Naruto ( c ) Masashi Kishimoto

"Saigo no Kimochi"

( c ) H.S

Chapter 4: Karena dirimu!


Sakura Haruno masih terjaga di dalam selimutnya. Ia menaikkan selimut putihnya itu sehingga menutupi seluruh tubuhnya. Tidak, Sakura sedang tidak libur. Sakura memang masih sekolah. Hari ini ia hanya sedang ingin menambah tidurnya, karena semalam ia tertidur terlalu larut.

"Aku bisa saja tidak sekolah untuk hari ini…" gumamnya. Kemudian ia kembali menutup mata.

Drap! Drap! Drap!

Langkah seseorang terdengar menggema di sepanjang lorong rumah Sakura. A-are? Bukankah di rumah itu hanya ada Sakura seorang diri? Karena keadaannya yang agak aneh, Sakura mau tak mau segera membuka selimutnya. Ia mempertajam pendengarannya, memastikan apa yang tadi ia dengar itu benar atau salah. Eh, anehnya ia tidak mendengar lagi suara apapun. Kemudian ia menghendikkan bahu dan kembali menutupi tubuhnya dengan selimut.

Selang beberapa detik kemudian, kejadiannya berlangsung begitu cepat. Pintu kamar Sakura terbuka dengan cukup keras. Sakura membuka matanya dengan cepat, begitu akan membuka selimutnya, benda itu lebih cepat ditarik dari arah kakinya.

"Bangun cepat, Sakura! Apa yang kau lakukan? Kau mau terlambat sekolah?!"

Sakura segera memperbaiki duduknya. Ia membulatkan mata. "I-Ibu!"

.

.

Sakura beberapa kali melirik jam yang bergantung di dinding kelasnya. Sesekali ia menatap keluar jendela. Begitu yang ia lakukan berkali-kali. Sampai kemudian Sakura menyandarkan kepalanya di atas mejanya.

"Sial. Aku terlalu cepat ke sekolah."

Sakura berpikir bahwa ia bisa mengambil sedikit waktu sekolahnya untuk tidur tadi, tetapi sewaktu Ibunya masuk, pada saat itu ternyata juga masih terlalu pagi untuk jam anak sekolahan. Dan akhirnya diamlah Sakura di dalam kelasnya sendirian.

"Aku harusnya minta sedikit waktu lagi untuk tidur sebentar." Sakura menggaruk belakang kepalanya. Kemudian ia menatap jam dinding. "Dua puluh menit lagi jam tujuh. Aku ingin tahu apakah Sasuke sudah bangun."

Sakura bangkit dari duduknya. Kemudian ia menatap tubuhnya yang tertidur di mejanya. "Aku harus meninggalkan tubuhku sendirian di sini. Tapi tidak apa-apa."

Sakura berlari menuju rumah Sasuke. Ternyata rumah itu masih tertutup rapat. Sakura melompati pagar rumah Sasuke. Kemudian ia melangkah ke depan pintu rumahnya.

"Sasuke!" teriak Sakura.

Sakura memanfaatkan ini karena meskipun Sakura berteriak, teriakannya hanya dapat didengar oleh Sasuke dan orang yang memiliki kemampuan seperti Sasuke. Namun sayangnya, tidak ada jawaban. Sakura terus memanggil Sasuke, tapi yang ia dapat hanya tenggorokannya yang sakit.

Sakura mengambil langkah terakhir dengan memasuki langsung rumah Sasuke. Jelas saja. Rumah itu sudah diisi dengan penghuni yang sudah terbangun dari tidurnya. Yah, itu adalah Mikoto Uchiha, Ibu Sasuke. Sakura segera berlari ke lantai atas untuk menuju ke kamar Sasuke.

Sakura meraba pintu kayu di hadapannya. Kemudian ia mengetuk pintu itu pelan. "Sasuke. Kau sudah bangun?"

Sayangnya tidak ada jawaban. Sakura memukul pintu Sasuke. "Bodoh! Ia terlalu lama bangun." Sekali lagi Sakura memukul pintu itu dengan keras sampai-sampai ia terjatuh ke dalam kamar itu.

Bruk! "Sakit…" Sakura meringis pelan sambil mengusap pantatnya yang baru saja menabrak lantai.

Sakura menatap ke depan. Di depannya sudah ada sebuah ranjang yang di atasnya terdapat Sasuke yang masih tertidur lelap. Sakura bangkit berdiri, kemudian menghampiri tubuh Sasuke.

Sakura menyentuh bahu Sasuke, kemudian mengguncangkannya dengan sangat keras. "Bangun! Kau pikir sekarang jam berapa?" teriak Sakura tepat di telinga Sasuke.

"Aku akan bangun sebentar lagi…" ucap Sasuke sambil menepis tangan Sakura yang ada pada bahunya. Sasuke menutupi tubuhnya menggunakan selimutnya.

Sakura kembali mengingat apa yang dilakukan Ibunya tadi. Kemudian ia tersenyum licik dan memegang dengan erat selimut Sasuke. Ketika aba-aba ketiga sudah ia sebutkan, Sakura dengan kencangnya langsung menarik selimut itu membuat Sasuke bergerak menghadap kearahnya.

"Eh? Hanya seperti ini kekuatanku? Aku bahkan tidak bisa menjatuhkannya."

Sasuke kembali bergerak. Kemudian ia menarik selimut itu dan berbalik berlawanan dengan Sakura. Dan hal itu membuat tubuh Sakura tertarik sehingga menimpa tubuh Sasuke.

"Kyaaaah!" Sakura berteriak cukup kencang di telinga Sasuke.

Sasuke terkejut karena merasakan sesuatu yang berat menimpanya. Kemudian ia menatap kearah wajah Sakura yang tepat di hadapannya. "Kau…"

Sasuke masih terdiam menatap wajah Sakura yang tepat di hadapannya. "Menyingkir…" ucap Sasuke pelan. Ia menatap mata Sakura tajam.

"Huwaaaaa!" Sakura berteriak sambil mundur beberapa langkah dari Sasuke. "A-apa? Apa y-yang kau l-lakukan?!" teriak Sakura.

Sasuke segera bangkit dari tidurnya. "Mana aku tahu. Aku bahkan tidak tahu kalau kau ada di sini. Apa yang kau lakukan di sini?"

"A-aku datang untuk menyuruhmu ke sekolah. K-kau terlalu lama!" teriak Sakura.

Sasuke mencari-cari jam di dinding kamarnya. "Oi. Sekarang masih beberapa menit lagi sampai jam tujuh. Hari ini kita ke sekolah jam setengah delapan."

"Aku tahu. Tapi aku sendirian di sekolah, Ibuku mengira aku terlambat."

"Bodoh. Kenapa kau tidak pulang kembali ke rumahmu dan mengatakan yang sebenarnya?" Tanya Sasuke.

"Aku… Aku sebenarnya… Ibuku sebenarnya bi–"

"Are? Sasuke? Kau sudah bangun?" ucap Mikoto sambil membuka pintu kamar Sasuke. Sasuke menatap kearah Mikoto yang masih berada di depan pintu.

"Yah. Aku akan segera bersiap!" Sasuke beranjak dari ranjangnya. Ia meninggalkan Sakura sendirian di dalam kamarnya.

"Heh? Apa ini? Dia meninggalkanku?!" teriak Sakura kesal.

.

.

Sasuke dan Sakura melangkah memasuki lingkungan sekolah. Keduanya masing-masing mengunci mulut mereka, tidak ada salah satu dari mereka yang berniat membuka pembicaraan.

Sakura menengadahkan kepalanya menatap langit biru. "Hei, kapan aku bisa menjadi gadis yang baik?"

Sasuke menghentikan langkahnya, kemudian ia berbalik menatap Sakura. "Cobalah mulai dengan berbicara dengan siapa pun."

Sakura memiringkan kepala sambil menatap Sasuke. "Heh? Maksudnya?"

"Apa kau tidak ingat? Sudah berapa kali kau berbicara dengan orang lain selain aku setelah kau kecelakaan?" Tanya Sasuke, ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.

Sakura terdiam sejenak. Kemudian ia kembali mengingat semuanya. Mendadak ekspresi wajahnya berubah. "Aku belum bicara dengan siapa pun…"

"Cobalah berbicara dengan mereka!" Sasuke menunjuk dua orang gadis yang sedang berbicara tak jauh dari mereka.

Sakura mengalihkan pandangannya kearah dua gadis itu. "Berbicara, ya…"

"Yah. Aku pergi dulu." Sasuke melangkah meninggalkan Sakura menuju kelasnya.

Sakura meneguk ludahnya. Ia mulai gugup ketika harus berbicara dengan orang lain. Sudah lama ia tidak berbicara dengan orang lain selain Sasuke dan Sasori. Tunggu, Sasori 'kan bukan manusia.

"A-anu…" Sakura mendekati dua orang gadis itu.

"Eh, Sakura?" ucap Sasame.

"Sakura? Ada apa?" ucap Tenten sambil menepuk pundak Sakura. Kedua gadis itu menatap Sakura dengan tatapan heran.

"Eh, a-apa kabar?" ucap Sakura gugup.

"Kabar baik. Kau sendiri?" Tanya Tenten.

Sialan. Sakura terdiam. Ia tidak mampu berbicara apapun. Sakura terdiam di tempat. Keringat mulai mengalir dari pelipisnya. Ia tidak mampu membuka pembicaraan.

.

.

"Bagaimana? Bagaimana? Apa yang kau pikirkan?" teriak Sakura sambil bersandar di dinding atap sekolah.

"Kau selalu menyulitkan dirimu sendiri. Kenapa kau sangat ketakutan?" Tanya Sasori sambil bejalan mendekati Sakura.

"Heh? S-sejak kapan kau ada di sana?" teriak Sakura sambil menunjuk wajah Sasori.

"Aku sudah memperhatikanmu sejak lama. Kau terlalu aneh hari ini. Ada apa?"

Sakura duduk bersandar. "Aku bermasalah ketika berbicara dengan temanku. Aku membuat mereka ketakutan."

Sasori duduk di samping Sakura. "Bagaimana kau berbicara dengan mereka?"

"Aku hanya menanyakan kabar. Setelah itu…" Sakura menundukkan kepalanya.

"Setelah itu?"

"Aku hanya diam. Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Kemudian mereka menyuruhku beristirahat dan pergi meninggalkanku. Ya, kan? Mereka jahat padaku!"

"Bodoh! Mereka mengkhawatirkanmu tahu! Mereka berkata seperti itu karena kau terlalu kaku. Mereka khawatir kau sedang sakit." Sasori menatap wajah Sakura.

"Eh? Begitu? Jadi mereka mengkhawatirkanku? T-tapi ini berarti aku yang bersalah. Selain itu, apa kau tidak melihat kejadian tadi pagi?!"

Sasori menaikkan alis kirinya. "Apa itu?"

"Ternyata kau memang tidak tahu! Ini mengenai apa yang dibicarakan oleh Ibuku!"

BRAK! Tiba-tiba pintu atap terbuka. Sakura dapat melihat jelas orang yang ada di sana. Itu Sasuke. Kenapa Sasuke tiba-tiba muncul?

"Aku harus bicara dengan Saso– Eh?" Sakura menoleh kearah sampingnya tempat Sasori duduk tadi, namun tidak ada siapa pun di sana.

"Ada apa?" Tanya Sasuke sambil duduk di samping Sakura.

"Eh, tidak, tidak. Lalu, apa yang kau lakukan di sini?"

Sasuke membaringkan tubuhnya di lantai atap sekolah. "Aku yang seharusnya bertanya. Ini adalah tempat tidur siangku."

"Maaf, maaf. Aku sama sekali tidak tahu." Sakura segera berdiri dari duduknya. Ia berencana akan segera keluar karena bel masuk sebentar lagi berbunyi.

"Oi. Kau tidak perlu sampai seperti itu." ucap Sasuke. Sebenarnya ia bermaksud meminta Sakura tetap di sana.

"Tidak. Aku harus segera menyelesaikan tugas." Sakura beralih membuka pintu dan keluar dari tempat itu.

Sakura melangkahkan kakinya menuruni tangga, tapi tiba-tiba kakinya terkilir dan mengakibatkan tubuhnya terjatuh.

Brak! Tubuh Sakura terjatuh tepat di depan tangga. Sasuke yang mendengar suara gaduh segera bangkit dari tidurnya. "Sakura!" teriak Sasuke begitu melihat Sakura yang tergeletak di dekat tangga.

Kenyataannya adalah pada saat itu sebenarnya Sakura tidak pingsan, hanya saja, tabrakan benda keras dengan tubuhnya mengakibatkan rohnya keluar lagi.

Sasuke menatap Sakura yang terbaring di lantai. Kemudian Sasuke bergegas untuk membawa tubuh Sakura ke UKS. Begitu Sasuke akan menyentuh tubuhnya, Sakura segera menahan tangan Sasuke.

"Berhenti. Jangan lakukan apa pun!" teriak Sakura.

Sasuke menatap Sakura di sampingnya. Ia menatap Sakura dengan terheran-heran. "Ada apa?" gumam Sasuke.

"Jangan. Pokoknya jangan! Tunggu sampai seseorang yang membantuku!" teriak Sakura sambil menghindarkan tangan Sasuke dari tubuhnya.

Dan benar saja, seorang guru mulai muncul dan mengangkat tubuh Sakura menuju UKS.

Setelah itu, Sakura menatap tubuhnya yang terbaring di atas kasur putih itu. "Bersabarlah. Sebentar lagi, semuanya akan berakhir. Tubuhku, bertahanlah sebentar lagi."

Tiba-tiba Sasuke berada di depan pintu UKS. "Aku masuk, ya."

Sakura berlari secepat mungkin menuju pintu. "Jangan! Kumohon jangan! Jangan pernah masuk!" teriak Sakura.

"Apa-apaan kau? Apa sesuatu terjadi?" Tanya Sasuke heran.

"Maaf, tapi kau belum boleh membantuku untuk saat ini. Kumohon…" Sakura berbicara dari dalam ruangan UKS tanpa membiarkan Sasuke masuk.

Sasuke menggaruk kepalanya. "Begitu. Aku pergi dulu." Dengan ucapan singkat namun tersirat perasaan sedih itu, Sasuke segera meninggalkan Sakura.

Sakura menghela napas. "Mau bagaimana lagi…"

.

.

Saat ini sudah jam pulang sekolah. Dan Sakura sukses dapat kembali ke tubuhnya lagi, meskipun ia merasakan sakit pada kaki dan tubuhnya.

Karena sudah kesorean, Sakura bergegas pulan sebelum tidak ada seorang pun di sekolah ini. Begitu ia melangkah menuju gerbang sekolah, Ino tiba-tiba menghentikan langkahnya.

"Sakura!" panggil Ino.

Sakura berbalik menatap Ino. "Ada apa?"

Ino berjalan mendekati Sakura. Ia memamerkan senyum liciknya. "Tadinya kupikir Sasuke akan menolongmu sewaktu kau pingsan tadi."

Sakura tersenyum kepada Ino. "Apa yang kau maksud?"

"Kau tahu, sewaktu kau pingsan tadi, Sasuke adalah orang yang benar-benar sadar dan ingin menolongmu. Tapi Sasuke masih harus menjaga harga dirinya. Ah, kalau tidak salah, tadi ia juga sedang melihatku, kemudian ia menghentikan tindakannya sewaktu ingin membawamu ke UKS."

"Aku tidak tahu kalau Sasuke ada di sana." ucap Sakura.

"Yah, sayang sekali. Sasuke masih menjaga harga dirinya. Ia merasa malu kalau menolong gadis bermasalah sepertimu. Dan kau tahu, dia hanya diam sambil menunggu guru datang menolongmu."

"Bagiku tidak masalah. Asal waktu itu seseorang dapat menolongku, aku sudah sangat senang."

Ino menatap mata Sakura dengan tatapan menusuknya, kemudian ia melangkah meninggalkan Sakura.

Sakura menundukkan wajahnya. Kemudian ia tersenyum. "Maaf, karena aku melihatmu, aku tidak bisa bergantung pada Sasuke."

To Be Continued


Alhamdulillah selesai chapter ini. Maafkan atas segala kekurangannya. Terima kasih buat yang sudah baca dan sudah nyempetin review, fave atau follow fic aku ini. Berkat semua itulah aku ada niat ngelanjutin fic ini.

Hei, hei. Bagusannya fic ini memiliki berapa chapter? Kalau ada masukan, entar aku bisa nentuin ceritanya dan gak malas-malas nulis. Tapi kalau ada episode baru anime favoritku rilis aku gak jamin fic ini cepat lanjut wkwkwk

Sampai jumpa di chapter depan, ya. Insyallah kita ketemu lagi di chapter depan.

Salam,

Ilma Sarah Zena –Watampone, 17 Februari 2014 (dedicated pas ulang tahunnya temanku wkwkwk)