Makasih buat GaramMerica, Nemui-Neko-chan yang udah kasih sambutan dan perbaikannya, alyazala, Dinah, popcaga dan semua reader yang bersedia baca cerita ga jelas saya.. hehe
Disclaimer : Gundam Seed/Destiny Sunrise
Saya Cuma punya alur dan ceritanya aja. Dan jujur, saya dapat ide kayak begini karena baca sebuah buku sejarah dan sedikit comot dari beberapa fic keren di fandom ini /plakk/ tapi beneran kok. Kalimat-kalimat yang aku bikin ini atas ide saya
Warning : membosankan, gajelas, AU dan banyak lagi
Chapter 2
Suasana lantai dansa masih saja dipenuhi oleh para wanita dengan wajah pucat bertabur polesan merah, melemparkan senyum menjijikan kepada para pria yang menari bertautan tangan dihadapannya. Bersama-sama mengelilingi ruangan berkilau yang tidak pernah berubah, percikan cahaya dari lampu kristal pada langit-langit ruangan. Gaun-gaun berenda cerah berputar membentuk mawar dimalam musim gugur. Begitu indah juga berbahaya diwaktu yang bersamaan. Gesekan senar biola dan dentingan piano mengiringi langkah-langkah para bangsawan rakus dibawah sana, memamerkan segala keindahan palsu yang mampu menarik perhatian lawan jenis tolol yang menatap mereka.
Kira Yamato. Bersandar tenang dihadapan dinding yang acuh, menatap kerumunan manusia penuh dusta yang menghabiskan waktu untuk berpesta hingga fajar. Wajah-wajah itu menampakan kenikmatan pesta namun tidak dengan segala isi kepala mereka. Dan ia sangat mengetahui apa yang ada didalam kepala para pengumbar dusta itu. Kekuasaan. Jangan menanyakan alasan mengapa karena ia sudah begitu lama menyaksikan bagaimana para manusia itu berulah. Dan jangan pernah anggap ia sebagai laki-laki bodoh, diam tanpa melakukan apapun. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu. Terlalu cepat jika diceritakan, jadi sebaiknya tunggulah waktu yang baik untuk kalian memahami apa yang terjadi dalam indahnya sebuah dunia fana.
"Tidak bergabung disana?"
Seorang pria dengan surai pirang dan safir pada kedua bola matanya. Memiliki pancaran wajah yang begitu tenang dan tegas disaat bersamaan. Membuat seluruh wanita di tanah Wisshelbach berdecak kagum menatapnya. Sosok yang begitu diidam-idamkan oleh para wanita terhormat hingga terendah sekalipun. Tetapi Kira berani bersumpah, itu hanya tampilan luarnya saja karena ia–bahkan siapapun-belum ada yang mampu menebak apa isi kepala pirang itu.
Pria itu menyodorkan segelas anggur merah segar, yang langsung disambut dengan baik oleh pPemuda berambut cokelat. Menghirup aroma yang begitu nikmat, tanpa ragu ia meneguk perlahan, menyisakan seperempat gelas.
"Terimakasih", mengangkat sedikit gelas anggur yang masih tersisa dan pria disebelahnya hanya terkekeh pelan, menampakan senyuman hangat. "Kau sendiri tidak kesana? Demi Tuhan, kenapa kau harus berdiri disini?"
Mwu La Flaga hanya melemparkan senyum pada Kira yang terus menatap hambar pada wanita-wanita bergaun mencolok yang masih menatap keduanya–atau lebih tepatnya hanya pada Mwu–tanpa bosan. Ditepuknya pelan pundak yang lebih rendah darinya. "Karena aku ingin menyampaikan sesuatu padamu hei, Kira." Yang lebih muda kemudian mendekat sedikit ketika sang lawan bicara merendahkan ucapannya, hampir ditelan alunan melodi dibawah sana. "Sesuatu yang lebih berbahaya dibandingkan perkiraanmu. Aku sendiri pun belum tahu akan bertindak seperti apa. Tetapi ada hal lain yang aku ketahui, kau bukanlah prioritasnya. Tetapi ia akan mendapatkan apa yang kau cari." Kedua iris amethyst Kira melunak perlahan, mengeratkan genggamannya pada gelas kaca yang mampu ia pecahkan kapanpun. Bisikan pria pirang membuat darahnya naik hingga ke ubun-ubun dengan cepat.
" Dan– Apa rencanamu selanjutnya, Kira Hibiki?"
Hibiki, ya?
Bukan saatnya untuk main-main mulai detik ini.
Gelas dalam genggamannya pun terbelah menjadi serpihan membuat cairan kental anggur didalamnya jatuh bebas pada alas lantai merah yang ditapaki keduanya. Aroma anyir meliputi suasana.
.
.
.
"Lunamaria! Sampai sejauh mana lagi kita harus berjalan?"
Keluhan bosan gadis pirang berambut sebahu sama sekali tidak menarik perhatian si gadis merah berambut pendek, Lunamaria. Ia masih sibuk melihat-lihat bunga di hamparan rumput tanpa mempedulikan keluhan sang teman. Kemudian ia merebahkan tubuh lelahnya diatas padang hijau. Kedua matanya menyipit saat bertatapan dengan matahari senja.
"Sebentar Cagalli, aku ingin rebahan disini dulu. Lagi pula matahari belum tenggelam. Jadi tidak masalah kalau kita istirahat disini dulu kan?"
Si gadis pirang, Cagalli pun mau tak mau menuruti titah sang teman. Dilepaskannya tas punggung yang terbuat dari tangkai-tangkai kayu tepat disamping Lunamaria. Dilihatnya sang teman memejamkan kedua mata. Andai saja jika kedua kakinya tidak lelah, ia pasti telah meninggalkan gadis merah itu dan kembali kerumah lebih dulu. Tetapi apa boleh buat, Lunamaria sudah terlalu jauh mengajaknya berjalan untuk mencari kayu bakar dan kini kedua kakinya tengah membutuhkan istirahat.
Tidak seperti Luna yang merebahkan diri, Cagalli hanya duduk dengan kedua kaki yang terjulur lurus tetapi kepalanya ikut mendongak. Merasakan semilir angin musim gugur yang berhembus perlahan melewati pepohonan diantara padang rumput. Ia menghirup aroma segar. Sangat menenangkan.
"Kau tahu tidak–?" Lunamaria terdiam sebentar. Ia menoleh pada Cagalli yang tengah melirik sedikit kearahnya. "Disana adalah tempat tinggalnya para makhluk selain manusia. Dan yang ku dengar, banyak penyihir yang menghuni."
Cagalli mengikuti kemana jari telunjuk Lunamaria mengarah. Angin kembali berhembus. Helai pirangnya pun ikut terbawa mengikuti arah angin yang tertuju pada sekumpulan barisan pepohonan yang lebat. Batang pepohonan yang tinggi dan hijaunya dedaunan menghalangi pandangan keduanya untuk mengetahui kehidupan macam apa dibalik sana. Hanya tampilan teduh dalam remang saja yang mereka ketahui.
"Luna, jangan bicara sembarangan" sergah Cagalli. Ia sangat tidak menyukai topikc macam ini. Terlebih suasana yang cukup tidak baik. Diraihnya tas punggung kayu yang ia bawa sejak pagi hari. Rasa lelahnya meluap sudah. Beberapa ranting kayu terjatuh ketika ia meletakan tas itu dipunggunggnya tetapi kemudian ia meraihnya kembali. Digenggamnya erat.
"Bilang saja kau takut, bukan? Aku tidak tahu kalau kau ternyata seorang penakut Cagalli." Lunamaria menyunggingkan senyum jenaka tetapi ditanggapi diam oleh Cagalli. Gadis pirang itu kemudian berjalan melawan arah dari telunjuk Luna. Kembali pulang.
"Tidak juga. Hanya mengantisipasi bicaramu yang makin melantur saja. Kita tentu tidak ingin berhadapan dengan bahaya, bukan? Jadi jagalah ucapanmu itu. Atau lebih baik diam saja."
Langkah panjang-panjangnya harus terhenti karena Lunamaria menarik pergelangan tangannya dengan kuat. Refleks Cagalli sangat tidak baik saat itu karena hampir saja jatuh jika satu kakinya yang dibelakang tidak cepat menahan berat tubuhnya. Ia hampir menubruk Luna.
"Ada apa lagi?" nada suara Cagalli tidak bersahabat. Ia tengah menahan amarah. Jujur saja, ia akan membungkam ocehan Luna dengan benda apapun yang ia temukan jika saja membicarakan hal-hal aneh lagi. Sudah cukup. "Bisakah kau berhenti bicara maca–"
"Ada seorang anak-anak disana, Cagalli."
Tanpa menoleh, Cagalli menarik paksa tangan Luna untuk mengikuti langkahnya. "Lupakan! Ayo kita pulang."
Tetapi Luna memang keras kepala. Gadis itu menarik ujung bahan terusan hijau muda Cagalli. Memaksa sang teman untuk mengikuti arahannya.
"Aku khawatir kalau ia tersesat. Tidakkah kau lihat? ia masih kecil."
"Bibi Hawke lebih khawatir jika kau belum juga pulang hingga matahari terbenam nanti. Jadi, sekarang kita pulang." Cagalli masih memaksa.
"Tidak Cagalli. Aku berjanji ini tidak akan lama. Oleh karena itu kita harus membantunya"
Dan belum sempat gadis pirang banyak bicara, sang teman lebih dulu berlari menajuhinya. Menuju kumpulan pohon yang sempat dibicarakan sebelumnya. Bahkan gadis itu melupakan tas keranjang berisi kayu-kayu.
Tidak ada pilihan bagi Cagalli selain mengikuti jejak Luna. Mereka berpamitan untuk mencari kayu bakar bersama, maka mereka pun harus pulang bersama. Tidak ada pilihan bagi Cagalli.
.
.
Mereka tiba di dalam hutan ketika matahari hampir tenggelam.
Keduanya tidak mengira bahwa pepohonan yang mereka lewati akan mengantar pada hutan yang hanya ditumbuhi pepohonan besar. Alasan kuat Lunamaria untuk membantu sang anak yang ia lihat telah menyita perhatian mereka dari suasana sekitar. Ketika mereka menyadari sesuatu, langit pun hampir gelap. Kedua mata hazel jernih Cagalli menyalak tajam pada Luna. Mereka tidak menemukan sosok anak kecil yang dilihat Luna. Dan wajah Luna pun menyaratkan ketenangan. Teramat bodoh bagi Cagalli.
"Aneh. Kemana anak itu pergi ya? Cagalli, kau juga melihatnya berjalan kearah sini bukan?"
"Tidak. Aku bahkan tidak melihat apapun saat kau berlari kearah ini."
"Ya, itu karena anak pirang itu telah lebih dulu memasuki pepohonan."
"Lalu kenapa kau dengan bodohnya malah mengejar kesini, Lunamaria?!"
"Karena aku penasaran!"
Tanpa menunggu lebih lama, kedua iris Hazel sang gadis pirang menyipit tajam. Hampir saja ia memukul sebongkah kayu pada gadis merah yang diajaknya berdebat jika saja ia tidak mengingat kondisi. Dan lagi, temannya pun memahami tindakan si gadis pirang.
"Ok, maaf. Aku sebenarnya ingin sekali mengetahui tempat ini. Ya, aku pensaran. Tetapi soal gadis kecil yang ku lihat tadi, benar-benar nyata kok."
"Oh, Hamuea! Apa yang Kau kirimkan padaku saat ini?!" Cagalli memekik. Ia sangat menahan hasrat untuk memaki temannya sejak tadi. "Apa sekarang kau menemukannya?"
Pandangan Lunamaria kembali berkeliling. Kabut putih tipis telah turun. Hutan telah diselimuti kabut. Angin sejuk pun perlahan berubah menusuk. Mereka hanya mengenakan bolero tipis sebagai luaran bagi baju terusan untuk melindungi kulit dari tiupan angin musim gugur. Setidaknya hanya untuk di siang hari. Si gadis merah mengeratkan ujung bolero putihnya. Cagalli hanya diam sesaat.
"Kau jangan terlalu sering dan k eras saat mengucapkan itu. Bagaimana jika ada Ppendeta yang mendengarnya? Kau bisa terkena hukuman yang berat. Lagi pula, aku tidak tahu kenapa kau sering sekali mengucapkan kata Haumea."
Tidak ada jawaban dari sang teman. Lunamaria berpendapat bahwa perkataannya cukup untuk mengalihkan Cagalli dari amarah yang ditujukan padanya. Sedangkan kedua mata hazel Cagalli masih terpaku pada suatu tempat, Lunamaria menepuk pelan pundak temannya. Ia kemudian tersenyum tenang.
"Aku menemukannya. Lihat. Disana anak itu."
Lunamaria memberikan arahan pada seorang anak perempuan berambut pirang pendek. Hampir seperti Cagalli. Terkecuali berbeda dari segi postur tubuh dan usia. Gadis itu terlihat masih remaja. Dan yang pasti memiliki wajah lembut yang terlihat ramah. Ia tengah duduk dibawah sebuah pohon yang rimbun. Salah satu telapak tangannya mengusap bulu-bulu halus sebuah kelinci berwarna cokelat.
"Hai, nak!"
Merasa dipanggil, anak perempuan pirang itu menoleh pada Lunamaria yang berjalan mendekat kearahnya. Cagalli masih mengekor walaupun berjarak cukup jauh. Lunamaria pun duduk bertumpu pada kedua kaki dihadapan anak perempuan itu. Sebuah senyum terulas diwajah manisnya.
"Aku melihat mu saat dipadang rumput tadi. Apa kau tinggal disekitar sini?"
Awalnya anak perempuan itu menatap Luna dan Cagalli bergantian dengan bingung. Kemudian ia ikut tersenyum ketika melihat sebuah rasa kepedulian terpantul di kedua mata amethyst jernih milik Luna.
"Iya."
"Maaf. Ku kira kau tersesat. Makanya aku mencari mu disekitar sini." Luna mengusap belakang kepalanya.
"Aku yang seharusnya meminta maaf karena telah membuat kalian berpikiran seperti itu." Iris merah jambu sang anak perempuan menoleh pelan pada Cagalli. Luna pun menyadari arti sikap itu. Ia pun mengulurkan tangan kanannya.
"Aku Lunamaria Hawke. Dan dibelakangku adalah Cagalli. Temanku."
Sang anak perempuan pirang menjabat tangan Luna dengan sopan. "Namaku Stellar. Stellar Louisser. salam kenal, Luna dan Cagalli."
.
.
Hal yang berikutnya terjadi adalah dimana kedua teman yang mengikuti arahan sang anak perempuan untuk menuju pondoknya. Berbekal alasan bahwa bulan sudah terlalu tinggi, Stellar meminta keduanya untuk tinggal sementara di rumahnya. Lunamaria mengangguk antusias saat itu sedangkan Cagalli hanya mampu mengeratkan kedua sisi boleronya, menahan hawa dingin dan perasaan aneh yang tiba-tiba menggapainya. Cagalli selalu menepis perasaan yang tiba-tiba datang dan memberikan isyarat padanya bahwa sesuatu tengah mengawasi langkah ketiganya pada Lunamaria. Tetapi sang teman masih tenggelam dalam pembicaraan menarik tentang kehidupan seorang Stellar Loiusser. Hanya sebuah kehidupan gadis kecil yang senang berkeliling disekitar hutan. Sesekali berburu rusa dengan para saudara laki-lakinya.
Jujur saja. Sejak tadi Cagalli tidak menyimak terlalu banyak pembicaraan keduanya. Kedua matanya hanya memandang sekeliling tempatnya berpijak. Perjalanan malam dihutan cukup gelap. Penerangan mereka hanyalah sinar bulan yang bertengger diatas sana. Kabut putih pun semakin banyak turun. Entah bagaimana Stellar dengan mudah berjalan dikeadaan gelap seperti ini dan membimbing mereka. Ia bersikap sangat tenang. Ah, mungkin karena ia telah lama tinggal disini makanya ia begitu paham dengan tempat ini. Cagalli hanya mampu menghibur diri. Rasa lain berupa kekhawatiran entah mengapa ikut menghampirinya.
Dilihatnya kembali sosok kedua gadis berbeda tinggi itu.
Bayangan keduanya perlahan mengabur dan menjauh.
Apa?
Cagalli mngerjapkan kedua matanya berulang kali dengan cepat. Bayangan sosok keduanya semakin menghilang dan kini tergantikan dengan berputarnya pohon-pohon disekitar. Lengan kanannya terjulur, menggapai sebuah batang pohon yang besar. Ia bersandar untuk menghilangkan rasa pusing yang tiba-tiba. Dan bukannya mereda, kunang-kunang dari pandangannya semakin cepat berputar. Ia memegang kepalanya yang semakin sakit dan tidak menemukan luka apapun disana. Ia memilih untuk memejamkan kedua matanya.
"Luna–"
Dan dalam hitungan detik tubuh itu pun berakhir lemah diatas tanah yang dingin. Kesadarannya hilang dalam sekejap.
.
.
"LARI! LARILAH DARI SINI! CEPAT!"
Kedua bola mata madu jernih telah ternoda dengan percikap api membara disekitarnya. Hampir seluruh bangunan tempatnya berdiri telah dilahap api.
.
"Tapi– "
Disana. Berdiri seseorang yang menghadang pandangannya dari kehancuran manusia lain. Lebih tinggi darinya. Hiruk pikuk, teriak kepanikan hanya mampu ia dengar. Orang itu berusaha menjaga kejernihan kedua iris madunya.
.
"Cepatlah! Kita tidak memiliki banyak waktu!"
Sosok itu berbalik. Tetapi tubuh kecilnya belum mampu mengenali siapakah orang itu. Hanya kejerniahan kedua bola matanya yang ia ingat. Menyiratkan sebuah kasih sayang.
.
"Bagaimana denganmu sendiri?! Kenapa kau masih diam disini?"
Pertanyaan itu terlontar. Lirih. Hampir ditenggelamkan oleh teriakan pilu yang saling menyusul. Tak urung semangat jiwa ikut terbakar di dalamnya.
Ia tidak mengetahui siapa sajakah mereka.
.
"Aku akan menjelaskan nanti. Sekarang pergilah. Aku akan menyusulmu jika semua sudah selesai. Ku mohon– pergilah. Mejauh dari tempat ini."
Orang itu masih mampu mendengar kalimatnya. Nyala api semakin berkobar. Didorong oleh rasa keingintahuan dan kebingungan, ia melebarkan kedua matanya. Menuntut sebuah jawaban yang tidak pernah ia dapatkan saat itu.
.
" MENGAPA?! ADA APA–"
Sang lawan bicara menyentuh pucuk kepalanya dengan lembut begitu kontras dengan pandangan yang menatapnya tajam. Kedua bola mata madu itu melebar seiring lengkungan pada bibir lawan bicaranya.
.
"Maaf. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu terus disini. Belum saatnya bagimu untuk berakhir di tempat ini.."
Hembusan angin kencang mengakhiri percakapan diantara keduanya. Tubuh mungilnya terhempas jauh–entah kemana. Mereka berpisah.
Tetes demi tetes air mata membawa suasana menuju kehancuran. Segalanya telah berakhir ketika ia membuka matanya kembali.
.
.
Suhu disekitarnya seketika meningkat. Sebuah cahaya remang muncul dalam pandangannya yang masih tertutup. Retakan kayu masih bergema dalam kepalanya.
Cagalli membuka mata lelahnya.
Kepalanya kini bersandar pada batang pohon. Sebuah lembaran kain menyelimuti tubuhnya dari terpaan kabut abu. Pandangan dihadapannya menyajikan sebuah perapian hangat ditengah pagar pohon. Telah banyak kayu yang terbakar dan nyala api masih belum berakhir.
Ia kembali mengerjapkan kedua matanya.
Saat itu ia mampu melihat dengan jelas. Seorang laki-laki tengah duduk diseberang nyala api. Cahaya lembut kehijauan terpantul dalam matanya. Rambutnya berwarna gelap. Cagalli tertegun sesaat. Mengagumi betapa lembut dan indahnya bola mata hijau itu. Sama seperti dedauanan di musim semi.
Detik demi detik berlalu. Cagalli pun mengalihkan pandangannya dari cahaya hijau, jemarinya meremas erat kain yang menyelimuti tubuhnya. Kedua matanya menyipit tajam. Pemuda dihadapannya pasti bukan warga biasa. Orang itu mengenakan pakaian berbahan beludru dengan ukiran rumit pada ujung lengan dan perpotongan bahan. Sepatunya berbahan kulit dengan tinggi hampir selutut. Alas kaki yang tidak mungkin dikenakan oleh orang biasa seperti dirinya.
Cagalli menggeser sedikit pandangannya. Disamping sang pemuda tergeletak sebuah pedang yang belum pernah ia temui. Pedang itu masih terbalut bahan lain yang tidak ingin Cagalli ketahui lebih dalam.
Semua yang ia kenakan telah menyatakan satu hal.
Ia bukan seorang pemburu biasa yang tersesat dalam hutan. Tetapi ia juga sanksi jika pemuda itu adalah bangsawan. Ia tidak mengerti apa yang mendasari pemikiran terakhirnya itu. Hanya keyakinan. Ya, keyakinan yang sepintas melewati alam sadarnya.
"Siapa kau?"
.
.
Kira memandang kosong sebuah amplop putih yang tergeletak diam diatas meja kayunya. Disampingnya tersaji pula sebuah cangkir teh yang masih mengepulkan uap-uap panas. Lacus Clyne memandang iba pada laki-laki yang masih diam dihadapannya. Jemari panjangnya meraih tangan sang pemuda kemudian menggenggamnya hangat, berharap sang pemuda dapat membagi beban yang dirasakannya.
Kira masih bungkam.
"Siang tadi Baroness of Edinburgh, Natarle Badriguel datang dan memberikan itu padamu." Lacus melirik sebentar pada benda putih yang masih tergeletak diatas meja sejak tadi siang. Walaupun keduanya telah mengetahui apa isi surat itu, Lacus tetap menjaga sebuah kehormatan dengan tidak ikut campur dalam kepentingan Kira jika tidak diminta.
Lacus menatap Kira penuh harap. Ia sangat mengetahui apa yang terjadi. Namun ada saat baginya untuk membuat Kira bangkit dan menghadapi segalanya. Ia pun memberikan sebuah senyum terbaik. "Setidaknya minumlah tehnya dulu sebelum dingin."
Kira menatap lembut wajah tenang Lacus. Gadis itu melepaskan tautan jemarinya pada Kira. Hanya dengan mendengar suara gadis itu saja telah membuat kepalanya kembali tenang. Setidaknya untuk saat ini saja. Ia pun mengikuti perintah sang gadis. Mengangkat cangkir porcelain itu dan meminumnya perlahan dengan kedua mata terpejam.
"Lacus –" Kira berkata setelah meletakan kembali gelasnya diatas meja. The didalamnya hanya berkurang sedikit. "Aku tidak ingin datang ke pengadilan besok."
"Tidak Kira. Kau harus datang. Karena jika tidak, kau akan membiarkan Dullindal mendapatkan celah untuk memenangkan semuanya. Jangan biarkan peristiwa ini menguasai sisi lemahmu."
Kira menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Satu telapak tangannya menangkup wajah dengan kasar. Satu tangannya lagi ia biarkan terkulai lemas disamping tubuhnya. "Apa menyenangkannya melihat leher saudara mu terpenggal dihadapan semua orang esok hari?"
Lacus berdiri dari kursinya. Menghampiri sosok Kira yang semakin terlarut dalam kesedihan. Diusapnya lembut bahu sang pemuda, kepalanya ia dekap pada dadanya. Kira menangis dalam pelukan Lacus.
"Harus berapa lama lagi aku membiarkan ini, Lacus? Kemarin. Aku melihat rumah keluarga Buer terbakar tanpa menyisakan satu harapan pun. Sekarang, aku harus menyaksikan Shani Andras terpenggal besok."
Jari-jemari Lacus yang mengusap surai cokelat itu bergetar pelan. Bagaimana cara ia mengobati seseorang yang tengah terluka jika ia sendiri hampir terjatuh dalam jurang?
Kira melepaskan diri dari dekapan hangat Lacus. Ia menatap kedua iris biru Lacus yang berkaca-kaca dengan dalam, mencari sebuah jawaban kepastian disana.
"Katakan padaku. Katakanlah. Apakah salah jika kami dilahirkan sebagai Plantagenet?"
.
.
.
To Be Continued
(?)
.
.
A/N : saya harap chapter ini ga bikin kecewa ya. Selain membosankan pasti garing banget ya ceritanya? Oleh karena itu saya butuh review ni tentang pendapat mina untuk kelanjutan cerita ini. Lebih baik langsung tamat aja atau mau dilanjut, mengingat dasar cerita ini sangat pasaran dan pasti gampang ditebak *dilemparbatu* dan jujur saya agak ragu untuk bikin cerita ini sebelumnya. Oleh karena itu saya mohon reviewnya ya
