838 words yang greget.
Finally Know
Happy Reading!
Ada tiga hal yang akan menandakan seseorang jatuh cinta.
Tanda yang pertama, ia akan menjadi lebih rapi dan—mungkin— berusaha terlihat semenarik mungkin. Jongin berpikir, apa dirinya seperti itu? Apa dirinya sekarang merubah penampilan? Rasanya tidak, dirinya melakukan semuanya seperti sebelum-sebelumnya, tidak ada yang berubah atau malah dibuat agar terlihat lebih menarik. Opsi pertama jelas bukan gejalanya.
Yang kedua, ia akan mengikuti cara berbicara orang yang ia cintai atau hal-hal yang lebih jauh lainnya. Begitu kah? Tidak, orang yang menurut Jongin menarik itu tidak banyak bicara, hanya seperlunya saja, dia juga begitu tenang, berbeda dengan Jongin yang suka berbicara dan nyaris hiperaktif. Opsi kedua juga salah.
Yang ketiga, orang yang jatuh cinta akan berusaha melakukan apapun untuk mendapatkan perhatiannya. Wah, Jongin cukup setuju dengan ini, bahkan kata temannya dirinya seperti seseorang yang tengah kena penyakit jiwa mendadak jika sudah bertemu dengan orang yang menarik bagi Jongin itu. Berarti Jongin jatuh cinta dong?
"Cinta pertama tidak akan berhasil, Jongin-ah," begitu pendapat Luhan saat Jongin bercerita bahwa dirinya sedang jatuh cinta, Jongin terus terpikirkan akan hal itu.
Jongin mengeluh akan betapa sulitnya mendapatkan seseorang yang menarik itu. Orang yang menarik bagi Jongin sangatlah pendiam dan tenang, Jongin takut dirinya bereaksi berlebihan membuat seseorang yang ia sukai itu ilfeel padanya.
Jongin sebenarnya bingung dengan dirinya sendiri, bagaimana bisa Kim Jongin yang begitu anti dengan hal-hal romantis seperti itu jatuh cinta? Sebuah perasaan konyol. Mungkin itu hanya perasaan tertarik saja? Tapi tidak ada yang benar-benar menarik pada diri orang itu kecuali dirinya saja, apa itu termasuk ke dalam 'hanya tertarik'?
Jongin yang tadinya tidak suka mengurusi urusan orang lain, tidak peduli dengan bagaimana orang lain, sekarang Jongin merasa benar-benar mirip penguntin. Mencari tahu apa yang disukai orang itu, teman dekatnya, genre buku yang ia suka baca— ah menjelaskan apa yang Jongin cari hanya akan memperjelas bahwa Jongin adalah menguntin, ini menyeramkan.
Jongin dan orang itu masuk pada tahun yang sama, angkatan ke-52 di sekolah menengah atas mereka. Jongin berada di kelas 1-5 sedangkan yang menarik perhatiannya berada di kelas 1-3, kelas yang siswanya berada di peringkat atasnya. Awalnya memang beberapa bulan pertama berjalan biasa saja, Jongin baik-baik saja dengan dunianya. Tapi begitu sampai di tengah semester, saat lomba pidato yang diadakan di depan kelasnya itu menarik perhatiannya—ralat, seseorang menarik perhatiannya. Siswa yang mewakili kelas 1-3 terlihat begitu manis dan sangat lugu, caranya memberikan pidato juga lugas. Jujur saja, itu pidato singkat dengan isi padat yang indah bagi Jongin, yang membaca juga indah.
Orang itu begitu rapi dalam penampilan, terlihat cerdas namun tetap saja terlihat chic dengan caranya yang menarik. Jongin terpesona dengan rambut coklat madu dan mata hazel milik orang itu saat sekali pandang. Jongin benar-benar terpesona bahkan saat dirinya belum tahu namanya.
"Sehun, itu Oh Sehun," bisik seseorang di samping Jongin. Jongin tersentak kaget mendengar bisikan itu.
"Apa?" Tanya Jongin bingung.
Orang yang tadi membisiki Jongin tersenyum sebelah. "Dia memang menarik kok, banyak yang menembaknya bahkan sejak awal tahun ajaran baru, tapi kabarnya dia tertarik pada orang lain. Yeah, sayang sekali, sebelum berjuang pun cinta pertamamu tidak berhasil."
"Diamlah, Lu." Dengus Jongin sebal.
.
Perasaan Jongin berlanjut hingga kenaikan kelas namun tetap tidak ada perkembangan berarti—bahkan nyaris tidak ada perkembangan sama sekali. Mereka hanya pernah bertemu beberapa kali di perpustakaan—karena Jongin dengan sengaja datang ke sana, (tidak) sengaja hampir bertabrakan akibat kaki panjang Jongin yang berlari, berbincang sedikit karena guru meminta tolong pada Jongin untuk mengantar barang ke kelas 1-3, dan hingga sekarang hanya interaksi kecil yang tak berarti, bahkan mereka belum saling berkenalan secara resmi.
Namun sepertinya sekarang Tuhan sedang ingin Jongin menjalankan, terbukti pada pengumuman kelas kemarin Jongin mendapat kelas 1-2. Bukan, bukan kelasnya yang berarti bagi Jongin, tapi karena Oh Sehun yang bagi Jongin menarik itu juga disebutkan sebagai siswa kelas 1-2. Jongin senang akan hal itu.
Dulu saat Luhan tidak sengaja menemukan catatan tentang hal-hal soal Sehun yang sudah Jongin catat, Luhan mengancam akan mendorong Jongin untuk menghadap kepada Sehun secara langsung lalu mengatakan pada Sehun "Dia tergila–gila padamu, bisa tidak kalau sesedikitnya katakan 'hai' padanya agar ia kembali normal?" saat kenaikan kelas kalau Jongin tidak juga melakukan pendekatan, tapi sepertinya mereka menjadi sekalas sudah cukup bagi Luhan. Setidaknya mereka akan jadi sering sapa-menyapa.
Hari pertama kelas berlangsung Jongin hampir gila karena Sehun duduk tepat di depannya jika saja wali kelas mereka tidak masuk dan lalu mengajak semua siswa untuk memperkenalkan diri dan memberi tahu dari kelas mana mereka berasal, dimulai dari siswa paling depan.
Begitu giliran Sehun, Jongin terus menyimaknya. "Namaku Oh Sehun, lahir di Busan, Dua belas April 1994—" Jongin tahu. "Aku suka membaca dan bubble tea—" Jongin terkekeh kecil mendengar ucapannya, tapi sudah tahu hal itu. "Aku dari kelas 1-3."
Sekarang giliran Jongin, Jongin berdiri untuk memperkenalkan dirinya. "Aku Kim Jongin lahir di Seoul, empat belas Januari 1994. Aku suka bermain game—haha, aku dari kelas 1-4."
Jongin duduk dengan tenang sebelum tiba-tiba ada tangan yang terulur padanya, itu tangan Sehun. "Salam kenal Jongin, aku Sehun."
Dengan jantung berdebar Jongin membalas uluran tangan itu. "Salam kenal juga Sehun."
fin.
Belum bener-bener selesai sebenernya, tapi karena ini isinya flash fiction jadi aku ga mau bikin jadi panjang
jadi kemungkinan bakal ada kelanjutannya (dan kalian pasti juga pingin ada lanjutannya haha)
Baiklah, review please?
