Tittle : Somewhere We Only Know

Minor- Tittle : (I Love You, My Racer!)

Casts : Luhan, Sehun, Kris, Kyungsoo and etc

Genre : Romance, Hurt, Fluff and etc

Rating : T-M

Length : Series

(HunHan/KrisHan/BaekHun and etc)

Note: SELAMAT MEMBACA, Mina-san! Ini ff pertama KatKat, panggil # Iren atau KatKat ya, jangan thor! Gue kan ga ngeluarin petir hehehe. WAJIB REVIEW yeee? Ga ada review jadi ga ada motivasi buat lanjut..seriusan kemaren yang view banyak banget tapi yg review cuma sedikit T,T jangan jadi siders please...Iren di sini masih newbie jadi mohon bantuannya, review minimal 20 baru dilanjut.

.

.

.

Ini sudah jam makan malam, tapi, Baekhyun tak dapat menemukan Sehun di kamarnya. Baekhyun segera berjalan menuju ke home theater, barangkali Sehun menonton film di sana. Namun, Sehun tetap tidak ada dan itu membuat Baekhyun mulai panik.

"Dimana sih bocah tengik itu?" gerutu Baekhyun, ia bertanya kepada beberapa pelayan yang melintas, namun mereka semua tidak mengetahui keberadaan Sehun. Baekhyun mulai berpikir, "Aha! Tanyakan pada Tuan Kris." Baekhyun pun segera berlari ke ruangan kerja Kris.

Setelah mengetuk pintu beberapa kali, pintu ruangan itu terbuka. "Ada apa? Tuan sedang sibuk." Suara yang berat dan dingin itu segera menyapa pendengaran Baekhyun. Baekhyun sangat kenal dengan suara itu, suara yang selalu menggema di pikirannya setiap malam. Suara yang menemani mimpi-mimpi indahnya. Hanya dia seorang, Park Chanyeol.

"Bolehkah aku masuk? Aku harus menanyakan tentang Sehun." Chanyeol mengangguk dan mempersilahkan Baekhyun masuk.

Kris yang sedang memantau kurva profit perusahaannya itu segera mengalihkan pandangan dari laptop ketika menyadari kehadiran Baekhyun, "Ada masalah dengan Sehun?" tanya Kris tepat sasaran. Baekhyun mengangguk, "Ini sudah jam makan malam. Tapi, aku tidak menemukannya."

Kris berpikir sejenak, "Oh, iya! Terakhir kali aku bertemu, dia bersama tamu kita, Luhan. Di kamar tamu nomor 1."

Baekhyun mengangguk, "Baiklah, maaf mengganggu."

Baru saja Baekhyun hendak keluar dari ruangan itu namun Kris menahannya, "Tunggu sebentar. Chanyeol, kau ikut dengan Baekhyun dan jemput Luhan kemari, aku ingin mendengar penjelasan darinya."

Chanyeol mendecak kesal, "Tapi, Kris…"

Kris tersenyum evil, "Kenapa kau selalu membantah perintahku jika itu berkaitan dengan Baekhyun? Apa kalian ada masalah?"

Baekhyun maupun Chanyeol mematung di tempat ketika mendengar pertanyaan Sang CEO yang blak-blakan.

"Tidak." Jawab Chanyeol dan Baekhyun bersamaan. Kris tertawa, "Baiklah-baiklah. Silahkan pergi dari ruanganku." Sesuai perintah Kris, mereka pergi menuju kamar tamu nomor 1 dimana Luhan dan Sehun berada.

Menyusuri koridor-koridor yang penuh dengan hiasan ornamen perpaduan Eropa dan Maroko itu, Baekhyun maupun Chanyeol hanya saling terdiam. Menikmati suara alunan langkah mereka yang hampir bersamaan. Baekhyun yang cerewet pun tak mampu memecahkan situasi dingin seperti ini. Mulutnya seolah terkunci rapat-rapat dan kosa kata nya seolah habis.

Akhirnya, mereka sampai di depan kamar tamu nomor 1. Baekhyun membuka pintu kamar itu dan masuk ke dalam bersama Chanyeol. Baekhyun ingin berteriak saking kagetnya ketika melihat Sehun dan Luhan yang tidur di ranjang yang sama. Namun, ia urungkan niat itu menyadari bahwa keduanya pasti akan kaget.

"Kau akan membangunkan Sehun?" suara berat Chanyeol menyapa indra pendengaran Baekhyun secara tiba-tiba, membuat Baekhyun sedikit tersentak.

"Ini waktu nya Sehun makan malam. Jadi aku akan membangunkannya." Ujar Baekhyun. Ia mendekat ke tepi ranjang dan duduk di samping Sehun yang masih terlelap. Tangan nya terulur dan kemudian, dengan lembut, Baekhyun mengusap kening Sehun dengan penuh kasih sayang.

"Sehunnie, bangun." Bisik Baekhyun pelan. Sehun mulai terusik, namun, tak kunjung membuka matanya.

"Baby hun, bangunlah. Atau kau mau mendengarku berteriak?" bisik Baekhyun mulai kesal karena Sehun tak kunjung bangun. Baekhyun kira ancamannya tadi berhasil, namun, apa yang terjadi? Sehun malah melingkarkan kedua tangannya di pinggang Baekhyun.

Baekhyun mendecak kesal, "Ck! Bangun, bocah!" teriak Baekhyun tepat di telinga Sehun. Sontak saja Sehun langsung bangun dengan wajah cemberut, "Hyung, mengagetkanku dan bagaimana jika Luhan bangun?" protes Sehun.

Baekhyun melipat kedua tangannya dan menatap Sehun sebal, "Oh, jadi kau lebih peduli pada Luhan dibanding kesehatanmu? Ini jam makan malam, Sehun! Ayo, makan sekarang!" omel Baekhyun.

Sehun terkekeh geli, ia tau lambat laun misi nya akan berhasil. Baekhyun bahkan sudah menunjukkan nada cemburu saat ia membela Luhan. Akhirnya, dengan senang hati, Sehun bangun dari tempat tidur dan mengikuti Baekhyun ke luar kamar. Meninggalkan Chanyeol yang sedang membangunkan Luhan.

"Hei, bocah! Sudah berapa kali sih kuperingatkan? Jangan telat makan! Dan lagi, kau belum mandi. Hidupmu yang tidak teratur akan membuat penyembuhanmu terhambat. Kau tidak merindukan sirkuit balapan ya?"

Sehun hanya tersenyum simpul mendengarkan ocehan Baekhyun yang tak ada habisnya. "Hyung, kau berisik."

Baekhyun cemberut, bibirnya mengerucut dengan lucu, "Dasar setan cilik." Sehun tertawa dan mengecup pipi Baekhyun, "Hyung, saranghae."

Baekhyun merubah ekspresi wajahnya seketika. Lagi-lagi Sehun mengucapkan hal itu, ketulusan nya seolah mengetuk pintu hati Baekhyun dengan keras, berusaha meruntuhkan pertahanannya.

"Hyung, apa yang akan kau rasakan jika aku melakukan sesuatu yang seharusnya aku lakukan hanya saat kita bersama? Seperti misalnya, jika aku manja pada orang lain. Apa kau cemburu?" tanya Sehun.

Baekhyun terdiam, dibilang cemburu pun tidak. Tapi, Baekhyun hanya merasa tersaingi dan sedih jika saja Sehun memiliki pengganti dirinya.

"Aku..tidak tau. Ya..mungkin sedikit."

Sehun tersenyum penuh kemenangan, Sehun tau, Baekhyun sangat menyayangi dirinya, yang hanya perlu ia lakukan adalah membuka hati Baekhyun yang terkunci rapat itu. Tapi, sikap Baekhyun yang protektif dan posesif itu memberikan Sehun titik terang akan misinya itu.

Aku akan mendapatkanmu, hyung.

.

.

.

Selesai mandi dan mengganti baju, Luhan dengan diantar Chanyeol menghadap ke ruangan Kris. Ya, sesuai janji nya. Ia akan menjelaskan semuanya dengan rinci dan sejujur-jujurnya.

"Duduklah." Ujar Kris ramah. Luhan tersenyum manis dan duduk di hadapan Kris.

"Jadi, kenapa kau bisa sampai kesini?" tanya Kris. Luhan menghela nafasnya, dan akhirnya untaian kalimat yang menjelaskan bagaimana kronologi sebenarnya itu lolos dari mulut Luhan dengan lancar. Kris menyimak baik-baik cerita Luhan dan terkadang ia tertawa melihat gerak-gerik Luhan yang sangat antusias ketika bercerita.

"So, kau di India karena kau ingin menjadi jurnalis tetap di SNBC?" tanya Kris memastikan. Luhan mengangguk pelan, "Ya. Aku ingin bekerja di SNBC."

Kris tersenyum, "Atas nama keluarga Davidson, aku meminta maaf padamu atas kelakuan Sehun yang menyulitkanmu itu. Adikku memang sangat unexpected, aku bahkan kesulitan memahaminya." Tutur Kris. Luhan mengangguk-angguk, tetapi kemudian, ia baru sadar akan sesuatu.

Tunggu…

Kris bilang Sehun adiknya? Apa? Adik? Oh Tuhan!

"A..adik? Se..hun adikmu?" tanya Luhan penuh dengan keterkejutan dalam nada suaranya. Kris mengangguk sekaligus bingung kenapa Luhan tak mengenal Sehun, "Ya, Kris Alexander Davidson dan Sehun Alexander Davidson. Tidakkah kau melihat kemiripan di antara kami?"

Luhan menggelengkan kepalanya dengan kondisi yang masih agak shock, ia tak pernah berpikir sejauh itu.

Kris tersenyum maklum, "Well, yeah. Kami memang tidak mirip. Aku jauh lebih ramah darinya kan?" tanya Kris dengan tatapan jenaka. Luhan tertawa kecil dan mengangguk, "Ya. Kau sangat baik. Maaf, karena aku mengira Sehun bukan adikmu."

"Tak apa, Luhan. Oh, ya, masa sih kau tidak mengenal adikku? Apa…kau tidak pernah update berita olahraga atau semacamnya?" tanya Kris penasaran. Luhan mulai menerka-nerka, siapa sebenarnya Sehun. Seterkenal itukah Sehun?

"Begini, jika kau penggemar balap mobil kau pasti mengenal S. Alexander Davidson dengan nomor 88. Adikku itu pembalap sekaligus model dan bintang iklan."

Mendengar penjelasan Kris, sekonyong-konyong Luhan linglung. S. Alexander Davidson? Oh, ya! Tentu saja Luhan pernah mendengarnya dari Kyungsoo. Kyungsoo si penggemar balap F1 yang selalu berceloteh betapa kerennya K. Kim dan S. Alexander Davidson.

Luhan mengatur pola nafasnya, berusaha setenang mungkin di hadapan Kris. "Begitu rupanya." Sahut Luhan kikuk. Kris mengangguk dan mengambilkan tas Luhan yang sudah berhasil ia dapatkan dari Sehun.

"Ini tas mu. Oh, ya paspor mu ada di dalam." Ujar Kris kemudian memberikan backpack putih Luhan. Luhan segera mengambil tas nya dan mengecek isinya, "Kau bisa percaya padaku. Aku tak membuka tas mu sedikitpun." Ujar Kris ketika melihat Luhan yang mengecek tas nya dengan teliti.

"Oh ya, Luhan. SNBC merupakan perusahaan joint venture antara Stanley dan Davidson Group. SNBC juga merupakan bagian dari Davidson. So, kau akan diterima sebagai jurnalis tetap." Jelas Kris. Luhan membelalakkan matanya, dan demi apapun, rasa kagum pada Kris yang setinggi langit tiba-tiba saja turun menjadi setinggi bukit. Hell! Memangnya aku tidak bisa menjadi jurnalis karena usahaku sendiri? Ck! Jangan meremehkanku!

Luhan tersenyum halus, "Ehm..tidak usah. Kurasa aku masih mampu menjadi jurnalis tetap dengan usahaku sendiri." Tolak Luhan. Kris mengangguk dan menyetujui keputusan Luhan, "Baiklah kalau begitu, aku menghargai keputusanmu."

Luhan membungkuk penuh rasa terimakasih, "Bisakah aku keluar dari sini? Aku harus pulang ke rumah sewa ku." Mohon Luhan. Kris melirik jam tangan nya, "Ini sudah malam. Besok seorang supir akan mengantarmu pulang. Bukan maksudku menahanmu, tapi, ini demi keselamatan mu juga."

Luhan mengangguk, setidaknya ia bisa keluar dari mansion yang tak ia ketahui dimana letaknya ini. "Mmm..bisakah aku keluar?" tanya Luhan ragu-ragu. Kris tertawa menyadari betapa kikuknya sifat Luhan, "Tentu saja. Silahkan. Kau bisa berkeliling sesukamu."

.

.

.

Baekhyun dibuat kesal oleh Sehun yang tiba-tiba saja mengajaknya berenang. Jika siang hari itu tidak masalah, tapi, ini malam hari! Sehun sungguh gila, pikir Baekhyun. Dengan kondisi kesehatannya yang masih buruk, pria itu malah berenang di malam hari.

"Yaa! Bocah tengik, cepat naik! Kau bisa berenang lagi besok." teriak Baekhyun dari tepi kolam, di tangannya sudah siap sebuah bathrobe dan handuk kecil. Sehun enggan mendengarkan Baekhyun, berenang di malam hari dengan naungan langit bertabur bintang merupakan hal yang mengasyikkan. Ditambah lagi, kehadiran Baekhyun. Sembari mengamati langit malam, entah dorongan darimana, Sehun tersenyum saat menyadari bahwa Baekhyun selalu ada untuknya. Kapanpun itu. Tetapi, kemudian, senyum itu memudar saat kilas balik kejadian dimana ia mencium Luhan terputar.

Sehun mendecih kesal, "Mainan ku yang satu itu sepertinya mulai merusak pikiranku. Sepertinya, lebih baik aku buang saja. Lagipula, misi itu terlalu kekanakan. Membuat Baekhyun hyung cemburu? Ck! Misi bodoh macam apa yang kau rancang, Sehun? Bagaimanapun juga pasti Baekhyun hyung akan menjadi milikku."

Di pinggir kolam renang, Baekhyun duduk di sebuah ayunan sembari merengut kesal ketika menyadari bahwa Sehun mengabaikannya, namun, senyumnya langsung mengembang saat melihat sosok Luhan berjalan ke arahnya.

"Selamat malam, Luhan. Silahkan duduk." Sambut Baekhyun hangat. Luhan yang terlanjur kesal pada Baekhyun hanya menyahutnya dengan gumaman kecil yang bahkan tak dapat Baekhyun dengar.

"Luhan, aku mohon maaf atas apa yang telah kulakukan padamu. Maafkan aku ya?" mohon Baekhyun dengan wajah memelas. Luhan berpikir sejenak, kemudian mengangguk. Toh, besok pagi pun Luhan sudah keluar dari mansion ini dan menghilang dari kehidupan mereka. Tak ada gunanya menaruh dendam.

"Ya, aku memaafkanmu."

Baekhyun langsung meloncat-loncat dan berteriak histeris, "Huaaa! Thank you Luhan." Teriaknya kemudian memeluk Luhan erat. Luhan perlahan-lahan tersenyum, ia jadi merindukan Kyungsoo. Ia rindu kehadiran seorang sahabat.

"Hei, apakah si sialan itu suka berenang pada malam hari?" tanya Luhan, ia menunjuk Sehun yang sedang asyik berenang. Baekhyun mengangguk, "Ya, dia agak tidak waras sebenarnya."

Luhan tertawa, "Sangat tidak waras tepatnya." Koreksi Luhan. Baekhyun mengangguk setuju atas pendapat Luhan, "Aku sudah memintanya untuk segera berhenti. Tapi, dia mengabaikanku. Itu menyebalkan." Gerutu Baekhyun.

"Kasihan sekali dirimu." Ujar Luhan dengan nada mengiba.

Baekhyun mengangguk, "Ya, kasihani aku yang harus stand by di sampingnya 24 jam non stop."

Luhan membulatkan matanya, "Apa? 24 jam non stop? Kau..menikah dengannya?" setelah sejumlah pertanyaan itu meluncur cepat dari mulut Luhan, Baekhyun tertawa keras. Luhan lucu sekali!

"Aku manajer merangkap baby sitter nya, hehehe."

Luhan mengerutkan dahi nya dan menatap Sehun yang belum menyadari kehadirannya itu dengan jijik, umur berapa sih dia? Baby sitter? Oh, please! Dasar sialan manja.

"Oh, Luhan, Kau…" belum sempat Baekhyun melanjutkan ucapannya, suara dering ponselnya berhasil menginterupsinya. Baekhyun segera mengangkat panggilan itu dan berbicara dalam bahasa Inggris.

Luhan dapat menebak bahwa Baekhyun memiliki urusan penting saat ini. Dan benar saja, setelah mengakhiri panggilan itu, Baekhyun menghampiri Luhan dengan wajah sedih bercampur panik. "Pamanku…pamanku kecelakaan dan koma. Hiks…bibiku mengalami stroke dan..sepupuku menghilang. Hanya mereka keluargaku…aku harus bagaimana?"

Luhan merasakan hatinya teriris ketika melihat air mata Baekhyun menetes. Keluarga. Keluarga adalah yang terpenting dan jika Luhan menjadi Baekhyun maka, Luhan akan segera pergi dari tempat ini dan menghampiri mereka. Apa yang kau pikirkan Baekhyun? Mereka keluargamu! Larilah dan temui mereka selagi kau bisa, batin Luhan.

"Aku tidak mungkin meninggalkan Sehun di sini…Sehun tak akan bisa tanpaku. Bagaimana dengan jadwal makannya? Jadwal tidurnya? Bagaimana dengan kesehatannya? Bagaimana jika dia menghilang? Siapa yang akan mengingatkannya untuk minum vitamin? Bag…"

Sebelum Baekhyun melanjutkan ocehannya, Luhan mencengkram erat kedua bahu Baekhyun dan menatapnya dengan mata berkaca-kaca, "Larilah dan temui mereka selagi masih ada waktu. Mereka keluargamu, Baekhyun. Hanya mereka yang kau punya." Ujar Luhan penuh penekanan. Baekhyun menelan ludahnya dengan susah payah. Ini pilihan yang sulit.

"Luhan, menurutmu apakah tepat jika aku meninggalkan Sehun di sini?"

Luhan mengangguk, "si bayi raksasa itu sudah bisa berjalan dan makan sendiri. Keluargamu yang terpenting, keluarga adalah nomor satu. Kau akan menyesal jika tidak menemui mereka."

Baekhyun kemudian mengangguk mantap, benar kata Luhan, keluarga adalah nomor satu. "Luhan, terimakasih. Aku akan minta izin pada Kris sekarang dan terbang ke Amsterdam secepat mungkin." Kemudian, Baekhyun pergi, melangkahkan kaki nya ke ruang kerja Kris. Baekhyun tau, Kris pasti akan sangat marah. Tapi, apapun yang terjadi, keluarga tetaplah nomor satu.

Sepeninggal Baekhyun, Luhan dikejutkan oleh Sehun yang tiba-tiba duduk di sebelahnya tanpa permisi. Dasar setan! Mengagetkanku saja, jerit Luhan dalam hatinya. Sehun menyeringai dan tersenyum sinis, "Ada apa dengan Baekhyun hyung? Kau membuatnya menangis lagi?"

Luhan mengepalkan tangannya dan satu jitakan mendarat di kepala Sehun, "Dengar ya, Tuan Sok Tau! Jangan menuduhku sembarangan. Baekhyun menangis karena keluarganya dalam keadaan gawat! Dan dia masih saja memikirkan bayi besar yang tolol sepertimu. Memikirkan bagaimana jadwal makan mu, jadwal tidurmu dan bla…bla..bla" celoteh Luhan dengan nada mengejek.

Namun, Sehun bungkam. Keluarga Baekhyun di Amsterdam. Apakah itu artinya…Baekhyun akan pergi ke Amsterdam? Tidak! Tidak! Sehun tidak akan pernah membiarkan itu semua terjadi.

"Tidak." Desis Sehun. Luhan mengerinyitkan keningnya, "Tidak? Oh, jangan bilang bayi tolol sepertimu ingin menahannya agar tidak pergi. Keluarga adalah nomor satu dan kau berada di nomor sekian dalam hidup Baekhyun. Jangan pernah menghalanginya." Omel Luhan dengan bersungut-sungut.

"Diamlah, radio rusak! Urus saja urusanmu sendiri." Bentak Sehun kemudian berlari meninggalkan Luhan sendiri.

Luhan mendengus kesal dan menendang-nendang rumput yang tak bersalah untuk melampiaskan kekesalannya, "Dasar anjing liar tak punya sopan santun! Setan cilik tak berperasaan dan bayi raksasa yang tolol!" teriak Luhan kesal, ia melepas sandal nya kemudian melempar nya ke arah Sehun. Sayang sekali, meleset.

"Hah..aku bisa darah tinggi jika harus berhadapan dengan si sialan itu setiap hari." Gumam Luhan. Kemudian memilih untuk mengikuti Sehun diam-diam.

.

.

.

Kris menggebrak meja kerja nya ketika mendengar penjelesan Baekhyun mengenai keluarga nya di Amsterdam, "Apa?! Kau akan pergi begitu saja meninggalkan Sehun? Jangan gila, Byun Baekhyun." Baekhyun menundukkan kepalanya dalam-dalam, air mata nya menetes. Ia sangat tau jika Sehun tidak akan bisa tanpanya. Sehun bergantung padanya, Sehun sangat membutuhkannya dan jika saja Baekhyun bisa memilih, ia tak mau berada di antara dua pilihan sulit seperti ini.

"Tapi, aku harus menemui keluargaku. Bukankah anda juga akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi saya?"

Kris tercekat, Baekhyun benar. Ia pasti melakukan hal yang sama, tapi, Sehun lebih penting dari apapun bagi Kris. Hanya Sehun yang ia miliki di dunia ini. Harta, benda, dan bahkan posisinya akan ia lepaskan jika itu demi adik tersayang nya.

"Kau benar, Baekhyun. Tapi, apakah kau memikirkan Sehun? Dia bergantung padamu."

Baekhyun menghela nafasnya dengan berat, ia tau ini akan sangat berat bagi Sehun. Tapi, jika ia memilih untuk tetap di sisi Sehun? Apa yang akan terjadi pada Paman dan Bibinya? Bagaimana dengan sepupunya?

"Aku..aku tau. Tapi, tidak bisakah aku menemui keluargaku? Aku sudah meninggalkan mereka sejak usiaku 9 tahun dan sejak saat itu hingga sekarang, aku hanya bertemu mereka dua kali. Paman dan bibiku yang membesarkan aku sejak bayi, aku menyayangi mereka. Kumohon, izinkan aku berada di sisi mereka sampai kondisi mereka normal kembali. Aku mohon."

Kris mengacak rambutnya frustasi, ia tidak mungkin membiarkan Sehun merasa kehilangan Baekhyun. Hanya Baekhyun yang mengerti Sehun.

Dengan berat hati, Kris mengatakan keputusannya, "Tidak. Kau tidak kuizinkan pergi kemanapun. Sehun harus menjalani terapi penyembuhannya di sini dan kau akan tetap berada di sisinya sampai kapanpun." Tegas Kris. Rahang nya mengeras, mata nya memerah menahan emosi ketika sekelebat bayangan Sehun yang akan menderita tanpa Baekhyun.

Baekhyun menggelengkan kepalanya, "Aku tidak bisa. Aku harus pergi."

Kris menatap Baekhyun tajam, "Apa bayaranmu kurang, Byun Baekhyun? Apa keluargamu di Amsterdam belum hidup berkecukupan? Apa rumah di Amsterdam sana kurang bagus? Apa usaha Paman mu kurang sukses? Atau ada hutang keluargamu yang belum dibayar? Biar aku melunasi semuanya. Jika ada yang kau atau keluargamu inginkan, katakan padaku, aku akan memenuhinya."

Baekhyun menggelengkan kepalanya, "Aku bersyukur atas bayaran yang kuterima. Tapi, tidakkah anda sadar? Uang tidak ada artinya dibandingkan keluarga."

Kris mencengkram erat-erat pinggiran meja nya, berusaha untuk tidak melukai Baekhyun, kemudian pandangannya melembut, "Dengar, aku tau itu. Tapi, kumohon, bisakah kau tetap berada di sisi Sehun? Hanya kau yang mengerti dirinya, Baekhyun."

Dan Baekhyun tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk pelan dan kemudian keluar dari ruang kerja Kris.

Saat keluar dari ruang kerja itu, ia sudah disambut Sehun yang masih bertelanjang dada dan kedua matanya memandang dengan khawatir, "Hyung? Kau tidak akan pergi kan? Kau harus tetap berada di sisiku!" tanya Sehun, mata nya menatap Baekhyun dengan tajam, memastikan bahwa Baekhyun tak akan pernah pergi darinya.

Baekhyun tersenyum tipis dan mengangguk, "Ya, aku tidak akan pergi. Kau tenang saja." Sehun langsung tersenyum lebar dan menarik Baekhyun ke dalam pelukannya.

"Saranghae, hyung." Bisik Sehun, ia mengulum daun telinga Baekhyun dan meniup-niup nya. "Hun-ah, jangan seperti itu." protes Baekhyun sembari mendorong pelan tubuh Sehun. Namun, Sehun enggan melepaskan Baekhyun. Ia malah semakin mengeratkan pelukannya dan bersembunyi di ceruk leher Baekhyun, "Hyung, jangan pergi. Aku membutuhkanmu."

Baekhyun merasa bersalah ketika dirasakannya air mata Sehun menetes di ceruk lehernya. Sehun selalu seperti ini, menyembunyikan tangisannya. Tangan Baekhyun terulur dan mengusap punggung telanjang Sehun, "Tenanglah, Sehun-ah. Aku tidak pergi kemanapun. Sekarang, lebih baik kau mandi dulu."

Sehun melepaskan pelukannya dan tersenyum menatap Baekhyun, "Hyung, ayo mandi bersama!"

Belum sempat Baekhyun protes, Sehun sudah menggendongnya dan membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman yang menuntut. Baekhyun ingin marah, tapi ia tak bisa. Ia terlalu menyayangi Sehun.

Sehun melepaskan tautannya dan teringat jika yang ia lakukan tadi terlalu jauh, "Hyung, maaf." Baekhyun hanya mengangguk dan menundukkan wajahnya, "Turunkan aku, Sehun-ah." Protes Baekhyun. Sehun menggelengkan kepalanya, "Tidak. Hyung harus memandikan aku." Sehun menyeringai dan langsung membawa Baekhyun ke kamarnya.

Tanpa mereka sadari, dua pasang mata telah menyaksikan kejadian itu. Sepasang mata yang pertama, menatap mereka dengan penuh rasa bahagia. Namun yang kedua? Sepasang mata yang kedua itu menatap Sehun dengan penuh amarah. Seolah siap untuk mengulitinya kapanpun.

.

.

.

Luhan mengepalkan tangannya erat-erat, emosi nya mulai mendidih ketika baru saja ia melihat Sehun yang sangat egois dan memperlakukan Baekhyun seenaknya. Langkah kaki nya yang lebar-lebar itu hendak mengejar Sehun dan Baekhyun yang sudah pergi dari depan ruang kerja Kris itu, namun baru beberapa langkah, tangan kekar Kris menariknya dan mengunci pergerakannya.

Kris menatap Luhan dengan memohon, "Jangan merusak kebahagiaan adikku."

Luhan mendecih dan balik menatap Kris dengan kesal, rasa kagum yang setinggi bukit itu mulai lenyap ketika menyadari betapa egoisnya Kris, "Dengar, Tuan Egois! Baekhyun memiliki hak untuk bertemu dengan keluarganya. Jangan pernah mencoba menghalanginya."

Kris tersenyum melihat tingkah Luhan, sungguh, belum pernah ia bertemu orang yang berani mengatainya seperti Luhan, "Aku tau itu. Tapi, kau tidak mengenal Sehun. Kau tidak akan tau apa yang akan terjadi jika Baekhyun tidak ada di sisi Sehun." Ujar Kris dengan lembut.

Luhan tertawa meremehkan dan mendorong tubuh Kris, "Dengar ya, aku tidak percaya jika ada seorang pembalap F1 yang manja dan cengeng seperti adikmu! Oh, kau kan kakaknya! Kenapa tidak kau saja yang ada di sisi adikmu itu? Baekhyun hanya manajer yang merangkap jadi baby sitter si bayi raksasa kan? Aku tidak mengerti kenapa dunia begitu kejam. Orang dengan kekuasaan sepertimu harusnya bisa memiliki perasaan kemanusiaan yang bagus, atau jangan-jangan para karyawanmu itu kau anggap budak?"

Kris menggeram kesal, ia meninju tembok untuk melampiaskannya. Entah kenapa yang dikatakan Luhan terasa benar, bahwa ia begitu egois, bahwa seharusnya dirinya yang selalu berada di sisi Sehun, bukan Baekhyun.

"Jangan berkata seperti itu pada Sehun. Luhan, terserah kau akan mengatakan apapun tentangku, tapi, aku tetap tidak bisa mengizinkan Baekhyun pergi." Luhan ingin sekali melenyapkan Kris saat ini, keegoisannya itu benar-benar menyebalkan.

"Hei, Tuan Egois! Aku mengatakan hal yang nyata tentang pembalap F1 yang ternyata adalah bayi raksasa manja itu. Kenapa kau begitu memanjakan dia, hah? Dia pria dewasa, Tuan Egois!" teriak Luhan dengan penuh emosi. Kris diam-diam membenarkan perkataan Luhan. Iya, Sehun memang pria dewasa. Tapi, ada rasa takut yang besar dalam diri Kris jika Sehun lepas dari pengawasan Baekhyun.

Kris menunduk dalam-dalam, "Kau benar. Dia pria dewasa. Tapi, aku hanya takut dia terluka, Luhan. Tidakkah kau mengerti?"

Luhan menghembuskan nafasnya kasar, "Dengar, Tuan Egois! Jika kau tidak ingin dia terluka kenapa tidak sekalian mengurungnya saja di ruangan terisolasi? Jika kau takut dia terluka kenapa membiarkannya untuk menjadi pembalap? Mobilnya bisa saja tabrakan dan tadaaa dia terluka parah bahkan mungkin tidak akan bangun lagi!"

Tubuh Kris tiba-tiba berkeringat dan bergetar hebat, persendiannya melemas ketika otak nya memutar lagi kejadian satu tahun yang lalu. Kris menatap Luhan dengan tajam, "Cukup! Kau hanya orang asing, Luhan. Kau keterlaluan!"

Luhan hanya diam, mencerna kata-kata Kris dan mencoba mengartikan ekspresi Kris. keterlaluan? Hell, bukankah menahan seseorang untuk menemui keluarganya lebih keterlaluan? Keluarga adalah nomor satu, Tuan Bodoh!

Luhan tersenyum sinis, "Bukankah kalian lebih keterlaluan?"

Kris menggeram kesal, "Jangan pernah berkata seperti itu. Mengizinkan Sehun untuk menjadi pembalap adalah kesalahan terbesarku. Jadi, diamlah."

Luhan mengerinyitkan keningnya, "Haha, sepertinya kau takut adikmu itu kecelakaan dan tak bangun lagi, begitu? Overprotektif sekali sih!"

Kali ini Kris tak main-main, ia mendorong Luhan hingga punggungnya menabrak tembok, kedua tangannya mencengkram bahu Luhan dan mata nya menatap tajam kedua manik mata Luhan. Luhan membulatkan matanya melihat ekspresi Kris yang terlihat marah. Namun, mata rusa Luhan juga dapat menangkap setitik air mata di mata Kris.

Dia menangis….kenapa?

Dan tiba-tiba, Kris menundukkan kepalanya, membiarkan air matanya menetes perlahan, "Aku tau ini kesalahanku. Aku yang telah mengizinkannya menjadi seorang pembalap. Luhan, yang kau katakan itu telah terjadi. Semua yang kau katakan itu benar, aku bahkan menyaksikannya sendiri." Kris terisak, bayangan akan Sehun yang terbujur kaku di sirkuit balapan dan tubuhnya yang bersimbah darah membuat Kris kembali merasakan ketakutan yang begitu besar.

Luhan tercekat, sekonyong-konyong sebuah rasa sesak meliputi seluruh hatinya. Jadi, Sehun pernah kecelakaan? Dan Kris menyaksikannya? Duh, Luhan! Kenapa mulutmu ini tak bisa sopan sedikit sih?

"Kris, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk seperti itu."

Kris mengangguk dan menatap Luhan dengan mata nya yang memerah, "Kau benar, seharusnya aku yang selalu ada untuk Sehun. Aku tak bisa menjaga Sehun dengan baik."

Luhan mengangguk, "Ya, kau kakak yang buruk."

Kris tersenyum kembali mendengar perkataan jujur Luhan, "Ya, memang. Terimakasih sudah berkata jujur."

"Sama-sama."

"Luhan, aku sudah memikirkannya. Aku akan membiarkan Baekhyun pergi dan sesuai janjiku, kau juga akan pulang besok pagi. Sekali lagi, terimakasih."

Luhan tersenyum dan mengangguk, "Ok. Itu lebih baik." Kris membalas senyum Luhan dan menarik tangannya, "Ayo, kita ganggu Sehun dan Baekhyun."

Luhan tertawa, "Senang rasanya akan mengganggu big baby."

.

.

.

Sehun baru saja keluar dari kamar mandi ketika Baekhyun tengah menyiapkan baju tidurnya. Sebuah senyum terukir manis di bibir Sehun, kau akan selamanya berada di sisiku, hyung. Meskipun, kau tidak mencintaiku. Kau selalu berkata 'iya' untukku.

"Lama sekali sih! Kau bisa masuk angin, bocah jelek! Ini sudah malam, lain kali jangan pernah berenang malam-malam lagi, kau bisa masuk angin." Omel Baekhyun. Sehun tertawa dan mendekat ke arah Baekhyun, "Itu karena Hyung tidak mau memandikan ku! Akan lebih cepat jika Hyung memandikanku."

Baekhyun memukul pelan perut sixpack Sehun, "Yaa! Jangan harap."

"Dulu kita sering mandi bersama, Hyung juga selalu memandikanku, Hyung bahkan sudah melihat semua tubuhku. Kenapa sekarang tidak mau?" protes Sehun. Baekhyun menggeram kesal, "Heh, bocah! Itu dulu, babo! Kita sudah dewasa sekarang."

"Arraseo, Hyung." Ujar Sehun. Baekhyun mengerucutkan bibirnya, kesal karena Sehun selalu mengungkit-ungkit hal itu setiap kali meminta mandi bersama. Sementara Sehun menelan ludahnya, dan mencoba menjauhkan tatapannya dari bibir Baekhyun yang sexy.

Baekhyun menarik tangan Sehun dan mendudukannya di tepi ranjang, "Sehun-ah, duduklah. Rambutmu harus dikeringkan." Dengan telaten, Baekhyun mengeringkan rambut Sehun. Sehun tersenyum, ia senang Baekhyun selalu memperhatikannya, bahkan sampai ke hal detail sekalipun.

Tiba-tiba tangan Sehun melingkar di pinggang Baekhyun, wajahnya mendongak ke atas, menatap Baekhyun yang dalam posisi berdiri, "Hyung, cium aku." Pinta Sehun. Baekhyun menelan ludahnya, ia ingin mengatakan tidak, tapi, tidak bisa. Selalu iya jika itu untuk Sehun.

Baekhyun menundukkan wajahnya, perlahan menggapai bibir Sehun dan mengecupnya pelan, Sehun menarik tengkuk Baekhyun dan memperdalam ciumannya. "Mmhh.." Baekhyun mendorong Sehun pelan ketika pasokan oksigen nya menipis. Sehun mengerti, ia melepaskan tautannya yang menuntut.

"Hyung, kau menyukainya?" tanya Sehun. Baekhyun yang masih terengah-engah hanya mengangguk meskipun hatinya berkata lain. Tidak, aku akan senang jika kau, Park Chanyeol. Tapi, kenapa? Kenapa selalu 'iya' jika itu untukmu Sehun-ah?

"Hyung…" Sehun menghentikan kata-katanya dan menatap Baekhyun, "Ada apa, Hun-ah?" tanya Baekhyun lembut.

"Hyung…aku membutuhkanmu." Jawab Sehun. Baekhyun tersenyum, "Ya, aku di sini. Kau butuh apa? Kau mau makan, hmm?"

Sehun menggelengkan kepalanya, bukan. Bukan itu yang ia maksud. "Bukan seperti itu, Hyung. Aku sedang ingin. Kau mengerti 'kan?" wajah Sehun memerah, ketika Baekhyun menatapnya dengan wajah terkejut.

"Oh, begitu. Kau ingin 'itu'? Baiklah, seperti biasanya, aku akan memesankan wanita terbaik untukmu, atau..pria terbaik untuk melayanimu." Baekhyun hendak mengetikkan beberapa nomor untuk menyuruh Ivanov menyewa para bitch yang terbaik di India, namun, Sehun merampas nya dan melempar ponsel Baekhyun ke kasur.

"Hyung, aku…."

Belum sempat Sehun melanjutkan kata-katanya, pintu kamar terbuka, dua sosok dengan senyum konyol di wajah mereka itu segera masuk ke kamar. Si aneh dan Kris jangkung, pikir Sehun.

Luhan tertawa melihat wajah Baekhyun dan Sehun yang memerah, "Hahaha, lihat muka kalian! Sepertinya habis melakukan sesuatu yang menggairahkan."

Sehun men-death glare Luhan, "Diam, manusia aneh!"

Kris melerai Sehun dan Luhan yang mulai beradu mulut, dan kemudian ia menghampiri Baekhyun. "Baekhyun, maaf atas keegoisanku. Kau bisa pergi ke Amsterdam, besok pagi, kau akan diantar Chanyeol ke Bandara, aku sudah menyiapkan pesawat pribadi untukmu. Sekarang, bersiaplah."

Baekhyun menangis dan tersenyum ketika mendengar ucapan Kris, tangan mungilnya langsung melingkar erat di pinggang Kris, "Terimakasih."

Kris mengangguk, "Berterimakasihlah pada Luhan. Dia yang menyadarkanku akan banyak hal dalam waktu singkat." Ujar Kris.

Baekhyun melirik Luhan dan tersenyum, kemudian tanpa aba-aba, dia memeluk Luhan, "Terimakasih, Luhan. Meskipun kita belum saling kenal, kau adalah sahabatku."

Luhan tersenyum dan mengusap punggung Baekhyun, "Ya, sama-sama. Nikmatilah waktumu yang berharga bersama keluarga."

Setelah Baekhyun keluar dari kamar Sehun untuk bersiap-siap, Sehun langsung menatap Kris dan Luhan dengan dingin, "Apa kau mulai bersekongkol dengan si aneh ini, Kris?" tanya Sehun sinis.

Kris menggelengkan kepalanya, "Sehun, Baekhyun ingin menemui keluarganya, sejak usia 9 tahun ia sudah bersama keluarga kita dan sejak saat itu hingga sekarang, ia hanya bertemu keluarganya dua kali. Kita tidak boleh egois."

Sehun mengacak rambutnya frustasi, "Arrgh! Apa uang yang kita berikan belum cukup untuk keluarganya?"

Kris menghela nafasnya, berusaha sabar menghadapi kelakuan Sehun, "Uang bukan lagi hal yang penting, Sehun-ah."

Sehun menyeringai, "Kalau begitu aku yang akan ikut ke Amsterdam!" Kris menggelengkan kepalanya, "Tidak. Kau harus menjalani terapi penyembuhan cederamu. Kau tidak ingin kembali ke sirkuit balapan? Kau tidak merindukan nomor 88?"

Sehun terdiam. Ia sangat merindukan sirkuit balapan dan mobil F1 kesayangannya. Menjadi pembalap adalah mimpinya. Dan Sehun bertekad akan kembali meraihnya.

"Aku bisa mengesampingkan itu. Tapi, Baekhyun? Tidak bisa." Ucap Sehun penuh penekanan. Kris berusaha mencegah niat Sehun untuk ikut ke Amsterdam dengan berbagai ucapan, dan jika sudah berurusan dengan Baekhyun, Sehun pun akan berani membantah Kris.

"Bukan kau yang selalu ada di sampingku saat aku membutuhkanmu. Bahkan, saat aku koma di rumah sakit selama 6 bulan, kau hanya menjengukku sekali-dua kali. Siapa yang selalu berada di sisiku? Siapa yang selalu merawatku? Baekhyun hyung yang melakukannya. Jadi, berhenti menyuruhku diam di sini tanpa Baekhyun hyung!"

Kris terenyak, hati nya tergoncang mendengar perkataan Sehun. Semua itu memang benar, semua itu kenyataan. Tetapi, tak bisakah Sehun melihat sisi lainnya? Davidson Group dalam keadaan sekarat saat itu dan Kris mati-matian memperjuangkan agar Davidson Group tidak jatuh. Dan yang harus ia korbankan adalah waktu nya yang berharga.

Luhan yang sedaritadi melihat semuanya, mencerna baik-baik, jadi, Si Sialan ini sangat mencintai Baekhyun sampai-sampai berkata seperti itu pada kakaknya sendiri? Cih! Bayi bodoh.

"Bisakah kalian berhenti bertengkar? Jujur saja, aku tidak suka." Protes Luhan. Sehun langsung menatap Luhan tajam, "Diam! Orang asing!"

Luhan mendecih, "Kau yang diam, manja! Pria lemah sepertimu tidak ada bagusnya!" Luhan menjulurkan lidahnya untuk meledek Sehun. Sehun mendecak kesal, "Berani sekali kau!"

"Tentu saja, apa yang perlu kutakutkan darimu? Tanpa Baekhyun, kau tidak bisa apa-apa kan? Ck! Lemah sekali." Lagi dan lagi, untuk kesekian kalinya Luhan menjulurkan lidahnya dan menggoyangkan bokong nya untuk meledek Sehun.

"Kau yang lemah!" balas Sehun sengit. Luhan mengangguk, "Ya, aku memang terkadang bisa lemah juga. Semua manusia pasti punya kelemahan. Tapi, kau? tanpa Baekhyun saja pasti kau akan bunuh diri!"

Sehun hendak menampar Luhan, namun, Luhan tiba-tiba memasang wajah memelas dan puppy eyes nya hingga Sehun menurunkan tangannya. Sialan! Kenapa tatapannya polos sekali?Dasar aneh!

Sehun menatap Luhan dengan tajam, "Dengar ya, yeoja cerewet! Aku tidak selemah yang kaupikir dan…aku akan membuktikan padamu, bahwa, tanpa Baekhyun pun aku akan tetap hidup dengan baik!"

Luhan tersenyum, "Terserah saja! Hoaamm..aku mengantuk. Ini sudah jam satu malam. Bye, bye aku tidur dulu." Sembari menguap lebar, akhirnya Luhan meninggalkan kamar Sehun.

Kris tersenyum kecil melihat kejadian barusan, Luhan membuatnya terpesona. Hanya dalam waktu singkat, Luhan bisa mengendalikan Sehun. "Sehun, maafkan aku dan selamat malam." Ucap Kris, kemudian ia melangkahkan kaki nya untuk keluar dari kamar Sehun. Sehun hanya menanggapi perkataan Kris dengan sebuah anggukan.

Sehun teringat waktunya bersama Baekhyun hanya tinggal beberapa jam lagi, maka dari itu, Sehun memutuskan untuk pergi ke kamar Baekhyun. Hyung, bisakah aku tanpamu? Bagaimana jika aku merindukanmu? Kau pasti akan lama di sana dan aku akan merasa kehilanganmu.

Sehun hendak membuka pintu kamar Baekhyun, namun, sayup-sayup suara percakapan terdengar lewat celah pintu yang terbuka.

"Sialan!" gumam Sehun pelan, ketika mata nya mengintip lewat celah pintu itu.

.

.

.

Baekhyun meremas ujung kaos nya ketika Chanyeol menatapnya dengan intens, kegugupan menjalarinya dan suasana canggung yang tak terelakkan memenuhi ruangan ini. "Jadi, kau akan pergi besok?"

Baekhyun mengangguk, "Ya, besok."

"Kapan kau akan kembali?"

"Entahlah, sampai Paman ku sadar dari koma dan bibiku sembuh juga sampai sepupuku ditemukan. Ehm, Chanyeol, aku ingin mengatakan sesuatu."

Chanyeol mengangguk dan mata nya masih saja menatap Baekhyun, "Ya, katakanlah."

"Chanyeol, aku…." Perkataan Baekhyun terpotong ketika Chanyeol secara spontan mencium bibirnya, menariknya ke dalam sebuah perpagutan panas yang diwarnai kerinduan dan emosi. Baekhyun memejamkan mata nya erat, tangannya mengalung di leher Chanyeol dan bulir air matanya tak bisa dibendung lagi. Aku mencintaimu, Chanyeol.

Chanyeol melepas pagutan bibir mereka dengan wajah dingin penuh misterinya, "Jangan katakan hal itu lagi. Aku tau kau akan mengatakannya lagi. Kumohon, berhentilah."

Baekhyun tertohok, hati nya terasa pecah berkeping-keping, "Ke..kenapa kau tidak membiarkan aku mengatakannya? Perasaanku masih sama."

Chanyeol mengepalkan tangannya erat-erat, "Kali ini jangan katakan apapun. Biarkan aku yang mengatakannya," Chanyeol menghela nafasnya sejenak, tangannya terulur menangkup kedua pipi Baekhyun dan matanya saling beradu dengan tatapan Baekhyun, "Aku…aku mencintaimu."

Perasaan senang membuncah di hati Baekhyun, ia tak bisa membendung lagi air mata nya, ia memeluk Chanyeol dengan erat dan menumpahkan segala emosi nya. "Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu."

"Maafkan aku karena aku membuatmu bingung. Aku masih mencintaimu, Baekhyun."

Baekhyun menggelengkan kepalanya dan menatap Chanyeol, sebuah senyuman terukir manis di bibirnya, "Berapa lama kau membuatku bingung, Chanyeol? Aku hampir ingin menyerah. Aku lelah karena kau tidak percaya padaku."

Chanyeol tersenyum, "Sejak SMA kelas 3. Aku memang tidak percaya karena kau selalu berada di sisi Sehun. Bahkan, selama 6 bulan kita menjalin hubungan, Sehun selalu kau utamakan. Aku mencintaimu dan kau mencintaiku. Tapi, apa yang kulihat? Bahkan, hingga sekarang pun kau masih mengutamakannya?"

Baekhyun menunduk dan mengangguk pelan, "Ingin berkata tidak pun akan jadi iya jika itu untuk Sehun. Aku tidak tau mengapa dan tanpa sadar akulah yang menghancurkan hubungan kita. Tapi, aku selalu berharap kau kembali, Chanyeol. Meskipun, selama ini kau selalu menghindariku, bersikap dingin padaku dan mengabaikanku, aku masih mencintaimu."

Chanyeol mengangkat wajah Baekhyun dan mendaratkan kecupan di kening nya, "Meskipun, aku bersikap dingin dan mengabaikanmu, aku juga masih mencintaimu. Mulai sekarang, kau punya aku. Dan jangan selalu katakan iya pada Sehun, kau milikku, Baekhyun," Chanyeol memeluk Baekhyun dan mengecup leher nya, memberikan sebuah tanda di sana, "Kau milikku."

Baekhyun mengangguk, "Ya, aku milikmu dan kau milikku."

.

.

.

Sebelum keberangkatan Baekhyun ke Amsterdam dan kepergian Luhan dari mansion ini, Kris mengajak Sehun, Baekhyun, Chanyeol dan Luhan untuk sarapan bersama. Hidangan mewah a la Prancis, Italia dan India telah dihidangkan. Di menit-menit terakhir waktu sarapan, mereka masih makan dengan tenang, kecuali Luhan yang duduk di samping Sehun. Ia terus saja men-death glare Sehun ketika tangan mereka tak sengaja bersentuhan.

"Jangan menyenggol lenganku, sialan." bisik Luhan. Sehun tak menanggapi apapun yang dikatakan atau dilakukan oleh Luhan. Pandangan mata nya tertuju pada Baekhyun yang duduk di samping Chanyeol. Raut wajah bahagia benar-benar tercetak jelas di wajah manis nya. Dan Sehun tau, sumber kebahagiaan itu adalah Chanyeol, bukan dirinya.

"Sehun-ah, kenapa menatapku seperti itu? Kau mau kuambilkan apa? Oh, sudahkah kau meminum vitamin?" tanya Baekhyun khawatir, pasalnya, pandangan mata Sehun begitu menusuk dan dingin.

Sehun menggelengkan kepalanya, "Aku tak apa." Sahutnya dingin. Luhan mencibir melihat ekspresi dingin Sehun pada Baekhyun, rupanya dia masih tak rela Baekhyun pergi, kekanakan sekali.

"Hyung…." Panggil Sehun. Baekhyun tersenyum, "Ya? Ada apa?"

"Jangan pernah kembali lagi."

Deg.

Jantung Baekhyun hampir berhenti mendadak, aliran darahnya seperti membeku dan lidah nya bahkan kelu untuk mengatakan sesuatu. Tidak! Ini tidak mungkin.

Kris yang sama shock nya dengan Baekhyun angkat bicara, "Jangan bercanda, Sehun. Perkataanmu tidak masuk akal."

Sehun menggelengkan kepalanya dan menatap Kris serius, "Memangnya aku terlihat bercanda? Aku hanya menyuruh nya agar tak kembali lagi, apa itu salah?"

Dan runtuhlah pertahanan Baekhyun, ia menangis. Ini sangat menyakitkan, baru semalam ia berbahagia bersama Chanyeol dan tiba-tiba di pagi hari perkataan Sehun yang menyakitkan itu datang untuk menebas kebahagiaannya. Chanyeol yang duduk di samping Baekhyun, berusaha menenangkannya dengan membisikkan kata-kata lembut.

"Sehun-ah, kenapa? Apa…kau tidak akan merindukanku?"

Ya, hyung. Aku pasti akan merindukanmu.

"Mungkin, tidak. Tenang saja, hyung. Berbahagialah." Kemudian, Sehun beranjak pergi tanpa menoleh lagi. Sehun telah memutuskan, ia akan melupakan Baekhyun.

Kris hendak menyusul Sehun, namun Baekhyun menahannya. "Tidak apa-apa. Dia sedih karena aku pergi." Ujarnya. Kris mengangguk, kemudian ia melirik jam tangan Rolex yang melingkar di tangannya.

"Chanyeol, sebaiknya kau segera antar Baekhyun ke bandara, jadwal terbangnya sebentar lagi. Dan Luhan, supir yang akan mengantarmu sudah menunggu. Oh ya, sebelum kalian pergi. Aku mengucapkan terimakasih banyak." Ujar Kris. Chanyeol mengangguk dan segera menggandeng Baekhyun untuk keluar. Sedangkan Luhan yang sudah menggendong backpack nya tersenyum dan melambaikan tangannya pada Baekhyun.

Baekhyun pun membalas senyum Luhan dan melambaikan tangannya, "Terimakasih Luhan! Sampai jumpa lagi."

Setelah Chanyeol dan Baekhyun menghilang dari pandangan, Luhan menghampiri Kris, "Emm..Kris terimakasih. Aku pulang dulu." Pamit Luhan.

Kris segera menarik tangan Luhan dan memeluknya, "Ya, semoga kita bertemu di lain waktu. Dan semoga, kau menjadi jurnalis tetap di SNBC sehingga aku bisa bertemu denganmu lagi. Terimakasih Luhan kau mengajarkan aku banyak hal hanya dalam waktu yang singkat."

Luhan mengangguk, kemudian melambaikan tangannya pada Kris dan berjalan keluar. Akhirnya! Aku Free! Terjebak di mansion mewah mungkin sebuah kesialan sekaligus keberuntungan untukku. Setelah ini aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku.

Luhan hendak menaiki mobil limousin hitam yang akan mengantarnya pulang, namun, sebuah tangan menariknya hingga ia hampir terjungkal. Dan ketika Luhan sadar siapa orang itu, mulutnya menganga lebar, "Yaa! Apa yang kau lakukan Sehun Alexander?!"

Pria itu, Sehun Alexander tengah mencengkram tangan Luhan erat dan tersenyum miring, "Kau ingin tau apa yang akan kulakukan?"

.

.

.

TBC or END?-

makasih ya yang udah review kemarin..Iren hargai bgt.. WAJIB REVIEW YA! Soalnya itu motivasi saya buat lanjutin. Review dibawah 20 mikir dulu1000 kali buat lanjut atau gak.

Ini 5.700 words loh, panjang kan? :P maaf kalau banyak moment KrisHan dan Hunbaek nya, ini kan baru awal cerita, chapter berikut pasti momen hunhan bejibuuunn deh..maaf juga jika ff ini jelek

Thanks and sorry for typos..maapin ye kalau typo bertebaran..

[ADA YANG BISA NEBAK GA SEHUN MAU APA? :P]