Naruto ( c ) Masashi Kishimoto

Saigo no Kimochi

( c ) Hitomi Sakurako

Chapter 5: Bond!


.

.

.

Sakura berjalan dengan gontai menuju rumahnya. Ia berusaha keras demi Ino. Meskipun Ino telah melakukan hal yang jahat kepada Sakura, tapi Sakura tidak akan membalasnya. Ia akan berusaha membuat Ino percaya padanya kembali. Siapa lagi yang sering menasihatinya seperti itu kalau bukan Sasuke?

Ah, Sasuke, ya. Sakura benar-benar bersalah kepada Sasuke karena telah menghindarinya. Tapi, ketika melewati sebuah taman kecil, Sakura melihat Sasuke yang duduk di salah satu ayunan di taman. Sakura terdiam dan terus menatap Sasuke sampai orang itu menyadari keberadaan Sakura.

Sasuke uring-uringan sendiri karena Sakura tiba-tiba menolaknya. Ia sempat berpikir, apa yang telah ia lakukan sampai-sampai membuat Sakura marah? Akhirnya, Sasuke pulang lebih awal dari Sakura. Tunggu, sejak kapan Sasuke jadi sangat perhatian sama Sakura? Sungguh, ini bukan sifat alaminya!

Sasuke yang mendapati Sakura tengah menatapnya, langsung beringsut dari duduknya di ayunan itu. "Sakura." Sasuke menggumamkan nama itu. Nama orang yang akhir-akhir ini selalu bersamanya.

Sakura tersenyum. Ia melangkah memasuki taman itu. Ia duduk di ayunan samping Sasuke. Menggerakkan ayunan itu perlahan dan menghela napas panjang. "Maaf karena memarahimu tadi."

Sasuke kembali duduk. Ia terus menatap Sakura. "Ada apa denganmu? Tiba-tiba kau menjadi aneh." kata Sasuke.

Sakura menggeleng pelan. Kemudian ia menatap Sasuke. "Sasuke, apa kau membenci Ino? Aku mengatakan ini bukan karena kecelakaanku, tapi karena Ino!"

Sasuke terdiam agak lama. ia menghela napas pelan dan membuka suara. "Aku tidak begitu membencinya. Hanya saja, dia itu selalu menggangguku. Kau pasti bisa merasakan yang sama kalau menjadi diriku. Kenapa?" jelas Sasuke.

Sakura mengangguk sambil tersenyum. "Kau tidak membencinya, ya. Syukurlah! Aku hanya ingin mendengarnya langsung. Kau tahu kalau aku dan Ino dulunya adalah sahabat yang baik, kan?" Sasuke mengangguk pelan.

"Aku ingin kau bersikap lebih baik kepada Ino." ucap Sakura.

"Kenapa aku harus melakukannya?" tanya Sasuke. Dari nada bicaranya, sepertinya Sasuke tidak suka ketika Sakura memerintahnya seperti itu.

"Aku hanya berpikir kalau Ino sangat senang bersamamu. Ino seperti menemukan kebahagiaannya ketika melihatmu." Sakura tertawa kecil.

Sasuke langsung berdiri dari duduknya. "Melihat temanmu senang dengan mengorbankan kebebasanku? Apa maksudmu, Sakura?" ucap Sasuke protes.

Sakura kaget, ia mulai panik. Merupakan kesalahannya karena mengatakan hal seenaknya seperti itu kepada Sasuke.

"Aku bersedia membantumu untuk beberapa hal, tapi untuk ini aku tidak membantumu!" ucap Sasuke sambil mengambil tasnya dan melangkah meninggalkan Sakura.

Sakura segera berdiri dari duduknya, sebelum Sasuke benar-benar pergi, Sakura segera menarik lengan seragam Sasuke. "Maaf! Aku tidak sengaja mengatakannya. Aku benar-benar di luar kendali." ucap Sakura menyesal.

Sasuke menggenggam tangan Sakura yang tadi menarik seragamnya. Sakura merasa wajahnya tiba-tiba memerah karena Sasuke memegang tangannya dan menatap wajahnya dalam waktu lama.

Sakura segera bersuara. "Ada ap–"

"Aku hanya ingin membantumu sedikit…" gumam Sasuke sambil menatap tangannya yang sedari tadi menggenggam tangan Sakura.

"S-Sasuke…" ucap Sakura masih dengan wajah yang memerah.

Kemudian, Sasuke mulai menyadari bahwa kelakukannya ini sangat memalukan, ia segera melepaskan paksa tangannya dari tangan Sakura. Ia mundur beberapa langkah. Sakura yang menyadari itu langsung tersentak kaget, ia juga mundur beberapa langkah.

"Ah, sepertinya aku harus menjenguk ayahku!" teriak Sakura yang baru mengingat keadaan ayahnya. Akhir-akhir ini ia tidak pernah melihat ayahnya.

"Ayahmu?" tanya Sasuke.

Sakura mengangguk. Ia memakai tasnya. "Benar! Ayahku dirawat di rumah sakit semalam sebelum kecelakaanku!" Sakura memperbaiki pakaiannya, kemudian melangkah meninggalkan Sasuke.

Sebelum Sakura benar-benar menghilang, Sasuke juga ikut berjalan di belakang Sakura. "Woi!" panggil Sasuke.

Sakura tersentak kemudian berbalik. "Kau mengikutiku?" tanya Sakura.

"Aku juga mau melihatnya." ucap Sasuke yang lebih terdengar seperti bisikan itu. Ia langsung membuang muka ke sembarang tempat.

Senyum Sakura mengembang, kemudian ia mengangguk. Sasuke yang tidak tahan dengan suasana canggung itu langsung berjalan lebih cepat.

"Hei, kau ini tidak tahu jalannya!" ucap Sakura.

Sasuke menghentikan langkahnya. "Kau pikir aku bodoh! Aku tahu di mana ayahmu berada. Ah, bukan. Aku hanya tahu rumah sakitnya."

Sakura tersenyum lagi kemudian menyajarkan langkahnya dengan Sasuke. "Hahaha, baiklah, baiklah! Aku kalah!" ucap Sakura sambil tertawa kecil.

Setibanya di rumah sakit, Sakura langsung menuju ke ruangan ayahnya. Di ruangan ayahnya, Sakura dapat melihat ibunya yang tertidur di sisi ayahnya. Sakura tersenyum di depan pintu ruangan.

"Kalau ibu tertidur tidak memakai selimut, kau pasti akan kedinginan…" ucap Sakura sambil mengambil selimut di lemari sudut kamar ayahnya. Ia memakaikannya kepada ibunya. Tiba-tiba ibunya terbangun karena gerakan Sakura. Sakura sedikit tersentak.

"Sakura?" ibunya mulai mengerjapkan matanya perlahan. Memperjelas bahwa yang di hadapannya adalah Sakura.

"Ini aku, ibu. Maaf membangunkanmu. Aku melihat ibu tertidur tanpa memakai selimut!" ucap Sakura sambil menggaruk belakang kepalanya.

Mebuki berdiri sambil memegang tangan Sakura. "Aku senang, kau mau datang." Sakura hanya mengangguk sambil tersenyum.

Tiba-tiba pandangan Mebuki jatuh pada seorang lelaki yang masih berdiri di dekat pintu. Ya, Sasuke. Mebuki menatap Sasuke agak lama. Sakura yang menyadari itu langsung menarik tangan Sasuke ke hadapan ibunya.

"Namanya Sasuke Uchiha. Dia teman sekolahku." ucap Sakura sambil menunjuk-nunjuk kearah Sasuke. Sedangkan Sasuke hanya membungkuk sedikit dan tersenyum.

Mebuki terdiam agak lama, kemudian ia tersenyum kearah Sasuke. "Kamu teman Sakura? Ini pertama kalinya dalam SMA dia mengajak teman cowoknya."

Sasuke hanya mengangguk sambil tersenyum. "Benarkah? Berarti aku orang yang beruntung!" ucap Sasuke sambil tertawa kecil. Sedangkan Sakura hanya tersenyum meskipun agak heran dengan ucapan Sasuke.

"Ah, iya. Ibu! Aku harus segera pulang! Ada banyak tugas sekolah yang harus kukerjakan." Sakura segera menarik-narik seragam Sasuke, memberi kode untuk segera pulang.

"Pulang? Kau tidak menunggu ayahmu bangun dulu?" tanya Mebuki khawatir.

"Benar juga, Sakura. Kau baru sebentar di sini dan sudah mau kembali?!" tanya Sasuke yang ikut-ikutan.

Sakura tersenyum sambil menatap ayahnya yang terbaring lemah. "Aku harus segera pulang. Aku akan mengunjungi ayah lain kali! Aku janji!" ucap Sakura sambil tersenyum kepada ayahnya.

Mebuki mengangguk. "Baiklah kalau itu maumu, jangan lupa untuk mengajak Sasuke lagi." Mebuki tersenyum sambil menatap Sasuke.

"Ibu! Sasuke juga punya banyak urusan. Aku tidak bisa mengajaknya terus-menerus. Hahahaha…" Sakura tertawa sambil menepuk-nepuk pundak Sasuke.

"Oh, begitu, ya?" Mebuki memasang ekspresi sedih. "Tidak apa-apa."

"Aku akan ikut!" ucap Sasuke tiba-tiba. Sakura dan Mebuki menoleh menatap Sasuke.

"Apa?" tanya Sakura.

"Aku akan ikut bersamamu, aku ingin berkenalan dengan ayahmu juga!" ucap Sasuke sambil menatap Sakura tajam.

Sakura terdiam agak lama. Kemudian tawanya pecah. Ia memukul-mukul pundak Sasuke. "Apa-apaan kau ini?! Jangan mengatakannya seperti kau sedang melamarku!" teriak Sakura. "Ekspresimu itu terlalu serius."

"A-apa?! Melamarmu?!" Sasuke sontak kaget. "Aku tidak melamarmu!" Sasuke membalikkan tubuhnya membelakangi Sakura dan Mebuki. Sedangkan Sakura dan Mebuki hanya tertawa sambil memegangi perut mereka.

"Ya, sudah! Aku pergi dulu, bu!" ucap Sakura sambil menggenggam tangan ibunya erat. Setelah cukup lama, kemudian ia melepaskan pegangannya itu. Ia melangkah keluar ruangan bersama Sasuke.

.

.

.

Sasuke berjalan lebih awal dari Sakura. Ia hanya terdiam tanpa menoleh kearah Sakura. Sedangkan Sakura hanya pasrah mengikuti Sasuke dari belakang. Mungkin orang itu kesal karena tadi Sakura mengejeknya.

Tiba-tiba langkah Sakura terhenti begitu melihat Sasori yang berdiri di sampingnya. Sakura sontak kaget karena Sasori yang mengejutkannya. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sasori.

Sasuke yang merasa ada yang janggal pada Sakura langsung berbalik begitu saja. Tiba-tiba pandangannya berpusat pada Sasori yang berada di samping Sakura. Sasuke langsung menyadari kalau ternyata makhluk merah yang ada di hadapannya ini adalah makhluk gaib.

"Sakura?" tanya Sasuke. Ia mencoba bersikap normal tanpa menyadari keberadaan Sasori.

Sakura tersenyum canggung kearah Sasuke. Ia sudah yakin Sasuke telah menyadari keberadaan Sasori. "S-Sasuke. Maaf, aku ada urusan. Aku mau pergi dulu. Kau boleh pulang duluan. Maaf!" ucap Sakura sambil menunduk.

Sasuke terdiam sebentar, kemudian ia menjawab. "Aku akan menunggumu. Kau hanya sebentar, kan?" tanya Sasuke.

"Eh?" Sakura spontan mengangguk. "Aku hanya sebentar!"

Sasuke langsung duduk di salah satu bangku panjang di rumah sakit. Mulai menunggu Sakura. Sedangkan Sakura langsung berlari menuju atap rumah sakit. Ia menemui Sasori di sana.

"Apa yang terjadi?" tanya Sakura.

Sasori menyerahkan sebuah amplop tebal kepada Sakura. Ia masih terdiam. Sakura mengambil amplop itu. Karena tidak mendengar ucapan apapun dari Sasori, ia langsung membukanya. Rupanya isinya adalah beberapa lembar kertas yang disatukan.

"Apa ini?" tanya Sakura.

"Mana aku tahu. Aku langsung diberi itu untuk diserahkan padamu!" ucap Sasori sambil melipat tangan di depan dada.

Sakura mengangguk. Ia mulai melihat halaman depan kertas itu. "Berusaha memperjuangkan seseorang?" Sakura menatap sosok makhluk yang sering ia panggil ghost rider itu. "Apa maksudnya?"

"Aku baru ingat, katanya amplop itu adalah daftar hal-hal kebaikan yang harus kau lakukan. Kau sudah tahu itu, kan? Sepertinya si Uchiha Sasuke itu benar. Yang harus kau lakukan adalah berbuat kebaikan sebanyak mungkin!" jelas Sasori yang akan segera meninggalkan Sakura, namun Sakura langsung menahannya.

"Apa maksudnya aku haris memperjuangkan seseorang? Aku tidak mengerti maksud pesan ini!" protes Sakura.

Sasori menghendikkan bahu. "Itu tugasmu. Kau harus menemukan dan melakukan apa yang terdapat dalam surat itu. Ada sekitar empat perintah di dalamnya."

"Jadi mau tidak mau, kau harus melaksanakan semuanya. Kapanpun kau tidak melaksanakannya sementara waktu yang ditentukan sudah lewat, maaf saja kau tidak memiliki kesempatan untuk hidup seperti biasa."

Sakura terkejut mendengar penuturan itu. Jadi, kalau dia tidak sempat melakukan perintah itu meskipun satu saja, maka ia sudah tidak memiliki kesempatan hidup? Sakura hanya mampu menatap dengan pandangan kosong.

"Baiklah, aku pergi dulu! Selamat berjuang, Sakura! Lagipula si Uchiha itu sudah menunggumu lama." ucap Saori sambil melangkah pergi.

Sakura berjalan dengan lesu menuju ke tempat Sasuke duduk. Ia hanya terus terdiam. Sasuke yang menyadari Sakura sudah berada di hadapannya langsung bangkit

"Ayo pulang!" ucap Sasuke dengan nada beratnya. Ia berjalan lebih dulu daripada Sakura.

Sakura hanya mengangguk sambil mengikuti Sasuke dari belakang. Ia masih menatap dengan tatapan kosong, tidak mengindahkan perkataan Sasuke.

Sakura dan Sasuke berada di sebuah trotoar jalan. Sakura hanya berjalan mengikuti Sasuke. Tunggu, Sasuke 'kan tidak tahu letak rumahnya. Ah, Sakura tidak peduli itu. Ia hanya berjalan mengikuti Sasuke.

.

.

.

Sakura tiba di rumahnya. Seperti biasa, rumahnya kosong karena ayah dan ibunya ada di rumah sakit. Ia mengunci pintu rumahnya dan segera berjalan dengan lesu menuju kamarnya. Mengganti pakaiannya. Kemudian ia mengambil amplop yang tadi diberikan Sasori. Membawanya ke tempat tidur dan berbaring.

Sakura kembali menatap amplop itu. Ia membukanya dan membaca halaman pertama. Ketika membuka halaman kedua, isinya kosong. Begitu pula dengan halaman selanjutnya.

"Apa maksudnya ini?" tanya Sakura heran. Sakura mencoba menarik kertas itu, merobek bagian yang kosong.

"Jangan melepasnya, bodoh!" teriak Sasori yang tiba-tiba muncul di dekat jendela Sakura. Sakura terkejut dan segera menatap Sasori. "Kenapa kau kemari?"

"Karena kau mau merobek kertas itu!" Sasori merebut paksa benda itu. Ia kemudian membacanya. "Oh, aku mengerti. Kau akan melihat perintah selanjutnya kalau kau sudah menyelesaikan perintah pertama."

"Apakah ada batasan waktu aku harus melakukannya?" tanya Sakura.

"Tentu saja. Tadi aku sudah mengatakannya! Lihat! Kau bisa melakukan perintah pertama sampai seminggu ke depan. Ingat, satu saja perintah yang tidak kau laksanakan, kau tidak akan bisa selamat!" ucap Sasori sambil menaruh kertas itu di depan Sakura.

Sakura hanya merengut kesal dan kembali membaca surat itu. "Tapi, berjuang demi seseorang itu maksudnya apa?" tanya Sakura.

Sasori hanya memutar kedua bola mata, bosan. "Kau buta apa bodoh? Sudah jelas ada keterangan petunjuk di bawah. Kau seharusnya membaca itu!"

Sakura segera melihat beberapa deret kalimat yang tertulis di bagian bawah lembaran itu. "Ini petunjuk…" Sakura tertegun, ia mulai bersyukur karena tidak terlalu sulit memecahkan masalahnya. "T-tapi bagaimana bisa ak–" Ketika ingin kembali bertanya, Sakura sudah tidak melihat sosok Sasori. Ia menghela napas kecewa dan kembali fokus ke lembaran itu.

"Berjuang demi seseorang yang dekat denganku? Mengembalikannya menjadi milikku." Sakura membaca petunjuk pada perintah pertama. Ia sama sekali tidak mengerti dan tidak mendapat solusi apapun. "Apa yang sebelumnya sudah menjadi milikku?"

Sakura terlalu sibuk memikirkan semua itu. Ia masih belum bisa mencerna semua apa yang diterimanya. Sampai Sakura terlelap karena kelelahan.

Keesokan harinya, Sakura kembali seperti biasanya. Ia tetap bersekolah dan melaksanakan kegiatannya seperti biasa. Di perjalanan menuju sekolah, Sakura tidak sengaja melihat Sasori yang bersandar di motornya tepat di dekat taman. Sakura segera menghampiri Sasori sambil tersenyum.

"Ghost rider!" teriak Sakura. Entah kenapa, Sakura lebih leluasa memanggil Sasori dengan ejekan 'Ghost Rider'. Lagipula itu 'kan memang cocok buat Sasori yang selalu ngebut-ngebutan.

Sasori menatap Sakura yang berjalan menghampirinya. "Kebetulan kau di sini. Ada yang ingin aku katakan padamu." ucap Sasori dengan tatapan serius.

Mendadak wajah Sakura ikutan serius. "Ada apa?"

Sasori memberikan sebuah kotak kecil kepada Sakura. Sakura menerimanya sambil memasang wajah heran kepada Sasori. "Apa ini?"

"Bukalah!" pinta Sasori. Sakura membuka kotak hitam itu. Bentuknya persis seperti ponsel tapi sedikit lebar, begitu Sakura menekan tombol tengah benda itu, layarnya langsung menyala dan terlihat sebuah lambang hati yang terisi sekitar 30%. Sakura kembali menatap Sasori heran.

"Apa ini?" tanya Sakura heran.

"Itu adalah kemampuanmu dalam berbuat baik untuk perintah pertama. Kemarin malam, aku tiba-tiba mendapat itu. Jadi aku memutuskan kalau itu seharusnya menjadi milikmu!" ucap Sasori.

Sakura masih heran dengan benda itu, kemudian ia kembali bertanya kepada Sasori. "Tapi, dari persentasenya, aku sudah mendapat 30%? Kebaikan apa yang sudah kulakukan?" tanya Sakura.

Sasori hanya menghendikkan bahu. "Entahlah! Sepertinya kau sudah pernah melakukan kebaikan kepada orang itu. Baiklah, aku pergi dulu!" Sasori berjalan menjauh dari Sakura.

Sakura menahan tangan Sasori. "Pasti kau tahu sesuatu. Siapa orang yang dimaksud dalam perintah pertama?" tanya Sakura.

Sasori melepas tangan Sakura yang sedari tadi memegangnya dengan erat. "Jangan bertanya padaku. Kau harus mencarinya sendiri!" ucap Sasori yang segera meninggalkan Sakura.

Sakura hanya mendengus pasrah dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju sekolah. Sesekali ia melirik benda yang tadi diberikan Sasori. "Apakah benar aku sudah berbuat baik ke seseorang?" batin Sakura.

Sakura telah tiba di sekolahnya. Sakura membuka loker sepatunya dan membuka sepatu sekolahnya.

"Sakura-chan!" sapa Hinata yang tiba-tiba berada di samping Sakura.

Sakura tersentak dan segera tersenyum kepada Hinata. "Hinata, lama tidak bertemu. Kau kemana saja?" tanya Sakura.

"Bukannya kau yang selalu pergi, Sakura-chan? Aku selalu ingin mengajakmu, tapi akhir-akhir ini aku melihatmu bersama Sasuke." ucap Hinata.

Sakura terkejut kemudian mengibaskan tangannya di depannya. "Ah, bukan! Aku kebetulan baru mengenalnya. Sejujurnya kami tidak akrab!" ucap Sakura sambil tersenyum canggung. Hinata hanya mengangguk, kemudian ia melangkah pergi lebih dulu meninggalkan Sakura.

Ketika mengganti sepatunya, Sakura melihat Ino yang berada di sana juga bersama teman-temannya yang lain (yang mungkin saja adalah sekumpulan fans Sasuke juga). Tiba-tiba pandangan mereka bertemu. Tapi Ino langsung membuang muka, menghindari Sakura.

Sakura segera menutup pintu lokernya dan berlari menuju Ino. Sakura menahan tangan Ino yang kini sudah berada di hadapannya. Ino yang merasa terusik langsung mendelik kearah Sakura. "Ada apa?" tanya Ino.

Sakura meneguk air liurnya dengan susah payah. "Aku ingin bicara denganmu!" ucap Sakura.

Ino hanya terdiam. Di sampingnya, teman-temannya sudah menunggunya. Mereka menatap Sakura dengan tatapan intimidasi. "Ada apa?" tanya Ino ketus.

"Pokoknya ada hal penting yang ingin kukatakan padamu. Kita bertemu di atap saat istirahat. Kau bisa?" tanya Sakura. Ino mengangguk kecil, kemudian menghentakkan tangan Sakura. Meninggalkan Sakura bersama teman-temannya.

Ketika Ino dan teman-temannya pergi, Sakura tidak sengaja mendengar beberapa bisikan dari orang-orang itu. Seperti, "Itu bukankah Sakura sahabatmu?" atau "Dia itu punya masalah denganmu, kan?" Sakura hanya menghela napas mendengar itu.

Menuju kelasnya, Sakura melihat Sasuke yang juga berjalan berlawanan arahnya. Sasuke sibuk menatap keluar koridor dan selalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Sepertinya Sasuke tidak menyadari Sakura yang juga berjalan di sana.

"Sasuke!" panggil Sakura.

Namun Sasuke yang tidak menyadarinya karena ia tiba-tiba dihampiri teman-teman kelasnya. Sakura hendak menghampiri Sasuke namun ia menyadari sepertinya Sasuke sibuk. Akhirnya Sakura hanya berjalan melewati Sasuke yang dikerubungi teman kelasnya.

"Sepertinya kau sangat hebat, Sasuke!" ucap Sakura sambil terkikik pelan.

Sasuke menoleh ke samping dan depannya. "Sepertinya tadi aku mendnegar suara Sakura!" gumam Sasuke.

"Hei, Sasuke! Kau sudah kerja yang ini? Aku lelah menonton semalaman, aku mau liat bukumu, ya!" ucap Naruto yang mengacaukan pikiran Sasuke.

Sasuke memusatkan perhatiannya pada Naruto. Beberapa detik kemudian ia tertawa kecil. Naruto yang merasa aneh dengan sikap Sasuke hanya memasang wajah heran. "Kau kenapa?"

Sasuke langsung terdiam dan kembali memasang wajah serius. "Tidak ada. Kenapa tadi?" tanya Sasuke yang kembali serius. Naruto hanya memasang wajah heran dan segera kembali ke masalah utamanya.

Sedangkan Sasuke hanya menggeleng pelan. Dalam hati ia bersyukur tidak menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang Uchiha, tertawa seperti itu di depan Naruto. Namun dalam sisi hatinya lagi, ia masih tertawa geli mengingat Sakura. Entahlah dia mulai bersikap aneh sejak bertemu dengan Sakura. Ia mengingat bagaimana kejadian kemarin ketika ia menggenggam tangan Sakura dan berkata akan membantunya. Jujur saja hal itu membuatnya sedikit malu. Pasalnya, ini pertama kalinya Sasuke menatap dan berkata selembut itu pada seseorang selain orangtuanya.

.

.

.

Di waktu istirahat, Sakura segera berjalan menuju atap sekolah, karena ia sudah berjanji akan ke atap sekolah menemui Ino, itu pun kalau Ino benar-benar mau menemui Sakura.

Sakura memasukkan kedua tangannya ke dalam saku blazernya. Ia sedikit berdoa semoga Ino akan menemuinya. Tiba-tiba––

Bruk! Sakura terhuyung ke belakang. Ia baru saja menabrak –sepertinya bahu seseorang yang lebih tinggi dari pada Sakura. "Sakit…" Sakura meringis sambil menahan sakit tubuhnya.

"Kau itu ditakdirkan tidak melihat jalan, ya?" ucap orang di hadapannya. Sakura memantapkan penglihatannya. Sepertinya orang yang sudah ditabraknya ini akan marah.

"S-Sasuke?" tanya Sakura sambil menatap orang yang ditabraknya, Sasuke.

"Kau ini punya mata, kan?" tanya Sasuke dengan nada kesal.

Sakura mengerucutkan bibirnya. Ia kesal, kenapa Sasuke langsung memarahinya padahal itu bukanlah sepenuhnya salahnya. "Kenapa kau marah seperti itu? Aku tidak sengaja!" ucap Sakura.

"Baiklah, baiklah! Dasar kau bodoh!" ucap Sasuke sambil tertawa kecil. Sakura yang melihat Sasuke juga ikutan tertawa. "Iya, aku bodoh!" ucap Sakura di sela-sela tertawanya.

Tiba-tiba Sakura merasakan sebuah tangan yang menyentuh puncak kepalanya. Terasa seperti dielus sebuah tangan. Sakura tersentak dan langsung menghentikan tawanya. Ia menatap Sasuke heran.

Sasuke kemudian kembali memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. "Kau mau kemana?" tanya Sasuke.

Sakura menggelengkan kepalanya cepat, kemudian ia fokus ke Sasuke. "A-ah! Aku tadi mau ke atap!" ucap Sakura.

"Apa yang mau kau lakukan di sana?" tanya Sasuke lagi.

Sakura mengibaskan tangannya, tidak seharusnya dia membagi masalahnya kepada Sasuke lagi. Cukup Sasuke tahu masalah Sakura yang berada di ambang kematian itu. "Tidak apa-apa. Hanya ingin menemui seseorang!" ucap Sakura.

Sasuke terdiam. Sepertinya ia kurang puas dengan jawaban Sakura. Saat akan bertanya lagi, Sakura segera pamit. "Aku pergi dulu, Sasuke!" ucap Sakura sambil melangkah pergi. Sasuke hanya menatap punggung Sakura yang menjauh dengan wajah heran.

Brak! Sakura membuka pintu atap. Ia segera berlari mencari Ino. Ia menatap sekelilingnya, sama sekali tidak menemukan keberadaan Ino. Sakura menghela napas. "Mungkin dia tidak mau menemuiku."

"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Ino yang tiba-tiba muncul dari luar. Sakura tersenyum sumringah. Ia bersyukur. Rupanya Ino mengikuti permintaannya.

"Apa kabar?" tanya Sakura basa-basi.

Ino mendelik menatap Sakura. "Sakura, aku banyak urusan! Kalau kau menyuruhku ke sini cuma untuk menanyakan kabarku, berarti aku sangat menyesal datang untukmu!" ucap Ino ketus.

Sakura menundukkan kepala sambil menggaruk belakang kepalanya. Sakura terdiam, kemudian ia menatap pemandangan di kota. "Sepertinya kau benar-benar membenciku. Hei, apa yang membuatmu seperti ini?" tanya Sakura tanpa menoleh kearah Ino.

Tampak Ino menghembuskan napas panjang. "Kau selalu mengambil apa yang kumiliki!" ucap Ino, nada bicaranya datar namun menusuk.

Sakura menatap Ino tidak percaya. Apa maksudnya itu. "Apa yang kau katakan? Aku tidak pernah–"

"Guru sewaktu SMP, perhatian orang tuaku, teman-temanku. Kau selalu mengambil mereka. Kau bisa menarik perhatian mereka begitu saja!" teriak Ino yang memutuskan pembicaraan Sakura.

Sakura menatap Ino dengan tatapan sulit dipercaya. "Apa yang kulakukan seperti itu?! Aku sama sekali tidak mengambil mereka tapi kau yang tidak berusaha mempertahankan mereka!" teriak Sakura.

"Sekarang kau mendekati Sasuke. Kau mengambil semuanya!" teriak Ino sambil menarik bahu Sakura, mengguncangnya. Mata Ino mulai mengeluarkan air mata. Sedangkan Sakura, ia sudah sedari tadi menangis.

"Apa maksudmu? Seandainya bukan kau yang membuat masalah denganku, aku tidak akan mengenal Sasuke…" ucap Sakura lirih, ia mengusap air matanya.

"Hei, Ino. Aku tidak pernah menganggapmu sebagai musuhku. Aku pikir selama ini kau hanya salah paham. Apa kau bisa mengerti?" tanya Sakura.

"Salah paham? Kalau begitu, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Ino balik.

"Kembalilah menjadi temanku! Aku tidak ingin membuat masalah dengan siapapun lagi. Aku memang mengganggumu, tapi katakan apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu menyadari bahwa kau hanya salah paham?" ucap Sakura.

"Aku tidak butuh menyadarinya. Cukup menjauh dari Sasuke. Aku ingin bisa mendekatinya. Kau menghalangi segalanya!" teriak Ino lagi. "Kau akan melakukan apa saja, kan?! Kalau begitu menjauh darinya!"

Sakura terkejut. Ia terdiam beberapa saat. Memikirkan bagaimana ia harus menjauhi Sasuke. Sasuke adalah orang yang selama ini membantunya, menyemangatinya dan selalu menemaninya. Apakah Sakura harus melepaskan semua bantuan itu begitu saja demi Ino? Sakura tesenyum, ia mendapatkan jawabannya.

"Baiklah. Sasuke bukanlah satu-satunya. Lagipula aku bertemu dengan Sasuke karena masalah juga. Aku akan bicara dengannya. Aku akan memintanya menjauhiku!" ucap Sakura.

Sakura akan mengatasi itu sendirian. Meskipun rohnya keluar dari tubuhnya secara mendadak lagi, ia tidak bisa meminta bantuan dari Sasuke. Ia harus belajar menghadapi itu sendirian.

"Dekatilah Sasuke jika itu membuatmu kembali bersamaku dan Hinata, Ino!" ucap Sakura. Kemudian ia menundukkan kepala, ia menangis lagi. "Terima kasih sudah datang!" ucap Sakura yang segera pergi dari atap.

Sedangkan Ino hanya tertegun melihat Sakura. Ia masih kesal karena Sakura, namun sudut hatinya sangat mengagumi Sakura yang bisa melepaskan seseorang demi orang yang lebih penting, dan orang itu adalah Ino. "Kau bisa melepasnya semudah itu" gumam Ino, kemudian air matanya kembali menetes.

.

.

.

Sakura segera mengusap air matanya. Ia berjalan sambil menunduk demi menyembunyikan wajah sembabnya. Sakura menghela napas. Ia memutuskan untuk bolos jam terakhir, ia harus menenangkan diri.

Sakura lebih memilih duduk di halaman belakang. Tidak mungkin ia harus kembali ke atap. Bagaimana kalau di sana masih ada Ino? Huh, Sakura segera menggelengkan kepala. Sialnya, daerah sekitar halaman belakang masih agak ramai. Tidak jarang ada siswa yang sekedar makan siang di sini, tempat ini adalah tempat kedua ternyaman setelah atap.

"Hei, Sasuke!" panggil seorang siswa.

Sakura yang menyadari bahwa masih ada seseorang di sana, langsung saja bersembunyi di balik dinding. Ia takut orang-orang itu melihatnya yang berwajah aneh itu. Apalagi, Sakura tidak sengaja mendengar mereka menyebut nama Sasuke.

"Ada apa?" tanya Sasuke dingin.

'Gawat! Ternyata itu benar Sasuke!' batin Sakura berteriak.

"Akhir-akhir ini aku lihat kau bersama si Haruno! Bukannya kau memiliki Yamanaka?" tanya seorang siswa lagi.

"Aku tidak ada hubungan apapun dengan Yamanaka, Shikamaru!" ucap Sasuke sambil tertawa kecil.

'Apa yang mereka bicarakan?!' batin Sakura kembali berteriak.

"Lalu si Haruno?" tanya Chouji.

"Dasar Sasuke! Aku melihatmu tertawa dengannya saat istirahat!" celetuk seorang lagi yang diketahui adalah Lee.

"Sial! Dia juga mengelus kepala Haruno dengan lembut! Rupanya Sasuke ini sudah berani!" teriak Kankurou lagi dengan nada semangat.

Kemudian mereka saling berpandangan, dan mereka menatap Sasuke. "Apa kalian pacaran?!"

Ugh! Wajah Sakura memerah. Bagaimana bisa orang-orang ini berpikir sejauh itu. Lucu sekali!

"Tidak! Aku hanya merasa bersalah kepadanya!" ucap Sasuke tiba-tiba yang langsung menghancurkan pikiran teman-temannya itu.

"Hah? Bersalah? Apa yang telah kau lakukan?" tanya Shikamaru.

"Kalian tahu berita Sakura yang kecelakaan karena Ino?" teman-temannya langsung mengangguk. "Aku rasa aku terlibat di dalamnya." Seketika teman-teman Sasuke mengangguk dengan tampang kecewa.

"Jadi kedekatanku dengannya itu bukanlah untuk alasan khusus, aku rasa begitu!" ucap Sasuke.

Sakura jatuh terduduk. Ia menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya, menahan tangisnya. Mendengarnya langsung meluncur dari mulut Sasuke. Membuat Sakura hanya terdiam. Entah kenapa, ia merasa sakit ketika tahu perhatian yang Sasuke berikan itu cuma sebatas rasa bersalah. Sebenarnya Sakura tidak mengharapkan apa-apa, hanya saja hal itu sedikit membuatnya sakit hati. Ia pikir Sasuke menjalin hubungan pertemanan dengannya karena rasa tulus, rupanya itu semua salah.

"Jadi begitu, aku langsung mendapat jawabannya, aku jadi tidak perlu memintamu menjauhiku." gumam Sakura sambil tersenyum.

.

.

.

TBC

G A J E

Gaje banget chapter yang satu ini! Sasuke-nya ooc banget sumpah /garuk tanah/ Baiklah, ini adalah ch terbaru SnK . Aku jamin pasti sudah tidak ada yang ingat sama fic ini huahauhuahau terima kasih sudah membaca ch ini, berikan masukan atau apapun melalui kotak review /o/

midnighthito – 02 Maret 2015