Hala is back :3
nah, abis baca komentar. masih ada yang bingung ya ini secerita apa engga?
kan aku udah selalu taruh tulisan fin. di tiap akhir cerita, berarti final, kan?
ini juga kumpulan flash fic, bukan series atau malah chaptered, jadi jangan sambungin ff sebelumnya sama setelahnya, oke?
oh iya, flash fic kali ini ga menggebu-gebu kaya yang sebelumnyaa
aku bikin yang rada mellow tapi tetep ada manisnya
happy reading~!
Biasanya Jongin akan biasa saja melihat seseorang masuk ke dalam kereta yang juga ia naiki sekalipun ia mengenal orang itu, tapi kali ini rasanya lain, Jongin melihat seseorang yang dengan wajah manis dan penampilan sederhana yang sangat ia kenali. Jongin cukup terkejut melihat pemuda itu, begitu pula pemuda dengan kulit putih itu yang tidak sengaja mendapati diri Jongin tengah menatapnya saat ia mencari bangku kosong, kereta memang cukup ramai.
Entah kenapa pemuda itu melangkah pada Jongin, hal itu membuat Jongin merasa gugup. Pemuda itu duduk tepat di samping Jongin. Hanya duduk, tidak menyapa atau melakukan hal seperti menarik sedikit sudut bibirnya. Suasana terasa canggung bagi Jongin, pemuda di sampingnya rasanya seperti membangkitkan ingatan masa lalunya dengan cepat. Pikiran Jongin langsung terbawa ke masa-masa sekolahnya dulu.
"Ehm…, Sehun?" Suara pelan Jongin memecah keheningan di antara mereka, pemuda di samping Jongin tersenyum tipis.
"Ya Jongin?" Jawab pemuda bernama Sehun itu.
"Lama tidak berjumpa, apa kabar?"
"Yeah…," Sehun mengangguk kecil. "Aku baik, kau sendiri?"
"Aku baik, apa kau…," Jongin menggantungkan kalimatnya. Sehun yang berada di sampingnya dengan sabar menunggu Jongin melanjutkan kalimatnya namun Jongin tetap diam seakan tak berminat melanjutkan kalimatnya, matanya yang menerawang ke depan.
Sehun menghela napas pelan. "Kau tidak berubah banyak, aku langsung mengenalimu dalam sekali lihat tadi," Sehun berujar lirih.
"Kau juga tidak banyak berubah. Bahkan kau— ah lupakan," Jongin tersenyum. "Mau ke mana?"
"Busan, aku merindukan nenek. Kau sendiri?"
"Sama denganmu, aku ada tugas kerja di sana."
"Kau bekerja dengan baik."
Jongin terkekeh pelan, suasana kembali hening begitu Jongin berhenti terkekeh. Di antara Jongin dan Sehun tidak ada yang berniat berbicara, semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Memori masa lalu dari mereka berdua berputar dan menyembul ke atas, rasanya makin jelas.
.
Dulu Sehun adalah anak yang angkuh di sekolahnya, banyak yang mengejarnya, entah perempuan ataupun para seme dan uke yang tertarik pada dirinya, bahkan tidak sedikit yang menyatakan perasaannya terlebih dahulu pada Sehun, tetapi semua di tolak oleh Sehun. Faktanya, Sehun menyukai seseorang namun tidak ada yang tahu siapa yang disukai Sehun.
Sementara Jongin, dia adalah anak kesayangan guru dan juga atlet basket, dia pemain andalan basket sekolah. Banyak juga yang menyatakan cinta pada Jongin, tapi semua ditolak. Jongin dengan terang terangan memberi alasan bahwa dirinya menyukai Oh Sehun, pemuda angkuh yang selevel keterkenalannya dengan Jongin.
.
"Aku juga merindukan cinta pertamaku," Sehun menggumam cukup keras hingga sampai di telinga Jongin. "Juga seseorang yang mencuri first kiss-ku di kelulusan dulu." Lanjut Sehun sambil menoleh pada Jongin.
Jongin reflek menoleh, mata mereka bertubrukan, menimbulkan semburat merah yang sangat tipis pada pipi Sehun. Jongin reflek tersenyum manis melihat warna merah tipis di pipi putih Sehun. "Itu juga alasan kau kembali ke Korea?" Tanya Jongin percaya diri.
Sehun terkekeh kecil. "Begitulah."
"Aku juga merindukan seseorang yang belum menjawab pernyataan cintaku."
Sehun menatap mata Jongin, bibirnya menyunggingkan senyum tipis. "Aku tidak menyangka akan bertemu cinta pertamaku dan pencuri first kiss-ku di kereta menuju Busan."
"Hei, apa kau mau menjawab pernyataan cintaku?"
Sehun terdiam sebentar. "Kau masih mencintaiku? Sudah lima tahun berlalu…."
"Tentu saja," Jongin menjawab dengan yakin. "Untuk apa aku menunggu jawaban darimu kalau aku sudah tidak merasakan apa-apa?"
Sehun tertawa kecil. "Aku juga mencintaimu."
Jongin menerima banyak bunga di hari kelulusannya, ia menerima dengan senyum dan anggukan ramah sambil tidak lupa berterima kasih pada yang mau memberi bunga itu. Saat rasanya sudah tidak ada yang mau memberinya bunga lagi, Jongin memasukkan bunga-bunga itu kedalam tasnya. Jongin berjalan menuju atap, tempat yang pasti akan sepi menurut Jongin.
Begitu sampai di atap, ia mendapati seseorang yang bagi Jongin tidak asing, Jongin berdahem pelan. Seseorang di pinggir pagar yang mendengar daheman Jongin menoleh dengan ekspresi sedikit kaget.
"Eoh?" Sehun berujar dengan ekspresi angkuhnya. Jongin tersenyum kikuk karena Sehun hanya mengabaikannya seperti angin lalu.
"Sehun," Suara Jongin membuat Sehun yang sudah memalingkan wajahnya kembali menoleh. Jongin mengeluarkan bunga yang sudah ia persiapkan untuk Sehun, setangkai bunga mawar warna merah dengan plastik yang menutupi sekitar bunganya dan tali mengikat agar plastik itu membentuk seperti kerucut, tali itu ada kertas di ujungnya. "Selamat atas kelulusanmu." Ujar Jongin sambil mengelurkan bunga itu.
"Thanks," ujar Sehun tulus walau tetap dengan suara datarnya, Sehun tersenyum tipis dan Jongin melihatnya. Memang tipis, nyaris tidak terlihat dan cepat, Jongin cukup senang ia bisa melihat senyum sang pangeran es itu.
"Mau mengobrol?" Sehun menjawab dengan anggukan ajakan Jongin.
Mereka berdua mengobrol cukup panjang, Sehun nyaris tidak menunjukkan ekspresinya, ia hanya mengeluarkan beberapa ekspresi yang jarang terlihat. Bagi Jongin, Sehun cukup menyenangkan, Jongin menyesal tidak mengajak Sehun mengobrol sejak dulu.
Tiba-tiba suara ponsel terdengar dari saku Sehun, dengan cekatan Sehun mengangkatnya lalu berjalan menjauh dari Jongin. Jongin menerka-nerka apa yang Sehun obrolkan dengan orang di ponsel.
Begitu sambungan telepon terputus, Sehun langsung mengambil tasnya. "Aku pergi." Ujar Sehun cepat, lalu berjalan menuju pintu keluar.
"Sehun, tunggu!" Jongin dengan cepat melangkah lalu menahan tangan kurus Sehun. Jongin dengan cepat mengecup bibir Sehun, "Saranghae." Ucap Jongin. Dan sedetik berikutnya Sehun menghempaskan tangan Jongin lalu berlari turun.
Jongin bersumpah tadi ia melihat senyum malu Sehun dengan semburat merah muda di pipi putih Sehun. Jongin cukup senang akan itu.
Fin.
oke, 841 words. gimana? ada kesalahan kah? tolong ingetin kalau ada yang salah di fic yang aku tulis, aku betulin secepatnya.
Gimana? Cukup maniskan? hehe
jangan lupa, review seikhlasnya~
