Saat itu tengah malam. Jendela dalam ruang kamar telah ditutup rapat. Embun akibat air hujan yang mengguyur Onogoro masih memburamkan kacanya. Sinar bulan sudah ditenggelamkan awan kelabu dilangit yang gelap. Kamar itu hanya disinari oleh tiga batang lilin yang menyala temaram.

Cagalli menarik lebih erat kain selimut yang menutup seluruh tubuhnya dari udara dingin yang memenuhi ruangan. Malam itu ia tertidur dengan perasaan gelisah. Percakapan empat mata dengan sang bibi cukup meninggalkan kesan buruk dalam kepala pirangnya. Tak dipungkiri bahwa rasa takut mempengaruhi tubuhnya hingga menggigil pelan, antara dingin juga rasa takut.

Kedua matanya terpejam erat tetapi alam bawah sadarnya memberi ajakan untuk menelusuri bunga tidur. Malam itu ia bermimpi. Ditengah ketakutan yang sama seperti yang pernah ia rasakan beberapa hari lalu, ia pun mendapatkan mimpi yang sama anehnya dengan malam itu.

Ia melihat seorang anak perempuan.

Dari sudutnya berdiri ia hanya mampu menatap punggung sang gadis kecil. Gadis itu juga memiliki surai pirang cerah namun lebih panjang dari miliknya sehingga mampu dibentuk sanggul dibelakang kepala. Pada puncak kepala, tersemat mahkota berbentuk sulur tanaman mawar merah tanpa duri yang tengah bersemi. Terbuat dari emas putih yang berkilau tertimpa sinar matahari pagi. Mengelilingi kepala pirangnya yang teranyam indah disisi-sisinya.

Cagalli sangat tertegun ketika melihat pakaian yang dikenakan si gadis kecil. Lembaran kain berwarna hijau pucat dengan sulaman benang emas pada masing-masing sisi kainnya. Sebuah tunik mencapai mata kaki, tanpa lengan dan pada bagian pinggang melingkarlah sebuah simpul tali berwarna putih. Salah satu sisi kain tunik membentuk gelombang-gelombang besar yang jatuh vertikal.

Punggung kecilnya menopang beberapa anak panah yang terbuat dari kayu. Tangan kirinya yang belum seberapa panjang menggenggam busur yang terbuat dari tulang binatang, dan tangan lainnya membawa salah satu anak panah dari balik punggungnya.

Masing-masing pergelangan tangannya dihiasi gelang-gelangan lebar penuh ukir-ukiran yang terbuat dari logam. Juga berkilau seperti mahkota dikepala pirangnya.

Ia seperti melihat penampakan dewi Artemis dalam sosok anak-anak yang berdiam di bukit Olimpus.

Sosok lain berdiri pada sisi sang gadis kecil.

Masih melihat dibalik punggung keduanya, Cagalli menyadari bahwa sosok yang baru hadir memiliki tubuh yang jauh lebih tinggi dan besar dari si gadis kecil. Seorang laki-laki yang ia yakini memiliki usia yang jauh diatas si gadis kecil maupun dirinya. Helai demi helai hitam panjang sang pria dibiarkan jatuh pada punggung. Jubah merah gelapnya yang terbuat dari kain beludru halus menjuntai melebihi lutut. Bergerak pelan mengikuti arah angin yang berhembus.

Tangan besarnya menepuk lembut bahu si gadis kecil, hingga kepala pirang itu menoleh pada pria yang masih berdiri disampingnya.

Samar Cagalli melihat senyum manis dari si gadis kecil yang ditujukan pada pria disampingnya. Wajah si anak perempuan menyiratkan kegembiraan yang luar biasa. Terlihat jelas dari kedua iris matanya yang berwarna amber.

Cagalli terperanjat diposisi berdirinya. Ia hampir melangkah untuk menghampiri sosok gadis kecil yang terlihat samar seperti dirinya. Sebelum sebuah kalimat terdengar,

"Teruslah giat berlatih, nak. Agar kau tumbuh menjadi gadis yang kuat nantinya… Kau adalah satu-satunya harapanku untuk meneruskan tahta ini…"

.

.

.

Gundam Seed/Destiny Sunrise

Svezza Annashya present a fiction

The World

Chapter 6 : Red Moon

Warning : sangat OOC, AU, Banyak adegan yang terpotong, typo(s) yang bertebaran dimana-mana, gaje, deskripsi sangat minim, cerita panjang nan membosankan, alur muter-muter.

.

.

.

Cagalli bangun dengan wajah sedikit pucat. Ia melihat Miriallia yang duduk tenang ditepi ranjangnya. Sesekali telapak tangan lembutnya mengusap kening Cagalli yang terasa hangat.

"Hoh… apa ini sudah pagi, Mirri?"

Miriallia menatap si gadis pirang yang masih berbaring dihadapannya. "Ini bahkan hampir siang, Cagalli. Langit memang mendung makanya terlihat seperti masih pagi." Gadis itu kemudian sedikit bangkit dari ranjang. ia menarik lembaran selimut yang dikenakan sang teman untuk dilipat agar terlihat lebih rapi.

Cagalli menyentuh pelan sebuah kain hangat yang masih tertinggal diatas dahinya. Kedua irisnya melirik pada dahi dengan alis yang bertautan. Menyadari itu Miriallia kembali memandang sang teman dengan wajah sebal.

"Makanya jangan tidur terlalu malam. Pada akhirnya kau jatuh sakit jika seperti ini terus. Bahkan bibi Ramius bilang kau lupa menutup jendela semalam… Angin malam tidak baik untuk kesehatan, Cagalli."

Si teman yang diberikan nasehat hanya mampu menganggukan kepala dalam diam. Dilepasnya kain yang tergeletak diatas dahinya. Ia segera turun dari ranjang kayu yang hangat. Telapak kakinya seketika menyentuh lantai batu yang dingin.

"Apa semalam hujannya deras?"

"Begitulah kata bibi Ramius tadi. Kamu mau kemana, hah?!" si gadis berkepala cokelat gelombang sedikit memekik saat temannya melangkah menjauh dari ranjang.

Tanpa menghentikan langkah, Cagalli membalas pekikan Mirri dengan tenang, "Mengantarmu ke pasar, tentu saja.. Tunggulah sebentar, aku harus bersiap-siap dulu."

"Tidak! Kau sedang demam, cuaca diluar pun tidak mendukungmu untuk keluar hari ini. Jika mau, aku bisa mengajakmu ke pasar lain hari, tapi tidak untuk hari ini, Cagalli!"

Untuk sesaat gadis pirang menghentikan langkah kakinya. Ia memang merasakan suhu tubuhnya yang sedikit meningkat sejak semalam tetapi ia terus menghiraukannya. Maka ia pun memberikan senyum simpul pada Miriallia yang masih menunggu keputusannya. "Mirri… Aku baik-baik saja kok. Dengan bangun siang, tubuhku sudah kembali pulih. Lagi pula kemarin aku sudah berjanji untuk mengantarmu ke pasar. Jadi tunggulah disini karena aku harus mandi dulu. Ya…?"

Ucapannya tidak berpengaruh banyak bagi Miriallia. Masih terlihat jelas dari raut wajahnya yang menampakan kecemasan. Tetapi memang dasar sang teman yang keras kepala ––yang seperti dikatakan bibi Ramius––Mirri pun tidak mampu mencegah gadis pirang itu untuk tidak pergi kemanapun hari ini atau ia akan mendapatkan kebisuan sepanjang hari dari teman barunya. "Tetapi jika kau merasa lelah saat diperjalanan nanti, katakan saja padaku ya! Nanti kita akan istirahat. Jangan lupa setelah mandi, makanlah beberapa potong roti sebelum berangkat! Bila perlu, bawa juga untuk bekal nanti!"

"Baik…! kau cerewet seperti bibi Murrue.." dan si gadis pirang benar-benar menghilang dibalik pintu.

.

"Kalungnya hilang?! Bagaimana bisa?"

Erica Simmons meletakan pena bulu ayam diatas meja dengan kasar. Kedua matanya membulat sempurna. Sekarang ia mengerti mengapa rekan lamanya menampilkan raut wajah yang penuh dengan keputusasaan.

"Cagalli memberikannya pada seseorang tanpa sepengetahuanku waktu kami masih di Orb… dan bodohnya lagi, aku sudah menghilangkan beberapa bagian ingatan dari kepalanya sebelum aku menyadari bahwa benda itu tak lagi bersamanya! Sial! Bahkan aku tidak tahu makhluk seperti apa yang membawa kalung itu sekarang!" Murrue Ramius menghantamkan kepalan tangannya diatas meja kayu. Sejak semalam kepalanya berdenyut tanpa henti. Ia hampir meledak sejak semalam.

"Tenanglah Murrue…"

"Bagaimana mungkin aku bisa tenang, Erica?! Jika ada yang mengetahui tentang hal ini, nyawa anak itu pasti terancam! Aku bahkan belum mampu menemukan kerabat yang sebenarnya untuk––Sial!"

"Murrue, tolong pelankan suaramu atau anak-anak itu akan mendengar pembicaraan ini." Erica memalingkan wajah dari sang lawan bicara. Hilang sudah keinginannya untuk menuliskan beberapa informasi hari ini.

"Aku harus bagaimana… Erica?" pada akhirnya wanita berkepala cokelat pudar mampu melirihkan nada bicaranya. Ia benar-benar telah putus ia membenci situasi seperti ini tetap saja ia tidak ingin pembicaraan ini didengar oleh siapapun. Bahkan oleh seseorang yang tengah mereka bicarakan. "Kalung itu hanya bisa untuk diberikan bukan untuk diminta … tidakkah kau mengerti?"

Jeda beberapa saat diantara mereka saat Murrue mengakhiri pembicaraan tentang isi kepalanya. Baik Erica maupun Murrue tidak mampu menemukan solusi tanpa resiko untuk menyelesaikan masalah ini.

"Kalau begitu…" Erica memijat pelan pelipisnya yang terasa sakit. "…kau harus membawa Cagalli menjauh dari sini, atau––"

"Ya… atau aku harus menemukan seseorang yang memiliki hak sesungguhnya atas dirinya.."

"Tetapi, pilihan pertama bukanlah pilihan yang tepat." Erica meraih sebuah gulungan kertas yang cukup besar. Ia menyerahkannya pada Murrue. "Itu perkembangan terbaru yang ditemukan oleh rekan-rekanku." Wanita berkepala cokelat pudar sebahu membuka gulungan dengan cepat. Kedua iris cokelatnya bergerak lambat membaca tulisan tangan yang cukup rumit. "Kemungkinan besar keluarga kerajaan akan mengadakan pesta pernikahan dalam bulan bahkan minggu ini. Bukan pilihan yang baik jika kau pergi disaat seperti itu. Pengawalan disekitar Plant bahkan diseluruh wilayah Meroving akan diperketat. Mereka akan memeriksa dengan detail orang-orang yang memasuki atau keluar dari kota. Mobilitas penduduk merupakan fokus utama."

Kedua iris cokelat gelap Murrue terpejam rapat setelah mendengar penjelasan Erica. Kepala cokelatnya tertunduk lelah diatas meja kayu. "Siapa yang akan menikah?"

.

.

"Apa yang bisa kau temukan, Stellar?"

Athrun menghampiri sosok Stellar yang tenggelam dibalik tumpukan jerami disudut ruangan.

Di Onogoro mereka mendapatkan tumpangan tempat tinggal dari kawan masa kecil Dearka yang memiliki usaha peternakan domba. Disana mereka tinggal disebuah gudang tempat penyimpanan jerami kering. Selain dinilai lebih nyaman dijadikan tempat istirahat, gudang jerami memiliki nilai lain bagi seorang Stellar Louisser. disana ia dapat membuat sirkuit sihir tanpa dicurigai oleh keluarga pemilik tempat tinggal, sehingga ia dapat bebas meneliti benda asing yang dibawa oleh Athrun.

Gelengan kepala merupakan jawaban yang tepat yang mampu diberikan Stellar saat itu. "Segala sihir yang kugunakan tidak membawa perubahan apapun dari benda ini." Jemarinya meraih kalung batu merah milik Cagalli yang tergeletak ditengah sirkuit sihir. Ia kemudian mendekatkannya tepat di depan iris merah mudanya. "Aku bahkan tidak menemukan petunjuk apapun tentang benda ini…"

Gadis pirang itu menghela nafas.

"Mungkin benar kata Yzak, bahwa itu hanya kalung biasa. Mungkin saja itu pemberian seseorang yang berarti, makanya ia menganggap benda itu sangat berharga baginya… sudahlah Stellar." Athrun mengusap puncak kepala pirang si gadis kecil.

"Tetapi, kalau ini hanya benda biasa… mengapa tidak menimbulkan reaksi apapun terhadap sihirku?" kedua iris merah muda Stellar tidak berpaling dari batu yang berkilau dihadapannya. "Paling tidak, menimbulkan reaksi retakan dipermukaannya… tetapi ini… tidak bergeming sedikit pun. Kau bisa melihatnya juga kan… Athrun?" ungkap Stellar dengan nada lirih pada akhir kalimat. Ia membawa kalung berbandulkan batu merah berbentuk tabung ke hadapan pemuda biru. Kedua iris hijau terang si pemuda memperhatikan dengan seksama.

"ALex, aku ingin mengajukan permintaan. Aku tidak dapat melakukannya tanpa izin darimu."

Athrun dengan cepat memandang Stellar penuh selidik. Kedua alisnya bertautan dengan sempurna.

Stellar membalikan tubuhnya, berpaling dari hadapan Athrun. Menjauhi lingkaran sirkuit yang tergambar jelas diatas batu granit lantai. Lebih jelasnya ia sedikit enggan untuk merajuk pada pemuda beriris hijau, tetapi gadis itu tidak memiliki pilihan lain.

"Aku ingin ke biara Olavinlinna."

Benar saja!

Kedua iris hijau emerald si pemuda biru beralih pada tumpukan jerami di sudut lain ruangan. Ia telah menduga apa yang diinginkan si gadis pirang itu, makanya ia tidak langsung membalaskan keputusannya berupa kalimat.

Tangan kanannya merogoh kantung pada bagian luar tunik putih gading yang dikenakannya. Ia menyerahkan sebuah kertas yang dilipat rapi dari dalam kantungnya pada Stellar yang masih menunggu jawaban. Kemudian ia berjalan ke hadapan si gadis kecil untuk memberikan catatannya.

Stellar memandang bingung uluran tangan Athrun yang mengarah padanya. Tanpa banyak bicara ia mengambil kertas itu dari tangan si pemuda. Perlahan ia membuka lipatannya. Dan diatas kertas putih itu terdapat sebuah gambaran yang digoreskan oleh batu granit hitam. Kedua iris merah muda Stellar membulat sempurna ketika menyadari gambaran yang diberikan oleh Athrun.

"Ini…"

"Denah dari biara Olavinlinna. Walaupun aku yakin kau tidak akan tersesat untuk mencari jalan ke perpustakaan, tetapi aku berjaga-jaga saja saat kemungkinan itu meleset. Ini adalah peta dari biara. Dibawah gambar ini…" Athrun menunjuk gambaran lain berbentuk hektagonal yang berada dibagian bawah. Disana tergambar ruang-ruang yang mengisi kekosongan dari gambar hektagonal, dengan petunjuk abjad yang mengisi keterangan dari gambar. "…adalah peta ruangan dalam perpustakaan. Disana banyak terdapat ruangan dan agar kau dapat bergerak lebih cepat maka aku membuatkan ini untukmu."

Stellar memperhatikan gambaran lekat-lekat.

"Aku tidak tahu dengan pasti diruang mana perkamen atau buku yang dapat kau jadikan petunjuk untuk mencari kebenaran dari kalung itu… maka aku hanya dapat membantumu dengan cara ini." Athrun menepuk pelan pundak Stellar yang lebih rendah darinya, membuat gadis kecil itu menoleh padanya. "Dan… berhati-hatilah. Semoga Tuhan melindungimu…"

Pemuda biru berbalik, ia segera melangkah menjauh dari gadis kecil yang lebih dulu menarik lengan kirinya. Tanpa diminta lebih jauh Athrun pun menuruti permintaan Stellar untuk kembali berbalik kearahnya. Dan ketika ia mengamati wajah si gadis kecil, iris emeraldnya menemukan sebuah rajukan dalam iris merah muda Stellar.

"Kau… tidak ikut denganku?"

Tidak ada jawaban.

Stellar mendengus kasar. Ia sudah memperkirakan bahwa pertanyaannya tidak akan terjawab semudah itu. maka ia mencoba mengalihkan pembicaraan, "hei, hei..kau membiarkan anak kecil ini melintasi ruangan gelap dimalam hari? Bahkan kudengar di labirin perpustakaan banyak sekali iblis yang menghuni saat malam tiba… Kau gila jika membiarkanku melakukan ini sendiri, tuan muda!" hardik Stellar yang berakhir dengan candaan.

Tentu saja ia berdusta.

Athrun menampakan senyum simpul. Kepalanya sedikit tertunduk. "Bukannya kau sendiri yang mengatakan bahwa kau bahkan jauh lebih dulu dilahirkan dari padaku, kak Louisser?" si gadis pirang membalas kata-kata si pemuda biru dengan pendelikan kedua bola matanya. "Dan.. tolong hentikan leluconmu soal labirin perpustakaan, itu sama sekali tidak lucu." Athrun memutuskan untuk menarik nafas sebelum menjawab pertanyaan pertama yang diajukan oleh Stellar. "Maaf, tetapi aku tidak bisa ikut denganmu…"

Stellar mencoba memperhatikan air muka si pemuda biru yang nyata lebih memilih untuk memalingkan wajah kembali. Pada akhirnya gadis pirang itu memutuskan untuk memukul lengan kiri Athrun dengan kuat membuat pemuda berkepala biru meringis pelan mengusap lengannya. "Bodoh! Kalau terjadi sesuatu disana, maka aku akan memanggilmu dan kau harus datang! Apapun yang terjadi!"

Senyum simpul merupakan cara terbaik untuk menanggapi sikap keras kepala Stellar. Athrun pun mengiringi sikapnya dengan sebuah sentuhan pada puncak kepala pirang Stellar. Namun kali ini mengusap dengan rasa hambar. "Akan kuusahakan. Tetapi sebelumnya aku akan lebih dulu berdoa untuk keselamatanmu dari roh-roh jahat."

Stellar mendengus pelan. Athrun kembali berbalik setelah dirasa pembicaraan diantara keduanya telah selesai. Dan untuk kali ini Stellar membiarkannya. "Kalau begitu, sampai jumpa. Dearka sudah menungguku di luar.

"Kalian mau kemana memangnya?"

.

.

Kedai kopi. Merupakan tempat yang paling dapat diandalkan jika kalian ingin mencari informasi soal berita terbaru. Kedai kopi selain sebagai tempat minum juga dapat menjadi tempat diskusi para penduduk kota yang mengetahui segala berita.

Wanita tidak berpolitik, mereka hanya perlu mengurus rumah dan keperluan keluarganya saja.

Itulah alasan mengapa kaum adam lebih suka berunding dikedai kopi maupun kedai minuman lain. Wanita bukanlah makhluk yang tepat untuk diajak berbincang politik karena urusan rumah tangga mereka. Maka jalan pikiran mereka pun sangat rumit dan membosankan.

Athrun dan Dearka memulai hari mereka di Onogoro dengan datang ke kedai kopi. Di pagi hari biasanya mereka akan membantu Rusty ––teman kecil Dearka––memberi makan domba-dombanya. Setelah matahari dirasa cukup tinggi, Dearka dan Athrun akan pamit untuk jalan-jalan disekitar kota. Berbekal sedikit penyamaran layaknya penduduk lain. Yzak lebih memilih untuk berdiam diri disekitar kediaman keluarga Rusty untuk menjaga tempat singgah mereka.

Sekali lagi perlu diingatkan, Onogoro merupakan tempat yang cukup beresiko bagi keempatnya.

Athrun memutuskan untuk berjalan kaki saja menuju pasar di Onogoro. Ia tidak ingin tampak mencolok dengan menunggang kuda disekitar pasar. Maka Dearka pun menuruti dengan meninggalkan kuda-kuda mereka––yang dibawa dari Minoa––di istal kuda. Bukan hal yang sulit bagi Dearka untuk menempuh jarak jauh dengan berjalan kaki. Ia sudah terbiasa. Terlebih Onogoro adalah wilayah masa kecilnya. Ia paham benar bagaimana cara berkomunikasi dengan para penduduk.

Tak lupa sebuah kain sorban dikenakan keduanya untuk menyamarkan penampilan. Bukan hal yang sulit memang jika harus berbaur dengan para penduduk kota, toh tidak ada yang akan mengenali mereka dengan mudah. Tetapi tetap saja sebuah penyamaran dibutuhkan sebagai pelengkap. Baik Athrun maupun ketiga temannya tidak bersedia menjadi objek tatapan para prajurit Meroving yang berkeliaran disekitar pasar.

Dan keduanya pun berjalan beriringan membaur bersama penduduk.

.

.

Miriallia sibuk melihat-lihat gulungan kain yang dijajakan oleh pedagang kain di pasar. Kedua matanya berbinar cerah saat memperhatikan kain berwarna-warni yang terpampang menjuntai dihadapannya. Rasa keinginan yang besar untuk memilki sangat terlintas dalam kepala cokelat ikalnya.

Berbeda halnya dengan Cagalli. Gadis pirang yang sudah menjadi teman baiknya itu lebih tertarik dengan jajaran kerajinan tangan yang dijual di tepi jalan. Disana terdapat gelang-gelangan yang terbuat dari manik-manik yang berkilauan. Tiba-tiba ia teringat dengan kawan lamanya yang tinggal di Orb. Bagaimana kabarnya, ya? Jika saja Luna ikut denganku kesini, ia pasti akan sangat menikmati bagaimana indahnya gelang-gelangan itu. manik-manik yang dijual disini lebih banyak variasi..

Renungan tentang kawan lama Cagalli berakhir ketika telapak tangan Miriallia menyentuh bahunya pelan. Gadis pirang itu akhirnya kembali memandang sang teman baru.

"Kau sudah mendapatkan apa yang kau cari?"

Miriallia mengangguk. Wajahnya dihiasi dengan senyum hangat. "Aku bahkan dapat membeli kain wol juga…" arah pandangan gadis berkepala cokelat berpindah pada si pedagang yang ikut memberikan senyum ramah. "Paman ini menjual dengan harga yang lebih murah dan kualitasnya pun sama seperti yang lain.." Mirri berucap lirih pada Cagalli.

Cagalli kemudian menundukan sedikit kepala pirangnya pada si pedagang paruh baya. "Kalau begitu, terimakasih, paman.."

"Iya, mampirlah kembali kapan-kapan..."

Selanjutnya kedua gadis itu melangkah berbalik untuk melanjutkan acara rekreasi hari ini.

"Kau ingin melihat gelang-gelang itu dulu, Cagalli?"

Ah, rupanya si gadis cokelat ikal ini punya rasa peduli yang tinggi. Sejak awal mereka tiba di pasar, yang diketahui Cagalli bahwa Miriallia hanya terpaku pada jajaran pedagang-pedagang kain dipasar. Ia tidak menyadari bahwa Miriallia pun diam-diam memperhatikan gerak-gerik si kawan pirangnya yang sesekali melihat-lihat jajaran pedangan gelang manik-manik. Maka Cagalli sedikit tersentak saat Miriallia mengajukan pertanyaan yang tidak terduga.

"Sepertinya tidak usah… sebenarnya aku kurang tertarik dengan gelang-gelangan, hanya saja tiba-tiba aku teringat temanku di Orb, namanya Lunamaria. Dia bisa merangkai manik-manik menjadi gelang yang indah."

"Kau merindukan temanmu rupanya.." Mirri tak bosan memberikan senyum simpulnya pada Cagalli. "Kurasa, tidak masalah kalau kita melihat-lihat dulu."

Cagalli mengerjapkan kedua bola mata ambernya. Ia bingung.

"Ayolah…." Salah satu tangan Miriallia yang bebas dari gulungan kain menarik pegelangan tangan Cagalli penuh semangat hingga gadis itu sedikit terseret dari posisi berdirinya. "Aku yang akan membelikannya untukmu."

.

.

"Astaga, ternyata seperti inilah wajah penampakan kota sebenarnya."

Lama hidup dalam pengasingan membuatnya semakin merasa terasingi oleh jalannya waktu. Ia cukup lama hidup ditengah hutan yang memberikan keteduhan alami.

Athrun memandang sekelilingnya. Dinding tinggi menjulang disisi jalan sempit yang lembab. Lorong demi lorong menyajikan pemandangan yang sama. Jalan setapak yang beralaskan batu-batu licin. Tumpukan sampah berserakan disekitar saluran air.

Kepala birunya mendongak keatas. Memandang langit yang menyajikan awan kelabu sejak pagi. Bahkan sinar matahari pun sulit untuk menembus gumpalan kabut di langit.

Menara-menara gereja menampilkan keindahan arsitektur ghotiknya. Atap-atap runcing yang dihiasi lonceng besar merupakan sebuah gambaran agung dari penampakan kota. Kaca-kaca jendelanya yang terdiri atas mosaik berwarna-warni masih terlihat berkilau walaupun matahari bersinar redup. Bahkan kedua iris hijau teduhnya masih mampu menangkap sinar surga ditengah hiruk-pikuk penduduk yang melintasi pasar.

Kepala biru Athrun kembali tertunduk. Ia melihat kembali jalan yang berada dibawah kakinya.

"Ya. kota benar-benar seperti penampakan dunia. Kau akan menyaksikan kesombongan dan angkuhnya kehidupan jika mendongak keatas. Dan saat kepala tertunduk, maka kau akan menyaksikan betapa kotor dan menyedihkannya menjadi golongan bawah."

Athrun menanggapi kalimat Dearka dalam diam. Walaupun telah merubah penampilan semaksimal mungkin, keduanya masih cukup merasa asing berada ditengah-tengah kerumunan manusia yang semakin bertambah. Bahkan Dearka yang penah tinggal dikota ini pun merasa asing dengan kampung halamannya sendiri.

"Waktu dapat merubah manusia dengan cepat, ya.."

Athrun lebih dulu melangkah setelah cukup lama ia berdiam diri menyaksikan pemandangan kota.

"hmm.."

Dearka pun mengekor dibelakang si pemuda biru.

"Alex, lewat sini…" Dearka mendahului langkah Athrun dengan memotong jalannya. Ia berbelok pada salah satu lorong sempit tak jauh dari keduanya. "Hujan akan segera turun, aku tahu sebuah kedai kopi yang enak di dekat sini. Aku yakin kau pasti menyukainya."

Athrun mengikuti langkah Dearka yang berjalan di depannya. Ia mendengus pelan menanggapi sikap santai si pemuda berkulit tan, "Kuharap kau tidak mengecewakanmu, Hans…"

Tanpa menghentikan langkahnya, Dearka berbalik menghadap Athrun yang masih berjalan dibelakangnya, "Jadi sekarang namaku, Hans? Haha, terdengar sangat aneh!"

Pemuda biru mengangkat bahu dengan santainya, "Hanya itu nama yang terlintas dikepalaku saat ini… sudah, terima saja jika kau tidak ingin menarik banyak perhatian."

Dearka memperlambat langkahnya hingga Athrun dapat melewati tubuhnya begitu saja, "Hei––hei, itu justru sebaliknya! Dan kau lupa, seorang Dearka Elsman selalu mendapat banyak perhatian sekalipun aku tidak memintanya… jangan melupakan itu, kawan. Dan nama itu terdengar sangat pasaran."

Kepala biru menggeleng cepat. Sebenarnya ia sangat malas menanggapi penyakit tinggi kepercayaan diri yang dimiliki temannya itu. bahkan saat ini ia malas menyatakan diri sebagai teman dari seorang Dearka Elsman. Kedua iris emeraldnya berputar cepat. "Itulah tujuanku, bo––"

Buukk..

Kedua iris amethyst Dearka membulat sempurna ketika menyaksikan seorang gadis remaja bersurai ikal cokelat jatuh tersungkur dihadapannya. Gulungan kain yang memenuhi kedua tangannya tenggelam dalam kubangan air yang menggenang diujung lorong.

Singkat cerita, Athrun tanpa sengaja menubruk gadis itu saat tengah melintas cepat diluar lorong. Pembicaraan bodoh antara Athrun dan dirinya telah mengalihkan perhatian si kepala biru dari suasana sekitar. Itulah alasan mengapa ia tanpa sengaja menubruk bahu kiri si gadis ikal.

Athrun yang tanpa banyak bicara dengan segera membantu gadis itu kembali berdiri. Tak jauh dari keduanya, Dearka melihat gadis lain dengan kepala pirang tengah memungut gulungan kain yang saat ini penuh dengan bekas lumpur. Wajah manis gadis itu sedikit memerah. Tentu bukan karena rona tersipu melainkan karena sebuah amarah yang siap terlontar.

.

.

Cagalli segera berdiri kembali setelah membereskan gulungan kain linen dan wol milik Miriallia yang jatuh keatas lumpur. Ia menuding tegas seorang pemuda berkepala biru tanpa banyak pertimbangan.

"Hei mata lumutan!" lontaran amarah akhirnya diumbar oleh Cagalli saat menyaksikan peristiwa naas yang menimpa sang kawan baru. Sebenarnya ia sejak tadi telah menahan amarah pada seseorang––Mirri lebih tepatnya––karena telah meletakan jepit rambut dikepala pirangnya. Ia sudah menolak mentah-mentah keinginan sang kawan untuk menghias kepalanya tetapi Mirri tetap memaksa, maka Cagalli tidak bisa menolak. Alasannya karena ia tidak sampai hati melukai perasaan teman barunya.

Dan jadilah amarah yang terpendam akhirnya terumbar juga. Kali ini yang menjadi sasaran tepatnya adalah pemuda biru yang tidak sengaja menabrak Miriallia. "Bersihkan dulu matamu yang lumutan itu sebelum pergi berjalan-jalan agar tidak menabrak orang lain!"

Cagalli dapat melihat dengan jelas. Pemuda lain yang berdiri tak jauh dari ketiganya––dalam hal ini adalah Dearka––membuka mulutnya besar-besar. Kedua iris madu Cagalli meliriknya tajam, kemudian berpindah pada pemuda berkepala biru yang memandangnya terkejut. Sedikit banyaknya, gadis pirang itu menyesali perkataan kasarnya pada si pemuda biru. Bukan, bukan karena ia melihat dengan jelas unsur ketidaksengajaan dalam peristiwa tadi tetapi ada hal yang lain. Lebih tepatnya ia seperti tersihir melihat hijau emerald indah yang sebelumnya ia hina dengan kata 'lumutan'.

Tetapi Cagalli tidak ingin menunjukan keterpanaannya yang ketiga kali. Maka ia kembali mengeluarkan dusta, "Kau harus mengganti ini semua, mata lumutan!"

Miriallia dengan cepat bergerak menghampiri Cagalli. Ia menggenggam pergelangan tangan gadis itu dengan erat. Mencoba menenangkan gadis keras kepala yang telah menjadi teman barunya.

"Ma––maafkan kata-kata kasar temanku ini. Aku yang seharusnya meminta maaf padamu karena lalai saat berjalan…" Miriallia mengambil paksa gulungan kain di tangan Cagalli. "Ka––kami permisi dulu.. sekali lagi maaf…" Mirri menundukan kepalanya dalam-dalam.

Cagalli bahkan tidak mengikuti tindakannya. Hal itu membuat si pemuda berkepala biru menampakan senyum simpul.

"Benar kata temanmu, nona. Akulah yang bersalah disini karena lalai. Dan sebagai gantinya, kalau tidak keberatan maukah kalian ikut kami ke kedai minuman? Aku juga bersedia mengganti gulungan kainmu yang jatuh ke kubangan."

Dearka berjalan menghampiri ketiganya. Satu orang gadis berkepala pirang pernah ia temui sebelumnya tetapi tidak dengan gadis berambut cokelat ikal disampingnya. Siapakah gerangan?

Tetesan air hujan menjawab kebisuan Miriallia. Ia tiba-tiba teringat sesuatu yang membuatnya kembali panik. "Apakah tempatnya masih jauh dari sini?"

"Tidak…" kali ini Dearka yang membuka suara. "Ayo ikuti kami."

.

"Hatchii…"

"Sepertinya anda sedang flu, nona." Dearka membuka percakapan setelah mereka tiba di kedai kopi. Kebetulan tempat itu tidak terlalu ramai makanya ia dapat mendengar dengan jelas suara bersin-bersin Cagalli sejak tadi.

"Hmm.. begitulah." Karena Cagalli tidak menjawab maka Miriallia pun memutuskan untuk memberikan jawaban. Sejak tadi ia merasa canggung, karena pemuda bermata hijau diseberangnya. Juga karena kondisi Cagalli yang sedang menurun hari ini. Jangan tanyakan apakah ia merasa canggung dengan pemuda berkulit cokelat gelap yang duduk dihadapannya, karena jawabannya adalah tidak. Bahkan sejak tadi, laki-laki itu terus mengajaknya berceloteh.

"Sup daging rusa disini sangat enak, kalian ingin mencobanya?" Dearka kembali menginterupsi suasana canggung yang sangat menyelimuti.

"Pesankan aku satu, Hans." Kali ini pemuda disampingnya membuka suara.

"Nona…" pandangan Dearka beralih pada gadis ikal yang duduk berhadapan dengannya. Ia sejak tadi belum mengetahui nama gadis ikal coklat yang sejak awal duduk berhadapan dengannya.

"Haww. Mirriallia Haww. jika tidak keberatan, aku juga ingin mencobanya." Mirri memberikan senyum simpul pada Dearka diakhir kalimat.

"Dan nona…" kalimat Dearka kembali menggantung. Ia berusaha bersikap biasa menghadapi si gadis pirang yang duduk berhadapan dengan Athrun. Melihat sikap gadis itu saat insiden tadi membuatnya dapat menarik kesimpulan. Bahwa gadis pirang ini tidak mengenali mereka. Maka Dearka mencoba bersikap biasa.

"Pesankan saja."

Bukan Cagalli yang menjawab, melainkan Athrun. Alasannya? Tentu karena melihat kondisi Cagalli yang sedang tidak baik. Cuaca yang dingin seperti ini sangat cocok dengan santapan berupa sup hangat. Pilihan yang sangat baik untuk Cagalli yang sedang dalam keadaan kurang baik.

Daging rusa? Alex? Kenapa rasanya sangat tidak asing, ya?

Cagalli melemparkan pandangan tajamnya pada si pemuda biru yang masih memalingkan wajah kearah jendela yang berdiri disampingnya. Ia memperhatikan lebih lekat bagaimana sosok pemuda yang duduk berhadapan dengannya.

"Baiklah kalau begitu." Dearka menuliskan pesanan keempat orang yang duduk dalam satu meja diatas kertas yang disediakan pelayan. "Untuk minumannya? Disini tidak hanya menyajikan kopi, kok."

"Aku dan Cagalli teh hangat saja." Mirri menjawab lebih dulu. "Ada tidak?"

Dearka menganggukan kepala.

"Dan kau, Alex? Kopi?"

Bohong jika Athrun tidak merasa terganggu dengan tatapan bodoh Cagalli. Maka Mata hijau itu melirik sebentar pada gadis yang duduk dihadapannya. Kedua manik madu itu akhirnya tertangkap memandang diam si pemuda biru. Dan keduanya bertatapan sebentar sebelum akhirnya si pemuda yang menolehkan kepala pada temannya.

"Ya. Dan tolong, ditambah dengan madu."

Hatchhi….

.

.

Kira Yamato berjalan tegas disepanjang lorong istana milik sang Raja. Ia baru saja menyelesaikan tugasnya untuk memenuhi permintaan sang penguasa dan setelah dirasa tak ada keperluan lainnya maka ia memutuskan untuk kembali ke kediamannya.

Kepala cokelatnya terangkat tinggi, pandangannya hanya lurus kedepan. Ia menghiraukan salam hormat dari para prajurit yang berjajar di sepanjang lorong. Beberapa pengawal yang berjalan dibalik punggungnya hanya mampu diam dan terus mengikuti langkah kakinya. Jubah putih sepanjang mata kakinya ikut berayun ringan.

"Lord Yamato. Tunggu sebentar!"

Langkah kakinya terhenti. Kepala cokelat gelapnya menoleh cepat ke balik punggungnya. Ia melihat adanya seorang gadis yang sedikit berlari menghampirinya. Kira Yamato memutuskan untuk membalikan tubuhnya menghadap sang lawan bicara yang tiba-tiba datang menghampiri.

Gaun merah muda yang dikenakan sang wanita berambut magenta terseret kasar diatas permukaan lantai marmer. Nafasnya sedikit tersengal ketika ia berhenti tepat dihadapan sang panglima perang kerajaan Meroving. Beberapa pengawal dan prajurit yang berjaga disekitar kedua bangsawan tersebut menunduk cepat.

"Maaf––" si wanita menarik nafas pelan. Punggungnya sedikit menurun karena lelah mengejar langkah besar Kira. "…mengganggu waktumu. Tapi, bisakah kita bicara sebentar?"

Sang pemuda bangsawan melemparkan senyum tipis di wajah tampannya. Ia masih memperhatikan bagaimana sang gadis yang bersusah payah untuk mengatur nafasnya.

"Baiklah."

.

Keduanya tiba di halaman belakang istana. Hamparan hijau menyejukan menyambut pandangan Kira yang sedikit merasa lelah saat itu. ia lirih mengucapkan rasa syukur karena si gadis membawanya ke tempat yang tepat untuk berbicara empat mata.

Flay Allster lebih dulu berjalan menuju beranda yang tersaji di taman istana. Kira mengikuti langkahnya dalam diam hingga mereka duduk saling berhadapan. Seorang pelayan istana membawakan dua buah cangkir keramik yang berisikan teh. Uap panas masih mengepul diatas permukaan cangkir. Gadis berambut magenta memperhatikan dalam diam.

Kira pun memutuskan untuk diam sebelum sang gadis membuka percakapan. Kedua iris violetnya sesekali memperhatikan Flay, kemudian beralih pada burung-burung camar yang datang berkunjung.

"Bolehkah aku meminta penjelasan darimu, Lord Yamato?"

Pandangan Kira kembali beralih pada gadis yang duduk dihadapannya.

Sebelum ia memberikan jawaban, lebih dulu jemarinya meraih gagang cangkir lalu menyesap teh pelan. Flay memberikan tatapan diam, ia tidak menuntut pemuda dihadapannya untuk segera memberikan jawaban. Maka dengan segala rasa kesabaran ia bersedia untuk menunggu.

"Tentu saja karena saya menghormati segala keputusan anda, Yang Mulia Duchess of Clarence." Kedua kelereng violetnya menatap tepat pada kedua iris abu sang wanita bangsawan. "Apa anda keberatan karena saya meminta anda yang memutuskan hasil pertemuan ini?"

Tidak ada jawaban. Flay Allster lebih memilih untuk mengikuti gerakan Kira sebelumnya. Menyesap teh hangatnya dengan pelan. Setelahnya ia meletakan kembali cangkir keramik itu diatas meja.

"Lalu bagaimana menurutmu, Lord Yamato? Apa kau bersedia menerimaku sebagai calon isterimu?" kepala merah Flay Allster sepenihnya menghindar dari tatapan Kira. Kedua iris abunya menatap sebuah danau yang berada tak jauh dari tempat keduanya duduk.

Seulas senyum getir terlukis samar diwajah pucatnya.

Hal itu tidak luput dari pandangan seorang Kira Yamato.

"Aku hanya menginginkan jawaban jujur darimu, Lord Yamato." pandangannya masih belum beralih dari danau jernih yang dijadikannya sebagai pelarian rasa bingung, "Kau tidak perlu khawatir dengan segala omong kosong pamanku tentang pertemuan hari ini. Kau berhak menolaknya jika kau memang tidak menginginkannya. Biar aku yang menyampaikannya pada beliau."

Pandangan Kira kini beralih pada uap yang mengepul disekitar cangkir keramik. Untuk saat ini ia lebih tertarik memperhatikan kabut hangat itu dibandingkan melihat wajah menyedihkan dari gadis yang menjadi lawan bicaranya.

"Sebenarnya aku sudah memutuskan hal ini, Yang Mulia. Kau tidak perlu menyiapkan skenario apapun karena akulah yang akan mengatakannya pada Yang Mulia Raja Durandall." Kira kembali menampakan senyum tipis yang sayangnya tidak diperhatikan oleh Flay. Gadis itu masih terpaku dalam dunia imajinasi yang dibangunnya selama ini. "Aku memutuskan untuk menerima ini, Yang Mulia."

"Ku akui, kau orang yang pantas untuk sebuah gelar Duke." Kedua iris abu milik Flay kini beralih cepat pada sosok Kira. Tak ada lagi pancaran kesedihan yang terpantul disana. Ia hanya memandang sang tamu tanpa sungkan. "Tapi jika ini jalan yang kau pilih, kurasa itu bukan hal yang bijak untuk di pertimbangkan. Kau dapat meraihnya dengan segala prestasimu di medan perang."

Flay Allster. Seorang tuan puteri yang menyedihkan.

Tergurat halus. Senyum hangat Kira berubah menjadi seringai samar yang tertutupi oleh wajah tanpa dosanya. Kedua iris amethystnya membalas tatapan hampa Flay.

"Tolong percayalah, Yang Mulia… aku tidak menghrapkan gelar apapun setelah menikahimu nanti."

Flay menanggapi ucapan Kira dengan tawa bodoh.

Setidaknya ia mampu memahami bagaimana akhir kisah hidupnya.

.

.

Cagalli adalah orang yang paling akhir dimeja itu yang menghabiskan semangkuk podrasupi. Perutnya sedikit berguncang ketika ia memasukkan sesendok demi sesendok olahan sup yang tersaji diatas meja maka ia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menghabiskannya. Ia tidak memiliki pilihan lain karena Mirriallia yang duduk disampingnya telah memberikan tatapan mengancam sejak mereka tiba di kedai ini.

Dan akhirnya Cagalli tidak memiliki pilihan lain selain menghabiskan menu makan siangnya.

"Oh, jadi kau sejak kecil sudah tinggal disini?"

Samar Cagalli memperhatikan beberapa potong percakapan yang dilakukan oleh Miriallia dan Hans yang saling duduk berhadapan.

"Begitulah. Makanya aku cukup mengenal wilayah ini. Oh, dimana tempat tinggal kalian? Bolehkan, jika kapan-kapan kami berkunjung kesana?"

Kedua bola mata amber Cagalli berputar cepat. Ia cukup malas mendengar percakapan kawan baru Mirri yang terdengar memuakkan. Bisa-bisanya laki-laki ini menggoda gadis yang baru dikenalnya. Ia mendengus pelan dan kepala pirangnya bersandar nyaman pada sandaran kursi kayu, pandangannya sedikit menangkap ekspresi tidak nyaman dari Mirri.

"Kami tinggal di dekat sini. Bibiku memiliki usaha jahit dirumahnya, kau dapat menemukannya setelah berjalan beberapa kaki dari luar pasar."

Pandangan Cagalli beralih pada pemuda lain yang duduk berhadapannya dengannya. Wajah pemuda itu masih saja menatap keluar jendela yang menampakan tetesan air hujan. Entah mengapa Cagalli sangat menikmati pemandangan ini. Ia sedikit melupakan kepalanya yang berputar, percakapan bodoh antara Mirri dan hans, juga kegaduhan yang terjadi dalam kedai. Ya, karena hujan turun maka para pengunjung pasar berbondong-bondong memasuki kedai untuk menghindar dari hujan maupun makan siang.

Gadis berkepala pirang itu menyangga dagunya dengan telapak tangan yang berdiri tegak diatas meja. Punggungnya sedikit maju untuk memperhatikan lebih dekat bagaimana rupa pemuda berambut biru gelap itu. Tanpa sadar Cagalli menampakan senyum hangat. Ia merasa sangat nyaman dengan keadaan seperti ini.

.

.

"Hei, kudengar sebentar lagi Kerajaan akan mengadakan perayaan ya?"

"Iya benar! Aku mendengarnya dari para prajurit yang melintas disini."

"Apakah di perayaan nanti Yang Mulia Raja akan memberikan koin emas lagi?"

"Kurasa iya, mengingat perayaan nanti untuk menyambut hari pernikahan Tuan Puteri Allster."

"Benakah? Siapa laki-laki beruntung yang akan berdiri di altar bersamanya?"

"Menurut informasi yang ku dapat, adalah Baron of Lusignan. Lord Yamato."

"Hebat! Yang Mulia Raja Durandall memang sangat bijak! Itu adalah pilihan yang tepat!"

"Hei, hei.. untuk merayakannya, ayo kita bersulang dulu..!"

Sepenggal percakapan bebas yang terdengar jelas di penjuru kedai mampu membuat seorang pemuda mengepalkan kedua tangannya erat. Gadis yang duduk di hadapannya bahkan mampu melihat buku-buku jari si pemuda yang memutih.

Ia tidak mengerti alasannya tetapi ia meyakini. Bahwa pemuda itu tidak menyukai topik pembicaraan yang diumbar oleh beberapa pria paruh baya yang duduk di tengah ruangan.

Ada apa ini sebenarnya?

Tiba-tiba ia mengingat percakapannya dengan sang bibi semalam. Kedua ujung kakinya pun mendingin dengan cepat.

.

.

Murrue merasakan udara disekitar ruangan menghempaskan kasar helai rambut cokelat pudarnya. Wanita berwajah keibuan itu membalikkan tubuh secara perlahan hingga kedua mata cokelatnya mendapati seorang pemuda berlutut satu kaki di dekatnya. Ia pun melangkah untuk mendekati si pemuda.

"Apa ada sesuatu yang mencurigakan disekitar mereka, Auel?"

"Tidak ada, madam. Kecuali dua orang pemuda yang duduk bersama nona Cagalli dan nona Haww di kedai kopi. Selain itu, aku tidak menemukan kalung itu bersama keduanya."

Murrue berjalan pelan ke sisi ruangan. Ia bersandar di rak kayu yang terisi penuh oleh buku-buku milik Erica.

"Apa mereka adalah orang yang sama yang pernah ditemui Cagalli di Minoa?"

"Salah satunya iya, tetapi saya belum pernah bertemu dengan laki-laki yang satunya."

Si wanita penyihir menyisir beberapa helai rambutnya ke belakang telinga. Ia mengalihkan pandangannya pada batu granit yang ditapaki.

"Auel. Berjagalah disekitar biara Olavinlinna. Aku mengijinkanmu untuk memasukinya. Carilah apa ada seseorang yang mencurigakan yang datang kesana. Fokuskan pada perpustakaan biara. Setelah mereka mendapatkan kalung itu, maka tidak ada tempat lain yang mereka tuju selain biara Olavinllina."

"Baik madam."

Sosok Auel Neider pun menghilang seiring berpendarnya cahaya keabuan yang berkilau.

Maaf karena aku tidak tahu sejauh mana lagi aku mampu melindunginya, Via.

.

.

"APA KAU BILANG!?"

Shiho Hahnenfus menutup kedua matanya dengan cepat ketika sebuah kalimat penuh amarah itu terlontar.

"Mohon maaf karena saya baru menyampaikan berita ini, Yang Mulia Earl Flaga karena saya pun baru beberapa saat lalu menemukan memo yang ditinggalkan oleh Lord Yamato."

Pria pirang yang berdiri di hadapan Shiho memijat pelipisnya pelan. Tiba-tiba saja ia merasakan sakit kepala karena berita yang baru saja dibawa gadis berambut cokelat itu.

"Ini bukan kesalahanmu, Baroness Hahnenfuss. Yang seharusnya meminta maaf padaku adalah anak itu! kenapa ia secara tiba-tiba melakukan hal gila disaat seperti ini!? Lalu bagaimana dengan pertemuannya?"

"Aisyah yang menggantikan posisi Lord Yamato hari ini Yang Mulia. Beliau juga meminta saya untuk mengawasi prajurit yang berada dibawah kepemimpinannya untuk beberapa hari."

Mwu la Flaga akhirnya menghela nafas. Ia tahu tidak seharusnya ia melontarkan kekecewaannya pada wanita yang masih mengenakan jubah merah kebanggaan para Ksatria Meroving. Sang Baroness bukanlah pelakunya.

"Aku memang tidak keberatan jika ia meminta Aisyah yang menggantikan posisinya di pertemuan hari ini. Aku tidak meragukan daya peniruan yang luar biasa dari wanita itu, tetapi apa kau mengetahui alasan mengapa anak itu pergi?"

Wanita berkepala cokelat itu diam sesaat.

"Sebenarnya Lord Yamato tidak memberitahukan apapun tentang kepergiannya pada saya. Tetapi saya rasa, ia akan sulit menemukan waktu luang selain saat ini untuk mengunjungi Bapa Glenn di biara Olavinlinna. Itu hanya pendapat saya, Yang Mulia.

Mwu menganggukan kepala dalam diam. Ia menerima kemungkinan yang telah diungkapkan oleh Shiho Hahnenfuss.

"Lalu bagaimana keputusaan anak itu? ia pasti mengatakannya padamu juga, bukan?"

"Seperti saran anda, Lord Yamato bersedia menerima tawaran Yang Mulia Raja Durandall."

.

.

Tokk.. tok..

Lunamaria mengambil langkah besar untuk segera sampai pada bilah kayu di depan rumahnya. Ia bahkan tidak menghiraukan panggilan sang adik yang meminta bantuan padanya. Dan ketika tiba di balik pintu, Lunamaria sudah menyiapkan ekspresi yang tepat untuk menyambut para tamu.

Kriit..

Deritan bilah kayu yang beradu dengan lantai granit menyadarkan dua orang tamu yang masih menunggu.

Lunamaria menampakan seulas senyum hangat. Ia membuka pintu lebih lebar.

"Silahkan masuk.." Lunamaria berucap ramah pada dua orang pemuda yang masih berdiri di depan pintu rumahnya. Tetapi para tamu tidak memberikan tanggapan apapun kecuali langkah kaki mereka yang dengan santainya memasuki ruangan.

"Bagaimana kabar kalian, kawanku?"

Salah satu tamu dengan kepala hitam langsung mengambil langkah untuk duduk di kursi, punggungnya membutuhkan sandaran. "Cukup melelahkan."

Lunamaria mengambil posisi di seberang sang pemuda hitam. Pandangannya beralih pada pemuda lain yang berdiri di hadapan jendela yang menampakan intensitas hujan, tengah mengamati sesuatu.

"Apa telah terjadi sesuatu di sekitar sini, Luna?"

Kepala merahnya pun terfokus pada sosok pemuda bersurai kuning pasir yang masih enggan untuk merebahkan diri diatas kursi.

"Tidak juga. Ada apa memangnya, Rey?"

Si pemuda berkepala hitam ikut menatap kearah kawannya yang berdiri di dekat jendela. ia pun merasa tidak mengerti dengan maksud perkataan kawan pirangnya itu.

"Lalu. Mengapa kau memberikan informasi rahasia pada kami jika tidak terjadi apapun?"

"Oh, itu rupanya," Lunamaria tertawa renyah. Ia segera bangkit dari duduknya. "Bersabarlah, sebaiknya kau istirahatkan dirimu dulu seperti Shin. Walaupun perjalanan kalian tidak terbilang jauh tetapi sebaiknya kau mengistirahatkan diri dulu."

Si pemuda pirang menuruti kata-kata sang tuan rumah. Ia mengambil posisi duduk di samping pemuda hitam. Tak lama Meyrin Hawk datang bersama sebuah nampan dan tiga cangkir teh hangat untuk diberikan kepada tamu dan saudarinya.

"Oh, tuan Asuka dan tuan Za Burrel rupanya. Lama tidak berjumpa." Gadis yang memiliki rambut panjang sebahu menyapa para tamu dengan ramah. Tak lama kedua alisnya bertautan saat menyadari pakaian yang dikenakan oleh para tamunya.

"Hai Meyrin. Ya, lama tidak berjumpa." Kali ini si pemuda hitam yang membalas sapaan ramah si pemilik rumah. Melihat ekspresi lain di wajah gadis yang lebih muda darinya, ia pun menyadari sesuatu, "Kami menerima undangan dari kakakmu untuk datang kesini. Dan kurasa, kau juga tahu cerita lebih lengkapnya."

Kepala merah si adik mengangguk paham. Ia pun ikut duduk bersama sang kakak.

"Bagaimana kalian bisa datang kesana?" pemuda pirang bertanya tanpa pengantar. Ia langsung mengutarakan tujuan kedatangannya untuk mengunjungi sang kawan.

"Sederhana. Aku dan Meyrin tengah mencari kayu bakar seperti biasa. Tetapi saat itu kami berjalan cukup jauh dari yang seharusnya, maka kami beristirahat di padang rumput dekat hutan."

"lalu?"

"Jujur saja, waktu itu aku amat tertarik untuk melihat peri hutan yang berada disana maka aku menarik Meyrin untuk mengikutiku."

"Bodoh." Tanggapan dari si pemuda hitam. Lunamaria membalasnya dengan wajah kesal.

"Tetapi kebodohanku itu membawa sesuatu yang lain, bodoh. Ada seorang anak kecil, sekitar remaja awal atau kurang dari itu yang membawa kami ke rumahnya yang terletak di dalam hutan. Dan disanalah aku menemukan orang-orang yang mencurigakan."

Ketiganya diam. Lunamaria pun memutuskan untuk melanjutkan cerita yang dialaminya.

"Ku pikir, itu bukan hal yang mencurigakan. Tetapi keesokan harinya ia datang kembali. Maksudku, anak perempuan itu. ia datang menanyakan keadaan Meyrin yang saat itu memang sedang sakit. Ia datang bersama saudaranya. Kalau tidak salah namanya Yzak, Yzak Joule."

"Joule..?" si pemuda pirang bergumam lirih.

"Untunglah aku mengingat bahwa kau pernah memberiku sebuah ramuan yang membuat ingatan menghilang sesaat, Rey. Maka malam sebelum mereka datang atau lebih tepatnya saat aku kembali ke rumah, aku dan Meyrin langsung meminumnya. Dan benar saja! Saat itu ia memegang tanganku!"

"Syukurlah kau dapat cepat tanggap, Luna. Aku sempat mengkhawatirkanmu saat kau mengirimkan berita ini pada kami. Setidaknya dengan meminum itu, mereka tidak mengetahui tentang dirimu yang seorang Ksatria Meroving."

"Lalu, bagaimana cerita kalian?"

"Biasa saja." Pemuda berkepala hitam menegakan tubuhnya setelah lelah bersandar. "Luna, bisakah kau mengantar kami kesana sekarang?"

"Sekarang? Tapi ini 'kan sedang hu––"

"Justru karena itulah kita bisa menyelinap kesana. Apa penjagaan disana sangat kuat?"

Kepala merah Lunamaria menggeleng cepat, "Aku rasa tidak. Tapi…"

"Ayo kita kesana. Apapun yang terjadi kita harus tetap berhati-hati." Si pemuda pirang lebih dulu mengambil langkah menuju pintu.

.

.

"Kau menyuruh Auel pergi ke biara Olavinlinna?!"

"Ya. Setelah apa yang terjadi pada Cagalli, aku tidak bisa hanya duduk diam dan menanti mereka untuk menemukan kami. Satu-satunya cara adalah aku harus menghapuskan semua bukti tentang Cagalli."

"Kau benar-benar yakin? Maksudku, tidak menutup kemungkinan kalau pihak gereja akan terlibat dalam hal ini jika kau mengacau disana. Dan kau membiarkan Cagalli sendiri sekarang?"

"Aku tidak mengatakan kalau akan membuat kekacauan disana, Erica." Murrue memijat pelipisnya yang terasa pening. "Ia masih dalam pengawasanku hingga detik ini. Dan apakah aku belum mengatakan alasan mengapa kami datang kesini?"

"Sudah. Kau mengatakan bahwa sekelompok orang tengah mengejar ka––"

"Bukan hanya itu! Kerajaan mengirimkan mata-matanya ke Orb. Dan orang itu adalah teman dekat Cagalli."

"Apa?! Bagaimana bisa?"

"Aku juga baru mengetahuinya saat terakhir kami di Orb. Kau ingat kalau Cagalli dan temannya pernah memasuki Minoa?" Erica mengangguk pelan, "Saat Auel membawa mereka kembali ke desa, aku berusaha menghapus ingatan mereka yang memasuki Minoa dan saat itulah aku menyadari satu hal. Bahwa anak itu adalah salah seorang Ksatria Meroving."

"Lalu, apa ia mengetahui tentang kalian?"

"Belum. Tapi aku yakin, cepat atau lambat mereka akan mengetahuinya."

"Kenapa kau berbicara sangat pesimis seperti itu, Murrue?"

"Karena salah seorang dari dua pihak itu tengah bersama Cagalli saat ini. "

"Astaga!"

"Jadi, aku mohon maaf dan bersiap-siaplah dengan segala kemungkinan terburuk."

.

.

To Be Continued

.

.

Catatan singkat

dewi Artemis : adalah dewi perburuan dalam mitologi Yunani. Biasanya digambarkan bahwa ia membawa busur dan anak panah ditangannya.

"Kalung itu hanya bisa untuk diberikan bukan untuk diminta" : maksudnya disini kalau kalung itu hanya bisa diberikan ke orang lain. Kayak Cagalli yang kasih itu ke Athrun, tapi Cagalli ga akan pernah mendapatkannya lagi kalau bukan Athrun sendiri yang mengembalikannya ke Cagalli.

"Kau akan menyaksikan kesombongan dan angkuhnya kehidupan jika mendongak keatas. Dan saat kepala tertunduk, maka kau akan menyaksikan betapa kotor dan menyedihkannya menjadi golongan bawah" : di kota abad pertengahan biasanya akan terlihat menar-menara menjulang dari gereja yang bergaya ghotik yang mewah, tetapi jalanan kota yang ditapaki biasanya sangat kumuh. Itulah alasan kenapa Dearka bilang demikian.

Podrasupi : Sup daging rusa besar

Duke dan Dutchess : adalah gelar kebangsawanan tertinggi di Inggris. Untuk keterangan lebih lanjut cari di google aja ya.. hehe

A/N : Mohon maaf atas cerita yang makin simpang siur dan typo yang betebaran dimana-mana. Saya ngerjain ini buru-buru jadi ga sempat periksa lagi.. mohon maaf kalau ada kesalahan lainnya dalam fic ini ya. Fic ini Cuma fantasi belaka, bukan beneran. Dan mohon maaf karena banyak adegan yang ga dijelasin keterangannya..

balasan review :

Lenora : makasih review dan sarannyaya, Lenora-san. saya berusaha untuk mengikuti saran Lenora-san tapi kayaknya hasilnya mengecewakan ya? maaf.. oh ya, kisah ini bisa dibilang tentang pemberontakan, tapi saya agak minder untuk mengungkapnya. maohon reviewnya lagi ya, Lenora-san!

Alyazala : maaf saya belum bisa mengungkap siapa Cagalli di chapter ini. tapi saya akan berusaha menjelaskannya di chapter depan. tapi mudah2an alya bisa tebak-tebak di chapter ini yaa... mohon reviewnya lagi alya :)

Nemui Neko-chan : iya, silahkan dibaca dulu senpai. semoga fic ini bisa menghibur. mohon reviewnya untuk kedepannya lagi ya, senpai.. makasih :)

Ritsu : senpai... makasih banyak atas perbaikannya.. saya senang banget senpai mau bantu mengoreksi fic abal saya. tapi maaf senpai, saya belum bisa kasih catatan untuk chapter ini. saya akan berusaha lagi di chapter depan. makasih banget reviewnya ya senpai.. mohon koreksinya lagi :)

Dinah : Makasih banyak saran dan reviewnya, Dinah. saya mohon maaf karena belum bisa kasih clue lebih jelas tentang hubungan Kira dan Cagalli. saya akan berusaha lebih baik di chapter depan. makasih.

Sampai jumpa, mohon reviewnya lagi ya miina…

Salam, Sve