin mengikuti seperti yang ada di anime-anime shoujo. Tapi atap adalah salah satu tujuan Sakura. Apa yang harus ia lakukan kalau rohnya sampai keluar dari tubuhnya di saat yang tidak diinginkan? Kalau itu terjadi di kantin, sudah jelas Sakura akan ditolong tapi ia hanya akan dikira meninggal.
"Sakura." Sakura berhenti ketika seseroang memanggilnya.
Sakura berbalik. Ia mendapati Ino sedang berdiri di belakangnya. "Apa kabar?"
Kalau Sakura masih memiliki perasaan dendamnya, ia akan mengibaskan rambutnya dan berlagak sombong di depan Ino. Tapi saat ini Sakura masih baik-baik saja.
"Baik. Senang bertemu denganmu kembali, Ino." Sakura tersenyum ramah.
Hal inilah yang membuat Ino membenci Sakura. Ino telah membenci Sakura sejak lama, tapi Sakura bahkan belum pernah menyakiti Ino.
"Bagaimana lukamu?" Tanya Ino.
"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Aku baik-baik saja. Aku harus segera pergi." Sakura melangkah meninggalkan Ino.
Setibanya di atap, Sakura mencari tempat tersembunyi dan nyaman. Ia bebas kapan pun rohnya mau keluar karena ia sudah menyembunyikan dirinya.
"Bukan seperti itu. Aku hanya merasa bersalah."
"Benarkah, Sasuke? Aku pikir kau menyukainya!"
Sakura menghentikan kegiatan makannya begitu mendengar suara beberapa anak laki-laki di dekat pintu atap. Dari suara yang terdengar, sepertinya itu adalah Sasuke dan teman-temannya.
"Aku kaget tadi kau langsung datang ke kelasnya…"
"Iya. Sakura Haruno. Dalam satu hari ini ia langsung mendapat gosip aneh denganmu."
Sakura mengerutkan kening. Ia merasa namanya disebut. "Apa yang mereka bicarakan?" gumam Sakura penasaran.
"Aku hanya merasa takut."
Sakura terkejut begitu mendengar ucapan Sasuke. Takut? Takut pada Sakura? Kenapa?
"Aku merasa bersalah padanya. Jadi aku membantunya. Kecelakaan itu, aku rasa aku juga terlibat."
Sakura masih dalam kondisinya. Ia terkejut. Apa? Iya, Sakura tahu bahwa Sasuke menolongnya karena untuk dirinya sendiri. Tapi… mengapa Sakura merasakan sakit pada dadanya ketika Sasuke membicarakan hal itu kepada temannya.
"Ya, sudah. Sepertinya sekarang sudah bel. Ayo, masuk!"
Benar juga. Sepertinya bel sudah berbunyi. Sakura mendengar suara langkah kaki itu menjauh. Kemudian Sakura mencoba berdiri untuk kembali. Namun, ia tiba-tiba terjatuh dan rohnya keluar dari tubuhnya.
"Gawat. Kenapa selalu disaat yang tidak tepat?" ucap Sakura kesal.
"Menunggu bantuan dari lelaki itu?" Sakura tiba-tiba merasakan seseorang berbicara dari belakangnya. Sakura berbalik cepat.
"Sasori!" Sakura mengembangkan senyumnya. "Syukurlah kau datang!" ucap Sakura sambil tersenyum senang.
"Aku 'kan sudah mengatakan kalau aku adalah pengawasmu. Jadi jangan remehkan aku."
Sakura mengangguk. "Tapi, bagaimana cara agar rohku segera kembali?" Tanya Sakura.
Sasori menyandarkan punggungnya di dinding. Ia duduk dengan santainya. "Aku tidak tahu. Sampai saat ini, kau harus menunggu waktunya saja."
Sakura duduk di samping Sasori. "Tidak mungkin! Tidak mungkin aku harus menunggu!"
Sasori memejamkan matanya. "Sudah, ya. Aku cukup menemanimu saja. Aku mau tidur."
Sakura terkejut. "T-tunggu! Aku masih belum selesai!" Namun Sasori sudah tertidur dengan lelapnya.
"Dasar makhluk aneh! Kau sama sekali tidak membantu!" teriak Sakura kesal.
"Aku tidak bisa menyia-nyiakan acara tidur siangku. Jarang-jarang aku bisa tidur siang seperti ini." Sasori masih bisa berbicara tanda ia belum tidur.
"Tidur siang..." Sakura menatap sekelilingnya. Udara siang ini sangat sejuk. Sakura dapat merasakan desiran angin di siang itu.
.
.
.
Sakura membuka matanya perlahan. Yang ia tatap pertama kali adalah langit yang sudah mulai berwarna orange. Sakura buru-buru berdiri karena sebentar lagi sudah malam.
"Gawat! Aku tidur terlalu lama." Sakura berlari menuju kelasnya dan bergegas pulang. "Dasar. Makhluk itu tidak membangunkanku!"
Begitu keluar dari sekolah, Sakura melihat Sasuke yang bersandar dipagar sekolah. "Kau masih di dalam rupanya."
Sakura terkejut sejenak. "Sasori…" Yang saat ini Sakura lihat bukanlah Sasuke, tapi Sasori yang berada di belakang Sasuke.
Sasuke sejenak terkejut dan melangkah menghampiri Sakura. "Sasori?"
Sakura menatap Sasuke, kemudian ia menatap ke belakang Sasori. Terlihat Sasori sudah tidak berada di sana. Sakura kembali menatap Sasuke. "Tidak ada apa-apa. Kenapa di sini?" ucap Sakura.
"Menunggumu…"
"Eh? Kenapa?" Sakura memiringkan kepalanya.
"Aku sudah menduga kau belum pulang. Makanya aku menunggumu." Sasuke berdiri tepat di hadapan Sakura.
"Kenapa kau sampai menunggu?"
"Aku 'kan sudah berjanji akan melindungimu. Aku akan melindungimu kalau rohmu keluar lagi." Sasuke berjalan mendahului Sakura.
"Takut. Kau bilang ini Cuma karena kau takut, 'kan?" gumam Sakura.
Sasuke menatap wajah Sakura. "Kau barusan bilang apa?"
Sakura menggelengkan kepala. "Bukan apa-apa. Ayo!" Sakura menyamai langkahnya dengan Sasuke.
Pada sore itu, mereka pulang bersama.
-To Be Continued-
A-ano ne… Ini fic yang mana lagi, ya? Aku lupa begitu kalau fic yang sudah kutelantarkan ada banyak. T-tapi, aku ingin mencoba menyelesaikan satu-persatu. I-itu… terima kasih sudah mau membaca sampai di sini. Aku meminta maaf kepada yang sudah menunggu. Aku malah lebih berharap kalian tidak pernah menunggu fic ini, karena update yang lambat, aku yakin kalian kecewa. Anggap saja ini adalah fic baru.
Terima kasih sudah mau membaca (utamanya untuk yang sudah memberi review, fave, dan follow).
Sign,
Hitomi Sakurako –08 Januari 2014, Watampone, Indonesia.
