Tittle : Somewhere We Only Know
Minor- Tittle : (I Love You, My Racer!)
Casts : Luhan, Sehun, Kris, Kyungsoo and etc
Genre : Romance, Hurt, Fluff and etc
Rating : T-M
Length : Series
(HunHan/KrisHan/BaekHun and etc)
Note: SELAMAT MEMBACA, Mina-san! Ini ff pertama KatKat, panggil gue Iren atau KatKat ya, jangan thor! Gue kan ga ngeluarin petir hehehe. WAJIB REVIEW yeee? Ga ada review jadi ga ada motivasi buat lanjut..
.
.
.
Setelah kemarin diomeli Kyungsoo perihal keputusannya untuk pergi ke India, Luhan semakin semangat. Pagi ini, ia sudah di gedung SNBC untuk berkumpul bersama jurnalis yang lolos seleksi itu. Sambil menunggu Ken datang untuk memberi pengarahan, Luhan duduk di samping Xiumin, berbincang tentang jurnalistik yang ternyata menurut Luhan, sangat mengasyikkan.
"Wah, dunia jurnalistik itu sepertinya sangat mengasyikkan!" komentar Luhan setelah mendengar cerita Xiumin tentang pengalamannya bekerja di Meksiko untuk membuat kolom essay tentang keunikan budaya Meksiko.
Xiumin agak mengerinyitkan keningnya, Luhan tidak punya pengalaman apapun dalam bidang jurnalistik, latar belakang pendidikannya pun sangat jauh dari kriteria jurnalis SNBC. Bagaimana Luhan bisa masuk begitu saja ke SNBC?
"Lu, kau tidak punya pengalaman apapun dalam jurnalistik? Hebat! Kau bisa masuk begitu saja ke SNBC." Luhan mengangguk dan tersenyum manis, "Ken Sajangnim memang tidak menerimaku. Tapi, dia akan mengirimku ke India, setelah itu barulah aku akan menjadi jurnalis tetap di sini."
Mendengar penuturan Luhan, Xiumin membuka mulutnya lebar-lebar. "Hah? India? Lu, please, undurkan dirimu sekarang juga. India tidak seperti Korea. Kau akan sengsara di sana. Aku pernah mendengar cerita sahabatku, dia dikirim ke India dan semua yang ia bicarakan tentang India adalah keburukan."
Luhan menggelengkan kepalanya, "Aku belum pernah merasakannya. Jadi, aku tidak peduli. Lagipula, Ken Sajangnim bilang, tak ada jurnalis yang bersedia dikirim ke sana. Jadi, aku juga sekalian membantunya melaksanakan proyek itu."
Xiumin menghembuskan nafasnya kasar, "Lu, di sana bahaya. Tingkat kriminalitas nya tertinggi di dunia."
Luhan tetap teguh pendirian, apapun yang dikatakan orang-orang tentang India, Luhan tidak akan mundur selangkah pun. Baru saja Luhan akan membalas perkataan Xiumin, Ken dan beberapa jurnalis senior segera memasuki ruangan auditorium itu.
"Selamat Pagi, saya tidak punya waktu banyak, jadi langsung saja, saya menerima kalian karena pengalaman kerja dan latar belakang pendidikan kalian yang sesuai dengan kriteria SNBC. SNBC telah menerima 10 orang jurnalis baru, selamat datang di SNBC!" Ken tersenyum menatap satu per satu jurnalis yang baru saja menjadi bagian SNBC. Mereka semua sangat berpengalaman dan profesional. Yah, kecuali satu orang, Luhan namanya. Satu-satunya yang mau dikirim ke India.
Pengarahan pun berlanjut, Luhan sesekali bertanya pada Xiumin jika ada yang tidak dimengerti. Satu jam kemudian, pengarahan selesai, para jurnalis baru sudah mendapat tugas masing-masing. Kecuali, Luhan, tentu saja.
"Xi Luhan, ikut saya." Luhan yang merasa namanya dipanggil langsung mengangguk dan berpamitan kepada Xiumin sebelum pergi ke ruangan Ken.
Luhan duduk manis di depan Ken, sesekali matanya menatap sebuah foto seorang pria yang menurut Luhan luar biasa tampan hingga jantungnya berdegup lebih cepat saat melihat foto itu. Ken tertawa melihat tatapan penuh kagum Luhan, ternyata, setiap orang yang masuk ke ruangan nya ini selalu tertarik pada paras rupawan pria yang ia hormati itu.
"Dia tampan ya?" tanya Ken. Luhan langsung gugup dan wajah nya merona merah, "Ehm..ya, memangnya dia siapa, sajangnim?"
"CEO Davidson Group, juga pemilik SNBC. Namanya, Kris Alexander Davidson." Luhan mendecak penuh kekaguman, apa dunia itu adil? Kris Alexander Davidson ini sudah tampan, kaya dan pintar pula. Luhan bahkan ingin sekali protes kenapa pria bernama Kris ini sangat sempurna. Tapi, kenapa Ken memasang foto itu di ruangan nya?
Daripada bingung sendiri, Luhan memberanikan diri untuk bertanya, "Sajangnim, kenapa foto nya dipajang di ruangan sajangnim?" Ken tersenyum simpul, "Aku mengaguminya. Dia sosok yang dingin, namun, sangat lembut. Ah, kau akan mengerti setelah bertemu dengannya."
Luhan memegang dada kirinya, jantungnya semakin berdegu kencang. Kris Alexander Davidson. Pria itu telah membuat Luhan jatuh dalam pesona nya hanya melalui sebuah foto.
"So, Luhan? Kau akan ikut kelas bahasa Inggris selama tiga hari sebelum berangkat ke India. Di India, kau akan ditempatkan di sebuah rumah sewa. Tugasmu adalah menceritakan bagaimana realita kehidupan di India, terutama tentang kriminalitas. Belakangan ini film Bollywood berbohong tentang India yang megah. Kau akan diberikan peralatan dan perbekalan, jadi, tak usah khawatir." Jelas Ken. Luhan mengangguk mengerti, ia jadi semakin penasaran bagaimana 'India' yang sebenarnya. Apakah yang dikatakan Kyungsoo dan Xiumin itu benar? Atau itu hanyalah bualan semata?
"Siap, sajangnim! Pasti saya menjalankan tugas dengan baik." ujar Luhan penuh semangat. Ken tersenyum, rasanya lega ada yang mau menjalankan proyek yang tertunda selama setahun ini. Luhan benar-benar pemberani, meskipun dia bukan jurnalis profesional dengan seribu pengalaman, tapi, Luhan tidak manja. Ia bersedia untuk menjalankan tugasnya. Tidak merengek saat mengetahui bahwa negara yang harus ia kunjungi adalah India.
.
.
.
Pesawat pribadi Boeing 100-06-12 dengan logo Davidson Group di bagian badan nya itu mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Indira Ghandi, Delhi, India setelah 13 jam perjalanan dari Gimpo International Airport.
"Kita sudah sampai, Kris?" gumam Sehun malas. Mata nya masih agak lengket karena sepanjang perjalanan ia hanya tidur, berbeda jauh dengan Kris yang sibuk mengurus ini itu.
Kris mengangguk, "Ya, bangunlah, sleepy head!" ujar Kris sembari menutup laptop nya. Byun Baekhyun- manajer Sehun- langsung memukul kepala Sehun karena anak itu tak menuruti perintah Kris untuk bangun dan malah memilih tidur lagi.
"Yaa! Bangunlah, bodoh! Kau mau di pesawat terus, hah?" bentak Baekhyun. Sehun mendecak kesal dan langsung bangun. Manajer nya ini sangat cerewet dan suara melengking nya itu hanya akan membuat pendengaran Sehun rusak.
Seorang pria jangkung dengan pakaian yang sama formal nya dengan Kris masuk ke bagian VVIP itu, Park Chanyeol namanya. Orang kepercayaan Kris sekaligus asisten nya.
"Tuan, semuanya sudah siap. Kita akan segera turun." Ujar Chanyeol. Kris mengangguk dan menepuk bahu Chanyeol, "Bagus, terimakasih Chanyeol."
Pintu pesawat terbuka, Kris Alexander Davidson dan Sehun Alexander Davidson segera turun, diikuti oleh asisten Kris, Park Chanyeol dan manajer Sehun, Byun Baekhyun serta beberapa ajudannya. Perdana Menteri India berserta jajaran pengusaha asli India berjajar rapi, menyambut kedatangan Davidson Group itu dengan suka cita. Mereka banyak berharap bahwa pembangunan Davidson Group di India akan mempercepat perkembangan perekonomian di India.
Sehun mendecih kesal ketika melihat Kris beserta Chanyeol berbicara dalam bahasa India bersama orang-orang itu. Sehun bahkan tak mengerti satu kata pun. Ia menyenggol Baekhyun dengan siku nya, "Hyung, kapan kita pergi dari sini?"
Baekhyun langsung mencengkram dagu Sehun dan menarik bibir Sehun agar tersenyum, "Senyumlah, bodoh! Banyak wartawan di sini, kau mau citra kakakmu jadi buruk karena wajah jelek mu itu, hah?"
Dan dengan bodohnya, Sehun tersenyum paksa. Di dalam hatinya Sehun sudah meyakini, bahwa selama sebulan ke depan hari-harinya akan sangat buruk di India. Hei, come on! Apa sih yang akan di dapat Sehun di India selain terapi penyembuhan cederanya? Meskipun Sehun sedang vakum dari dunia balap nya, ia masih bekerja sebagai model dan bintang tamu di beberapa acara olahraga.
Setelah acara penyambutan yang diliput beberapa wartawan lokal itu, mobil limousine putih yang dikawal motor dan mobil milik polisi India itu melaju menuju sebuah mansion termewah di New Delhi. Mansion yang sengaja dibangun oleh Davidson Group itu telah berdiri sejak 6 tahun yang lalu.
Di dalam limousine itu, Sehun lagi-lagi mendecih kesal, meskipun di dalam mobil dingin karena AC, tapi dari jendela, Sehun bisa melihat dengan jelas bagaimana panas nya cuaca di sini. Sehun melirik ke arah Kris dan Chanyeol yang sibuk menelpon sana sini dan sibuk membicarakan perihal kerjasama Davidson Group dengan pengusaha-pengusaha India. Apakah mereka begitu semangat? Sehun bahkan heran darimana semangat mereka itu datang.
"Hun, kau tidak apa-apa kan?" tanya Baekhyun khawatir, pasalnya, Sehun selalu mendecih kesal. Seolah enggan berada di sini. Oh, bukan seolah, Sehun memang tak ingin berada di sini. Sehun hanya menggelengkan kepalanya dan menyandarkan kepalanya ke pundak Baekhyun, bergelung di ceruk leher milik Baekhyun.
"Aku mengantuk, hyung." Gumam Sehun. Baekhyun tersenyum dan mengusap lembut surai pria bermata biru ini. Baekhyun bahkan lebih mengerti Sehun dibandingkan Kris.
Dua jam perjalanan, akhirnya, mobil limousine itu masuk ke dalam sebuah kawasan mansion dengan eksterior bergaya eropa dengan sedikit sentuhan dari India dan Maroko.
"Kita sudah sampai, Hun. Bangunlah."
.
.
.
Setelah tiga hari mendapat pelatihan di kelas Bahasa Inggris, pagi ini, Luhan akhirnya berangkat ke India. Ia menghela nafasnya dengan berat dan segera memasang seatbelt nya sebelum pesawat take off. Luhan tiba-tiba saja teringat perpisahannya dengan Kyungsoo satu jam yang lalu, hati nya terasa dingin, Luhan sangat sedih meninggalkan Kyungsoo. Setelah Paman Zhoumi tiada, satu-satunya orang terdekat Luhan adalah Kyungsoo.
"Kyungie, aku janji akan kembali secepat mungkin." Gumam Luhan.
.
.
.
Setelah 16 jam perjalanan dari Gimpo International Airport, pesawat komersial milik maskapai Air India itu mendarat di Indira Ghandi International Airport. Setelah melewati gerbang kedatangan internasional, mata Luhan membulat penuh kekaguman ketika melihat ornamen-ornamen khas India menghiasi interior bandara itu. Meskipun tak sebagus Incheon Airport maupun Gimpo Airport, tetap saja, dekorasinya mampu menarik perhatian Luhan.
Luhan melihat ke arah jam besar di sudut bandara itu, pukul 10:10 malam. Luhan buru-buru menyeret dua buah koper itu dan keluar dari bandara. Luhan segera menyetop taksi dan luhan sedikit shock melihat tampang pria India bertubuh besar yang agak menyeramkan. Luhan ketakutan. Ia terlihat seperti bocah hilang saat ini.
Dengan ragu-ragu, Luhan menunjukkan alamat rumah sewa nya, "Sir, can you go to this place?" tanya Luhan hati-hati. Supir taksi itu mengangguk, dan ia melajukan mobil nya dalam kecepatan tinggi.
Taksi hijau itu membelah jalanan India yang padatnya bukan main. Ini sudah malam, tapi kemacetan tidak ada akhirnya di sini. Di Beijing, macet pun tidak seperti ini! Mobil-mobil yang berlawanan arah sering terjadi dan membuat supir taksi itu mengerem mendadak, klakson-klakson berbunyi nyaring, seolah berlomba siapa yang paling keras. Luhan menutup telinganya rapat-rapat, Oh Tuhan! Jalanan India benar-benar semerawut.
Setelah dua jam perjalanan yang menegangkan, Luhan akhirnya sampai di rumah sewa nya. Setelah membayar taxi-fare nya, Luhan segera turun dan masuk ke komplek rumah sewa itu. Lingkungan nya bahkan terlihat sedikit kumuh. Luhan masih lebih suka tinggal di rumah sewa nya di Seoul, bersih dan terawat.
Seorang wanita muda nan cantik dengan balutan kain sari warna hijau–pakaian tradisional india- menghampiri Luhan dan tersenyum lebar. Ia memberikan kunci rumah sewa nomor 02 itu kepada Luhan.
"Welcome In India, my name is Safiera Rathana Sharma." Ujar wanita itu, Luhan tersenyum dan menerima kunci itu, "by the way, I'm Luhan. Thank you." Ujar Luhan. Kemudian ia segera membuka pintu rumah sewa itu dan masuk.
Melihat kondisi rumah nya yang baru ini agak kotor, Luhan segera membersihkan semuanya dan menata ulang rumah itu hingga menjadi rumah yang cantik dan rapi. Pukul dua malam, Luhan baru selesai merapihkan semuanya. Ia menghempaskan tubuhnya ke kasur dan segera mengirim e-mail kepada Ken dan Kyungsoo (untuk mengabarinya) lewat smartphone canggih yang diberikan SNBC untuknya.
"Selamat tidur, semuanya." gumam Luhan, kemudian ia memejamkan mata nya dan pergi tidur.
.
.
.
Luhan bangun tidur setelah matahari berada di puncak, sangat siang. "Hoaaamm! Selamat pagi!" teriak Luhan riang. Ia menggeliat, meregangkan otot-ototnya yang kaku. Luhan segera melihat jam beker hello kitty yang sengaja ia bawa dan matanya seketika melotot, "Huaaa! Jam 12 siang? Astaga, pantas saja aku lapar." Pekik Luhan, ia mengusap-usap perutnya yang berbunyi.
Dengan secepat kilat, Luhan segera mandi dan bersiap-siap keluar rumah untuk mencari makanan. Setelah memasukkan buku note, dokumen pribadi, smartphone, voice recorder, kamera digital , semprotan merica dari Kyungsoo, sedikit snack dan dompetnya ke dalam backpack berwarna putih dengan gantungan hello kitty itu, Luhan segera mengalungkan kamera DSLR keluaran terbaru itu di leher nya. Luhan akhirnya sangat siap untuk bekerja sekaligus mencari makanan hari ini.
"Fighting, Luhan!"
.
.
.
Luhan berputar-putar di sekitar komplek rumah sewa nya, kondisinya cukup parah, kemiskinan sangat terlihat di sini. Luhan memotret jalan-jalan yang rusak, rumah-rumah yang kumuh dan anak-anak yang kurus tak terawat. Luhan menghampiri anak-anak itu dan menyapa mereka dengan ramah, tak lupa, ia memberi mereka beberapa snack.
Luhan yang sedang berjalan melihat sosok Safiera, "Safiera!" panggil Luhan. Safiera menoleh dan tersenyum, di tangannya terdapat banyak belanjaan. "Kau berbelanja?" tanya Luhan. Safiera mengangguk.
"Luhan, aku akan memasak makan malam dan sarapan setiap hari untuk penghuni rumah sewa. Jadi, tidak perlu khawatir, saat malam nanti kau kembali ke rumah sewa datanglah ke rumah utama no.1, rumah yang paling besar. Di sana para penghuni rumah sewa berkumpul."
"Terimakasih, mau kubantu?" tawar Luhan. Safiera menggeleng, "Tidak perlu. Wanita India tidak dibantu oleh pria, kami mandiri." Ujarnya kemudian pergi setelah mengulas senyum untuk Luhan. Luhan mengingat kata-kata Safiera dengan baik, wanita India sangat mandiri.
Panasnya cuaca di India yang seperti api membara tak membuat Luhan menyerah, ia terus berjalan, mencoba mengenali lingkungan tempat ia tinggal. Luhan berhenti di antara dua belokan, pilih kanan atau kiri? Pikirnya.
"Kanan." Luhan akhrinya berjalan ke arah kanan, jalan nya lebih bagus daripada yang sebelah kiri. Luhan terus menyusuri jalan itu dan menyadari bahwa di film-film bollywood India adalah kebohongan. Realita di India adalah yang Luhan lihat saat ini. Kemiskinan dimana-mana. Kesenjangan sosial yang kentara dan polusi yang parah.
Luhan akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan megah yang berdiri dengan angkuh, pagar nya tinggi menjulang, temboknya berdiri dengan kokoh dan Luhan bisa melihat melalui celah pagar bahwa di dalam sana adalah sebuah mansion mewah yang sangat indah.
"Woahh! Bagus sekali!" gumam Luhan. Tapi kemudian ia menyadari satu hal lagi, lingkungan di sekitar mansion ini hidup dengan penuh kekurangan dan orang yang tinggal di mansion ini hidup lebih dari berkecukupan. Sangat berbanding terbalik. Lagi-lagi kesenjangan sosial.
"Siapa yang tinggal di dalam sana? Apakah artis? Pejabat, mungkinkah?" gumam Luhan penasaran. Namun, rasa penasaran itu sepertinya harus berhenti dulu karena perutnya benar-benar merengek kelaparan.
.
.
.
Sehun baru saja selesai makan malam bersama Kris, Baekhyun dan Chanyeol di ruang makan mansion ini. Kris langsung kembali ke ruang kerjanya, tentu saja dengan diikuti Chanyeol. Sehun mendecih, pasti Kris akan cepat tua. Setiap hari selalu bergulat dengan angka dan kurva-kurva tak menarik.
Jujur saja, Sehun bosan. Dia ingin keluar. Tanpa Baekhyun, tentu saja. Si manajer bermarga Byun itu selalu membuat telinga Sehun sakit, omelannya tentang kesehatan Sehun sangat memuakkan. Sehun melirik Baekhyun yang sedang sibuk mengobrol dengan dokter yang akan merawatnya selama sebulan ke depan.
Smirk Sehun mengembang, ia segera mengambil kunci mobil Audi Locus yang tergeletak di meja. Kemudian, ia segera pergi ke garasi, melajukan mobilnya untuk mencari tempat yang mengasyikkan. Klub malam atau yah, semacamnya.
"Bersenang-senang sedikit di kota jelek ini mungkin tak masalah." Gumam Sehun.
.
.
.
Selesai makan malam, Luhan berbincang sebentar dengan beberapa penghuni komplek rumah sewa. Rata-rata mereka adalah wisatawan asing, peneliti, dan sisanya warga lokal. Luhan menghampiri Safiera, ia ingin bertanya tentang mansion yang dengan angkuh berdiri di antara kemiskinan di sekitarnya.
"Kau tau mansion itu? Mansion terdekat dari sini yang sangat megah, siapa pemiliknya?" tanya Luhan penasaran, sepertinya mengangkat topik tentang kesenjangan sosial juga cukup menarik.
"Oh, mansion itu! Aku dengar mansion itu selalu kosong, hanya beberapa kali di sewa oleh pengusaha kaya dari Eropa. Dan kudengar, pemilik mansion yang katanya sedang ada di dalam sana adalah pemilik perusahaan ke-tiga terbesar di dunia." Jelas Safiera. Luhan mencatatnya dengan baik di buku note nya. Setelah mengucapkan terimakasih untuk makan malam dan penjelasannya, Luhan pamit untuk segera menjelajah ke wilayah yang lebih menantang.
Luhan naik taksi untuk pergi ke sebuah pasar tradisional yang terdekat. Luhan mengamati baik-baik wajah si supir taksi, ada perasaan takut ketika menyadari bahwa wajah supir taksi itu sangat garang ditambah lagi tubuh besarnya dipenuhi tatto.
"Pak, antarkan saya ke pasar tradisional terdekat." Ujar Luhan. Supir taksi itu tak menyahut, ia menelpon seseorang dan tertawa puas setelahnya.
Luhan seketika merinding, "kenapa perasaanku tak enak?" batin Luhan.
Setengah jam perjalanan, supir taksi itu tanpa berkata apapun menurunkan Luhan di depan sebuah gang yang sepi dan kumuh.
"Pak, apakah ini pasar tradisional nya? Kurasa bukan." Tanya Luhan. Tapi, si supir taksi langsung mengangguk, "Iya, di sini." Ujarnya. Luhan terkesiap, suara supir taksi itu menyeramkan.
"Tapi, ini sepi!" supir taksi itu tak menanggapi Luhan, kemudian, ia menghampiri segerombol preman. Luhan ingin kabur, tapi, jiwa jurnalis nya bangkit ketika melihat preman dan supir taksi itu berdialog, Luhan memotret nya. Meskipun tak mengerti apapun, Luhan cukup yakin jika mereka sedang bertransaksi, si preman memberi banyak uang pada si supir taksi.
Luhan selesai dengan urusan memotret nya, ia hendak melangkah pergi, namun, preman-preman itu langsung mencegatnya, "Hi, cute boy! Mau kemana, hah?" seringaian jelas terlihat di wajah preman-preman yang mengelilinginya, Luhan merasakan keringat mulai mengucur di pelipisnya. Oh, siapapun tolong Luhan!
"Mari bersenang-senang! Kami sudah membelimu!"
"Pasti tubuhmu nikmat, sayang!"
Luhan gemetar, meskipun bahasa Inggris preman-preman itu jauh dibawah standar, Luhan masih bisa mengerti apa yang mereka maksud. Luhan ingin menangis saja rasanya, tapi, ia teringat akan sesuatu.
Luhannie, gunakan semprotan merica ini ya ketika ada yang mengganggu mu? Aku yakin ini ampuh! Bawa ini kemanapun.
"Sebentar! Aku punya hadiah untuk kalian." Teriak Luhan. Preman-preman itu berhenti tertawa dan menanti hadiah dari si manis ini. Luhan dengan cepat mengaduk-aduk backpack nya, mencari semprotan itu dan kemudian dengan gerakan cepat Luhan menyemprotkan bubuk merica itu ke mata preman bangsat itu.
"Rasakan ini, bodoh! Kau pikir aku murahan? Mati kalian!" teriak Luhan kesal. Preman-preman itu mengaduh kesakitan, mata mereka sangat panas seperti terbakar, dan Luhan menggunakan kesempatan ini untuk segera kabur dari mereka.
Luhan berlari secepat mungkin, sejauh yang ia bisa. Tanpa arah dan tanpa tujuan, Luhan terus berlari, yang terpenting adalah ia selamat dari preman-preman bangsat itu. Dan Luhan berakhir di depan sebuah air mancur yang berdiri di pelataran sebuah hotel. Luhan duduk di tepian kolam air mancur itu dan menghela nafas sebanyak-banyaknya. Sangat melelahkan berlari sejauh itu.
Luhan kemudian mengeluarkan buku note nya dan menuliskan kejadian barusan, "Perdagangan manusia. Supir taksi sialan!" teriak Luhan kesal, beberapa orang menoleh padanya dan tertawa melihat Luhan yang marah-marah seperti orang stress. Tapi, Luhan masih bersyukur karena ia selamat dari perdagangan manusia itu.
Luhan kembali memasukkan buku note nya ketika melihat sebuah mobil Audi Locus merah-hitam melintas dengan elegan. "Ckck, di negara miskin seperti ini pun yang kaya pasti tetap kaya." Gumam Luhan. Ia mengecek smartphone yang sialanya mati karena habis baterai.
"Ck! Dimana aku, hah? Hei, ponsel ayoo menyala sayang!" teriak Luhan kepada smartphone nya itu. Luhan benar-benar tidak tau dimana dirinya.
"Apa aku harus menginap di hotel ini? Ini sudah malam." Luhan akhirnya beranjak dan memutuskan untuk check in di hotel ini. Setidaknya, Luhan punya banyak uang saku dari SNBC dan lagipula, dari nilai Won (mata uang Korea Selatan) ke Rupee (mata uang India), sangat mahal. Jadi, membawa sedikit Won saja bisa jadi banyak di India.
Luhan memesan kamar hotel yang paling murah, hitung-hitung untuk berhemat. Setelah mendapatkan kuncinya, Luhan segera men-charge smartphone nya itu dan keluar kamar lagi dengan backpack yang setia bertengger di punggung nya dan kamera yang menggantung di lehernya. Tidak asyik jika tidak menjelajahi hotel yang cukup mewah ini.
Luhan tertarik dengan sebuah banner "Hot Night at Spasso Club and Lounge". Cukup menarik. "Oh, pasti ini nightlife di India! Aku harus datang. Nightlife adalah hal yang asyik untuk dibahas."
Luhan masuk ke dalam Spasso Club. Ini pertama kalinya Luhan masuk ke dalam sebuah club malam. Suasana nya sangat ramai, musik ber temaerotisme diputar, gadis-gadis sexy meliukkan badan mereka dengan lincah di lantai dansa, dan hiburan striptease pun ternyata ada di India.
Setelah meminta izin pada staff Spasso Club untuk memotret, Luhan akhirnya berhasil mengabadikan bagaimana kehidupan malam di India yang berkelas. Kemudian, Luhan duduk di bar, memesan segelas air putih.
Tiba-tiba saja, pandangan Luhan terpaku pada sosok pria tampan di sebelahnya. Luhan tidak yakin ia pernah melihatnya dimana, tapi, Luhan merasa pernah melihat wajah rupawan pria ini. Dimana aku melihatnya?
"Berhenti menatapku seperti itu gadis bodoh." Ujar pria itu. Mata birunya menatap Luhan dengan tajam, membuat Luhan terpesona. Sungguh, mata biru itu berhasil menariknya dalam sebuah dimensi tak bernama selama beberapa detik. Namun, mengingat pria itu mengatakan bahwa Luhan adalah gadis bodoh. Tentu saja, Luhan kesal dan tak tinggal diam.
"Excuse me, sir. But, I'm not a girl, I'm manly man!" teriak Luhan penuh penegasan. Pria di depannya ini mendecih, "Manly man? Hoho! Take a mirror please." Ujarnya dengan nada meremehkan. Ugh, jika Luhan orang yang temperamental sudah dipastikan pria ini ia hajar.
"Shut up, please!" Luhan mendengus kesal dan meminum air putihnya. Pria itu tertawa dan mengoceh dalam bahasa yang sangat Luhan hapal. Bahasa Korea!
"Oh my God, kau orang korea? Huaaaa! Senangnya bisa bertemu denganmu! Aku Luhan!" teriak Luhan kegirangan, ia langsung menjabat tangan pria itu yang disambut tatapan geli pria itu. Hell, katanya manly man? Kenapa seperti fangirl begini?
Pria itu menepis tangan Luhan, "Menggelikan sekali." Luhan tak peduli lagi dengan sikap menyebalkan pria itu. Bertemu dengan orang yang satu negara dengannya saja, Luhan sangat bersyukur!
"Oh, hei! Siapa namamu?" tanya Luhan ceria. Pria itu menuangkan segelas Vodka dengan tingkat alkohol paling tinggi dan memberikannya pada Luhan, "Satu gelas untuk satu pertanyaan."
Luhan agak ragu ketika memegang gelas itu, tapi, demi berkenalan dengan pria ini, Luhan akan melakukan apapun. Luhan akhirnya meminum Vodka itu dan mengesampingkan sesuatu yang seharusnya ia patuhi.
Pria itu menggelengkan kepalanya melihat tingkah Luhan, menggelikan sekali tingkahnya. "Siapa namamu?" tanya Luhan.
Sehun agak heran kenapa Luhan ini tidak mengenal dirinya, harusnya jika Luhan orang Korea Luhan mengenalnya. Sehun Alexander pembalap F1 yang tampan. Sehun Alexander model seksi. Sehun Alexander bintang iklan terpopuler. Harusnya, atau setidaknya Luhan mengenal dirinya dengan salah satu predikat diatas.
"Sehun." Jawab pria bernama Sehun itu dengan datar. Luhan tersenyum kemudian meminum segelas Vodka lagi, ia mulai merasa tubuhnya melayang. "Kenapa kau di India?"
"Ada urusan."
"Hik..hik..urusan…apppahh?" tanya Luhan dengan tubuh yang sudah mulai memasuki zona bahaya. Kemudian, Luhan meraih botol Vodka itu dan menenggaknya langsung.
Dan Voila! Luhan tiba-tiba tertawa cekikikan seperti nenek lampir, ia mendekati Sehun dan duduk di pangkuanya, "Hihihihi…ahjussi, tampan sekali! Muaaaachh.." Luhan mengecup pipi Sehun dan kemudian ambruk.
"Hahhh, dasar gila!" Sehun mendesah frustasi, apa-apaan sih orang asing ini? main cium seenaknya!
Sehun mendorong tubuh Luhan yang pingsan, tak peduli ia jatuh. Dan sedetik kemudian, Luhan bangun lagi, menari-nari, berputar layaknya penari ballet dan menatap Sehun dengan menggoda, "Sir, wanna dance with me?"
Sehun bersumpah, tatapan itu sangat sexy. Ya, Tuhan! Sehun bahkan mulai merasakan bagian selatan tubuhnya menegang ketika melihat Luhan yang meliuk-liuk bagai penari erotis.
Sehun memegang tangan Luhan, "Berhentilah, bodoh!" dan Luhan jatuh ke dalam pelukannya. Daripada mengganggu pengunjung lain, Sehun memutuskan untuk menggendong Luhan dan membawanya ke dalam president suite room yang sudah ia booking.
Sehun melemparkan Luhan ke ranjang dan mengamati tubuh kecil nya dengan seksama, "Ckck, lucu sekali." Gumam Sehun, kemudian, ia dikagetkan oleh Luhan yang kembali bangun. Luhan menungging di atas kasur, tatapannya memelas dan haus akan belaian kasih sayang.
"Meoww..meoww..meoww"
Sehun mendecak kesal, "Oh, Astaga! Dia aneh sekali. Kucing? Oh, god." Sehun kembali memegang tangan Luhan dan saat itu juga Luhan ambruk.
"Setiap aku menyentuhnya dia jatuh tertidur. Tapi, jika kulepas, kenapa dia menjelma jadi makhluk-makhluk aneh?"
Sehun tersenyum dan mengusap surai caramel Luhan, "Sepertinya, aku harus selalu menyentuhmu agar kau tenang. Merepotkan sekali!"
Sehun maupun Luhan mengakhiri malam itu dengan tertidur di atas satu ranjang dan tangan yang saling bertautan. Menggenggam erat satu sama lain seolah tak ingin saling melepaskan.
.
.
.
-TBC or END?-
makasih ya yang udah review kemarin..gue hargai bgt..oh ya, ini sedikit terinspirasi dari master sun. WAJIB REVIEW YA! Soalnya itu motivasi gue buat lanjutin
Thanks and sorry for typos..maapin ye kalau typo bertebaran..
