"Apa saja yang kau temukan semalam?"
Murrue Ramius memijat pelan pelipisnya yang terasa sakit. Auel Neider dihadapannya memberikan tatapan datar. Matahari sudah seperempat naik. Dan kini keduanya duduk ditengah ruang makan.
"Nona Cagalli dibawa oleh seorang laki-laki berambut biru. Dan ia bersama seorang penyihir perempuan bertubuh anak-anak. Mereka tinggal disebuah bangunan kosong dipedalaman Minoa."
"Apa mereka memilik pasukan?"
"Kurasa tidak. Kecuali mereka bersama dua laki-laki lain yang tinggal bersama disana."
"Seberapa besar kekuatan mereka?"
"Entahlah. Aku hanya menghadapi laki-laki yang membawa Nona Cagalli. Dan aku belum mengetahui dengan pasti seberapa besar kekuatannya karena ia tidak mengerahkan seluruhnya saat menghadapiku. Dan saat aku membawa Nona Cagalli kembali dari tempat tinggal mereka, aku meminta bantuan Sting."
"Si Peri Hutan. kalau tidak salah ya?"
Kepala biru langitnya mengangguk cepat.
"Seberapa luas wilayah kekuasan Peri itu?"
"Hampir seluruh hutan di Wisshelbach dikuasainya."
Langkah kaki yang beradu dengan bilah kayu terdengar menggema dalam ruangan. Auel dapat merasakan pergerakan seseorang yang berjalan menuruni tangga. Dari lantai atas.
Murrue menghentikan gerakan jemarinya pada pelipis. Kepalanya kini terangkat sempurna. Ia bangkit dari kursi kayu untuk menyambut si penghuni rumah. Gerakan itu diikuti oleh Auel.
"Oh ya. Laki-laki yang membawa Nona Cagalli semalam dapat mengendalikan api. Pertarungan jarak jauh sangat menguntungkannya"
Murrue mematung sesaat.
Suara langkah kaki berhenti dipenghujung tangga. Mendekati ruangan tempat mereka berbincang. Auel kini telah menghilangkan keberadaannya.
Wanita berkepala coklat gelap itu pun berbalik menghadap tangga. Disana berdiri Cagalli dengan baju terusan berwarna putih gading. Kedua matanya terlihat lelah. Senyum hangat terlukis di wajah cantik Murrue untuk menyambutnya pagi itu.
"Bibi. semalam aku bermimpi aneh." Ucap Cagalli dengan suara lirih.
Senyuman di wajah Murrue tidak terhapuskan. Ia telah mengatur semuanya. Wanita itu kini menyibukkan diri di dekat tungku batu yang ia gunakan sebagai kompor. "Benarkah? Bisa ceritakan padaku?"
Si gadis pirang pun melangkah pelan menuju kursi kayu yang menghadap Murrue. Kedua lengannya digunakan untuk menopang dagu.
"Kurasa tidak perlu. Bukan hal penting."
"Begitukah?" Murrue masih sibuk mencampurkan rempah-rempahan kedalam masakannya. "Kalau begitu setelah sarapan, kemaskan semua pakaian dan bawa barang-barangmu."
"Eh? Kita ingin kemana memangnya?"
"Kita akan pindah ke kota. Onogoro."
Si gadis pirang hanya mampu menatap sendu punggung wanita yang telah mengasuhnya sejak kecil.
.
.
Gundam SEED/Destiny Sunrise
Svezza Annashya present
The World
Chapter 4 : Preparation
Warning inside
.
.
Pengadilan atas terdakwa Shani Andras dilaksanakan di tengah ibukota Kerajaan, Plant. Sebuah panggung tinggi telah disiapkan dengan segala keperluan lain. Hadir juga seorang algojo dengan wajah tertutup selembar kain dengna kapak yang disandarkan pada sisi tubuhnya. Panji-panji milik kerajaan yang berlambangkan kelopak mawar merah dan putih berkibar mengelilingi lokasi pengadilan. Kursi-kursi berornamen tanaman mawar yang melingkar telah mengisi barisan paling depan –tempat yang disiapkan bagi keluarga kerajaan.
Para penduduk sekitar mengerubungi tempat pengadilan seperti lalat yang mengerubungi bangkai. Sepuluh menit lagi acara besar akan diselenggarakan. Para Baron dan bangsawan lainnya telah tiba, mengisi kekosongan disekitar panggung untuk menyaksikan puncak acara yang begitu dinantikan.
Kira Yamato memilih untuk berdiri dibarisan belakang. Mwu la Flaga pun mengikuti langkah gontai sang kerabat. Tidak ada rasa bahagia yang terlukis di wajah keduanya.
Mwu menepuk pelan pundak pemuda bersurai cokelat. "Tegakan kepalamu disini. Jangan perlihatkan kegentaran hatimu, nak. Kau harus kuat untuk mengalahkannya."
Manik amethyst Kira melirik sedikit pada manik biru safir milik Mwu. Tidak ada rasa teguh yang selama ini diperlihatkannya. Pemuda berkepala cokelat itu terlalu lelah menghadapi hidup dan kenyataan.
"Mereka semua berkorban dalam bungkam untuk masa depanmu. Jadi kau tidak perlu gentar seperti ini."
Kira mengangkat kepalanya ragu. Pandangannya kini menyapu seluruh panji-panji yang berkibar tegak disekelilingnya. Mawar Merah dan Mawar Putih. Bukti bahwa Dinasti Meroving telah berhasil mempersatukan kekuasaan dua keluarga sebelumnya.
Ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
"Para Tuan dan Nyonya yang terhormat dan semua hadirin yang datang. Hari ini kita akan menyaksikan pengadilan terhadap seorang Tuan Tanah yang tamak, yang telah menyengsarakan seluruh penduduk kota Plant. Shani Andras."
Diatas sana, dengan jelas Kira dapat menyaksikan seorang laki-laki bersurai hijau terang yang digiring oleh beberapa pengawal kerajaan untuk berdiri ditengah panggung. Si terdakwa. Shani Andras. Kedua pergelangan tangannya diikat erat dengan tali hitam dibalik punggungnya.
Plant. Kota kelahirannya. Akan terus menjadi saksi bisu atas penghapusan seluruh anggota keluarganya. Satu persatu.
Mwu memejamkan kedua matanya pelan.
Kedua iris amethyst itu menyalak tajam juga berkaca diwaktu yang bersamaan. Kedua tangannya semakin mengepal erat. Ia menyalurkan segala perasaan kesal, benci dan iba dalam kepalan tangannya. Buku-buku jarinya memutih. Tak menunggu waktu lama bagi darah segar untuk mengaliri kepalannya.
Mwu kembali membuka kedua matanya.
Dihadapan semua orang, Shani tengah duduk bersimpuh. Kedua matanya kini tertutupkan oleh kain hitam. Ia tidak takut maupun gentar. Wajahnya melukiskan sebuah senyum tipis. Mwu sangat mengetahui kepada siapa laki-laki itu tersenyum. Ia meraih lengan Kira yang masih terkepal.
"Saudaramu bahkan tidak bersedih untuk hukumannya. Seharusnya kau juga tidak perlu bersikap seperti ini."
Perlahan-lahan pandangan Kira menurun. Samar ia melihat bagaimana Shani tersenyum hangat disaat sang algojo mengayunkan kapak besarnya. Siap mengakhiri hidup laki-laki yang tertuduh sebagai terdakwa.
Pada akhirnya air mata mengalir tanpa diminta. Kira menangis saat sang saudara jauh tergeletak diatas mimbar. Tak lagi bernyawa. Hanya dengan sekali ayunan kapak sang algojo.
Mwu hanya mampu menghela nafas berat. Kepala pirangnya mendongak menatap matahari yang hampir mencapai puncaknya. Tak ada orang lain yang mampu ia benci kecuali sosok yang duduk dibarisan paling depan. Seorang laki-laki berambut gelap melebihi bahu. Dengan kedua iris mata tajam keemasan.
Ya. Ia sangat membenci Raja dari bangsanya. Gilbert Durandal.
"Yang Mulia Raja Durandal memang hebat! Ia langsung menghukum siapapun yang terbukti bersalah."
"Ya! Ia sangat mementingkan kemakmuran para rakyatnya."
"Hei-hei! Ayo kita ikut bersorak untuk Yang Mulia!"
"Hidup Yang Mulia!"
"Hukum semua penguasa yang berbuat lalim!"
"Diberkatilah Kau, Yang Mulia Durandal!"
Kira hampir terjatuh jika ia tidak segera menguasai diri untuk bersikap tenang. Gemuruh bisikan para penduduk begitu mencemooh sang korban yang kini telah berjalan menuju akhirat. Ia muak. Sangat muak dengan kehidupannya saat ini. Tapi tidak ada yang mampu ia lakukan selain diam dan menurut.
Benar kata Paman Mwu. Ini semua demi masa depan kami.
Ia menoleh pada pria yang masih berdiri disampingnya. Wajah tampan itu harus dikuasai oleh guratan kebencian. Tidak butuh waktu lama bagi Kira untuk menyadari hal itu karena Mwu melukiskannya dengan jelas. Kedua iris biru sang pria masih mengawasi lekat sosok pemimpin yang kini berkuasa.
Pria lain yang duduk dibarisan depan menampilkan senyum dusta pada para rakyat yang memuji kebesarannya. Ia bangga. Tentu. Ia pantas dipuji atas segala sikap dan pemikirannya. Ia mampu menyingkirkan siapapun yang dikehendaki tanpa harus menodai kedua tangannya sendiri.
Dan hari ini adalah salah satu hasil pemikirannya yang luar biasa.
Menghukum seorang bangsawan atas segala tuduhan yang sudah direncanakan. Namun siapa mengira bahwa itu hanyalah drama sang penguasa. Kenyataannya adalah ia hanya ingin menyingkirkan semua Plantagenet dari Tanah Kekuasaannya.
Penduduk masih berkumpul. Bahkan semakin ramai membuat suasana lapang menjadi lebih hangat. Angin musim gugur berhembus pelan.
"Ayo Kira. Tidak ada yang harus kita lakukan lagi disini."
Mwu lebih dulu melangkah. Kira hampir mengikutinya jika saja seseorang tidak menarik pelan jubah biru gelapnya. Tanpa perlu paksaan pemuda itu pun berbalik untuk melihat siapa yang melakukan itu.
"Hei nak, ada apa sampai menarik pakaianku?"
Suaranya melembut ketika ia melihat seorang anak laki-laki yang terlihat takut. Kedua lututnya melipat untuk menyamakan tingginya dengan si anak laki-laki.
Melihat tak ada ucapan apapun yang terlontar, Kira kemudian mengusap lembut pucuk kepala hitam si anak laki-laki. Ia berusaha untuk mengurangi ketegangan diwajah kekanakan itu.
Tanpa diminta lebih lanjut si anak laki-laki menyerahkan sebuah kertas keabuan yang tak lagi lurus. Sisa-sisa lipatan terbentuk dipermukaan tipis itu dan membentuk gelombang-gelombang tak beraturatn. Kertas itu masih dalam keadaan terlipat rapat.
Kira meraihnya dengan pelan. Pandangannya hanya fokus pada kertas yang diberikan sang anak laki-laki. Setelah benda itu berpindah tangan, Kira tak langsung membukanya. Ia tersenyum hangat pada sosok dihadapannya. Tak lupa kembali mengusap pucuk hitamnya.
"Terimakasih."
.
.
Derap langkah kaki kuda memecah keheningan malam disekitar kediaman Andras. Sang pemilik telah resmi meninggalkan kastil batu yang menjulang diatas bukit Cheviot siang tadi.
Para penunggang hanya terdiri dari dua orang laki-laki yang masih remaja. Keduanya mengenakan pakaian militer kerajaan dengan terusan berwarna abu yang mencapai mata kaki, sepatu tinggi mencapai lutut berwarna hitam dan jubah merah sebagai pakaian luar.
Gemerincing Rosario keperakan yang terkalung di leher keduanya mengiringi kedatangan mereka dikastil yang sepi. Hanya beberapa penjaga yang terlihat berdiri di muka kastil untuk menyambut. Keduanya turun dari punggung kuda setelah mencapai jarak terdekat pada kastil.
Bilah-bilah pedang tersampirkan disisi tubuh keduanya. Mereka sigap melakukan perlawanan jika tidak berhasil mencapai tujuan.
"Selamat malam. Kami datang kesini atas perintah Yang Mulia Durandal."
Pemuda berkepala kuning pasir maju lebih dulu untuk menyerahkan sebuah gulungan kertas pada salah satu penjaga. Gulungan itu berpindah tangan setelahnya. Dan tanpa diperintah lebih jauh para penjaga yang semula berdiri di depan gerbang kastil telah bergeser menyamping. Memberikan ruang jalan bagi kedua pemuda asing.
"Mulai hari ini–" kini si pemuda berkepala hitam yang bersuara. "–Kastil ini adalah milik Kerajaan dan dibawah penguasaan kami. Ksatria Meroving. Tugas kalian juga dibawah pengawasan kami sebagai wakil Kerajaan."
Semua penjaga yang berada disana membungkuk penuh hormat pada kedua pemuda utusan Kerajaan.
"Jangan biarkan siapapun untuk memasuki kastil ini. Bahkan jika seorang Duke sekalipun."
Gerbang besar dihadapan mereka terbuka lebar.
Pemuda berkepala pirang pasir itu kemudian menaiki punggung kudanya kembali. Diikuti oleh pemuda berkepala hitam yang mengekor dibelakangnya.
"Baik, Tuan."
Kini derap langkah kuda keduanya diperlambat. Sebelum benar-benar memasuki bangunan kastil megah itu, keduanya harus melewati deretan pepohonan yang diatur dengan rapi. Angin malam ini berhembus tidak terlalu kencang tetapi mampu menerbangkan helaian si pemuda pirang pasir yang terikat erat. Wajahnya terlihat begitu tenang ketika memasuki wilayah asing.
Berbeda halnya dengan si pemuda lain yang berjalan dibelakangnya. Kepala hitamnya terus menoleh ke segala arah. Ia hanya ingin memastikan juga memahami seberapa pentingkah wilayah ini bagi Kerajaan mereka. Sejak pertama menerima perintah ini di Istana sang Raja, ia tidak mengemukakan sanggahan apapun. Dan kini pertanyaan yang berputar dikepalanya masih belum terjawab. Bahkan saat ia melihat keseluruhan wilayah kediaman Andras.
"Hei, Rey. Aku masih tidak mengerti alasan Yang Mulia memerintahkan kita untuk mengawasi tempat ini. Dan juga mengapa harus kita–yang masih pemula dalam jajaran militer?"
Akhirnya pertanyaan yang tertahan dalam kepala hitamnya dapat terungkap. Ia melihat punggung sang rekan penuh tanya.
"Aku juga belum mengerti. Alasan mengapa kita yang dipilih oleh Yang Mulia, itu karena Yang Mulia Durandal mempercayakan kita untuk mengemban tugas ini. Tidak peduli pemula maupun pemimpin. Kepercayaan tidak mengenal jabatan, Shin."
Shin adalah pemuda berkepala hitam. Ia memiliki nama lengkap Shin Asuka. Ia terlahir dalam keluarga Baron yang berkuasa di wilayah Onogoro. Ini memang bukan tugas pertamanya sebagai anggota militer Kerajaan. Hanya saja ada yang berbeda. Ini adalah tugas yang langsung diberikan oleh Yang Mulia Raja mereka. Suatu kehormatan memang. Tetapi tetap saja menimbulkan banyak pertanyaan dalam benaknya. Salah satunya telah dilontarkan pada sang rekan.
Langkah kaki kuda telah mencapai halaman depan kastil yang tidak ditumbuhi rumput. Kedua iris merah cerah Shin melebar takjub melihat bagaimana indahnya bangunan yang berdiri kokoh dihadapannya. Bangunan yang dikerangka oleh batu berwarna putih ternyata juga dihiasi oleh kaca-kaca berwarna-warni yang cerah dimasing-masing sisi kastil. Membentuk mosaik bergambarkan rumput yang ditanami tulip merah, kuning dan jingga. Gambar lain membentuk sulur tanaman berwarna hijau yang berujung dengan bunga mawar berkelopak putih. Masih ada bentuk lain tetapi karena takjub Shin sampai bingung untuk menyebutkan mosaik apa saja yang tersaji disana.
Sinar bulan menghidupkan keasrian mosaik pada dinding yang bercahaya.
Kedua iris biru Rey Za Burrel tidak memantulkan keceriaan layaknya sang rekan. Ia hanya menatap datar bangunan kastil dihadapannya. Pandangannya kini beralih pada atap runcing yang berwarna cokelat pekat tertempa sinar rembulan yang menggantung dilangit malam. Ia menemukan sosok bayangan hitam yang berdiri tegak diatas sana. Hembusan angin mengibarkan jubahnya yang menjuntai. Rey memicingkan matanya tajam.
"Shin. Cepatlah masuk"
Suara tenang dan penuh ketegasan si pemuda pirang membuyarkan lamuman si pemuda hitam. Tanpa banyak bicara ia langsung mendobrak pintu kayu sebagai satu-satunya–yang ia tahu–sebagai jalan masuk kedalam kastil.
Rey masih diam di depan halaman. Matanya masih memandang tajam pada sosok yang kemudian menghilang dengan cepat.
"Shin. Aku akan pergi ke bagian belakang. Kau periksa bagian dalam. Ada penyusup disini!"
Tanpa menunggu jawaban dari sang rekan, Rey berlari cepat memutari bangunan kastil yang luar. Bilah pedangnya ia tarik dari sisi tubuhnya.
Shin berlari menuju lorong demi lorong. Berulang kali ia mengucap syukur dalam gumamannya karena para penjaga telah menyalakan obor-obor untuk menerangi ruang demi ruang dalam kastil. Ia belum sempat melihat peta kastil ini sebelumnya. Jadi jangan salahkan dirinya kalau tersesat diremangnya ruangan. Ia bahkan hampir terjungkal ditangga saat memasuki lorong lain dibawah tanah.
"Sial!"
Belum selesai sampai disana kecerobohan yang menimpanya. Kini ia harus menubruk patung wanita bersayap yang terbuat dari batu pualam. Ia terkejut. Tentu. Tetapi bukan karena permukaan keras sebuah patung yang mengejutkannya.
Disisi lain dari patung itu telah berdiri sosok penyusup yang telah dibicarakan Rey sebelumnya. Penampilan sosok itu tidak jauh berbeda dari mereka–jubah panjang berwarna gelap, sepatu tinggi mencapai lutut. Namun ada yang berbeda dari sosok itu. ia tidak mengenakan Rosario atau logam apapun yang menghiasi jubahnya, tetapi dilengkapi sebuah tudung kepala yang menyamarkan seluruh wajahnya dibalik keremangan cahaya.
Shin menarik bilah pedangnya. Ia mengarahkan langsung pada sosok misterius yang muncul tiba-tiba dihadapannya. Namun dengan cepat sosok itu melompat mundur, menghindar dan mengambil jarak yang cukup jauh dari jangkaun si pemuda berkepala hitam. Tidak menyerah, Shin berlari tak kalah cepat menghampiri sang sosok dan kepalan tangannya berhasil mengenai bahu tertutup si sosok misterius. Ia tidak membalas, bahkan tidak mengeluarkan senjata apapun untuk membalas serangan Shin. Jelas hal itu membuat si pemuda remaja menggeram kesal karena merasa diremehkan. Ia menyerang sosok itu bertubi-tubi dengan pedangnya bahkan kaki juga tangannya ikut menyerang.
Tanpa diduga oleh Shin, sosok itu mengeluarkan senjata berbentuk jarum berukuran besar dengan panjang satu lengan. Cukup besar bahkan dapat tepat menembus jantung siapapun yang dituju. Bukan itu yang membuatnya terkejut. Melainkan benda itu terlihat berkilauan dan permukaannya dapat menembus pandangan. Walau indah, pemuda hitam itu sangat yakin bahwa benda itu bisa sangat berbahaya jika diayunkan dengan tepat dan cepat pada musuh.
Shin mengambil langkah mundur. Ia siap menghadapi serangan sang sosok dengan mengangkat pedangnya setinggi dada. Tetapi serangan itu tak kunjung datang dan yang terjadi berikutnya sungguh diluar harapan.
Sosok itu membelah patung berjudul Minerva dengan cepat. Dan sebelum Shin melangkah kemanapun, sosok itu telah menyiapkan jeruji Kristal Abadi disekelilingnya. Mengurung sang pemuda. Shin tidak dapat melangkah. Bahkan pedangnya tak mampu menebas jeruji berkilau dihadapannya. Namun kedua iris merahnya mampu melihat dengan jelas dari balik celah jeruji.
Sosok itu mengambil sebuah perkamen yang tersembunyi dalam tubuh sang Minerva. Kemudian mengambil langkah besar untuk undur diri dari pertunjukan singkatnya. Shin membanting bilah pedangnya gusar. Dentingan logam beradu dengan lantai batu untuk memecahkan keheningan.
.
Rey Za Burrel menanti dengan penuh ketenangan di halaman belakang kastil. Ia begitu yakin bahwa sang penyusup akan datang di tempatnya berdiri saat ini.
Dan tanpa banyak jeda, harapannya terkabul. Sosok itu melewatinya dengan cepat. Mengabaikan kehadirannya. Rey tentu tidak menerima pemikiran sosok itu dan dengan gerakan cepat ia melontarkan rantai besi yang tersembunyi dalam bilah pedangnya pada sang penyusup. Ia berusaha untuk menghentikan pergerakan musuh tetapi berhasil dihindari.
Pemuda pirang tidak menyerah sampai disana. Kesabarannya telah habis. Dengan segala ilmu yang ia miliki, ia merubah ujung tumpul rantai besinya menjadi anak panah tajam yang tajam. Kali ini gerakannya meningkat dan sang penyusup hampir termakan oleh muslihatnya. Seringai menghiasi wajah pucat si pemuda pirang.
"Jika kau merasa sebagai seorang ksatria, maka tunjukanlah wajahmu. Hanya seorang pembunuh yang melukai musuh tanpa mengenal namanya."
Sang penyusup masih diam. Ia tidak terpengaruh dengan kalimat yang Rey lontarkan. Jubahnya masih menyamarkan sosoknya.
Tidak ada pilihan bagi Rey, maka ia kembali memulai serangannya. Kali ini rantai yang ia lontarkan semakin banyak juga cepat. Ia berhasil mengurangi pergerakan sang musuh hingga salah satu mata rantainya menusuk lengannya. Seringai di wajah Rey semakin tampak jelas. Ia masih belum menghentikan serangannya. Dan kali ini wajah sang penyusuplah yang menjadi sasarannya.
Takk..
Mata rantai itu jatuh ke permukaan tanah saat sebuah balok kristal menghalangi jalannya. Serangan sang pemuda pirang telah terhenti. Sang musuh menjadikan balok Kristal di telapak tangannya sebagai tameng yang menutupi wajahnya. Tetapi ia telah gagal menyembunyikan kepalanya. Tudung kepalanya telah jatuh karena hembusan angin yang diakibatkan oleh serangan Rey yang bertubi-tubi.
Kedua iris safir sang pemuda pirang membulat sempurna.
"Wanita?"
Sang penyusup tidak memberikan ekspresi apapun. Rey masih mampu memastikan identitasnya walau hanya dengan sekali lihat. Kedua mata si Wanita Penyusup memang tertutupkan sebuah kain berwarna putih tetapi surai merah mudanya yang tidak berhasil tertutupkan tudung telah menjelaskan segalanya.
Sang wanita penyusup tidak lagi merepotkan diri untuk menaikan kembali penutup kepalanya. Dengan gerakan cermat dan tergesa ia menggenggam erat lembaran perkamen kemudian berlari menjauh dari sosok musuhnya. Rey hanya memandang diam kepergian sang musuh dengan tangan terkepal pada bilah pedangnya. Mata safir jernihnya masih mengintai kepergian sang musuh hingga tenggelam dalam bayangan malam.
"Penyihir Plantagenet rupanya."
.
.
.
Yzak Joule juga Dearka Elthsman tengah duduk tenang diruang makan. Hidangan yang disajikan oleh gadis terkecil diantara mereka telah tandas sejak duabelas menit yang lalu. Meja bundar itu tak lagi dipenuhi peralatan makan. Hanya tersisa besi penyangga lilin yang berdiri pada diameternya. Kedua iris kelabu Yzak memantulkan cahaya temaram sinar lilin.
Dentingan piring juga gelas porselen dari sudut ruangan beradu pelan diantara kebisuan keduanya. Stellar Louisser masih menyibukan diri untuk membersihkan peralatan makan. Langkah kaki tegas seorang pemuda mengiringi kegaduhannya. Tak lama gesekan kursi kayu pada lantai granit menggantikan suara langkah. Pemuda itu duduk diantara jarak kedua pemuda lain.
"Shani Andras telah dihapus oleh Kerajaan."
Kali ini Dearka yang memulai pembicaraan. Kepala biru si pemuda yang baru hadir menoleh cepat padanya.
"Kenapa kau baru mengatakannya, Dearka?!"
Si pemuda biru memukul kasar permukaan meja kayu. Guratan amarah terlukis diwajah tampannya.
Stellar tidak merasa terganggu. Ia masih mempertahankan suara dentingan porselen yang terus berputar di kedua tangannya.
"Kau tidur seperti mayat, Bodoh! Salahkan dirimu sendiri yang tidak mengenal waktu!"
Kali ini sanggahan disampaikan oleh Yzak. Kata-katanya disertai nada tinggi yang hampir mengundang perkelahian bodoh diruang makan. Stellar memutuskan untuk menyelesaikan acara mencucinya.
"Sudahlah Yzak. Tidak ada yang perlu disalahkan disini." Suara nyaring Stellar menengahkan perdebatan kecil dimeja makan. Kedua tangan mungilnya meraih kain yang dilipat rapi di dekat meja makan. "Takdirlah yang menentukan hidup Tuan Andras berakhir ditangan para algojo."
"Tetapi aku bahkan belum menanyakan apapun padanya–"
"Itu salahmu sendiri! Kau sudah membiarkannya pergi malam itu."
"Yzak. Hentikan perdebatan ini sebelum ada pisau yang melayang."
Dearka memijat pelipisnya pelan saat mengakhiri kalimat. Ia sangat lelah.
"Shani Andras–" salah satu tangan si pemuda biru terkepal erat. "Hilang sudah harapanku untuk menemukannya. Bahkan aku tidak memiliki petunjuk diantara kedua keluarga itu. Lancaster atau York?! Laki-laki atau perempuan?! Plantagenet mana lagi yang harus ku tangkap hidup-hidup untuk menanyakan dimana keberadaan makhluk sial itu?! Cih!"
Untuk kedua kalinya si pemuda berkepala biru membanting kepalan tangannya diatas meja.
"Tenanglah, Tuan Muda. Setidaknya ada sedikit harapan. Langkah bodohmu yang membiarkan si bangsawan lama pergi begitu saja sepertinya akan membawa keberuntungan lain bagi kita. Aku menemukan hal yang lebih menarik dari seorang Shani Andras. Gadis pirang yang berkunjung kemarin malam. Juga laki-laki yang kau ceritakan tempo hari." Jari-jemarinya terkait erat di depan wajahnya, membentuk jembatan untuk menyangga dagu. "Biar waktu yang menjawab."
Stellar berucap tenang.
Kepala abu Yzak Joule menoleh cepat pada si gadis kecil dengan kerutan di dahinya.
.
.
.
Kedua iris hitam Kira Yamato bergerak lambat menekuni kata demi kata yang tertera diatas perkamen. Lacus Clyne berdiri dengan sigap disisinya. Lengan kirinya terbalut sebuah kain putih. Menutup luka tusukan yang baru saja didapatnya malam ini.
Kira awalnya tidak tampak ragu melihat keadaan Lacus pada saat kembali ke tempat singgah mereka. Walau darah terus mengalir di lengan si gadis bersurai merah muda tetapi ia tetap meminta Kira untuk tidak mengkhawatirkannya. Ia hanya menyerahkan gulungan perkamen yang lembab ke tangan Kira diiringi sebuah senyuman hangat. Tidak merasakan sakit apapun yang menderanya.
Hingga kedua orang itu berakhir diruang tengah. Kira duduk di kursi kayu dekat perapian sedangkan Lacus bersiaga di sisinya. Sejak kedatangannya, kedua iris biru pucat sang gadis tidak pernah melepaskan pandangan dari sekeliling. Ia harus tetap berjaga untuk melindungi sang terkasih.
Kira masih berdiam menatap tulisan tangan yang rapi milik sang saudara jauh. Ia tidak menemukan keraguan apapun disana saat memperhatikan huruf demi huruf yang diukir dengan indah.
Hingga akhirnya ia menemukan kalimat-kalimat inti dari tulisan itu.
Aku senang mendengar bahwa kau masih hidup. Setidaknya aku mengetahui bahwa aku masih memiliki saudara ditengah-tengah dunia yang penuh dengan pengasingan.
Kira saudaraku.
Aku sudah mendengar tentang dirimu selama ini. Dan semua aib tentang keluarga kita di masa silam.
Tetapi bukan itu yang ingin kujelaskan disini. Aku yakin kau lebih memahami hal itu.
Tetapi ada sesuatu yang salah dalam keluarga kerajaan saat ini. Tentang keluarga Meroving yang baru-baru ini kutemukan buktinya.
Wahai sahabatku. Aku harap kau mampu menelusuri semua teka-teki ini lebih jauh dari yang ku ketahui.
Maka datanglah ke biara Olavinlinna, menyamarlah sebagai salah satu rahib disana. Datanglah ke perpustakaan biara. temui sang Kepala perpustakaan biara, Bapa George Glenn. Perkenalkan dirimu sebagai Baron of Lusignan, Kira Yamato. Ia sangat menghargaimu dengan segala prestasi militer yang kau raih.
Lakukanlah. Buat ia mengakui.
Bahwa ia mengetahui siapakah Putera Mahkota yang selama ini ditenggelamkan dalam dusta keluarga Meroving.
.
.
.
To Be Continued
.
.
A/N : Maaf miina… saya melulu yang nampang di fandom ini *ditimpuk*
Nah, sekarang saya mau ngajak semuanya untuk main tebak2an ni. Pasti pada tahu kan siapa aja yang dimaksud dalam cerita? Hehe..
Minta saran buat ngelanjutin fic ini atau ga.. tolong berikan tanggapan yaa…
Ohya, makasih buat semua reader yang udah baca maupun ga sengaja nyasar terus baca fic ababil ini.
Sekedar info seputar fic ini. Penyihir dalam cerita ini saya ambil dari mitos-mitos di Eropa. Biasanya yang disebut sebagai penyihir disini adalah wanita yang bisa membuat ramuan juga merapalkan mantera. Jadi saya memasukan hal ini dalam ide saya. Oh ya, dalam fik ini para bangsawan biasanya punya penyihir atau juga peramal yang melindungi keluarganya dari ancaman. Contohnya kayak Athrun dan Stellar juga Kira dan Lacus.
Mohon maaf kalau masih banyak salah dalam penulisan dan juga cerita yang kurang memuaskan. Dan miin, tolong koreksi buat ceitanya juga ya. Makasih.
Balasan review :
Lenora Jime : Cagalli memang disengaja untuk amnesia. Tapi bukan itu alasannya Athrun ngerubah namanya kok. Ada alasan lain yang mudah2an yang bisa di tebak Jime-san nantinya :) . iya Stellar disini penyihir. Lacus juga looh.. tapi ga semuanya penyihir kok. Ini juga bukan tentang perang para penyihir. Beneran deh.
Makasih udah review yaa.. jangan bosan untuk mampir ke fik ini lagi ya..
Alyazala : ini lanjutannya. Hehe, maaf sebelumnya.. saya mau main tebak2an di cerita ini. Mudah2an Alya-san paham dengan tulisan saya yang acak2an, hehe.
Makasih udah review dan kasih semangat. Jangan bosan untuk mampir ke fik ini lagi yaa
GaramMerica : iya, dichap kemarin banyak AsuCaga-nya tapi sebagai gantinya di chap ini malah ga ada lagi. Ritsu mau kasih ide untuk adegan Asucaga selanjutnya ga? *ditimpuk* tulisan saya makin rapi karena bantuan dari Ritsu, makasih ya udah banyak kasih pelajaran, hehe. Wah, wah, Ritsu ngebayangin AsuCaga kayak di Rurouni Kenshin ? ga apa kok.. deskripsi saya memang kurang jelas, jadi ga apa kalau mau ngebayangin Asucaga kayak begitu :) Stellar antagonis ? mungkin tebakan Ritsu bisa benar juga kok.
Makasih udah mampir ya, makasih juga ucapan semangatnya. Jangan bosan buat mampir ke fik ini lagi yaa..
Dinah : maaf Dinah, masih kurang paham dengan chap ini ya? Saya memang mau main tebak2an kok. Hehe *ditendang* makasih bisa menikmati tulisan saya yang acak-acakan. Hehe. Jangan bosan untuk mampir yaa.. makasih reviewnya :)
