A/N: Sebelum memulai chapter baru, saya mau bikin pengakuan dulu. Jujur saya menyusun fic ini tanpa rencana sedikit pun jadi kalau ada hal-hal mendetail dari cerita ini yang ga sengaja saya lewatkan, saya minta maaf. Untuk itu saya masih butuh review dari semuanya untuk perbaikan.
Soal zaman kapan yang saya ambil untuk bikin fic ini, jawabannya adalah Abad Pertengahan akhir. Jadi di zaman itu, kepercayaan soal iblis, penyihir, hal-hal gaib dan mitos masih sangat berlaku. Dan saya memang merasa tertarik untuk bikin cerita ber-setting zaman ini sejak lama sebenarnya. Tapi kalau sekiranya ada reader yang belum paham sehingga sulit memahami deskripsi yang saya berikan, saya minta maaf lagi. Karena err,, saya memang sangat buruk dalam bikin deskripsi sehingga fic ini teramat sangat memiliki kekurangan. Jadi mohon bantuan dan koreksinya juga kalau saya salah ya.
Fic ini cuma hiburan semata. Ga ada keuntungan materi apapun yang saya ambil. Cuma buat menyalurkan ide aja. Hehe. Kalau begitu, selamat menikmati.
.
.
Kedua iris cokelat Murrue Ramius membulat sempurna. Memandang murka pada cermin seukuran tinggi tubuhnya yang kini telah memantulkan bayangan dirinya kembali. Beberapa saat lalu ia masih melihat gadis pirangnya berjalan-jalan disekitar desa untuk mencari kayu bakar. Dan kini kedua gadis yang sejak tengah hari berpamitan padanya telah menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Ia mencoba menebak segala kemungkinan yang terjadi melalui pandangan yang didapatnya dari cermin itu. Sebelum semuanya kembali seperti awal, gambaran yang ia lihat berupa padang rumput kemudian beralih pada jajaran pohon yang lebat. Perasaan cemas semakin menjalar dalam dirinya karena sebuah pemikiran yang sebenarnya sangat enggan untuk ia biarkan.
"Apa yang ada dalam kepala kalian hingga dapat memasuki hutan Minoa?"
Tuhan, tolong jaga mereka. Dan jangan biarkan mereka semua yang berniat buruk mendekati anak-anak gadis itu.
Berulang kali kalimat itu melintasi kepala cokelatnya. Dan berulang kali pula sang wanita menggumam dalam doanya. Semoga mereka selamat. Tidak ada harapan lain selain itu. Bulan sudah menggantung cukup tinggi dan tak ada tanda-tanda kedua remaja yang ia cemaskan akan kembali.
Diambang kegelisahan setidaknya Murrue dapat berpikir untuk mengambil keputusan yang tepat. Kedua kaki jenjangnya dalam balutan bahan terusan panjang melangkah cepat menuju sudut lain yang agak gelap dalam ruangan. Sebuah lilin yang masih berdiri tegak diatas meja ia tinggalkan. Setidaknya cahaya temaram itu mampu memperlihatkan sebuah gambaran simbol-simbol yang membentuk lingkaran diatas lantai granit yang tengah ia tapaki. Wanita berambut cokelat gelap itu berdiri ditengah-tengah dengan tangan kanan menyentuh dada sedangkan lengan kirinya terjulur lurus kedepan. Matanya tertutup rapat.
Sebuah mantera terucap. Mengundang hempasan angin disekitarnya untuk berkumpul dan membentuk sekumpulan gagak merah yang kemudian terbang. Menuju hutan Minoa yang menjadi pusat kekhawatirannya.
Setelah dirasa keadaan kembali tenang kedua matanya kembali membuka. Dihadapannya kini berdiri seorang pemuda berwajah kekanakan. Surai biru keabuannya bergerak lembut tertiup hembusan angin yang hampir berakhir. Ia menampakan sebuah senyum manis.
"Auel, Pergilah ke Minoa." Murrue berucap tegas. "Bila memungkinkan bawalah Cagalli dan Lunamaria kembali ke Orb. Tetapi jika keadaan tidak memungkinkan cukup awasi saja keduanya dari kejauhan. Lakukan tindakan pencegahan sebaik mungkin, jangan sampai dia jatuh ke tangan siapapun yang bukan ku kehendaki."
Sang pemuda yang disapa sebagai Auel membungkuk pelan dengan lengan kanan terlipat, memberikan sebuah penghormatan terakhir pada sang tuan sebelum menjalankan tugasnya. Sebuah senyum tipis mengantar kepergiannya dari hadapan Murrue.
Sang penyihir belum mampu berpangku tangan.
.
.
Gundam Seed/Destiny © Sunrise
Svezza Annashya present
.
The World
Pairing : Athrun-Cagalli, Kira-Lacus, etc.
Genre : Mystery, Drama
Rated : T+
Warning : OOC, Typo(s), AU, gaje
.
Chapter 3
Magia
"Namaku Alex–Alexander Ferdinand."
Cagalli mengerjapkan mata beberapa kali saat laki-laki diseberangnya memperkenalkan diri. Dugaannya tepat, ia bukan orang biasa dan pasti seorang bangsawan. Tetapi apa yang ia lakukan disini? Cagalli belum mendapatkan jawaban pasti atas pertanyaan yang terus terngiang dalam kepalanya.
"Untuk apa seorang bangsawan sepertimu berada di dalam hutan malam-malam? Dan–" si kepala pirang memandang sekeliling hutan tempatnya singgah bersama sang pemuda bangsawan. Ia tidak menemukan apapun selain kegelapan dan barisan pohon yang menjulang. " –Sendirian."
Sang pemuda yang mengaku bernama Alexander mendengus pelan begitu menyadari pernyataan lirih sang gadis pirang dihadapannya. Satu tangannya meraih sebuah tangkai kayu bakar yang telah diisi sepotong daging rusa pada ujungnya. Ia menyodorkannya pada Cagalli dan disambut dengan tatapan heran. "Untukmu. Sejak tadi kudengar perut mu terus bernyanyi."
Mendapat jawaban jujur seperti itu membuat Cagalli sedikit kesal. Diraihnya cepat tangkai kayu yang tidak terbakar pemberian si pemuda. Sebelum menyantap daging lezat itu, kedua mata cokelat madunya menatap penuh curiga pada si pemuda. "Hei, kau belum menjawab pertanyaanku."
Mata hijau jernih itu membalas tatapan tajam iris cokelat muda. Bukan dengan tatapan sama sinis dan penuh curiga melainkan dengan sorot lembut yang meneduhkan. Kedua kalinya Cagalli merasa nyaman menatap bola mata hijau itu. Dan dua kali juga ia merasa hampir terlarut dalam kelembutannya.
Cagalli dapat merasakan wajahnya menghangat. Ia dengan cepat mengalihkan kembali pandangannya pada daging bakar yang kini berpindah tangan. "..Terimakasih."
"Sama-sama.."
Cagalli melepaskan lembaran kain yang membungkus tubuhnya sebelum menyantap daging lezat yang didapatkannya secara cuma-cuma. Dan saat itu ia menyadari sesuatu. Pemuda yang dihadapannya saat ini sangat baik. Apa ia memiliki niat jahat? Kedua manik cokelat jernihnya kembali menatap sang pemuda yang masih sibuk membolak-balik daging rusa yang lain penuh curiga. Merasa kembali ditatap, Alexander pun ikut melihat kearah lawan bicaranya. "Apa ada sesuatu yang ingin kau tanyakan lagi, nona?"
"Kenapa kau memberikanku ini?" arah pandangan Cagalli kini jatuh pada lembar kain dan daging bakar yang masih digenggamnya. "Kau juga belum menjawab pertanyaanku yang sebelumnya."
Keras kepala.
Satu hal yang terlintas dalam kepala biru sang pemuda ketika menghadapi gadis pirang yang baru ditemuinya. Jujur ia hanya merasa kasihan dengan gadis itu karena saat pertama ditemui dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dan yang kedua adalah karena ia seorang perempuan. Masih remaja. Tersesat di hutan. Nalurinya sebagai bangsawan terpanggil untuk membantu gadis pirang itu. Sangat baik hati.
"Bukan apa-apa. Aku hanya kasihan melihat keadaanmu."
"Jangan memandang rendah orang seperti ku."
Tetapi kenapa anak yang ditolongnya malah merasa direndahkan? Tidak tahu diri! Kalau bukan seorang perempuan, ia pasti akan meninggalkannya sendiri!
"Huh!"
.
Gaakk… gaakk.. gaakkk..
.
Alexander memutuskan untuk mengakhiri perdebatan yang bahkan belum ia mulai. Ketika mendengar suara raungan dari langit ia mendongak. Langit masih gelap. Hanya diterangi sinar pucat sang rembulan.
.
Gaakk.. gaakk.. gaakk.. gaakk..
.
Pandangannya mengamati sekeliling. Dan menemukan gambaran yang masih sama seperti sebelumnya. Tetapi kepalanya menangkap sesuatu yang lain. Kabut disekitar mereka menebal hingga mengakhiri perapian ditengah keduanya.
Hal itu juga tak luput dari pandangan Cagalli. Gadis itu menatap perapian dan sang pemuda secara bergantian. Ia meminta kejelasan. Tentu saja. Dan tanpa banyak bicara, sang pemuda dengan cepat meraih pedang juga pergelangan tangannya. Sangat cepat. Bahkan gadis itu belum sempat berkedip untuk mengerti keadaan yang sebenarnya.
Suka tidak suka, Cagalli mengikuti kemana langkah sang pemuda walaupun ia tidak mengetahui ke mana ia akan dibawa.
"Nona, kau bisa menunggang kuda?"
Gadis pirang yang ditanya menggelengkan kepala dengan cepat. Pandangannya tidak melihat bagaimana ekspresi sang pemuda ketika ia menjawab sehingga ia tidak tahu apakah pemuda itu kesal atau memberikan penilaian lain.
"Sial!"
Diketahuilah bahwa pemuda itu merasa sangat menyesal.
"Kau itu bodoh atau bagaimana?! Aku hanya orang biasa, tidak terlatih untuk menunggang kuda!"
Decakan kesal Cagalli tidak ditanggapi lebih lanjut. Alexander hanya terus menariknya hingga pergelangan tangan sang gadis memerah. Tapi siapa peduli? Entah situasi macam apa yang tengah mereka hadapai. Ah, bukan mereka. Mungkin hanya pemuda itu saja yang menghadapinya.
Kedua manik cokelat madu sang gadis melebar ketika si pemuda berkepala biru mendorongnya dengan tidak sabar. Tubuhnya hampir saja menabrak badan kuda hitam yang tidak berdosa.
"Naiklah! Cepat!"
"Iya iya! Tunggulah sebentar!"
Walaupun kedua matanya menyalak tajam tetapi Cagalli masih tetap menuruti perintah sang penolong. Ia menyingkap pelan terusan hijau mudanya. Kedua tangannya tak lagi menggenggam daging dan kain yang sudah dilupakan sejak mereka menjauh dari perapian. Ia meraih tali yang mengikat di badan kuda. Dan dengan sedikit kesulita akhirnya ia duduk diatasnya. Wajahnya terlihat riang ketika dapat mencapai tujuan dan ia hampir tertawa lebar pada sang pemuda sebelum pandangannya tidak melihat sosok itu dibawahnya.
"Hei–"
"Nona. Tarik tali kekangnya dan peganganlah yang kuat agar kau tidak jatuh."
Cagalli menengok ke segala arah tetapi belum menemukan asal suara sang pemuda. Kini tawa kemenangannya harus terkubur oleh rasa panik yang mendera. Kedua tangannya tanpa sadar menarik tali kekang sang kuda. Beberapa saat kemudian ia terlonjak kaget.
"Huwaaa–"
"Sampai jumpa lagi, Nona."
Hingga gadis itu terbawa langkah kaki sang kuda, ia masih belum dapat menemukan dimana sosok sang pemuda bersembunyi. Rasa panik dan bingung terlalu menguasai alam sadarnya.
.
.
Di pondok yang penuh kehangatan Stellar tersenyum manis.
.
.
Alexander keluar dari persembunyiannya ketika dirasa tak ada orang lain lagi disana. Jari-jemarinya menggenggam ujung tumpul pedang dengan erat. Kedua bola mata hijaunya berkilat tajam saat menatap sosok lain berjarak lima belas langkah darinya. Ekspresi berbeda diberikan oleh sosok itu. dari kejauhan, Alex dapat melihat dengan jelas sebuah seringai memuakan di wajah muda sang sosok.
"Selamat malam, Tuan."
Alexander hampir mendecih ketika mendengar sapaan penuh dusta si pemilik surai biru keabuan. Ia tidak berniat untuk membalas sapaannya dengan kata-kata, maka tangannya siap menarik senjata disamping tubuhnya.
"Tunggu, Tuan. Sesungguhnya aku tidak ingin memiliki urusan denganmu. Aku datang kesini untuk menjemput dua orang yang harus dipulangkan. Dan kuharap, kau mengijinkan mereka untuk kembali ke rumah."
Tidak semudah itu.
Jika kemarin malam ia dapat melangkah mundur dan kembali, tidak untuk saat ini. Walaupun ia tidak tahu benar siapa saja yang dimaksud si bocah biru tetapi tidak semudah itu ia membiarkan sang bocah mengacak-acak wilayahnya.
Ia merasa de ja vu.
"Jika hanya untuk menjemput seseorang, kau tidak perlu membawa gagak-gagak itu bukan?"
Bukan orang biasa. Itulah yang terlintas di kepala biru Alexander saat pertama kali melihat sosok bocah itu berdiri.
Apakah kedatangannya untuk menjemput gadis pirang itu? tapi kenapa?
"Jujur saja, aku malas memberikan kalimat manis untuk memohon saat ini. Sekarang kau hanya perlu menjawab, Tuan. Berikan aku jalan menuju mereka atau kau lebih bersedia menahan ku disini?"
"Pilihan kedua."
Alexander mengeluarkan pedangnya. Mengarahkan tepat pada bocah biru-abu dihadapannya. Tak ada lagi senyuman di wajah bocah itu.
"Baiklah."
.
.
Ramius harus menelan pahit segala kenyataan.
Ia belum mengetahui semuanya. Belum. Kecuali bahwa gadis pirangnya kini harus jatuh pada seorang pemuda yang belum ia kenal bahkan dilihat sebelumnya. Ia memang tidak melihat apa yang terjadi malam itu di dalam hutan Minoa namun sebuah ikatan kasat mata yang ia bangun dengan sang gadis pirang telah membawanya untuk merasakan segala perubahan yang terjadi. Memang perubahan itu belum seberapa besar tetapi tidak dipungkiri juga bila menjadi sebuah bencana.
Ramius harus bertindak secepatnya.
Tetapi bagaimana? Haruskan ia menunggu? karena ia pun belum memastikan dampak dari sihir yang tanpa sadar merasuki gadis pirangnya.
Tubuhnya lemah hingga ia hanya mampu terduduk di kursi kayu yang lembab. Kedua telapak tangannya saling mengeratkan di depan wajah. Ia berdoa.
.
.
Buumm….
Ngiikkkkk….
Sekali lagi. Cagalli hampir terjungkal kebelakang saat si kuda memberikan respon kejut. Bukan sebuah ketidaksengajaan memang karena Cagalli sendirilah yang menarik paksa tali kekang kuda.
Mendengar suara gemuruh yang sangat kencang membuat perhatiannya teralih pada sisi lain hutan. Disana. Di tempat ia pertama kali menaiki kuda, ia melihat asap pekat mengepul ke langit hitam. Sedikit cahaya terpantul di kehijauan hutan. Tanpa banyak waktu kepala pirangya sudah mengerti suasana yang ia lihat.
Kebakaran.
"HA!"
Kedua tangan lelahnya memacu sang kuda untuk kembali berlari. Ia berbalik arah. Ada sesuatu yang tertinggal disana.
Tidak ada pikiran apapun dalam kepalanya selain menyelamatkan pemuda bangsawan yang telah ditemui sebelumnya. Ia tidak peduli dengan bahaya apapun yang akan dihadapi nanti. Ia hanya berharap sang pemuda selamat.
Hembusan angin menerbangkan dedaunan pohon di sekitarnya. Ia mempercepat langkah sang kuda. Cahaya jingga yang ia lihat semakin membesar bahkan kini terpantul jelas dalam iris madunya.
Ketika ia tiba disana, tidak ada seorang pun yang terlihat. Ia memutuskan untuk menuruni punggung kuda dan berkeliling mencari sosok yang–entah sejak kapan–memenuhi kepalanya.
"Alex! Alex! Dimana kau?"
Kedua kakinya bergetar pelan.
Ia goyah. Sangat goyah ketika melihat pecahan kaca dan benda tajam berkilat dibawah kakinya. Api menjalar dengan cepat. Angin pun berhembus untuk membesarkan nyalanya. Akal sehat sang gadis memerintahkannya untuk melangkah mundur.
"Alex! Jika kau mendengar ku, tolong jawablah.."
Sebelum kakinya benar-benar melangkah jauh sekali lagi ia berputar. Pandangannya menyapu seluruh pepohonan disekelilingnya. Ia hampir melewatkan sesuatu jika saja kedua matanya tidak memicing tajam. Ada sebuah bayangan hitam dibalik sebuah pohon. Tak jauh dari tempatnya berdiri.
Bayangan itu bersandar lelah.
Kaki panjangnya mendekati sosok itu. Pelan. Berbekal keraguan sang gadis akhirnya mencapai tempat dimana sosok itu berdiri lemah. Dari sisi lain pohon akhirnya ia dapat melihat jelas siapakah sosok itu.
"Alex! Syukurlah!"
Salah satu tangannya menepuk pelan pundak Alex–pemuda yang sejak tadi dikhawatirkannya. Dan tanpa diduga tubuh itu limbung dan jatuh ke tanah. Cagalli dengan cepat meraih tengkuk sang pemuda untuk membalik tubuh yang lebih besar darinya.
Kedua mata hijau teduhnya tertutup rapat. Wajahnya sedikit pucat. Perasaan khawatrir yang sempat hilang beberapa saat lalu kini menghampiri kembali. Dibawah lengannya, sang gadis dapat merasakan adanya sesuatu yang membuatnya basah. Wajah manis sang gadis kembali diliputi rasa panik.
"ALEX! SADARLAH! ALEX!"
Cagalli menepuk kedua sisi wajah si pemuda dengan kasar dan ia tidak mendapatkan balasan apapun. Kedua mata hijau itu masih terpejam. Kemudian ia mengambil pecahan kaca yang tergeletak di sekitarnya. Merobek kasar ujung bahan terusan yang menutupi lututnya. Ia membutuhkan sebuah kain untuk menutup luka sang pemuda dan tidak ada pilihan lain selain mengurangi bahan yang ia kenakan. Setelah kain dirasa cukup untuk membalut, ia melepaskan pakaian bagian atas si pemuda.
Etika, sopan santun dan istilah kesopanan lainnya tak lagi ia hiraukan. Yang ia harus dan tengah dilakukan saat ini adalah membalut luka pada bagian perut sang pemuda dengan kain terusannya. Itu tidak akan bertahan lama maka setelah dirasa cukup untuk menahan pendarahan, sang gadis kembali mengenakan pakaian beludru untuk menutupi tubuh bagian atas si pemuda. Ia tidak mengancingkannya dengan rapat dan langsung memapahnya untuk menjauh dari area kebakaran.
Dengan perlahan dan usaha ketenangan yang luar biasa, akhirnya Cagalli dapat mencapai tempat dimana si kuda masih berdiam diri. ia tersenyum lega.
"Nona.."
Cagalli menoleh cepat ketika menyadari suara parau itu memanggilnya. Si pemuda sudah mendapatkan kesadarannya kembali walau belum sepenuhnya.
"Alex?! Maaf. Tapi bisakah kau naik sendiri?"
Cagalli tahu itu pertanyaan bodoh. Tetapi ia akan lebih bodoh jika meninggalkan pemuda yang menolongnya sendiri. Dan jujur saja ia tidak sanggup memapah lebih jauh untuk si pemuda agar bisa menaiki kuda.
"Maaf telah menyusahkanmu."
Alex tersenyum tipis dibalik wajah pucatnya. Peluh masih mengalir deras disekitar pelipis. Wajah Cagalli semakin panik. "Tidak, tidak. Sekarang cepatlah kau naik. Setidaknya aku akan membawamu ke tempat yang lebih baik."
Dan tanpa banyak bicara sang pemuda berkepala biru menuruti permintaan si gadis pirang. Ia menaiki kudanya dengan cepat, seolah tidak merasakan sakit apapun pada tubuhnya. Cagalli terlalu bingung untuk memperhatikan sikap sang pemuda.
"Kau mundurlah, biar aku yang melajukan kudanya."
"Begitu? Maaf. Aku banyak menyusahkanmu, Nona." Alex tersenyum lagi. Salah satu tangannya menekan luka yang masih terbuka pada bagian perutnya. Ia merasa nyeri juga geli. Entah mengapa.
"Cagalli." Si gadis pirang akhirnya duduk dihadapan si pemuda biru. Kedua tangannya menggenggam erat tali kekang. "Namaku Cagalli. Tolong pegangan yang kuat, Alexander!"
kuda hitam itu berlari cepat. Membawa dua sosok pemuda-pemudi ditengah dinginnya udara malam.
.
.
Tok tok tok…
Yzak Joule melangkah cepat untuk menghampiri pintu kayu itu berdiri. Dan tidak butuh ketukan sekian kali baginya untuk menerima panggilan dari sang tamu diluar sana.
Kriieett..
Bilah-bilah kayu yang menyusun papan itu bergeser pelan. Pemuda berkepala abu-abu menyembulkan kepala sedikit untuk memastikan siapa gerangan yang mengetuk pintunya ditengah malam. Kedua iris birunya melebar saat melihat pemandangan yang tidak biasa. Temannya, pemuda berkepala biru tengah dipapah oleh seorang gadis berambut pirang.
"Astaga! Ada apa ini?!"
Cagalli mendengus kesal mendengar pertanyaan dengan nada tinggi yang dilontarkan laki-laki berkepala abu. Apakah matanya tidak melihat keadaan temannya saat ini? Ya, diperjalanan tadi Alexander telah menceritakan tentang pondok tempat tinggalnya di hutan juga teman-temannya. Itu pun karena Cagalli yang menanyakan sebuah tempat yang aman untuk membaringkan si pemuda makanya ia bersedia menjawab walaupun dengan kata terbata-bata.
"Uhuk.. uhukk.."
Salah satu telapak tangan si pemdua menutupi mulutnya yang tiba-tiba mengeluarkan darah segar. Ia hampir saja jatuh terduduk jika saja si gadis tidak menahana berat tubuhnya.
Yzak yang menyaksikan penderitaan sang teman akhirnya membuka pintu lebih lebar. Tanpa berkata apapun ia kembali masuk kedalam ruangan. Dan tanpa perintah, Cagalli mengikuti langkah si teman Alexander.
Mereka melewati beberapa lorong reman. Hanya ada beberapa obor yang berjajar di dinding batu sebagai penerangan. Cagalli tidak sempat memperhatikan mana saja jalan yang dilewatinya. Ia hanya terus memapah si pemuda yang semakin lemah. Gadis itu mengalami kesulitan saat melewati beberapa anak tangga yang mengantarkan mereka ke lantai lain dari pondok ini. Bukan sebuah pondok sebenarnya. Karena bangunan itu cukup luas dan memiliki banyak ruangan yang tersusun rapi.
Diujung lorong terdapat sebuah pintu kayu yang besar, walaupun tidak sebesar pintu yang ada di bagian depan rumah. Yzak membukanya dengan cepat. Cagalli hampir saja menjatuhkan tubuh lemah sang pemuda ketika menyaksikan apa saja yang ada dalam ruangan itu. untunglah sebuah kesadaran untuk menolong lebih mendominasi sehingga gadis itu mampu membaringkan tubuh si pemuda diranjang yang besar.
Sinar bulan menerangkan ruangan itu. walau sedikit samar, Cagalli dapat melihat jendela besar yang memberikan pemandangan hutan. Lilin-lilin tertata rapi diatas meja. Ada sebuah nakas disamping ranjang dengan ukiran rumit. Kelambu hijau pudar mengelilingi sisi-sisi ranjang tempat si pemuda berbaring. Gadis itu masih sibuk menikmati pemandangan dalam ruangan hingga tidak sadar bahwa Yzak telah keluar dari ruangan.
Alexander menjentikan jarinya sedikit kemudia sumbu lilin-lilin yang ada dalam ruangan itu menyala terang. Cagalli kembali menatap sang pemuda yang masih menutup mata. Ia ingin mengeluarkan beberapa pertanyaan tetapi diurungkan mengingat kondisi sang pemuda yang terlihat sangat kesakitan.
Jemari panjang sang gadis menyusuri pakaian si pemuda dengan pelan. Ia membukanya dengan perlahan, dan mengangkat kepala di pemuda untuk berbaring diatas kedua pahanya yang terbuka. Sang pemuda meringis pelan. Cagalli bergerak lebih hati-hati untuk membuka kain yang membalut luka itu. setelahnya ia meniup pelan luka yang masih terbuka, berharap rasa sakitnya dapat sedikit reda. Wajah sang pemuda melembut sesaat. Ia tersenyum.
Braakkk…
Cagalli menoleh cepat kearah pintu yang dibuka dengan kasar. Disana berdiri temannya, gadis berambut merah pendek yang telah meninggalkannya tadi. Di wajah manisnya tersiratkan kecemasan yang luar biasa. Cagalli menyipitkan matanya.
Gadis itu berjalan mendekat.
"Cagalli. Apa terjadi sesuatu padamu? Apa kau terluka?"
Si gadis pirang menjawab dengan gelengan kepala.
Ia sedikit terkejut saat menemukan temannya di dalam rumah ini juga. Tetapi kemudian matanya tertuju pada sebuah ember yang dibawa oleh Lunamaria. Mengerti arti tatapan sang teman, Lunamaria pun meletakan ember yang berisi air diatas nakas. Ia menenggelamkan sebuah kain bersih untuk membasuh.
Meminta keterangan dari Lunamaria dapat dilakukan nanti. Yang terpenting saat ini adalah menolong Alexander.
"Seperti yang kau lihat, Luna. Temanku ini yang terluka. Apa kau bisa membantuku untuk membersihkan sedikit noda-noda didekat lukanya?"
Kedua bola mata biru Lunamaria menatap ngeri si pemuda. Bukan, bukan wajahnya yang membuat ia sedikit gentar. Ia meringis ketika melihat seberapa besar dan dalam luka tebasan yang diterima si pemuda di tubuhnya. Kepala merahnya kemudian mengangguk pelan. "Tapi, aku tidk berani membasuhnya. Kau saja ya? Aku akan membantu mengambilkan air lagi."
"Baiklah. Aku juga membutuhkan air hangat. Tolong panaskan dulu, Luna."
"Ya, Stellar sedang melakukannya."
Keduanya terdiam. Cagalli sibuk membasuh peluh yang terus mengaliri wajah rupawan Alexander dengan air dingin. Ia akan membasuh lukanya dengan air hangat nanti. Sedangkan Lunamaria terheran-heran dengan sikap temannya. Wajahnya sedikit merona melihat betapa indah dan anehnya posisi kedua orang dihadapannya itu.
Cagalli, dengan rok yang terbuka hingga memperlihatkan bagian pahanya tengah menjadikan alas tidur kepala sang pemuda yang tidak mengenakan pakaian atasan. Walaupun Lunamaria dapat memahami keadaan yang ia lihat tetap saja ia tidak dapat membiarkan wajahnya melukiskan rona merah. Belum lagi sikap Cagalli yang dapat melembut terhadap orang asing. Laki-laki pula! Karena selama ia mengenal gadis pirang itu, belum pernah ia melihat keramahan diwajah sang gadis bila berhadapan dengan orang asing. Apalagi seorang tuan tanah. Pasti gadis itu akan memasang wajah tak menyenangkan.
Dan lagi, Lunamaria berani bertaruh. Cagalli pasti baru mengenal pemuda rupawan itu baru beberapa saat lalu. Belum ada semalam. Ia sangat yakin. Dan pertanyaannya adalah, bagaimana bisa?
Stellar memasuki ruangan dimana kedua gadis masih belum melontarkan kata apapun. Gadis kecil berambut pirang itu membawa sebuah baki besar berisi air hangat. Senyum ramah dan polos khas anak-anak terlukis diwajah manisnya. Lunamaria menyambut si gadis kecil dengan senyum juga kemudian membantunya membawa baki besar. Sedangkan Cagalli masih menyibukkan diri dengan kegiatannya bersama sang pemuda berkepala biru.
Stellar yang menyadari sikap kedua sosok yang begitu dinantinya hanya mampu tersenyum lebar. Ia sangat tidak terganggu dengan luka yang dialami sang teman–Alexander, justru ia amat sangat bersyukur.
"Lunamaria, Cagalli. Aku minta maaf, tapi bisakah kalian keluar dulu?"
Si gadis berambut merah mengangguk paham kemudian melangkah keluar. Beda halnya dengan Cagalli yang memberi tatapan heran juga bingung. Stellar semakin melebarkan senyumnya, hampir membentuk seringai. "Cagalli, Alexander pasti bisa diselamatkan. Tidak perlu khawatir begitu."
Mendengar suara lembut dalam nada bicara Stellar, Cagalli perlahan meletakan kembali kepala biru Alexander ke atas bantalan. Ia turun dari ranjang dengan hati-hati. Raut kecemasan masih terlukis diwajahnya. Stellar menepuk pundak sang gadis pirang ketika mereka berdekatan.
"Luka seperti saja tidak akan membunuhnya."
Cagalli menyahuti dengan senyuman. "Syukurlah kalau begitu."
"Oh ya, aku sudah menyiapkan baju ganti untukmu. Dan sebaiknya kau istirahat saja. Aku yakin besok pagi ia pasti sadar."
Sebelum berjalan keluar ruangan, sekali lagi Cagalli menengok kearah sang pemuda yang terlelap dengan sedikit rintihan.
.
.
Satu jam telah berlalu sejak Stellar membantu Alexander menyembuhkan lukanya. Gadis kecil itu masih meletakan kedua telapak tangannya diatas luka sayatan Alex. Wajah sang pemuda perlahan-lahan kembali merona. Kedua kelopak matanya perlahan terbuka. Mata hijaunya kembali jernih ketika melihat si gadis kecil duduk disamping pembaringannya.
Kesadarannya belum sepenuhnya pulih tetapi ia terlalu terburu-buru untuk bangkit, membuat Stellar menahan pundak terbukanya agar kembali berbaring. Alexander menurut. Ia tidak banyak melawan. Dan dalam seketika rasa sakit yang sebelumnya mendera telah menguap. Luka dibagian perutnyanya memudar.
"Bisa ceritakan padaku apa yang terjadi, hei Tuan Muda?"
Bola mata hijau jernihnya melirik sekilas pada sosok Stellar yang tengah membereskan perlengakapan pengobatannya. Tidak banyak, hanya baki berisi air dan kain-kain lap yang basah.
"Kurasa kau sudah tahu bagaimana ceritanya, bukan?"
"Tidak secara keseluruhan. Kecuali hanya adegan sentuh-menyentuh antara kau dan gadis pirang manis itu." Stellar mengakhiri kalimatnya dengan kikikan geli. Alex kini sepenuhnya menghadap pada sang gadis kecil. "Oh, jangan ragukan kemampuanku untuk menyihirmu, hei Tuan. Aku hanya memberikan sedikit mantera agar gadis itu tidak lepas terlalu jauh darimu. Tentunya setelah ia atau kau menyentuh lebih dulu."
"Stellar. Kau jangan sembarangan berbuat seperti itu."
"Sudah ku bilang, bukan? Jangan ragukan kemampuanku." Gadis itu bangkit dari ranjang. Berjalan menuju jendela yang terbuka lebar. Bulan keperakan telah tertutupi awan gelap. "Gadis itu memilki sesuatu yang tidak ingin dilihat oleh siapapun, bahkan oleh orang sepertiku. Dan sebelum fajar menjelang, aku telah mengatur agar kau bertemu dengannya mala mini. Sedikit bumbu dapat menyambungkan segala kemungkinan, itulah yang kulakukan padamu."
"Dan bocah yang menyerangku? Dia sungguh merepotkan."
"Tentu bukan aku. Tetapi aku harus membalas kebaikannya karena dengan kehadiran mereka, manteraku dapat berguna." Stellar berbalik menghadap si pemuda. "Cagalli. Dia pasti akan kembali padamu."
.
.
To Be Continued
.
.
A/N (lagi?): hah, maaf maaf banget kalau makin kesini ceritanya makin ga jelas dan para reader gagal paham dengan maksud cerita ini. Maaf… oh ya, ada yang tau gmana karakter Stellar disini? Saya harap pada tahu ya, karena entah kenapa saya suka bgt menggambarkan Stellar disini.. /ditendang/ maaf juga kalau banyak typo, saya ngerjain ini di hari yang berbeda-beda jadi maaf kalau tulisannya acak2an. Udah gtu dulu ya, mudah2an miina pada bersedia agar saya melanjutkan fic ini yaah walaupun saya juga bingung mau bikin gmna lagi buat ke depannya -_- mohon bantuan sarannya yaa.. sumbangan ide juga boleh :)
Balasan review :
Dinah :iya, ni saya udah update. Hehe. Saya juga bingung dengan cerita ini /ditimpuk/ dan maaf, di chapter ini belum kejawab semua hubungan para chara karena saya mau mepertemukan Athrun-Cagalli dulu. Jadi, ya beginilah.. makasih udah mampir ya :) mudah2an ga bosan sama ceritanya
Alyazala : ini lanjutannya. Sebelumnya mohon maaf ya karena cuma bisa ngasih cerita begini. Soal zaman, aku ngambil setting dengan zaman Abad Pertengahan akhir. Yaah, menurut pandangan saya, zaman itu mitos-mitos, penyihir dan hal-hal gaib masih sangat berlaku. Mudah2an ga mengecewakan ya. Makasih udah mampir :) mudah2an ga bosan untuk mengikuti ceritanya.
Lenora Jime : Plantagenet? Mudah2an bisa ketebak di chapter depan ya. Untuk chapter ini saya fokus ke AsuCaga dulu. Hehe. Iya, ada penyihirnya juga. Makasih udah mampir ya.. jangan bosan2 baca fic ini ya.
Popcaga : iya, makasih ya pop udah bersedia meninggalkan jejak di fic saya yang sangat abal ini. Mudah2an pop ga bosan dan mampir lagi di chapter selanjutnya.
Nel : haha, bukan.. bukan itu Plantagenet-nya.. ada sesuatu yang lain kok. Hehe /ditimpuk/ ni, udah bisa dilihat kan siapa yang sama Cagalli.. hehe.. ni udah dilanjut. Makasih udah mampir ya. Mudah2an ga bosan baca cerita selanjutnya.
GaramMerica : saya berterimakasih banget atas saran EYD nya. Tapi maaf kalau ada banyak yang kelewat dan meleset.. aku ngerjain ini sambil ngantuk juga soalnya /diguyur/ syukurlah kalau Garam-san suka Shanii jadi saudara Kira, tapi mohon maaf karena aku ga jelasin gimana mereka jadi saudara. Hehe. Jujur, saya jadi ngerasa ga enak sama Garam-san. Masalahnya masih banyak kekurangan di cerita ini. Tapi saya harap Garam-san juga ga bosan meninggalkan jejak di cerita saya ini ya. Duh, maaf bikin bingung. Hehe.
.
.
Aduh, maaf saya jadi banyak omong. Intinya, saya mohon maaf atas segala kesalahan dalam penulisan, alur dan gaya bahasanya. Kritik dan saran sangat dinantikan. Mohon bantuannya!
