Rau Le Creuset memandangi langit hitam berkabut tanpa minat. Semilir angin menerbangkan surai kuning pudarnya yang bergelombang dengan pelan.
Berdiri pada atap kastil yang terbuka di tengah malam musim gugur bukanlah pilihan yang baik bagi siapapun. Begitu juga baginya. Tetapi karena sebuah tujuan ia melakukannya sepanjang malam seakan tidak ada lagi hari esok.
Ia tengah menanti sebuah berita.
Penantian tujuh jamnya pun berakhir seiring melayangnya elang hitam dibawah cahaya langit yang temaram. Senyum tipis terukir nyaman diwajahnya yang tersamarkan. Ujung lengannya terulur untuk menyambut kedatangan sang elang yang mendekat.
Pada cakarnya, ia menemukan sebuah gulungan kertas yang tak seberapa besar. Jemarinya melepaskan gulungan itu dari cengkeram sang elang dengan pelan.
Kedua matanya yang tertutup kain putih menyusuri kalimat yang tertera diatas kertas pudar.
Malam ini Penyihir Plantagenet datang di kediaman Andras. Ia membawa segulung perkamen yang masih belum kami ketahui apa isinya.
Senyum diwajahnya semakin terlihat jelas.
Dengan segera ia melangkahkan kakinya untuk menjauh dari titik dimana ia berdiri. Menghiraukan salam hormat para pengawalnya yang menunduk saat ia berjalan dengan tegas.
Mengganti jubah tidurnya dengan jubah putih milik kerajaan. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menunggangi kuda menuju kediaman pribadi milik sang raja yang terletak di pusat kota.
Memberikan laporan tentang kediaman Andras, sebuah kemungkinan adanya konspirasi. Plantagenet.
.
.
Gundam Seed/Destiny Sunrise
Svezza Annashya present a fiction
The World
Chapter 5 :
Plantagenet
Warning : sangat OOC, Banyak adegan yang terpotong, typo(s) yang bertebaran dimana-mana, gaje, deskripsi sangat minim, cerita panjang nan membosankan, alur muter-muter
Summary :
Perseteruan dua keluarga yang berkuasa, melahirkan sebuah harapan baru dan harapan baru adalah awal kehancuran bagi keduanya
.
.
Gilbert Durandall duduk dengan tenang di singgasananya yang berada ditengah ruangan. Kertas pudar milik Le Creuset digenggamnya erat. Kedua bola mata keemasannya menyipit tajam.
Ia sama sekali tidak merasa terganggu dengan kedatangan salah satu petinggi kerajaan pada dini hari ini. Yang mengganggu pikirannya saat ini adalah sebuah rencana yang harus dipikirkan masak-masak. Ia tidak ingin tergesa menghadapi situasi yang dikemukakan oleh Le Creuset beberapa saat lalu.
Perapian di ruangan itu masih menyala. Menyebarkan suhu hangat ditengah keheningan yang melanda. Tidak ada percakapan lain yang terlontar selama duapuluh menit. Setidaknya situasi malam itu cukup menenangkan kepala hitamnya untuk berpikir jauh kedepan.
Derap langkah lembut akhirnya memecah keheningan diantara kedua pria itu. Thalia Durandall membawa sebuah nampan yang berisi teh hangat dalam dua cangkir porcelain juga teko putih yang menyertai. Senyum ramahnya tersungging saat pandangannya menyapa kehadiran rekan sang pendamping hidup. Surai coklat terangnya tidak dihiasi apapun membuatnya tampak lebih anggun.
Pria berkepala pirang pudar membalas senyuman sang Ratu dengan kepala tertunduk sedikit.
Tangannya dengan perlahan meletakan kedua cangkir teh diatas meja kaca yang membatasi kedua sosok pria yang duduk berhadapan. Kemudian jemari panjangnya mengeratkan kembali selembar kain lebar berwarna merah gelap yang membungkus lengannya yang tertutup gaun tidur. Senyum kembali terlukis di wajah cantiknya.
"Silahkan diminum tehnya, Earl Le Creuset."
"Terimakasih, Yang Mulia Ratu."
Gilbert Durandall meraih cangkirnya. Menghirup aroma lembut dari teh yang masih mengepulkan uap hangat. Dan tak butuh waktu lama baginya untuk meneguk pelan.
Rau Le Creuset mengikuti gerakan sang Raja.
Thalia memutuskan untuk mengundurkan diri dari perbincangan kedua pria yang telah berteman cukup lama. Ia lebih memilih untuk tidak mengikuti pembicaraan keduanya. Ia sangat menyakini bagaimanapun keputusan suaminya kelak.
Tanpa meninggalkan sepatah kata pun, wanita anggun bersurai coklat terang itu menarik langkahnya untuk keluar dari ruangan yang hangat.
Menyadari tak ada lagi suara langkah kaki yang terdengar sang pria berkepala hitam meletakan kembali cangkir tehnya diatas meja. Ia menatap sang lawan bicara dengan sorot mata penuh lelah.
"Apa kau sudah dapat memastikan siapa orang itu?"
Pria lain yang berada diruangan itu juga meletakan cangkir tehnya. Wajah samarnya menyiratkan ketidakpuasan. "Maaf, tetapi saya belum mampu memastikan siapa wanita itu."
"Mungkinkah itu adalah penyihir yang bekerja untuk keluarga Andras?"
"Saya rasa bukan, mengingat penyihir yang mengabdi untuk keluarga Andras sudah lebih dulu dibakar oleh masyarakat sekitar beberapa minggu sebelum eksekusi Earl Andras. Shani."
"Keluarga yang menyedihkan. Sejak dulu hingga sekarang."
Sang pria berkepala pirang pudar meraih kembali cangkir tehnya. Ia menyesap pelan sebelum menanggapi pernyataan sang rekan. "Tetapi anda tentu tidak boleh meremehkan para Plantagenet, Yang Mulia."
Sang pria berkepala hitam menyandarkan punggungnya pada kursi kayu. "Aku tidak boleh bertindak gegabah. Bukan begitu, Rau?"
"Tentu."
"Bagaimana menurutmu jika aku mengadakan pernikahan untuk keponakanku dengan Baron of Lusignan, Kira Yamato?"
"Saya rasa itu hal yang baik sebagai tindakan awal."
Sang pria berkepala pirang pudar memberikan senyum tipis di akhir kalimatnya.
.
.
Tokk.. tokk..
Lunamaria menghentikan gerakan tangannya yang tengah memotong sayuran hijau. Pagi itu ia menjalankan rutinitasnya seperti biasa, membantu sang ibu memasak di dapur. Dan tanpa menunggu ketukan ketiga, gadis berkepala merah padam lekas melangkah menuju pintu. Kemudian ia membukanya dengan cepat.
"Hai, Luna!"
Kedua iris amethysnya membulat saat melihat seorang gadis kecil berkepala pirang tengah berdiri dihadapannya. Senyum manis terlukis diwajah kekanakan gadis itu. Lunamaria pun membuka papan kayu lebih lebar.
"Stellar! ayo silahkan masuk."
Si gadis pemilik tempat tinggal mematung sebentar ketika menyadari gadis itu tidak datang seorang diri. ada seorang pemuda lain yang berdiri disamping sang gadis kecil
"Ini adalah saudaraku, Yzak Joule. Mungkin kemarin malam kau belum menyadari kehadirannya di rumah kami."
"Ah, iya." Lunamaria menggaruk belakang kepala merahnya canggung saat melihat sorot tajam dari pemuda bersurai keabuan. Ia menggeser tubuhnya dari papan kayu yang terbuka lebar. "Ayo silahkan masuk."
Setelah dua kali diminta untuk menjejaki rumah sang teman, Stellar juga Yzak akhirnya memasuki bangunan sederhana itu. Lunamaria kemudian berjalan mendahului keduanya menuju ruang tamu sederhana. Tidak banyak barang-barang yang tersimpan dalam ruangan itu. Hanya tiga buah kursi kayu panjang yang mengelilingi meja persegi dihadapannya.
"Stellar, Joule. Silahkan duduk disini dulu. Biar aku buatkan minum."
"Terimakasih." Jawab sang gadis kecil ramah.
Yzak mengambil posisi duduk dibangku bagian tengah, sedangkan Stellar lebih memilih untuk duduk disampingnya. Tidak ada perbincangan apapun diantara keduanya hingga Lunamaria kembali datang membawa nampan kayu berisikan tiga cangkir teh hangat. Ia meletakan ketiga cangkir itu dimeja dengan posisi dihadapan mereka.
Lunamaria memilih duduk dikursi yang berada diseberang kedua tamunya.
"Desa ini sangat ramai." Stellar membuka pembicaraan. Ia menemukan pemandangan yang sangat berbeda saat di dalam Minoa selama ini.
"Ya, begitulah. Para petani menggarap tanah disekitar desa. Terlebih ini musim gugur. Kami harus bekerja lebih giat untuk menyiapkan bahan makanan menghadapi musim dingin nanti." Luna menjawab dengan tenang.
Kepala abu-abu Yzak masih memperhatikan keadaan luar yang hiruk pikuk melalui jendela kayu yang terbuka.
"Bagaimana kabar temanmu yang bernama Cagalli?"
Kali ini Yzak yang membuka topik baru. Ia malas memberikan kalimat-kalimat pengantar yang dianggapnya terlalu berputar-putar. Selain itu, ia memang tidak pandai membuat kalimat sapaan yang ramah, makanya ia lebih memilih untuk langsung membicarakan tujuan kedatangannya.
Pandangannya masih menyisir keadaan sekitar saat ia bertanya. Sedangkan Stellar menikmati tehnya dalam diam.
Kepala merah padam Lunamaria miring beberapa derajat menanggapi kalimat Yzak. Menyadari hal itu, kedua iris kelabu sang pemuda abu-abu memandang sang tuan rumah dengan tatapan heran. Lunamaria pun memberikan pandangan yang sama.
"Cagalli? Aku tidak memiliki teman yang bernama Cagalli. Dan ku rasa tidak ada yang bernama Cagalli di desa ini."
Mendengar jawaban ringan Lunamaria membuat Yzak menyipitkan kedua matanya. Stellar meletakan cangkir tehnya kembali keatas meja dengan tenang.
"Apakah aku datang ke rumah kalian bersama orang lain?" Kini ganti Lunamaria yang memberikan pertanyaan pada kedua tamunya. Yzak menanggapi dengan tolehan kepala kearah lain. Ia lebih memilih untuk menghindari tanggapan sang tuan rumah karena tidak mampu menyembunyikan ekspresi wajahnya yang berubah lebih emosi. Merasa paham dengan situasi, Stellar kembali memberikan senyum hangat. "Ah, mungkin yang kalian maksud adalah Meyrin. Dia adikku." Lunamaria kembali melanjutkan penjelasannya. Ia merasa sedikit sungkan dengan sikap Yzak saat itu.
"Benar. Bagaimana keadaannya? Kemain malam saat kalian tersesat dihutan, ia sepertinya tidak dalam keadaan baik-baik saja."
"Keadaannya sudah membaik kok. Terimakasih atas pertolongan kalian saat itu ya." Lunamaria melemparkan senyum manis pada Stellar.
Gadis kecil berkepala pirang kemudian mengalihkan pandangannya pada pergelangan tangan Luna. Ia baru menyadari bahwa sang tuan rumah memakai sebuah gelang tali berhiaskan daun yang merambat pada talinya. Sekilas dedaunan itu berkilau tertimpa sinar matahari yang menyusup dari celah-celah jendela.
"Gelang yang bagus. Boleh aku melihatnya?"
Lunamaria mengikuti arah pandangan Stellar pada pergelangan tangannya. Kemudian gadis yang lebih tua mengulurkan tangannya. Sang gadis kecil menyentuh pergelangan tangan Luna dengan lembut. Dalam pandangannya, Lunamaria dapat melihat sebuah rasa terkesan dalam pantulan kedua manik merah muda milik Stellar.
"Apa kau membuatnya sendiri, Luna?"
Yang ditanya memberikan senyum hangat. "Iya. Aku sendiri yang merangkainya. Dan aku membeli bahan-bahan pembuatannya di pasar. Kau suka, Stellar?"
Sebuah anggukan penuh antusias dilakukan oleh Stellar.
Lunamaria tanpa keberatan melepaskan simpul tali yang mengikat kedua ujung gelangnya. Setelahnya ia langsung meletakan gelang sederhana itu pada telapak tangan Stellar. "Untukmu. Kalau kau ingin membuat model lain, aku bisa mengajarimu. Itu pun jika kau tidak keberatan."
"Tentu! Aku akan datang lagi lain waktu untuk belajar membuat gelang ini." Stellar menggenggam kedua tangan Lunamaria erat. Wajahnya menampilkan senyum manis yang membuat Luna ikut tersenyum. "Terimakasih Luna, atas gelangnya."
Yzak menegakan tubuhnya saat merasakan getaran pelan dibawah kakinya. Bukan hal yang biasa ia rasakan. Dan tanpa membuang waktu untuk omong kosong, pemuda berkepala abu itu segera bangkit dari kursi. Lunamaria memandang sang tamu penuh tanya masih dengan senyum menghiasi wajahnya.
"Syukurlah kalau keadaan adikmu baik-baik saja. Kami sangat mengkhawatirkan keadaan adikmu, makanya kami datang berkunjung." Stellar mengikuti gerakan Yzak, bangkit dari kursi kayu yang nyaman. "Kalau begitu, kami pamit dulu. Terimakasih atas jamuannya."
"Istirahat lebih dulu disini. Perjalanan dari hutan kesini kan cukup jauh. Aku yakin kalian lelah." Luna berucap ramah.
"Tidak perlu. Kami datang kesini memang hanya untuk menjenguk keadaan Meyrin. Kami akan mampir kesini lagi kapan-kapan."
Setelah dirasa cukup yakin dengan jawaban Stellar, Lunamaria ikut bangkit dari kursi dan mengantarkan kedua tamunya sampai dihalaman rumah. Sebelum berpisah, Stellar kembali menampakan senyum tetapi tidak untuk Yzak. Ia lebih memilih untuk segera berlalu, membuat sang gadis berkepala merah padam menggeleng pelan.
"Hati-hati dijalan. Datanglah berkunjung lagi kapan-kapan ya."
"Iya."
Pertemuan kedua mereka hari itu diakhir dengan lambaian tangan si gadis kecil dan gadis berkepala merah padam.
.
Setelah meninggalkan jarak yang cukup jauh dari desa Orb, Yzak menyampaikan sesuatu yang dirasakannya sejak tadi.
"Sebaiknya kita meninggalkan hutan Minoa secepat mungkin. Aku mendengar langkah asing yang mendekati hutan."
"Mungkinkah para kurcacai Meroving?"
"Bisa jadi lebih buruk dari itu."
Stellar memangguk paham. Mendekat dalam kalimat Yzak bukanlah dalam arti kata yang sesungguhnya. Tetapi pertimbangan untuk meninggalkan hutan Minoa juga merupakan pilihan yang lebih baik.
"Kalau begitu, aku akan berpamitan dengan Sting nanti."
Yzak maupun Stellar mengambil langkah besar-besar untuk segera memasuki hutan yang tak lagi berjarak jauh dihadapan mereka. Ada sebuah pembicaraan yang harus mereka utarakan saat memasuki Minoa setelahnya. Dan keduanya tidak sabar untuk melakukan itu.
Langkah panjang Yzak yang lebih dulu memasuki deretan pepohonan rindang disekitar padang rumput. Mereka telah memasuki wilayah yang dikuasi oleh para peri hutan. Itu berarti mereka sudah mampu membicarakan pandangan masing-masing atas kunjungan ke tempat tinggal gadis yang pernah bertamu ke rumah mereka beberapa malam lalu.
"Lunamaria tidak mengatakan hal bohong." Stellar memulai tanpa perlu basa-basi. Ia mengingat dengan jelas apa yang dirasakannya ketika menyentuh kedua pergelangan tangan Lunamaria beberapa saat lalu.
"Jadi–" Yzak tetap melanjutkan langkahnya, tidak terkejut dengan pernyataan sang rekan. "–ketertarikanmu terhadap si gadis pirang dapat terbukti."
"Kurasa juga begitu. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh gadis pirang itu. tetapi–" pernyataan Stellar dibiarkan menggantung.
"Aku mengakui kemampuan orang yang berada dibalik si pirang. Ia dapat bertindak cepat. Bahkan aku tidak menemukan adanya sisa-sisa keberadaan mereka di desa itu. Dan jika ia membakar tempat tinggal mereka sendiri, aku tidak menemukan sisa abu ataupun bangunan yang terbakar. Benar-benar tindakan yang rapi."
Stellar menganggukan kepala sebagai tanda setuju dengan pernyataan Yzak beberapa saat kemudian. "Yang menjadi pertanyaanku saat ini, siapakah Dia?"
Yzak mendengus cepat. "Yang pasti, ia berada ditingkat yang lebih tinggi dibandingkan dirimu."
Gadis kecil disampingya menyunggingkan senyum tipis. "Ya. kau benar Joule. Aku tidak pernah menduga bahwa kebosananku akan mengantarkan kita pada harapan besar." Ia tidak menghentikan langkahnya tetapi kepala pirangnya mendongak pada langit biru.
"Louisser. sepertinya kita kedatangan tamu lain."
Yzak menunjuk pada bangunan batu yang mereka tempati sebagai rumah.
.
.
"Sting Oakley!"
Sambutan riang Stellar mampu menyita perhatian sosok laki-laki berambut hijau yang tengah duduk diruang tamu dari pemuda berkepala biru gelap yang duduk di kursi lain. Penampilan keduanya hampir terlihat sama walaupun mereka memiliki status yang cukup berbeda. Sting memilih untuk tampil layaknya bangsawan di tanah Wisshelbach yang berusia duapuluh-an. Benar-benar seperti pemuda yang duduk diseberangnya.
"Aku jarang menemukan kau dirumah kami. Ada apa gerangan?" si gadis kecil pirang menghampiri dengan senyum yang terus menghiasi wajah manisnya.
"Saudaramu yang mengundangku untuk datang." Si pemuda berkepala hijau terang menjawab dengan tenang.
Perhatian Stellar kini beralih pada Athrun. Ia memandang sang kawan penuh tanya.
"Beberapa malam lalu aku merusak pepohonan yang berada disekitar hutan. Well–kau tahulah apa yang ku maksud. Dan kebetulan aku tadi bertemu dengannya yang sedang patroli pagi ini, jadi aku mengundangnya untuk minum teh bersama. Dan–meminta maaf atas kekacauan yang ku buat, tentu saja."
Stellar mengangguk paham. Yzak melewati dengan santai ketiga sosok yang terlibat dalam pembicaraan dan menghilang dibalik dinding ruangan. Ia tidak ingin terlibat urusan ketiganya.
"Ah iya, Sting! Kebetulan sekali kau ada disini. Aku–"
"Lupakan–jika kau ingin mencari tahu tentang laki-laki berkepala biru langit yang pernah datang kesini untuk menjemput tamu mu. Aku tidak bersedia menjawabnya."
"Tapi, aku 'kan kawanmu."
"Dia juga temanku, Louisser. Kau bersedia membantuku menjaga Minoa selama kau tinggal disini dan dia dengan senang hati membereskan kekacauan yang saudaramu perbuat. Sebagai balasannya, kau juga dia sama-sama memintaku untuk merahasiakan identitas dari siapapun. Tidak ada pilihan bagiku untuk tidak menyetujuinya."
Senyum yang sebelumnya terlukis diwajah manis Stellar menguap sudah. Ia memandang kawan lamanya dengan bibir membentuk kurva negatif.
"Hanya karena dia membantumu membereskan kekacauan perkelahian Athrun, kau sudah menganggapnya sebagai teman? Tak ku sangka Raja para peri hutan dengan mudahnya dibujuk."
Mendengar namanya disangkut-pautkan, Athrun hanya mampu menyesap tehnya dalam diam. Sejujurnya ia tidak mengerti apa pembicaraan kedua orang kawan yang ia dengar sejak tadi. Makanya ia lebih memilih untuk diam.
"Bukan begitu, bodoh. Aku telah lama mengenalnya. Jauh sebelum aku mengenalmu."
Penjelasan yang diberikan oleh Sting belum mampu mengembalikan senyum manis diwajah Stellar. gadis itu masih memberikan tatapan sebal. "Aku membiarkannya menjemput tamu kalian saat itu karena aku cukup jengah dengan perkelahian. Jangan terlalu banyak merusak wilayah hidupku."*
Kali ini Athrun tersedak saat menyesap tehnya.
"Louiser, Jika ingin mengetahui siapa dia, kau harus berusaha sendiri."
Sting bangkit dari kursi kayunya. Stellar mendekat kearahnya sebelum sosok laki-laki itu menjauh.
"Terimakasih banyak atas bantuanmu selama ini."
Ucapan Stellar menyita perhatian Sting untuk menoleh pada gadis kecil itu. "Kami akan meninggalkan Minoa hari ini juga. Maaf kalau selama ini kami banyak merepotkanmu."
Sebuah senyum tersungging diwajah bosan Sting Oakley. Ia menepuk pundak Stellar pelan. "Umm, semoga sukses untuk perjalanan kalian." Setelahnya, sosok laki-laki itu kembali berjalan menjauh. "Jangan berkata seolah kau akan mati besok, Louisser. Bodoh. Aku selalu menyediakan tempat tinggal di seluruh hutan Wisshelbach untuk kalian. Jadi tidak perlu sungkan seperti ini." Langkah kaki itu semakin menjauh hingga terdengar dipenghujung ruangan yang langsung mengantar ke pintu keluar. "Sampai jumpa lagi."
Athrun memberikan senyum tipis saat sosok Raja peri hutan benar-benar menghilang dibalik bilah pintu yang tertutup.
"Aku tidak menduga bahwa ia adalah sosok yang benar-benar baik." Athrun menggumam lirih dan Stellar masih mampu menyadarinya.
"Ya. Ia memang tidak terlihat galak seperti wajahnya." Ia mengakhiri kalimatnya dengan senyum hangat. "Sejak dulu, ia sudah kuanggap sebagai keluargaku."
Athrun melangkah menuju tempat Stellar berdiri. Kemudian ia menepuk puncak kepala pirang si gadis kecil. "Aku cukup terharu melihat dirimu yang seperti ini. Kau benar-benar seperti bocah."
Gadis kecil itu memukul lengan si pemuda biru gelap dengan pelan. "Aku bahkan sebenarnya lebih tua dibanding dirimu."
Si pemuda biru terkekeh pelan. Ia menyikut sedikit lengan Stellar. "Bagaimana?"
Stellar menghela nafas, "Tidak ada hasil. Bahkan Lunamaria tidak ingat sedikit pun tentangmu."
"Haruskah kita ke Onogoro?"
Stellar memandang bingung pemuda yang lebih tinggi darinya. Dan ia menemukan si pemuda tengah mengangkat bandul kalung yang melingkari lehernya. Sebuah kalung perak yang memiliki bandul seperti Kristal jernih berwarna merah dan berbentuk tabung. Ukurannya tidak terlalu kecil, sepanjang kelingking orang dewasa.
"Dari mana kau mendapatkan itu?"
"Cagalli," Athrun tersenyum tipis ketika menyebutkan nama itu. Entah mengapa rasanya nama itu begitu indah di dengar walaupun ia tidak terlalu mengingat dengan jelas rupa sang pemilik nama. "Ia memberikan ini saat aku masih tertidur malam itu. Sebelum ia dibawa pergi. Ia bahkan langsung mengalungkannya padaku. Dan aku cukup yakin saat itu kedua matanya terbuka lebar, tetapi aku sanksi dengan kesadarannya." Athrun mengusap pelan keningnya.
Kedua manik merah muda si gadis kecil menatap lekat benda yang terkalung pada leher sang rekan.
"Aku tidak setuju dengan rencanamu, Ath. Jangan bertindak gegabah hanya karena seorang perempuan asing!"
Kepala biru juga kepala pirang menoleh kearah dibalik punggung mereka. Diambang lorong mereka menemukan Dearka yang baru saja menginterupsi percakapan. Perlahan, laki-laki berkulit eksotis itu berjalan mendekat kearah Athrun dan Stellar berdiri.
"Onogoro terletak tepat diperbatasan ibukota, Plant." Dearka masih menyuarakan pendapatnya, "Bukan hanya itu, Le Creuset adalah Gubernur Jenderal disana, Onogoro adalah wilayahnya! Kau bersedia menyerahkan kepala pada sekawanan singa hanya demi seekor tikus?! Aku tidak dapat mentolerir hal itu, Ath! Kepalamu lebih berharga dibanding harga diri para Plantagenet!"
Si kepala biru menghela nafas pelan. Gadis kecil yang masih berdiri disampingnya memandang Dearka dalam diam.
"Kumohon, jangan salah paham. Aku tidak menaruh banyak harapan pada gadis itu–Cagalli–walaupun Stellar menyatakan banyak ketertarikan padanya." Stellar kini beralih memandang Athrun, "Aku juga tidak meyakini akan bertemu dengannya disana, aku tidak peduli. Setidaknya belum, lain halnya jika ia benar-benar mengetahui apa yang ku cari. Aku hanya memerlukan informasi, sejauh mana Andras mengetahui tentang Putra Mahkota Meroving, juga rencana Durandall selanjutnya untuk menghabisi Plantagenet lain. Selain itu aku ingin berburu Plantagenet yang masih tersisa sebelum Durandall menghapus keberadaannya. Hal itu akan lebih mudah kita dapatkan jika mendekat ke ibukota."
Dearka mengangguk paham.
"Oleh karena itu kita akan bertaruh," Stellar mampu melihat dengan jelas, kilat tajam dimata hijau rumput si kepala biru, "Lebih dulu mendapatkan apa yang kita inginkan atau Gilbert yang lebih dulu menemukan kita."
.
.
"Satu lagi Plantagenet yang dibersihkan oleh Kerajaan."
Erica Simmons menggenggam pelan sebuah bulu ayam yang halus. Ujung pena bulunya masih menyisakan tinta kering yang sebelumnya ia goreskan diatas kertas tipis berserat.
Wanita dibalik punggungnya menghentikan sebentar kegiatan yang mampu ia jalankan senja itu.
Murrue Ramius, menutup buku tebal yang lembab dan meletakannya kembali diatas satu-satunya meja kosong dalam ruangan itu. Erica Simmons duduk disisi lain dari meja kayu yang ditempati buku Murrue.
Sejak kedatangannya dan Cagalli lima hari yang lalu di kota ini, mereka tinggal disebuah rumah pengrajin busana milik Erica Simmons. Dan sejak lima hari yang lalu pula kegiatan wajibnya adalah membaca buku-buku menarik koleksi sang tuan rumah. Dapat dikatakan bahwa ruangan yang tengah mereka singgahi saat ini adalah perpustakaan pribadi milik Erica. Letaknya cukup tersudut dari rumah batu sederhana miliknya sehingga pembicaraan keduanya hari ini cukup rahasia untuk didengar oleh pihak manapun. Deretan rak-rak yang berdiri dihadapan dinding batu mampu meredam suara percakapan kedua teman lama yang bertemu kembali.
"Siapa?"
"Shani Andras."
"Oh, si bangsawan gila itu rupanya."
Murrue menarik kursi lain disisi meja. Duduk berhadapan dengan Erica yang melanjutkan kegiatan menulisnya. Wanita bersurai coklat pudar sebahu itu tidak terlalu mengambil pusing dengan kegiatan sehari-hari Erica. Ia sangat mengenal baik wanita yang berteman dengannya selama limabelas tahun ini. Ia adalah informan yang luar biasa. Dan satu hal yang cukup Murrue senangi dari wanita ini adalah, ia salah seorang yang menentang Kerajaan secara pasif. Selama ini ia mengumpulkan informasi yang berhubungan dengan kerajaan, berharap suatu hari ia mampu menggulingkan sang Raja yang berkuasa. Mereka saling mengenal dengan baik.
Murrue tahu siapa Erica, begitu pun sebaliknya. Mereka lebih baik dikatakan sebagai teman dibanding rekan kerja.
"Jangan katakan seperti itu, bagaimanapun ia adalah seorang Plantagenet."
Murrue mendengus pelan menanggapi pernyataan Erica yang memang benar adanya.
"Ku dengar kastilnya dikuasai oleh Kerajaan. Ya, kau tahu benar 'kan bagaimana Gilbert Durandall. Ia cukup mengkhawatirkan gerakan seorang Shani Andras yang kau bilang gila. Kurasa itu cukup membuka matamu lebar-lebar tentang bagaimana cerdiknya para Plantagenet. Bahkan keluarga Mawar Putih** sekalipun."
"Tetap saja ia berakhir dibawah kapak algojo kerajaan."
"Kurang keberuntungan, lebih tepatnya. Oh ya, baru-baru ini aku menemukan informasi yang menarik. Seorang penyihir muncul di kediaman Andras dan membawa gulungan perkamen dalam patung Minerva. Apa kau kenal penyihir berambut merah muda? Wanita itu yang membawa gulungan perkamennnya. Dan sampai saat ini belum berhasil ditemukan identitasnya. Bagaimana menurutmu?"
Jemari panjang Murrue mengetuk pelan permukaan meja kayu secara bergantian. Ia mencoba mengingat-ingat kembali apa saja yang ia temui dalam hidupnya.
"Bukan penyihir keluarga Plantagenet. Aku tidak ingat pernah menemui wanita seperti itu. Dan keluarga York seperti Andras tidak cukup pintar untuk mengadakan rencana demikian. Aku yakin wanita itu bukan mengabdi pada Plantagenet sebelumnya."
Erica melempar pena bulunya keatas meja dengan kasar. Ia tertawa renyah menanggapi sikap Murrue.
"Perang Mawar telah membawa dampak buruk bagi pemikiranmu, rupanya. Atau kau yang terlalu kolot, eh? Aku tidak menduga wanita hebat sepertimu memiliki pemikiran yang dangkal." Erica mengambil kembali penanya. "Tidak semua York yang kau bilang itu rendahan. Perang Mawar sudah berakhir, Murrue. Kau harus merubah jalan pemikiranmu. Bukankah segel si pewaris terakhir Lancaster berada ditangan keturunan York? Jangan lupakan hal itu. kau sendiri yang mengatakannya empat tahun lalu, kan? Walau bagaimanapun, kalian berada dalam satu keluarga besar. Plantagenet.
"Tentu aku ingat! Dan aku yakin kalau bukan keluarga Andras-lah yang memegang segel itu. mereka terlalu gila! Jadi jangan salahkan pikiran negatifku untuk menanggapi sikap gila mereka! Jika kau ingin bernostalgia, maka jangan ajak aku untuk menjadi lawan bicaramu." Murrue menggeser kursi kayunya dengan kasar. Ia bangkit dari duduknya dan melangkah kembali ke deretan rak.
"Maaf, jika kau tersinggung."
"Tidak masalah."
"Baiklah, aku jelaskan lanjutannya. Kejadian di kastil keluarga Andras yang kuceritakan tadi terjadi pada malam setelah pengeksekusian Shani. Wanita berambut merah muda datang dan mengambil gulungan perkamennya. Dan sebelum Shani Andras dihukum mati, ia tengah mencari sesuatu yang kurasa mengundang perhatian pihak kerajaan. Bahkan Gilbert Durandall sekalipun. Jadi bagaimana menurutmu? Kalau wanita itu bukan bekerja untuk Plantagenet, mengapa kerajaan begitu menginginkan identitasnya? Atau mungkin–"
"Ada seseorang yang dimintai bantuannya oleh Shani untuk meneruskan pekerjaannya." Wanita yang bersandar pada rak-rak buku memijat pelipisnya. "Kau benar, Erica. Perang Mawar sudah lama berakhir."
"Yap! Tugasmu mulai saat ini adalah harus menemukan Plantagenet mana lagi yang tersisa. Bahkan jika keluarga York sekalipun! Aku yakin sehebat apapun Yang Mulia Durandall, pasti masih ada yang ia lewatkan!
Murrue bersandar pada rak kayu yang berdiri kokoh untuk menopang punggungnya. Senyum ceria diwajah Erica Simmons menguap setelah melihat ekspresi gusar sang kawan lama. Wanita berkepala coklat pudar menopang dagunya dengan salah satu tangan, ada sesuatu yang dipikirkannya. Tidak sabar, Erica memutuskan untuk bertanya langsung.
"Ada yang mengganggu pikiranmu, Murrue?"
"Hm.." kepala coklat pudarnya mengangguk cepat. Hingga hari ini kejadian 'penculikan' Cagalli belum bisa diabaikan olehnya. Walaupun ia merasa hal itu tidak memiliki dampak besar tetapi bukan berarti ia dapat mengabaikannya. Semut bahkan bisa menumbangkan gajah. Murrue Ramius tidak menginginkan hal itu terjadi padanya. Tidak untuk saat ini. "Kau pernah mengetahui seseorang yang dapat mengendalikan api?"
Erica diam sesaat, ikut mengingat-ingat apa yang pernah ia lewati selama ini. "Tidak terlalu. Tetapi ku dengar, kebanyakan anggota kerajaan sebelumnya bisa mengendalikan api. Ada apa memangnya?"
"Kau mengenalnya?"
"Tidak juga. Kurasa mereka tidak terlalu terkenal dan tidak terlalu mendapatkan jabatan dalam kerajaan. Ada apa memangnya, Murrue? Seseorang mengejarmu? Atau–"
"Ya. Bukan hanya seorang, tetapi sekelompok orang mengejar kami. Lebih tepatnya–"
"Aku paham."
"Bukan hanya itu. Salah seorang dari mereka meninggalkan mantera yang sampai saat ini belum mampu ku hapus. Kau bisa membantuku?"
"Cagalli masih mengenakan kalungnya, bukan? Kurasa ia akan baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir."
Murrue Ramius hanya mampu menanggapi pernyataan Erica Simmons dalam diam.
.
"Cagalli! Bibi Erica masih memiliki persediaan kain linen tidak?"
Si gadis berambut cokelat pendek masih berkutat dengan beberapa pakaian yang berserakan diatas papan meja. Ia tengah membuka beberapa jahitan dari salah satu pakaian tetangganya dan masih belum menyadari bahwa langkah kaki sang teman yang tadi dipanggilnya berjalan mendekat.
"Cagalli–"
"Habis, Mirri."
Si gadis berambut coklat gelombang sedikit tersentak mendengar jawaban tegas sang kawan yang entah sejak kapan–karena ia sangat menikmati kegiatannya–berdiri dibelakangnya. Mirri menghela nafas pelan. Kemudian ia membantu si kawan berambut pirang meletakan beberapa gulungan kain keatas meja jahit.
Sinar oranye membias hangat kaca jendela diruang depan rumah sederhana itu.
Malam hampir tiba.
"Huuh, aku tidak bisa menyelesaikan pekerjaan hari ini, kalau begitu. Linennya habis."
Cagalli menanggapi teman satu rumahnya selama lima hari ini dengan senyum simpul.
Mirillia Haww, adalah keponakan dari Erica Simmons. Ia sengaja meninggalkan desa tempat kelahirannya untuk membantu pekerjaan Erica dalam bidang busana yang dirasa sangat menyenangkan. Ia memang sangat menyukai desain busana dan jahit-menjahit pakaian, makanya ia dengan senang hati menawarkan diri untuk membantu sang bibi membuka usaha dikota.
Mirri–begitulah panggilannya–adalah teman sebaya yang pertama kali ditemui Cagalli dikota asing, Onogoro. Awalnya ia merasa sangat berat hati mengikuti langkah bibi Murrue yang meninggalkan desa Orb dan kawan-kawannya disana untuk tinggal dikota. Tetapi setelah ia mengetahui ada seseorang yang memiliki umur yang sama dengannya di rumah bibi Simmons, Cagalli dengan senang hati menjalani kehidupannya disini.
Tidak butuh waktu lama bagi Cagalli untuk berteman dengan Mirri. Dalam waktu setengah hari, mereka sudah berbagi kamar dan menjadi teman ngobrol setiap malam. Setidaknya Cagalli tidak merasakan kesepian karena tidak ada Luna. Ia mendapatkan teman baru yang juga menyenangkan seperti kawannya di Orb.
"Aku akan menemanimu ke pasar besok. Tidak usah kecewa begitu, lagipula pesanannya masih dua hari lagi diambil kan?"
Mirri mengangguk dengan wajah cemberut.
Cagalli tidak mampu menghibur orang lain dengan baik, maka dengan segera ia membereskan alat-alat jahit juga kain-kain yang sejak pagi Mirri kerjakan diatas meja kemudian mengembalikan ditempatnya semula. Mirri ikut membantu.
"Cagalli, kenapa wajahmu hambar begitu?"
Mirri berkata tanpa melihat wajah Cagalli yang tetap berkutat dengan acara beres-beresnya. Dan Cagalli memilih untuk menyembunyikan hal itu dari teman barunya.
"Aku tadi tidak sengaja mendengar percakapan bibi Murrue dan bibi Simmons saat mencari gulungan kain yang kau perlukan. Aku melewati ruang baca bibi Simmons yang sedikit terbuka pintunya."
Si gadis berkepala coklat gelombang tidak menghentikan kegiatan tangannya. Ia tidak merasa terkejut dengan penjelasan Cagalli. Kedua wanita dewasa dirumahnya memang sering membicarakan hal-hal aneh disudut bangunan ini. "Apa saja yang kau dengar?"
"Tidak banyak, karena aku melewatinya dengan cepat. Kecuali hanya bagian tentang Plantagenet dan Yang Mulia Raja Durandall. Sepertinya, bibi Murrue tidak menyukai keduanya ya? Apa karena hal itu berbahaya, Mirri?"
Kali ini Miriallia menghentikan gerakan tangannya. Mengarahkan pandangannya pada sang teman baru. Ia sangat menyadari tatapan penuh rasa ingin tahu si gadis berkepala pirang, makanya ia lebih memilih untuk diam beberapa saat.
"Kurasa lebih baik kau membaca buku saja. Aku tidak dapat menjelaskannya dengan baik."
"Tetapi aku tidak bisa membaca."
Miriallia menghela nafas berat. "Sebaiknya kau tanyakan langsung pada bibi Ramius nanti malam. Aku tidak yakin hal itu dapat dibicarakan ditempat seperti ini, Cagalli."
Gadis pirang melihat keadaan sekeliling. Ruangan yang ditempati mereka hanya dihuni oleh gulungan kain, mesin jahit, gulungan benang dan kertas-kertas yang dicoreti gambaran. Kedua iris madunya beralih ke jendela yang berdiri dihadapan mereka. Diluar, hiruk-pikuk manusia yang berlalu lalang mulai berkurang karena matahari senja mulai menyapa. Pintu disudut lain masih dalam keadaan tertutup.
Cagalli paham topik yang diajukannya sangat tidak tepat untuk dibicarakan. Tentu saja karena menyangkut seorang Raja yang tengah berkuasa.
"Tidak, Mirri. Tolong jangan katakan apapun pada bibi Murrue maupun bibi Simmons. Mereka pasti akan memarahiku."
Si gadis coklat menepuk pundak temannya dengan pelan, mencoba menenangkan rasa gelisah yang melanda si gadis pirang. Walaupun begitu, ia masih belum mampu menghapus guratan penuh harap yang terlukis dengan jelas diwajah teman barunya.
.
Setelah sesi makan malam berakhir, Cagalli dan Mirri melakukan kegiatan rutinnnya untuk membereskan ruang makan. Setelah itu keduanya langsung naik kelantai dua untuk istirahat dikamar dengan meminum teh sambil mengobrol mengenai kehidupan sehari-hari keduanya sebelum bertemu. Hampir selalu seperti itu.
Tetapi ada yang lain malam ini.
Melihat kebisuan sang teman, Miriallia memiliki inisiatif untuk meminta Murrue menemani Cagalli dikamarnya.
Dirumah Erica kedua orang dewasa itu memiliki kamar tidur yang terpisah, sedangkan dua remaja lainnya tidur diruang yang sama. Maka malam ini, Mirri meminta Murrue untuk menggantikannya sebagai teman istirahat Cagalli. Tentunya hal itu dilakukan tanpa sepengetahuan si teman yang masih sibuk menenggelamkan diri dari pemandangan langit malam. Dan tanpa diduga oleh Mirri, Murrue menyetujuinya permintaannya dengan mudah.
Akhirnya, dikamar tidur sang remaja-lah Murrue beristirahat.
Ia masih duduk diranjang kayu Mirri ketika Cagalli duduk disatu-satunya kursi kayu dalam ruangan. Itu adalah tempat dimana Mirri biasa menggambar sketsa busana, dimeja kayu yang membatasi kedua ranjang dalam kamar tidur. Dihadapan meja, ada sebuah jendela berukuran besar yang menampakan pemandangan langit juga jalanan kota yang ramai disiang hari.
Bulan bersinar penuh ketika Cagalli duduk disana untuk pertama kali. Gadis itu masih belum menyadari kehadiran wali keluarganya.
Sesaat, Murrue dapat menenangkan kepalanya ketika melihat keadaan Cagalli yang seperti remaja lainnya. Menikmati semilir angin malam dan sinar keperakan bulan yang menawan. Beberapa tahun telah terlewati dan ia merasa bangga karena dapat melihat gadis kecilnya tumbuh besar secara perlahan. Sedikit rasa haru menggelayut dalam hati si wanita dewasa.
"Miriallia bilang, ada yang ingin kau tanyakan padaku."
Cagalli sedikit tersentak. Murrue dapat melihat jelas punggung sang gadis yang bergetar pelan dalam diamnya. Ia tersenyum simpul reaksi gadis pirang itu yang kemudian merutuk pelan tentang pengkhianatan Mirri. Walau diucapkan dengan lirih, Murrue dapat menyadari hal itu dengan jelas.
"Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan bibi, tadi sore dengan bibi Simmons."
Murrue diam menanggapi pernyataan jujur sang gadis. Ia menunggu si gadis pirang untuk melanjutkan kalimatnya. Bohong jika gadis itu hanya ingin mengungkapkan kalimat tadi tanpa ada kelanjutannya. Masih ada rasa ingin tahu diwajah manis si gadis.
"Entah mengapa aku merasa takut hidup disini."
"Apa yang perlu kau takutkan, nak? Bibi ada disini untuk menjagamu." Muurue mengakhiri kalimatnya kembali dengan senyuman.
Cagalli menoleh untuk melihat wajah penuh kasih sayang Murrue. Ia selalu mempercayai sepenuhnya wanita yang sejak kecil telah mengasuhnya.
"Tetapi, rasanya bibi sangat membenci Yang Mulia Raja."
Murrue kembali menanggapi dengan senyuman. Cagalli tidak menuntut jawaban untuk hal ini. Tetapi ada sesuatu yang lain yang ia butuhkan jawabannya.
"Bibi, Plantagenet itu apa? Apakah itu merupakan aib bagi kerajaan? Atau itu merupakan ancaman bagi kerajaan?"
Murrue menatap dalam manik coklat madu milik Cagalli. Hingga detik ini, ia adalah sosok gadis remaja yang dipenuhi rasa ingin tahu yang mendalam. Murrue dapat memaklumi hal itu.
"Mirri menyuruhku untuk membaca dari buku, tetapi aku tidak bisa membaca. Dan bibi tidak mengajarkanku cara membaca, sedangkan bibi sendiri bisa membaca. Apakah ini ada kaitannya, bibi? Bibi tidak terlibat gerakan bawah tanah yang menentang kerajaan, 'kan?!"
Murrue akhirnya telah mengambil keputusan. Ia tidak bisa menyembunyikan hal mendasar lebih lama lagi, tetapi ia juga tidak ingin salah langkah untuk menjelaskan kebenarannya pada si gadis. Akhirnya ia berucap perlahan.
"Pertama, aku akan menjawab apa itu Plantagenet. Plantagenet adalah keluarga Kerajaan sebelum dinasti Meroving berdiri. Mereka mendirikan dinasti Plantagenet di tanah Wisshelbach ini sebelum akhirnya runtuh dalam perang saudara dalam dinasti. Keluarga Lancaster memgang tampuk kepemimpinan kerajaan tetapi nyatanya, keluarga York yang merupakan saudara dari Lancaster juga menginginkan status pemimpin." Murrue menghentikan penjelasasnnya sebentar. Ia menatap dalam air muka si gadis pirang yang menyimak kisahnya dengan baik. Wanita berkepala coklat abu menarik nafs pelan. "Setelah itu, kepemimpinan kerajaan di tanah Wisshelbach digantikan oleh dinasti Meroving. Tidak ada pemenang dari dinasti Plantegenet, dan menurut kisah, Raja Meroving mendapatkan mahkota Raja Plantagenet yang katuh ke tanah saat pertempuran berlangsung. Maka para prajurit bersorak untuk hal itu, karena mereka meyakini itu sebagai takdir keluarga Meroving."
Kedua iris amber jernih si gadis pirang melebar sedikit. Rasa pening perlahan menyusup dalam tempurung kepala pirangnya. Namun ia menghirauka rasa sakit itu.
"Kedua, Plantagent bukanlah sebuah aib. Itu tergantung dari sisi mana kau memandangnya. Dan yang ketiga, alasan aku tidak menyukai Yang Mulia Raja karena ia mengambil paksa hak-hak bangsawan Plantagenet dan berusaha keras untuk menyingkirkannya. Ia tidak ingin ada pergolakan dari para bangsawan lama dan memutuskan untuk membersihkan para keluarga Plantagenet yang dinilai mampu untuk menggulingkan kekuasaannya. Padahal yang sebenarnya–" Murrue kembali diam membuat Cagalli terpaku menatap sosok wanita dewasa dihadapannya dengan lekat. "–Tidak semua keluarga Plantagenet yang menginginkan hal itu. Kau tahu, nak, manusia dipenuhi oleh rasa serakah dan itu bergantung bagaimana cara kita untuk mengatasinya. Tetapi rasa itu bukanlah alasan bagi seseorang untuk membunuh orang lain demi kepentingannya sendiri, bukan? Dan Yang Mulia Raja Durandall melakukannya. Perasaan bingung membawanya untuk melakukan genosida."
Kali ini Cagalli memandang Murrue dengan kedua mata yang terbuka lebar, "Itu kejam, bibi."
"Maka dari itu aku tidak membiarkanmu belajar membaca. Aku tidak ingin kau membaca buku-buku yang penuh dengan dusta yang dibuat oleh dinasti Meroving. Banyak kebohongan yang diciptakan dalam buku, nak. Walaupun pandanganmu pada buku itu jugalah yang menentukan pendapatmu, tetapi percayalah.." 'belum saatnya kau memahami apa yang terjadi, kau masih belum mengenali siapa dirimu sebenarnya, nak. Dan aku masih belum bisa mengingatkanmu akan hal itu…' "Kau masih terlalu belia untuk memahami kisah ini. Aku tidak ingin kau terjerumus dalam jurang kedustaan."
Kedua tangan dipangkuannya mengepal erat. Rasa gelisah muncul kembali. Walaupun ia hampir melupakan rasa itu tetapi ia mengingat dengan jelas bagaimana perasaan itu pernah muncul.
Perang Mawar.
"Sekarang, kau sendirilah yang menentukan. Apakah aku bergabung dengan gerakan bawah tanah atau tidak. Sudah saatnya aku membiarkanmu untuk menilai diriku, juga dunia ini."
Kedua manik madu Cagalli beralih perlahan. Fokus pandangan si gadis bukan lagi wanita yang duduk diranjang sang teman, tetapi jatuh pada lantai kayu.
Merasa mendapatkan jawaban apapun dari lawan bicaranya membuat si wanita berkepala coklat abu kembali membuka suara. Sejak tadi ada hal yang terlewat dari pandangannya.
"Boleh aku bertanya padamu, Cagalli?"
Pandangan si gadis pirang kembali berpusat pada wajah cantik wanita bersurai coklat pudar sebahu. Ia tidak melihat senyum lembut tertera diwajah cantiknya, kini berganti dengan air muka serius yang jarang ditampakan oleh wanita itu.
"Kemana batu ruby yang pernah kau kalungkan?"
Cagalli resmi menghindari tatapannya. Ia membalikan tubuh kembali menghadap jendela terbuka dihadapannya. Kepalanya tertunduk menatap jalan kota yang sepi. Toko-toko disekitar rumah itu sudah tutup sejak kegelapan menggulung langit biru.
"Maaf, aku menghilangkannya, bibi. Saat terakhir kita tinggal di Orb, aku bermimpi bertemu seorang pemuda yang beberapa umur diatasku–itu yang hampir kuceritakan padamu tetapi tidak jadi. Aku bertemu dengannya di hutan, dia tengah dalam keadaan terluka parah. Karena aku ingat dengan kata-kata bibi kalau kalung itu dapat menjaga keselamatan si pemakai, maka aku memberikan itu padanya. Dan ketika aku bangun keesokan paginya, aku tidak menemukan benda itu terkalung dileherku lagi." Cagalli menarik nafas dalam. "Maaf aku menghilangkannya."
Tidak ada jawaban dari Murrue, sehingga meninggalkan kesunyian diantara keduanya. Angin berhembus pelan, menerbangkan surai kuning sebahunya dan mengantarkan suara samar langkah kaki kuda diiringi gemerisik dedaunan yang gugur.
Manik coklat madunya terbawa kelembutan desir angin dan menghantarkannya pada sebuah warna indah dibawah pandangannya.
hijau emerald yang pertama kali ia lihat disana. Dijalan tanah yang lembab. Menatapnya dalam diam. Surai biru gelapnya juga terbawa hembusan angin yang ringan. Deburan daun yang gugur memayungi langkahnya dalam temaram cahaya malam.
Cagalli terpana. Untuk kedua kalinya pada sosok itu.
.
.
Kira Yamato melipat kembali kertas putih yang beberapa saat lalu diantarkan oleh prajurit yang menjaga kediaman pribadinya di kaki bukit Rhein . Itu adalah sebuah pesan yang dikirimkan langsung oleh Yang Mulia Raja Durandall.
Kedua iris amethyst gelapnya terpejam erat, tertutupi lengan yang lelah. Punggungnya bersandar pada sandaran kursi kayu yang nyaman. Langkah kaki kecil-kecil yang perlahan menghampirinya dihiraukan. Ia ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak saja untuk berpikir luas.
"Kira.."
Awalnya ia akan bergeming. Tetapi mendengar panggilan lembut seorang gadis membuatnya kembali terjaga. Ia meletakan kembali lengannya disisi tubuhnya. Punggungnya kembali tegak untuk menyambut si gadis merah muda.
"Paman Mwu datang untuk menemuimu."
Belum sampai satu menit si gadis menyampaikan berita, sosok yang dibicarakan telah menampakan diri. helaian pirangnya sedikit basah karena embun dini hari.
Kira memandangnya dengan lelah.
"Kau sudah menerima pesannya?"
Si laki-laki kepala coklat mengangguk. Gadis merah muda dihadapannya kini mengambil posisi duduk dihadapan tamu. Ia harus mengikuti arah perbincangan dini hari ini.
"Kau harus menerima tawaran Durandall besok. Ia akan memintamu untuk bersedia menikahi keponakannya dalam pertemuan besok siang."
"Mengapa harus?"
"Kau akan mengerti nanti. Kedatanganku kesini adalah untuk memastikan jawabanmu, kau harus menerimanya. Dan, Lacus.." pandangan safirnya kini tertuju pada gadis diseberang tempat duduknya. Ia menganggukan kepala sekali saat memperhatikan penampilan gadis merah muda. Jubah hijau gelap yang cukup untuk menutupi tubuh bagian atasnya hingga lutut. Helai merah mudanya diikat ekor kuda dengan pita berwarna putih. ".. Kurasa kau paham harus bertindak seperti apa."
"Tentu, paman Mwu.." si gadis merah muda menanggapi dengan senyuman hangat, menutupi rasa sakit dalam dirinya yang harus menjauh dari orang yang disayangi.
"Maaf."
"Tidak apa. Aku telah lama memilih jalan ini, dan aku tentu harus mampu menanggung semua resiko. Bukan begitu?" Sekali lagi kepala pirang mengangguk. Senyum kembali menghiasi wajah cantik Lacus. Pandangannya kini beralih pada orang yang dikasihi, Kira Yamato. "Aku berjanji akan menemui lagi suatu saat nanti. Jalankan tugasmu dengan baik dan jangan lengah. Kita pasti akan bertemu lagi."
Kira ikut menampakan senyum tetapi kedua iris amethyst gelapnya diliputi rasa hampa. Sejak lama ia memikirkan kemungkinan seperti ini tetapi tetap saja rasanya menyakitkan, harus berada jauh dari gadis yang dicintainya. Dan benar kata Lacus, ini adalah semua resiko yang harus mereka jalani demi masa depan. Walaupun masa depan masih terasa abu-abu dimatanya.
Tanpa banyak kalimat terucap, Lacus Clyne bangkit dari duduknya. Saat itulah Kira menggenggam erat salah satu tangannya yang bebas, meminta si gadis untuk berbalik lebih dulu sebelum resmi menjauh dari sisinya. Lacus mengikuti keinginan si kepala coklat. Ia berbalik sedikit dan Kira ikut bangkit dari duduknya.
"Ini. Bawalah bersamamu.." Kira memberikan sebilah senjata yang terbungkus kain berwarna coklat. Tanpa membukanya, Lacus pun mengetahui apa itu. pedang hitam milik keluarga Yamato yang diberikan secara turun temurun. Pandangan Lacus melunak. "Aku tidak yakin dapat menjaganya bersamaku, maka bawalah. Setidaknya itu dapat melindungimu dari kejaran ksatria Meroving."
Lacus menepuk pelan pundak si pemuda. "Terimakasih. Dengan ini aku dapat memastikan bahwa kau akan menemuiku dan mengambil ini kembali."
Kira langsung menarik pinggang sang gadis merah muda. Membenamkan kepalanya diceruk hangat pundak si gadis dengan kedua mata terpejam. Tangan hangat Lacus mengusap punggung pemuda yang memeluknya. "Tuhan memberkatimu, Kira."
"Amen.."
.
.
"Tuan Puteri, Yang Mulia Raja Durandall ingin anda menghadiri pertemuan siang ini di kediaman pribadi Yang Mulia Raja." Seorang pelayan belia datang dengan kepala tertunduk menghadap seorang perempuan yang masih mematut diri didepan cermin besar. Tangan lembutnya masih menyisir surai merah melebihi bahunya.
"Apa yang ingin dibicarakan dalam pertemuan nanti hingga mengundang orang sepertiku?" Sang Tuan Putri berucap tanpa menolehkan kepalanya sedikit pun untuk melihat wajah si pelayan. Pandangannya hanya terpusat pada pantulan dirinya dipermukaan cermin.
"Beliau ingin membicarakan rencana pernikahan anda dengan Baron of Lusignan, Lord Yamato."
"Siapa saja yang akan hadir disana?"
"Yang Mulia Raja beserta Yang Mulia Ratu dan Tuan putri Durandall, juga Earl Le Creuset."
Tuan putrid bersurai merah melebihi bahu mendengus pelan. Ia mengangkat salah satu lengannya, menyuruh sang pelayan untuk meninggalkan ruangan. Jari-jemari yang menyisir helaian merahnya berhenti sesaat.
"Myrna, tolong bantu aku merias diri. dan siapkan gaun untuk pertemuan siang ini."
Kali ini sosok pelayan paruh baya yang memasuki ruangan. Kepalanya tertunduk untuk memberikan salam hormat pada sang tuan putri.
Tanpa menunggu lebih lama, ia melangkah menghampiri gadis remaja yang masih menatap kosong pada pantulan dirinya dicermin. Wanita paruh baya bersurai coklat muda menyisir pelan helaian merah lembut sang gadis dalam diam. Kemudia jemari-jemari gemuknya menari lincah membentuk anyaman sederhana untuk menggulung helai demi helai surai merah si gadis.
Kedua iris keabuan si gadis perlahan mendapatkan kehidupannya kembali. Kedua telapak tangannya yang berada dipangkuan terkepal erat. Guratan emosi menodai wajah cantiknya.
'paman, kau memberitahuku dengan baik bagaimana caranya untuk mengakhiri hidup.'
.
.
.
To Be Continued
.
.
* Sting menyinggung soal kejadian di chapter 3
** Keluarga Mawar Putih yang dimaksud disini adalah keluarga York yang berlambangkan mawar putih.
A/N : Alhamdulillah masih ada yang bersedia review di chapter sebelumnya :) oke, saya sadar benar kalau chapter ini amat sangat panjang dan membosankan. Ada ga sih yang ngerasa kalau cerita ini ga maju2 *ditendangsampaiPlant* yaah pokoknya saya minta maaf. Ada yang kurang paham dari chapter ini? Kalau iya, mohon maaf ya.. tulisan saya masih ababil jadi sangat kacau bgt.. hehe.. tapi jujur, sebenarnya saya udah kasih banyak petunjuk di chapter ini untuk kedepannya. Pasti gampang ketebak kan? Kan? *dihajar* chapter ini juga udah nyinggung2 summary ceritanya kok.. hehe.. ohya, ada yang bisa kasih saran untuk adegan Asucaga-nya? Jujur, saya lagi sangat butuh masukan ni demi kelangsungan fic ini. Kalau bersedia, tolong PM aja ya.. makasih :)
Oh ya, ada yang penasaran sama fic ini ga? Kalau ada, maaf kemungkinan ga bisa publish cepat soalnya ffn di protect kalau di modem saya, jadi harus cari wifi dulu -_- mohon maaf *bow*
Balasan review ^^ :
Dinah : makasih reviewnya, Dinah. Aku senang bgt kalau Dinah udah paham dengan cerita ini. Maaf ya karena tulisanku ababil jadi bikin Dinah bingung. Shani memang saya buat menyedihkan, karena aku rasa dia bagus memainkan peran ini *dibom* Aku akan berusaha lebih baik lagi, makasih reviewnya yaa,, jangan bosan untuk mampir ke fic ini.. oh ya, itu dugaan Dinah benar loh ^^
Alyazala : maaf, aku belum bikin adegan AsuCaga lagi, tapi mudah2an sedikit potongan adegan mereka di chapter ini bisa menghibur alya-san. Jujur, saya lagi krisis ide untuk adegan mereka, jadi boleh minta saran? *ditimpuk* Athun baik2 aja kok, sehat-sehat aja.. hehe.. makasih reviewnya yaa.. jangan bosan mampir ke fic ababil saya ya..
Guest : makasih reviewnya, Guest-san. Haha, saya ga pandai bikin fic bertajuk politik jadi saya rasa fic ini ga serumit kehidupan politik kok.. hehe, dasar konfliknya sebenarnya udah dijelasin di summary, mudah2an saya bisa jelasin kesinambungannya ke Guest *ditendang* sebenarnya ga ada perbedaan antara penyihir Plantagenet sama penyihir biasa kok, seperti penjelasan ababil saya di chapter ini. Hehe.. bagaimana Cagalli bisa keluar dari rumah Athrun, udah dijelasin kan? Hehe, maaf kalau Guest kurang paham, tulisan saya memang terlampau acak2an.. makasih udah review ya.. jangan bosan mampir ke fic ini lagi yaa
Makasih semua reader yang bersedia meluangkan waktu membaca fic ini. Saya butuh saran untuk adegan Asucaga ni, kalau bersedia tolong PM aja ya .. makasih..
Salam,
Sve
