Tittle : Somewhere We Only Know
Minor- Tittle : (I Love You, My Racer!)
Casts : Luhan, Sehun, Kris, Kyungsoo and etc
Genre : Romance, Hurt, Fluff and etc
Rating : T-M
Length : Series
(HunHan/KrisHan/BaekHun and etc)
Note: SELAMAT MEMBACA, Mina-san! Ini ff pertama KatKat, panggil gue Iren atau KatKat ya, jangan thor! Gue kan ga ngeluarin petir hehehe. WAJIB REVIEW yeee? Ga ada review jadi ga ada motivasi buat lanjut..seriusan kemaren yang view banyak banget tapi yg review cuma sedikit T,T jangan jadi siders please... review minimal 20 baru dilanjut.
.
.
.
Sinar matahari menerobos masuk ke dalam kamar president suite yang mewah ini, menerpa wajah tenang Luhan yang mulai terusik oleh sinar jingga itu. Luhan mengerjapkan matanya berkali-kali, mencoba mengumpulkan semua nyawanya yang sudah berkelana di alam mimpi.
"Sudah pagi? Eh…aku dimana?" bingung Luhan, matanya menatap ke langit-langit kamar hotel itu. Luhan tersadar, ini bukan kamar hotel yang ia booking semalam.
"Ekhm." Sebuah dehaman mengagetkan Luhan. Luhan menoleh ke sumber suara dan mata nya seketika membelalak ketika melihat pemandangan di depannya. Sehun berdiri di hadapannya, topless. Di pinggangnya terlilit handuk putih yang menutupi bagian privasi nya, dan tubuhnya yang ber abs itu dipenuhi sisa-sisa tetesan air. Luhan mematung. Demi bumi dan seluruh isinya, Luhan mengagumi kesempurnaan tubuh pria ini. Dia pria sejati.
"Kau, pergilah!" perintah Sehun dengan wajah datar. Luhan mendecak kesal, diusir seperti tadi membuatnya seperti orang tidak bermartabat.
Luhan mengerucutkan bibirnya dan menatap Sehun kesal, "Hei, teman sebangsa! Kau kasar sekali sih mengusirku seperti itu? Setidaknya kau bisa menjelaskan dulu kenapa aku bisa di sini."
Sehun dengan santai menuju lemari pakaian dan melepas handuk itu, sontak saja Luhan langsung membalikkan badannya agar tak memandangi Sehun yang seenak jidat mengganti bajunya itu.
Sehun memakai polo shirt hitam nya sembari menyeringai ketika menyadari tindakan Luhan, "Membalikkan badan saat melihat tubuhku dengan wajah memerah seperti itu, apakah kau seorang gadis, Luhan?"
Luhan menggeram kesal. Sehun ini sangat suka meremehkannya, teman sebangsa macam apa dia?
"Terserah kau."
Sehun sudah selesai mengganti baju, ia melihat backpack Luhan yang tergeletak di sofa, ia mengambilnya dan kemudian melemparkannya pada Luhan dengan kasar. "Pergi dari kamarku dan bawa rongsokan itu." Melihat perlakuan Sehun yang begitu menyebalkan, Luhan menjadi geram.
"Hei, kau menyebalkan sekali sih!" gerutu Luhan, ia memungut tas nya. Sehun menyeringai, "Kau atau aku yang menyebalkan, huh? Orang sepertimu yang sangat aneh. Semalam aku kedatangan banyak tamu berkat dirimu." Sindir Sehun. Luhan seketika membulatkan matanya ke ukuran maksimal.
"Ma..maksudmu aku mabuk semalam?" tanya Luhan takut-takut. Sehun mengangguk, "Ya."
Luhan memukul kepalanya sendiri menyadari kebodohan dirinya yang mengesampingkan hal spesial itu, tatapannya kemudian beralih pada Sehun, seketika emosinya mendidih mengingat kejadian dimana Sehun menyuruhnya meminum Vodka. Luhan mendesis kesal, "Pasti kau sengaja membuatku mabuk kan? Dasar sialan!" teriak Luhan kesal.
"Dengar ya, yang semalam menyetujui persyaratan adalah dirimu. Jadi, jangan salahkan aku. Menyingkirlah, manusia aneh!"
Luhan membenahi backpack nya kemudian turun dari ranjang dan tanpa sepatah katapun ia pergi dari kamar Sehun menuju ke kamarnya. Di setiap langkahnya menuju kamar, mulut Luhan terus mengeluarkan sumpah serapah untuk si pria menyebalkan, Sehun.
"Sial! Sial! Hah, percuma bertemu teman sebangsa jika perilaku dia seperti anjing liar yang tak punya sopan santun!"
.
.
.
Di kamarnya, Sehun tersenyum seperti orang bodoh setelah berhasil mencuri paspor milik si cantik, Luhan. Sehun terus mengamati foto Luhan di paspor nya itu, "Orang aneh." Komentar Sehun. Kemudian, ia melempar paspor itu ke kolong ranjang dengan asal. Tak berguna, pikir Sehun. Dan yah, memang kenyataannya Sehun hanya orang kurang kerjaan yang mencuri paspor milik Luhan.
Sehun mengecek iPhone 6 Plus yang ia abaikan sejak kemarin. Voila! Hasilnya, 57 panggilan tak terjawab dan 48 pesan yang belum terbaca. Dan semua itu bersumber dari satu kontak, Byun Baekhyun. Sehun tertawa kecil membaca pesan-pesan dari Baekhyun.
'Sehun Alexander, dimana kau, hah?'
'Kau pergi kemana, bocah tengik?'
'Ini sudah malam, bodoh! Dimana kau?'
'Bocah labil, dimana dirimu, hah? Jangan membuatku pusing"
'Heh! Dimana sih dirimu? Kau baik-baik saja kan? Kau diculik ya?'
'Sehunnie, eodiga? T,T' 'T_T, cepat pulang!'
'Sehun….kau dimana?' 'Aku mencarimu sekarang, kau dimana?'
Sehun mengetikkan beberapa kata untuk membalas 48 pesan itu. Senyuman tak pudar dari wajahnya, Baekhyun selalu memperhatikannya dan Sehun sangat menyukai itu.
'Mengkhawatirkanku, hyung? Aku di hotel Spasso kamar no.101'
Sehun melempar ponsel nya ke kasur dan berbaring di sofa sembari menikmati sarapan pagi nya yang diantarkan pelayan beberapa saat yang lalu. Lima belas menit kemudian, bel pintu kamar Sehun berdering berkali-kali. Sehun mendecak kesal, "Ck! Layanan kamarnya tidak sabaran sekali!" gerutunya sembari membukakan pintu. Sehun agak terkejut, itu Luhan! Bukan layanan kamar. Luhan versi galak lah yang ada di hadapan Sehun saat ini. Ia berkacak pinggang, bibirnya terus mengumpat dalam bahasa mandarin, dan tak lupa mata rusa nya itu menatap Sehun dengan ganas.
"Kembalikan paspor ku!" pinta Luhan. Sehun memasang wajah sedatar mungkin, "Paspor mu? Aku tidak memilikinya."
"Oh, benarkah? Lalu, kenapa paspor ku hilang setelah aku bermalam bersamamu?" tanya Luhan sinis. Dagu nya diangkat tinggi-tinggi dan mata nya tak sekalipun menunjukkan keramahan.
"Dengar ya, aku paling tidak suka berurusan dengan orang seperti mu."
Luhan mendengus kesal, ia hampir menangis saking kesalnya, "Orang sepertimu yang bagaimana, Sehun? Aku tidak tau apa salahku hingga kau datang ke kehidupanku dan merendahkan ku begitu saja. Aku hanya ingin paspor ku kembali, hanya itu!" teriak Luhan marah. Mata nya semakin berkaca-kaca, siap menumpahkan air mata.
"Kau ingin menangis? Cengeng."
Luhan benar-benar naik pitam, ia menerobos masuk ke dalam kamar Sehun dan mengobrak-abrik ranjang, laci serta lemari untuk mencari paspornya. Namun, Luhan tak menemukan paspornya.
"Kau menyembunyikannya kan?" tuding Luhan. Sehun hanya menyeringai, "Menurutmu, apa ada guna nya menyembunyikan paspor mu? Orang sepertimu bukan apa-apa untukku."
"Ya ya, terserah kau saja! Jujur, aku kecewa mengenalmu. Kau membuatku selalu sial!" Luhan hendak beranjak pergi, namun, Sehun menarik tangan Luhan dan mendorong tubuh Luhan ke atas kasur.
"Yaa! Kenapa kau mendorongku, hah?" teriak Luhan kesal, ia hendak bangkit lagi namun, Sehun sudah mengunci tubuhnya. Luhan terkungkung di bawah Sehun. Terhipnotis oleh mata biru Sehun yang menatap Luhan dengan tajam dan intens.
"Minggir bodoh!" Luhan memberontak, ia berusaha mendorong Sehun dari atas tubuhnya. Namun, Sehun tetap mematung, menatap Luhan dengan sangat intens, seolah-olah Luhan adalah titik fokus dunia nya.
"Apa kau tidak mengerti kata minggir?" protes Luhan, ia sekuat tenaga berusaha mendorong Sehun, namun, tenaga nya tak sebanding dengan Sehun yang dengan muda meredam perlawanan nya. Dan untuk kesekian kalinya, Sehun lagi-lagi hanya mengamati kedua manik mata Luhan.
"Bagaimana jika aku menemukan paspor mu? Apa yang akan kauberikan untukku?" bisik Sehun, tepat di telinga Luhan. Luhan merinding, bulu roma nya meremang seketika. Suara berat nan seksi itu begitu lembut menyapa indra pendengarannya.
"Aku tidak membutuhkan bantuanmu dan aku akan mengurus pasporku sendiri ke kedutaan"
Sehun menggelengkan kepalanya, "Butuh biaya dan kau tau? Birokrasi di India sangat buruk. Butuh waktu lama untuk mendapatkan paspor yang baru."
Luhan mendecih, "Memangnya kau punya satelit apa hingga bisa menemukan paspor ku? Atau kau yang sengaja menyembunyikannya?"
Sehun menundukkan kepalanya, bibir nya mengecup telinga Luhan dan menghirup aroma tubuh Luhan, "Aku bisa melakukan apapun yang aku mau." Bisik Sehun. Luhan membeku. Lidahnya terasa kelu. Aroma parfum Acqua di Gio by Giorgio Armani yang begitu maskulin menyapa indra penciuman Luhan, membuatnya terpana. Lagi-lagi, Luhan dengan suka rela mengakui bahwa Sehun adalah sosok pria yang hampir sempurna. dan akan menjadi sempurna jika saja sikapnya tidak menyebalkan.
"Terserah kau, aku harus pergi jadi minggir dari atas tubuhku!" bentak Luhan. Sehun tidak juga menuruti perkataan Luhan, "Kalau aku tidak mau bagaimana, hmm?"
Luhan rasanya ingin mencakar wajah bak pangeran itu, seringainya itu demi apapun adalah seringai paling menyebalkan yang pernah Luhan lihat. "Aku tidak main-main, minggirlah!" teriak Luhan.
Sehun mengecup telinga Luhan sekali lagi, "Aku ingin memperkosamu, kau menggairahkan dan sexy, sayang." Bisik Sehun. Mata Luhan langsung membulat ke ukuran maksimal, ia benar-benar takut sekarang. Oh, tidak! Luhan tidak ingin keperjakaannya hilang di tangan pria menyebalkan ini.
"Sehun, kau bisa minggir atau memilih jalan kekerasan." Ancam Luhan tak main-main. Luhan serius dengan ancamannya, ia bisa menghajar Sehun dengan jurus Wushu yang ia pelajari saat kecil dulu. Satu lawan satu, aku akan melumpuhkanmu, batin Luhan.
"Aku menginginkanmu. Tubuhmu." Ucap Sehun dengan seduktif. Luhan kali ini tak main-main lagi, ia langsung menendang perut Sehun hingga pria itu terjungkal ke lantai, Luhan tidak berhenti sampai di situ, ia menonjok pelipis dan pipi Sehun hingga babak belur.
"Bajingan pemerkosa! Ahjussi mesum! Sialan kau hidung belang!" teriak Luhan penuh emosi. Tanpa sadar, ia sudah memukul Sehun sampai berdarah.
"Lu..han, a..ku hanya..ber..can.." belum selesai Sehun mengutarkan kalimatnya, ia sudah pingsan di tempat. Luhan tertawa, "Pingsan? Mati sekalian! Kau merendahkanku, kau mencuri paspor ku, kau bahkan mau memperkosaku! Neraka menunggumu, Sehun!" teriak Luhan emosi. Ia benar-benar jengah diperlakukan seperti itu oleh Sehun. Ia hanya butuh paspor nya dan wussshhh ia akan menghilang seperti angin. Tapi, pria bernama Sehun ini malah membuatnya kesal setengah mati dan mempermainkan emosinya sesuka hati.
BRAKK
Pintu kamar itu terbuka, seorang lelaki manis dengan kaos polkadot dan jeans biru muda itu langsung menjerit, "Oh My God! What are you doing?"
Luhan berdiri dan menunjuk Sehun yang sudah terkapar tak berdaya dengan darah di hidung dan bibirnya, "Dia! Dia akan memperkosaku jadi aku memukulnya." Jelas Luhan dalam bahasa Korea karena pastilah lelaki ini adalah orang Korea. Terlihat sekali dari perawakannya yang mungil dan mata sipit nya yang ber-eyeliner.
"Kau sudah melukai, Sehun-ku! Jangan harap kau lolos, pria cantik!" ujarnya dengan sinis. Luhan bahkan tertawa kecil, cantik katanya? Harusnya dia berkaca dulu! Dia juga cantik.
"Kau siapanya pria brengsek ini?" tanya Luhan.
"Aku Baekhyun dan jangan harap kau bisa lolos, brengsek." Luhan tercekat, sepertinya ia tertimpa masalah besar. Ia tidak tau Sehun siapa, dari keluarga mana ia berasal. Oh, jika Sehun adalah putra perdana menteri atau pengusaha, matilah Luhan!
"Aku Luhan, bukan brengsek. Dan satu lagi, aku memukulnya sampai pingsan karena dia mencuri pasporku dan hendak memperkosaku. Itu wajar, tau!" ucap Luhan, ia berusaha sekeras mungkin membela dirinya. Namun, Baekhyun tak menanggapi, ia segera menelpon beberapa bodyguard agar segera menuju ke tempat ini.
"Kumohon, jangan jebloskan aku ke penjara!" mohon Luhan, matanya berkaca-kaca, menatap Baekhyun dengan memelas. Jika dirinya sampai berakhir di penjara, tamatlah hidupnya.
"Kau melukai Sehun. Kau tidak tau apa-apa tentangnya dan kau berani melukainya hingga ia tak sadarkan diri. Kau bersalah, brengsek."
Luhan menunduk dalam-dalam, perasaan bersalah menyergap hatinya. Tapi, kenapa selalu dirinya yang disalahkan? Kenapa? Luhan sudah cukup menderita karena masa lalu nya, Luhan sudah cukup merasakan rasa bersalah yang menahun bagai penyakit kronis. Luhan sudah cukup dibebani rasa bersalah yang tak berakar. Tak melakukan kesalahan apapun, namun rasa bersalah mendekam di hatinya selama bertahun-tahun.
Dalam satu helaan nafas, Luhan meluapkan semua emosinya yang sudah terpendam dalam waktu yang lama, "Kau dan dia juga tidak tau apapun tentangku. Kau tidak tau apapun tentang kejadian yang sebenarnya dan kau menyalahkanku? Kau pikir aku belum puas menanggung rasa bersalah hampir setengah usiaku? Jangan berani-berani menyalahkanku, karena di sini aku melindungi diriku sendiri!"
Tak berselang lama, lima bodyguard dengan tubuh gagah dan paras khas pria ras kaukasoid memasuki kamar hotel itu dan sesuai dengan perintah Baekhyun, dua orang bodyguard menangkap Luhan dan memborgol tangannya.
"Hei! Ini penahanan tak resmi, brengsek!" jerit Luhan ketika bodyguard itu mengangkat tubuhnya bagai mengangkat sekarung beras.
Baekhyun mengabaikan Luhan, "Ian, kau dan Ivanov, urus dia." Titah Baekhyun pada bodyguard asal Rusia itu. Ian maupun Ivanov mengangguk dan membawa Luhan.
Luhan terus meronta-ronta. Tapi, apa daya, dua pria ini sangat besar dan perlawanan apapun tak akan berarti. Ivanov memasukkan Luhan ke dalam van hitam yang sangat tertutup, tak ada celah sedikitpun untuk meloloskan diri.
Oh, Tuhan! Tamatlah aku.
.
.
.
Davidson Delhi Mansion.
Sore hari, Sehun baru saja tersadar dari tidur panjangnya. Matanya mengerjap berkali-kali sebelum kesadarannya terkumpul. Sial!. Sehun memekik dalam hati, tubuhnya terasa sakit semua. Sehun mengerinyitkan keningnya, mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Dan bayangan wajah Luhan melintas di pikirannya. Dimana dia?
Sebuah pukulan kecil tiba-tiba mendarat di dahi Sehun, "Yaah! Sehun Alexander! Apa yang kau lakukan di Hotel Spasso, hah? Mencoba untuk kabur? Jelaskan padaku!" dan teriakan itu, Sehun sangat hapal. Siapa lagi jika bukan Byun Baekhyun?
"Hyung, itu bukan urusanmu." Baekhyun mendecak kesal mendengar penuturan Sehun, "Yang menjadi urusanmu adalah urusanku juga, bodoh! Pokoknya segala hal yang menyangkut dirimu adalah urusanku." Teriak Baekhyun. Sehun menutup telinganya rapat-rapat, teriakan Baekhyun benar-benar dahsyat.
"Hyung, jangan laporkan pada Kris, kumohon." Pinta Sehun, ia sungguh tidak ingin berurusan dengan Kris yang pasti akan menceramahinya selama 24 jam non-stop. Baekhyun mengangguk dan mengusap rambut Sehun dengan lembut, "Baiklah. Tapi, kau harus makan ok?"
Sehun mengangguk dan membuka mulutnya saat Baekhyun menyuapkan sesendok bubur. "Dokter Rajeev bilang, kau harus menjaga kondisi tubuhmu jika ingin cepat pulih. Jangan terlalu banyak melakukan aktivitas, tulang rusukmu akan bergeser lagi." Sehun tersenyum mendengar ucapan Baekhyun, lalu, ia mengecup pipi Baekhyun dengan lembut.
"Hyung, saranghae."
Baekhyun terenyak, ini bukan kali pertama Sehun mengatakannya. Baekhyun memang mencintai Sehun dalam artian yang berbeda, tapi, Baekhyun benar-benar tidak bisa mencintai Sehun dalam konteks itu. Hati nya hanya untuk seseorang yang ia cintai setengah mati. Meskipun, orang itu tak pernah melirik nya sekalipun, Baekhyun tetap mencintainya.
Baekhyun tiba-tiba meraih sesuatu di atas meja dan memberikannya pada Sehun, "Oh, Sehunnie! Aku lupa sesuatu. Ini, bodyguard menemukan ini di kolong ranjang hotel. Paspor Luhan yang menghajarmu. Ckck, ternyata bukan dia yang memulai, kau yang memulainya, Hun."
Sehun mengambil paspor itu, "Dia dimana, hyung?" tanya Sehun penasaran. Sungguh, ia benar-benar tidak menyangka lelaki semanis Luhan bisa menghajar nya hingga terkapar tak berdaya. Yah, meskipun faktanya, jika saja Sehun tega untuk melawan Luhan, Sehun yakin Luhan lah yang babak belur, bahkan lebih parah.
"Dia di menara II, bodyguard menahannya. Kau harus minta maaf padanya, kau yang memulai. Dan dia juga harus minta maaf padamu, dia membuatmu Sehun-ku sakit."
Sehun menyeringai, sepertinya ia tau apa yang harus ia lakukan.
"Hyung, aku akan menemuinya saat sudah sembuh. Rawat dia dengan baik." pinta Sehun dengan puppy eyes yang lucu. Baekhyun terkekeh geli, tapi diam-diam ia juga merasa beruntung. Di luar sana Sehun adalah manusia dingin, tak ada yang bisa melihat sisi Sehun yang manja seperti ini. Karena, hanya Baekhyun lah yang bisa membuat Sehun menunjukkan seluruh sisi dirinya.
"Baiklah, Sehunnie. Kalau itu yang kau mau, aku akan menyuruh bodyguard merawatnya."
Dua hari kemudian, Luhan masih mendekam di salah satu kamar di menara itu. Ia enggan untuk menyentuh makanan lezat yang telah disediakan barang sedikitpun. Pasti ada racunnya, pikir Luhan. Rasa lapar dan dahaga yang Luhan rasakan tidak lagi menjadi masalah utama, ia tak peduli jika mati sekalipun. Tapi, yang Luhan pikirkan sejak ia ditahan di sini adalah, Dimana aku? Bagaimana caraku untuk keluar dari sini?
Cklek
Pintu terbuka, Sehun yang terlihat fresh dengan balutan kemeja hitam dan celana jeans putih masuk ke dalam kamar –atau penjara, bagi Luhan. Senyum miring nya mengembang dengan lebar di wajah rupawan nya itu, namun, mata nya tiba-tiba berkilat marah saat melihat hidangan makanan dan minuman yang tak tersentuh sedikitpun sejak dua hari yang lalu. Bahkan, sebagian sudah masuk tempat sampah.
Rahang Sehun mengeras ketika melihat Luhan yang terduduk lemah di dekat jendela, "Kenapa kau tidak memakan makananmu, hah?" tanya Sehun. Luhan tersenyum masam, "Kau pasti meracuni nya kan?" tuding Luhan. Sehun mendecak kesal, tak habis pikir kenapa pikiran Luhan terhadap dirinya selalu buruk.
"Ok, aku tau! Aku tau kau menganggapku jahat sejak aku berniat memperkosamu. Tapi, Luhan, Aku bersumpah, saat itu aku hanya bercanda. Aku benar-benar tidak ada niat untuk melakukan itu padamu." Jelas Sehun, ia menatap Luhan dengan sungguh-sungguh.
"Aku minta maaf…atas awal kita yang buruk." Lirih Sehun dengan tulus. Luhan tak mudah percaya, bisa saja orang dihadapannya ini adalah anggota gembong teroris, penyelundup senjata atau kartel narkoba.
"Kau pikir, aku bisa percaya begitu saja? Keluarkan aku dari tempat ini!"
Sehun menggelengkan kepalanya, "Setidaknya, makan dulu. Kau lemah begitu." Ujar Sehun, ia segera menghubungi pelayan untuk untuk mengantarkan makanan baru untuk Luhan.
Tak lama kemudian, seorang pelayan menghidangkan berpuluh-puluh macam hidangan yang sangat mewah dan sudah pasti lezat. Luhan hanya diam, tak ingin menyentuh makanan itu sedikit pun.
"Luhan, ayolah! Makan." Perintah Sehun. Luhan menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau makan. Oh ya, kau tau? Di India banyak rakyat miskin, kenapa kau tak bagikan saja makanan itu? Aku tak butuh makanan apapun."
Sehun menggeram, Luhan sangat keras kepala. "Aku akan menuruti apapun permintaanmu jika kau makan."
Luhan menatap Sehun dengan tatapan penuh selidik, "Benarkah?" Sehun mengangguk, "Ya. Apapun."
Luhan bersorak, ia langsung melahap beberapa jenis hidangan makanan dan minuman. Bohong sekali jika Luhan tidak merasa kelaparan.
"Kau kelaparan ya?" tanya Sehun, ia menatap Luhan yang sedang makan dengan lahap. Luhan yang mulutnya penuh dengan makanan hanya mengangguk saja.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, Byun Baekhyun masuk ke dalam kamar dengan membawa beberapa potong pakaian untuk Luhan. "Hi, Luhan! Aku membawakanmu baju ganti, mandilah." Ujar Baekhyun dengan lembut, Luhan menatap Baekhyun dengan sinis. Baekhyun telah membuat hatinya kembali berguncang, Baekhyun telah membuat Luhan mengingat masa lalunya dan membuat Luhan terkurung di sini. Luhan benar-benar tidak menyukai Baekhyun.
"Kenapa kau baik sekali pada orang yang telah kau sebut brengsek?" tanya Luhan sinis. Baekhyun menunduk dan air matanya menetes, "Maaf, aku tak bermaksud seperti itu. Aku minta maaf Luhan."
Sehun menarik Baekhyun ke dalam pelukannya, dan menenangkannya. Ia paling tidak bisa melihat Baekhyun menangis. "Luhan, kau membuatnya menangis. Kau bersalah."
Luhan membeku, hatinya terasa ditusuk pedang tajam, lagi-lagi ia bersalah. Luhan trauma akan kata-kata itu. Kemudian, dengan satu hentakan, Luhan membanting gelas kaca yang dipegangnya hingga pecah berkeping-keping, ia menatap Sehun dan Baekhyun dengan tatapan amarah.
"Kenapa, hah? Kenapa lagi-lagi aku yang salah? Cukup! Jangan pernah katakan hal seperti itu di depanku. Kalian tidak tau apapun tentangku! Aku tidak bersalah!" teriak Luhan, ia jatuh terduduk di lantai yang dipenuhi serpihan kaca. Luhan menunduk, air mata nya menetes dengan perlahan. Rasanya sangat menyakitkan saat luka di masa lalu nya mulai terbuka lebar kembali. Hanya dengan dua patah kata, trauma itu kembali menghantui Luhan.
"Dengar, aku tidak akan pernah mau bertemu dengan kalian berdua lagi. Biarkan aku pergi."
.
.
.
Luhan benar-benar merasa hidupnya berakhir. Hanya karena membuat Baekhyun menangis, Si sialan Sehun itu benar-benar mengurungnya sekarang. Bahkan, Luhan mulai pesimis, ia tak akan pernah bisa keluar dari sini. Kini, Luhan hanya berdiri di depan pintu kamar itu dan menggedor bahkan menendangnya terus menerus.
"Woyyy! Bodoh, bangsat, sialan! Siapapun kalian, buka pintunya!" teriak Luhan. Ia sudah tidak tahan terkurung di tempat ini. Masih banyak hal yang bisa ia lakukan di India selain diam di kamar ini layaknya orang bodoh.
"Heol! Sehun sialan, buka pintunya! Bacon bodoh, buka pintunya!" Luhan menendang-nendang pintu itu dengan frustasi. Berharap semoga saja pintu itu runtuh dalam satu tendangan.
"Aku harus mencari cara!" seru Luhan. Kemudian, mata Luhan menatap jendela kamar itu. Voila! Kabur lewat jendela, batin Luhan. Namun, nyali Luhan jadi ciut saat ia membuka jendela kamar itu. Bagaimana tidak? Menara ini cukup tinggi dan dibawah sana adalah kolam renang. Luhan seketika merutuki dirinya, harusnya aku belajar berenang sejak kecil.
Sebuah ide tiba-tiba muncul, Luhan melepaskan seprai dan tirai dari tempatnya, kemudian, ia mengikatkan kedua benda itu dan menyambungnya dengan dua buah handuk yang tersedia. Setelah selesai menyambung kain-kain yang berubah menjadi seutas tali panjang itu, Luhan berpikir sejenak.
"Oh, ikatkan ke kaki ranjang!" seru Luhan, ia langsung mengikatkan seutas tali buatan nya itu ke kaki ranjang.
Setelah mengikat tali itu, Luhan melongok ke luar jendela, "Baiklah, meskipun tali ini hanya seperempat menara, aku tak peduli. Bagaimanapun caranya, aku harus keluar dari sini."
.
.
.
Setelah menghadiri pertemuan dengan beberapa pengusaha India yang ingin bekerja sama dengan Davidson Group, Kris langsung pulang ke mansion. Lalu lintas di India yang sangat padat dan bising membuat otaknya butuh refreshing sejenak. Backyard dengan kolam dan bunga-bunga yang wangi sepertinya pilihan yang baik, pikir Kris.
Di ruang kerja nya yang didominasi warna hitam ini, Kris tengah membaca beberapa proposal pengajuan kerja sama, namun, otaknya yang jenuh membuat Kris tak bisa berkonsentrasi.
"Chanyeol, pastikan Sehun tetap berada di dalam pengawasan Baekhyun dan pastikan Sehun baik-baik saja. Setelah itu, kau bisa istirahat." Perintah Kris. Kemudian ia membuka jas Gucci hitamnya dan melepas dasinya.
Chanyeol yang mengerti bahwa Kris membutuhkan istirahat segera mengangguk, "Baiklah. Aku akan menghubungi Tuan setelah memastikan Sehun baik-baik saja."
Kris tersenyum dan menepuk pundak Chanyeol, "Terimakasih sudah bekerja dengan baik. Oh ya, sudah berapa kali aku bilang padamu, panggil aku Kris. Kita pernah jadi teman saat SMP loh."
Chanyeol mengangguk, "Baiklah, Kris. Tapi, hanya saat kita sedang tidak bekerja." Ujarnya kemudian pergi dari hadapan Kris.
Kris segera berdiri di depan kaca berbingkai kayu ek yang berplitur yang diletakkan di sudut ruang kerjanya. Ia segera mengacak rambut blonde nya yang tertata sangat rapi itu, sedikit bergaya muda tak apalah, pikir Kris.
Setelah meminta dibuatkan jus orange kesukaannya, Kris berjalan menyusuri jalan setapak, menuju ke taman belakang yang sangat indah. Sepanjang jalan setapak, beberapa pelayan wanita menyapanya dengan ramah dan Kris tersenyum pada mereka, membuat jantung mereka hampir meledak. Kris merasa dirinya cukup ramah, namun, ia masih sering membaca artikel bahwa ia dan Sehun adalah Davidson's Ice Prince. Jika Sehun dijuluki Ice Prince, silahkan saja, karena itu kenyataan. Tapi bagi, Kris, itu agak mengganggu.
Wajahku memang dingin, tapi ada sejuta kehangatan dalam diriku, Kris selalu mengatakan itu pada dirinya sendiri saat ada orang yang menganggapnya sangat dingin.
Sepuluh menit lamanya Kris berbaring di atas rerumputan yang tak jauh dari kolam renang itu. Pikirannya yang sudah mulai tenang tiba-tiba dikagetkan oleh, seorang lelaki manis yang begelantungan di seutas tali yang hanya mencapai seperempat menara.
"Oh, Shit!"
.
.
.
Luhan sudah sampai di ujung tali, tubuhnya tiba-tiba gemetar ketakutan, di bawah sana adalah kolam yang cukup dalam, Luhan benar-benar tidak yakin dirinya akan selamat setelah melompat dari ketinggian ini ke kolam itu. Tapi, ingin kembali ke atas pun rasanya tidak mungkin, bagaimanapun hanya tinggal sedikit lagi, ia bisa kabur.
Luhan menghela nafasnya dalam-dalam, berdoa pada Tuhan agar ia selamat, "Aku pasti selamat."
Dan kemudian, dalam hitungan ketiga. Luhan melompat, ia terjun bebas, membiarkan gravitasi menariknya dan menjatuhkannya di dalam kolam renang itu. Mata Luhan terpejam dengan erat dan ketika tubuhnya masuk ke dalam air, nafasnya tersendat.
Kumohon, tolong aku! Jerit Luhan di dalam hatinya. Tangan dan kaki nya terus meronta-ronta, mencoba mengangkat tubuhnya dari dalam air.
Permohonan Luhan terkabul, sepasang lengan kekar milik Kris memeluk tubuhnya dan membawanya keluar dari air. Samar-samar Luhan dapat melihat wajah pria yang tak dikenalnya itu, ia sangat tampan.
Kris terlihat panik, ia mengelus pipi Luhan pelan, "Bertahanlah, aku akan menolongmu." Namun, belum sempat Kris menggendong Luhan, Luhan sudah tak sadarkan diri.
Dengan sigap, Kris segera menekan-nekan dada Luhan, ia membuka mulut Luhan dan mentransfer udara untuk Luhan melalui mulutnya. "Kumohon, bertahanlah." Bisik Kris. Ia terus memberikan nafas buatan untuk Luhan.
"Uhukk..uhukk." Luhan terbatuk, ia memuntahkan air yang tertelan. Mata nya yang semula terpejam mulai terbuka, menatap sendu wajah penyelamat nya dan saat itu juga Luhan terenyak, degup jantungnya berlomba dengan aliran darahnya yang cepat.
Tanpa dikomando, air mata Luhan menetes begitu saja. Membuatnya seperti orang lemah yang tak berdaya. Kris tak tau harus melakukan apa terhadap lelaki asing ini, tapi, entah kenapa, dirinya malah menarik lelaki itu ke dalam pelukannya dan mengusap punggungnya dengan lembut.
"Aku tau kau di sini karena suatu alasan. Kau bisa menceritakannya nanti." Bisik Kris lembut. Kemudian, ia menggendong Luhan bridal style.
Luhan bergelung di ceruk leher Kris, tangan nya memegangi dada kirinya, menahan detak jantungnya benar-benar kencang, seolah diluar kendali nya.
"Terimakasih." Lirih Luhan.
Tanpa disadari sedaritadi, sepasang mata yang setajam mata elang telah menyaksikan kejadian itu. Ya, sepasang mata milik Sehun itu telah menyaksikan semuanya. Menyaksikan bagaimana Hyungnya menyelamatkan Luhan, menciumnya, dan memeluknya dengan penuh ketulusan.
Sehun menekan dada nya sendiri ketika ada perasaan aneh dihatinya, sebuah perasaan tidak terima. Sampai-sampai, Sehun ingin meninju wajah Kris.
"Sialan!" umpat Sehun. Ia menggeram, tangannya terkepal dengan erat dan tiba-tiba saja suhu udara disekitarnya terasa panas.
.
.
.
Setelah ditangani dokter pribadi, Luhan beristirahat di sebuah kamar. Kali ini kamar sungguhan, bukan penjara. Luhan ingin sekali memejamkan matanya saat ini, tapi, kehadiran Kris di sisinya membuat mata Luhan terjaga. Dan tanpa sadar mata rusa nya yang cantik itu terus menerus terfokus pada Kris. Apa yang pernah dikatakan Ken ternyata benar, Kris benar-benar mengagumkan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Kris sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk. Luhan tersenyum dan mengangguk, "Aku baik-baik saja, terimakasih."
"Aku Kris Alexander Davidson, kau?"
Luhan merasa ini mimpi, dia benar-benar Kris Alexander. "Oh, ehm, aku Xi Luhan." Jawab Luhan gugup. Kris mendekat ke arah Luhan, ia menyampirkan handuk kering ke rambut Luhan yang basah.
"Oh ya, pelayan sudah menyiapkan baju dan makanan untukmu. Istirahatlah, nanti malam kau bisa menjelaskan semuanya." ucapan Kris yang penuh afeksi dan tulus itu membuat pipi Luhan bersemu merah.
"Sekali lagi, terimakasih."
Kris mengangguk dan kemudian keluar dari kamar itu untuk membiarkan Luhan beristirahat. Lagipula, ia harus menemui Sehun yang pastilah dalang dari semua ini. Baru saja Kris berniat untuk ke kamar Sehun, Sehun sudah muncul di hadapannya dengan senyum masam.
"Kris, minggirlah!" perintah Sehun ketika tubuh Kris menghalangi jalannya. Kris tak semudah itu untuk menuruti perkataan Sehun, "Yaa! Sopanlah sedikit."
Sehun mendesah kesal, "Hyung, aku harus menemui Luhan." Ucapnya. Kris mengangguk dan tersenyum, "Oh, jadi kau yang membawanya kemari?"
Sehun hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Kris itu, ia benar-benar harus menemui Luhan dan melihat kondisinya.
"Sehun-ah, kurasa kau telah melakukan sesuatu yang buruk padanya. Benar begitu?" tanya Kris lagi. Sehun mendecak kesal, Kris benar-benar selalu ingin tahu masalahnya. Tapi, sebenarnya bukan itu yang membuat Sehun kesal. Kris mencium Luhan. Dan Sehun tidak suka itu. Luhan mainan miliknya.
"Yang kaulakukan lebih buruk, hyung. Kau menciumnya." Kris terkekeh geli mendengar ucapan Sehun yang kekanakan itu.
"Ck! Itu CPR, bodoh." Kris tertawa, terkadang adiknya ini lucu juga. Sehun mengabaikan Kris, ia hendak menerobos barikade yang dibuat Kris, namun, Kris menahannya.
"Jangan lakukan sesuatu yang buruk padanya, jangan merusak citra Davidson Group, dan jangan coba-coba melukainya. Aku mengkhawatirkannya." Bisik Kris dengan nada tegas. Sehun hanya mengangguk sekenanya, ia segera melewati Kris dan masuk ke kamar Luhan.
Ketika Sehun masuk, di dalam kamar itu, Luhan tengah meminum segelas susu vanilla hangat yang disediakan dan seulas senyum tiba-tiba saja terukir di bibir Sehun saat melihat bibir Luhan yang belepotan karena susu vanilla itu.
Luhan terkejut ketika menyadari kehadiran Sehun, ia buru-buru meletakkan gelas kosong itu dan bersembunyi di balik selimut. Takut jika kejadian Sehun akan memperkosanya terulang lagi.
"Hei, sialan, berani mendekat maka kau akan kuhajar." Ancam Luhan. Sehun tertawa, ancaman Luhan tidak mempan. Ancaman yang sangat kekanakan, pikir Sehun.
"Kenapa kau nekat sekali terjun dari atas menara, humm? Bagaimana jika kau terluka?" tanya Sehun. Luhan membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan menatap Sehun dengan tajam, "Dengar ya, Sehun sialan, jika aku mati sekalipun aku akan sangat senang daripada bertemu denganmu lagi." Ucap Luhan dengan sinis.
Sehun mendekat ke arah Luhan, ia duduk di tepi ranjang dan menatap Luhan dengan intens, "Tapi, kau tak jadi mati karena Kris menolongmu. Dan aku tidak menyukai itu."
Luhan mengangguk, "Ya, dan aku bersyukur akan hal itu. Dia malaikatku." Sehun menggeram kesal mendengar penuturan Luhan, sialan! Malaikat katanya? Cih!
"Dan kau terlihat seperti bitch yang mau saja dicium oleh pria seperti dia." Luhan tiba-tiba merasakan pipinya bersemu merah mendengar penuturan Sehun, benarkah Kris mencium ku?
"Sungguh? Dia menciumku? Oh, maksudku, Kris memberiku nafas buatan? Well, aku tidak keberatan sama sekali." Nada bicara Luhan sangat antusias dan terdengar senang. Itu malah semakin membuat Sehun kesal. Mata nya terus tertuju pada bibir merah Luhan, bibir itu tak boleh disentuh siapapun, hanya aku yang boleh menyentuhnya.
Dengan satu gerakan cepat, Sehun mendaratkan bibirnya di bibir Luhan, melumatnya dengan lembut dan menghisap seluruh rasa Luhan yang manis. Sehun enggan melepaskan tautan mereka meskipun Luhan terus meronta-ronta, bibir Luhan terlalu manis dan lembut untuk dilepaskan begitu saja, Sehun benar-benar merasa bahwa bibir itu telah menjadi candu nya.
Luhan merasa pasokan oksigen nya menipis, ia terus mendorong Sehun agar melepaskan tautannya, namun, Sehun mencengkram erat pergelangan tangan Luhan, membuat Luhan tak bisa berkutik.
Sehun terus melumat, memagut dan menghisap bibir Luhan dengan kuat, enggan melepasnya barang sedetik pun. Namun, menyadari Luhan yang sudah sesak, Sehun segera melepas tautannya dan membiarkan Luhan meraup udara sebanyak mungkin.
"Hah..hah.." Luhan terengah-engah, bibir nya yang basah dan merah terbuka untuk menghirup oksigen sebanyak mungkin. Luhan merasa lemas, tadi itu adalah pengalaman pertamanya berciuman begitu intim.
"Lepaskan!" teriak Luhan, ia mencoba menarik pergelangan tangannya dari cengkraman Sehun, namun Sehun menatap Luhan dengan tatapan mengintimidasi.
"Aku tidak suka orang lain menyentuh bibirmu, karena, bibir itu hanya milikku." Bisik Sehun dengan posesif. Entah kenapa sejak melihat Kris menolong Luhan, perasaan posesif akan lelaki manis ini tiba-tiba saja muncul di diri Sehun dan membuat hatinya begitu kalut.
Luhan mendesis kesal mendengar nada posesif Sehun, "Milikmu? Jangan mimpi! Menjauh dariku atau aku akan berteriak." Ancam Luhan lagi. Sehun tau Luhan tak main-main dengan ancamannya, untuk itulah Sehun segera mendorong tubuh Luhan hingga terbaring di kasur dan menguncinya. Tidak hanya tubuhnya, namun bibir Luhan pun ia kunci dengan bibirnya.
Sehun melumat bibir Luhan dengan sangat lembut, lidahnya mulai bermain dan meminta Luhan untuk membuka bibirnya. Namun, Luhan mengunci bibirnya rapat-rapat tak ingin memberi jalan untuk Sehun meskipun, Luhan mengakui bahwa ciuman ini begitu nikmat hingga seluruh sendi tubuhnya terasa lemas.
Sehun akhirnya menggigit pelan bibir Luhan hingga Luhan membuka bibirnya yang terkatup rapat. Sehun melesakkan lidahnya ke dalam rongga hangat milik Luhan, menyapa satu per satu isinya dan mengajak lidah Luhan untuk bermain.
Luhan benar-benar lemas, ada bagian tubuhnya yang terasa tergelitik saat Sehun menciumnya seperti ini. Namun, Luhan masih sadar, ia tak boleh terlalu jauh. Maka dari itu, dengan sekuat tenaga Luhan mendorong Sehun hingga pagutan mereka terlepas.
"Hah..hah..kau..gila!"
Sehun menyeringai, menatap Luhan yang begitu sexy saat mencoba meraup oksigen sebanyak mungkin. Sehun akan mempertahankan Luhan di sisinya bagaimanapun caranya. Ia punya misi dan misi itu membutuhkan sebuah mainan.
"Maaf, jika aku begitu menuntut. Luhan, percayalah, aku hanya tidak suka Kris hyung mencium bibirmu. Aku tidak ingin bekas bibirnya tertinggal di bibirmu."
Luhan mengabaikan Sehun, ia benar-benar lemas sekarang dan tubuhnya butuh istirahat. "Pergilah, Kris menyuruhku untuk istirahat."
Bukannya pergi, Sehun malah ikut membaringkan tubuhnya di samping Luhan. Kedua tangan kekar nya memeluk Luhan yang tidur membelakanginya. Dan Sehun tersenyum kala menyadari bahwa tubuh Luhan sangat hangat dan terasa pas dipelukannya.
Harusnya kau pergi ketika kusuruh pergi, Luhan. Tapi, terlambat, aku sudah terlalu lama melihat wajahmu dan semakin lama melihat wajahmu, aku tak ingin kau pergi. Aku jadi seperti bukan diriku saat kau di sisiku. Aku jadi tidak mengenal apa yang kurasakan. Aku kebingungan dan itu karena kehadiranmu.
.
.
.
-TBC or END?-
makasih ya yang udah review kemarin..gue hargai bgt.. WAJIB REVIEW YA! Soalnya itu motivasi gue buat lanjutin. Review dibawah 20 mikir dulu1000 kali buat lanjut atau gak.
Thanks and sorry for typos..maapin ye kalau typo bertebaran..
