Chapter 3

Sisi Lain Dari Hutan – In My Dream

"Sudah lama tak bertemu"

"..." ku lihat gadis yang pernah ku temui sebelumnya

"Gomenne.. karena telah pergi tiba – tiba" ucapnya

Kulihat gadis yang belum ku ketahui namanya. Dia tengah berdiri di depanku. Usianya kira – kira 6 tahun di atasku. Dia tinggi. Rambut nya panjang biru. Dia juga memakai gaun berwarna biru. Kulitnya putih pucat. Aku tidak tau apa ini adalah mimpi. Aku menunduk. Lagi – lagi aku merasa sendirian. Haaaahh tak punya teman.

"Kau kenapa ?" tanyanya dengan suara lembut

"Apa kah ini mimpi?" tanyaku kembali.

"Mimpi ?"

Kulihat dia tersenyum. Namun bukan sebuah senyum bahagia melainkan, seperti senyum kebohongan. Kutatap matannya. Namun dia memalingkan wajahnya dan menatap ke arah atas. Menatap langit. Lagi - lagi ia kembali tersenyum

"Menyenangkan jika ini adalah sebuah mimpi" ucapnya yang masih melihat langit

"Anoo ne..! lebih baik hidup dalam sebuah mimpi. Dari pada kau hidup dalam kesendirian" Tambahnya

Entah kenapa aku merasa dia seperti diriku. Hidup dalam kesendirian. Tak memiliki siapa - siapa.

"Anoo~ tak mengerti maksudmu, tapi asal onee-chan tau. Selama ini aku juga hidup sendirian" ucapku menghiburnya serta juga memperlihatkan pribadiku

"Sou ? kau sendiri ? tapi kau tak memiliki penyesalan" ucapnya yang sekarang membelakangiku.

Angin mengerai rambut indahnya. Gaun birunya juga tersibak oleh anggin.

"Penyesalan ? Etto~"

Aku ingin berbicara namun dia memotong pembicaraanku.

"Sudah saatnya aku pergi" ucapnya sambil tersenyum kepadaku

"Tunggu onee-chan. Nama Onee-chan siapa ?" aku berteriak

"Sampai jumpa"

Beberapa bulan kemudian

Musim telah berganti. Dingin kini menjadi hangat. Putih menjadi Hijau. Dan hutan yang bersalju kini di penuhi kicauan burung. Musim semi memang yang paling menyenangkan. Sayang sekali sekarang aku sendirian. Sejak kecil aku hanya memiliki Daichi Nii-chan. Ayahku meninggal saat ibuku mengandungku. Ibuku meninggal saat aku masih bayi. Setelah ayah meninggal, ibu membawaku dan nii-chan ke sebuah pondok yang berada di tengah hutan. Namun saat musim panas. Ibuku meninggal. Yaa saat aku masih bayi. Jadi Nii-chan lah yang merawatku selama ini.

Nii-chan tidak sekolah. Dia berburu, berladang, serta mencari kayu bakar untuk di jual ke pasar. Namun biar bagaimanapun dia tetap bahagia. Dia tak pernah mengeluh. Sekarang ? aku harus bekerja sendiri. Untuk hidupku sendiri.

"yooshh... Miwa harus memetik buah untuk di jual ke pasar"

Aku menatap halaman depan rumah. Kicauan burung terdengar merdu. Danau depan rumahku pun berkilauan di sinari oleh matahari yang baru saja menampakan diri terhadap dunia yang indah ini. Pagi yang indah bukan ?. Aku sangat semangat.

Aku berjalan ke kebun belakang rumah. Banyak sekali buah – buahan yang ibuku tanam di kebun ini. Ada berbagai jenis buah, bunga, dan tanaman herbal.

"Onii-ch~"

Aku teringat kembali oleh onii-chan. Tapi aku segera bangkit dari perasaan rindu pada onii-chan.

Aku berjalan menuju kebun belakang rumah. Dengan sebuah keranjang di tangan kananku akan kulakukan dengan senang hati. Namun saat aku tiba di kebun belakang

"ittei~" rintihku

Kudapati bola yang baru saja mengenai kepalaku. Sebuah bola kaki. Aku tak tau siapa pemiliknya. Mungkinkah ada anak yang bermain sekitar hutan ini. Tapi ini adalah pedalaman. Jauh dari desa apalagi kota. Tapi siapapun yang bermain disini pasti mencari bola ini. Ku pungut bola kaki itu. "bola yang bagus" pikirku

'kresek kresssek'

"suara apa itu?" aku kaget setengah ketakutan.

Kulihat kearah semak – semak. Yaa aku takut jika di balik semak – semak itu ada binatang buas yang ingin memakanku. Aku mundur 3 langkah. Namun tiba – tiba

"ittei tee~"

Kudapati seorang anak laki – laki yang muncul dari semak – semak. Pakaiannya bagus, seperti seorang bangsawan. Rambutnya yang pirang. Ku pikir dia bukan orang jepang. Dia tinggi. Umurnya kira – kira ntahlah tapi yang jelas ia lebih tua dariku.

"haaa~ itu bola ku"

Ia menunjuk kearah bola yang ku pegang. Ini mungkin bola miliknya

"Anoo~ apa ini milikmu?" ucapku sambil menyodorkan bola yang ku pegang

"hnnnnn.. kau siapa?" tanyaku

"watashi ? wa.. watashi wa Miwako desu, Kurumiya Miwako.. etto~ yo.. yoroshiku" ucapku gugup. Ini pertama kalinya aku berbicara pada seorang laki – laki selain kakakku

"kau bisa memanggilku Alberth. Apa ini rumahmu? Rumah yang bagus. Pasti menyenangkan tinggal disini" ia berkata sambil tersenyum

"Tidak. Miwa tinggal sendiri.. jadi~"

"jangan sesedih itu.. mau main denganku ?" tanyanya

"gomen. Tapi saat ini miwa harus memetik buah untuk di jual" tolakku

"Kalau begitu, aku akan membantumu dan kita dapat bermain setelah memetik buah. Kau bersedia kan?" tanyanya kembali menunjukan senyuman manis

"etoo~.. baiklah" aku pun tersenyum kepadanya

Kami pun memetik buah bersama. Kami saling mengobrol.

"jadi begitu yaa ceritannya. Kau sendirian" ucapnya

"kau sendiri bagaimana kehidupanmu Alberth-san ?" tanyaku. Kurasa tidak sopan berbicara seperti itu pada orang yang baru ku kenal

"Aku keturunan bangsawan victoria. Tapi orang tuaku bekerja di tokyo sebagai pengusaha. Dan aku disini, etoo~ awalnya aku hanya piknik bersama orang tuaku dan adik perempuanku" jelasnya sambil duduk di rerumputan

"kau punya adik?"

"yaa begitulah. Tapi dia manja. Sedetik ibu meninggalkannya dia akan merengek. Yaa sebenarnya aku juga sangat menyayanginya bahkan terkadang sampai memanjakannya pula. Dia seumuran denganmu"

"Tapi setidaknya kau masih memiliki keluarga"

Aku berdiri dari rerumputan. Ku lihat alberth dan kuperlihat senyumanku, sebenarnya aku sangat merindukan kakak. Aku juga sangat ingin memiliki keluarga seperti alberth

"gomen.." ucap alberth sambil memalingkan pandangan

"ehhhhh?"

"aku mengingatkanmu kembali tentang kakakmu yang sudah tiada"

Kulihat rasa bersalah muncul di raut wajahnya. Aku hanya tersenyum.

"kalau kau ingin memiliki keluarga kau bisa memanggilku Onii-chan. Tak apa – apa. Kalau kau mau kau juga bisa ikut kekota bersamaku"

"tapi Miwa~"

"ayo.. ibuku pasti akan mengangkatmu sebagai anak"

Alberth berdiri dan meraih tanganku. Ia menarikku untuk berlari bersamanya. Aku kebingungan. Sekuat tenaga aku berusaha melepaskan tanganku

"lepaskan..!" Pintaku

"Ibu dan ayahku pasti akan mengangkatmu sebagai anak. Dengan begitu kau bisa memiliki keluarga"

Alberth masih terus memegang pergelangan tanganku. Dengan perlawanan akhirnya aku bisa melepaskan tanganku.

"kenapa ? Kau tak mau ?" tanyannya

"a ... aku~"

*Bersambung*