Chapter 5
[REMAKE] A Romantic Story About Naruto by Santhy Agatha
Genre : Romance, Hurt
Cast : Sasuke Uchiha, Naruto Uzumaki, Gaara Sabaku and others
[SASUNARU]
Rated : M
.
Disclaimer : JTK me-remake novel yang nurut JTK pribadi bagus dan lumayan menyentuh dari Santhy Agatha. Jadi JTK bukan penjiplak atau plagiat, JTK hanya me-remake dan merubah sedikit menyesuaikan alur. Udah ijin sama yang punya novel ini, asalkan nama pengarang aslinya dicantumin itu gapapa. Kalian bisa baca versi aslinya di wattpad. Jadi ini cerita bukan milik JTK, JTK hanya me-remake doang. Dan sekali lagi JTK enggak plagiat.
Dan ini JTK remake jadi versi Yaoinya.
.
DON'T LIKE DON'T READ
HAPPY READING^^
SEKALI LAGI INI YAOI, YAOI. COWOK SAMA COWOK. JADI JANGAN BASH ATAU FLAME KALO GAK SUKA CERITA/CHARANYA. GAK SUKA GAK USAH MAKSA BACA CUMAN DEMI FLAME.
Damai itu indah bro, seindah tonjolan selangkangannya Uchiha Sasuke. *digampar*
.
.
.
.
.
"Pingsan?!"
Sasuke setengah berteriak kepada Neji yang menyampaikan kabar itu
padanya,
"Kapan?! Dimana?!", Sasuke mulai berdiri dari balik meja besarnya.
Neji hanya duduk santai di sofa kulit hitam di ruangan kantor Sasuke, "Tadi
dalam perjalanan ke sini aku kan mengambil arsip di sebelah klinik, ada
keributan di luar, pria itu sedang digendong salah seorang rekannya ke klinik
dan di antar beberapa rekannya yang lain juga, dalam kondisi pingsan, dia pucat
sekali seperti kelelahan ", tambah Neji penuh arti.
"Digendong?", kali ini wajah Sasuke menegang karena marah, "laki-laki?"
Neji tiba-tiba saja tidak bisa menahan tawanya,
"Simpananmu pingsan dan kau meributkan siapa yang menggendongnya?",
Tawa Neji kembali terdengar tak peduli pada wajah Sasuke yang marah,
"Tentu saja laki-laki, mana mungkin perempuan?"
Sasuke mendengus marah dan hendak melangkah keluar ruangan, tapi Neji
berdiri dan menahannya,
"Kau pikir kau mau kemana Sasuke?"
Sasuke menatap tangan Neji yang menahan lengannya dengan marah,
"Tentu saja melihat Naruto!"
"Dan membuat kehebohan di luar? Seorang CEO perusahaan yang jarang terlihat
saking sibuknya, yang bahkan untuk berkonsultasi dengannya harus melalui
perjanjian temu yang sulit, tiba-tiba saja turun menjenguk seorang staff biasa?
Kuulangi seorang staff biasa, yang tidak ada hubungan apapun dengannya",
Neji menatap Sasuke tajam, "dan bahkan dengan wajah pucat pasi lebih
pucat dari yang pingsan kalau boleh kutambahkan", Neji mulai terkekeh geli.
Sasuke melotot marah padanya, tapi kemudian menarik napas dan tersenyum
skeptis,
"Kau benar, aku tak bisa", dengan pelan dia melangkah dan duduk di sofa.
Neji menuangkan minuman untuknya dari meja bar kecil dan memberikan
kepada Sasuke yang langsung menyesapnya.
"Kau tak pernah begitu sebelumnya Sasuke, dan tak kusangka kau sebegitu
perhatiannya kepada pemuda ini, kukira kau hanya menganggapnya tubuh
yang sudah kau beli?"
Sasuke meletakkan gelasnya, lalu menatap tajam Neji
"Dan tubuh yang kau katakan itu yang sekarang terbaring pingsan."
Neji tersenyum dan duduk di sebelah Sasuke,
"Kemarin aku baru saja bilang kalau pemuda itu membuatmu lelah dan tidak
berkonsentrasi, ternyata kau berbuat lebih parah padanya", Neji tak dapat
menahan diri untuk tersenyum lebar, "Kau apakan saja pemuda itu Sasuke?"
Sasuke mengacak rambutnya bingung,
"Aku juga tidak menyangka bisa jadi begitu terobsesi kepadanya, kau
tahu...rasanya tidak ingin berhenti, aku ingin terus menerus menyentuhnya,
ingin terus menerus merasakannya...jadi tiap malam aku..aku.."
"Kau bermaksud bilang tiap malam kau hampir tidak pernah membiarkannya
tidur?", kali ini alis Neji berkerut.
Sasuke menghindari tatapan Neji,
"Aku baru beberapa hari bersamanya, aku masih belum merasa puas",
gumamnya tak Jelas.
Neji menarik napas dalam,
"Sasuke, aku tahu kau terbiasa dengan lelaki dewasa yang berpengalaman,
yang mungkin akan melayani marathon seksmu dengan senang hati kalau kau
mau, tapi ini, seorang pemuda tak berpengalaman, seharusnya kau lebih menahan dirimu."
"Aku tahu!", Sasuke menyela dengan keras, frustasi kepada dirinya sendiri,
"tapi...ah, kau tidak tahu rasanya Neji..."
"Betul aku tidak tahu, karena itulah aku tidak mengerti, kalau memang nafsumu
sebegitu besarnya, kenapa kau tidak mencari orang lain sebagai pelampiasan?
Orang lain yang lebih bisa mengimbangimu? Jadi kau tetap bisa menjaga
kondisi tubuh pemuda itu, tubuh yang kau beli seharga 300 juta", Neji
mengingatkannya.
"Ah ya...ya, bisakah kau jangan menyebutnya sebagai 'pemuda itu' atau 'tubuh
itu..? Dia punya nama Neji, namanya Naruto."
"Baiklah, Naruto ini, kalau kau tidak mau menyakitinya, seharusnya kau mencari
orang lain untuk mengimbangimu."
Sasuke mengernyit, orang lain? Sepertinya itu ide yang bagus, kalau hasratnya
membuat tubuh Naruto lemah, dia seharusnya menyalurkannya kepada orang
lain, tapi. Sasuke tidak bisa membayangkan orang manapun, dia mau Naruto,
hanya Naruto yang membuat tubuhnya berhasrat sampai seperti ini,
"Tidak bisa kalau bukan dia Neji, kau tahu aku bukan maniak seks, bercinta
selama ini menjadi kebutuhan nomor duaku, bahkan aku selalu mementingkan
pekerjaan dibandingkan janji temuku dengan orang-orang itu, tapi Naruto...
Dia seperti ada magnet dalam tubuhnya yang mengubahku menjadi seperti ini"
Neji menarik napas,
"Kalau begitu, kau harus belajar menahan diri Sasuke dan lebih peka, kalau dia
terlihat lelah, jangan memaksakan kehendakmu."
.
.
"Apa yang kau lakukan padanya?",
gumam dokter Tsunade, janda berusia 33 tahun yang sangat cantik, yang
kebetulan adalah sahabat Sasuke juga, ketika melihat Sasuke masuk ke
ruangan klinik itu, suasana sudah sepi dan dokter Tsunade sudah mengusir rekan-rekan
kerja Naruto dari klinik itu,
Sasuke mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Tsunade,
"Kenapa kau langsung menuduhku seperti itu?", gumamnya pura-pura tersinggung.
Tsunade melirik ke arah Naruto yang tertidur pulas, tadi Naruto sempat bangun
dan Tsunade sengaja memberinya obat yang membuatnya mengantuk agar pemuda
itu bisa beristirahat,
"Seorang staff rendahan pingsan dan beberapa waktu kemudian sang CEO
perusahaan yang tidak pernah menginjakkan kakinya di klinik ini tiba-tiba
datang? Kau pikir ini kebetulan?"
Sasuke tersenyum miring,
"Setidaknya kecerdasanmu tidak berubah Tsunade",
Tsunade terkekeh pelan,
"Tentu saja aku sama sekali tidak menduga kalau pemuda itu ada hubungannya
denganmu, waktu memeriksa tubuhnya aku melihat bekas-bekas ciuman dari
leher sampai ke perut, lalu aku berfikir, lelaki brengsek mana yang membiarkannya sampai pingsan kelelahan begitu",
Tsunade mengangkat alisnya, " Dan tiba-tiba saja lelaki brengsek itu muncul."
Sasuke mengerutkan alisnya lalu terkekeh,
"Sayangnya kata-kata tajammu juga tidak berubah, yah aku memang lelaki
brengsek itu", Sasuke mengangkat bahu, lalu menatap ke arah Naruto yang
terbaring pucat di ranjang klinik itu, "Bagaimana kondisinya?", wajahnya
berubah serius.
Tsunade menarik napas,
"Aku tak mau bertanya apapun itu kehidupan pribadimu", Tsunade menatap tajam
ke arah Sasuke,"pemuda itu kelelahan, kurang tidur dan tekanan darahnya rendah
sekali, kondisi tubuhnya lemah dan karena itu dia demam, sepertinya gejala flu."
Sasuke mengernyitkan allisnya, menerima tatapan tajam Tsunade.
"Baik, baik semua salahku, Neji sudah mengatakannya padaku, sekarang
bisakah kau meninggalkan kami sendirian sebentar?"
Tsunade melirik ke arah pintu,
"Neji ada di luar? Bagaimana jika nanti ada karyawan yang kebetulan ke klinik?"
"Itulah gunanya Neji di luar, tapi kalau sampai terjadipun aku akan bilang
kalau aku sedang mencarimu meminta resep."
Tsunade mengangguk,
"Aku akan bergabung dengan Neji di luar, jangan berbuat macam-macam ya!"
Sasuke tersenyum mendengar ancaman Tsunade. Wanita itu adalah istri dari
sahabatnya, dan merekapun akhirnya bersahabat. Sayangnya suami Tsunade
meninggal dalam kecelakaan tragis di jalan tol beberapa tahun lalu, sejak itu
Tsunade membentengi diri dengan mulut tajam dan sifatnya yang ketus, padahal
sebenarnya dia adalah wanita penyayang, sikap ketusnya itu tidak mempan pada
Sasuke dan Neji, Sasuke melirik keluar, seandainya saja Tsunade bisa melirik
Neji, bagus sekali kalau sahabat-sahabatnya itu bersatu. Sasuke terkekeh dengan pemikirannya sendiri.
Dengan langkah pelan Sasuke melangkah ke tepi ranjang berdiri di samping
Naruto yang tertidur pulas,
'Benar, wajahnya pucat sekali, kenapa Sasuke tidak menyadarinya dari semalam?'
Tangan Sasuke menyentuh dahi Naruto, pemuda ini demam! Badannya panas
sekali... hati Sasuke melecos melihatnya.
"Jadi kau ingin mengantar pulang Naruto?",
Tsunade tiba-tiba bersuara di pintu dengan agak keras, sengaja memberi
peringatan kepada Sasuke.
Sasuke langsung menjauh dan berdiri di depan meja kerja Tsunade.
Pintu terbuka dan salah seorang laki-laki, rekan kerja Naruto tapi Sasuke lupa
namanya, masuk membawa tas Naruto yang tertinggal di ruangannya, disusul
oleh Tsunade dan Neji di belakangnya.
Rekan kerja Naruto itu tampak sangat kaget mengetahui Sasuke, CEO
perusahaan yang hanya pernah dia lihat dari foto, sekarang berdiri langsung di
depannya, wajahnya langsung pucat pasi,
"Aaaa...aaandaa...", lelaki itu bahkan tak sanggup berkata-kata karena
kagetnya, Sasuke menatap sekilas seolah tak peduli,
"Ya, Saya memang benar Sasuke", dipasangnya ekspresi paling dingin,
"Saya ada urusan dengan dokter Tsunade, tapi silahkan selesaikan urusan anda
dulu, saya bisa menunggu."
"Dia hanya ingin menjemput rekannya yang pingsan dan mengantarkannya
pulang Sasuke",
Neji menyela di belakang Tsunade tapi matanya menatap Sasuke penuh
peringatan.
'Pulang?' Sasuke mengernyit, tapi Naruto kan sekarang tinggal di apartement
mewah yang dia belikan, tidak mungkin dia membiarkan pemuda mengantar Naruto
pulang!
"Saa ...saya hanya sebentar, saya akan mengangkat Naruto dan mengantar
pulang, kebetulan saya ada janji temu dengan kilen di dekat tempat kostnya jadi
sekalian, mohon maaf, silahkan dokter jika ada urusan dengan Mr, Sasuke"
lelaki cepat-cepat membalikkan tubuh tak tahan menghadapi tatapan tajam
Sasuke, memang benar gosip yang beredar, Mr. Sasuke CEO mereka ini
terkenal sangat dingin dan tidak berperasaan, bahkan aslinya lebih menakutkan,
wajahnya sangat rupawan tapi aura membunuh disekelilingnya sangat kental.
Sasuke masih terpaku di situ, tempat kost? Si bodoh ini pasti masih mengira
Naruto masih tinggal di tempat kostnya yang lama. Dan.. Apa yang dilakukan
lelaki itu ? Dia menyentuh tubuh Naruto ?!
Sasuke hampir menyeberangi ruangan untuk menepiskan tangan lelaki yang
mencoba menggendong Naruto ketika Suara Tsunade menyela dengan cepat,
menyadari gawatnya situasi yang terjadi,
"Jangan!", perintahnya membuat lelaki itu meletakkan tubuh Naruto kembali dan
menatap Tsunade penuh tanda tanya,
"aku memberi obat tidur untuknya supaya dia bisa beristirahat, kalau kau
pulangkan dia ke kostnya dalam kondisi seperti itu, siapa yang akan
menjaganya nanti? Lebih baik biarkan dia beristirahat dan tidur di sini dulu"
lelaki menyadari kebenaran perkataan dokter Tsunade dan cepat-cepat
menyetujuinya. Lagipula dia ingin cepat-cepat keluar dari ruangan ini.
Sang CEO hanya berdiri membatu di sudut ruangan tapi tatapan matanya
mengerikan, seperti akan membunuhnya dengan tangan kosong!
Ah, mungkin dia hanya sedang tidak enak badan, pemuda berusaha menenangkan
dirinya, lalu mengangguk,
"Baiklah saya akan meninggalkannya dulu, nanti kalau dia sadar saya akan
menjemputnya lagi" gumamnya sambil meletakkan tas Naruto di kursi dan
hampir melonjak kaget ketika Sasuke berseru dalam bahasa asing yang tidak
dimengertinya,
Tsunade agak menahan senyum karena dia tahu arti kata-kata Sasuke, 'Langkahi
dulu mayatku', itu artinya
"Tidak usah, biar aku yang mengantarnya sekalian pulang nanti"
lelaki mengangguk, sebenarnya dia ingin membantah, dia ingin mengantar
Naruto, sebenarnya sejak dulu dia sudah suka pada Naruto tetapi belum berani
mengungkapkannya karena Naruto terlihat begitu tertutup, kejadian ini
dianggapnya sebagai kesempatan mendekati Naruto, tapi mengingat aura tak
nyaman di ruangan ini, lelaki memutuskan menyerah, mungkin lain kali, putusnya
Lalu melangkah ke luar setelah mengangguk pada semuanya, tak bisa menahan
untuk mempercepat langkahnya keluar dari situ.
"Sangat posesif sekali huh? Sepertinya dia sangat berarti bagi kehidupanmu akhir-akhir ini Sasu," Tsunade menyindir Sasuke pelan. Mereka kembali hanyut dalam keheningan.
"Aku yang akan membawanya pulang", Sasuke bergumam memecah keheningan.
"Kau ada rapat satu jam lagi Sasuke", sela Neji tajam.
"Batalkan, mereka akan menyesuaikan jadwalnya denganku"
Tsunade dan Neji hanya bisa berpandangan, lalu mengangkat bahu. Tidak akan bisa menolak jika sudah berhadapan dengan sifat keras kepala Sasuke.
.
.
Ketika Naruto membuka mata dia sudah ada di ranjangnya, mengenakan salah
satu piyama sutra hitam milik Sasuke, lelaki itu sedang duduk di ranjang di
sebelahnya,bersila dengan menghadap notebooknya, wajahnya serius sekali.
Naruto merasa pusingnya sudah hilang, tapi rasa nyeri di tubuhnya belum hilang
juga, sepertinya dia masih demam.
Seolah merasakan gerakan Naruto, Sasuke menoleh, dan tersenyum.
"Tadi aku mencari piyama untukmu, ternyata kau tak punya piyama ataupun
baju tidur ya? Aku tidak tahu sebelumnya karena aku selalu menelanjangimu
sebelum tidur"
Wajah Naruto memerah, bisa bisanya Sasuke memilih kata-kata itu sebagai
kalimat sapaan pembukanya. Dia tidak terbiasa dengan kalimat semacam itu. Ah, belum terbiasa.
"Kenapa aku tiba-tiba sudah di rumah? Jam berapa ini?"
Sasuke mengangkat alisnya,
"Kau tidak tahu? Tadi pagi kau pingsan lalu dokter Tsunade menyuntikmu dengan
obat yang membuatmu tidur, tapi aku harus mengajukan komplain karena
sepertinya dosisnya terlalu besar, kau tertidur hampir sepuluh jam...sekarang
sudah jam delapan malam"
Naruto terperangah,
"Jam delapan malam?"
Sasuke tersenyum,
"Besok-besok kalau kau merasa tidak enak badan jangan memaksakan diri untuk
masuk, kau sangat merepotkanku, aku terpaksa pulang setengah hari untuk
menjagamu"
Wajah Naruto memucat, dia telah mengganggu kesibukan Sasuke! Padahal
lelaki itu punya jadwal yang sangat padat dan terpaksa meninggalkannya hanya
gara-gara dia pingsan.
"Ma...maafkan aku...", suara Naruto terdengar lemah, penuh penyesalan.
"Sudah merepotkanmu.." sambungnya pelan.
Sasuke menoleh mendengar nada suara Naruto, lalu menutup notebooknya dan
meletakkannya di meja samping ranjang,
"Aku tidak memarahimu, lagipula sudah lama aku tidak mengambil cuti", dengan
lembut Sasuke meletakkan tangannya di dahi Naruto, "sudah mendingan, tadi
kau panas sekali tahu, aku sampai mengkompresmu dengan air es"
Naruto memejamkan matanya merasakan tangan Sasuke yang sejuk di dahinya,
kenapa lelaki ini begitu lembut dan penuh perhatian? Sudah lama sekali rasanya
sejak ada yang memperhatikan dirinya. Setelah kedua orang tuanya meninggal,
Naruto selalu berjuang sendirian, tidak pernah sama sekali mengijinkan dirinya
menjadi lemah. Sekarang, perhatian yang begitu lembut dari Sasuke entah
kenapa membuat dadanya sesak,
"Kau sudah bisa minum obatnya? Dokter Tsunade membawakan obat untuk kau
minum, tunggu sebentar",
Sasuke bangkit dari ranjang dan melangkah keluar kamar,tak lama kemudian
dia kembali membawa nampan, meletakkannya di meja samping ranjang dan
membantu Naruto duduk,
"Kau harus makan dulu sebelum minum obat",
Aroma kuah yang sangat menggoda itu benar benar membuat air liur menetes,
Naruto menoleh ke atas nampan yang diletakkan di pangkuannya, semangkuk
sup jagung dan daging yang masih panas dengan aroma yang sangat enak,
"Itu bukan bubur ayam, jadi kuharap kau tidak memuntahkannya", ada nada geli
dalam suara Sasuke,
Mau tak mau Naruto tersenyum karena ternyata Sasuke masih teringat
percakapan mereka kemarin. Dia tidak menyangka bahwa Sasuke mengingat segelintir percakapan kecil mereka.
Dengan pelan dia berusaha mengangkat sendok sup itu, tapi Sasuke
menahannya,
"Aku suapi", gumamnya sambil mengambil sendok itu.
Wajah Naruto memerah canggung, tapi ketika Sasuke mengarahkan sendok itu
ke mulutnya ahkirnya dia membuka mulutnya pelan. Rasanya canggung, disuapi oleh orang yang dalam sedetik bisa bertemperamen kasar dan ganas serta liar seperti binatang buas. Lalu detik berikutnya berubah menjadi anjing pudel kecil yang menggemaskan.
Dengan tenang Sasuke menyuapi Naruto, setelah selesai dia meletakkan
mangkuk kosong itu ke sebelah ranjang,
"Ada yang menempel di bibirmu", tanpa disangka Sasuke mendekatkan
wajahnya, lalu menjilat sudut bibir Naruto dengan lembut, "sekarang sudah
bersih", Sasuke terkekeh melihat wajah Naruto yang merah padam.
"Te...terimakasih" gumam Naruto terbata-bata.
Tiba-tiba saja Sasuke meraih pundak Naruto dan menciumnya, ciuman yang
sangat dalam dan membakar, seolah-olah ingin melumat bibir Naruto sampai
habis. Lidahnya menari-nari di rongga mulur Naruto, merasakan sebanyak mungkin goa hangat jajahannya itu, lama sekali Sasuke mencium Naruto, sampai napas mereka berdua terengah-engah ketika Sasuke melepaskan ciumannya,
"Sama-sama", gumam Sasuke dengan parau kemudian, "kalau begitu minum
obatmu, setelah itu kau harus tidur lagi."
Dengan patuh Naruto berbaring lagi di ranjang dan membiarkan Sasuke
menyelimutinya.
Lelaki itu lalu duduk di ranjang di samping Naruto dan menyalakan notebooknya
lagi, lalu mulai tenggelam dalam pekerjaannya.
Naruto termenung agak lama, Sasuke tidak menyentuhnya malam ini, tetapi
lelaki ini tetap bermalam di apartement ini untuk merawatnya. Ternyata di balik
sikap kejam dan arogannya, Masih ada sisi baik di jiwanya.
Dengan pemikiran seperti itu, Naruto kembali tertidur lelap.
.
.
Paginya dia terbangun dengan kondisi demam yang lebih parah, sepertinya
pertahanan tubuhnya sedang berperang melawan virus yang menyerang tubuhnya,
Sasuke sedang mengenakan dasinya, tapi dia segera menghampiri Naruto yang
mengerang karena panas tubuhnya tak tertahankan,
Dengan cemas, dia meletakkan tangannya di dahi Naruto, astaga! Panas sekali,
dengan cepat dia meraih handphonenya dan memencet nomor Tsunade dengan panik,
dijelaskannya secara terperinci tentang kondisi Naruto, lalu diletakkannya
termometer di tubuh Naruto sesuai instruksi Tsunade,
"39 derajat!", Sasuke berteriak tanpa sadar, "Tsunade ! Dia panas sekali, kenapa
obat yang kau berikan kemarin tidak membuat kondisinya membaik?!"
Didengarnya instruksi-instruksi Tsunade di seberang sana,
"Baik! Akan kuminumkan lagi, apa? Menyeka seluruh tubuhnya dengan air dingin?
Oke, kapan kau bisa kesini untuk mengecek kondisinya? Aku takut dia harus
dibawa ke rumah sakit, baik...baik, kutunggu!"
Sasuke mengakhiri pembicaraan, lalu memencet nomor-nomor lain, menelpon
Neji dan jajaran direksinya, lalu memberikan serentetan instruksi pekerjaan
sebelum menutup telephon.
Dengan pelan dilonggarkan dasinya, dan digulungnya lengan kemejanya, lalu dia
berusaha mengguncang tubuh Naruto,
"Bangun Naruto, kau harus mandi, badanmu panas sekali."
Jawaban Naruto hanya berupa erangan tak jelas dan seperti kesakitan, tentu
saja, pemuda ini badannya sangat panas!
Sasuke melepas kancing piyama Naruto pelan-pelan lalu melepas piyama itu,
sampai Naruto telanjang. Kulit pemuda itu memerah karena suhu tubuhnya yang
panas, dengan hati-hati dia mengangkat tubuh Naruto ke kamar mandi,
meletakkannya ke bathtub, lalu menyalakan keran air dingin.
Tubuh Naruto langsung berjingkat ketika air dingin mengenai tubuhnya, tapi
Sasuke menahan,
"Dingin", erang Naruto dalam kondisi setengah sadar.
"Tidak apa-apa,tahan,nanti kau akan kuselimuti", bujuk Sasuke lembut
Setelah selesai Sasuke mengeringkan tubuh Naruto lalu memakaikan piyamanya
yang lain untuknya, dan mengangkat Naruto kembali ke tempat tidur,lalu
menyelimutinya dengan selimut yang tebal. Setelah itu dia memaksa Naruto
meminum obat yang rasanya pahit dan dengan lembut meminumkan air
untuknya.
Dalam kondisi setengah sadar, Naruto mengamati keadaan Sasuke, kemejanya
setengah basah dengan dasi yang sudah dilepas dan beberapa kancing yang
terbuka sementara jasnya tergeletak begitu saja di sofa,
"Kau...ti..dak ..ke kan..tor?", tanya Naruto lemah.
Sasuke yang sedang membuka kancing kemeja dan melepaskan kemejanya
yang basah menoleh dan tersenyum tipis,
"Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini sendirian?"
"Aa...aaku tidak mau...merepotkan...mu", gumam Naruto lagi, "i..ni cuma
demam bia..sa..nanti juga sembuh"
Sasuke mengganti kemejanya dengan t-shirt santai,lalu duduk di tepi ranjang,
"Kau sekarang milikku Naruto, kau tanggung jawabku, kalau terjadi apa-apa
denganmu,aku juga yang akan kesusahan bukan?", gumamnya lembut tapi
penuh makna.
Wajah Naruto memerah,dan memalingkan wajah, tapi itu membuat Sasuke
tidak dapat menahan diri, sikapnya terlihat sangat manis dan menggemaskan, diraihnya dagu Naruto menghadapnya, tubuhnya setengah menindih tubuh Naruto, lalu dilumatnya bibir Naruto dengan dalam dan penuh gairah, nafas mereka menjadi panas.
Dan Sasuke hampir kehilangan kendali diri, dengan sekuat tenaga diangkatnya
bibirnya, napasnya terangah-engah. Tubuhnya menegang, berteriak ingin
dipuaskan kebutuhannya, tapi Sasuke menahan diri.
Demi Tuhan ! Pemuda ini sedang sakit!
Naruto merasakan gairah Sasuke yang bangkit, semalam lelaki ini menahan diri
untuk tidak menyentuhnya, padahal Naruto tahu Sasuke punya kebutuhan fisik
yang sangat besar. Melihat lelaki ini menahan diri sampai menggertakkan gigi
menyentuh hati Naruto.
Tanggannya menyentuh pipi Sasuke, tak disangka Sasuke langsung
memejamkan mata menempelkan pipinya
"Tidak apa-apa", gumam Naruto lembut.
Mata itu terbuka bagaikan api biru yang menyala-nyala,
"Kau sedang sakit!" geramnya.
Naruto tersenyum lalu merangkulkan lengannya ke leher Sasuke,
"Tidak apa-apa."
Dan Sasuke menyerah pada gairahnya, sambil mengerang dilumatnya bibir
Naruto lagi, dan mereka pun tenggelam dalam gairah yang panas.
Panas tubuh Naruto karena demam, menyatu dengan panas tubuh Sasuke
karena gairah, tubuh mereka menyatu ketika Sasuke menghujamkan dirinya
dengan lembut, mengerang karena merindukan kenikmatan itu, kenikmatan
ketika tubuh Naruto yang selembut sutra melingkupinya, meremas
kejantanannya, membuatnya melayang.
"Akh…Sasuke..mmhh" Naruto mengerang tak jelas kebingungan. Antara tubuhnya yang lemas dan paans yang diberikan Sasuke secara bertubi-tubi. Lolongan gairah yang membuatnya benar-benar lupa daratan. Hujaman-hujaman Sasuke, serta bibir yang lihai itu membuat otaknya seperti komputer hang. Blank tanpa isi.
"Naruu..sshh.." Sasuke mendesis ketika gelombang kenikmatan secara bertubi-tubi menghantamnya. Ia benar, Naruto bisa membuat dirinya mati dalam kenikmatan yang memabukkan. Lubang Naruto seperti tempat yang pas untuknya, dan hanya tercipta untuknya. Benar-benar hangat, ketat dan arghh..sisanya tidak bisa dideskripsikan oleh kata-kata.
Mereka terus bergumul memanaskan ranjang dengan kobaran api muda. Suara itu bersahutan dan terpantul dari tembk kamar tempat mereka saling membunuh satu sama lain dalam kenikmatan. Beberapa hujaman terakhir, Naruto mengejang kuat, bibirnya mengukir teriakan tanpa suara dan eksresi. Kedutan dan remasan yang mengantarkan Sasuke menuju tempat putih terindah. Dimana orang-orang menyebutnya dengan orgasme.
Sasuke tidak pernah kehilangan kontrol sebelumnya. Dia tidak pernah tidak bisa
menahan dirinya untuk bercinta dengan seseorang. Tidak pernah.
Sampai dia bertemu Naruto. Pemuda ini menjungkir balikkan dunianya.
Mengancamnya akan kehilangan kendali diri. Dan Sasuke tahu dia sudah tidak
bisa melepaskan dirinya lagi.
.
.
To be continued.
.
.
Q : Kenapa Sasu sama Naru enggak saling manggil Teme atau Dobe?
A : Di chapter depan mereka uda manggil itu. Ini masih chapter awal, gak mungkin mereka amnggil kayak gitu. Setidaknya leebih dari proses pengenalan dolo baru saling panggil mesra.
Q : Kok banyak kesalahan sama typo? Harusnya dikoreksi dulu, dan dibaca lagi sebelum dipublish. Biar kami enggak kehilangan mood,
A : *bungkukin badan* maaf banget, jtk ngeremakenya ini nyempetin juga. Jadi kadang juga meleng pas ngoreksinya dan beberapa yang kelewat. Maaf banget ya~
Q : Kenapa chapter ini pelit banget ceritanya cuman dikit?
A : Senin atau minggu malem publish lagi. Hari ini jtk publish 3 fanfic -_- jadi ya agak berbagi *digeplak*
So, mind to review again?
