Chapter 4

[REMAKE] A Romantic Story About Naruto by Santhy Agatha

Genre : Romance, Hurt

Cast : Sasuke Uchiha, Naruto Uzumaki, Gaara Sabaku and others

[SASUNARU]

Rated : M

.

Disclaimer : JTK me-remake novel yang nurut JTK pribadi bagus dan lumayan menyentuh dari Santhy Agatha. Jadi JTK bukan penjiplak atau plagiat, JTK hanya me-remake dan merubah sedikit menyesuaikan alur. Udah ijin sama yang punya novel ini, asalkan nama pengarang aslinya dicantumin itu gapapa. Kalian bisa baca versi aslinya di wattpad. Jadi ini cerita bukan milik JTK, JTK hanya me-remake doang. Dan sekali lagi JTK enggak plagiat.

Dan ini JTK remake jadi versi Yaoinya.

.

DON'T LIKE DON'T READ

HAPPY READING^^

SEKALI LAGI INI YAOI, YAOI. COWOK SAMA COWOK. JADI JANGAN BASH ATAU FLAME KALO GAK SUKA CERITA/CHARANYA. GAK SUKA GAK USAH MAKSA BACA CUMAN DEMI FLAME.

Damai itu indah bro, seindah tonjolan selangkangannya Uchiha Sasuke. *digampar*

'…..' mind

"….." talk

.

.

.

.

.

Naruto mengaduk-aduk sarapannya dengan pikiran menerawang, dia memikirkan

Gaara, kemarin sore dia meninggalkannya dan menitipkannya pada suster Sakura,

sore ini dia harus menjenguknya. 'Bagaimana kondisi Gaara? dia habis mengalami

serangan, bagaimana kalau dia mengalami serangan lagi?'

Sasuke menatap Naruto dari seberang meja, 'apa yang dipikirkan lelaki itu?

Kenapa dia tampak begitu tidak bahagia? Bukankah dia baru saja mendapatkan

uang dalam jumlah banyak yang bebas digunakannya melakukan apapun?

Ataukah dia menyesal sudah menyerahkan diri padaku? ' Pikiran buruk itu tiba-tiba

menyergap otaknya. 'Dalam hal apa dia menyesali sudah

menyerahkan diri padaku?'

Sasuke menggertakkan giginya, 'seharusnya lelaki ini bangga, aku, Sasuke

Uchiha, orang yang sangat kaya dan berasal dari keturunan keluarga kaya

terpandang di negaranya, yang bisa mendapatkan orang manapun yang dia

mau, bersedia menidurinya!'

Sasuke memikirkan semua keputusannya semalam. Ternyata ini bukan obsesi

mau pun kegilaan sesaat, ternyata bahkan setelah percintaan marathon mereka

semalam dan tadi pagi, dirinya masih menginginkan Naruto. Amat sangat

menginginkannya malahan, Setelah hasratnya terpuaskan pada tubuh Naruto,

bukannya semakin reda dia malahan makin ingin dan ingin lagi, lelaki itu begitu

polos tapi menggairahkan dan di dalam otaknya ini penuh dengan hasrat untuk

mengajari lelaki itu bagaimana cara memuaskannya.

Dengan kesal dia mengutuk pemikirannya itu, 'apakah aku sudah menjadi

seorang maniak seks?'

Sasuke memikirkan jeda sejenak tadi, ketika dia menghubungi Neji -pengacara

Kepercayaannya- dan menyatakan niatnya serta minta dibuatkan draft surat

perjanjiaannya. Neji adalah pengacara kepercayaannya sejak dulu, sekaligus

sahabatnya.

Lelaki bersurai coklat ini telah menempuh pendidikan hukum di Jerman, dan disanalah

mereka berkenalan. Beberapa tahun kemudian, setelah Neji pulang ke

tanah kelahirannya, dia membangun karir menjadi pengacara yang hebat. Dan ketika

Sasuke memutuskan memimpin cabang di Jepang, mereka bertemu lagi, lalu

menjalin kerjasama kerja sekaligus persahabatan.

Sasuke tahu Neji tidak akan bertanya apapun yang tidak perlu tentang

keputusannya. Lelaki itu sudah terbiasa dengan keputusan dan rencana-rencana

bisnis Sasuke yang ekstrim.

Tetapi saat Sasuke membicarakan hal tersebut, ada kecemasan dalam suara

Neji,

"Kau yakin? Ini memang surat jual beli, tapi ini ekstrim Sasuke, jual beli manusia,

jual beli pelayanan seks. Kau bisa dibilang melanggar hukum malahan kalau

suatu saat nanti terjadi masalah, apalagi mengingat kau warga negara asing,"

Sasuke tersenyum, Naruto tidak akan berpikir sejauh itu, bukannya lelaki itu

bodoh, tapi dia terlalu polos, entah kenapa Sasuke percaya bahwa Naruto akan

menepati janjinya.

"Buat saja Neji, selanjutnya biar aku yang menanggung", gumamnya yakin.

Neji tidak mengatakan apa-apa lagi, tetapi Sasuke yakin lelaki itu menunggu

sampai mereka bertatap muka baru dia akan mengajukan pertanyaan mendetail.

Neji adalah lelaki yang sangat analisis, Sasuke menahan senyumnya.

Pikirannya kembali ke masa sekarang, dan menatap Naruto yang seolah tidak

selera makan,

"Kenapa kau tidak memakan makananmu?", desis Sasuke, hanya sebuah

desisan dan Naruto terlonjak kaget, apakah dia sebegitu menakutkannya bagi

Naruto.

"Sasuke", Naruto menyebutkan nama Sasuke dengan pelan, di telinga

Sasuke suaranya terdengar begitu merdu bagaikan ajakan bercinta.

"Sesuai perjanjian kemarin, aku akan selalu ada kapanpun kamu

membutuhkanku", pipi Naruto bersemu merah mengingat arti dari kata,

"Aku...bolehkah aku meminta waktu untuk diriku sendiri setiap harinya dari jam

pulang kantor sampai jam sembilan malam?", suara Naruto terdengar tertelan

dan takut-takut.

Sasuke mengerutkan keningnya, sebenarnya itu bukan masalah, Sasuke

terbiasa bekerja sampai larut malam, biasanya jam sepuluh atau sebelas malam

dia baru sampai di rumah,

"Bukan masalah, aku selalu pulang larut malam", Sasuke berdehem, "tempat

tinggalmu sekarang, apakah memperbolehkan orang asing masuk?",

Naruto mengernyitkan kening,

"itu tempat kost satu kamar milik sebuah keluarga, tentu saja kau

boleh masuk, ada ruang tamu yang disediakan"

"Ruang tamu?", Sasuke mengangkat alis penuh arti dengan tatapan sedemikian

rupa

"Oh", pipi Naruto bersemu dan tak berani menatap Sasuke ketika menyadari arti

tatapannya.

"Aku tak mungkin bukan 'berkunjung' setiap malam ke tempatmu?", tatapannya

tampak menahan senyum.

Dan Naruto menyadari kebenaran kata-kata Sasuke, tempat kostnya hanyalah

sebuah kamar sederhana seadanya yang penting bisa tidur setiap malam. Bukan

level Sasuke untuk berada di sana, Naruto melemparkan pandangan sekilas ke

sekeliling ruangan.

"Aku tak mungkin membawamu setiap malam ke hotel, karena jam pulang

kerjaku yang tak tentu, tidak mungkin pula menyuruhmu stand by di hotel setiap

harinya", Sasuke merenung, "Tak mungkin juga membawamu tinggal di

rumahku, kalau sampai ada orang yang tahu bisa berbahaya buatmu juga. Aku bisa membuat mereka terkena serangan jantung jika membawamu pulang,",

Dengan santai Sasuke menyesap kopinya, "Oke, nanti siang setelah bertemu

dengan pengacaraku, kita cari apartement di dekat kantor"

Naruto hampir menyemburkan teh yang disesapnya mendengarnya, 'lelaki ini

bercanda?

Apartemen? Di dekat kantor? Kantor mereka berada di kompleks perkantoran

dan bisnis yang mewah, apartmen pun pasti juga kelas atas dan mahal,

bagaimana lelaki itu bisa mengatakan tentang mencari apartemen semudah itu?'

Sasuke sepertinya mengetahui pemikiran Naruto,

"Lebih mudah bagiku Naruto, aku biasanya capek dan bertemperamen buruk

setelah bekerja, aku tak mau repot-repot menjemput atau tetek bengek

reservasi hotel jika malam-malam tiba-tiba aku menginginkan bersamamu",

Sasuke tersenyum," Apartemen akan memudahkan kita, bukan berarti aku akan

mengunjungimu setiap malam", tambahnya cepat.

Naruto mengangguk gugup, yah, dia kan hanya mahluk yang sudah dibeli, dia

hanya bisa menuruti apapun kemauan Sasuke.

Setelah menghabiskan kopinya Sasuke melirik jam tangannya,

"Well, pengacaraku pasti sudah menunggu di bawah, enjoy your time, aku akan

menemuinya sebentar",

dengan santai lelaki itu berdiri, lalu tanpa diduga-duga menarik Naruto berdiri,

mendorongnya ke tembok lalu menciumnya dengan penuh gairah, lama dan

hangat dengan teknik yang sangat ahli, sehingga ketika dia melepas ciumannya,

Naruto hampir tak bisa berdiri membuat Sasuke musti menahan tubuhnya,

dengan lembut lelaki itu mendudukkan Naruto di kursi,

"Sebenarnya sudah sejak tadi aku ingin melakukan itu", gumamnya dalam

senyum puas sebelum pergi meninggalkan Naruto.

.

.

.

"Kau benar-benar serius tentang ini Sasuke?", Neji bertanya saat Sasuke

mempelajari salinan kontrak itu,

Sasuke mengangkat matanya dan menatap Neji, lalu menunjukkan kontrak itu,

"Kau pikir aku tidak serius? Perjanjian ini senilai tiga ratus juta man!"

"Aku tak habis pikir, kenapa seseorang sepertimu yang bisa mendapatkan lelaki atau wanita manapun yang kau mau, melakukan hal seperti ini demi dia seorang? Lelaki

yang sangat murahan dan materialistis sehingga terang-terangan menjual dirinya

padamu demi uang? Apa yang ada dipikiranmu Bos?"

Kening Sasuke berkerut tidak suka mendengar kata-kata Neji, meskipun dia

tahu itu semua benar.

"Kau tahu bagaimana rasanya ketika melihat seseorang, dan tiba-tiba

seluruh tubuhmu menginginkannya?", Sasuke tersenyum melihat ekspresi

skeptis Neji, tentu saja Neji tidak tahu, dia sendiri merasa aneh dengan

perasaannya, "Yang pasti aku menginginkannya, dan aku masih belum bosan,

tiga ratus juta tak ada artinya buatku"

"Tapi kau orang yang sangat pembosan, seminggu lagi kau pasti akan

mencampakkannya, dan menyesali kontrak ini"

"Dan aku tetap akan merasa puas karena setidaknya aku tidak penasaran lagi",

jawab Sasuke yakin.

Neji mengangkat bahu,

"Aku tetap tidak setuju, tapi ini semua keputusanmu, serahkan kontrak pada

lelaki itu, pastikan dia tandatangan, beri salinannya, lalu serahkan yang asli

padaku",

Neji menyandarkan tubuhnya dikursi, "Naruto ini, apakah aku pernah

melihatnya sebelumnya?"

Sasuke menggeleng,

"Dia hanya pegawai biasa, seorang supervisor lapangan, kau tidak mungkin

pernah melihatnya", jawabnya tegas.

"Apakah dia lelaki berkulit tan, berambut pirang, pipi dengan dua garis lucu dan wajah polos dan tatapan seperti anak kecil yang ada di area pameran mendampingi bosnya yang penjilat waktu itu?"

Sasuke langsung bersiaga, 'Kenapa Neji ingat pada Naruto? Apakah Neji

juga memperhatikan Naruto? Apakah dia juga tertarik padanya?' Insting

posesifnya langsung menyeruak keluar,

Neji tertawa melihat tatapan tajam Sasuke,

"Hey hey jangan menatapku seperti itu, aku memperhatikannya karena waktu itu

kau memandangnya dengan begitu intens, tatapanmu seolah-olah tak bisa lepas

darinya, seperti pemburu yang ingin melahap mangsanya",

Neji mengangkat bahu,

"Orang lain mungkin tak akan menyadarinya, tapi aku sudah mengenalmu sejak

lama, dan aku tahu betapa intensnya kau jika sudah berkonsentrasi pada satu

hal, malam itu kau kehilangan konsentrasimu, lelaki itu menarik seluruh

perhatianmu, kau sulit berkonsentrasi pada hal lain selain itu",

Neji menarik napas panjang, "Well jika dengan orang yang sama ini kau

terlibat, semoga Tuhan memberkatimu sahabatku."

.

.

Semua terjadi begitu cepat, Sasuke langsung mendapatkan apartemen yang

diinginkannya, sebuah apartemen yang sangat mewah dengan privasi yang

sangat terjamin, Naruto tidak berani membayangkan berapa harganya, tapi

Sasuke bersikap sangat santai, katanya itu semua hanyalah investasi.

Dengan sangat efisien Sasuke membantu Naruto membereskan barangbarangnya

yang tentu saja tidak banyak, untuk dipindahkan ke aprtement, lalu

menyelesaikan pembayaran kost dan sekaligus berpamitan dengan ibu kostnya.

Mereka berdua berdiri di tengah ruang tamu apartemen yang sangat mewah itu,

Sasuke tersenyum pada Naruto yang berdiri kaku di tengah ruangan,

"Well anggap saja ini rumahmu sendiri", dia lalu melirik jam tangannya, "Aku

harus kembali rumahku, pengurus rumah tanggaku pasti bertanya-tanya apa

yang kulakukan sampai aku tidak memberi kabar, dia akan kebingungan

menjawab telepon yang masuk, kau, silahkan atur apartemen ini sesuai

seleramu, jika ada yang kurang ata kau ingin menambah sesuatu, bilang saja"

Naruto memandang sekeliling apartemen yang penuh dengan interior mewah

dan elegan itu, penataannya saja terlalu mewah dan mungkin berlebihan

untuknya, tidak, dia mau mengganti apalagi?

"Sementara kau pergi,,,,bolehkah aku keluar sebentar? Kau ingat? Sedikit waktu

untuk diriku sendiri seperti yang kau janjikan?"

Sasuke mengangkat bahu,

"Silahkan", dia mengeluarkan dompetnya,"Kau butuh uang?",

"Tidak...!", Naruto menjawab tegas, uang Tiga ratus juta yang ditransfer Sasuke

tadi siang sudah lebih dari cukup, dia tidak butuh uang apa-apa lagi dari lelaki

itu,

Sasuke sepertinya bisa membaca pikiran Naruto,

"Uang yang kuberi tadi, itu murni untukmu silahkan kau gunakan sesuka hatimu,

tetapi untuk sehari-hari, aku sudah berjanji akan membiayaimu, ingat kan

penawaranku di ruangan kerjaku dulu?",

Sasuke mengeluarkan kartu berwarna keemasan dari dompetnya,

"Ini kartu debit, isinya lebih dari cukup jika kau ingin membeli sepuluh mobil

sekalipun", dia lalu menyebutkan nomor PIN nya dan menyuruh Naruto

mengingatnya baik-baik. Naruto sebenarnya ingin menolaknya, tapi dia tak ingin

berlama-lama berdebat dengan Sasuke disini, lagipula dia tinggal

menyimpannya di dompet dan tak akan pernah memakainya, toh Sasuke tidak

akan tahu.

Sasuke memakai jasnya , puas karena Naruto menerima kartu debitnya, "Kita

akan buat kartu kredit atas namamu besok. Nanti malam, kalau tak ada urusan

aku akan kesini", Tatapan Sasuke ketika mengucapkan 'nanti malam' begitu

intens, membuat pipi Naruto memerah.

Sepeninggal Sasuke, Naruto segera memakai jaket, membawa tasnya

dan melangkah pergi, lobyy apartemen yang begitu mewah itu benar-benar

membuatnya minder, apalagi penjaga pintu menyapanya dengan begitu penuh

hormat ketika dia melangkah keluar,

"Anda ingin dipanggilkan taxi, sir?", sapanya dengan sopan.

Naruto cepat-cepat menggeleng, tidak mungkin kan dia bilang kalau dia mau

menunggu kendaraan umum di depan perempatan sana?

"Tidak", jawabnya," saya menunggu jemputan, di depan", gumamnya singkat,

lalu sebelum penjaga pintu itu bertanya-tanya lagi, Naruto segera mengangguk

sopan dan melangkah pergi.

Perjalanan ke rumah sakit tidak berlangsung lama, mungkin karena hari minggu

jadi jalanan tidak begitu macet,

Naruto berpapasan dengan Suster Sakura ketika dia hendak memasuki ruangan

perawatan Gaara,

"Kau tidak apa-apa Naruto? Kau kelihatan pucat,"

Naruto meraba pipinya, benarkah? Apakah dia tampak berbeda sekarang?

Setelah dia menyerahkan...

"Aku,,, aku mencari uang untuk biaya operasi Gaara", gumamnya gugup,

Suster Sakura menatap Naruto sedih,

"Naruto uang tiga ratus juta itu sangat banyak, aku juga tahu kalau kau masih

menanggung hutang di perusahaan sebanyak empat puluh juta, begini nak, aku

punya simpanan sekitar lima puluh juta, mungkin itu bisa membantu, dan kalau

aku bisa menaruh surat tanahku di bank untuk mengajukan pinjaman, mungkin

kita bisa mendapat beberapa tambahan..."

"Suster, saya sudah mendapatkan uangnya", Naruto bergumam lemah,

Kata-kata Suster Sakura langsung terhenti seketika,

"Apa?...Sudah mendapatkan uangnya? Apa maksudmu nak? Darimana...?",

kata-katanya langsung terhenti melihat Naruto mulai menangis,

"Ada apa nak? Ceritakan padaku jika itu bisa membantu, mungkin itu bisa

membuatmu lega",

"Mungkin setelah ini suster akan jijik pada saya", Naruto terisak pelan.

Suster Sakura mengelus rambut Naruto dengan lembut,

"Tidak akan anakku, aku menyayangimu seperti anakku sendiri, dan seorang ibu

pasti akan menerima anaknya apa adanya"

Naruto menarik napas panjang, dia memang sangat membutuhkan tempat untuk

berbagi cerita, dan amat sangat bersyukur ada Suster Sakura yang mau

mendengarkannya, lalu meluncurlah cerita itu dari bibirnya,

"Aku tidak menyalahkanmu Naruto, yang aku tidak habis pikir, betapa bejatnya

bosmu itu memanfaatkan kondisimu untuk kepuasan dirinya!", geram Suster

Sakura.

Naruto buru-buru mencegah kemarahan Suster Sakura,

"Bukan suster, sampai sekarang Sasuke tidak tahu kalau aku memerlukan

uang itu untuk biaya perawatan Gaara, dia mengira aku lelaki muda dengan

gaya hidup berfoya-foya yang punya banyak hutang karena gaya hidupku, jadi

dia tidak segan-segan mengambil atas pembayarannya"

Suster Sakura mengerutkan keningnya,

"Kenapa kau tidak mengatakannya Naruto? setidaknya dia bisa lebih

menghargaimu jika tahu alasanmu yang sebenarnya",

Naruto menggelengkan kepalanya,

"Tidak suster, aku tidak mau Sasuke mengetahui tentang Gaara, lelaki itu

tidak mudah ditebak, tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika tahu tentang

Gaara nanti",

Suster Sakura menarik napas,

"Setidaknya dia tidak brengsek seperti lelaki hidung belang yang mungkin

nantinya akan menjerumuskanmu", tiba-tiba tatapan Suster Sakura berubah intens

dan hati-hati,

"Apakah dia berbuat kasar atau tidak Naruto?"

Naruto saat itu sedang melamun sehingga tidak menyadari maksud kata-kata

Suster Sakura,

"Eh? Apa Suster?"

Suster Sakura tampak salah tingkah,

"Apakah dia bertindak kasar semalam Naruto?, maksudku itu kan pertama

kalinya, kebanyakan bottom akan merasa tidak nyaman, apalagi jika

pasangannya bertindak kasar",

Wajah Naruto langsung merah padam,

"Tidak, Sasuke tidak kasar...Oh Tuhan!", Naruto menutup mukanya dengan

kedua tangannya,"Aku malu sekali suster, tiap kali aku memandang diriku di

cermin aku merasa seperti manusia yang sangat tidak berharga."

Suster Sakura menepuk pundak Naruto lembut, menenangkannya,

"Naruto, kita semua tahu alasanmu melakukan ini, aku sendiri dapat mengerti

dan menerimanya, pengorbananmu demi Gaara sudah luar biasa besarnya, aku

yakin Tuhan pasti akan mengerti", tiba-tiba wajahnya berubah profesional,

"Naruto aku yakin, Sasuke ini akan 'mengunjungimu' secara berkala bukan?

Mungkin pertanyaan ini mengganggumu, tapi aku harus bertanya,apakah

kemarin dia menggunakan pengaman?",

Naruto memandang Suster Sakura dengan bodoh,

"Pengaman?"

Barulah ketika Suster Sakura menatapnya dengan intens dan penuh arti, Naruto

menangkap maksudnya, wajahnya memerah lagi,

"Oh, itu...", suara Naruto hilang, "kemarin dia memakainya, mungkin untuk mencegah penularan penyakit. Kupikir dia tahu tentang pengaman ketika melakukan seks dengan sesama jenis,"

Suster Sakura berdehem,

"Baik, kalau begitu dia lelaki yang cukup bertanggung jawab, bagaimana kondisi

tubuhmu sayang?",

"Eh, aku baik-baik saja Suster"

"Kalau begitu mari kita bicarakan tentang hal seperti ini, kau juga perlu

membicarakan ini dengan Sasuke "

.

.

Naruto meletakkan barang belanjaannya di meja dapur, tadi dia mampir

sebentar ke supermarket untuk membeli bahan makanan.

Kondisi Gaara baik-baik saja dan cukup stabil, itu sudah membuatnya cukup

tenang, Operasi sudah dijadwalkan 1minggu lagi, Sekarang Naruto hanya bisa

berdoa dan menyerahkan semuanya pada Tuhan,

Dengan ragu, Naruto memandang sekeliling apartemen, lalu menarik napas

panjang, semua ini terlalu mewah, terlalu berlebihan untuknya tinggal seorang

diri di tempat seluas dan semewah ini, tadi dia menyempatkan diri mengatur

pakaiannya yang sedikit, sehingga hanya memerlukan waktu sebentar, setelah

itu dia sempat terdiam lama bingung mau berbuat apa, apalagi ditempat yang

luas begini, suasana terasa sangat lengang dan sendirian. Baru kemudian Naruto

menyadari bahwa dia belum sempat sarapan sejak tadi pagi, jadi dia

memutuskan memasak makan malamnya.

Setelah mengatur belanjaannya yang sedikit itu di dalam lemari es raksasa,

sehingga tampak menggelikan karena lemari itu terlihat kosong,

Naruto mengeluarkan beberapa butir telur, sedikit sosis dan sayuran, dikocoknya

dengan pelan sambil berdendang, lalu dituangnya adonan omelet sederhana ini

ke wajan mungil yang sudah diberi mentega.

Aroma harum telur menyeruak ke seluruh dapur,

"Baunya enak sekali"

Suara itu terdengar begitu tiba-tiba, tak disangka dan sangat menegejutkan

sehingga Naruto hampir menjatuhkan mangkuk bekas adonan telurnya,

Dengan gugup dia menoleh ke pintu dapur, Sasuke bersandar di sana,

mengenakan baju santai dan tampaknya habis mandi,

"I,,,iya, aku memasak makan malamku", jawabnya gugup lalu memusatkan

perhatiannya lagi ke telurnya.

Sasuke melangkah dengan santai masuk ke dapur, tak mempedulikan

kegugupan Naruto, dia berdiri dekat di belakang Naruto, lalu menengok

penggorengan,

"Apa itu?", tanyanya tertarik melihat masakan Naruto.

"Eh, ini? Ini telur goreng kuberi campuran sosis dan sayuran", Naruto berusaha

bertingkah wajar,

"Seperti omelet?", kali ini Sasuke tampak benar-benar tertarik,

"Ya seperti itu, tapi ini lebih sederhana. Naruto menjawab sambil melirik ke

ekspresi Sasuke, baru sekarang Naruto sadar, ternyata lelaki ini tertarik pada

hal-hal baru yang belum pernah ditemuinya sebelumnya.

"Buatkan aku satu ya"

Naruto menoleh mendengar permintaan Sasuke,

"Memangnya kamu mau?", tanyanya ragu.

Lelaki itu mengangkat bahunya,

"Siapa tahu? Lagipula aku lapar sekali, setelah menyelesaijan urusan rumah, aku

langsung kemari, kau kan masih penyesuaian diri disini, jadi aku ingin melihat

kondisimu."

'Dasar perayu ulung,' Naruto memaki dalam hati, orang seperti Sasuke tidak

segan-segan memanipulasi pikirannya agar mau melakukan apapun

yang dia inginkan, pura-pura mengkuatirkanku, huh!

Sasuke masih berdiri di belakangnya, napasnya terasa hangat di ubun-ubunnya

karena Sasuke memang jauh lebih tinggi dibanding Naruto, tiba-tiba saja,

tangan lelaki itu ,mencengkeram pundak Naruto mendekatkannya ke belakang,

kepalanya turun dan bibirnya mengecup leher Naruto dari samping dengan

kecupan selembut bulu dan panas, sehingga tubuh Naruto bagaikan disetrum

dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Aku menunggu di sofa ya, kita makan disana saja", gumam Sasuke pelan, lalu

melangkah pergi meninggalkan Naruto di dapur, yang mencoba menetralkan

nafasnya.

.

.

Lelaki itu makan seperti biasa, dengan elegan. Sedangkan Naruto tidak bisa

berkonsentrasi pada makanannya, dia tidak bisa mengalihkan tatapannya dari

Sasuke.

Ternyata Sasuke suka masakan biasa, dari penampilan dan gayanya,

kelihatannya lelaki itu hanya mau makan makanan tertentu dan yang pasti kelas

atas, tak disangka dia bisa duduk santai di sofa menikmati sepiring omelet

sederhana.

"Kenapa?", Sasuke tiba-tiba menatap tajam setelah suapan terahkirnya, dia

merasakan tatapan Naruto selama dia makan,

Naruto langsung menundukkan kepalanya gugup,

"Eh...tidak, tidak apa-apa."

Sasuke tersenyum,

"Pasti kau heran kenapa aku mau makanan rumahan kan?",

Dia lalu meletakkan piringnya, "Aku juga manusia Naruto, kita tidak ada

bedanya, kadangkala penampilan seseorang membuat kita berpikir bahwa

manusia yang satu berbeda dengan yang lain",

Sasuke mengangkat bahunya, "kuakui memang aku menyukai makanan

berkualitas dan bercitarasa tinggi, tapi kadangkala, aku bosan, masakan

sederhana buatan sendiri terasa lebih nikmat",

Dengan santai lelaki itu berdiri lalu menuang kopi dari poci di atas meja

minuman, dan menyesapnya ringan.

"Dan suka minum kopi",

Tanpa sadar Naruto mengomentari kebiasaan Sasuke, sejak kemarin,

diamatinya Sasuke selalu meminum kopi setiap ada kesempatan.

Lelaki itu tertawa mendengar komentar Naruto,

"Ya, kopi berkualiatas juga", gumamnya sambil mengedipkan sebelah matanya.

Naruto menunduk, entah kenapa Sasuke yang santai dan ramah ini lebih

membuatnya merasa nyaman, dibandingkan Sasuke yang kaku dan dingin di

kantor,

"Habiskan makananmu, setelah itu kita pindah ke ruang baca, kau bisa membaca

atau melihat televisi, ada beberapa pekerjaan lagi yang musti kubereskan.

Naruto segera menyelesaikan makannya dan mencuci piring sementara Sasuke

membuat secangkir kopi lagi, sekaligus secangkir teh untuk Naruto,dan

membawanya ke ruang baca,

Dengan enggan Naruto menyusul ke ruang baca, Sasuke sedang duduk di sofa,

menghadap notebooknya dan tampak Serius, dia hanya melihat sekilas pada

Naruto,

"Duduklah, minum tehmu", gumamnya, lalu kembali serius lagi menghadap

notebooknya.

Naruto sebenarnya mengantuk, tapi dia tidak enak kalau harus masuk kamar

duluan, apalagi apartemen ini hanya mempunyai satu kamar yang luas, kamar

lain hanya kecil dan diperuntukkan sebagai kamar pembantu, Naruto tidak tahu,

apakah Sasuke akan menginap ataupun pulang, dia sama sekali tidak

mengatakan rencananya.

Naruto menghirup tehnya, lalu duduk di sofa di seberang Sasuke, dia

mengambil sebuah majalah dan membacanya sambil menenggelamkan tubuhnya

di sofa.

Bacaan itu menarik, dan keheningan itu membuatnya merasa nyaman, hingga

lama-lama dia tak bisa menahan kantuknya.

.

.

Naruto merasa ada yang mengusap lembut rambutnya, lalu tubuhnya terangkat

dan terasa dipeluk hangat, dia merasakan tubuhnya terayun-ayun. Ketika dia

membuka matanya yang berat, dia menyadari Sasuke sedang menggendongnya

ke kamar, lelaki itu tak menyadari Naruto membuka matanya, dengan langkah

pelan dan hati-hati, dia berjalan ke arah kamar,

Naruto langsung pura-pura memejamkan matanya lagi begitu Sasuke dengan

lembut membaringkan tubuhnya di ranjang dan menyelimutinya.

Setelah itu tak ada gerakan, tetapi Naruto masih belum berani membuka

matanya, 'Apakah Sasuke memutuskan pulang atau tinggal?'

Lalu ada gerakan di ranjang di belakangnya, ternyata lelaki itu menginap disini,

Naruto menyadari dari selimut yang tersingkap dan gerakan tubuh lelaki itu

menyelinap di balik selimut,

Kemudian, tubuh hangat Sasuke mendekat dan merengkuh Naruto dari

belakang, Pertama kali Naruto merasa tidak nyaman, tapi kemudian rasanya

hangat ditengah kamar yang dingin itu, dan dia terlelap.

.

.

Naruto terbangun dengan rasa haus yang amat sangat, biasanya sebelum tidur

dia meminum air putih, tapi tadi malam dia tidak melakukannya.

Dengan tak nyaman dia bergerak gerak gelisah,

"Ada apa Naruto?", sosok yang memeluknya dari belakang bertanya, suaranya

sangat segar,

'Tidakkah dia tidur?' Gumam Naruto dalam hati,

"Haus", ahkirnya Naruto bisa bersuara meskipun parau.

Sasuke langsung bergerak turun dari ranjang dan menuang segelas air di meja

minum, lalu mengitari ranjang berdiri di samping sisi Naruto terbaring, lelaki itu

tampak tinggi menjulang, hanya menggunakan celana piyama sutra hitam dan

telanjang dada,

"Duduk, minum."

Dengan pelan Naruto duduk dan menerima gelas besar berisi air putih itu, masih

setengah minuman tersisa, Sasuke mengambil gelas itu,

"Apakah kau sudah bangun?", Naruto mengernyit karena suara Sasuke sekarang

menjadi parau.

Dengan masih bingung dia menganggukkan kepalanya,

"Bagus", Sasuke menenggak sisa air putih di gelas Naruto sampai tandas lalu

setengah membantingnya di meja samping ranjang.

Kemudian dengan gerakan tiba-tiba, dia mendorong Naruto hingga terbaring di

ranjang dan menindihnya, napasnya terasa hangat di atas tubuh Naruto, dan

mata hitamnya tampak berkabut dengan pupil yang mengecil sehingga tampak

hitam, di tengah-tengah mata kelamnya.

Naruto agak terperanjat setengah membelalak memandang wajah Sasuke yang

sangat dekat di atasnya, napasnya terangah-engah penuh antisipasi, ketika

kemudian Sasuke mengecup bibirnya dengan sangat intim, semula hanya

ciuman biasa, bibir dengan bibir, itupun sudah membuat Naruto panas dingin

karena begitu ahlinya Sasuke.

Menggerakkan bibirnya, Setelah sebuah ciuman yang lama dan panas Sasuke

mengangkat wajahnya dan tersenyum,Naruto bisa merasakannya karena bibir

Sasuke hanya berjarak beberapa inci dari bibirnya,

"Kau tidak biasa berciuman ya?"

Naruto memalingkan mukanya dengan pipi memerah mendengar pertanyaan

blak-blakan itu, tapi Sasuke meraih dagunya dan menempelkan bibir mereka

lagi,

"Tirulah apa yang kulakukan padamu", bibir Sasuke bergerak di bibir Naruto,

dan ketika Naruto mengikutinya, Sasuke mengerang senang, "ya...ya bagus,

begitu...tidak,,,jangan gigit...bagus...bagus...buka mulutmu...ah sayang...",

Sasuke terus memberikan instruksi di sela sela ciumannya yang makin panas

dan bergairah, dan Naruto menurutinya, lebih dikarenakan ingin tahu, ketika

Sasuke membuka mulutnya Naruto mengikutinya,ketika lumatan Sasuke makin

dalam dan belaian lidahnya membelai Naruto dengan ahli, Naruto mengikutinya

dengan tersendat-sendat, meskipun sepertinya itu cukup memuaskan bagi

Sasuke karena lelaki itu mengerang lagi dan memperdalam ciumannya, ciuman

dengan bibir terbuka dan permainan lidah yang begitu panas dan seolah tidak

akan berahkir, Naruto bahkan tidak pernah menyadari bahwa sebuah ciuman

bisa dilakukan dengan sedalam dan seintim itu!

Lama kemudian Sasuke mengangkat kepalanya, hanya sedikit seolah olah ingin

tetap berdekatan dengan Naruto, matanya tampak berkabut dan napasnya

terasa bergemuruh di dadanya,

"Itu tadi yang namanya french kiss...",gumamnya lembut, lalu tangannya mulai

bergerak dengan ahli membuat Naruto melengkungkan punggungnya merasakan

sengatan kenikmatan yang tidak diantisipasinya,

Tubuh telanjang mereka berdua bergesekan. Dengan lembut Sasuke mengajari

Naruto bagaimana cara menyentuhnya, bagaimana cara memuaskannya. Lelaki

itu suka disentuh dimana-mana, dia akan mengeluarkan erangan pendek

tertahan ketika Naruto menyentuhnya.

Dan itu mempesona Naruto, seorang lelaki yang begitu dominan dan jantan

seperti Sasuke, mengerang nikmat di bawah sentuhannya. Dengan takut-takut

Naruto menyusuri bagian dalam lengan Sasuke yang kekar, membuat napas

Sasuke terengah,

"Kau akan membunuhku dalam kenikmatan", bisik Sasuke Serak, lalu melumat

bibir Naruto penuh gairah, "Dan aku akan mati bahagia", desahnya.

Sasuke menyatukan dirinya dengan lembut, melihat reaksi Naruto, dan ketika

dia yakin tidak ada kesakitan lagi, dia mendesak perlahan, menembus

kehangatan yang langsung membungkusnya rapat, membuatnya tergila-gila.

"Bagus sayang, jangan ditahan, aku akan mengajarimu...ah...kau begitu hangat

dan siap untukku..."

Suara Sasuke tenggelam di sela sela cumbuannya yang sangat ahli,

menghanyutkan Naruto kedalam pusaran gairah yang selama ini tidak pernah

dikenalnya. Dan ketika Sasuke membuat Naruto mencapai puncak kenikmatan

untuk kesekian kalinya. Lelaki itupun menyerah dalam beberapa hujaman tajam,

mengejar kenikmatannya sendiri.

.

.

Naruto terbangun merasakan sinar matahari menerpanya, dia mengernyitkan

alisnya dan membuka matanya pelan-pelan, Sinar matahari memang sudah

mengintip malu malu dari balik gorden jendela balkon kamar apartemen itu,

Naruto menyadari ada tangan kekar yang memeluk perutnya dengan posesif,

Sasuke masih tidur, napasnya terasa naik turun dengan teratur di punggung

Naruto. Mereka berbaring miring seperti sendok dan garpu, dengan Naruto

membelakangi Sasuke berbantalkan salah satu lengan Sasuke, sementara

lengannya yang lain memeluk Naruto erat, menempelkan punggung Naruto

sedekat mungkin dengan dadanya.

Mereka telanjang, dan selimut tebal yang seharusnya menyelimuti mereka sudah

tertendang oleh Sasuke entah kemana, Seharusnya Naruto kedinginan, tapi

tidak, karena Sasuke memeluknya dengan begitu eratnya,

Tiba-tiba sengatan rasa bersalah seperti memukulnya, disinilah dia berbaring

nyaman dalam pelukan laki-laki yang membelinya sementara Gaara...

Helaan napas Naruto pasti membangunkan Sasuke karena lelaki itu terasa mulai

bergerak, lalu sebuah kecupan lembut mendarat di pelipis Naruto,

"Selamat pagi", suara lelaki itu terdengar serak tapi sarat dengan kepuasan

sensual yang dalam. Tentu saja lelaki itu puas, dia hampir tidak membiarkan

Naruto tidur semalaman.

Naruto tidak menjawab, tetapi berusaha menarik selimut yang terlempar jauh di

kakinya untuk menutupi ketelanjangannya.

Usahanya gagal karena Sasuke mempererat pelukannya di pinggangnya

sehingga Naruto tidak bisa bergerak,

"Tidak perlu selimut sayang, aku sudah mengenal setiap jengkal tubuhmu secara

intim, tak ada yang terlewatkan...begitu juga sebaliknya hmmm?"

Wajah Naruto memerah sampai semerah-merahnya, bahkan telinganyapun

memerah dan Sasuke terkekeh melihatnya,

Lalu tiba tiba tawa itu hilang dan Naruto merasakan gairah Sasuke bangkit lagi,

Dengan bingung dia menolehkan kepalanya dan langsung bertatapan dengan

mata hitam Sasuke yang menyala penuh gairah,

"Lagi?", Naruto tanpa sadar mengucapkan ketakjubannya, sebegitu cepat

Sasuke menginginkannya lagi setelah semalam?, hanya Tuhan dan dirinya yang

tahu bagaimana bergairahnya Sasuke semalam, Naruto pikir Sasuke sudah

terpuaskan, tetapi sepertinya dia salah.

"Aku juga tidak menyangka", gumam Sasuke parau, "Sepertinya kau akan

menjadi penyebab kematianku"

kemudian Sasuke meraih Naruto lagi ke dalam pelukan penuh gairahnya.

.

.

Naruto hampir saja terlambat kerja, dia menarik napas panjang melihat jam

absennya...hanya kurang satu menit.

Dengan segera dia melangkah masuk ke mejanya, teman-teman seruangannya

sudah mulai sibuk bekerja. Narutopun mulai berkonsentrasi, tapi matanya hanya

menatap kosong ke layar komputer, pikirannya mengingat ke kejadian semalam

dan dia mengernyit, Dia merasa murahan sekali, menjual diri kepada laki-laki itu

tetapi terlena dengan rayuannya. Mau bagaimana lagi, lelaki itu adalah jelmaan

Eros penakluk wanita dengan segala pengalaman dan keahliannya, sementara

Naruto baru pertama kalinya bercinta.

'Tuhan, ampunilah dosa-dosaku,' Naruto memejamkan matanya dan

menundukkan kepalanya sebelum mulai menenggelamkan diri dalam pekerjaan.

"Iya, aku juga tidak menyangka", suara berbisik dua rekan disebelahnya menarik

perhatian Naruto, "Rasanya seperti bukan Mr. Sasuke."

Mendengar nama lelaki itu disebut mau tak mau Naruto menajamkan telinganya,

mendengarkan.

"Tadi kami serombongan habis sarapan berpapasan dengan Mr. Sasuke, kami

hanya menunduk karena biasanya Bos besar itu hanya melirik dari sudut

matanya, mengangguk selama sedetik lalu pergi dengan acuh tak acuh."

Wanita itu menghembuskan napas takjub, "tapi tadi,,,, astaga! Mr. Sasuke

bahkan berhenti, tersenyum ramah dan menanyakan kabar kita semua...",

suaranya terpekik hampir histeris, "Dan senyumnya yang sangat jarang

itu,,,bukannya menjawab semuanya malah terpesona dengan mulut menganga,

ada yang mencoba menjawab tapi yang keluar hanya suara tercekik", lanjutnya

menggebu-gebu.

"Mr. Sasuke sama sekali tidak merasa terganggu dengan sikap konyol kami. Dia

malah tertawa geli dan melambaikan tangan ramah sebelum pergi...benar

benar anugerah tak terlupakan! Menurutmu..."

Naruto beranjak berdiri ke kamar mandi, tak tahan mendengarkan pemujaan

pemujaan terhadap laki-laki itu.

Tapi tetap saja dia ikut bertanya tanya, Naruto terpekur di depan pintu kamar

mandi.

Dia berpikir mengenai perubahan sikap Sasuke dikantor, bosnya itu memang

selalu memasang wajah dingin, ketus dan jarang bicara, banyak wanita di sini

yang takut sekaligus memujanya karena sikapnya itu...tapi kenapa dia

berubah ramah?

"Memikirkanku?"

Suara yang diucapkan dengan pelan dan lembut itu membuat Naruto

membalikkan tubuhnya mendadak dengan terlonjak kaget dan hampir menabrak

orang yang berdiri dibelakangnya.

Matanya langsung bertatapan dengan mata kelamnya yang tajam, obyek

pikirannya.

'Dan kenapa si bos ada di sini? Di lorong menuju kamar mandi lantai 3 padahal

dia punya kamar mandi sendiri di ruangannya?'

Tanpa sadar Naruto mengucapkan pertanyaannya keras-keras,

Sasuke tertawa,

"Aku sedang menemui kepala personalia di lantai yang sama, tiba tiba ingin ke

toilet, tidak bolehkah?", suaranya makin melembut, lalu matanya berubah tajam.

Dan Naruto mengenali tatapan itu, tatapan kalau...

"Damn! Aku sudah amat sangat merindukanmu!"

Dengan cepat Sasuke meraih Naruto,lalu menciumnya, dengan gairah

menggebu-gebu seolah-olah sudah lama tidak berciuman, padahal baru tadi pagi

mereka...

Suara percakapan yang sayup-sayup mendekat membuat Naruto

terperanjat,dengan secepat kilat didorongnya Sasuke dan dia setengah berlari

ke luar.

Didengarnya suara Sasuke dengan ramah membalas sapaan orang-orang yang

baru datang ke toliet, Suaranya terdengar biasa saja bahkan sedikit kegembiraan

kecil terselip di sana. 'Apakah lelaki itu geli atas sikapnya?

Sialan dia! Tak sadarkah dia kalau menyergapnya seperti itu di toilet kantor

benar-benar tindakan nekat? ' Jantungnya masih berdentam-dentam dengan

kuatnya seakan ingin meloncat dari tempatnya...

Tapi...Naruto mengernyit, apakah jantungnya berdetak keras karena

ketakutan...ataukah karena ciuman spontan yang tidak diduganya itu...?

.

.

"Kau tampak senang", Neji menatap Sasuke yang sedang memeriksa berkas

kontrak kerja mereka dengan supplier baru.

Sasuke mengalihkan tatapannya dari berkas di mejanya dan menatap Neji

muram,

"Bukannya itu bagus? Tapi kenapa aku mendengar nada mencela dari suaramu?"

Neji mengangkat bahu,

"Aku cuma tak ingin kau mabuk kepayang dan melakukan hal-hal yang akan kau

sesali nanti."

Tatapan Sasuke berubah tajam,

"Aku?,,,, Mabuk kepayang?... Apakah kau sedang bercanda?"

"Bukan begitu maksudku, tapi sepertinya kau agak berubah, kau tahu, agak

tidak fokus, bahkan kata sekertarismu tadi pagi kau terlambat, pertama kalinya,

katanya."

"Dan kau kira itu karna aku mabuk kepayang pada Naruto, begitu?...Baik !

Memang aku terlambat karena terlalu asyik bercinta dengan Naruto, lalu

kenapa? Perusahaan ini sebagian besar milikku! Apakah seorang pemilik tidak

diperbolehkan terlambat?, toh keterlambatanku tidak merugikan perusahaan

ini!

"Sasuke", Neji berusaha meredakan emosi Sasuke, "Aku tidak bermaksud

membuatmu marah, aku hanya mencemaskanmu."

Sejenak Sasuke tidak berkata-kata, tatapannya menyala-nyala, matanya

bagaikan api biru yang membakar. Tapi kemudian dia berhasil mengendalikan

emosinya. Dihelanya napas keras-keras.

"Kau benar, maafkan aku Neji."

Sebelum Neji dapat menjawab, ponsel Sasuke berdering, Sasuke meliriknya

dan dahinya berkerut melihat siapa yang menelponnya.

"Ada apa Karin?"

Mendengar nama Karin disebut, Neji langsung berdiri dan memberi isyarat

berpamitan pada Sasuke, Sasuke mengangguk mempersilahkan dan Neji

berjalan keluar ruangan.

Di seberang, suara Karin yang lembut dan elegan terdengar mengalun.

"Aku bertanya-tanya, kenapa kau tak menghubungiku sayang, sabtu kemarin

kau mendadak membatalkan acara makan malam kita, dan kemudian aku sama

sekali tak bisa menemukanmu, apakah ada pekerjaan mendadak yang

menyulitkanmu?"

Wajah Sasuke berubah dingin, dia sama sekali tidak pernah menjalin komitmen

dengan Karin. Mereka diperkenalkan pada suatu acara makan malam, setelah

itu Karin menghubunginya, mengajak makan malam berdua karena ingin

mengenal lebih dekat. Sasuke tidak menolaknya.

baginya Karin cukup cantik dan saat wanita itu mendekatinya, kenapa tidak?

Pertemuan mereka berlanjut ke pertemuan-pertemuan berikutnya, Tetapi di

saat awal Sasuke sudah menegaskan kepada Karin bahwa hubungan yang

mereka jalin adalah hubungan tanpa ikatan. Saat Karin mengundangnya ke

tempat tidurnyapun Sasuke sudah menegaskan itu dia lakukan tanpa ikatan dan

tanpa cinta.

Tapi sekarang Karin sepertinya besar kepala karena Sasuke saat itu tidak

dekat dengan wanita lain selain dirinya, dalam otaknya dia mengira bahwa

dirinya telah berhasil menaklukkan Sasuke dan membuat lelaki itu setia

padanya, Dia tidak tahu bahwa saat itu pikiran Sasuke sedang terpaku untuk

mendapatkan orang lain, Naruto.

Sekarang Sasuke merasa muak dengan tingkah Karin yang bertindak seolah-olah

mereka sepasang kekasih, yang harus selalu mengetahui kegiatan Sasuke

dan merasa berhak mengatur-atur Sasuke.

"Sayangku, Sasuke? Kau masih disana?"

"Karin, maafkan aku sedang sibuk sekali."

Terdengar helaan napas dramatis di sana, sudah pasti wanita ini tidak akan

menyerah, dia terbiasa dikejar kejar dan dipuja lelaki, penolakan hanya

membuatnya lebih gigih mengejar.

"Begini sayang, aku ada undangan pesta di rumah Sai, kau tau kan pelukis

terkenal itu? Dia mengadakan pesta di pembukaan pameran lukisannya...Aku

belum punya pasangan untuk datang ke sana, kau mau kan menemaniku?"

Sasuke menghela napas keras.

"Karin, sudah kubilang aku sibuk, aku tak bisa menemanimu ke pesta

manapun, lebih baik kau ajak kekasihmu atau laki laki lain, pasti mereka dengan

senang hati akan menemanimu."

"Tapi Sasuke, aku mencintaimu dan aku ingin kamu..."

"Aku bukan kekasihmu Karin, dan tak akan pernah, ingat itu, jadi jangan

meminta macam-macam dariku, Oke ?", Sasuke langsung menyela dengan

kesal.

"Oke, Oke !" Karin setengah menjerit, "kau sudah pernah mengatakan itu

berulang kali padaku, tapi tidakkah kebersamaan kita selama ini..."

"Karin, aku sibuk. Maaf!", Sasuke langsung menutup percakapan,

menyudahinya karena dia yakin Karin tidak akan menyerah dengan segera.

.

.

Naruto baru saja membuka pintu apartemen ketika teleponnya berdering, dia

segera mengangkatnya dan langsung terdengar suara Sasuke diseberang sana,

"Kau suka masakan China?"

"Hah?", Naruto terperangah mendengar sapaan pertama Sasuke yang tanpa

basa-basi, baru ketika Sasuke mengulang pertanyaannya dia mengerti, dan

tanpa sadar mengangguk.

"Naruto?"

Mendengar pertanyaan Sasuke Naruto baru sadar kalau dari tadi dia hanya

mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Eh...iya...iya.."

"Oke, kalau begitu jangan memasak malam ini, kubawakan dua porsi untuk kita."

Telepon ditutup. Meninggalkan Naruto yang yang masih terperangah.

Satu jam kemudian, ketika Naruto menyeduh kopi, Sasuke datang, langsung ke

dapur, masih mengenakan jas resminya, tapi dengan dasi yang sudah

dikendorkan. Dia meletakkan Kantong kertas berisi makanan yang masih panas,

berlogokan nama hotel bintang lima.

"Tadi ada undangan pertemuan dengan kilen di sana, hanya minum kopi, tapi

aku lalu ingat kalau masakan China di hotel ini terkenal enaknya, dan aku ingat

kamu."

Sasuke mengedipkan sebelah matanya, "Siapkan ya, aku mandi dulu."

Dengan langkah anggun Sasuke membalikkan badan menuju kamar.

Naruto mengatur masakan berbau harum itu pada piring saji, sambil mengatur

poci kopi di nampan untuk Sasuke, untuk dirinya dia menyeduh secangkir teh.

Sasuke muncul di dapur setengah jam kemudian, dengan piyama sutra hitam,

lali duduk di kursi di meja dapur.

"Aku lapar sekali, tadi jalanan macet."

Naruto duduk di hadapan Sasuke, memperhatikan lelaki itu mulai menyantap

hidangannya dengan penuh minat.

"Tadi, di pertemuan tidak ada makan malam?", setahu Naruto pertemuan bisnis

di hotel seperti itu selalu disertai dengan jamuan makan malam.

"Ada, tapi aku menolaknya, hanya minum kopi tadi", Sasuke menatap Naruto

dengan tiba-tina hingga Naruto kaget, "Kenapa tidak kamu makan ? ayo, enak

lho."

Dengan gugup Naruto menyantap makanannya, memang enak sekali, guman

Naruto pada suapan pertama, Tanpa sadar dia makan dengan lahap, dan baru

berhenti ketika menyadari Sasuke menatapnya geli, pipinya langsung bersemu

merah.

Sasuke langsung terkekeh geli.

Naruto baru mengetahui kepribadian Sasuke yang seperti ini, santai dan penuh

tawa, berbeda sekali dengan apa yang ditampilkannya di kantor.

Selesai makan seperti biasa Sasuke minta ditemani saat mengerjakan tugas

kantornya, lelaki itu tampak serius mengahadapi notebooknya, sambil sesekali

menyesap kopi, sementara Naruto menyibukkan diri denga menonton chanel

masak memasak di TV kabel. Benaknya berkecamuk, 'apakah Sasuke akan

bercinta dengannya lagi? Bodoh! Tentu saja, kalau bukan untuk itu buat apa

lelaki itu menginap disini?'

"Kau bisa memasak yang seperti itu?" Suara celetukan Sasuke hampir membuat

Naruto terlonjak karena kaget.

Naruto menatap ke arah Sasuke, lelaki itu sudah bersandar di sofa, dengan

santai menyesap kopinya sambil menatap televisi. Notebooknya sudah tertutup

dan berkas-berkasnya sudah tersusun rapi, Astaga...berapa lama tadi dia

melamun? Sudah berapa lama Sasuke menyelesaikan pekerjaannya?

Dengan buru buru Naruto menoleh ke televisi, adegan disana menampilkan cara

memasak sup jagung dengan berbagai modifikasinya.

"Bisa...aku pernah membuatnya meski tidak persis seperti itu."

Sasuke tersenyum.

"Aku jadi ingat saat aku sakit waktu kecil dulu, ibuku selalu membuatkanku sup

jagung, tidak ada yang mengalahkan rasa sup buatannya."

Naruto ikut tersenyum mengenang.

"Ibu dulu membuatkanku bubur ayam. Rasanya tidak enak hingga aku selalu

ingin memuntahkannya."

Sasuke tertawa geli mendengarnya.

"Aku belum pernah menemui lelaki sepertimu sebelumnya", gumamnya dalam

tawa.

Naruto menoleh pada Sasuke dengan bingung.

"Lelaki sepertiku...?"

"Polos, jujur dan tidak berusaha memanipulasiku", senyum Sasuke berubah

sensual," dan masih bisa tersipu sampai memerah di sekujur kulitnya,padahal

sudah berkali-kali kusentuh."

Kali ini Naruto hampir tersedak tehnya,dengan cepat diletakkannya cangkirnya

dan ditatapnya Sasuke dengan waspada. Lelaki itu juga sedang menyesap

kopinya, tapi mata hitamnya yang tajam itu menatap serius pada Naruto.

"Kau seperti kelinci yang terjebak ketakutan", gumam Sasuke sambil

menyipitkan matanya, "apakah cara bercintaku menyakitimu?"

Pipi Naruto langsung memerah mendengar pertanyaan Sasuke yang blak-blakan

itu,

"Ti...tidak, bukan begitu...saya...saya hanya belum...terbiasa..."

Naruto menelan ludah ketika Sasuke beranjak dari sofanya dan berdiri di depan

Naruto,lalu menarik Naruto berdiri dan langsung mencium bibirnya dengan

lembut,

"Kalau begitu, tidak ada yang bisa kulakukan selain membuatmu terbiasa

bukan?", suara Sasuke berubah serak, lalu dengan cepat mengangkat Naruto

dan membawanya ke kamar.

.

.

Jam dua pagi, ketika Sasuke terbangun dan menyadari ada tubuh hangat dalam

pelukannya. Naruto berbaring meringkuk di dadanya, tubuhnya begitu mungil

hingga Sasuke merasa bisa meremukkannya dalam sekejap kalau dia mau.

Damn! Kadangkala karena Naruto begitu mungilnya jika dibandingkan dengan

tubuhnya yang tinggi besar, Sasuke seperti merasa sedang melakukan

pelecehan seksual pada anak di bawah umur.

Tanpa sadar tangan Sasuke mengelus punggung polos Naruto, dan dalam

tidurnya, Naruto bergumam tidak jelas, lalu meringkuk makin rapat ke dada

Sasuke.

Tidak! Mungkin ukuran tubuhnya seperti anak-anak, tapi tubuhnya benar-benar

tubuh lelaki dewasa. Sasuke tidak pernah merasa begitu bergairah sekaligus

begitu terpuaskan selain dengan Naruto. Tubuh mungil itu telah memberikan

kepuasan yang sangat dalam bagi Sasuke.

"Aku mungkin tak akan pernah melepaskanmu" guman Sasuke di kegelapan,

"kau milikku Naruto"

Seolah mendengar ancaman Sasuke di alam bawah sadarnya, alis Naruto

berkerut dan menggumam tak jelas.

Sasuke tertawa geli melihatnya, lalu dikecupnya dahi Naruto dengan lembut.

Anak kecil ini benar-benar tidak terduga, tidak disangka dia akan menyerah di

pelukan lelaki seperti ini.

"Gaa…ra"

Sasuke langsung menoleh secepat kilat ke arah Naruto, Apa? Tadi lelaki itu

bilang apa?!

"Gaara",

kali ini gumaman Naruto terdengar lebih jelas. Bahkan Sasuke melihat ada air

mata di sudut matanya.

Rahang Sasuke menegang karena marah, siapa lelaki yang disebut Naruto itu?

Kenapa dia tidak pernah mendengarnya? Dia sudah menyelidiki Naruto bukan?

Selama ini Naruto tidak pernah dekat dengan lelaki manapun, dia bahkan masih

Pertama kali bercinta!

Dengan gusar Sasuke menghapus air mata di sudut mata Naruto, lalu

mengguncang tubuh Naruto pelan.

Dan mata lebar yang polos itu terbuka menatap Sasuke dengan bingung karena

dibangunkan tiba-tiba,

"Berani-beraninya kau!" desis Sasuke dengan tatapan membara, "Berani-beraninya

kau menyebut nama lelaki lain dan menangis untuknya di atas

ranjangku!"

Naruto benar-benar tidak siap ketika Sasuke menyerangnya dengan cumbuan

yang sangat hangat dan menggelora. Kali ini Sasuke berbeda dengan

biasanya,dia seperti...seperti membara, seolah olah tidak ditahan-tahan lagi,

ada apa? Ada apa sebenarnya?

Tapi Naruto sudah tidak dapat berpikir lagi karena Sasuke sudah

menenggelamkan kesadarannya dengan cumbuan dan belaian jemarinya yang

sangat ahli. Sungguh nikmat...dan Naruto ahkirnya menyerah dalam pelukan

Sasuke.

.

.

Naruto terbangun sendirian di ranjang itu. Sasuke sudah tidak ada. Yah lelaki itu

mungkin sudah pergi pagi-pagi sekali kembali kerumahnya sebelum berangkat ke

kantor. Dia kan punya rumah, tidak mungkin kan dia terus-terusan berada di

apartement ini?

Tapi entah mengapa Naruto merasa ada yang kosong, setelah beberapa kali dia

terbangun dengan Sasuke di sisinya, entah kenapa ada yang kurang saat dia

terbangun sendirian sekarang.

'Bodoh! Apa yang kau pikirkan Naruto? Kau hanyalah simpanannya, yang

dibelinya untuk memuaskan nafsunya! Jangan pernah berpikir macam-macam.

Lagian masih ada Gaara yang harus kau cemaskan.'

Sambil membungkus tubuhnya dengan seprai, Naruto melangkah ke kamar

mandi, tubuhnya terasa agak nyeri, karena entah kenapa pagi tadi Sasuke

bercinta seolah-olah kesetanan dan tidak menahan-nahan diri.

Ketika mengaca dan menurunkan selimutnya Naruto mengernyit.

Dari Leher, dada sampai perutnya, semuanya penuh dengan bekas ciuman

Sasuke. Lelaki itu seolah sengaja meninggalkan jejak di mana-mana. Warnanya

merah di sekujur tubuh Naruto, dan Naruto yakin tak lama lagi akan berubah

menjadi ungu.

'Dasar Sasuke! Siapapun yang melihat akan tahu kalau ini bekas ciuman, di

bagian dada bisa dia sembunyikan, tapi yang di leher?'

Naruto belum pernah mendapatkan bekas ciuman seperti ini di tubuhnya

sebelumnya.

Percintaannya dengan Gaara selalu sopan dan tidak pernah sepanas itu sehingga

Gaara bisa meninggalkan bekas-bekas ciuman di kulitnya. Tapi Naruto tahu bekas

ciuman seperti ini butuh beberapa hari untuk hilang.

'Dasar Sasuke bodoh!' Gerutunya sambil mencari cari turtle neck yang dapat

menutupi tubuhnya sampai ke leher lalu memadankannya dengan blazer, lalu segera melangkah keluar,

'jangan sampai dia terlambat ke kantor lagi.'

Ketika berdiri di tepi jalan menanti kendaraan umum, Naruto merasakan

sengatan sakit yang tiba-tiba di kepalanya.

Aduh! Di saat seperti ini migrainnya kambuh. Tapi tentu saja hal itu terjadi, dia

belum sarapan, dan dia kurang tidur gara-gara Sasuke hampir tidak pernah

membiarkan tidur nyenyak tiap malam.

Dengan memaksakan diri Naruto naik ke dalam bus menuju kantornya.

.

.

"Wajahmu pucat sekali", salah seorang temannya memandang Naruto dengan

cemas ketika Naruto mendudukkan diri di kursinya. Tadi dia hampir terlambat

dan setengah berlari ke mesin absen.

Naruto memegang pipinya, memang terasa agak panas, apakah dia demam?

Dan kepalanya juga pusing sekali. Tapi tetap dipaksakannya tersenyum,

"Enggak apa-apa kok, mungkin karena belum sarapan, nanti setelah minum teh

hangat pasti agak baikan."

Tapi ternyata tidak, rasa pusing itu makin menusuk nusuk di kepalanya terasa

nyeri,bahkan untuk menolehkan kepalanya saja terasa sangat sakit, badannya

juga sama saja, rasanya nyeri di sekujur tubuh seperti habis dipukuli. Naruto

bertahan dengan tidak bergerak di kursinya, tapi rasa sakitnya makin tak

tertahankan,

"Naruto coba kesini sebentar, lihat draft pemasaran ini bagaimana menurutmu?",

salah seorang rekannya memanggilnya.

Dengan mengernyit Naruto mencoba berdiri, tubuhnya limbung sejenak, tapi dia

berdiri dan bertahan sambil berpegangan di tepi meja.

Lalu setelah menarik napas dalam-dalam, dia melangkahkan kaki ke meja

rekannya. Tapi tiba-tiba rasa nyeri tak tertahankan menyerang kepalanya dan

semuanya menjadi gelap.

.

.

To Be Continued ke chapter selanjutnya gaees~

.

.

Q : Dibuat M-preg ya?

A : Iya liat aja ntar, bakalan beda kok sama m-preg remake yang lainnya

Q : Mau dibuat berapa chapter?

A : Sekitar 6-7 chapter, kalo gak 8 :v pokok sekitar segituanlah

Q : Siapa sih nama tokoh asli karakternya? Di novel?

A : Serena (Naruto), Damian (Sasuke), Freddy (Neji), Rafi (Gaara)

Q : Ini ambil tempatnya dimana? Jepang atau Korea? Kok kemarin ada KorSelnya?

A : jtk ambil di Jepang, soal KorSel kemarin lupa, karena ngedit dari hape dan sosmed sama war di facebook memenuhin notip. Jadi rada juling ngetiknya /.\ Maaf ya..

.

.

Maaf lagi soal typo sama kata yang nyelip-nyelip, kemarin gak sempat neliti lagi T.T Maaaf banget *bow* makasih banyak buat kalian yang ga sempet jtk bales satu-satu reviewnya, lagi mabok sama tugas. Bukannya sombong atau apa, tapi beneran ga sempat buat buka notip di email, tapi jtk sanga-sangat berterima kasih pada kalian karena mau luangin waktu buat review fanfic yang masih banyak tambalannya ini. Makasih banyak :* big hugs kalian semua ({}) makasih makasih dan maaf soal hal-hal yang bikin kalian rada ga enak bacanya.

Chapter ini lemonnya tersirat '-' belom bisa remake buat nulis utuh dan hot, tapi tenang chapter-chapter berikutnya bakal jtk usahain remake lemon biar rada hot dikit. Kelelep sama tugas, kalo apdetnya molor-molor juga ga enak sama readers. Tapi beneran chapter depan enggak tersirat lagi kayak ini, ini waktu colongan buat nulis sih #curcol harusnya ngerjain presentasi tapi nyolong buat ngeremake dikit '-'

Kalo uda beneran kelar kesibukan sama tugas, dan kelar nge-remake fanfic, jtk publish beberapa fanfic yang masih magang dilaptop. Kayak 'Hottie Daddy Pretty Son'nya SasuNaru, sama fanfic lainnya. -_- njir beneran bisa nerusin nulis dikit-dikit kalo malem Minggu doang :v ide numpuk-numpuk tapi gak ada waktu heoolll kezel banget -_-

Udah ah segini aja bacodnya '-') jangan lupa review lagi, asal jangan bash atau flame dengan kata-kata yang kurang terpelajar. Kritik saran masukan jtk terima, sepedes apapun asal sopan. Itu juga membangun jtk buat jadi lebih baek #eeaaa. Segitu dulu ya, sampai ketemu 2-3 hari lagi '-')/

So mind to review '-')/ ?