Chapter 6
[REMAKE] A Romantic Story About Naruto by Santhy Agatha
Genre : Romance, Hurt
Cast : Sasuke Uchiha, Naruto Uzumaki, Gaara Sabaku and others
[SASUNARU]
Rated : M
.
Disclaimer : JTK me-remake novel yang nurut JTK pribadi bagus dan lumayan menyentuh dari Santhy Agatha. Jadi JTK bukan penjiplak atau plagiat, JTK hanya me-remake dan merubah sedikit menyesuaikan alur. Udah ijin sama yang punya novel ini, asalkan nama pengarang aslinya dicantumin itu gapapa. Kalian bisa baca versi aslinya di wattpad. Jadi ini cerita bukan milik JTK, JTK hanya me-remake doang. Dan sekali lagi JTK enggak plagiat.
Dan ini JTK remake jadi versi Yaoinya.
.
DON'T LIKE DON'T READ
HAPPY READING^^
SEKALI LAGI INI YAOI, YAOI. COWOK SAMA COWOK. JADI JANGAN BASH ATAU FLAME KALO GAK SUKA CERITA/CHARANYA. GAK SUKA GAK USAH MAKSA BACA CUMAN DEMI FLAME.
Damai itu indah bro, seindah tonjolan selangkangannya Uchiha Sasuke. *digampar*
.
.
.
.
.
'Julukan bajingan menjijikkan saja belum pantas untukku.' Sasuke merenung sambil menatap Naruto yang terbaring telanjang,tertidur pulas berbantalkan lengannya.
'Obatnya mungkin sudah bereaksi, atau dia kelelahan gara-gara perbuatanmu dasar bajingan!' Sasuke mengutuk dirinya sendiri. Tega-teganya dia memuaskan nafsunya atas tubuh Naruto yang sedang sakit!
Tapi kelembutan Naruto saat membisikkan kalimat "tidak apa-apa" benar benar membuatnya lepas kendali. Sasuke menggertakkan giginya, dia tidak boleh lepas kendali lagi! Dengan lembut diletakkannya kepala Naruto di bantal,dan diselimutinya tubuh telanjang Naruto dengan selimut tebal. Saat itulah bel apartementnya berbunyi, Sasuke mengernyit lalu meraih jubah tidurnya yang tersampir di kursi.
Ketika melihat dari lubang di atas pintu,dia melihat Tsunade dan Neji berdiri disana,dengan enggan dia membuka pintu apartemennya dan berkacak pinggang di pintu yang terbuka,
"Kenapa kalian bisa datang berdua disini?" tanyanya curiga. Tsunade mengangkat alisnya,
"Sungguh penyambutan tamu yang tidak sopan, kau kan yang meminta aku datang?"
Sasuke menatap Tsunade sekilas lalu menatap Neji yang sedang tersenyum,
"Dan kau? Kenapa kemari?"
Neji hanya menunjukkan setumpuk berkas kepada Sasuke. Sambil menarik napas panjang Sasuke membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan masuk,
"Silahkan masuk kalau begitu. Neji, ijinkan aku berganti pakaian yang pantas sebelum melihat berkas-berkas itu, oya Tsunade, Naruto masih tidur."
"Tidak hanya tidur kurasa", Tsunade memandang penampilan Sasuke yang acak-acakan
dengan tatapan mencela. Dan ketika Sasuke tidak membantah melainkan hanya tersenyum kecut, matanya membelalak tidak percaya,
"Maksudmu...kau..?", Tsunade kehilangan kata-kata, "Astaga Sasuke tidak kusangka kau menjadi maniak seks separah itu sampai tega-teganya meminta pemuda yang sedang sakit untuk melayanimu!", serunya blak-blakkan, "Mana dia? Aku harusnya merekomendasikan dia dirawat di rumah sakit, bukannya disini, kalau disini bersamamu sepertinya dia bukannya sembuh malahan tambah parah!"
Neji tampak tidak peduli dengan pertengkaran dua orang di depannya, dia sibuk melihat-lihat ruangan apartement itu,
"Wah, apartement yang bagus...mungkin aku bisa beli satu disini ", Gumamnya santai. Ia tampak menikmati detail apartemen yang dibeli Sasuke.
Sasuke melotot ke arahnya, lalu dengan sebal melangkah ke kamar, Tsunade mengikutinya. Naruto sedang tertidur pulas saat Tsunade mendekat ke arahnya, dan menyentuh dahinya,
"Panasnya seperti api, mungkin aku harus membawa sample darahnya ke Lab untuk memastikan dia tidak terkena demam berdarah...",
Tsunade mengernyit menyadari Naruto telanjang di balik selimutnya, "Aku masih tidak habis pikir kau menidurinya pada saat seperti ini...aku tak tahu dia siapamu Sasuke. Oke bussiness is bussiness, setahuku kau masih berpacaran dengan Karin dan sekarang tiba-tiba kau sudah tinggal serumah dengan karyawanmu sendiri..."
"Tidak tinggal serumah,aku tinggal di rumahku sendiri, apartemen ini kubelikan untuknya."
Tsunade mengangkat alisnya,
"Oh ya? Kalau begitu berapa malam kau di rumahmu sendiri dan berapa lama kau tidur disini?", dengan cekatan, Tsunade memeriksa Kondisi Naruto dan menyiapkan suntikan dari tas kerjanya untuk mengambil sample darah Naruto.
Sementara itu Sasuke kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Tsunade, "Kau benar", Sasuke mengangkat bahu, "Sejak tidur bersamanya pertama kali, aku tidak pernah membiarkannya tidur sendirian lagi tiap malam"
"Bagaimana ceritanya kalian bisa menjalin hubungan? Seingatku tingkat peluang pertemuan antara sang CEO dan staff biasa sangat kecil. Sebenarnya sampai sekarangpun aku masih bertanya-tanya Sasuke, Neji juga tidak mau menjelaskan apapun, kukira..."
"Bukan urusanmu Tsunade, tidak ada yang aneh dalam hubungan ini, dua orang setuju untuk saling memenuhi kebutuhan itu saja, dan aku menolak menjawab apapun kepadamu", Sasuke menjawab dengan tajam.
Tsunade mengangkat bahu lalu melanjutkan memeriksa Naruto lalu menuliskan resep.
"Diagnosa awal hanya flu biasa, tapi lebih lanjut menunggu hasil tes darah. Aku akan menuliskan resep obat dan antibiotiknya. Tiga hari sekali Sasuke, dan ingat, dia harus istirahat. Tahan nafsumu, jika kau tidak bisa menahannya, cari orang lain."
.
.
Naruto terbangun dengan rasa mual dan sakit di sekujur tubuhnya. ketika dia membuka matanya, dia melihat perempuan yang sangat familiar di duduk di ranjang sebelahnya,
"Dokter Tsunade?" Tsunade tersenyum,
"Yah, Sasuke memintaku datang memeriksamu. Dia dan Neji, para lelaki sedang membicarakan masalah bisnis di ruang depan dan aku memutuskan menunggumu sadar di sini, bagaimana kondisimu?"
Naruto berusaha keras mengeluarkan suaranya,
"Mual...pa...nas..", gumamnya serak,
Tsunade memegang dahi Naruto, panasnya seperti api,
"Kemari, aku akan membantumu meminum obat." dengan cekatan Tsunade membantu Naruto meminumkan obatnya, lalu membaringkan Naruto lagi dan merapikan selimutnya. Keduanya menyadari bahwa Naruto telanjang di balik selimutnya, wajah Naruto langsung merah padam. Tsunade menatap Naruto penuh pengertian.
" Dia memang kadang kadang sangat egois,kau tahu, terbiasa menjadi bos sejak dia lahir. Dia bisa dibilang masih keturunan aristokrat dari keluarga berpengaruh di Jerman, sejak dulu dia sudah terbiasa keinginannya dipenuhi...", Tsunade mengedipkan sebelah matanya, "Kau tahu, saat pertama mengenalnya aku sangat tidak menyukainya"
Naruto tersenyum malu-malu,
"Saya juga ", jawabnya pelan.
Tsunade tertawa mendengarnya,
"Tapi walau pun begitu kau tidak boleh menuruti kemauannya seperti itu, kau berhak menolak, kau tahu itu kan?"
Sebelum Naruto sempat menjawab, Sasuke, yang entah kapan sudah berada di ruangan itu berdehem keras, dengan sengaja.
"Tsunade, bukannya kau harus segera membawa sample darah itu ke lab?", gumam Sasuke datar, tapi matanya memperingatkan. Tsunade tersenyum miring, lalu mengangkat bahu dan tersenyum pada Naruto,
"Sepertinya dokter sudah diusir, obatnya ada di meja Sasuke beserta cara pakai, kutinggalkan resep kalau-kalau obatnya habis, besok aku akan mengabarimu tentang hasil labnya".
Tsunade mengangguk pada Naruto mengangkat tasnya dan berjalan pergi, pada saat berhadapan dengan Sasuke di pintu keluar, dia menatap tajam,
"Ingat Sasuke, dia harus istirahat kalau mau sembuh", gumamnya tegas sebelum melangkah pergi. Sasuke menatap pintu yang tertutup di belakangnya lalu mengangkat bahu dan tersenyum pada Naruto,
"Kadang-kadang aku merasa dia masih membenciku sampai sekarang." Naruto tersenyum lemah pada Sasuke yang menuang segelas air dari teko di meja samping ranjang,
"Apakah kau haus ? ayo, aku akan membantumu minum." Dengan cekatan Sasuke membantu Naruto duduk, beberapa kali selimut melorot dari dada Naruto, hingga Naruto harus mencengkeramnya, tapi Sasuke mengabaikannya, sama sekali tidak melirik ketelanjangan Naruto, rupanya laki-laki itu bertekad untuk membiarkan Naruto beristirahat.
Setelah membantunya minum, Sasuke menyentuh dahi Naruto dengan lembut, dan mengernyit karena badannya sangat panas,
"Maaf", Naruto tiba-tiba merasa bersalah, dia jarang sakit, tapi kali ini sekalinya sakit sangat parah sehingga harus bergantung pada belas kasihan Sasuke. Wajah Sasuke melembut,
"Minta maaf karena sakit ?", Sasuke menarik napas, "kau benar-benar pemuda aneh", Sasuke tersenyum miris, "Oke, obat itu akan membuatmu mengantuk, aku akan memesan makanan, jadi begitu bangun kau bisa makan."
Naruto mengernyit mendengar kata makan karena dia merasa sangat mual, Sasuke menatap Naruto dengan tatapan tegas seperti seorang ayah memarahi anaknya,
"Kau harus makan, jika tidak makan kau tidak akan segera sembuh dan jika kau tidak segera sembuh kau tidak akan bisa melayaniku", gumamnya tegas, tapi tetap saja membuat Naruto merona dengan perkataannya yang teralu vulgar. "Tidurlah", lalu lelaki itu berbalik dan melangkah keluar kamar.
Naruto meringkuk dibalik selimut, obat itu membuatnya nyaman dan mengantuk, sangat mengantuk.
.
.
Sasuke duduk di tepi ranjang, dan mengamati Naruto, panasnya sudah agak turun dan pemuda itu tidur seperti bayi, entah kenapa dan sejak kapan dia merasa kalau pemuda ini menjadi begitu penting baginya. Mungkin karena kedekatan mereka selama ini, Sasuke tidak pernah membiarkan orang lain sedekat dengan dirinya.
Tiba-tiba bunyi getaran disamping ranjang mengejutkan Sasuke, ponsel kecil itu bergetar dan Sasuke mengernyitkan keningnya, ponsel milik Naruto? Dia baru pertama melihatnya, karena Naruto tidak pernah menggunakannya di depannya.
Dan yang terlintas pertama kali di otak Sasuke ketika melihat ponsel itu adalah, dia harus membelikan Naruto ponsel yang lebih baik. Ponsel itu terus bergetar, rupanya penelpon di seberang sana tidak mau menyerah, Sasuke meraih ponsel itu karena tidak mau getarannya mengganggu Naruto yang sedang tertidur lelap.
'Suster Sakura?' Sasuke mengernyit membaca nama penelepon di ponsel itu, sebelum mengangkatnya,
"Naruto?", suara diseberang telephone langung menyahut cemas, "Maafkan aku karena menelepone,aku cemas karena kau sudah dua hari tidak kemari dan tidak ada kabar sama sekali darimu, padahal kau tidak pernah melewatkan satu haripun, apakah kau baik baik saja?"
Jeda sejenak, Sasuke ragu untuk bersuara, tetapi kemudian dia bersuara,
"Maaf, Naruto sedang tidur", ketika Sasuke bersuara, dia mendengar suara terkesiap diseberang sana, sepertinya lawan bicaranya sangat terkejut mendengar dia yang menyahut,
"Oh...maaf...", suster Sakura tampak kehilangan kata-kata.
"Naruto sedang sakit, dua hari ini dia demam tinggi, mungkin besok saya akan memberitahunya kalau anda menelepon", lanjut Sasuke tenang dan tanpa memperkenalkan dirinya, tentu saja dia tidak berniat memperkenalkan dirinya.
"Oh, baiklah, terimakasih", suara diseberang terdengar sangat gugup, lalu telephone ditutup dengan begitu cepat sehingga Sasuke mengernyit.
'Ada yang aneh, wanita diseberang itu memang kaget mendengar suaranya, tetapi tidak ada kesan bertanya-tanya mendengar suara Sasuke yang menjawab telephone. Apakah wanita diseberang itu mengetahui siapa Sasuke ? Dan apa yang dimaksud dengan datang setiap hari dan tidak pernah melewatkan satu haripun? Datang kemana? Untuk apa?'
Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepala Sasuke dan membuatnya menyadari bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang Naruto.
.
.
Tsunade sedang duduk di bar bersama dengan Neji, lalu mengernyit,
"Menurutmu apakah bos kita itu sudah main hati?" Neji menyesap minumannya,
"Apa maksudmu?"
"Pemuda tan itu, Naruto"
Hening sejenak dan Neji menyesap minumannya lagi,
"Menurutku Sasuke sudah gila", gumamnya dengan nada tidak setuju,"Dia sudah bertindak di luar kehati-hatiannya yang biasa menyangkut pemuda itu." Tsunade menolehkan kepalanya ke Neji dengan penuh rasa ingin tahu,
"Sebenarnya aku sangat penasaran dengan hubungan mereka, menurutku Sasuke menyimpan perasaan yang dalam..."
"Ralat, nafsu yang dalam", sela Neji, "Sasuke sudah merasakan nafsu yang dalam ketika melihat pemuda itu pertama kalinya dan menginginkannya. Dan pemuda itu, Naruto, dia memanfaatkan itu dengan menjual dirinya kepada Sasuke", gumamnya jijik.
Tsunade mengernyit lagi,
"Naruto tidak kelihatan seperti orang yang sengaja menjual dirinya"
"Dia menjual dirinya seharga tiga ratus juta. Aku sendiri yang membuatkan kontrak perjanjian jual beli yang konyol itu, setelah itu Sasuke masih membelikan apartemen untuk tempat dia tinggal, dan bahkan berencana melunasi hutang pemuda itu yang hampir 40juta di perusahaan, aku sudah menasehatinya kalau dia mulai berlebihan, tapi Sasuke tidak peduli. Dia seperti orang tidak waras,", gumam Neji frustasi.
Tsunade merenung dengan serius, tiga ratus juta? Itu uang yang tidak sedikit untuk pemuda seumuran Naruto. Dan dia juga berhutang 40 juta di perusahaan, sungguh pengeluaran fantastis untuk pemuda dengan penampilan sederhana seperti Naruto,
"Menurutmu untuk apa uang itu? Kalau untuk bermewah-mewah sepertinya tidak mungkin, pemuda itu tinggal di tempat kost sederhana, pakaian dan barang-barangnya
tidak ada yang bermerk, dia juga selalu naik kendaraan umum ke kantor", gumam Tsunade pelan.
Neji menoleh dan mengangkat alisnya,
"Untuk seorang dokter perusahaan, tampaknya kau tahu banyak" Tsunade tertawa pelan,
"Tentu saja, aku banyak berhubungan dengan karyawan kau tahu. Neji, tampaknya kau tidak boleh terlalu berprasangka dulu pada Naruto", Tsunade berubah serius, "Sasuke bukan orang bodoh, dia tidak akan membiarkan dirinya dimanfaatkan, kecuali dia melakukannya dengan sukarela"
"Dia mabuk kepayang, lelaki yang mabuk kepayang tidak akan menggunakan akal sehatnya, dan kalau hal itu mulai keterlaluan, aku sendiri yang akan memperingatkan Naruto", gumam Neji dengan penuh tekat.
Tsunade diam saja, memahami betapa dalamnya rasa persahabatan antara Neji dan Sasuke, dan betapa Neji sangat ingin menjaga sahabatnya itu. Tetapi ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, sesuatu tentang Naruto, pemuda itu terasa familiar tetapi Tsunade tidak bisa mengingatnya, kapan? Dimana?
.
.
Naruto mulai sembuh, meskipun dia belum bekerja, Sasuke tidak mengijinkannya. Laki-laki itu bersikeras bahwa Naruto belum boleh bekerja, dan dia memerintahkan dokter Tsunade menghubungi langsung atasan Naruto sehingga tidak masuknya Naruto selama empat hari ini tidak akan menjadi masalah.
Well, besok dia harus masuk, dia sudah sehat, itu hanya flu biasa dan dengan perawatan Sasuke yang sengat intensif disertai dengan obat dari dokter Tsunade yang sangat manjur, dia sudah merasa cukup kuat hari ini.
Dan Naruto merindukan Gaara, sudah empat hari dia tidak ke rumah sakit, kemarin tubuhnya masih terlalu lemah, tetapi sekarang dia sudah agak kuat dan tidak sabar ingin segera melihat Gaara,
Suster Sakura menelepon dan menceritakan perihal Sasuke yang mengangkat teleponnya pada waktu Naruto tertidur, sekaligus meminta maaf jika dia sudah hampir membuka rahasia Naruto.
Setelah itu, Naruto bersikap hati-hati kepada Sasuke, menunggu lelaki itu bertanya kepadanya. Tetapi Sasuke besikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Jadi Naruto berpikir Sasuke tidak menganggap telepone dari suster Sakura itu sebagai sesuatu yang serius.
Naruto sudah berpakaian rapi, saat itu jam lima sore, Sasuke masih akan pulang jam sembilan malam, jadi dia masih punya waktu lebih dari cukup untuk menengok Gaara.
Dengan riang karena akhirnya bisa berkunjung lagi ke rumah sakit, Naruto berjalan dan membuka pintu keluar apartemennya, hanya untuk berhadapan dengan sosok Sasuke yang akan membuka pintu untuk masuk, Sasuke mengamati Naruto yang berpenampilan rapi,
"Mau kemana?", tanyanya langsung.
Sejenak Naruto terperangah tak menyangka akan berhadapan dengan Sasuke, matanya mengerjap gugup.
"Naruto?", Sasuke mengulang pertanyaannya dalam matanya.
"Eh aku...", Naruto mengerjap lagi, "aku mau membeli bahan makanan di supermarket", gumamnya, mengucapkan hal pertama yang terpikir di dalam benaknya.
Sasuke mengernyit,
"Kau masih sakit, tidak boleh keluar-keluar, kau bisa membeli bahan makanan itu besok, lagipula aku sudah membawa makanan", Sasuke menunjukkan kantong kertas di tangannya dan melangkah masuk lalu menutup pintu apartement, ketika dirasakannya Naruto masih terpaku dia menoleh dan mengangkat kantong makanan itu,
"Kau tidak mau menatanya di piring sementara aku mandi?", tanyanya lembut, Naruto tergeragap, dan mengangguk, lalu menerima kantong itu dari Sasuke. Ketika Sasuke melangkah ke kamar dan mandi, Naruto menata makanan di dapur dengan frustasi, 'kenapa Sasuke sudah pulang sore-sore begini? Kenapa waktunya begitu tidak tepat?'
Naruto menyempatkan diri menghubungi Suster Sakura dan menjelaskan perihal batalnya kunjungannya ke rumah sakit, untunglah suster Sakura mengerti lalu menjelaskan secara singkat kondisi Gaara yang stabil sehingga kemungkinan operasi ginjalnya bisa dilakukan beberapa hari lagi. Naruto merasa sangat lega mendengarnya, dengan cepat dipanjatkannya doa permohonan untuk Gaara lalu melanjutkan menata makanan itu. Semua masakan yang dibeli Sasuke tampak hangat dan menggiurkan sehingga mau tak mau menggugah selera Naruto,
"Kau pasti menyukainya, itu menu andalan dari restaurant favoritku", Sasuke masuk kedapur dengan mengenakan pakaian santai, dia sudah bertransformasi dari pebisinis yang dingin ke lelaki yang lebih mudah didekati.
"Mana kopiku?", gumamnya disebelah Naruto,
Sasuke berdiri begitu dekat hingga membuat Naruto gugup, dengan ceroboh dia hampir melompat menjauh dari Sasuke, membuat lelaki itu mengangkat sebelah alisnya sambil menatap Naruto,
"A...akan kubuatkan", gumam Naruto dengan pipi merah padam.
"Tidak, nanti saja akan kubuat sendiri, kemarilah aku belum memeriksamu sejak tadi", Sasuke merentangkan tanggannya sambil bersandar di meja dapur.
Naruto memandang ragu-ragu ke tangan Sasuke yang terentang, lalu beralih kemata Sasuke yang menyiratkan perintah tanpa kata-kata. Dengan ragu dia melangkah mendekat ke arah Sasuke, lelaki itu langsung merengkuhnya ke dalam pelukannya. Naruto tersentak sedikit kaget mendapat perlakuan mengejutkan Sasuke.
"Hmmmm kau harum seperti aroma jeruk segar", gumam Sasuke tenggelam disela sela rambut Naruto.
'Sasuke juga harum,' pikir Naruto dalam hati, aroma sabun dan aftershave, aroma yang sudah familiar dengannya dan mau tak mau Naruto merasa nyaman ada di dalam pelukan Sasuke,
Mereka berdiri sambil berpelukan beberapa lama, tanpa suara tanpa kata-kata, Ketika akhirnya Sasuke mengangkat kepalanya dan menatap Naruto, matanya tampak membara,
"Kau sudah tidak demam lagi", suaranya terdengar serak, dan Naruto mengerti artinya, Sasuke sudah terlalu lama menahan diri, lelaki itu tidak menyentuhnya selama tiga malam, dan mengingat besarnya gairah Sasuke kepadanya, sepertinya itu sudah hampir mencapai batas maksimal pengorbanan Sasuke.
Naruto sangat mengerti.
"Iya, aku sudah tidak demam lagi", balas Naruto lembut.
Sasuke mengerang lalu menekankan tubuhnya makin rapat pada tubuh Naruto, hingga kejantanannya yang sudah mengeras menekan Naruto membuat pipi Naruto memerah. Dengan lembut Sasuke mengusap pipi Naruto,
"Uh..Teme.." Sasuke menaikkan alisnya ketika mendengar Naruto memanggilnya dengan kata seperti itu. Naruto tampak salah tingkah, sungguh ia benar-benar tidak sengaja memanggil Sasuke dengan perkataan seperti itu.
"Teme?"
"Eh..um..maksudku..ah tidak seperti itu," mau tak mau Sasuke mengembangkan senyum tipisnya. Melihat kelakuan Naruto yang tampak menggemaskan ketika dia salah tingkah.
"Apakah aku seberengsek itu hem?" Sasuke menggesekkan kejantanannya lagi dan membuat Naruto mengerang lumayan keras. Nafas mereka beradu di udara.
"Jadi kau akan kupanggil Dobe mulai sekarang," Sasuke mengeluarkan lidahnya, menjilati pipi Naruto dengan penuh nafsu sekaligus menggigitinya pelan.
"Aku tidak bodoh, dasar Teme," bibir Naruto mengerucut kedepan, Sasuke tidak tahan untuk meraupnya dalam ciuman yang dalam dan panas. Benar-benar panas, mereka saling bertukar lidah.
Naruto yang pertama kali melepaskan ciumannya kemudian menatap Sasuke meminta menjelasan tentang namanya yang dipanggil seperti itu. "Hanya orang bodoh yang begitu liar di ranjang, tapi masih bisa memerah pipinya ketika kugoda", dengan lembut Sasuke meniupkan napas panas di telinga Naruto, membuat tubuh Naruto menggelenyar, "Apakah aku juga bisa membuat yang di bawah sana merona ketika kugoda?"
Sasuke tanpa permisi memasukkan tangannya ke dalam celana Naruto. Tangan Sasuke menyentuh Naruto dengan lembut, membuat napas Naruto terengah, jemari yang kuat itu menelusup ke dalam, menyentuh Naruto dan menggodanya, membuatnya basah. Sasuke menambahkan jarinya, kemudian sedikit menekuk bagian jari tengahnya, menusuk Naruto dengan jemarinya.
"Akh..T-tte-nggh-mee..l-lagi" ia memohon tanpa sadar, merespon dengan pijatan lembut pada jemari Sasuke yang membuat Sasuke menggeram keras. Cukup, nafsunya sudah sangat memuncak dan adiknya terasa seperti hendak meledak menahan ketegangan yang terus meningkat.
Sasuke mendorong Naruto ke atas meja dapur membuka pahanya, lalu dengan cepat membuka celananya dan menyatukan dirinya dengan Naruto. Kerinduannya begitu dalam sehingga kenikmatan yang terasa begitu menyengat seakan-akan jiwanya dipukul dengan tabuhan percikan orgasme tanpa ampun.
Entah hati mereka saling berseberangan, tetapi ternyata tubuh mereka saling membutuhkan. Naruto setengah terbaring di atas meja dapur dengan tubuh Sasuke melingkupinya, Lelaki itu membutuhkannya dan Naruto dengan caranya sendiri membutuhkan Sasuke. Ketika paha Naruto melingkupi pinggang Sasuke, Sasuke menekankan dirinya kuat kuat, menggoda batas pertahanan Naruto.
"Teme...", Naruto merintih, tanpa sadar mengucapkan nama Sasuke, dan ucapan itu bagaikan musik hangat di telinga Sasuke,
"Ya manis, katakan manis, kau ingin aku berbuat apa?", bisik Sasuke parau disela tubuhnya yang bergolak untuk memuaskan Naruto, di sela napasnya yang tersengal yang terpacu cepat. "Kau ingin aku memuaskanmu ya? Aku akan memuaskanmu manis, aku akan memuaskanmu sampai kau tidak akan pernah bisa menemukan kepuasan yang sama dari siapapun.", Dengan posesif Sasuke menekan Naruto menyatakan kepemilikannya,
"Kau tidak akan pernah menemukan lelaki lain...", suara Sasuke tercekat ketika hantaman orgasme melandanya, membawa Naruto ikut dalam pusaran puncak kenikmatannya. Dan akhirnya, mereka baru menyantap makan malam hampir lewat tengah malam.
.
.
Ruangan itu sangat sunyi, hanya suara alat-alat penunjang kehidupan yang berbunyi secara teratur. Naruto duduk disana, disamping ranjang Gaara, menatap Gaara yang terbaring dengan damai. Dua jam lagi operasi ginjal Gaara akan dilaksanakan.
'Kau harus kuat bertahan ya? Demi aku kau harus bertahan, kau harus bertahan, demi aku Gaara...' Berkali-kali Naruto merapalkan kata-kata itu seperti sebuah doa yang tidak adaputus-putusnya.
Gaara tampak lebih kurus, dan pucat, dan begitu diam, tetapi Naruto meyakini masih ada kekuatan hidup yang tersembunyi di dalam tubuh Gaara, Naruto mempercayainya. Naruto percaya kepada Gaara, seluruh harapannya masih bertumpu kepada kepercayaannya itu.
Kemungkinan keberhasilan operasi itu adalah 40:60, dan Naruto bergantung kepada 40% itu. Dia percaya Gaara adalah lelaki yang kuat, buktinya dia sudah berhasil bertahan sampai sejauh ini.
Suster Sakura masuk ke dalam ruangan, dan menyentuh pundak Naruto.
"Kondisinya stabil Naruto, aku yakin dia akan berhasil melalui ini semua."
"Iya suster, Gaara pasti kuat."
Suster Sakura mengecek denyut nadi Gaara lalu menatap Naruto seolah teringat sesuatu.
"Bagaimana kau berpamitan dengan Sasuke?" Naruto merona.
"Aku bilang menemani teman yang akan melahirkan," gumamnya pelan, merasa berdosa karena tidak biasa berbohong.
Hari ini hari minggu, Sasuke kebetulan berencana melewatkan waktunya seharian dengan Naruto. Tetapi dengan alasan palsu dan kebohongan yang terbata-bata, Naruto berhasil membuat Sasuke melepaskannya. Meskipun dahi Sasuke tampak berkerut curiga ketika Naruto berpamitan tadi pagi.
"Kalau begitu kenapa kau tak mau kuantar?" kejar Sasuke tadi pagi ketika Naruto menolak tawarannya.
"Karena temanku ini mengenalmu sebagai bosku, nanti dia bisa mengetahui semuanya." jawab Naruto cepat-cepat. Lelaki itu mengerutkan keningnya lagi, tidak puas.
"Apakah dia salah satu pegawaiku?"
"Bukan!"
Naruto langsung menyela keras, karena setelah mengenal Sasuke lebih dekat, Naruto tahu, jika dia menjawab 'iya', maka Sasuke pasti akan menyuruh salah satu staf personalianya untuk mengecek apakah benar ada karyawannya yang akan melahirkan, dan dia akan mendapati kalau Naruto berbohong.
"Dia bukan pegawaimu, tapi dia banyak mengenal teman-teman kantor dan dia tahu tentangmu, jadi kalau dia melihatmu dia bisa bertanya-tanya kepada yang lain…."
"Oke, kalau begitu di Rumah Sakit mana?"
Naruto kehilangan kata-kata, berusaha mencari jawaban.
"Eh...aku tidak tahu di Rumah Sakit mana." Dengan cepat Sasuke melangkah ke hadapan Naruto yang berusaha menghindari tatapannya.
"Kau bilang akan menemani temanmu itu di Rumah sakit, bagaimana mungkin kau tidak tahu di mana rumah sakitnya?"
"A...aku...", dengan gugup Naruto menelan ludah, "Aku akan menunggu di kost yang lama, suaminya akan menjemputku nanti" , disyukurinya jawaban yang terlintas cepat di otaknya. Dia jarang berbohong, dan tidak pandai berbohong, sementara Sasuke terlihat seperti seorang detektif yang mencurigai tindakan kriminal yang dilakukan di belakangnya.
"Suaminya?"
Jawaban itu sepertinya membuat Sasuke tidak senang karena ekspresi wajahnya semakin menggelap.
"Kau membiarkan suaminya menjemputmu? Kalian hanya berdua di jalan?"
Naruto merasa gugup, tapi kemudian dia merasa ingin tertawa mendengar perkataan Sasuke yang terasa aneh.
"Teme," gumam Naruto jengkel, "Dia seorang suami, dan isterinya akan melahirkan anaknya, apa yang ada di dalam pikiranmu?" Perkataan itu membuat pipi Sasuke merona, dan dia melangkah mundur.
"Ah ya...maaf," lalu lelaki itu menatap Naruto tajam, "Kau boleh pergi, tapi begitu sampai di rumah sakit itu kau harus menghubungiku. Dan lain kali, kau memang benar-benar harus pergi bersamaku," mutlak, Naruto mendengar nada keposesifan di suara itu.
"Ya," jawaban Naruto terlalu cepat sehingga Sasuke menatapnya makin curiga.
"Kau harus menghubungiku, Oke?"
"Oke", jawab Naruto terlalu cepat.
"Dobe!" Suara Sasuke terdengar jengkel.
"Oke, Aku janji." Jawab Naruto akhirnya.
"Dan sebelum jam delapan malam kau harus pulang."
"Baik Teme,", Naruto berjanji meski tidak tahu apakah dia bisa menepatinya. Dan sekarang, dengan sengaja Naruto mematikan ponselnya. Bagaimanapun kemarahan Sasuke nanti akan ditanggungnya, sekarang yang paling penting adalah Gaara.
"Sudah waktunya", gumam suster Sakura, membuyarkan lamunan Naruto. Dua perawat lain masuk ke ruangan dan mulai mempersiapkan mesin-mesin penunjang kehidupan untuk Gaara. Lalu mulai mendorong tubuh Gaara keluar ruangan.
Naruto mengikuti di belakang, sampai Gaara menghilang di pintu khusus ruang operasi.
Dengan lemah dia menoleh ke suster Sakura,
"Berapa lama suster operasinya?" Suster Sakura memeluk Naruto lembut.
"Untuk operasi berat seperti ini, minimal 4 jam Naruto. Bersabarlah, aku tau kau pasti akan terus menunggunya"
'Ya…aku terus menunggunya Suster…sampai nanti, sampai saat dia terangun atau hingga saat aku tidak lagi bisa bernafas..' batin Naruto dalam hati.
.
.
4 jam
5 jam
6 jam
...
Napas Naruto mulai terasa sesak, berkali kali dia melirik lampu di atas pintu ruang operasi. Tetapi tetap tidak ada gerakan di sana. Di setiap detik yang terlewatkan dengan begitu lambat, napas Naruto terasa makin lama makin sesak.
'Kenapa lama sekali? Apa yang terjadi? Apakah para dokter mengalami kesulitan? Bagaimana kondisi Gaara disana?'
Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di dalam benak Naruto, membuatnya makin cemas dan ketakutan. Suster Sakura sudah berkali-kali menengok keadaan Naruto di sela-sela tugas jaganya, membawakan Naruto segelas teh dan makanan kecil karena Naruto tidak mau makan.
"Makanlah dulu Naruto. Aku tidak mau kau pingsan nantinya." gumam suster Sakura sambil memijit lembut pundak Naruto.
Dengan lemah Naruto menggeleng. "Tidak bisa suster, aku terlalu cemas untuk makan."
"Kalau begitu minumlah tehmu, kau sama sekali belum makan sejak tadi, setidaknya teh manis bisa memberikanmu sedikit tenaga."
Dengan patuh Naruto meneguk teh manisnya, lalu menatap ke pintu lagi dengan cemas.
"Kenapa lama sekali suster operasinya?" Suster Sakura menghela napas.
"Aku tidak tahu Naruto, tapi Gaara kan kasus khusus, para dokter harus benar-benar berhati-hati menanganinya, mungkin itu yang memerlukan waktu lebih lama." Pandangan Naruto tetap tidak terlepas dari pintu ruang operasi.
Ketegangannya semakin meningkat, ketika lampu di atas pintu ruang operasi menyala, tanpa sadar dia terlompat dari tempatnya berdiri dan setengah berlari menyongsong dokter.
Dokter itu tersenyum sebelum Naruto bertanya, dia mengenal Naruto, mengenal kegigihan pemuda itu memperjuangkan kehidupan tunangannya. Dan tanpa sadar turut merasakan empati pada pasangan itu.
"Tidak apa-apa Naruto, Gaara lelaki yang kuat, operasinya berhasil." Tubuh Naruto langsung lunglai penuh rasa syukur hingga sang dokter harus menopangnya.
"Selamat Naruto, kamu berhasil... Kalian berdua berhasil."
.
.
"Pulanglah dulu Naruto, ini sudah hampir jam tiga pagi", Suster Sakura yang masih setia menemani mengguncang pundak Naruto.
Dia kasihan melihat pemuda itu tertidur kelelahan di samping ranjang Gaara, begitu Gaara keluar dari ruang pemulihan dan kembali ke kamar perawatan intensif, Naruto tak pernah beranjak dari sisi Gaara, tidak makan, tidak minum. Hanya duduk disana mengenggam tangan Gaara yang tidak terbalut infus, seolah olah akan ada keajaiban dimana Gaara akhirnya sadarkan diri.
'Kasihan sekali kau nak,' Suster Sakura menggumamkan rasa tersentuhnya dalam hati.
Naruto berusaha mengumpulkan kesadarannya, tanpa terasa tadi dia tertidur karena kelelahan.
"Kamu harus pulang Naruto, ingat, mungkin Sasuke kebingungan mencarimu."
Astaga! Astaga! Astaga! Ya Tuhan, Naruto benar-benar lupa, Sasuke! Astaga, lelaki itu pasti akan mencarinya dan sekarang dia pasti sedang marah besar! Dengan gugup Naruto bangkit dari kursinya, sedikit gemetar membayangkan kemarahan Sasuke nantinya.
"Aku meminta supir rumah sakit mengantarmu pulang, jadi kamu tidak perlu naik taksi dini hari begini", Suster Sakura berusaha meredakan kegugupan Naruto. Dengan cepat Naruto mengecup tangan Gaara yang masih ada dalam genggamannya, memeluk Suster Sakura dan setengah berlari keluar.
.
.
Ruangan itu gelap.
Gelap dan sunyi, hingga bunyi klik ketika Naruto menutup pintu terdengar begitu keras.
Dengan gugup Naruto menelan ludah.
'Kenapa sepi? Kemana Sasuke? Apa Sasuke mungkin pulang ke rumahnya? Apa mungkin dia tidak tahu kalau Naruto belum pulang?' Syukurlah kalau begitu kejadiannya.
Naruto berusaha menenangkan dirinya, tapi tetap saja tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya menghadapi apa yang akan terjadi, seperti hitungan mundur penantian sebuah bom yang akan meledak saja.
Dan bom itu memang meledak.
Dalam hitungan beberapa menit pintu depan terbuka, tidak, bukan terbuka, tapi terdorong dengan kasarnya, lampu-lampu menyala. Sasuke tampak begitu menakutkan, matanya menyala-nyala, rambutnya acak-acakan, bahkan pakaiannya yang biasanya selalu elegan dan rapi tampak kusut masai. Yang pasti, lelaki itu kelihatan begitu murka mendapati Naruto berdiri di ruang tamu apartemen itu, hanya menatapnya.
Dengan gerakan kasar dia meraih pundak Naruto dan mengguncangnya begitu keras sampai Naruto merasa pusing,
"Kemana saja KAU?!", teriak Sasuke, lepas kendali.
Naruto berusaha menjawab, tetapi kepalanya terasa pusing karena Sasuke masih mengguncangnya.
"Aku mencarimu ke segala penjuru, kau tahu?! ", Sasuke masih berteriak.
"Semua rumah sakit bersalin di kota ini aku datangi satu persatu, tapi tidak ada kamu! Kemana saja KAU?"
"Sasuke, kalau kau terus mengguncangnya seperti itu, dia akan muntah sebentar lagi", sebuah suara tenang terdengar di belakang Sasuke, membuat lelaki itu terpaku, seolah-olah baru menyadari kehadiran sosok di belakangnya. Neji berdiri dengan santai sambil menyandarkan tubuhnya di dinding dekat pintu, sepertinya menikmati pemandangan Naruto yang didamprat oleh Sasuke. Sasuke menarik napas dalam-dalam beberapa kali, berusaha mengontrol emosinya.
'Sialan benar Naruto! Sialan benar pemuda ini!' Tidak tahukah dia begitu cemas tadi ketika sampai malam Naruto tidak juga pulang? Tak tahukah dia betapa hati Sasuke dicengkeram ketakutan yang amat sangat ketika mencoba menghubungi Naruto dan menemukan bahwa ponselnya mati? Beribu pikiran buruk tadi berkecamuk di dalam benak Sasuke, 'Bagaimana kalau Naruto kecelakaan? Atau dia menjadi korban kejahatan?! Bagaimana kalau pemuda itu terluka parah dan tidak dapat datang kepadanya untuk meminta pertolongan?'
Dan sekarang, menemukan pemuda itu berdiri di ruang tamu apartemennya, tanpa kekurangan suatu apapun, membuat Sasuke dibanjiri perasaan lega yang amat sangat, lega sekaligus murka, murka karena pemuda itu telah membuatnya kacau balau, murka karena pemuda itu telah membuatnya berubah dari Sasuke yang tenang menjadi Sasuke yang kacau, murka karena pemuda itu telah menumbuhkan sebentuk perasaan yang tidak dia kenal sebelumnya.
"Pro... Proses melahirkan temanku bermasalah... Dia... Dia eh... Harus... Dioperasi...", Naruto masih berusaha mengumpulkan nafasnya, diguncang dengan begitu kerasnya membuat pandangannya berkunang-kunang.
Tangan Sasuke yang masih berada di pundaknya mencengkeramnya kuat.
"Kalau begitu, apa susahnya meneleponku?! Kenapa kau matikan ponselmu hah?!",
Naruto mengerjapkan matanya gugup. "Baterai ponselku... Habis..."
"Memangnya tidak ada cara lain buat menghubungiku?! Aku hampir gila memikirkan kau ada dimana! Apa kau pikir aku tidak mencemaskanmu? Kau tahu aku hampir melaporkan kehilanganmu ke kantor polisi! "
"Sasuke, sudahlah, toh dia sudah pulang dengan selamat", Neji menyela, berusaha lagi meredakan kemarahan Sasuke. Dengan tajam Sasuke menoleh kepada sahabatnya itu,
"Cukup Neji, kau boleh pulang, terima kasih sudah menemaniku tadi."
Neji hanya mengangkat bahu menghadapi pengusiran halus itu, dia menepuk-nepuk kemejanya yang juga kusut, lalu melangkah keluar pintu.
"Kau harus menenangkan otakmu, kalau kau seperti ini, makin lama aku makin tidak mengenalmu", kata-kata Neji ditujukan kepada Sasuke, tapi matanya menatap tajam ke arah Naruto, menyalahkan.
"Dan kau, Tuan Naruto, lain kali belajarlah sedikit bertanggung jawab!", sambungnya dingin sebelum melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya.
Ruangan itu menjadi begitu hening sepeninggal Neji.
Sasuke diam.
Dan Naruto juga diam, menilai emosi Sasuke, takut salah berbicara atau bertindak yang mungkin bisa menyulut emosi Sasuke semakin parah.
Setelah mengamati dengan hati-hati, Naruto menarik kesimpulan kalau kemarahan Sasuke sudah mulai mereda, matanya sudah tidak menyala lagi seperti api biru, dan napasnya sudah teratur, hanya tatapan tajam dan bibirnya yang menipis itu yang menunjukkan masih ada sisa kemarahan di sana.
"Maafkan aku," bisik Naruto pelan, takut-takut.
Sejenak Sasuke tampak akan mendampratnya lagi, tetapi lelaki itu menarik napas panjang, berusaha menahan diri.
"Sudahlah", gumamnya, melangkah melewati Naruto memasuki kamar. Dengan gugup Naruto berusaha mengejar langkah Sasuke yang begitu cepat.
"Maafkan aku, aku tidak berpikir kamu akan secemas itu", tersengal Naruto berusaha menjajari langkah Sasuke menuju kamar. "Aku... aku terlalu terfokus pada operasi temanku lalu aku...Teme!", Naruto setengah berseru karena lelaki itu berjalan terus tanpa memperhatikannya.
Sasuke berhenti melangkah, menatap Naruto, tampak begitu dingin.
"Yang penting kau sudah pulang dengan selamat", jawabnya datar.
"Teme...?"
Naruto merasa ragu mendengar nada dingin di dalam suara Sasuke.
"Sudah! Aku mau tidur!" geram Sasuke marah sambil melangkah ke arah ranjang.
.
.
'Lelaki itu marah, marah besar padanya.'
Naruto bisa merasakannya dari suasana pagi itu, ketika mereka bersiap-siap berangkat ke kantor.
Semalaman Naruto tidak bisa tidur, dan Naruto yakin Sasuke juga tidak tidur, karena lelaki itu bergerak dengan gelisah sepanjang malam. Suasana tegang di waktu sarapan pagi itu terasa seperti kawat berduri yang direntangkan, siap putus dan melukainya.
Ia tidak menyukai suasana seperti ini, lebih baik Sasuke meledak-ledak marah seperti kemarin, setidaknya semua kemarahannya terlampiaskan, tidak seperti sekarang.
Lelaki itu murka, tetapi menyimpannya sehingga membuat seluruh dirinya tegang dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kita berangkat bersama", desis Sasuke setelah membanting serbet makannya ke meja.
Tangan Naruto yang menyuapkan roti ke mulutnya berhenti di tengah-tengah.
"Apa?"
"Kita berangkat bersama-sama", ulang Sasuke datar.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi Dobe," sela Sasuke kasar lalu berdiri dengan marah ke pintu,
"Ayo cepat!" Dengan gusar lelaki itu membukakan pintu mobil buat Naruto, dan membantingnya ketika Naruto sudah duduk di kursi, tanpa dapat membantah, tanpa dapat memberikan perlawanan.
Sepanjang jalan, lelaki itu menyetir dengan sangat kasar, seolah-olah melampiaskan kemarahannya. Naruto hanya duduk berdiam, tidak mau melakukan apapun yang dapat memancing kemarahan Sasuke.
"Nanti kau pulang denganku! Kau dengar itu? Kau datang ke ruanganku setelah jam kantor, kita pulang bersama!", gumam Sasuke tanpa mau dibantah ketika menurunkan Naruto di lobi kantor.
.
.
Hari ini berlalu dengan amat lambat bagi Naruto, perasaannya tidak enak, sampai kapan Sasuke akan marah padanya? Sampai kapan Sasuke akan bersikap seperti ini kepadanya?
Dia tahu dia bersalah, tapi dia kan sudah meminta maaf? Lagipula kenapa permasalahan kecil semacam ini begitu dibesar-besarkan oleh Sasuke? Pemikiran itu masih berkecamuk di kepalanya ketika keluar dari lift yang mengantarkannya ke ruangan pribadi CEO perusahaan.
Sebenarnya Naruto tadi bermaksud pulang sendiri dan mampir ke rumah Sakit menengok Gaara, memanfaatkan waktu bebasnya yang dijanjikan oleh Sasuke pada waktu perjanjian awal mereka.
Tapi dengan ancaman Sasuke tadi pagi, Naruto tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Sasuke untuk menemuinya di ruangannya sepulang kerja. Meja sekertaris Sasuke sudah kosong, dengan pelan Naruto melangkah ke pintu besar ruangan Sasuke, mengetuknya pelan.
"Masuk."
Sebuah suara mempersilahkannya dari dalam. Naruto masuk dan menutup pintu di belakangnya, ketika membalikkan badannya dia terpaku. Bukan Sasuke yang ada di sana, tetapi Neji, lelaki itu sedang duduk santai di sofa, menyesap segelas brendy, menatap Naruto dengan penilaian santai yang sedikit kurang ajar.
"Sasuke menyuruh saya kesini jam pulang kantor.", jelas Naruto terbata.
Neji tersenyum, masih duduk santai di sofa sambil menatap brendynya yang tinggal seperempat gelas.
"Aku tahu, Sasuke menyuruhku menunggumu di sini, dia sedang menemui tamu penting dari Jerman di ruang pertemuan."
"Oh."
Naruto tidak tahu harus berkata apa, suasana terasa sangat canggung. Entah karena Naruto memang tidak kenal dekat dengan Neji, atau karena sikap santai palsu yang ditunjukkan Neji.
"Kalau begitu mungkin saya akan menunggu di luar saja", gumam Naruto cepatc-epat,
ingin segera meninggalkan ruangan itu. Ada feeling tidak enak yang menyuruhnya untuk segera lari dan beranjak dari ruangan itu. Nalurinya berdenyar begitu keras, terasa berbahaya.
"Bagaimana rasanya?"
Pertanyaan tiba-tiba Neji itu menghentikan gerakan tangan Naruto membuka pegangan pintu.
"Apa?"
"Bagaimana rasanya menjadi kekasih simpanan taipan kaya seperti Sasuke?",Neji bangkit berdiri dari sofa dan menghampiri Naruto. Naruto tidak suka mendengar nada melecehkan dalam suara Neji, dia ingin segera keluar dari ruangan ini.
"Eh, mungkin saya harus menunggu di luar," Naruto berhasil membuka pintu sedikit, tapi dengan lengannya Neji mendorong pintu itu tertutup lagi.
"Aku bertanya padamu Naruto yang manis. Ah tidak, anak manis tidak pernah menawarkan dirinya dengan murahan kepada seorang taipan yang kaya raya", ulang Neji sinis, disambung dengan penghinaan yang tajam.
Naruto menatap Neji tajam.
"Saya tidak akan membiarkan anda merendahkan saya," desisnya pelan. Ucapan itu membuat Neji tertawa, penuh penghinaan.
"Merendahkan katamu? Bukannya kau yang datang merangkak meminta dijadikan pelacur oleh Sasuke? Membuka kedua kakimu lebar-lebar, mempertontonkan lubangmu untuk dimasuki Sasuke kapan saja? Berapa hem? Lubang tiga ratus jutamu itu,", ejeknya kasar, lalu mencekal lengan Naruto tak kalah kasar, tak peduli Naruto mulai meronta-ronta.
"Kau adalah orang paling rendah, paling murahan yang pernah kukenal, kau mungkin berhasil merayu Sasuke dengan tubuhmu", Neji menyeringai sinis,
"Tak kusangka Sasuke bisa bertekuk lutut pada orang sepertimu, tapi kau tentu sudah tahu kan? Sasuke terbiasa dikelilingi pemuda dewasa yang berpengalaman, jadi citra polos dan kekanak-kanakanmu tentu saja menjadi hal baru yang menyegarkan untuknya. Seperti menatap taman kota yang teduh dan rindang dibalik tumpukan beton perkantoran,"
"Anda salah! Saya tidak begitu", Naruto berusaha menyela, berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Neji, tapi genggaman lelaki itu seperti capit besi, dan dari napasnya yang berbau brendy, sepertinya lelaki itu setengah mabuk.
"Kau tidak bisa membohongiku pelacur cilik!", Neji menggeram pelan, "Meski dulu aku terpaksa membuatkan kontrak tiga ratus juta yang konyol itu, jangan kira aku akan membiarkanmu menyetir Sasuke untuk membuat kekonyolan lain yang merugikannya!"
"Anda salah paham!", Naruto setengah berteriak, semakin meronta dari cengkeraman Neji yang sangat keras.
"Kau pelacur cilik yang menjual tubuhmu seharga tiga ratus juta. Bukan tubuh maksudku, lubangmu seharga tiga ratus juta untuk dimasukki kapanpun dan dimanapun,", Neji mulai merapat ke tubuh Naruto.
"Aku mulai bertanya-tanya, apakah hargamu sepadan dengan pelayananmu?"
"Tidaaak! Lepaskan saya!", Naruto mulai berteriak membabi buta, berusaha
melepaskan diri dari Neji yang semakin gelap mata. Lelaki itu mencengkeramnya kuat, mendorongnya ke tembok dan berusaha menciumnya dengan kasar. Bibirnya meraup bibir Naruto, berusaha merasakan bibir seharga tiga ratus juta yang dibeli Sasuke.
Naruto meronta membabi buta, berusaha menghindari ciuman itu sekuat tenaga,memalingkan kepalanya seperti orang gila, dia tak mau disentuh Neji, dia tidak mau!
'Sasuke! Sasuke! Tolong aku!' Naruto berteriak memanggil dalam hatinya, berusaha meronta tapi terdengar seperti desah kenikmatan untuk Neji yang tengah melecehkan bibirnya.
.
.
Tsunade sedang duduk di ruang tamu rumahnya, merenung.
Ada yang mengganjal di pikirannya, terus mengganggu. Sesuatu yang diketahuinya sejak dulu tapi di lupakannya. Sesuatu tentang Naruto, dia merasa dia seharusnya mengetahui sesuatu tentang pemuda itu, tapi apa?
'Apa itu Tsunade? Bukankah kau merasa sudah pernah mengenal pemuda itu sebelumnya? Sebelum pemuda itu bekerja di perusahaan ini ? Bukankah pemuda itu terasa begitu familiar?'
Dengan gelisah Tsunade berdiri, melangkah ke depan lemari putih yang terpajang rapi di ruang tamunya...
Sebenarnya dia punya firasat Naruto berhubungan dengan masa lalunya, masa lalu yang ingin dilupakannya, karena terlalu pedih untuk diingatnya.
Kenangan tentang almarhum suaminya,….
Dengan gemetar Tsunade membuka laci lemari putih itu, lalu mengeluarkan sebuah kotak putih yang tidak pernah disentuhnya sejak dua tahun lalu. Hati-hati dibukanya kotak itu dan dikeluarkannya isinya, sebuah map tebal berisi berkas-berkas.
Tsunade duduk, menarik napas panjang dan membuka map itu, isinya adalah kliping, potongan berita-berita tentang tragedi dua tahun lalu.
Tragedi kecelakaan beruntun di jalan tol yang menewaskan suaminya. Saat itu, dalam kesedihannya, Tsunade mengumpulkan semua berita yang memuat tentang tragedi itu, menjadikannya satu di dalam satu map besar, memasukkannya ke kotak, dan menyimpannya, menyimpannya bersama segenap kepedihan yang dia rasakan.
Sekarang dia membuka lagi kotak kepedihan itu, hatinya terasa nyeri, tangannya gemetar ketika membuka halaman demi halaman. Potongan artikel itu. Sampai kemudian dia menemukan apa yang dia cari.
Gambar sosok itu persis sama, meski terlihat muda, rapuh dan remuk redam, itu Naruto yang sama, di gambar artikel itu, dia sedang menunduk mengenakan pakaian serba hitam di ruang tunggu sebuah rumah sakit. Rambut pirangnya, Tsunade tidak mungkin salah.
"SELURUH KELUARGA TEWAS MENJADI KORBAN TABRAKAN BERUNTUN"
Begitu judul artikel itu,
Disitu dijelaskan bagaimana Naruto kehilangan kedua orang tuanya dan ditinggalkan sebatang kara sendirian. Sedangkan tunangannya, seorang pengacara bernama Gaara Sabaku terbaring koma tak sadarkan diri.
Tunangan? Koma?
Tsunade membaca artikel itu dengan teliti, lalu mengamati background rumah sakit pada gambar artikel Naruto itu. Dia tahu rumah sakit ini karena pernah praktek lapangan disana beberapa tahun lalu.
Dengan segera dia menelep one rumah sakit itu, menggunakan berbagai koneksi profesi dokternya untuk memperoleh info dari dokter- dokter yang dikenalnya, Tsunade mencari informasi sebanyak-banyaknya, dan pada akhirnya menemukan kebenaran.
Kebenaran yang pasti akan menyentuh hati siapapun yang mendengarnya. Bahkan matanyapun berkaca-kaca karena terharu.
Tiba-tiba Tsunade teringat akan kata-kata Neji ketika mereka makan siang bersama tadi, mengenai rencana lelaki itu untuk memberi Naruto pelajaran...Malam ini...
Oh Tuhan!
Dengan segera, seolah tersadarkan, Tsunade segera meraih dompet dan kunci mobilnya. Dia harus mencegah Neji melakukan apapun rencananya untuk memberi pelajaran pada Naruto!
Neji sudah salah paham, dan apapun yang dilakukan lelaki itu, dia pasti akan menyesal begitu mengetahui kenyataan yang sebenarnya!
Tsunade harus mencegahnya sebelum terlambat!
.
.
To be continue
.
.
Huehehehehe, besok malem/siang jtk update kilat lagi. Gak seru kalo sekaligus diupdate dua chapter. Kan hampir klimaks,ngh/?
So, mind to review again?
