Side Story! Side Story! Lololo!
Note : ini banyak yang minta sekuelnya tapi maaf ini bukan sekuel :p
Ratednya pun juga Cuma K, mungkin? Hahaha. Saya tidak bias kalau suruh buat sekuel tapi kalau buat cerita lainnya bias hehe, semoga suka saja. Nanti saya kasih bonus juga, tenang saja.
Becareful, typo in everywhere, hihi.
.
.
.
.
.
Happy Reading ^0^
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sampai kapan kita harus berlari?"
"Sampai kan salamku untuk mereka yang ada dibelakang"
"Idiot!"
Sehun dan Jongin terus berlarian mengelilingi jalan-jalan sempit diantara pertokoan yang sangat padat. Dalam pelarian itu, dengan seenak jidatnya yang lebar, Jongin melepas jas hitamnya berikut milik Sehun yang ia lepas paksa.
"Kenapa dilepas?"
"Untuk ini, sayang" Jongin sedikit melompat dan melemparkan jas itu kearah bodyguard dibelakang mereka.
Sehun tertawa keras becampur was-was melihat Jongin yang melemparkan Jas miliknya dan tepat mengenai orang terdepan para bodyguard tersebut. Dan itu berhasil untuk sekedar menghambat langkah mereka walau sesaat.
Setidaknya mereka bisa memberi jarak lagi dalam langkah-langkah tersebut. Sebelum Sehun melotot kearah Jongin yang dengan santainya sambil berlari kencang melepas seluruh kancing kemeja merahnya.
"Idiot! Apa yang kau lakukan, bodoh!?" Sehun mengumpat geli. Tapi nada bicaranya sama sekali tak mengandung unsur sedemikian rupa malah terkesan memprovokasi Jongin untuk melanjutkannya.
"Tentu saja untuk dijadikan senjata, Babe" jawab Jongin setelah berhasil melepas kemejanya dari tubuhnya serta menampilkan tubuh seksi dengan otot yang tercetak sempurna dimana-mana.
Sehun yang melihat itupun tak kuasa menahan mulutnya untuk tak bersiul. Jangankan Sehun, mereka berdua sepertinya lupa kalau mereka sedang berlarian dijalanan yang padat akan manusia berbagai jenis gender.
Aksi konyol Jongin pun tak luput dari perhatian pengguna jalan lainnya. Mereka menatap terkejut, antara bingung, ingin tertawa, dan mengumpat gila pada Jongin yang hanya memakai celana kain warna hitam sebatas mata kaki lengkap dengan sepatu hitam mengkilatnya tanpa kaos kaki yang membalut telapak kakinya. Oh jangan lupakan kalau saat ini dia juga sedang topless.
Sehun membuka mulutnya lebar-lebar untuk menertawai otak jenius tapi gila milik Jongin. Apalagi saat dimana Jongin kali ini memutar-mutar kemejanya diatas udara kemudian melemparnya kearah bodyguard yang masih setia mengejar mereka.
PUKK
JDAKK
BRUK BRUK BRUK
"Berhasil!" seru Jongin melompat tinggi melakukan celebration dengan meninju udara. Sedangkan Sehun semakin dibuat tertawa kencang karenanya.
Bagaiman tidak. Disaat kemeja Jongin tepat mendarat lebar dikedua wajah bodyguard paling depan, mereka tidak mengetahui jika ada tiga orang yang melewati perempatan kecil didepan mereka sambil mendorong gerobak. Dan hasilnya, jangan salahkan gerobaknya yang kini terguling tak berdaya berikut pendorongnya atau para bodyguard yang terjungkal mengenaskan. Salahkan saja kemeja Jongin yang dengan seenaknya mendarat lebar di kedua wajah bodyguard itu.
Sehun dan Jongin berteriak heboh sepeti orang gila dan sesekali berhigh-five ria. Kalau seperti ini caranya mungkin keduanya memang harus benar-benar mendatangi psikiater setelah ini.
Jongin dan Sehun tetap berlari walau sudah tidak sekencang tadi. Hanya berjaga-jaga kalau saja para bodyguard itu kembali mengejar mereka.
"Jongin, boleh kulepas juga kemeja ku?" Ucap Sehun sembari mengibas-kibaskan kemeja biru tuanya. Nafasnya terlihat berantakan dengan keringat mengucur deras dipelipisnya.
"Kau kepanasan?" Jongin balas bertanya sambil celingukan tidak jelas.
"Iya, panas Jongin~" jawab Sehun tidak betah.
"Tapi kita belum menemukan kamar yang bagus Sehun-ah" ujar Jongin santai sedangkan Sehun langsung tersandung kakinya sendiri saat itu juga.
"Dasar mesum! Hitam arang mesum!"
Sehun yang sempat berhenti karena tersandung kakinya sendiri segera mengejar Jongin didepannya dan melayangkan pukulan-pukulan yang cukup berarti di kepala dan tubuh bagian atas Jongin.
"Aish! Stop sehun, stop!" teriak Jongin berusaha menghalau serangan Sehun yang datang secara bertubi-tubi.
"Kalau begini caranya tidak hanya lari dari bodyguard, tapi aku juga harus melewatkan malam pertamaku dengan babak belur" keluh Jongin setelah serangan yang Sehun lancarkan berhenti.
"Biar saja, sini kuhajar lagi" ancam Sehun mengepalkan tangannya berusaha menjitak kepala Jongin.
"Ya! Kau tidak lihat aku sudah seperti orang gila begini!?"
"Hahaha! Rasakan!"
-oo0oo-
Other side
Kim Family
.
.
.
.
.
.
.
Masih disebuah gereja indah berhalaman luas dan juga menenangkan. Tapi sayangnya tidak berlaku untuk situasi yang terjadi didalamnya saat ini. Park Yura menatap kesal sekaligus gemas Kim Joonmyun, suaminya.
"Dasar orang tua tak bertanggung jawab!" Teriak Park Yura tepat dihadapan Joonmyun. Oh, dan barusan adalah sebuah tas yang melayang indah kekepala Joonmyun tapi dengan kampretnya ia sedikit menundukkan kepalanya hingga tas tersebut hanya mengenai udara disana.
Joonmyun kembali menegakkan kepalanya sembari menatap malas sosok Park Yura. " Apa maksudmu sayang, aku adalah orang tua yang paling bertanggung jawab di dunia ini-"
'Pergi saja kau ke neraka' batin Yura sweatdrop
"Aku bahkan berhasil menikahkan putraku sendiri, hohoho"
"Tapi mereka sejenis, Joon mamen!"
"Kau tenang saja, aku pastur lulusan Jerman"
"Bodoh, Dasar pastur lulusan Rumah Sakit Jiwa, pastur palsu, gadungan! Cepat lepaskan jubahmu itu! Apa-apaan kau, ha!?" balas Yura emosi. Panasnya bahkan sudah mencapai ubun-ubun. Mungkin kalau Sakura Haruno kepalanya sudah berasap.
"Hei, jaga bicaramu itu sayang, kau tau kan cita-citaku dari dulu adalah menjadi seorang pastur, jangan sampai aku memohonkan ampun untukmu karena ini" oke, Joonmyun benar-benar berusaha menghancurkan kesabaran Yura dengan berkata tanpa memandang lawan bicaranya dan sibuk membolak balik kitabnya.
"Grrrrr! Kita tidak sedang membahas cita-citamu bodoh! Aku hanya ingin anakku kembali!"
"Kalau begitu kau telfon saja dia, suruh dia pulang, gampangkan!?" jawab Joonmyun dengan ekspresi whatever nya.
"Astaga! Kau bodoh ya!?"
"O-oh, satu lagi, mungkin kalau kau berhasil membujuk Jongin ku tercinta pulang, kau akan mendapatkan hadiah tambahan, yes!" ucap Joonmyun sembari menarik sikunya kebawah. Yura pun semakin dibuatnya drop melihat tingkah absurd orang didepannya yang mengaku-aku sebagai seorang pastur. Sialnya orang tersebut adalah suaminya sendiri.
"Kau bilang apa?"
"Oh Sehun" ucap Joonmyun sambil manerawang jauh diujung atap gereja –Zrrrrrrrttttt- "Maksudku adalah Kim Sehun, menantu kita, lololololo!"
NGEKKK
"Grrr! Dasar pastur gila! Aaarrrght!" Yura menjambak rambutnya frustasi dan beranjak dari sana
"Hei Yura kau masih dalam gereja jangan berteriak!"
"Masa bodoh!"
"Jangan lupa nanti malam ya!"
Wushhh Ctakkk
Dan high heels setinggi 20cm itu berhasil mendarat di kening berkharisma milik Joonmyun membuatnya tepar seketika. Yura mengacungkan jari tengahnya kearah Joonmyun dan berlalu setelah melemparkan sebelahnya lagi kekepala Joonmyun. Melewati tiga orang yang tengah duduk berhadapan di kursi gereja.
"Aku harus berendam air PANAS setelah ini" gerutunya.
Tutttttttt-
"Berhenti mengejar mereka!" sekejap Yura mengangkat panggilan itu dan sekejap itu pula ia melemparkan ponselnya
.
.
.
.
.
.
Oh Family Side
Yifan duduk berhadapan dengan orang tuanya didalam kursi yang berjejer rapi didalam gereja. Dua lawan satu. Dan kedua pria dewasa disana benar-benar pasangan Ayah dan anak kandung. Lihat saja bagaimana dua pria tersebut saling menatap tajam tanpa kata. Membuat satu-satunya wanita disana –Oh Hayoung- ingin kabur saja rasanya.
"Kapan kau pulang, anak Bodoh!?" Tanya Jihoo dengan nada rendahnya
"Seminggu yang lalu Papa~" jawab Yifan main-main
"Great. Setelah melarikan diri dari pernikahanmu berani-beraninya kau kembali kesini?"
"Memangnya siapa yang mau dinikahkan dengan orang asing sepertinya. Hei, aku menurun papa tahu" ejek Yifan tak tahu takut.
Benar juga. Kalau dipikir-pikir apa yang diucapakn Yifan memang benar, dulu ia sendiri melakukan hal yang sama bersama Hayoung. Tapi bedanya Sehun lari setelah menikah. Tidak sepertinya yang memilih jalan ekstrem dengan kawin lari. Lalu jangan tanyakan perbedaannya dimana, karena author pun juga tak tahu.
Jihoo memijit pangkal hidungnya sedangkan Hayoung hanya meringis malu.
"Baiklah, besok kau ambil semua barangmu"
"Hm?"
"Kembali kerumah Yifan~!" ucap Jihoo setengan menahan sesuatu.
"Papa kalah ya~?" goda Yifan
"Apa maksudmu!?" Jihoo mendelik tajam dan Hayoung yang terkikik geli.
"Ayolah pa, mengaku saja~" Yifan memberikan kedipan tampannya pada sang Ayah sembari menaik turunkan alisnya.
"Tidak, siapa bilang!?" ucap Jihoo gelagapan
"Itu, muka papa yang bilang" Yifan semakin gencar menggoda Ayahnya yang wajahnya telah memerah itu.
"Iya-iya, pergi sana"
"Huuu~! Jadi, Sehun juga direstui?"
"Terserah!"
"Yes! Uncle kita berhasil! –lho!?" Yifan melongo melihat kearah altar dimana Joonmyun yang terlentang mengenaskan dilantai altar dengan bersimbah darah di kening dan kepalanya.
.
.
.
.
.
.
"Jongin capek!" Sehun kewalahan. Ia berhenti di pinggir jalan dekat taman sembari memegangi pinggangnya
"Kita istirahat disana saja, ayo!"
Jongin menarik tangan Sehun memasuki kawasan taman kota yang lumayan luas. Mereka mencari tempat sesepi mungkin dan nyaman untuk mereka singgahi. Tentu saja untuk menghindari tatapan aneh para pengunjung lainnya jika melihat penampilan mereka yang seperti itu. Ayolah, Jongin masih sangat waras untuk dikatai gila. Dengan rambut yang mencuat sana-sini hanya bermodalkan celana sebatas mata kaki tanpa atasan, Jongin tidak mau seseorang memanggil keamanan.
Sehun menyelonjorkan kakinya dibawah bawah pohon besar berdaun rindang. Tangannya mengibas-kibaskan kemeja bagian dadanya untuk menggantikan karbondioksida disana dengan oksigen. Mulutnya terbuka ikut menghirup udara sebanyak-banyaknya. Tubuhnya yang kurus dan jarang sekali berolah raga membuatnya mudah kelelahan.
"Jongin, haus?" keluh Sehun
"Sebentar" Jongin merogoh kantong celana mencari sisa uang yang mungkin saja masih tertinggal.
"Ha, kau tunggu disini dulu, aku akan membeli air mineral" ucap Jongin setelah mendapatkan uangnya
"Bubble tea?"
"Uangnya tidak cukup Sehun, dompetku tertinggal di mobil dan itu jauh sekali"
"Baiklah" balas Sehun lesu
Jongin segera pergi dari sana untuk membeli minuman. Beberapa menit kemudian Jongin kembali dengan dua botol berukuran sedang air mineral. Sehun menyambut suguhan air mineral itu dan terburu-buru membukanya. Jongin tertawa kecil melihatnya.
Keduanya terdiam tenang dibawah pohon tersebut sembari mengamati keadaan disana.
"Jongin, tempatnya tenang sekali, ya?"
"Kita akan kesini lagi kalau kau mau"
"Kenapa kita tidak membuat rumah diatas pohon ini saja?"
"Mereka akan mendukung rencanamu itu juka hanya aku yang menempatinya" tunjuk Jongin pada segerombolan anak kecil yang bermain disana. Ingat bagaimana penampilan Jongin kan? Oke.
Sehun mengerucutkan bibirnya dan disambut oleh kilatan bibir Jongin membuat Sehun terkekeh.
Beberapa saat kemudian terlihat beberapa pasangan anak muda yang berjalan dengan sedikit terburu-buru. Bahkan ada yang berlarian. Jongin dan Sehun saling berpandangan bingung. Dan kebingungan mereka terjawab setelah mata mereka menangkap beberapa sosok berpakaian ala instansi pemerintah sembari membawa tongkat. Mungkin kalau bahasa kerennya sich Satpol PP.
Jongin dan Sehun membelalakkan mata mereka. Dengan cepat Jongin menarik pergelangan tangan Sehun agar segera menyingkir dari sana. Sayang, dua orang petugas berhasil menghadang sesaat sebelum mereka berhasil melangkahkan kaki.
"Apa yang kalian lakukan disini anak muda?" Tanya seorang yang bernametag Kim Woobin
"Apa kalian pasangan- ha? Kalian?" satu lagi dari mereka yang sepertinya sangat terobsesi mengikuti gaya-gaya di drama televise, Lee Jongsuk.
"Bu-bukan! Kami baru saja menikah" jawab Jongin sembari menunjukkan cincin dijari manisnya berikut milik Sehun.
"Hm Hm, lalu dimana pakaian mu!?" Tanya Woobin lagi. Kali ini wajahnya menyiratkan penuh kecurigaan.
"Aku membuangnya" jawab Jongin melirik Sehun
"Kalian-"
"Kabur Sehun!"
Jongin menggenggam pergelangan tangan Sehun dan berlari kencang didikuti dua petugas dibelakangnya.
"Hah, Jongin, sampai kapan kita berhenti berlari?"
"Sabar ya, saying, kita kembali ke gereja, ayo!"
"Hiyahhhhh! Sialan!" teriak Sehun dan berlari semakin kencang mendahului Jongin. Sedangkan Jongin dibelakangnya tertawa kencang diikuti oleh suara-suara teriakan dua petugas dibelakang sana.
"Sudah-sudah, biarkan saja mereka" ucap Jongsuk menghentikan Woobin
"Kenapa berhenti?"
"Biarkan saja mereka, ayo kembali, aku meninggalkan kopiku di kafe tadi"
"sialan kau"
"Ayo"
Woobin dan Jongsuk pun memutuskan kembali menghiraukan Jongin dan Sehun. Mereka sebenarnya muak untuk hal seperti ini. Apa-apaan coba pemimpin mereka menyuruh menjaring pasangan kekasih ditaman? Kurang kerjaan. Lebih baik menikmati kopi di kafe sambil menggoda pelayannya, hahaha.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Mereka melepaskan kita!?" ucap Sehun tak percaya. "Lalu kenapa kita tadi lari!?" kali ini Sehun menjambak rambutnya.
"Hahaha, it's okay babe, enjoy it!"
"Kakiku rasanya mau patah dank au menyuruhku untuk menikmatinya?" Sehun murka dan Jongin berlari menjauh. " Habis kau Kim Jongin!"
"Huwa! Ampuun! Hahaha!"
"Sialan kau!"
Keduanya pun akhirnya malah kejar-kejaran dijalanan seperti orang gila yang baru menetas dari Rumah sakit jiwa.
"Sehun, ayo kita pergi ke Psikiater!"
"Kau yang akan kukirim ke Rumah Sakit Jiwa!"
"Hahahaha!"
.
.
.
.
.
.
.
.
END.
.
.
.
Hahahah ini hanya selingan sebenarnya, soalnya kalau disuruh buat sekuel saya nggak bisa. Dari pada nulis tapi feelnya nggak ada mending buat yang lainnya dengan rated yang sama, hohohoho#miris
Terimakasih banyak yang udah review semoga epepnya tidak terlalu mengecewakan. Ingat , ini hanya side story lho, bukan sekuel. Oke?
See you next story! ^-~
Jeongmal Gamsahamnida!
#Bow
