Ini kumpulan flash fic oke, jadi jangan ada yang salah paham trus sambung-sambungin ceritanya hoho :v
btw maaf kalau kurang panjang karena emang niatnya biar pendek jadi ringan gitu hehe.
Dan buat yang bilang gantung, maaf banget ya… aku emang suka nonton film barat yang endingnya ngegantung biar kalian ngebayangin sendiri (alesan doang sih yang ini) :p lain sisi juga karena aku males ngetik panjang-panjang XD
Makasih buat yang mau ngereview dengan ikhlas engga (?), yang mau baca juga makasih, yang mau ngefollow dan ngefav juga makasih. Aduh pokoknya makasih buat yang hargain ini cerita padahal aku kira ga akan ada yang tertarik. Hoho
maaf ga bisa bales review kalian, tapi aku baca semuanya kok. Makasih banyak yaa
Yaudah, selamat menikmati flash fic ketiga aku :v
btw, ini soal kencan KaiHun. Boleh dianggap nyambung sama yang sebelumnya, boleh juga engga haha
Sehun sudah berdandan rapi sejak setengah enam tadi, tangannya dengan gugup meremas pahanya sendiri; giginya sendiri menggigiti bibir bawahnya hingga merah. Sehun gugup sekali. Apa bajunya sudah bagus? Apa dirinya sudah terlihat manis? Apa sapuan make up di wajahnya kurang atau malah terlalu tebal? Apa dirinya terlihat baik atau malah mengerikan karena terlalu bersemengat? Sehun terus memberi pertanyaan beruntut pada dirinya sendiri.
Sehun terus melirik ke jam tangan berwarna putih di tangannya sambil bergantian melirik sekeliling rumahnya, menunggu motor berwarna merah keren milik seniornya lewat.
Begitu dirinya mendapati suara motor, dengan gugup Sehun meremas ujung pegangan kursi. Rasanya ini jauh lebih menegangkan dibandingkan ketika pengawas ujian masuk sekolah menengah atasnya dulu masuk ke ruangannya, lebih menegangkan dibandingkan ketika ujian akhir sekolah dimulai begitu pembacaan peraturan selesai, lebih menegangkan dibandingkan ketika dia dihukum karena lupa membawa perlengkapan untuk masa orientasinya. Duh, intinya ini sangat menegangkan bagi Sehun dan tidak sebanding jika dijejerkan dengan hal menegangkan yang pernah terjadi di hidup Sehun.
Tin… tin….
Suara klakson.
Aduh.
Sehun gugup.
Sehun harus apa nih.
"Sehun?"
Sadarkan Sehun.
Tolong.
"Oh… Kau menolakku ya? Ya sud—"
"Tidak!" Sehun memekik nyaring. Seniornya hanya nyengir aneh.
"Jadi, bagaimana?" Seniornya itu menatap Sehun meminta jawaban.
Sehun langsung melangkah dan mengambil helm yang ada di tangan seniornya itu, lalu naik ke motor keren milik seniornya, "Ayo!"
Duh… orang jatuh cinta. Aneh deh tingkahnya.
"Maaf ya cuma membawamu ke taman."
"Bukan masalah," Sehun tersenyum, memamerkan eyes smiles cantiknya. "Aku senang kok, kan ada Jongin-hyung." Pipi Sehun memerah mendadak.
Jongin terkekeh, "Bagus deh. Mau bubble tea?"
"Mau banget!"
Sehun itu lucu, Sehun juga tidak terduga, Sehun juga terkadang freak, tapi Sehun itu mengambil hati Jongin. Jongin memang tertarik pada adik kelasnya ini sejak dengan anehnya adik kelasnya ini memekik tertahan saat melihat orang-orang di toilet sekolah sedang buang air, seperti seorang perempuan yang salah masuk toilet. Jongin menertawakan tingkah absurd Sehun saat itu, tapi setelah itu dengan baik hati Jongin menarik Sehun masuk ke toilet—karena Jongin yakin Sehun ingin buang air, terlihat dari Sehun yang memegangi bagian tempatnya menyalurkan hasrat untuk buang air.
Seperti saat ini, Sehun itu lucu. Lihat saja bagaimana ia menyedot bubble tea rasa coklatnya. Sehun terus saja mengoceh, lalu ketika lelah ia akan meminum bubble teanya. Bukan itu yang lucu, tapi saat Sehun beberapa kali meleset memasukkan sedotan ke mulutnya. Jongin tertawa geli karena hal itu.
"Jongin-hyung behentilah tertawa! Itu tidak lucu!" Pouting.
"Kau lucu dalam segala hal, Sehun-ah."
"Tidak!" Lagi-lagi Sehun salah memasukkan sedotannya.
Jongin tertawa terbahak karena Sehunnya. Sehun benar-benar anak yang apa adanya, tidak jaim sekalipun itu kencan pertama. Sehun suka hal itu.
"Jongin-hyung itu idiot." Ujar Sehun tiba-tiba. "Tapi Sehun juga idiot."
"Kenapa?" Jongin menanggapi dengan senyuman memesonanya.
"Karena Jongin-hyung terlihat tidak mengerti kodeku atau malah suka berganti-ganti sikapnya, tapi aku juga idiot karena menyukai Jongin-hyung. kita ini pasangan idiot, ya?"
Jongin terkekeh sambil mengacak rambut coklat madu Sehun, "Sudah tidak idiot karena aku sudah membuktikan bahwa aku mencintaimu dan kau juga mencintai orang yang jelas."
Pipi Sehun memerah. Tolong siapapun tahan tubuh Sehun agar tidak terbang ke nirwana.
"Pipimu memerah."
"Tidak! Memangnya aku gadis apa?!" Sehun mengelak dengan lucu.
"Mengelak saja terus."
Cup!
Jongin yang gemas karena tingkah Sehun dengan beraninya mengecup pipi Sehun, menimbulkan reaksi mata yang melebar dan mulut menganga pada Sehun. Jongin terkekeh lagi untuk kelucuan Sehun yang kesekian kalinya.
"Jongin-hyung!" Sehun menyerang Jongin dengan pukulan bertubi begitu menyadari apa yang Jongin lakukan padanya. "Pipiku sudah tidak perjaka nih!"
"Apa? Perjaka? HAHAHAHAHA"
Jongin dan Sehun sekarang berakhir di pinggiran taman yang dekat dengan sungai kecil. Sehun ngambek karena Jongin menertawakannya dengan keras tadi, sementara Jongin terus membujuk adik kelasnya yang ternyata makin menggemaskan jika merajuk.
"Ayolah maafkan aku…," Jongin memeluk tubuh Sehun yang sedang berjongkok dari belakang.
Jujur saja, Sehun sangat ingin membalas pelukan kakak kelasnya itu jika ia tidak ingat bahwa dirinya sedang menunjukkan aksi ngambek karena ditertawakan dengan keras. Sehun sih sebenarnya hanya ingin melihat bagaimana reaksi Jongin jika dirinya merajuk, ternyata reaksinya begitu lucu. Sehun jadi ingin ngambek lebih lama, apalagi Jongin terus memeluk Sehun dengan mesra. Aduuuh so sweet deh!
"Iya…."
"Eh? Kau memaafkanku?"
Sehun mengangguk, lalu membalik badannya dan memeluk tubuh Jongin. "Aku tidak benar-benar marah, hyung. Jangan khawatir."
"Yaaah, jadi daritadi hanya pura-pura?"
"Bukan begitu. Aduuuh, maksudnya aku kesal tapi bukan marah."
Jongin tersenyum, "Baiklah. Kita jalan-jalan, yuk?"
Sehun mengangguk sumringah, "Ayo!"
"Mau ice cream?" Jongin menunjuk sebuah stand ice cream dengan ice cream beragam jenis tertutup kaca bening.
Sehun suka ice cream, tentu saja Sehun mengangguk dengan semangat. "Vanilla Chocochip ya?"
"Tentu. Ayo kita beli."
Sehun memakan ice cream-nya dengan lahap, beberapa ice cream warna putih itu menempel di sekitar bibirnya, sementara Jongin yang memang cool itu memakan ice cream cokelatnya dengan tenang. Saat Jongin melirik kekasihnya itu, Jongin terkekeh. Benar-benar seperti anak kecil.
Jongin menghabiskan dengan cepat ice cream-nya. Sehun yang memperhatikan Jongin itu malah merasa Jongin menantang dan mengejeknya yang tidak memakan ice cream dengan cepat, jadilah Sehun memakan ice cream dengan cepat walaupun tidak secepat Jongin. Sehun memang memakannya dengan cepat, tapi ice cream yang belepotan malah makin banyak. Jongin terkekeh lagi karena itu.
"Kau itu… makan pelan-pelan," Jongin dengan lembut mengusapkan tissue pada ice cream yang belepotan di sekitar bibir Sehun. Sehun lagi-lagi tersipu malu.
"Aku kira tadi Hyung menantangku, jadi aku makan dengan cepat. hehe"
Duh, lugu sekali sih. Jongin membatin dengan gemas. "Tidak kok, aku hanya ingin cepat membersihkan bekas ice cream di wajahmu."
Pipi Sehun makin merona, "O–oh…."
Jongin menyodorkan sebotol air mineral, "Minum deh, kau pasti haus setelah makan ice cream."
"Ne…," Sehun menerima botol itu malu-malu. Sehun menegak air mineral itu agak banyak, pasti Sehun sangat haus.
"Oh! Ini untuk Hyung juga," Sehun menyodorkan botol yang dipegangnya, memaksa Jongin menggenggam botol yang isinya tinggal setengah itu.
Jongin mengalah, "Baiklah. Terima kasih Sehun-ah."
Kencan mereka berdua berakhir dengan Jongin yang membeli gelang couple untuk mereka berdua. Sehun dengan warna putih ditambah tulisan hangul dari JongHun dan Jongin menggunakan warna hitam dengan tulisan hangul yang sama. Alay sih, tapi mau ditulis apa lagi? Nama pasangannya kan jauh lebih alay… haha.
Sehun di antar pulang hingga rumahnya. Begitu sampai di rumahnya, jam menunjukkan pukul sembilan malam. Jongin tahu karena Ayah Sehun sedang berdiri di depan gerbang saat mengantar Sehun pulang dan mengatakan mereka pulang pukul sembilan malam. Jongin kira ayah kekasihnya itu galak dan akan memarahinya karena membawa pergi anaknya hingga pukul sembilan, ternyata Jongin malah diberi wanti-wanti. Aduh apa Sehun bercerita ya pada orang tuanya itu? Jongin jadi malu sendiri.
"Kau yang bernama Jongin kan? Jadi begini… tolong jaga Sehun dengan baik. Sehun itu manja dan suka merengek, dia juga suka merajuk tidak jelas, jangan marah karena hal itu. Itu hal wajar untuk anak terakhir dan memilikki kakak yang lebih tua tujuh tahun darinya. Jangan memarahinya, dia akan menangis karena itu. Dia mungkin akan sangat merepotkan dengan hal-hal yang dia inginkan, tapi dia itu lucu jika sudah dituruti keinginannya. Kau bisa menolak keinginannya tapi jangan sering sering karena dia akan meneriakimu pelit, sudah, intinya aku percayakan Sehun padamu, nak. Jaga dia baik-baik ya."
end.
Tadaaaaa! Jadi dehhh
1172 words nih, bisa dibilang panjang untuk ukuran flash fic hahaha
Gimana? Apa yang kurang?
Mind to review? haha
