Tittle : Somewhere We Only Know
Minor- Tittle : (I Love You, My Racer!)
Casts : Luhan, Sehun, Kris, Kyungsoo and etc
Genre : Romance, Hurt, Fluff and etc
Rating : T-M
Length : Series
(HunHan/KrisHan/BaekHun and etc)
Note: SELAMAT MEMBACA, Mina-san! Ini ff pertama KatKat, panggil # Iren atau KatKat ya, jangan thor! Gue kan ga ngeluarin petir hehehe. WAJIB REVIEW yeee? Ga ada review jadi ga ada motivasi buat lanjut..seriusan kemaren yang view banyak banget tapi yg review cuma sedikit T,T jangan jadi siders please...Iren di sini masih newbie jadi mohon bantuannya, review minimal 20 baru dilanjut.
.
.
Luhan hendak menaiki mobil limousin hitam yang akan mengantarnya pulang, namun, sebuah tangan menariknya hingga ia hampir terjungkal. Dan ketika Luhan sadar siapa orang itu, mulutnya menganga lebar, "Yaa! Apa yang kau lakukan Sehun Alexander?!"
Pria itu, Sehun Alexander tengah mencengkram tangan Luhan erat dan tersenyum miring, "Kau ingin tau apa yang akan kulakukan?"
Luhan menepis tangan Sehun dan menatapnya sinis, "Aku tidak peduli apa yang akan kau lakukan, aku ingin pulang."
"Mulai detik ini, kau berada di bawah pengawasanku." Ucapan Sehun bagai vonis hakim yang tak bisa diganggu gugat. Luhan tersenyum sinis, "Cih! Atas dasar apa aku berada di bawah pengawasan mu, setan?"
Atas dasar apa? Aku bahkan tidak tau.
"Kau sudah memasuki kediaman Davidson dan lagi, kau mengetahui keseharian Kris. Besar kemungkinannya kau akan menyebarkan gossip tentang keluarga Davidson. Oh, apalagi kau adalah jurnalis gadungan."
Luhan membelalakkan mata nya mendengar jawaban Sehun, bayi raksasa sialan! Anjing liar bermulut pedas. Gadungan katanya? Sialan!
Luhan mengembangkan senyum sinis andalannya, ia menatap Sehun dengan tatapan marah bercampur kesal, "Kau pikir aku mau masuk ke mansion mu ini? Di sini aku tahanan, Tuan Bodoh! Kalaupun aku ingin mengatakan sesuatu,aku akan mengatakan pada polisi bahwa pembalap F1 sepertimu telah mengurung ku di mansion ini."
Sehun terdiam. Tak menyahut perkataan Luhan.
"Kenapa? Kau takut? Sebelum aku benar-benar akan melaporkan ini pada polisi, biarkan aku pergi." Ujar Luhan, ia berbalik dan hendak melangkah masuk ke dalam mobil. Namun, untuk yang kedua kalinya Sehun menarik Luhan.
"Kau mau lapor polisi Korea atau India? Kita di India, cerewet. Apa menurutmu polisi India akan dengan senang hati mengurus urusan warga negara asing, apalagi tidak ada bukti yang kuat. Oh ya, kau lupa? Davidson Group didukung pemerintah India."
Luhan mendecih kesal. Ya, ya, yang dikatakan Sehun itu benar. "Aku akan menelpon kepolisian Korea."
Dan Sehun tersenyum meremehkan, "Menurutmu? Hanya karena masalah kecil itu, mereka akan terbang ke India, begitu?"
Luhan terdiam. Mati kutu.
Kemudian, Sehun segera menarik Luhan, tepatnya sih menyeret Luhan. "Aku tidak terima penolakan kali ini. Kau akan kuawasi."
Luhan meronta-ronta dengan gerakan sporadis nya ketika Sehun terus menyeretnya dan membawanya ke sebuah garasi super besar yang lebih mirip car showroom itu. Sehun memilih Audi Locus merah nya, ia segera duduk di jok pengemudi setelah sebelumnya memaksa Luhan untuk duduk di sampingnya.
"Aku akan mengantarmu ke rumah mu." Ujar Sehun sembari menghidupkan mesin mobilnya. Luhan membelalakkan matanya, "Turunkan aku, anjing liar jelek!" pinta Luhan, namun Sehun tak menanggapinya, ia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Ketika mobil itu telah keluar dari gerbang megah Davidson Delhi Mansion, Luhan secara refleks memukul kepalanya sendiri, ia sadar akan suatu hal. Oh, God! Bukankah ini mansion itu? Mansion yang dekat dengan rumah sewa ku! Astaga, jadi….Davidson ini perusahaan terbesar ketiga? Jadi….huaaaaa! Kenapa aku tidak menyadarinya?! Bodoh sekaliii!
"Tutup mulutmu, lalat bisa masuk."
Luhan mencibir, "Ih, lalat tidak suka yang wangi."
Sehun memberhentikan mobilnya sejenak dan menatap Luhan, "Katakan dimana alamatmu?"
Luhan tersenyum masam, "Jalan kaki dari sini pun aku bisa pulang, bodoh. Turunkan aku di sini!" Sehun memencet tombol autolocked untuk membuka pintu mobil, Luhan tentu saja langsung turun dari mobil dan berlari menuju jalan kecil yang pernah ia kunjungi. Luhan pikir Sehun tak akan mengikutinya, namun, ia salah. Sehun dengan cepat melangkahkan kaki nya dan menyamakan langkahnya dengan langkah kaki Luhan.
"Yaa! Pergilah, setan tolol!" teriak Luhan kaget karena kemunculan Sehun yang selalu tiba-tiba.
Sehun menyeringai, "Sebutan sayang darimu untukku banyak sekali. Setan tolol, anjing liar, Tuan Bodoh, brengsek, bayi raksasa. Lalu, masih ada lagi?"
Luhan benar-benar kesal dibuatnya, Sehun membuat emosinya selalu tinggi. Kalau setiap hari bertemu dengan Sehun, bisa-bisa pekerjaannya terganggu. "Dengar ya, Setan! Aku punya pekerjaan dan kehadiranmu akan mengganggu. Jadi, lebih baik pergi."
"Tidak mau."
"Pergi, anjing jelek!"
"Sudah kubilang, aku akan mengawasimu."
"Ish! Pergi sana!"
"Tidak mau."
"Hah! Terserah saja!"
.
.
.
Luhan akhirnya sampai di komplek rumah sewa nya, ia segera menghampiri Safiera yang tengah menyapu teras rumah-rumah sewa itu. Safiera yang menyadari kehadiran Luhan segera tersenyum lega, "Kau kemana saja, Luhan? Menghilang begitu saja membuatku khawatir." tanya Safiera. Luhan tersenyum, "Aku ada masalah sedikit. Maaf, membuatmu khawatir."
Safiera tersenyum maklum, dan ketika mata nya menangkap kehadiran Sehun Alexander yang terlihat tampan dengan balutan polo shirt warna biru serta celana jeans hitam itu segera mengembangkan senyum manis nya. "Ya ampun! Bukankah…kau Sehun Alexander Davidson?" tanya Safiera sedikit histeris dengan binar mata penuh kekaguman. Sehun hanya mengangguk dengan ekspresi datar. Luhan bengong, hell! Kenapa dia sangat terkenal? Ini kan India bukan Korea.
Safiera kemudian mengambil sebundel koran yang baru terbit beberapa hari ini dan menunjukkannya pada Luhan dan Sehun, "Lihat ini! Media massa di India meliput kedatangan Davidson Group dan juga, pengembangan yang akan Davidson lakukan sepertinya didukung pemerintah India, pengusaha India dan rakyat pun banyak yang mendukung." Celoteh Safiera penuh semangat. Luhan mengangguk mengerti dan tersenyum, "Ya, setidaknya citra Davidson di India sangat baik. Tapi, dimataku, biasa saja."
Safiera mengerinyitkan keningnya, "Tidak boleh berkata seperti itu. Sehun Alexander berada di dekatmu. Oh, ada cerita apa hingga kau bisa bersama pangeran tampan itu?" bisik Safiera pelan agar Sehun tak mendengar.
Luhan tersenyum meremehkan, "Tampan? Tidak juga. Hehehe, ceritanya panjang, aku masuk dulu. Bolehkan?"
Safiera mengangguk dan melanjutkan kegiatan menyapunya, "Tuan, selamat datang di komplek rumah sewa yang sederhana ini." ucap Safiera pada Sehun sebelum pergi.
Luhan membuka pintu rumah sewa nya dan segera masuk ke dalam, dengan cepat, ia mendorong pintunya agar Sehun tidak masuk, namun, kaki Sehun mengganjal pintu itu, seringainya pun mengembang, "Siapa bilang boleh ditutup? Aku akan masuk."
Luhan mendecak kesal dan terus berusaha menutup pintu itu, namun, nyatanya, Sehun lebih kuat. Ia segera mendorong pintu itu dan masuk ke dalam rumah sewa Luhan.
"Wow! Lumayan rapi." Komentar Sehun, dengan seenaknya dia duduk di sofa dan bersantai seolah rumah ini miliknya sendiri. Luhan menghela nafasnya kasar, mungkin ia harus mulai terbiasa dengan kehadiran si sialan ini. Sehun bagaikan noda membandel, sangat sulit untuk disingkirkan.
Luhan mendelik kesal ke arah Sehun dan langsung masuk ke kamarnya. Ia segera membuka buku note nya, berbaring tengkurap di atas kasur dan tangan nya dengan lihai bergerak menuliskan kejadian-kejadian yang telah ia alami.
Selesai menuliskan semuanya, Luhan melempar pulpen yang digenggamnya dengan kasar ketika bayangan wajah Sehun melintasi di pikirannya, "Sehun Alexander Davidson, kenapa aku merasa familiar dengan wajah nya? Dimana aku pernah melihatnya?"
Luhan mengecek ponsel nya dan sebuah e-mail baru saja diterimanya. Ken Sajangnim. Luhan dengan cepat membuka surel itu dan membacanya.
Luhan, aku punya tugas baru untukmu. Aku bertemu dengan temanku ( seorang detektif swasta yang baru saja pulang dari Delhi, India). Saat aku mengobrol dengannya, aku berhasil mendapat sedikit informasi.
Di Delhi ada sebuah perusahaan besar yang 'gelap' dan sangat licik dalam berbisnis . Perusahaan 'gelap' itu juga kudengar memiliki usaha lain, yaitu, perdagangan manusia dan perbudakan terhadap anak kecil. Dari informasi tambahan yang kudapat, perusahaan gelap itu bergerak di bidang perhotelan dan industri tekstil. Oh, kudengar, basecamp utama mereka di Mumbai, tapi belum terlalu jelas dimana persisnya.
Aku tidak tau pasti nama perusahaannya, namun, aku mau kau mencari tau dan mengupas tuntas tentang perusahaan gelap itu. Karena perusahaan itu adalah perusahaan yang cukup besar, pasti akan jadi perbincangan heboh di dunia dan SNBC akan jadi sorotan.
(Aku sudah mentransfer uang untukmu)
Fighting Luhan!
Luhan mematikan ponselnya tanpa membalas surel dari Ken itu. Ini pasti akan mengasyikkan, pikir Luhan. Jiwa nya tertantang untuk melakukan tugas itu. Luhan langsung mengecek isi ransel super besarnya dan setelah semuanya lengkap, Luhan keluar dari kamarnya dengan bersemangat.
"Oh, hei, big baby!" panggil Luhan pada Sehun yang masih tiduran di sofa. Namun, Sehun enggan menoleh. Namaku bukan big baby, bodoh.
Luhan mendecak kesal, "Ck! Sialan, bangunlah!" namun, Sehun tak kunjung merespon.
"Yaa! Sehun!" teriak Luhan kesal. Sehun menoleh dan menampakkan wajah –ada-apa-
"Kenapa tidak merespon saat kupanggil, hah?"
Sehun menyeringai, "Kau harus memanggil namaku dengan benar, cerewet." Luhan mencibir dan menatap Sehun dengan malas, "Hei, pergilah dari rumahku. Aku harus bekerja." Usir Luhan, ia mengibaskan tangannya seolah mengusir hama.
Sehun tersenyum meremehkan melihat Luhan yang menggendong ransel sebesar itu, jika boleh jujur, Luhan terlihat keberatan membawa ransel itu. Mau kemana dia? Mendaki gunung?
"Kau mau pergi kemana dengan ransel sebesar itu?" tanya Sehun. Luhan menggelengkan kepalanya, "bukan urusanmu. Pergilah."
"Sudah kubilang aku akan mengawasimu. Bisa saja kan kau menyebarkan gosip yang tidak-tidak tentang Davidson."
Luhan mendecak kesal, "Aku berjanji tak akan menyebarkan gosip apapun! Aku bukan jurnalis yang seperti itu, aku masih menghargai privasi! Jadi, sekarang kau bisa pergi."
Sehun melipat kedua tangannya di dada dan menatap Luhan dengan intens, "Kenapa kau selalu ingin aku pergi?"
"Kau seharusnya tau alasannya."
Sehun menghampiri Luhan dan memojokkan tubuh Luhan ke tembok. Kedua tangannya mengukung Luhan, tak mengizinkan Luhan untuk pergi kemanapun. Luhan mengerjapkan matanya terkejut, dalam jarak sedekat ini ia bisa merasakan deru nafas Sehun dan aroma maskulin nya yang seksi. Pria yang hampir sempurna, sayang sekali sifatnya menyebalkan!
Sehun memiringkan kepalanya dan berbisik pelan di telinga kanan Luhan, "Katakan kemana kau akan pergi."
Luhan menelan ludahnya susah payah ketika suara Sehun yang berat itu menyapa indra pendengarannya, apa-apaan ini? kenapa aku terhanyut dalam suasana?
"Sesulit itukah kau menerima keberadaanku, Luhan?"
Luhan ingin melawan perkataan Sehun, tapi entah kenapa, telinga Luhan menangkap nada kepedihan dalam suara Sehun.
Luhan balik menatap mata Sehun, "Seharusnya kau punya hal yang lebih penting untuk diurus, Sehun."
Sehun tersenyum tipis sembari menatap Luhan dengan intens, "Kau hal yang penting bagiku."
Luhan menggelengkan kepalanya, tanda tidak setuju. "Orang asing mana yang penting bagimu? Aku orang asing, ingat itu."
Sehun menganggukkan kepalanya, "Ya, memang. Tapi, apa sebelumnya kita pernah bertemu? Karena aku merasa pernah bertemu denganmu di suatu tempat."
Luhan terdiam, mencerna kata-kata Sehun dengan baik. Jika Sehun merasa demikian, maka rasa familiar yang Luhan rasakan tak salah lagi. Pastilah, ia dan Sehun pernah bertemu. Di suatu waktu, tapi kapan? Dan di suatu tempat di bumi ini, tapi dimana?
"Aku tidak mau capek-capek berpikir. Menyingkirlah." Titah Luhan. Ia mulai jengah dengan posisi mereka yang berdekatan ini.
Sehun enggan menyingkir, ia malah semakin mengunci rapat tubuh Luhan dengan tubuhnya, "Kenapa rasanya aku tidak rela saat kau akan menghilang dari pandanganku? Apa kita pernah saling mengenal, Luhan? Saat aku pertama kali melihatmu, ada bagian dari diriku yang mencari berbagai cara agar kau tak menghilang dari pandanganku. Termasuk, saat aku menyembunyikan paspormu."
Luhan merasa sebentar lagi dirinya tidak waras, mata sebiru safir milik Sehun yang menatapnya seperti membawa Luhan ke sebuah dimensi yang menenangkan, membuat Luhan enggan menoleh sedikitpun dari tatapannya. Mata itu telah berhasil membius nya, membawa Luhan kepada sebuah potongan kilas balik yang terasa aneh, bahkan bagi dirinya sendiri.
Luhan baru saja akan merespon ucapan Sehun, namun, bibir Sehun sudah lebih dahulu membungkam bibirnya dengan ciuman panas yang menuntut. Luhan mendorong Sehun kuat-kuat, ia tidak mau jatuh ke dalam sesi perpagutan panas dengan Sehun untuk yang kedua kalinya. Cukup sekali saja sudah membuatnya hampir gila.
Tak mampu untuk membendung perlawanan Luhan yang sporadis dan radikal itu, Sehun akhirnya melepaskan pagutan mereka dengan nafas yang terengah-engah.
Luhan mengelap bibirnya yang basah sembari menatap Sehun dengan tatapan sebal, "Yaa! Kau gila!"
Sehun tertawa kecil, suara tawa nya yang manis menembus indra pendengaran Luhan, membawakan lagi sepotong kilas balik yang bahkan tak masuk akal. Tawa yang sama. Kapan aku mendengarnya? Siapa yang tertawa seperti itu? Kenapa suara tawa ini…begitu familiar?
"Setiap kali kita selesai berciuman, kau selalu mengatakan bahwa aku gila, apa tidak ada ucapan yang lebih manis?"
Luhan mendecak kesal, "Karena yang kau memang orang gila. Minggirlah, aku harus bekerja." Luhan mendorong tubuh Sehun, namun, Sehun malah semakin memerangkap nya.
"Kau akan pergi kemana? Cukup katakan dan aku akan membiarkanmu bekerja."
Luhan akhirnya, ia menghela nafasnya dengan pasrah, "Dengar baik-baik ya, Tuan Pemaksa! Aku akan pergi mencari perusahaan gelap di Delhi yang memperdagangkan manusia. Aku tidak tau kemana tujuanku jadi, aku akan berpetualang."
Sehun mengangguk, "Pekerjaanmu cukup menantang."
"Minggirlah. Aku kan sudah mengatakan semuanya." pinta Luhan. Sehun mengangguk, ia melepaskan Luhan dan mengikuti langkah Luhan ke luar rumah sewa ini.
Tanpa memperdulikan Sehun, Luhan langsung berjalan cepat ke depan gang, menyetop taksi hijau dan menghilang dari pandangan Sehun untuk memulai petualangannya.
Kau akan selalu berada dalam pandanganku, Luhan. Sampai aku mengingatmu, sampai aku tau siapa dirimu sebenarnya dan sampai aku mendapatkan jawaban atas kebingunganku.
.
.
.
Di dalam Taksi, Luhan berpikir akan pergi ke mana. Supir taksi yang kali ini sangat ramah bertanya pada Luhan dengan bahasa Inggris yang pas-pasan, "Kemana kau akan pergi, anak muda?"
Luhan tersenyum kikuk, "Ehm, sebaiknya kemana jika ingin melihat sisi India yang lebih berkelas? Oh, maksudku, pasar tradisional yang lebih baik dari pasar yang tadi kita lewati."
Pak Tua itu mengangguk mengerti, "Kau ingin pergi ke pasar yang paling berkelas? Khan Traditional Market adalah pasar paling berkelas. Mau pergi kesana?"
Luhan tersenyum dan mengangguk antusias, "Ya! Aku mau kesana. Tapi, ada apa saja di sana? Aku punya pengalaman buruk di pasar tradisional India."
Supir taksi itu tertawa renyah, "Ya, ya. Maksudmu kau punya pengalaman buruk di pasar yang tadi kita lewati?" Luhan mengangguk, "Ya, benar sekali, pak!"
"Itu pasar tradisional yang kumuh dan diperuntukkan untuk orang-orang miskin. Khan Traditional Market berbeda, di sana kau bisa menemukan toko-toko dari brand ternama, atau café-café yang bernuansa barat." Jelas Sang supir taksi. Luhan tersenyum semakin cerah, jika benar demikian, maka, ia sangat ingin mengunjungi Khan Traditional Market.
"Wah, kedengarannya menyenangkan di sana!"
"Ya, sangat menyenangkan. Tapi, kau harus pintar-pintar mencari barang murah, harga di sana sangat mahal. Makan di café pun harus pintar mencari café yang murah. Khan Traditional Market dekat dengan India Gate. Kau mau ke India Gate dulu?"
Luhan mendengarkan penuturan supir taksi itu dan mengangguk. "Baiklah, pak. Antar aku ke India Gate dulu. Terimakasih atas penjelasannya." Ujar Luhan disertai senyum manis nya.
Supir taksi itu mengangguk dan membalas senyum Luhan, "Aku senang bisa mengantarmu, anak muda. Sudah puluhan tahun aku bekerja menjadi supir taksi di kota ini, dan setiap kali ada turis yang menumpang aku akan dengan senang hati menjelaskan semua keindahan yang dimiliki India. Aku cinta India, dan aku juga ingin mengenalkan India kepada dunia. Orang-orang mengira India hanyalah negara miskin yang kotor dan dipenuhi kriminal, tapi, itu tidak sepenuhnya benar. India memiliki keindahan juga. Kuharap kau menyukai India dan akan berkunjung lagi suatu saat nanti."
Luhan tertegun mendengar ucapan Pak Tua supir taksi itu. Rasa nasionalis nya yang tinggi patut diacungi jempol. Luhan sampai-sampai merasa tidak enak hati, karena apa yang akan ia lakukan di India adalah menguak tentang sisi kriminalitasnya dan semua keburukan di India.
"Anak muda, kau sendirian kemari?" tanya Pak Tua itu. Luhan mengangguk, "Iya, aku sendirian."
"Kau sedang berlibur ya?" tanya Pak Tua itu. Luhan tersenyum halus dan menggelengkan kepalanya, "Tidak, Pak. Aku di sini bekerja."
Pak Tua itu tersenyum antusias, "Wah, bekerja? Kau kelihatan masih belasan tahun. Apa pekerjaanmu?"
Luhan tertawa, semuda itukah dirinya?
"Hehehe, aku sudah 22 tahun, Pak. Hmm..aku bekerja di sini sebagai jurnalis." Jawab Luhan. Pak Tua itu mengangguk, "Jurnalis? Kalau begitu sepulang nanti ke negaramu, ceritakan tentang keindahan India agar semua orang mau berkunjung ke India. Aku sedih karena banyak orang yang tak mau mengunjungi India. Padahal, aku selalu berusaha seramah mungkin kepada turis agar mereka mau berkunjung lagi ke India."
Luhan lagi-lagi merasa tertohok dengan ucapan Pak Tua ini, ia merasa tidak enak hati. Dengan senyum tipis Luhan akhirnya mengangguk, "Ya, pasti. Aku juga akan menceritakan keramahan bapak."
.
.
.
Setelah membayar taxi fare dan mengucapkan banyak terimakasih kepada Pak Tua supir taksi itu, Luhan segera turun dan berjalan di sekitar monumen India Gate. Monumen rancangan Edwin Lutyens yang dibangun untuk memperingati tentara India yang gugur saat Perang Dunia Ke-I itu memiliki arsitektur perpaduan Hindu-Islam yang sangat memukau. Luhan bahkan tak henti-hentinya mengamati India Gate. Kemudian, Luhan mengeluarkan kamera DSLR nya yang canggih itu dan memotret monumen India Gate yang sekilas mirip dengan arc de triomphe di Paris.
"Wah! Indah sekali!" teriak Luhan kegirangan. Ia tak henti-hentinya memotret bangunan itu dan pemandangan di sekitarnya. Luhan merentangkan tangannya ke udara dan melompat-lompat. Ia merasa bebas menikmati keindahan ini.
Saking senangnya, Luhan yang terus melompat itu tiba-tiba tubuhnya oleng dan hendak terjatuh, tapi…
Grep.
Sepasang tangan menahan tubuh mungil Luhan. Luhan mengedipkan matanya berkali-kali, tak percaya akan apa yang ia lihat.
"SEHUN? Yaa! Lepaskan." Teriak Luhan. Sehun, si pemilik tangan yang menahan Luhan itu hanya tersenyum miring dan sedetik kemudian, Ia melepaskan Luhan.
Bruk.
Luhan jatuh dengan bokongnya yang mencium aspal, "Aww!" ringis Luhan. Mata rusa nya yang penuh amarah menatap Sehun yang berdiri dengan angkuh di hadapannya, seolah tak melakukan kesalahan apapun.
Luhan berdiri sembari mengusap bokong nya yang sedikit nyeri, "Setan Sialan!" umpat Luhan pada Sehun.
Sehun menggedikkan bahunya, "Kau kan minta dilepaskan. Yasudah, kulepaskan." Ujar Sehun dengan wajah tak berdosa.
Luhan mendecak kesal, ia segera melangkah lebar-lebar meninggalkan Sehun. "Sialan! Anjing liar tak berperasaan. Tak tau apa sakitnya bagaimana, huhuhu."
Sehun tersenyum kecil memperhatikan Luhan yang sudah berjalan mendahuluinya, "Lucu sekali."
Kaki panjang Sehun dengan cepat berhasil menyamakan langkahnya dengan langkah Luhan yang tampak emosi. "Yaa! Menyingkirlah dari hadapanku, setan! Kenapa sih kau selalu muncul dimana-mana?" teriak Luhan, bibirnya mengerucut lucu, menunjukkan ekspresi kesal yang malah terlihat menggemaskan di mata Sehun.
"Sudah kubilang aku akan mengawasimu."
Luhan mendecih, "Cih! Menyebalkan sekali. Kau pengangguran ya? Tak punya kerjaan."
Sehun mengangguk, "Sebenarnya sih bukan. Tapi, anggap saja iya jika itu bisa membuat mulutmu diam."
Hell, dia sepertinya minta dibunuh? Duh, Tuhan! Kenapa sih aku harus dipertemukan dengan si setan ini?
"Luhan, tunggu aku!" teriak Sehun ketika Luhan tiba-tiba berlari kencang untuk menjauh. Entah apa yang terjadi dengan Sehun, ia sudah mengulas senyum manis beberapa kali, padahal ini adalah hari kepergian Baekhyun. Sehun sendiri tak mengerti dengan dirinya sendiri, ia tak bisa menahan senyum saat melihat Luhan yang bertingkah seperti anak kecil.
Sehun yang berhasil menyusul Luhan segera merangkul pundak Luhan dan berjalan beriringan layaknya sahabat karib. Luhan terus berusaha menjauh dari Sehun, namun, semakin ia mencoba untuk menjauh, semakin Sehun mengeratkan rangkulannya.
"Aku bosan bertengkar denganmu terus. Untuk sementara ini mari kita lakukan gencatan senjata." Luhan yang mendengar ucapan Sehun barusan terkekeh geli, apa katanya? Gencatan senjata? Ya Tuhan, aku jadi merasa sedang perang dengan setan ini, haha.
"Kenapa tertawa?" tanya Sehun keheranan.
Luhan menatap Sehun sambil tersenyum lebar, "Tidak. Hanya saja, aku baru sadar jika aku tengah berperang dengan setan. Wee!" Luhan menjulurkan lidahnya untuk meledek Sehun dan kemudian meloloskan diri dari rangkulan Sehun. Sehun tertawa dan mengejar Luhan yang sudah berlari lebih dahulu.
Luhan berbalik dan menatap Sehun yang sudah cukup jauh darinya. "Hahah yeay!" Luhan bersorak dan karena tak berhati-hati, ia tersandung kakinya sendiri.
Bruk.
Luhan jatuh ke permukaan aspal untuk yang kedua kalinya, kali ini lebih keras dari yang tadi. Luhan meringis kesakitan, mata rusa nya yang cantik itu berkaca-kaca, kalau ia tidak malu mungkin sudah menangis daritadi. Sayangnya, Luhan masih ingat di sini banyak orang.
Sehun menghampiri Luhan dengan senyum mengiba yang bagi Luhan adalah sebuah hinaaan. Dengan gaya sok cool –bagi Luhan, Sehun berjongkok, mensejajarkan tinggi nya dengan Luhan.
"Adik manis, kenapa? Terjatuh, eoh?" tanya Sehun lembut, lagi-lagi itu terdengar seperti sebuah hinaan bagi Luhan.
"Yaa! Tidak usah sok baik, setan." Luhan mencoba berdiri namun kakinya yang terkilir membuat ia kembali terjatuh dan rasanya sangat sakit.
Sehun tersenyum tipis, "Aku di sini. Kenapa tidak meminta bantuanku kalau kau tidak bisa, hmm?" tanya Sehun lembut. Luhan tiba-tiba diserang rasa gugup ketika Sehun berkata lembut seperti itu.
"Tidak usah." Tolak Luhan mentah-mentah. Sehun mengangguk kemudian berdiri, "Baiklah, kalau tidak mau, tak apa." Dan pria jangkung itu berjalan menjauh dari Luhan.
Luhan terkejut, sialan! Jadi, bagaimana aku pulang? Ngesot layaknya suster ngesot bukan cara yang bagus, orang bisa menganggapku aneh. Luhan, buang jauh-jauh gengsi mu, lebih baik minta tolong daripada ngesot.
"Yaa! Sehun Alexander! Tolong aku!" teriak Luhan. Sehun menghentikan langkahnya dan tertawa kecil, ia segera berbalik dan menghampiri Luhan.
"Lepas dulu tas mu." Pinta Sehun. Luhan mengangguk dan memberikan tas nya pada Sehun. Sehun menggendong ransel Luhan yang besar itu dan kemudian, dengan sigap, Sehun menggendong Luhan bridal style.
"Kalungkan tanganmu ke leher ku kalau tidak ingin jatuh lagi." Titah Sehun. Luhan diam dan menurut saja. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Sehun, memilih untuk mendengarkan irama detak jantung pria ini dengan seksama.
Sehun membawa Luhan ke dalam mobil Audi Locus nya yang diparkir tak jauh dari area India Gate. Dengan hati-hati Sehun mendudukkan Luhan di jok mobil. "Diam di situ, jangan bergerak." Perintah Sehun. Luhan hanya mengangguk, entah kenapa ia jadi lebih banyak diam.
Setelah menyimpan tas Luhan, Sehun mengambil firs aid box dari dashboard mobilnya. Ia mengambil analgesik-antiinflamasi gel dan band aid untuk mengobati kaki Luhan. Kemudian, Sehun membuka pintu mobil di samping kanan, "Luhan, putar posisi dudukmu, menghadaplah kemari." Perintah Sehun. Luhan mengangguk dan memutar posisi duduknya menjadi menghadap Sehun. Sehun tersenyum lalu berjongkok di hadapan Luhan, dengan telaten ia membuka sepatu dan kaos kaki Luhan.
"Kaki mu kecil sekali, seperti yeoja." Komentar Sehun. Luhan hanya mendengus dan memilih tak menanggapi perkataan Sehun.
Sehun mengoleskan gel itu di bagian pergelangan kaki kanan Luhan yang terkilir dengan perlahan, namun, tetap saja Luhan meringis kesakitan. "Sakit…" rengek Luhan, suaranya gemetar, ia hampir menangis.
"Sebentar lagi, Luhan." Ujar Sehun, kemudian ia membalut kaki Luhan dengan balutan kompresi elastis agar mencegah peradangan. Setelah beres, Sehun kembali memakaikan kaos kaki Luhan dan sepatunya dengan telaten.
"Kaos kaki hello kitty berwarna pink-putih, apa itu yang kau sebut manly Luhan?" tanya Sehun setelah selesai. Luhan mencibir, "Itu pemberian Kyungsoo, jadi aku memakainya."
"Kyungsoo? Siapa dia?" tanya Sehun penuh selidik.
"Sahabatku yang tergila-gila pada K. Kim." Jawab Luhan penuh penekanan, Sehun tertawa dan tiba-tiba ia teringat akan sahabatnya, Kim Kai.
"Oh. Ini sudah menjelang sore, kau mau pulang?" tanya Sehun. Luhan menggelengkan kepalanya, "Tidak mau, masih banyak yang harus kulakukan."
"Memangnya kau mau kemana lagi?"
"Khan Traditional Market."
Sehun mengangguk, "Dimana tempatnya?"
"Dekat stasiun Metro terdekat dari India Gate, pasar U-Shaped yang berkelas." Jelas Luhan, Sehun mengangguk. Perlahan, ia mencondongkan tubuhnya ke arah Luhan, jaraknya antara wajah Luhan dengannya sudah sangat dekat. Luhan mengerjapkan mata nya bingung, jangan bilang dia ingin menciumku lagi! Oh Tidak!
Sehun tersenyum geli melihat ekspresi Luhan, "Kenapa menatapku seperti itu? Tenang saja, aku tidak akan menciummu." Ujarnya kemudian memasangkan seatbelt untuk Luhan.
Luhan menghela nafasnya dengan lega, tapi dalam hati ia juga merutuki dirinya sendiri. Duh, kenapa aku jadi ge-er begini sih?
.
.
.
Khan Traditional Market merupakan salah satu pasar tradisional yang berkelas di India, berbeda dengan pasar tradisonal biasa, di sini toko-toko dari brand ternama berjajar rapi, café bernuansa western maupun khas India pun banyak ditemukan. Di sore hari seperti ini, suasana nya sangat ramai. India tak akan pernah jauh-jauh dari kata macet, kapanpun itu pastilah terjadi kemacetan, bahkan sampai tengah malam pun jalan raya di India akan tetap padat.
Suara klakson bersahut-sahutan, berlomba siapa yang paling keras. Sehun mendecak kesal, ia ingin sekali menutup telinga nya rapat-rapat. Sama hal nya dengan Luhan ia agak culture shock dengan kondisi jalanan India yang sangat ramai ini. Membunyikan klakson di India merupakan sebuah budaya untuk saling menyapa, bahkan becak sekalipun menggunakan klakson. Hal itu membuat telinga Sehun dan Luhan meronta minta ditutup rapat-rapat.
Luhan mencari ide, ia meraih ransel nya dan mengambil earphone dan ponsel nya. "Nah, ini pasti akan sedikit mengurangi stress."
Luhan memasangkan sebelah earphone di telinganya sendiri dan memasangkan satu nya lagi di telinga Sehun. Sehun tersenyum, "Ide mu bagus juga. Oh, kau mau mengunjungi toko yang mana?"
Luhan berpikir sejenak, "Sebenarnya aku ingin ke Café yang bergaya western dan yang cukup sepi. Aku perlu konsentrasi."
.
.
.
Sehun dan Luhan kini berada di Classico Café, sebuah café bergaya Inggris kuno yang terletak di ujung pasar. Mereka duduk di sudut café, dekat jendela yang menampakkan keramaian di luar sana. Meskipun di luar sana ramai, café ini cukup sepi. Cocok untuk melepas penat dan berkonsentrasi pada pekerjaan.
Luhan mengeluarkan laptop nya dan buku note nya, ia mulai mencari informasi tentang perusahaan gelap itu.
Sehun menikmati milk tea nya sembari memandangi Luhan, ia penasaran apa yang sebenarnya sedang Luhan lakukan. "Kau sedang mengerjakan apa?" tanya Sehun. Luhan menggelengkan kepalanya, "Ini pekerjaanku."
Luhan tak ambil pusing lagi dengan pertanyaan Sehun, ia melakukan sistem eliminasi terhadap semua data yang telah ia peroleh. Tangan Luhan dengan terampil menuliskan beberapa nama perusahaan di buku note nya. "1 dari 10 perusahaan ini adalah si gelap. Hmm, eliminasi apa lagi? Hanya 10 ini yang mencurigakan." Gumam Luhan. Ia mengetukkan ujung pulpen ke dagu nya, mencoba berpikir lebih keras lagi.
Setelah mendapatkan informasi tentang daftar perusahaan India yang bergerak di bidang perhotelan dan tekstil, Luhan mengeliminasi nama perusahaan yang menurutnya tidak mencurigakan dan ada 10 nama perusahaan yang menjadi target Luhan.
Sehun melirik buku note Luhan dan dahi nya berkerut ketika melihat sebuah nama perusahaan, "Sharham Company? Apa yang akan kau lakukan dengan itu?" tanya Sehun, terdengar nada ketidaksukaan dalam suara nya. Luhan menatap Sehun dengan antusias, "Kau tau Sharham Company? Ada apa dengan Sharham Company?"
"Aku tidak mengerti kenapa kau membuat list sepuluh perusahaan terburuk di mata Davidson Group. Darimana kau mendapatkannya?" tanya Sehun penasaran.
"Aku melakukan sistem eliminasi pada semua perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan dan tekstil. 10 perusahaan inilah yang akan jadi target ku." Jelas Luhan. Sehun mengangguk, "Well, 10 perusahaan yang kau tulis itu adalah 10 perusahaan terburuk di mata Davidson Group. Kau berniat menulis apa tentang 10 perusahaan terburuk itu?"
Luhan menggelengkan kepalanya, "Aku tidak menulis apapun untuk saat ini, tapi, aku akan mengungkap sesuatu. Cepat jelaskan tentang Sharham Company atau apapun yang kau tau tentang 10 perusahaan ini." pinta Luhan.
Sehun menghela nafasnya sejenak, "Aku tidak tau banyak. Tapi, Sharham Company jelas-jelas masuk daftar blacklist dari Davidson Group. Aku tidak tau kenapa, tapi, kudengar Sharham Company memboikot segala pergerakan Davidson Group."
Luhan mendesah penuh kekecewaan, "Ck! Hanya itu? Hanya itu? Yakin tak ada lagi?" tanya Luhan agak memaksa.
"Kau bisa tanya Kris jika ingin tau banyak tentang 10 perusahaan menjijikan itu." ujar Sehun. Luhan tersenyum lebar, "Benarkah? Aku bisa bertemu dan berbincang dengan Kris? Apa dia tidak sibuk?" tanya Luhan antusias.
Sehun tak menyangka reaksi Luhan akan seantusias itu, mirip anak kecil yang akan diajak jalan-jalan ke taman hiburan.
"Aku tidak tau. Tapi, akan kuberitahu jika Kris sedang tidak sibuk."
Luhan tersenyum senang, mata nya menyipit dan wajah nya terlihat bahagia sekali, "Yeay! Yeay!" teriak Luhan senang. Beberapa pengunjung menatap Luhan dengan senyum maklum di bibir mereka. Luhan terlihat seperti anak kecil, jadi mereka memakluminya.
"Uhm..Sehun, te-terimakasih atas yang kau lakukan hari ini." Ujar Luhan pelan, nyaris tak terdengar.
Sehun menyeringai, "Oh, ya? Sama-sama. Tapi, Luhan, kau tau kan kalau di dunia ini tak ada yang gratis. Jadi, aku minta bayaranku." Ucapan Sehun tentu saja membuat Luhan membulatkan matanya ke ukuran maksimal. Bayaran? Gila! Bayaran apa sih maksudnya?
"Mwo? Yang benar saja? Kau sudah punya banyak uang, berapa yang kau mau dariku?" tanya Luhan, ia hendak mengeluarkan dompet nya. Namun Sehun menahannya.
Sehun menggelengkan kepalanya, "Aku tidak butuh uang. Aku butuh kau."
Deg.
Luhan mematung, apa-apaan ini? butuh aku? Untuk apa? Jangan-jangan! Oh tidak! Tidak mungkin.
"Jika kau meminta diriku untuk kau tiduri, maaf saja, lebih baik aku mati." Ucap Luhan serius. Sehun tertawa, "Pikiranmu mesum sekali, Luhan. Aku tidak akan meminta yang aneh-aneh."
"Lalu, apa yang kau minta?"
"3 permintaan yang harus kau turuti." Sehun mengambil sebuah napkin dan sebuah spidol yang ia peroleh dari pelayan café. Kemudian, ia menuliskan tiga permintaan itu:
1. 1. Biarkan Sehun Alexander berada di sisi Luhan.
2. 2. Luhan harus tinggal di Davidson Delhi Mansion
3. 3. (Kusimpan yang terakhir untuk nanti)
Luhan mendecak kesal ketika membaca tiga permintaan yang telah ditandatangani oleh Sehun, "Yaa! Sehun, jangan bercanda. SNBC sudah menyediakan rumah sewa untukku dan lagipula, aku betah tinggal di sana, ada Safiera yang baik hati."
Sehun menatap Luhan tajam, "Tandatangan saja. aku tidak terima penolakaan." Perintah Sehun. Luhan mendesah kesal dan mau tak mau, ia menandatangani nya.
Luhan menyerahkan napkin itu pada Sehun dengan kasar, "Kau seperti orang tidak punya kerjaan saja."
Sehun mengangguk dan menyimpan napkin itu di saku celana nya, "Terserah kau saja. Lanjutkan pekerjaanmu."
Luhan mendengus kesal, mood nya mendadak hilang tak berbekas. Di pikirannya bekecamuk berbagai pertanyaan dan umpatan kekesalan untuk Sehun. Luhan menguap, otaknya tak bisa bekerja dengan baik lagi.
"Ah, Sehun, biarkan aku tidur sebentar. Aku mengantuk." Ujar Luhan sebelum akhirnya menyandar pada lengan sofa beludru yang ia duduki dan tidur dengan lelap.
Sehun terdiam, mengamati wajah Luhan yang tertimpa sinar keemasan matahari senja. Rambut cokelat madu nya yang terlihat lembut, hidung mancung nya, bibir merah merekah yang manis dan mata yang terpejam tenang, semuanya membuat Sehun tak bergeming. Terlalu fokus memandangi wajah tenang Luhan saat tertidur.
Tangan Sehun terulur, ia mengusap surai lembut Luhan dengan pelan, "Hei, Luhan. Kapan kita pernah bertemu? Kenapa aku selalu ingin kau berada di sekitarku? Seharusnya, jika kita pernah bertemu, aku bisa mengingatmu atau kau yang mengingatku. Aku jadi banyak tersenyum saat melihat tingkahmu, saat melihat wajahmu dan saat mendengar suaramu. Kau tau? Ini seperti bukan diriku sendiri, aku telah banyak berubah sejak melihatmu. Dan sejauh mana lagi kau akan merubahku, Luhan?"
Dan senja itu, Sehun tak melepas pandangannya dari wajah angelic Luhan yang begitu menenangkan. Bahkan, hingga matahari telah kembali ke peraduannya, tak ada rasa bosan bagi Sehun saat mengamati wajah Luhan.
Sehun berpikir, seharusnya saat ini ia tak tersenyum melainkan bersedih, menangis, mengurung diri di kamar dan memikirkan Baekhyun.
Baekhyun yang telah memberinya harapan kosong tanpa kepastian.
Baekhyun yang menyembunyikan hubungannya dengan Chanyeol.
Baekhyun yang selalu menomor satukannya dan telah pergi jauh ke benua lain.
Tapi…
Kemana pergi nya semua kesedihan itu?
Kenapa yang ada di pikirannya bukan Baekhyun?
Sehun lagi-lagi mengulas senyum tipis, "Apa itu karena kehadiranmu, Luhan?" gumamnya. Tangan Sehun meraih buku note dan pulpen milik Luhan, ia langsung membuka halaman terakhir yang masih kosong.
Sehun memegang pulpen itu dan dengan seulas senyum di wajahnya, ia menuliskan kata-kata yang bahkan sama sekali tak pernah ia pikirkan sebelumnya.
One afternoon, I was thinking.
Who are you?
Have we ever met before?
Why I really like your presence?
Why I always wants your presence?
Today, I supposed fall into a sadness, but, where is the sadness?
Is that because of you?
Instead fall in to sadness, I smiled.
Because of you, I laughed.
Because of you, I changed.
'cause your presence is a gift for me.
(One afternoon in New Delhi -S. ^^)
.
.
.
Luhan mengerjapkan mata nya, merasa terusik dengan suasana yang berbeda. Dan yah, semuanya memang berbeda. Luhan tidak lagi duduk di sofa beludru di sudut café, melainkan di jok mobil.
Luhan menoleh ke samping, ia mendapati Sehun yang dengan tenang mengemudikan mobilnya.
Sehun yang menyadari Luhan telah bangun menoleh sekilas, "Kau sudah bangun?"
Luhan hanya mengangguk, masih agak linglung karena nyawanya belum terkumpul. Luhan teringat, dimana ransel nya?
Seolah bisa membaca kebingungan Luhan, Sehun tersenyum, "Ranselmu di belakang, tenang saja."
Luhan mengangguk dan tersenyum kikuk, "Eh..itu..apa kau menggendongku?" tanya Luhan. Sehun tertawa, "Tidak. Aku menyeretmu, karena kau gendut."
Sialan!, rutuk Luhan.
"Heh, segendut itukah aku? Baiklah, maaf memberatkanmu. Tapi, sekali-sekali ingatkan aku untuk diet." Ujar Luhan dengan nada malas.
Sehun melirik ke arah Luhan, "Kau sensitif sekali dengan bentuk badan. Apa kau seorang yeoja, Luhan? Biasanya seorang yeoja selalu seperti itu." ujarnya diiringi sebuah seringai jahil.
Luhan mendecak kesal, baru bangun tidur ia sudah dihadapkan dengan sikap menyebalkan Sehun, "Aku namja tulen, sialan! Aku ssang namja! Aku manly man! Ingat itu." teriak Luhan keras-keras agar Sehun benar-benar mengingatnya.
Sehun tertawa kecil, "Oh ya? Aku agak meragukan itu sebenarnya."
Luhan mendengus, "Huh, kenapa sih kau bodoh sekali? Coba lihat baik-baik, aku memiliki yang dimiliki namja. Bentuk tubuh yang manly, dan wajah tampan."
Dan untuk yang kesekian kali di hari ini, Sehun tersenyum, "Ya, kelihatannya begitu. Tapi, kau juga memiliki apa yang tidak dimiliki namja."
Deg.
Luhan membeku beberapa saat, memiliki apa yang tidak dimiliki namja. Ucapan Sehun terngiang beberapa saat, beresonasi di pikiran Luhan dan membuatnya gugup.
Kumohon, jangan sampai dia tau sesuatu yang spesial tentangku. Cukup aku, Tuhan, Kyungsoo dan Paman Zhoumi yang mengetahuinya.
"Maksudku, kecantikanmu. Bukan hal yang seperti itu, Luhan." Sambung Sehun ketika menyadari wajah kaget Luhan.
Luhan tersenyum sinis sekaligus lega, "Kecantikan? Yang ada ketampanan!"
"Orang yang melihatmu pasti akan bilang kau itu cantik, Luhan. Atau yang lebih halusnya, kau lucu."
Luhan benar-benar dibuat emosi oleh Sehun, "Hei, diamlah! Aku namja dan aku memiliki penis!" teriak Luhan, tak memikirkan kata-katanya yang vulgar.
Sehun menyeringai, "Dan aku juga masih meragukan yang satu itu. sama sekali tak tercetak di bagian selangkanganmu."
Luhan mendecih kesal, dan dengan sengaja, mata nya melirik ke selangkangannya sendiri dan kemudian melirik ke selangkangan Sehun.
ToT, sad life of Luhan! Kenapa punya dia meski sedang off tercetak jelas begitu? Sebesar itukah? Dan ToT, kenapa punyaku tidak seperti dia? Arrrgghh sialan! sialan!
"Jangan membandingkan hal seperti ini, aku benci mengatakannya, tapi, mungkin saja, karena kau memiliki darah kaukasoid, kau bisa punya ukuran sebesar itu. Jangan bandingkan dengan aku yang asia tulen, oke? Meskipun begitu, aku tetap punya yang sepertimu. Jadi, berhenti membicarakan tentang itu, aku tidak suka." Jelas Luhan panjang lebar, mencoba membela dirinya sendiri sebisa mungkin.
Sehun hanya tersenyum kecil, "Mungkin kau benar. Tapi, aku suka."
Luhan mengerinyitkan keningnya, "Suka? Suka apa?"
"Aku lebih suka yang kecil karena itu imut."
Jderrr…Luhan pening seketika bagai tersambar petir, bukan karena kenyataan mereka punya orientasi seksual yang sama yang mengagetkan Luhan, tapi Sehun mengucapkannya sambil melirik ke arah selangkangan Luhan.
Itulah yang membuat lelaki manis ini shock dan merasa tersindir.
"Jangan menatap ke arahku saat mengatakan yang kecil! berkonsentrasilah menyetir!" kemudian, Luhan membuang muka nya dan lebih memilih menatap ke luar jendela, memandangi gemerlap malam di sepanjang jalanan Delhi yang masih padat.
Sehun tertawa dalam hatinya, hahaha jadi kau ngambek, Luhan? Lucu sekali.
.
.
.
Luhan benar-benar tak menyangka akan menginjakkan kakinya lagi di mansion mewah ini, tentu, ini bukan keinginannya, melainkan satu dari 3 permintaan Sehun.
Sehun menarik tangan Luhan dan membawanya ke kamar yang dulu Baekhyun tempati, "Kau tidur di sini. Jangan keluar kamar. Tak ada penolakan."
Luhan ingin melawan, tapi, Sehun sudah lebih dahulu pergi ke luar kamar. "Kamar sebagus dan semewah ini untukku? Ck! Berlebihan sekali."
Luhan akhirnya berbaring di atas kasur empuk itu sembari mengamati isi kamar bernuansa classic-victorian ini. Luhan menghirup aroma di sekitarnya, masih tertinggal aroma jeruk khas Baekhyun di bantal yang ia gunakan.
Mata Luhan tertuju pada beberapa bingkai foto yang terpajang rapi di atas nakas dan beberapa foto yang ditempel di tembok. Semua foto itu adalah foto Sehun dan Baekhyu saat menghabiskan waktu mereka bersama, berlibur, bermain, belajar dan lain-lain.
"Wah, mereka sangat dekat. Kenapa tidak menikah saja sekalian?" gumam Luhan.
Luhan dikagetkan dengan suara pintu yang diketuk dengan brutal. Siapa sih? Tidak sabaran sekali.
Dengan langkah gontai, Luhan berjalan ke arah pintu dan membukanya. "Kris?" pekik Luhan agak terkejut dengan kehadiran pria berdarah China-Kanada itu.
Kris tersenyum, "Hai, Luhan. Boleh aku masuk?"
Luhan mengangguk. Kemudian, keduanya duduk di sofa beludru berwarna krem yang tak jauh dari tempat tidur.
"Ini sebuah keajaiban, Lu." Kris tersenyum lebar sembari menatap Luhan, "Dan kau sumber keajaiban itu."
Luhan hanya membuka mulutnya lebar-lebar, tak mengerti dengan apa yang Kris ucapkan. Sumber keajaiban? Memangnya aku apaan?
"Kris, aku tak mengerti."
Kris menatap Luhan dengan serius, mata nya tajam, memaksa Luhan untuk berkata jujur, "Luhan, kau tidak bisa lagi menyembunyikannya. Aku minta maaf karena aku lancang mengetahuinya, tapi, aku sangat senang karena itu adalah kau."
Luhan menggelengkan kepalanya, ia semakin tak mengerti, apa sih maksud Kris? kata-katanya tidak efektif sekali. Ck!
"Aku…menyembunyikan apa memangnya?"
TBC or END?-
By the way, hahaha pada pengen NC-an ya HunHan nya? wkwkw banyak bgt yg ngira Sehun mau 'itu' in Lulu/
makasih ya yang udah review di chapter kemarin..Iren hargai bgt :) muacchh love ya chingudeul yg udah review hehehe!
WAJIB REVIEW YA! Soalnya itu motivasi Iren buat lanjutin. Review dibawah 20 mikir dulu1000 kali buat lanjut atau gak. Yang baca mau tau gak berapa banyak? wohooo banyak banget seneng juga sih, tapi ya, lebih seneng kalau kasih review.
(maaf kalauu typo bertebaran dan jelekk, maklum lah Iren masih amatir)
[ADA YANG BISA NEBAK GA MAKSUD NYA KRIS ITU APA?P TERUS...LUHAN MENYEMBUNYIKAN APA?]
SEE YOU NEXT TIME!
