Chapter 3
[REMAKE] A Romantic Story About Naruto by Santhy Agatha
Genre : Romance, Hurt
Cast : Sasuke Uchiha, Naruto Uzumaki, Gaara Sabaku and others
[SASUNARU]
Rated : M
.
Disclaimer : JTK me-remake novel yang nurut JTK pribadi bagus dan lumayan menyentuh dari Santhy Agatha. Jadi JTK bukan penjiplak atau plagiat, JTK hanya me-remake dan merubah sedikit menyesuaikan alur. Udah ijin sama yang punya novel ini, asalkan nama pengarang aslinya dicantumin itu gapapa. Kalian bisa baca versi aslinya di wattpad. Jadi ini cerita bukan milik JTK, JTK hanya me-remake doang. Dan sekali lagi JTK enggak juga udah ijin soal sedikit perubahan di fanfic ini.
Dan ini JTK remake jadi versi Yaoinya.
.
DON'T LIKE DON'T READ
HAPPY READING^^
SEKALI LAGI INI YAOI, YAOI. COWOK SAMA COWOK. JADI JANGAN BASH ATAU FLAME KALO GAK SUKA CERITA/CHARANYA. GAK SUKA GAK USAH MAKSA BACA CUMAN DEMI FLAME.
Damai itu indah bro, seindah tonjolan selangkangannya Uchiha Sasuke. *digampar*
'...' mind
"..." talk
.
.
.
.
'Kenapa dia harus repot-repot menyuruhku menemuinya sendiri hanya untuk
mengambil payung? Dia kan bisa menyuruh office boy untuk mengembalikannya,
atau jika dia tak sempat, dia kan bisa menyuruh sekertarisnya untuk mengurus
payung itu,' Apalagi Naruto tahu bosnya itu sangat sibuk,
Gosip yang terdengar mengatakan adalah workaholic sejati yang
menghabiskan waktu 20 jam sehari untuk bekerja.
'Atau, kenapa tidak dia buang saja payung itu? Toh aku juga tak akan berani
menagihnya,' pikir Naruto sambil mengerutkan kening di dalam lift yang
mengarah ke lantai 14, lantai khusus CEO mereka. Ini kali kedua dia ke ruangan
ini, sungguh tak disangka, dua tahun bekerja disini dia hampir tak pernah
bertatapan langsung dengan sang pemimpin tertinggi yang diagung-agungkan
itu, tetapi sekarang, dua hari berturut-turut dia dipanggil menghadap .
Lift terbuka dan dia dihadapkan pada ruang tunggu yang nyaman dan mewah.
Sekertaris yang sama, laki-laki setengah baya yang terlihat kaku dan efisien itu
menatap Naruto dengan skeptis, sepertinya dia juga bertanya-tanya kenapa
pegawai rendahan macam ini sampai dua kali dipanggil menghadap langsung ke
sang CEO, padahal setahunya hanya berkomunikasi dengan anggota
direksi, manajer dan kepala bagian unit perusahaannya, itupun lewat meeting
resmi perusahaan dan melalui seleksi janji temu yang rumit.
"Mr. Sasuke sudah ada di dalam, beliau sudah menunggu anda, saya sudah
menginformasikan kedatangan anda lewat intercom dan beliau mempersilahkan
anda langsung masuk", gumam sekertaris itu dingin.
.
.
Sasuke baru saja menyelesaikan meeting penting dan dengan segera kembali
ke ruangannya. Mengingat alasan yang membuat dia begitu terburu-buru kembali, membuatnya mengerutkan dahi, dia sudah menelpon atasan Naruto tadi pagi, menjelaskan alasan keterlambatan laki-laki itu.
Dan atasan Naruto begitu kegirangan karena teleponnya, hingga seolah-olah tak peduli lagi kenapa Naruto sampai terlambat.
'Yah mungkin setidaknya laki-laki itu akan berterimakasih padaku,...atau malah
jengkel?' Sasuke tersenyum sinis, menilik sifat laki-laki itu, sepertinya Naruto akan tambah jengkel dengannya.
Setelah dengan serius mempelajari berkas-berkas yang diantarkan bagian personalia padanya, Sasuke termenung.
Laki-laki itu tidak bohong, kedua orang tuanya memang telah meninggal, dan
alamat tempat tinggalnya memang terdaftar sebagai rumah kost, bahkan laki-laki
itu tidak mengisi nama saudara atau kerabat dekat yang bisa dihubungi,
'Saya tinggal sendirian', begitu ucapnya tadi. Apakah laki-laki itu benar-benar
sebatang kara seperti ceritanya. Kalau dia tanpa keluarga dan hanya tinggal di
kamar kost, untuk apa dia meminjam uang sebesar 40 juta ke perusahaan yang
harus dilunasi dengan memotong gajinya selama bertahun-tahun?
'Apakah dia sakit?' Memikirkan kemungkinan itu, Dada Sasuke langsung merasa
nyeri,
'Tidak!' Putusnya setelah termenung sejenak, laki-laki itu sehat, kalau tidak dia pasti tidak akan lolos seleksi test kesehatan yang sangat ketat untuk masuk ke perusahaan ini.
'Kalau begitu, dia pasti laki-laki yang suka menghambur-hamburkan uang', Sasuke menyimpulkan. Yeah, segalanya akan menjadi lebih mudah. Sasuke rela memberikan uang sebanyak yang Naruto mau asal Naruto mau melayaninya.
Ia sangat kaya, dan memiliki laki-laki seperti Naruto yang benar-benar memacu
hasratnya memang layak diberi sedikit pengorbanan.
Lamunannya terhenti ketika intercom berbunyi memberitahukan kedatangan
Naruto.
Sasuke menunggu penuh antisipasi, seperti seekor singa yang menanti mangsanya, Dia punya penawaran bagus, dan jika laki-laki itu seperti yang diduganya, Naruto pasti tak akan mampu menolaknya.
.
.
"Kata Manager anda memanggil saya untuk mengambil payung saya yang
tadi tertinggal", gumam Naruto sopan ketika Sasuke mempersilahkannya duduk.
Sasuke tidak menjawab hingga Naruto menatap Sasuke bingung, lelaki itu sedang menatapnya dalam seolah sedang berkonsentrasi pada sesuatu tetapi pikirannya seolah tak ada di situ.
"Mr. Sasuke?", Lelaki itu mengerjap.
"Oh! Payung" gumamnya seolah baru teringat akan hal itu, "ada di meja
sekertarisku, kau bisa memintanya padanya",
'Lalu kenapa sang CEO ini, yang katanya sangat sibuk menyuruhku
menghadapnya?' Naruto mengerutkan kening, bingung dengan pernyataan bosnya.
Ketika Mr. Sasuke sepertinya tidak akan berkata apa-apa lagi, Naruto segera bangkit dari kursinya,
"Kalau begitu saya akan segera mengambilnya, terimakasih sudah merepotkan
anda, permisi Mr. Sasuke", gumamnya setengah berbalik,
"Tunggu Naruto", Suara lelaki itu terdengar lembut, dan dengan enggan Naruto membalikkan tubuh,
Lelaki itu ternyata sudah bangkit dari kursinya, memutari meja dan berdiri
berhadap-hadapan dengan Naruto,
"Aku meralat ucapanku tadi pagi",gumamnya misterius.
Naruto mengerutkan keningnya, "Tentang...?"
"Tentang kau bukan tipeku dan aku tidak mungkin tertarik padamu, sebenarnya
selama ini aku memperhatikanmu karena tak tahu kenapa, kau membuatku sangat bergairah",
Mulut Naruto ternganga dan dia tak mampu berkata-kata, pernyataan itu begitu
mengagetkan bagaikan petir di siang bolong. Terkejut? Tentu saja.
"Aku ingin kau menjadi kekasihku,...mmm...,bukan kekasih,...apa ya istilahnya di
sini? Kekasih simpanan? Atau pemanas ranjang?", Sasuke tampak sangat bersemangat dengan tawarannya sehingga tidak memperhatikan ekspresi shock Naruto,
"Kau hanya perlu melayaniku di ranjang, memuaskan aku", Suaranya menjadi
rendah dan merayu, "Dan kau tak perlu kuatir akan rugi, kau tahu aku kekasih
yang murah hati, aku akan membelikanmu apartemen mewah sehingga kau bisa
pindah dari tempat kost kecilmu itu, dengan begitu aku bisa leluasa mengunjungimu setiap malam, dan aku akan menanggung biaya kehidupanmu,
apapun yang kau inginkan akan kuberikan, mobil mewah, perhiasan mahal ,bajubaju rancangan disainer terkenal, perawatan di salon terkemuka, aku tahu kau
menyukainya Naruto karena gaya hidupmu sepertinya sangat mahal sampai-sampai
kau harus berhutang puluhan juta pada perusahaan. Bahkan mungkin kalau kau bisa menyenangkanku, hutangmu itu akan kulunasi. Bagaimana Naruto? Aku akan memenuhi semua permintaanmu dan kau hanya harus ada saat aku membutuhkanmu",
Ketika Mr. Sasuke akhirnya mengakhiri pidatonya, Naruto sudah begitu pucat
sampai tak bisa berkata-kata.
Tawaran itu memang amat sangat menggoda, apabila ditawarkan pada pelacur atau orang yang tidak punya harga diri! Tapi lelaki itu menawarkan kepadanya?! Kepadanya! Berani-Beraninya lelaki itu! Berani-beraninya dia merendahkannya sampai seperti ini!,
"Kenapa kau diam saja? Kau tak perlu sok malu-malu atau sok suci, aku tahu
seperti apa kamu dibalik sikapmu yang sok menjunjung moralitas..."
PLAAAKKK!
Tamparan itu begitu keras sampai kepala Sasuke terlempar ke belakang, suara
tamparan itu menggema di ruangan yang luas itu, begitu telak dan keras.
"Berani-beraninya anda!,", napas Naruto terengah-engah, "Berani-beraninya
anda menawarkan sesuatu yang begitu menjijikkan kepada saya! Anda pikir
saya orang macam apa? Anda benar-benar sesuai dengan apa yang saya
pikirkan, lelaki tak bermoral, bejat, menjijikkan dan...", suara Naruto terhenti
melihat ekspresi Sasuke.
"Menjijikkan katamu?", jika tadi Sasuke tak marah karena tamparan Naruto,
sekarang dia benar-benar marah,"jika menurutmu aku menjijikkan...",
Lelaki itu mengepalkan kedua tangannya sampai buku-buku jarinya memutih,
"Jika menurutmu aku menjijikkan..."
Entah bagaimana Naruto mengetahui kapan kendali diri lelaki itu lepas, dengan
panik dan takut Naruto setengah berlari menuju pintu,
Tapi terlambat, Sasuke bergerak secepat kilat menerjangnya, Naruto berhasil
membuka pintu sedikit ketika dengan kasar Sasuke mendorongnya kembali tertutup.
Lelaki itu menghimpitnya dipintu, desah napas mereka bersahutan, yang satu ketakutan, yang lain bergairah. Sangat bergairah,
"Le…. lepaskan saya!, atau saya akan berteriak dan menuntut anda atas pelecehan..." Naruto berkata dengan terbata. Ia bisa membaca ada nyala gairah yang kibar di bola mata kelam tersebut.
Sasuke tak peduli, lagipula ruangan itu kedap suara. Bibirnya memincing, menyeringai.
Dengan gerakan impulsif, dibaliknya tubuh Naruto, bibir Sasuke mencari-cari
bibir Naruto, tubuhnya makin menekan Naruto ke pintu.
Naruto menggelengkan kepala menghindar dengan membabi buta hingga bibir
Sasuke hanya menempel di rahangnya, dia mencoba meronta melepaskan diri
tapi tubuh Sasuke menghimpitnya ke pintu dan tangannya mencengkeram
kedua tangan Naruto di kiri dan kanan kepalanya.
Mereka bergulat beberapa saat, tetapi Sasuke tak mau menyerah dari
perlawanan Naruto. Sampai kemudian ketika Naruto membuka mulut untuk
berteriak, seperti mendapat kesempatan emas, Sasuke memagut bibir itu.
Ciuman itu dari awal sudah sangat sensual karena bibir mereka terbuka, Sasuke
melumat bibir Naruto seolah sudah tak ada lagi hari esok. Mulutnya sangat liar
dan lapar mengecap, melumat dan menikmati bibir Naruto yang selembut madu.
Naruto terpana merasakan ciuman yang sangat intim ini, yang baru pertama kali
dirasakannya. Dan hal itu memberi kesempatan Sasuke untuk mencium semakin
dalam, seluruh tubuhnya menempel ditubuh Naruto, makin mendorong Naruto
ke pintu, setelah menjelajahi dan mencicipi seluruh rasa bibir Naruto, lidah
Sasuke mulai mencecap dan mencoba-coba mulai membelai masuk ke dalam bibir Naruto.
Naruto mengerang mencoba menolak, dia tidak pernah berciuman seperti itu! Tapi Sasuke begitu lembut dan begitu lidahnya masuk ciumannya menjadi makin bergairah,lidahnya menjelajah masuk, menikmati seluruh rasa dan manisnya mulut Naruto, Sasuke mengerang dalam ciumannya, 'oh ya Tuhan nikmat sekali!' Erangnya dalam hati, dan gairahnya naik begitu cepat bagaikanroket. Laki-laki itu terasa begitu nikmat, begitu manis dan menggairahkan, sekujurtubuh Sasuke menginginkan laki-laki itu, sangat menginginkannya! Tangannyamerayap naik dan menyelinap di antara jari Naruto sehingga Jari-jari merekasaling bertautan, Sasuke mencengkeramnya erat-erat seolah itu pegangannyauntuk hidup. Sasuke menutup matanya, menikmati ciuman yang semakin menenggelamkannya dalam api gairah yang membakar.
Sejenak Naruto merasakan matanya gelap, semua ini begitu aneh dan mengejutkan, dan ciuman ini begitu asing dan tak terduga, rasa ciuman ini...Ya
Tuhan , Gaara tidak pernah menciumnya dengan cara sekurang ajar ini, Gaara...Ya
Tuhan! Naruto mengerahkan segenap kekuatan dan seluruh kendali dirinya untuk
melepaskan bibirnya dari pagutan Sasuke, Mulut Sasuke yang lapar masih mencari-cari, lidahnya masih berusaha menerobos masuk, masih memagutnya sekali lagi, Naruto mendorongnya kuat kuat hingga bibir mereka terlepas.
Suasana Ruangan itu begitu hening, hanya desah napas memburu bersahutan,
Naruto bahkan tak tahu itu napas siapa. Sasuke masih mencengkeram kedua tangannya di sisi kepalanya, Bibirnya begitu dekat dengan bibir Naruto, hingga
napasnya yang panas menyatu dengan napas Naruto. Mata Sasuke tampak berkabut, tapi ketika menatap mata Naruto sinarnya begitu tajam,
"Kau menikmatinya kan? Aku merasakan dari bibirmu yang melembut ketika
lidahku melumatmu, kau bisa berbohong dengan kata-kata, tapi tubuhmu tak bisa berbohong...",
Dengan tiba-tiba Naruto mendorong Sasuke hingga mundur beberapa langkah,
ditatapnya Sasuke dengan mata marah menyala-nyala,
"Dasar bajingan!, kau bermimpi kalau aku menginginkanmu, kau tak akan
pernah bisa menyentuh tubuhku lagi!, kau begitu menjijikkan!"
Suara Naruto semakin serak karena menahan tangis merasa sangat dilecehkan dan diperlakukan murahan. 'Jangan..., jangan! Kau tak boleh menangis Naruto! Nanti dia akan semakin merendahkanmu!' Desisnyadalam hati.
Sasuke memandang Naruto dengan pandangan tajam merendahkan,
"Saat ini kau boleh menghina dan menolakku, tapi aku yakin, nanti kau akan
datang padaku, merangkak dan memohon agar aku mau menerimamu."
"Lebih baik aku mati!" Naruto setengah berteriak ketika buru-buru melangkah keluar dan membanting pintu di belakangnya.
Sang sekertaris memandangnya sambil mengerutkan kening, dan Naruto yakin
saat itu penampilannya patut dipertanyakan, rambutnya kusut dan mukanya merah padam dengan mata berkaca-kaca menahan tangis. Bibirnya memerah bengkak dan mengkilap.
Tapi Naruto tak peduli lagi, yang dia inginkan hanya menjauh secepatnya dari
tempat terkutuk itu! Dengan langkah berderap, Naruto memasuki lift meninggalkan ruangan itu.
.
.
Sasuke mengusap mulutnya yang terasa panas, dia merasa sedikit bodoh, karena bertindak begitu impulsif di kantor, di mana banyak orang bisa menyebarkan gosip.
Sasuke menarik napas dalam-dalam dan berusaha menghilangkan getaran di
tubuhnya. Ciuman tadi terasa begitu nikmat, sudah lama sekali Sasuke tidak merasakan ciuman yang begitu membakar gairahnya sampai ke tulang sunsum.
Hanya sebuah ciuman dan dia terbakar, Sasuke mengernyit, tidak begitu
menyukai kenyataan itu. Selama ini dia dikenal sebagai kekasih yang sangat ahli
di ranjang, selalu mampu mengendalikan pasangannya dan tidak pernah lepas
kendali.
Dan sekarang, dia lepas kendali, semudah itu. Titik.
Masih mengernyit Sasuke menghempaskan tubuhnya ke kursi.
'Tapi jika laki-laki itu seperti yang kupikirkan, kenapa dia semarah itu? Seharusnya laki-laki itu bahagia bukan kepalang atas tawaran yang dia berikan. Apakah dia salah? Dan apakah dia telah menyinggung laki-laki itu?' Sasuke terdiam dan memikirkan beberapa kemungkinan tentang laki-laki itu.
'Tidak!' Dengan cepat Sasuke menyingkirkan keragu-raguannya. Semua laki-laki
sama saja, Sasuke tidak pernah salah. Ralat, laki-laki yang dekat padanya atau mungkin hanya sekedar pemanas ranjangnya.
Beri laki-laki-laki-laki itu kemewahan dan dia akan takluk padamu.
'Mungkin tawarannya masih kurang bagi Naruto,' Sasuke mungkin harus menambahkan akomodasi penuh jalan-jalan keliling Eropa misalnya.
Atau mungkin, Naruto hanya mencoba jual mahal. Wajah Sasuke menggelap mengingat kata hinaan Naruto barusan, Menjijikkan katanya ?
"Lihat saja Naruto, Setelah kau menyadari betapa banyaknya yang bisa kuberi
padamu, kau akan datang merangkak padaku dan aku yang akan mempermalukanmu", sumpah Sasuke dalam hati.
.
.
Suasana hati Naruto benar-benar buruk hari itu. Kemarahan, rasa terhina, kebencian bahkan kesedihan karena dia begitu tidak berdaya campur aduk
dalam hatinya. Naruto merasa tubuhnya begitu kotor akibat pelecehan yang
dilakukan Mr. Sasuke tadi siang, dan dia masih menahan tangis ketika memasuki
ruang perawatan intensif di Rumah Sakit itu, yang sudah sangat familiar dengannya
Apapun yang ada dipikirannya tadi langsung buyar begitu melihat Suster Sakura
menyongsongnya dengan wajah pucat pasi,
"Kemana saja kau nak?! Aku mencoba menghubungimu sejak dua jam tadi, tapi
kau tak bisa dihubungi!"
Wajah Naruto langsung berubah seputih kapas, secepat kilat dia berlari menelusuri lorong menuju kamar tempat Gaara dirawat. Suster Sakura tergopoh-gopoh berlari mengikuti di belakangnya. Naruto terpaku di depan ruangan Gaara dengan napas terengah-engah, dokter dan perawat masih ada di ruangan itu, sedang berusaha menstabilkan kondisi Gaara
Suster Sakura tiba dibelakang Naruto dan menyentuh pundaknya lembut, mencoba
menenangkannya,
"Dia sudah tidak apa-apa Naruto, kondisinya sudah stabil. Tadi dia mengalami
serangan lagi tapi dokter sudah menanganinya dengan cepat, kenapa kau tadi
tidak bisa dihubungi? Aku mencoba menghubungimu saat Gaara dalam kondisi
paling kritis, saat itu kau pasti ingin bersamanya",
Air mata mengalir di pipi Naruto. Tadi baterainya habis dan karena sibuk dengan
pikirannya, dia tak sempat mengisinya. Astaga, betapa bodohnya dia. Gaara
kelihatan stabil dan baik-baik saja dan Naruto mulai lengah, melupakan bahwa
serangan bisa terjadi setiap saat. 'Ya Tuhan, seandainya tadi Gaara...'
Naruto memejamkan mata rapat-rapat, air matanya mengalir semakin deras, dia
tak berani membayangkan semua itu. Sudah cukup ia memiliki banyak kehilangan, dan ia tidak mau memiliki itu dari Gaara.
Suster Sakura memeluknya dengan penuh keibuan sementara Naruto menumpahkan air matanya. Ketika dokter datang, tatapan hati-hatinya malah membuat hati Naruto makin cemas.
"Bagaimana kondisinya dokter?", suara Naruto gemetar, ketakutan
Dokter itu menarik napas panjang
"Gaara pria yang kuat, sungguh suatu keajaiban dia mampu bertahan sampai
sekarang, tetapi kecelakaan itu telah merusak organ dalamnya. Kami berusaha
memperbaikinya dengan obat-obatan dan penanganan medis terbaik, tapi hal itu
berakibat pada ginjalnya, kami harus mengoperasi ginjalnya Naruto",
"Mengoperasi ginjalnya?", Naruto mengulang pernyataan dokter itu dengan
histeris, "Mengoperasi ginjalnya?! Ya Tuhan!",
Tubuh Naruto menjadi lunglai, untung suster Sakura menyangganya, air mata
mengalir semakin deras dipipinya. Tulang Naruto seperti dilolosi paksa.
"Apakah... Apakah tidak ada cara lain ...?",
Dokter itu menarik napas prihatin,
"Gaara dalam kondisi yang tidak lazim, dia dalam keadaan koma, dan apapun
tindakan medis yang kami lakukan padanya memiliki resiko tinggi, Tapi akan
lebih beresiko lagi jika kita tidak melakukan operasi itu, operasi itu harus
dilakukan sesegera mungkin Naruto"
Naruto menarik napas dalam dalam, dan menatap dokter itu dengan penuh tekad.
"Baik dokter, lakukan operasi itu, apapun agar Gaara selamat", suaranya mulai
gemetar, "Berapa biaya yang harus saya siapkan untuk melakukan operasi tersebut dok?"
Seluruh tubuh Naruto menegang, tangannya terkepal seolah olah menanti hukuman. Operasi, biaya pengobatan, obat-obatan, Naruto sudah akrab dengan itu semua sejak Gaara koma. Namun rasanya tetap sama seperti pertama kali mendengar jumlah biayanya.
Dokter itu menatapnya sedih, rasa kasihan tampak jelas di matanya ketika menjawab,
"Untuk prosedur operasi ginjal dan perawatan atas kemungkinan terjadi
komplikasi lainnya, kau setidaknya harus memiliki Tiga ratus Juta, Naruto",
.
.
Hujan turun lagi dengan derasnya, bahkan payung itupun tak bisa melindungi
dirinya dari percikan air hujan. Tapi Naruto tak peduli.
'Dimana Dia?!' Naruto menatap sekeliling parkiran itu dengan panik, hari sudah gelap dan hampir tidak ada orang di parkiran itu, apalagi hujan turun dengan begitu
derasnya sehingga tak akan ada orang yang begitu bodohnya berada diluar ruangan.
Kecuali dirinya sendiri tentunya
'Ya Tuhan ... Dimana Dia?!' Naruto menatap mobil mercedes mewah yang masih terparkir di tempat parkirdireksi yang tak kalah mewah dengan atap yang luas dan posisi yang lebih tinggisehingga terlindung dari derasnya hujan.
Lelaki itu pasti belum pulang, mobilnya masih terparkir dan semua orang bilang
bahwa bos yang satu itu baru pulang setelah lewat jam 8 malam, dan lebih malam lagi pada hari Jumat karena besoknya akhir pekan.
Sekarang hari jumat.
Dan Naruto menunggu dengan cemas, bagaimana jika lelaki itu sebenarnya
sudah pulang? Jika bukan hari ini, akal sehatnya akan kembali dan dia akan kehilangan keberanian.
Berbagai pikiran buruk berkelebat hingga Naruto tidak memperhatikan derasnya
hujan yang mulai membasahi tempat-tempat yang tidak terlindung oleh payung
kecilnya,
Lalu pintu lobby itu terbuka, dan sosok yang ditunggu-tunggu Naruto melangkah
keluar.
.
.
Seorang satpam membawa payung hitam besar dan memayunginya ketika Sasuke melangkah menyeberangi jalan kecil yang membelah taman menuju parkiran direksi.
Hujan deras membuatnya tidak menyadari kehadiran Naruto. Tetapi ketika jarak
mereka semakin dekat, Sasuke menyadari bahwa Narutolah yang berdiri dengan
payung mungil ditengah hujan menunggunya, dan mulutnya menegang,
"Wah, ada apa gerangan sampai anda menyempatkan diri menunggu saya disini?",
Sebenarnya Sasuke sangat geram, tetapi dia menahan diri karena kehadiran
satpam yang memayunginya.
"Ssaa...ssaya...ingin bicara dengan anda", Sasuke mengernyit menyadari suara Naruto yang gemetar dan wajahnya yang pucat pasi, 'Apakah laki-laki itu kedinginan ? berapa lama laki-laki itu menunggunya di luar sini?' Tiba-tiba dorongan posesif membuatnya ingin meraih laki-laki itu, memeluknya dan menyalurkan kehangatan tubuhnya.
Sasuke melangkah ke bawah atap tempat parkir direksi yang menaunginya dari
hujan, lalu mengisyaratkan satpam itu untuk meninggalkan mereka.
Setelah Satpam itu jauh, Sasuke menatap Naruto dengan gusar,
"Demi Tuhan! tidak bisakah kau kemari berlindung di bawah atap ini? Payung
itu tak berguna, kau hampir basah kuyup!",
Sejenak Naruto ragu, tapi Sasuke benar, tubuhnya mulai basah kuyup karena hujan deras itu disertai tiupan angin kencang. Dengan hati-hati, dia melangkah ke bawah atap yang sama dengan Sasuke. Lelaki itu menatapnya tajam, sama sekali tidak menyembunyikan kejengkelannya.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Aku ada undangan makan malam, waktuku tak
banyak", gumamnya sombong.
Naruto menatap Sasuke penuh tekad meski gemetaran,
"Sa...Saya menawarkan diri kepada anda, anda boleh memiliki saya semau anda".
Sasuke menyipitkan mata, menahan gumpalan kekecewaan yang menyeruak di hatinya karena semudah dan secepat itu laki-laki ini menyerahkan diri kepadanya.
"Kau pikir aku masih berminat padamu?", gumamnya mengejek
Wajah Naruto pucat pasi, kata-kata Sasuke bagaikan menamparnya keras. Tapi dia bertahan, Demi Gaara, tekadnya dalam hati. Demi tunangannya, demi kekasihnya.
"Anda boleh memiliki saya sepenuhnya, saya hanya meminta pembayaran di muka, setelah itu saya tak akan meminta apa-apa lagi",
"Memangnya kau terlibat hutang judi atau apa?!",
Sasuke membentak keras, gusar karena sikap penuh tekad Naruto, dan gusar atas godaan dalam dirinya yang tak tertahankan untuk langsung menerima tawaran laki-laki itu. Tapi ketika melihat Naruto hampir terlonjak kaget karena bentakannya. Tidak menyangka reaksi Sasuke seperti ini setelah pelecehan yang dilakukannya tadi. Spontan Sasuke melembut, ada dorongan kuat dalam hatinya untuk bersikap lembut kepada Naruto.
"Oke, Berapa?"
Naruto mengerjapkan matanya mendengar pertanyaan tiba-tiba itucSasuke mendesah tak sabar,
"Cepat katakan berapa kau menjual dirimu, lalu aku akan menawar sebelum
mencapai kesepakatan", dengan sengaja dia melirik jam tangannya seolah tak
tertarik, "aku tak punya banyak waktu untukmu"
Naruto menelan ludah,
"Ti..Tiga ratus...juta.."
"Apa?", Sasuke membelalakkan mata tak percaya.
"Tiga ratus juta", kali ini Naruto berhasil terdengar mantap.
Sasuke mengernyit jijik,
"Kau bercanda?! Kau pikir kau pantas dihargai semahal itu?!",
"I..itu pembayaran lunas sepenuhnya, setelah itu anda memiliki saya dan saya
tak akan meminta apapun lagi"
"Kau pikir aku bodoh atau apa?", desis Sasuke, "Bagaimana aku bisa tahu kau
tak akan mangkir dari perjanjian ini? Bagaimanapun melakukan pembayaran di
muka itu beresiko"
"Kalau begitu anda bisa membuat surat perjanjian yang sah secara hukum untuk
mengatur perjanjian ini",
Naruto mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan gugup, mulai merasa tidak
nyaman dengan situasi ini, mereka mengobrolkan penjualan harga dirinya seolah
olah mengobrolkan penjualan barang.
Sasuke terdiam, tampak menimang-nimang usulan Naruto, lalu wajahnya mengeras,
"Tidak, ini konyol, aku sudah tak tertarik, lagipula...", ia memandang Naruto
dengan tatapan menghina, "Baru tadi siang kau menolakku mentah-mentah dan
aku berkata kau pasti akan merangkak memintaku menerimamu, sekarang kau
hampir bisa disebut merangkak padaku dalam waktu kurang dari 24 jam",
Sasuke hendak membalikkan badan meninggalkan Naruto,
"Lupakan saja, laki-laki yang terlalu murahan memadamkan gairahku"
Naruto langsung panik melihat Sasuke membalikkan tubuh mengarah ke mobilnya, Tidak! Oh Tidak ! Laki-laki itu tak boleh menolaknya! Dialah satu-satunya
harapan Naruto untuk menyelamatkan nyawa Gaara!
Dengan setengah histeris, Naruto melakukan tindakan yang pasti akan ditentang
akal sehatnya jika dia dalam keadaan tak terdesak. Ditariknya lengan Sasuke, dan ketika lelaki itu menoleh dengan marah, Naruto berjinjit, merangkul kepala Sasuke dan mencium bibirnya!
Tubuh Sasuke kaku dengan rasa terkejut dan luar biasa, laki-laki itu dengan bibir
yang lembut mencoba menciumnya dengan membabi-buta, jelas-jelas sangat tidak berpengalaman dan tanpa teknik ciuman yang memadai, tapi tetap saja gairah Sasuke langsung meledak tak terkendali.
Dengan kasar dirangkulnya pinggang Naruto, setengah mengangkatnya agar
merapat ke tubuhnya dan diciumnya bibir laki-laki itu habis-habisan.
Ciuman Sasuke sangat ganas dan penuh gairah, dan laki-laki itu meskipun bersusah payah, berusaha mengimbanginya. Tubuh Sasuke menegang dan terasa nyeri, begitu menginginkan Naruto. Dengan erangan yang parau, dia memperdalam ciumannya.
Entah berapa lama mereka berciuman di tempat parkir dengan diiringi derasnya
hujan. Sasuke benar-benar hanyut dalam kenikmatan dan dia menyadari kalau
dia tak akan bisa menolak laki-laki ini.
Sasuke baru melepaskan ciumannya ketika menyadari napas Naruto yang mulai
megap-megap.
Mereka berdiri dengan rapat dan Sasuke masih memeluk pinggang Naruto, setengah mengangkat Naruto, tangan laki-laki itu berpegangan pada pundaknya
seolah-olah takut terjatuh.
Sasuke menatap Naruto tajam, bibir laki-laki itu agak bengkak karena tekanan
ciumannya yang panas dan habis-habisan, bibirnya pasti juga seperti itu karena
rasa panas di bibirnya belum juga hilang,
'Well cium saja aku dan aku akan terbakar, melihat neraka lebih cepat,' geram Sasuke dalam hati,
Dengan kaku diturunkannya pinggang Naruto, lalu dilepaskan pegangannya,
"Baik, aku akan membayarmu, besok pagi kau akan mendapatkan uang itu
beserta surat perjanjian yang harus kau tandatangani",
Sasuke menatap Naruto geram, lalu membalikkan tubuhnya menuju mobilnya,
"Masuk ke mobil! malam ini aku akan mencoba barang yang sudah kubeli".
.
.
Naruto melirik Sasuke agak ketakutan ketika lelaki itu membelokkan mobilnya
ke areal hotel berbintang lima. Lelaki itu sama sekali tak mengajaknya bicara.
Dia menyetir mobil dengan tenang tetapi rahangnya menegang seperti menahan
marah. Apakah lelaki itu akan berbuat kasar padanya untuk melampiaskan
kemarahannya?
Tadi siang dia sudah menghina lelaki itu dan dia menyadari bahwa ego seorang
lelaki sangat mudah terluka. Dia ketakutan kalau Sasuke akan melampiaskan
kemarahannya dengan kasar, dia tidak pernah disentuh lelaki sebelumnya selain
ciuman dan pelukan dari Gaara yang tidak pernah melebihi batas.
Apakah dia harus memberitahu Sasuke kalau dia masih perawan? Lelaki itu dari
awal sudah beranggapan dia murahan, bagaimana jika...
Naruto terlonjak ketika pintu terbuka, ternyata Sasuke sudah keluar dari mobil
dan membukakan pintu penumpang,
Lelaki itu mengernyit ketika melihat wajah Naruto yang pucat pasi,
"Ayo", gumamnya kaku, dan meraih tangan Naruto untuk membantunya keluar
dari mobil.
Setelah Sasuke menyerahkan kunci mobilnya kepada petugas hotel untuk
diparkir, mereka berjalan bersisian memasuki lobby hotel yang sangat mewah.
Resepsionis hotel menerima mereka dengan ramah dan memberikan kartu kamar
yang dipilih Sasuke. Sama sekali tidak memandang mereka seperti pasangan yang aneh, wajah Naruto memerah memikirkannya. 'Dua orang lelaki dewasa yang berjalan menuju satu kamar di hotel bintang lima…err.. tidak kah terdengar sedikit aneh?' Pikir Naruto.
Bahkan di dalam liftpun mereka lewati dengan keheningan.
Kamar itu begitu luas dan sangat mewah sehingga Naruto terpaku sambil
terkagum-kagum akan keindahan interiornya. Sasuke hanya berdiri di sana menatapnya, mengingat banyak ekspresi terkagum-kagum Naruto.
"Kau pasti belum makan, aku akan memesan makan malam di kamar", lalu lelaki
itu melirik Naruto dengan sinis, "sementara itu, kupersilahkan kau mandi duluan,
badanmu basah, kau bisa mandi dengan air hangat"
"Ta...tapi, saya tidak membawa baju..."
Sasuke sengaja menatap Naruto dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan
begitu intens sehingga wajah Naruto merah padam.
"Aku akan memesan pakaian di butik kenalanku, besok pagi pesanan akan
diantarkan kemari. Bajumu yang basah letakkan ditempat yang disediakan di
kamar mandi, petugas hotel akan mengambilnya untuk di laundry, sementara itu-",
Sasuke sengaja menggantung kalimatnya dengan penuh arti, "-malam ini kau tak
perlu repot-repot memikirkan baju, toh kau tak akan sempat mengenakannya",
Kalau wajah Naruto bisa lebih merah padam lagi, itu akan menunjukkan betapa
malunya dia dengan kata-kata vulgar Sasuke. Sungguh ia tidak pernah mendengar kata-kata sevulgar itu dari siapapun, termasuk Gaara kekasihnya.
Setelah menggumamkan beberapa kalimat tak jelas dengan gugup, Naruto setengah berlari menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Naruto merasa sedikit aman, disandarkannya
punggungnya ke pintu dan dicobanya menarik napas dengan normal. Dia takut
pada Sasuke, lelaki itu seperti seekor singa yang menemukan domba lemah, lalu
memutuskan untuk bermain-main dengannya dulu sebelum memakannya.
Naruto melangkah telanjang ke kamar mandi lalu menyiram tubuhnya yang letih
dan kedinginan karena kehujanan dengan shower air hangat,
Setelah selesai mencuci rambutnya, Naruto menyandarkan kepalanya di tembok
dan membiarkan punggungnya yang pegal tersiram shower air hangat.
Dia takut menghadapi masa depan dan ketika membayangkan Gaara, air matanya
menetes, mengalir bersama siraman shower,
'Maafkan aku Gaara, setelah ini mungkin aku akan menjadi laki-laki kotor dan tak
pantas untukmu, tapi hatiku tetap milikmu.'
.
.
Ketika selesai membasuh muka dan menggosok gigi, Naruto memandang bayangan dirinya dicermin, keadaannya sudah lebih baik pipinya sudah tidak
pucat lagi, sudah ada rona merah disana setelah mandi air hangat.
Ketukan di pintu hampir membuat tubuh Naruto melonjak,
"Kau lama sekali, apa kau baik-baik saja disana?", tanya Sasuke tak sabar,
"Yyaaa...sebentar lagi saya selesai", Naruto menjawab sambil mengedarkan
pandangan ke sekeliling,
'Apakah aku harus keluar dari kamar mandi dalam keadaan telanjang?' Matanya menatap tumpukan baju kotornya memikirkan kemungkinanmengenakan bajunya lagi, dan membayangkan mengenakan baju yang hampirbasah kuyup itu membuatnya begidik.
Senyumnya muncul ketika menemukan tumpukan handuk berwarna biru tua di
lemari samping wastafel, dan dia beruntung, bukan hanya handuk, tapi dia menemukan sepasang jubah mandi dengan warna yang sama. Yang satu berukuran besar dan yang satu berukuran kecil.
Dikenakannya jubah mandi ukuran kecil yang masih kebesaran ditubuhnya sambil mengernyit, bahkan perlengkapan kamar mandi ini seperti sengaja ditujukan untuk pasangan, sepasang jubah mandi, sepasang sikat gigi, dan sepasang handuk.
Ditatapnya bayangannya di cermin, wah lumayan, lebih dari lumayan malah,
jubah itu menutup rapat dadanya dan karena kebesaran, panjangnya hampir
mencapai mata kaki, dia kelihatan cukup sopan meski sebenarnya tidak
mengenakan apa-apa lagi di balik jubah mandinya. Dengan kata lain, ketika Sasuke melepas jubah mandi itu ia akan telanjang total.
Ketika Naruto keluar dari kamar mandi, Sasuke sedang memberikan instruksi pada pelayan hotel yang menata makan malam di meja. Lelaki itu hanya mengangkat alis melihat akal Naruto memakai jubah mandi,lalu memberikan tips pada pelayan sebelum dia pergi.
"Duduklah, makan dulu", Gumam Sasuke mulai santai sambil menunjuk kursi di depannya.
Naruto duduk dengan gugup di kursi dan menatap makanan yang tersaji di meja. Air liurnya langsung terbit melihat sajian yang kelihatannya lezat itu, ada sup krim yang sangat panas yang pasti rasanya sangat nikmat untuk orang yang habis basah kuyup kehujanan, lalu daging panggang dengan bumbu keju dan saus yang sangat menggunggah selera, salad buah-buahan dan cokelat panas yang pasti untuknya, karena Sasuke sudah menyesap kopinya.
Lelaki itu dengan penuh perhatian menuangkan sup di mangkuk dan menyodorkannya pada Naruto.
Naruto menatap Sasuke ragu, dan untuk pertama kalinya hari itu, Sasuke tersenyum lembut padanya. Senyum dari wajah yang selalu terlihat datar dan tanpa ekspresi itu.
"Ayo makan, aku tahu kau lapar, aku sendiri lapar sekali." Mereka mulai makan dalam keheningan, dari sudut matanya, Naruto dengan hati-hati melirik Sasuke dan menyadari lelaki itu mulai santai, jasnya sudah dilepas dan kancing kemejanya dibuka dua dengan dasi yang sudah dibuka begitu, cara makannya sangat elegan hingga membuat Naruto malu.
"Naruto?",
Suara itu menembus lamunannya dengan keras hingga membuat Naruto hampir
melonjak karena terkejut. Matanya mengerjap menatap Sasuke,
"a...apa?"
"Kau hanya mengaduk-aduk supmu, apa tidak enak?" Dengan terburu-buru Naruto menyuap sesendok sup dan menelannya,
"Ti..tidak, ssayaa hanya sedang berpikir"
Sasuke tersenyum, lalu sekali lagi menatap jubah tidur Naruto,
"Pintar sekali kau memakai jubah itu, jadi kau tak perlu tampil telanjang di depanku"
Komentar yang diucapkan dengan santai itu hampir saja membuat Naruto tersedak, pipinya langsung merona merah. Sasuke menyesap kopinya sambil tetap memandang Naruto, lalu meletakkan cangkirnya,
"Oke, giliranku mandi, makanlah sepuasmu,lalu taruh saja disitu aku akan menelpon pelayan untuk membereskannya 30 menit lagi",
Dengan santai lelaki itu melenggang ke dalam kamar mandi, Setelah menyesap cokelatnya, Naruto tidak tahu harus mengerjakan apa lagi, jadi dia duduk di pinggir ranjang dan menyalakan televisi, Beberapa saat kemudian pelayan datang dengan sopan dan membereskan makanan mereka. Naruto hanya terdiam agak malu karena menyadari keadaannya yang hanya mengenakan jubah mandi.
Detik-detik berlalu dan terasa begitu mencekam bagi Naruto, sangat kontras dengan Sasuke yang sedang di kamar mandi, lelaki itu mandi dengan santai,
bahkan Naruto mendengar lelaki itu bersenandung di shower.
Ketika Lelaki itu keluar dari kamar mandi, Naruto sudah hampir tertidur di atas
ranjang, pertarungan batin yang bertubi-tubi sudah membuat jiwa dan raganya kelelahan, sehingga berdiam diri berbaring di atas ranjang yang nyaman itu
membuatnya merasa sangat mengantuk.
Sasuke mengernyit sambil mengencangkan tali jubah mandinya, ditatapnya
Naruto yang berbaring miring membelakanginya dengan posisi meringkuk seperti
janin di dalam kandungan, pemandangan itu membuat hatinya terasa sakit,
entah kenapa, seperti ada dorongan untuk merengkuh laki-laki itu dan melawan
seluruh dunia demi dirinya.
Kernyitan Sasuke semakin dalam, tidak pernah dia merasa seperti itu
sebelumnya pada seorang teman tidurnya, laki-laki ini telah membangkitkan semacam hasrat liar yang selama ini tersembunyi rapat-rapat dalam jiwa Sasuke, dan bukan hanya hasrat tapi dibarengi oleh rasa obsesif dan posesif yang mendalam.
'Tidak! 'geram Sasuke dalam hati, hasrat ini tidak boleh sampai membuat dirinya
lemah, dia harus menunjukkan siapa yang berkuasa. Dengan pelan Sasuke naik ke ranjang dibelakang Naruto yang memunggunginya, lalu diraihnya pundak Naruto, laki-laki itu terperanjat karena dibangunkan dari kondisi tidur-tidur ayamnya, dengan mata yang masih sayu setengah tidur ditatapnya Sasuke.
Sasuke melihat sekelumit ketakutan didalam mata itu, dan dengan sedikit kasar
dibaliknya tubuh Naruto menghadap dirinya,
"Aku membayar kamar di hotel ini bukan hanya untuk tidur", geramnya parau
lalu dikecupnya bibir Naruto,
Dan...meledaklah, Sasuke merasa hasrat langsung membakar tubuhnya sekaligus, menghanguskannya, sejenak dia merasa ragu melampiaskan hasratnya seratus persen karena dirinya cenderung kasar ketika sangat berhasrat, tapi mengingat bagaimana Naruto menawarkan diri padanya hanya demi uang dan goresan rasa kecewa yang nyeri di hatinya karenanya membuat
Sasuke tak peduli lagi, toh laki-laki ini pasti sudah berpengalaman dan mungkin
sudah lebih dari sekali dia menjual dirinya demi uang. Tapi benarkah laki-laki itu
sudah berpengalaman?
Sasuke teringat ciuman Naruto yang tanpa teknik memadai di tempat parkir
tadi. Tidak! putusnya dalam hati, mungkin laki-laki itu hanya tidak pandai
berciuman, Seorang pelacur harus diperlakukan seperti pelacur!.
.
.
Naruto masih terkejut ketika tiba-tiba saja tubuhnya dibalik dan dicium habis habisan, dia masih setengah tertidur tadi dan benar-benar tak berdaya, Sasuke
sudah melampiaskan hasratnya tanpa ditahan-tahan, ciuman-ciumannya tanpa
jeda seolah-olah lelaki itu tak tahan sedetikpun tidak berciuman dengannya.
Ketika Sasuke mengangkat kepalanya, matanya berkabut, pupil matanya
membesar terlihat kontras dengan iris matanya yang berubah menjadi sangat gelap.
"Aku ingin bercinta, aku ingin memasukimu...Ah kau tidak tahu betapa aku...",
suara Sasuke tersengal, lalu melumat bibir Naruto lagi dengan membabi buta,
Kata-kata vulgar Sasuke itu membuat pipi Naruto merona malu. Tidak terbayangkan, dia, lelaki yang tidak pernah intim dengan lelaki manapun, sekarang terbaring dengan jubah mandi yang sudah acak-acakan, ditindih oleh lelaki yang mungkin sampai beberapa hari yang lalu tidak dikenalnya dengan baik.
Tangan Sasuke menelusup di balik jubah mandinya, menemukan dadanya
yang bidang dan lembut, lalu mengusapnya lembut. Sedikit terlalu bergairah sehingga Naruto mengerang. Sasuke menghentikan gerakannya, lalu menatap Naruto lembut,
"Sakitkah?", bisiknya parau, penuh gairah. Naruto terpaku, suaranya seakan tertelan di tenggorokan, bagaimana dia harus menjawabnya?
Tetapi Sasuke tidak memerlukan jawaban, lelaki itu tersenyum, lalu
menggerakkan tangannya lagi menyentuh dada Naruto, dengan ahli dia
menyingkirkan jubah mandi Naruto yang menghalangi, dan menemukan
keindahan di baliknya. Dada bidang dengan kulit tan dan kedua pucuk yang memantang Sasuke untuk berbuat lebih, lebih lagi. Menenggelamkannya ke dalam gairah. Menyeret mereka bersama ke kubangan dosa.
"Oh Indahnya", bisik Sasuke serak, membiarkan Naruto memalingkan muka
dengan malu dibawah tatapan tajam dan memuja lelaki itu.
Lalu bibir Sasuke yang panas menelungkupi putingnya, lidahnya bermain di sana terasa panas, membakar seluruh tubuh Naruto, membuatnya terpaksa merintih. Sesekali gigi Sasuke ikut menariknya dengan gemas, memainkannya di dalam mulut Sasuke yang snagat panas. Bingung dengan gejolak yang menyebar di seluruh tubuhnya. Sasuke begitu ahli sedang Naruto sama sekali tidak berpengalaman, dan lelaki itu tampaknya tidak merasa perlu menahan dirinya.
Entah kapan, mereka sudah telanjang bersama di atas tempat tidur itu, tubuh
Sasuke yang keras, melingkupi tubuh Naruto yang tak berdaya di bawahnya, menggodanya, menggeseknya dengan kekuatannya, membawa gairah Naruto makin naik, sedikit demi sedikit ke puncaknya.
Kemudian Naruto merasakan kejantanan Sasuke, yang tidak terhalang apapun
menyentuh lubangnya. Pelan, tapi membuatnya terkesiap. Naruto membuka
matanya yang terpejam, menatap Sasuke di atasnya. Lelaki itu menatapnya
dengan tajam, matanya berkabut, napasnya terengah, dan sejumput rambut tampak jatuh di dahinya, membuatnya tampak begitu liar.
"Ah, ya manis...Kau pasti akan sangat menyukainya", geram Sasuke pelan, lalu
mulai mendorong, menekan dan menyentuh Naruto, "Kau sudah siap", erang
Sasuke, "Kau sudah basah dan panas, siap untuk diriku..."
Jantung Naruto berdegup kencang, beriringan dengan detak jantung Sasuke
yang bahkan lebih parah. Tatapan Sasuke membuat dirinya lupa, bahwa Sasuke tidak melakukan persiapan apapun, hanya mencumbunya, membuat lubangnya berdenyut-denyut tidak sabaran. Dengan perlahan, Naruto memejamkan matanya,
melepaskan hatinya. Demi kamu Gaara, bisiknya dalam hati bagaikan mantra yang
menyelamatkan jiwanya.
Ini adalah sensasi baru bagi Naruto, merasakan kejantanan seorang lelaki yang
mencoba memasukinya, menyatu dengannya. Rasanya panas dan membuat
seluruh saraf ditubuhnya menggila, membuatnya begitu sensitif oleh kebutuhan
yang sampai saat ini tidak pernah diketahuinya, kebutuhan untuk mencapai puncak.
Hingga rasa sakit yang menyengat tiba-tiba menyentakkannya ke alam sadar, perih menyuasai seluruh tubuhnya mengirimkan sinyal untuk memberontak. Naruto mengerang kesakitan, tubuhnya mengejang, dengan panik. Tanpa persiapan tentu saja tetap membuat lubang itu sangat-sangat ketat, dan Sasuke tidak akan menyadari itu. Lelaki dengan surai hitam itu pasti sibuk dengan gairahnya.
Dicengkeramnya pundak Sasuke dan menggeleng-gelengkan kepala ketakutan
atas usaha Sasuke untuk menyatu semakin dalam dengannya. Meronta di bawah kukungan Sasuke.
'Ini sakit sekali..' rintih Naruto dalam hati. Air matanya turun tidak terkendali ketika Sasuke menghentak ke dalam. Perih yang menjalar seolah membuat tubuhnya terbelah menjadi dua. Ia merasakan cairan hangat membasahi bagian tubuhnya yang itu. Darah. Lubangnya yang dimasuki tanpa persiapan itu pasti sedikit robek karena ada benda asing yang lumayan besar memaksa masuk dengan penuh gairah. Kejantanan Sasuke terasa panas, sesak seperti arang.
.
.
Dan ketikabetapa ketatnya lubang Naruto, mendengar erangan Naruto yang jelas-jelas kesakitan serta pandangan ketakutan yang membayangi mata Naruto, Sasuke sadar bahwa semua prasangkanya itu salah, meski tetap tak bisa menjelaskan kenapa Naruto dengan mudahnya menjual dirinya, tapi ini sudah menunjukkan bahwa Naruto bukan laki-laki gampangan, Sasuke adalah lelaki pertamanya.
Menyadari kesakitan yang mendera Naruto, Sasuke mengalihkan perhatian
Naruto denga cumbuannya dengan segenap keahliannya, rasa senang tak
tertahankan membanjiri pikirannya ketika menyadari dirinya adalah lelaki
pertama laki-laki itu. Sedikit menyesal ia tidak mempersiapkan Naruto, ia merasakan lubang hangat itu menyedot-nyedot kejantannan untuk semakin masuk.
Diciumnya bibir Naruto dengan lembut, bibir ranum yang sekarang menjadi
miliknya. Napas Naruto terengah-engah dan Sasuke melihat di matanya, ada ketakutan dan kesakitan. Sasuke tidak pernah bercinta dengan pria perawan sebelumnya, dia tahu seperti apa rasa sakitnya, hanya saja dia tidak mengerti
bagaimana meredakannya. Tetapi Sasuke tidak suka melihat rasa sakit itu mendera di mata Naruto,
"Sssh...Sayang, aku tidak bermaksud menyakitimu", Dengan lembut Sasuke menelusurkan tangannya di sisi tubuh Naruto, lalu berhenti di pinggul Naruto, menahan pinggangnya yang sedikit meronta, mencegah tubuh mereka yang sudah setengah menyatu supaya tidak terpisah, "Mungkin akan sedikit sakit tapi
semua akan baik, tubuhmu akan menerimaku seutuhnya...", Suara Sasuke
terhenti ketika dia mendorong dengan kuat, menyentak ke dalam Naruto dan menyatukan tubuhnya sepenuhnya dengan Naruto. Merasakan cairan kental dari lubang Naruto mengaliri kejantanannya.
Naruto berteriak kencang merasakan pedih yang amat sangat ketika Sasuke
menembusnya, jemarinya tanpa sadar mencengkeram pundak Sasuke dengan keras. Tetapi Sasuke tidak berhenti karena dia sadar kalau dia berhenti dia akan
menyakiti Naruto. Dengan perlahan, Sasuke menggerakkan tubuhnya. Oh Tuhan
! Sekujur tubuhnya terasa nyeri menahan diri. Naruto terlalu rapat, terlalu basah,
terlalu panas, mencengkeram tubuhnya di bawah sana. Dia hampir-hampir tidak
tahan dan dorongan untuk memuaskan diri dengan brutal di tubuh Naruto semakin menyiksa. Tetapi Sasuke sadar, ini pengalaman pertama bagi Naruto, dia harus
membuatnya seindah mungkin, dia tidak boleh menyakiti Naruto. Karena itu sambil menggertakkan diri menahan gairahnya, Sasuke mencoba bergerak selembut mungkin, menarik tubuhnya pelan dari balutan sutra basah dan panas
itu, untuk kemudian menghujamkannya lembut. Lagi dan lagi. Menusuk ke titik terdalam Naruto, yang membuat Naruto melihat bintang di balik matanya. Terus menerus tanpa melewatkan sedikitpun. Memanjakan pusat tubuh Naruto yang tegak menantang, menampar perutnya. Seirama dengan gerakan pinggulnya. Lalu ketika desah napas Naruto menjadi pendek-pendek serta pegangannya pada pundak Sasuke makin kencang, Sasuke sadar, dia telah membuat Naruto mencapai orgasme pertamanya. Pemandangan ekspresi wajah Naruto saat itu
sungguh tak tergantikan, lubang Naruto juga berkontraksi memerahnya dengan sangat kuat, mendorongnya terlempar menuju puncak kepuasan yang sangat tinggi, sangat tak tertahankan seolah-olah dunia melededak dibawahnya. Dan Sasuke benar-benar meledak di dalam tubuh Naruto.
Orgasme ini terasa begitu dasyat, sebuah pelepasan dari akumulasi gejolak yang
ditahannya selama ini. Kenikmatan yang luar biasa ini membuat Sasuke merasa
sedikit sesak napas,seolah olah dia terhanyut dalam pusaran gairah yang tak tertahankan terus menerus menghantamnya tanpa henti,erangan parau keluar dari bibirnya ketika dia menenggelamkan wajahnya dalam-dalam di sisi leher Naruto.
Ketika usai, mereka berbaring berpelukan sambil berusaha menormalkan napasnya.
"Wow" hanya itu yang terlintas dipikiran Sasuke, dan dia tak sadar telah
mengucapkannya keras setelah menyadari rona merah yang merayap di leher
Naruto.
Dengan lembut dikecupnya leher Naruto,,,diangkatnya kepalanya, dan mereka
bertatapan, mata kelam yang tajam,yang agak berkabut setelah mencapai orgasme terhebat sepanjang eksistensi kehidupannya bertemu dengan mata hitam yang berkaca-kaca.
"Apakah kau...", Sasuke berdehem ketika menyadari suaranya sangat parau,"apakah kau baik-baik saja?"
Naruto tampak tidak tahan ditatap dengan sedemikian intens apalagi dalam posisi yang sangat intim, dipalingkannya kepalanya setelah mengangguk menarik napas pelan, kemudian dengan hati-hati, sangat berhati-hati, dia mengangkat tubuhnya dari atas Naruto dan bergeser ke samping, menyadari kernyitan tidak nyaman di wajah Naruto ketika dia menarik diri.
Tanpa sadar Sasuke bersikap begitu lembut, sikap yang tidak pernah ditunjukkannya ketika usai bercinta dengan laki-laki-laki-laki yang lain. Direngkuhnya tubuh mungil Naruto, diletakkannya kepalanya di lengannya, laki-laki itu tampak pasrah, mungkin sudah terlalu lelah, kasihan, kasihan Narutonya
yang masih suci. Ternyata selama ini dia salah paham, laki-laki ini benar-benar
masih suci.
Kepuasan seksual yang luar biasa masih mempengaruhi pikirannya yang
berkabut, tangannya dengan santai mengelus punggung Naruto yang bergelung
dipelukannya, sampai lama kemudian disadarinya pundak Naruto berubah santai
dan napasnya mulai teratur pelan. Laki-laki itu tertidur. Sasuke mengatur posisinya
dengan lebih nyaman. tak pernah sebelumnya dia seintim ini setelah bercinta,
laki-laki ini benar-benar mempengaruhinya...
.
.
Naruto merasakan seluruh tubuhnya sakit dan pegal. Dengan mengerutkan dahi
dia mencoba menggerakkan badannya. 'Oh...memang pegal sekali rasanya', pelan-pelan dibukanya matanya, cahaya kamar masih tampak redup, suasana kamar
terasa sejuk dan menyenangkan,
"Selamat pagi"
Sapaan itu begitu mengejutkan, menembus kesadarannya yang masih berkabut,
hingga badan Naruto terlonjak duduk,lalu selimutnya turun sampai ke pinggang
dan barulah Naruto menyadari kalau dia telanjang. Dengan gugup ditariknya
selimut menutup dadanya. Mengernyit kesakitan pada bagian bawahnya. Matanya langsung bertatapan dengan Sasuke yang duduk disofa,tepat dihadapannya. Sedikit senyum tersirat di sana melihat kegugupan Naruto.
Sekali lagi Naruto benar-benar malu, Sasuke sudah tampil sangat rapi dan elegan dengan pakaian santai dan sedang menyesap kopi sambil membaca koran paginya, penampilannya benar-benar sempurna di pagi hari, sedangkan Naruto...Astaga, jam berapakah ini?
"Ini masih pagi sekali, masih gelap, tadi aku bangun dan memutuskan mandi air
dingin, kalau tidak aku tidak akan bisa menahan diri untuk membangunkanmu
dan bercinta lagi denganmu", Suara lelaki itu datar seperti sedang membicarakan acara televisi favoritnya, tak dipedulikannya wajah Naruto yang memerah.
"Bukannya aku tidak bisa, tapi sepertinya aku harus menghormatimu yang baru pertama kali melakukannya",
Tatapan Sasuke berubah tajam, seperti yang selalu dilakukannya di saat meeting di saat dia membuat lawan-lawan bisnisnya mengekeret ketakutan.
"Kenapa kau yang masih perawan itu bisa dengan mudahnya menjual diri padaku? Apa tujuanmu sebenarnya"
Tanya Sasuke tanpa ampun.
Naruto duduk disana dalam kondisi paling tidak siap, menahan sakit dan Sasuke melemparkan pertanyaan paling sulit untuk di jawab, apakah laki-laki itu sengaja?
'Tentu saja Sasuke sengaja!' Seru Naruto dalam hati, lelaki seperti dia tak akan sesukses ini dalam bisnis jika tidak tahu cara menyerang lawannya di titik lemah.
Sekarang dia harus menjawab apa? Naruto benar-benar kebingungan. Kalau dia
menceritakan seluruh kisahnya, akankah Sasuke percaya? Lagipula dia tidak
ingin melibatkan Gaara disini, jangan sampai Sasuke tahu tentang Gaaranya, dia
harus melindungi Gaara dari lelaki kejam seperti Sasuke, siapa yang tahu apa
yang akan dilakukan Sasuke kepada Gaara hanya untuk memerasnya nanti?
Dengan tegar Naruto menegakkan dagunya,
"Saya rasa alasan saya melakukan ini bukan urusan anda, yang penting saya tidak akan merugikan diri anda."
Rahang Sasuke mengeras mendengar jawaban Naruto tadi. Sejenak tadi dia merasa Naruto patut diberi kesempatan, mungkin saja Naruto melakukan itu untuk membiayai saudaranya atau apa, Tetapi ternyata dia salah, bodohnya dia, laki-laki dimanapun sama saja. Menjual dirinya, mengeruk keuntungan sendiri.
Naruto mungkin hanya menunggu kesempatan untuk menjual dirinya dengan harga mahal, bukan bermaksud menjaganya. Bodohnya dia sempat berpikir untuk mempercayai laki-laki itu.
"Oke, bussiness is bussiness, aku tidak akan bertanya lagi tentang tujuanmu,
asal jangan sampai kau merugikanku...", mata Sasuke menyipit kejam, "kalau kau berani berani melakukannya, aku akan membuatmu menderita."
Naruto tanpa sadar beringsut menjauh, ketakutan dengan nada suara dan tatapan kejam Sasuke. Merasa terintimidasi.
Tiba-tiba saja laki-laki itu berdiri dari duduknya setelah membanting gelas kopinya di meja. Naruto menatap lelaki itu dengan cemas, apa yang salah dari ucapannya?
Kenapa lelaki itu tampak begitu marah padanya? Sasuke melirik jam tangannya,
"Aku sudah membuat janji dengan pengacaraku tiga jam lagi, akan kubuat kontrak hitam di atas putih atas perjanjian jual beli kita ini, dan selama aku menunggu jam itu...", Mata Sasuke menelusuri tubuh Naruto yang berusaha menutupinya dengan
selimut. Tatapan matanya sangat melecehkan.
"Well kurasa sudah cukup kan penghormatanku atas pengalaman pertamamu?"
Lalu Sasuke naik ke ranjang dan merenggut tubuh Naruto. Membawanya ke tempat tidur bersamanya. Kali ini tidak ada kelembutan. Lelaki itu tidak menahan-nahan diri lagi. Dan dia sudah siap. Dengan kasar dibukannya paha Naruto dan tanpa basa basi dia menyatukan tubuhnya dengan Naruto, tidak peduli bagaimana keadaan Naruto. Tidak peduli apakah lubang yang memerah itu siap menerimanya atau tidak.
Sasuke menyatukan tubuhnya dalam-dalam, sebuah erangan nikmat lolos dari mulutnya ketika dia merasakan kenikmatan yang menyengat, lelaki itu menatap
Naruto, antara bingung dan marah tercampur di dalam matanya,
"Kau...Sungguh membuatku tergila-gila", Erangnya kasar sebelum bergerak dengan begitu ahlinya, dengan segera membawa Naruto menuju puncak kenikmatan.
.
.
Naruto menatap tubuh telanjangnya di cermin, air panas mengalir dari pancuran
menimpa tubuhnya, kamar mandi itu beruap, sehingga bayangan tubuhnya
terpantul samar-samar di cermin.
Tadi Sasuke tidak lembut, well meskipun tidak sampai menyakitinya, tetapi lelaki
itu berbeda dari semalam, gairahnya liar dan tidak ditahan-tahan lagi, meluap-luap
seolah olah sudah bertahun-tahun laki-laki itu tidak melampiaskan hasratnya.
'Tapi itu tidak mungkin kan?' Naruto tanpa sengaja mengerutkan dahinya. Sasuke terkenal suka gonta ganti perempuan, parempuan yang dipacarinya selalu setipe, cantik bagaikan boneka, langsing, dari kelas atas dan terkenal, entah itu model, artis dan kebanyakan orang luar. Semua laki-laki itu rela menyerahkan dirinya pada Sasuke dengan sukarela.
Desas desus berkembang bahwa Sasuke kekasih yang sangat bergairah dan
murah hati, tetapi tidak tanggung-tanggung mendepak pasangannya dengan kejam, karena dia tak pernah memakai hati dalam berhubungan. Kekasih terakhir Sasuke, yang kemarin baru digandengya dalam acara pernikahan seorang anak direksi adalah artis film yang sedang naik daun,
keturunan darah campuran yang sangat cantik bernama Karin, tubuhnya tinggi
langsing semampai dengan rambut merah yang sangat halus bagaikan sutera,kulitnyapun tak kalah halusnya sepertu buah peach dan dia tampak sangat serasi, bergelayut manja di lengan Sasuke dengan tatapan memuja.
'Apakah Sasuke juga akan melecehkan Shanon seperti melecehkanku? Apa yang
akan dilakukan Karin jika dia mengetahu semua ini? Tidak, apa yang akan dikatakan semua orang?'
Naruto mengernyit melihat bekas bekas ciuman memerah di pundak dan sekitar dadanya. Sasuke lelaki yang suka meninggalkan tanda. Seperti singa jantan yang menandai betinanya, Naruto tahu lelaki itu sengaja meninggalkan bekas-bekas ciuman di tubuhnya...bahkan ada yang di sekitar pinggulnya, paha dalamnya.
'Astaga...apa yang telah kulakukan ya Tuhan? Apakah aku sudah melakukan
keputusan yang paling benar?' Naruto sudah tidak dapat menangis lagi, air matanya sudah habis dan hatinya sekarang terasa amat hampa.
Dengan pelan Naruto meraih handuk dan mengeringkan tubuhnya lalu meraih
jubah mandi yang tadi ditemukannya tergeletak di karpet, sepertinya Sasuke
semalam melemparkannya ke lantai.
Dengan langkah pelan Naruto keluar dari kamar mandi, bingung mau berbuat apa, dan bertanya-tanya dimanakah pakaiannya sekarang?
Tatapannya menuju ke arah sofa, di situ ada kemasan pakaian. Naruto
melangkah dan mengambil kemasan itu, ya, ini pakaian laki-laki, masih baru, dari
butik ternama lengkap dengan pakaian dalamnya...Apakah ini untuknya? Naruto
memegang kemasan itu dengan ragu. Tapi dia juga tak mungkin memakai jubah mandi dalam kondisi telanjang seharian kan?
Dengan hati-hati Naruto membuka kemasan itu, sebuah kemeja santai berwarna
biru dari bahan yang sangat halus, apakah ini sutra? Dan pakaian dalam senada, Naruto melihat ukurannya dan semuanya pas, Sasukekah yang memesaannya?
Dengan gerakan pelan dan tanpa menimbulkan suara Naruto memakai pakaian
itu, gaunnya terasa sangat nyaman menempel ditubuhnya, sebuah gaun santai
satu potong sepanjang bawah lutut yang sangat elegan.
Setelah itu selama beberapa lama Naruto berdiri ditengah kamar itu tanpa berbuat apa-apa. Pandangannya mengarah ke arah ranjang yang seperti habis diserang badai.
Dan tubuh Sasuke terbaring disana, punggungnya yang pucat terlihat nyaris tersamar di balik selimut kamar yang putih bersih.
Lelaki itu berbaring tengkurap salah satu lengan membingkai kepalanya, dan
tubuhnya diam tak bergerak. Kepalanya terbaring miring di atas bantal. Naruto mendekat pelan kesisi ranjang tempat Sasuke berbaring, wajahnya tampak damai sekali, kalau sedang tidur, dia tak tampak berbahaya.
Naruto melirik ke arah jam dinding, satu jam lagi, seperti yang dikatakan oleh
Sasuke tadi, dia ada janji dengan pengacaranya...haruskah Naruto membangunkannya? Tapi bagaimana nanti kalau Sasuke marah dan menuduhnya berani mengganggunya karena ingin segera mendapatkan uang pembayaran? Bukannya Naruto tidak ingin segera mendapatkan uang itu. Semakin cepat dia bisa membayar ke rumah sakit, semakin cepat Gaara bisa dioperasi. Tetapi Sasuke sudah cukup banyak memandang rendah dan melecehkannya...
Tiba-tiba handphone Sasuke yang diletakkan di meja samping ranjang berbunyi
keras, membuat Naruto hampir terlonjak karena terkejut.
Tubuh Sasuke bergerak dan mata hitam yang tajam itu terbuka,langsung menatap Naruto. Meski baru bangun tidur, rupanya Sasuke tipe lelaki yang langsung terjaga sepenuhnya detik itu juga.
Matanya langsung menelusuri tubuh Naruto dari atas ke bawah tanpa satu
incipun terlewatkan, tersenyum puas melihat penampilan Naruto dengan baju
barunya.
"Ternyata pilihanku tepat", desisnya parau sambil mengangkat telephone.
Telephone itu dari pengacaranya. Sasuke menyuruh Pengacara itu menunggu di
restoran hotel satu jam lagi.
Ketika Sasuke meletakkan telephonnya, Naruto masih berdiri diam di tempatnya
semula, tak tahu musti mengatakan apa.
"Pengacara akan datang sejam lagi", dengan santai Sasuke berdiri dari ranjang,
tak peduli dengan ketelanjangan tubuhnya, dan mengangkat alis tersenyum
melihat Naruto memalingkan muka.
Dengan sengaja dia mendekat berdiri di depan Naruto dan mengangkat dagu
Naruto agar menghadapnya,
"Kenapa manis? Kau malu melihatku telanjang? Bukankah kita sudah menghabiskan waktu berjam-jam telanjang bersama?"
Wajah Naruto merah padam, tapi dia tidak berkata apa-apa.
Sasuke mendengus lalu melepaskan Naruto dan melangkah ke kamar mandi.
"Bagus kau sudah siap. Aku akan mandi setelah itu kita sarapan, lalu kita akan
tandatangani kontrak perjanjian, setelah itu kau akan mendapatkan uangmu"
.
.
TO BE CONTINUED KE CHAPTER SELANJUTNYA^^
.
.
Author Bacodth Corner (ABC)
Hooooaaaaa, makasih banyak kalian yang mau review di page satu. Maaf belum bisa bales satu-satu, maaf banget. Tapi kalian motifasiku buat ngetik chapter dua ini :* *meski tugas banyak* makasih banyak buat reviewnya. Makasih banyak. Ini uda apdet agak panjangan dikit emski ga sepanjang punya Sasuke *digiles*. Soal yang kemarin yang typo dan gak nyambung, jtk minta maaf banget. Ngeditnya dari hape, dan berasa juling. Maaf banget soal itu yang bikin readers jadi ga enak bacanya.
Okey jtk mau bilang ada beberapa bagian yang jtk rubah, tidak seperti aslinya. Biar agak surprice dan gak bosen sama cerita ini. Contohnya adegan diatas ada yang jtk tambahin biar rada greget *digaplok*. Rada sedih sih, sedikit yang tertarik mungkin karena jtk adalah penulis newbie di fandom sini. Tapi makasih udah ada yang review, aaaa sayang kalian mwah :*
Okey review lagi, lebih dari 8 review update kilat dengan perubahan. Dikonflik dan ending jtk rubah kok, rubah dikit. Minta review lagi, apapun itu saran atau kritik asal jangan bash ataupun flame. Dan sopan, jangan bawa kebun binatang dan tetek bengeknya oke? Damai itu seindah melihat SasuNaru Ncan *dihajar*.
Sekali lagi makasih :* sampai jumpa dichapter berikutnya.
Nb : kesel banget sama anak kesayangan jtk si A-drei -_- like father like son. Kezel banget :v coeg :v
