Chapter 7

[REMAKE] A Romantic Story About Naruto by Santhy Agatha

Genre : Romance, Hurt

Cast : Sasuke Uchiha, Naruto Uzumaki, Gaara Sabaku and others

[SASUNARU]

Rated : M

.

Disclaimer : JTK me-remake novel yang nurut JTK pribadi bagus dan lumayan menyentuh dari Santhy Agatha. Jadi JTK bukan penjiplak atau plagiat, JTK hanya me-remake dan merubah sedikit menyesuaikan alur. Udah ijin sama yang punya novel ini, asalkan nama pengarang aslinya dicantumin itu gapapa. Kalian bisa baca versi aslinya di wattpad. Jadi ini cerita bukan milik JTK, JTK hanya me-remake doang. Dan sekali lagi JTK enggak plagiat.

Dan ini JTK remake jadi versi Yaoinya.

.

DON'T LIKE DON'T READ

HAPPY READING^^

SEKALI LAGI INI YAOI, YAOI. COWOK SAMA COWOK. JADI JANGAN BASH ATAU FLAME KALO GAK SUKA CERITA/CHARANYA. GAK SUKA GAK USAH MAKSA BACA CUMAN DEMI FLAME.

Damai itu indah bro, seindah tonjolan selangkangannya Uchiha Sasuke. *digampar*

.

.

.

.

.

Tamu penting itu akhirnya pulang juga, beres sudah, semua berjalan sesuai keinginannya. Sasuke mengacak rambutnya kesal,

'Kalau begitu kenapa dia tidak merasa lega? Kau tahu kenapa' Bisik suara hatinya,

'Ah ya, aku tahu kenapa.' Sasuke mengakuinya.

'Naruto.'

Cukup satu nama yang mewakili segalanya. Satu nama yang sedari tadi menghantui pikirannya. Dia masih marah pada Naruto, marah besar. Tapi bahkan meskipun dia marah, dia tak ingin membuat Naruto sedih dengan kemarahannya.

Sungguh ironis.. Sasuke tersenyum sinis, menertawakan dirinya sendiri. Tanpa terasa, pemuda itu, Naruto telah menjadi harta yang begitu berharga untuknya.

Tidak pernah dia secemas itu untuk siapapun, seperti yang dia lakukan untuk Naruto kemarin malam,

'Akuilah Sasuke, kau menyayangi pemuda itu.' Suara hatinya menekannya lagi. Dan Sasuke tidak membantahnya, dia sudah terlalu lelah membantahnya.

Pemuda itu dengan sifat polos, jujur dan kekanak-kanakannya telah menyentuh sisi hatinya yang tidak pernah diijinkan tersentuh oleh siapapun. Ditambah lagi kekerasan kepala Naruto merupakan hal baru untuk Sasuke. Dari dulu tidak pernah ada orang yang gigih membantah Sasuke seperti Naruto, nyatanya pemuda seperti itu yang malah membuat dunia Sasuke yang monoton menjadi jungkir balik.

Ah ya, Naruto pasti sudah menunggunya di ruangannya. Tamu penting yang datang mendadak ini membuatnya terpaksa menghubungi Neji agar menunggu di ruangannya kalau-kalau Naruto datang.

Membayangkan Naruto sedang menunggunya membuat Sasuke tergesa melangkah menaiki lift, menuju lantai pribadinya. Dengan tenang dia membuka pintu ruangannya.

Pemandangan di depannya adalah pemandangan yang tidak disangkanya sekaligus pemandangan yang paling tidak disukainya. Neji sedang berdiri menekan Naruto ke tembok, memeluknya erat-erat dan menciumnya, tubuh Naruto yang mungil tenggelam dalam pelukannya.

Ketika menyadari pintu terbuka, Neji mengangkat kepalanya, dan menatap Sasuke yang terpaku di pintu, membeku seperti batu.

"Oh, hai Sasuke," Neji tersenyum, mengusap bibirnya yang sedikit bengkak karena berciuman dengan kasar, sedikit mengkilap karena saliva, cukup membuat Sasuke memincingkan matanya. "Aku menawar pemudamu ini dengan harga beberapa juta, dan dia bersedia menemaniku selama beberapa jam, boleh kan?"

Naruto yang masih berada dalam cengkeraman Neji menjadi pucat pasi mendengar fitnah Neji yang begitu kejam.

'Sasuke tidak akan percaya kata-kata Neji kan? Sasuke tidak akan percaya kan?'

Tapi ekspresi Sasuke begitu susah dibaca, lelaki itu seperti membeku.

"Dan kau tahu Sasuke, kau memang benar- benar tidak rugi", Neji

menyambung, menyeringai menghina kepada Naruto, "Ciumannya lumayan WOW"

"Tidak!", Naruto akhirnya berhasil bersuara, mencoba membantah kata-kata Neji yang memojokkannya, "Tidak! Ya Tuhan! Teme!" Suara Naruto berubah menjadi jeritan ketika dengan secepat kilat tanpa di duga-duga, Sasuke menerjang Neji.

Menarik laki-laki itu dengan kasar dari Naruto, lalu menyarangkan pukulan keras di rahang Neji, kemudian di perutnya sampai Neji terbungkuk-bungkuk menahan sakit,

Tetapi Sasuke masih belum puas. Dia menyarangkan lagi pukulan telak bertubi-tubi ke semua bagian tubuh Neji, tanpa memberi Neji kesempatan melawan,

"Teme! Stop! Kumohon! Kau bisa membunuhnya!", Naruto berteriak panik ketika Sasuke menghajar Neji seperti kesetanan.

Dan terus menghajarnya, terus tanpa henti tidak peduli Neji sudah terkulai tanpa memberikan perlawanan. Aura membunuh memancar dari mata Sasuke, menakutkan.

"Teme!", Naruto menjerit sekuat tenaga, berusaha mengembalikan akal sehat lelaki itu. Kali ini berhasil, Sasuke berhenti. Matanya nyalang, napasnya terengah-engah. Sedangkan kondisi Neji sungguh mengenaskan, lelaki itu berbaring tak berdaya, wajahnya penuh darah, mungkin hidungnya patah. Dan sepertinya dia tidak sadarkan diri.

"Astaga." sebuah suara tercekat yang berasal dari pintu membuat Naruto dan Sasuke

menoleh bersamaan, Tsunade berdiri di sana, pucat pasi.

Seolah disadarkan, Sasuke langsung berdiri, menghampiri Naruto dengan bara kemarahan yang membuat Naruto beringsut menjauh. Lelaki itu tidak peduli, dengan kasar dia menarik lengan Naruto, setengah menyeretnya keluar ruangan.

"Sakit Teme", Naruto merintih karena perlakuan kasar Sasuke, tetapi lelaki itu tidak peduli, seolah tidak mendengar apa yang diserukan Naruto. Tsunade berusaha menghentikan langkah Sasuke,

"Sasuke, kau harus mendengar penjelasanku, semua ini..."

"Diam!", teriakan Sasuke yang menggelegar membuat suara Tsunade tertelan kembali," Kau urus saja bajingan disana itu sebelum dia mati kehabisan darah!

Dan begitu dia sadar, katakan padanya bahwa dia dipecat!" Sasuke menggeram marah sambil menyeret Naruto menaiki lift. Meninggalkan Tsunade yang masih berdiri terpaku, bingung.

.

.

"Teme! Semua yang Neji katakan itu bohong!", Naruto berusaha menjelaskan ketika mereka sampai di apartemen, dan lelaki itu masih menggelandangnya dengan kasar. Tubuh Naruto dihempaskan dengan sangat kasar ke tempat tidur.

"Dia bohong Teme...", Naruto tersengal, putus asa mencoba meyakinkan Sasuke.

"Neji tidak pernah berbohong padaku", jawab Sasuke datar, tangannya bergerak membuka kancing bajunya.

"Dia bohong...Percayalah", air mata mulai mengalir di sudut mata Naruto.

"Tidak ada untungnya baginya berbohong padaku."

"Ada!", jerit Naruto, "Dia membenciku, dia ingin menyingkirkanku..."

"Wah...Kau pikir kau seberharga itu? Kau tidak lebih dari pelacur kecil dengan tampilan tanpa dosa...Berapa dia membayarmu untuk sebuah ciuman hah?! Sepuluh juta? Dua puluh juta? Kau pikir kau bisa mendapatkan uang keuntungan dari kami berdua ya?" kata-kata itu menerjang Naruto dengan cepat. Membuat nafas Naruto terengah, seperti sembilu yang menyerangnya secara bertubi-tubi

"Kumohon, kau tahu dia berbohong...Kumohon...Kumohon...Percayalah padaku...", Naruto mulai panik ketika Sasuke melepas kemejanya, "Ke... Kenapa kau melepas pakaianmu?" Dengan takut Naruto beringsut di ranjang mencoba sejauh mungkin dari Sasuke.

"Yah...Aku sudah pernah bilang kan?", lelaki itu tersenyum kejam sambil mulai melepas ikat pinggangnya, tatapan matanya tak lepas dari Naruto yang meringkuk ketakutan seperti sekor mangsa yang menghadapi predator kejam.

"Seorang pelacur harus diperlakukan seperti pelacur!", desis Sasuke penuh penghinaan.

.

.

"Sakit", Neji mengernyit ketika Tsunade mengusap luka di bibirnya dengan kapas.

"Kau pantas mendapatkannya", gumam Tsunade tanpa perasaan, malah semakin kasar mengusap luka itu. Mereka baru pulang dari rumah sakit, hidung Neji patah, dan tiga tulang rusuknya retak sehinga harus ditahan dengan perban. Belum lagi lebam lebam di tubuh dan mukanya. Mata Neji sudah mulai bengkak membiru. Pukulan pukulan yang diberikan Sasuke benar-benar brutal.

"Aku kan cuma membantu Sasuke dengan menunjukkan padanya kalau pemuda yang di peliharanya itu cuma pelacur kecil", Neji tampak kesusahan bicara, tapi ia masih membela diri.

"Jangan sebut dia pelacur! Kau mungkin lebih kotor darinya!", potong Tsunade marah, melemparkan kapas yang di celup alkohol itu ke samping, "Kau sudah bertindak kejam dan gegabah pada Naruto...Astaga! Kau pasti akan menyesal begitu mengetahui semuanya!"

"Mengetahui apa?", kali ini Neji mulai cemas. Tsunade tampak begitu marah sekaligus begitu sedih. Bertahun-tahun dia mengenal Tsunade, tak pernah wanita itu tampak begitu dikuasai emosi. Kecuali pada saat pemakaman suaminya…

"Aku mulai ketakutan", gumam Neji ketika Tsunade tidak berkata apa-apa,

"Mengetahui apa , Tsunade?"

"Kebenaran tentang Naruto", jawab Tsunade lirih lalu mendesah seolah-olah tak mampu melanjutkan penjelasannya, "Mungkin kau harus melihat ini dulu."

Tsunade mengambil bundelan artikel itu dari kotak putihnya, membukanya dan meletakkannya di pangkuan Neji. Begitu melihat foto yang menyertai artikel itu Neji terhenyak, dan ketika membaca judul artikel itu yang ditulis dengan huruf besar-besar, keringat dingin mengalir di dahinya.

Dan begitu selesai membaca keseluruhan artikel itu, wajahnya benar-benar pucat pasi.

"Astaga...", akhirnya Neji mampu berkata-kata, suaranya lemah dan diliputi shock yang mendalam.

"Ah ya, astaga. Bisa-bisanya kau mengucap kata seolah-olah terkejut setelah melakukan smeua itu pada Naruto". Gumam Tsunade mengejek, "sekarang kau mengerti kan kenapa aku begitu membela Naruto?"

Neji memejamkan matanya, meringis merasakan matanya yang sakit. Hidungnya sakit, bibirnya sakit, sekujur tubuhnya sakit. Tapi yang paling sakit adalah hatinya. Penyesalan itu datang menghantamnya tanpa ampun sehingga yang bisa dilakukan Neji hanya diam dan menahankan sesak di dadanya.

'Dia pantas mendapatkan ini!'

"Jadi Naruto melakukan ini semua karena itu...", suara Neji diwarnai kesakitan, lalu dia menatap Tsunade penuh harap, berharap kalau artikel ini salah. Sebab jika artikel ini benar, apapun yang dilakukan Neji tadi benar-benar tak termaafkan, "Apakah kau sudah memastikan kebenaran artikel ini?"

Tsunade menatap Neji tajam, tampak puas dengan penyesalan Neji.

"Aku sudah memastikan ke rumah sakit itu. Tunangannya, Gaara Sabaku masih terbaring koma disana dan belum pernah sadarkan diri sejak dua tahun yang lalu. Kemarin Gaara telah menjalani operasi ginjal yang aku tahu biayanya amat mahal, hampir mencapai tiga ratus juta rupiah dan sukses. Operasinya sukses, tapi lelaki itu masih belum sadar", Tsunade memalingkan wajah. Matanya tampak berkaca-kaca menahan haru.

"Aku bertanya tentang Naruto kepada dokter-dokter di rumah sakit itu, dan rupanya kisah Naruto dan Gaara seolah menjadi legenda sendiri di sana. Kisah seorang pemuda yang setia menunggu tunangannya terbangun tanpa putus asa selama bertahun-tahun..."

Jadi karena itu. Kebenaran itu menghantam Neji dengan telak. Jadi karena itu Naruto menjual dirinya. Jadi karena itu Naruto mempunya hutang begitu besar diperusahaan.

Neji menatap Tsunade nanar, lalu mengalihkan tatapannya lagi ke atikel di depannya, dia mengernyit,

Gaara Sabaku...

Sebuah kebenaran langsung menghantamnya sekali lagi, sangat keras dan tidak tanggung-tanggung.

"Aku mengenal Gaara Sabaku", gumam Neji seolah kesakitan.

Tsunade langsung menatap Neji tajam.

"Kau mengenalnya?"

Neji mengangguk, lunglai.

"Dia… dia pengacara handal dan sukses dari sebuah firma hukum terkenal, reputasinya bagus, sangat jujur dan jarang kalah...Aku tidak begitu mengenalnya, hanya pernah beberapa kali bertemu di pengadilan, menangani kasus yang berbeda, tetapi dia terkenal sebagai pengacara muda berprospek paling cerah di antara kami...aku mendengar dia akan menikah, sampai kemudian dia menghilang begitu saja setelah kecelakaan itu,...ada berita cukup simpang siur setelahnya, katanya dia kecelakaan dan kemudian cacat lalu pindah ke luar negeri, bahkan banyak gossip bilang dia sudah meninggal akibat kecelakaan itu...aku...aku sama sekali tidak menyangka dia masih bertahan hidup...Dalam kondisi koma", Neji meremas rambutnya seperti tentara kalah perang.

"Pemuda dengan rambut merah yang cantik 'kan?" Tsunade memastikan. Neji mengangguk pelan.

"Kau bilang kapan operasi Gaara tadi?"

"Kemarin malam", Tsunade melirik jam tangannya, sudah jam tiga pagi, "Atau bisa dibilang sudah kemarin lusa?"

"Oh Tuhan!", Neji menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Oh Tuhan!...Apalagi yang bisa dia katakan? Itu sebabnya malam itu Naruto menghilang tanpa kabar dan tidak bisa ditemukan dimana-mana. Pemuda itu pasti sedang menunggui operasi tunangannya! Dan apa yang dia katakan malam itu pada Naruto?

"Kau mungkin harus belajar lebih bertanggung jawab tuan Naruto!" , kata-kata yang sombong dan penuh tuduhan yang sekarang ia tahu, tak pantas ia ucapkan kepada Naruto.

"Kau benar-benar lelaki paling bodoh dan gegabah yang pernah aku kenal dan paling menjijikkan, serta jauh tidak bermoral daripada orang yang kau tuduh sebagai pelacur itu", dengus Tsunade, masih marah atas tindakan Neji tadi. "Jika kau belum babak belur oleh Sasuke, aku pasti akan menamparmu berkali-kali",

Neji mengernyit mendengar ancaman Tsunade,

"Tapi kau tidak bisa begitu saja menyalahkanku, suatu hari Sasuke menghubungiku untuk mengurus kontrak jual beli tubuh Naruto senilai tiga ratus juta. Kau pikir apa yang bisa kupikirkan selain Naruto adalah pelacur?"

"Jangan sebut-sebut kata pelacur lagi Neji!", potong Tsunade tajam. Neji bungkam lalu mengangkat bahu.

"Aku memang salah besar, tapi siapa yg tidak berpikir begitu? Sasuke sangat kaya, dan pemuda itu punya reputasi hutang besar diperusahaannya...tentu saja sebagai pengacara aku menilai ada niat jahat dari sisi Naruto", Neji mencoba membela diri lagi karena dilihatnya Tsunade masih memelototinya dengan tajam,

"Sebagai seorang pengacara kau seharusnya melakukan penyelidikan. Tapi otakmu terlalu dangkal untuk melakukan itu sehingga kau langsung menuduhnya sebagai pelacur murahan,", gumam Tsunade sinis.

Neji menarik napas panjang dan mengangguk.

"Benar, aku terlalu gegabah mengambil tindakan. Sebenarnya aku sudah bertekad tidak akan ikut campur hubungan Sasuke dan Naruto, tapi malam itu, ketika Naruto menghilang tanpa kabar, Sasuke mencarinya seperti orang gila, hampir kehilangan akal sehat karena mencemaskan Naruto. Sasuke berubah karena pemuda itu, dia begitu emosional. Tidak lagi berkepala dingin dan tenang", Neji menarik napas dalam, "Aku takut Naruto makin lama akan makin membawa pengaruh buruk bagi Sasuke, maka aku memutuskan untuk membuat mereka terpisah sesegera mungkin."

"Memangnya apa yang kau lakukan tadi sampai Sasuke menghajarmu dengan begitu brutalnya?"

Wajah Neji tampak memerah malu.

"Aku menciumnya dengan paksa, melecehkan Naruto dan memastikan agar Sasuke melihat itu semua," gumamnya pelan. Tsunade langsung melotot marah mendengarnya.

"Apa?"

Neji memalingkan mukanya, tidak tahan menghadapi tatapan tajam Tsunade.

"Dan aku...", kata-kata itu seolah susah payah keluar dari mulut Neji, "Dan aku...memfitnahnya, aku bilang Naruto mau kubayar untuk bercumbu denganku selama beberapa jam...",

"Oh Tuhan, Neji!", Tsunade mengerang tak habis pikir dengan perlakukan Neji, "Pantas saja Sasuke menghajarmu habis-habisan, kalau aku ada disana waktu itu, aku pasti akan memberi semangat padanya agar menghajarmu lebih keras",

Neji menganggukkan kepalanya,

"Aku...aku pantas menerimanya...", lelaki itu menghela napas panjang, "Tapi Tsunade...Setelah aku mengetahui semua kebenaran ini, dan melihat tatapan mata Sasuke ketika menyeret Naruto pulang tadi, entah kenapa aku...cemas." Wajah Tsunade mendadak pucat pasi,

"Astaga! aku hampir saja lupa, Sasuke selalu mempercayai kata-katamu! Bagaimana kalau Sasuke menyangka bahwa Naruto benar-benar menjual dirinya kepadamu? Kalau melihat betapa posesifnya Sasuke pada Naruto, aku tidak berani membayangkan betapa marahnya Sasuke! Kita harus menjelaskan semua kepada Sasuke sebelum dia melakukan sesuatu yang nantinya akan dia sesali," Tsunade langsung meraih gagang telephone dan memencet nomor Sasuke.

Lama ia mencoba tanpa hasil, ahkirnya menarik napas panjang dan menyerah.

"Semua nomornya tidak aktif, kita juga tak bisa menyerbu ke apartemennya begitu saja karena ini sudah dini hari", Dengan pasrah Tsunade meletakkan gagang telephone, "Kita harus menunggu sampai besok pagi, dan jika...dan jika ternyata semuanya sudah terlambat...", Tsunade melemparkan tatapan tajam ke arah Neji yang balas menatapnya penuh rasa bersalah, "Aku akan membuatmu membayar semua kekacauan yang telah kau buat Neji."

.

.

"Seorang pelacur harus diperlakukan seperti pelacur."

Kata-kata Sasuke yang diucapkan dengan nada dingin dan ketenangan menakutkan itu seolah-olah bergaung di ruangan yang hening itu. Lelaki itu sudah melepaskan kemejanya, dan membuka ikat pinggangnya lalu meletakkannya di ujung ranjang. Matanya begitu dingin, ekspresi wajahnya tenang, terlalu tenang, hingga membuat Naruto gemetar cemas.

"Kau...Harus...Mendengarkan." Naruto masih mencoba, meskipun melihat ekspresi wajah Sasuke, ia tahu ia tidak akan berhasil. Sasuke terlalu marah, dia terlalu dibutakan oleh kemurkaannya.

"Lepaskan kemejamu Naruto." gumam Sasuke datar.

"Teme..." wajah Naruto langsung pucat pasi mendengar perintah yang diucapkan tanpa ekspresi.

"Jangan panggil aku dengan nada menjijikkan seperti itu pelacur kecil!" Sasuke berkata dengan nada yang datar tapi seolah seperti anak panah yang melesat tajam melukai Naruto.

"Lepaskan." Nada suara Sasuke begitu menakutkan. Mungkin Naruto akan lebih berani

menghadapi jika Sasuke berteriak-teriak marah dan membentaknya. Tetapi lelaki ini begitu tenang hingga menakutkan.

Dengan gemetar Naruto melepas kancing demi kancing kemejanya. Menatap Sasuke dengan wajah memohon, tetapi lelaki itu tidak terpengaruh. Setelah seluruh kancing kemeja Naruto terlepas, dia berdiri sambil menggenggam kemejanya yang terbuka dengan kedua tangannya erat-erat, berlutut di ranjang itu, memohon belas kasihan kepada lelaki yang berdiri di tepi ranjang dan tampak kejam.

"Aku bilang lepaskan kemejamu, Dobe. Bukan hanya membuka kancingnya saja," suara Sasuke tetap lembut dan terkendali, tapi entah kenapa Naruto makin gemetar mendengarnya, dengan sudah payah dia melepaskan kemejanya dan menjatuhkannya ke kasur, menatap Sasuke tanpa daya.

"Sekarang celananya." sambung Sasuke setelah mengamati tubuh Naruto tanpa malu-malu, membuat seluruh wajah dan tubuh Naruto merah padam.

"Tidak...!" Naruto berusaha membantah, dia tidak mau dilecehkan seperti ini, dipaksa membuka baju dihadapan laki-laki yang sama sekali tidak menghargainya. Menatapnya dengan pandangan merendahkan seolah ia barang hina yang pantas diperlakukan seperti ini.

"Aku bilang celanananya!" suara Sasuke sedikit naik, tetapi tetap tenang. Matanya menatap tajam tak terbantahkan, hingga mau tak mau Naruto bergerak melepaskan celananya, air mata mulai mengalir di mata Naruto.

Hening cukup lama, Sasuke terdiam sambil menatap Naruto tajam. Dan Naruto berlutut di ranjang itu dengan tubuh gemetaran, berusaha memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya.

"Lepas pakaian dalammu."

"Tidak!" dengan was-was Naruto berseru, tanpa sadar tubuhnya beringsut ke

ujung ranjang, ketakutan. Sikapnya itu malah menyalakan api kemarahan di wajah Sasuke, lelaki itu sudah tidak setenang tadi.

"Kenapa tidak Naruto? Pelacur cilikku? Sudah tak terhitung berapa kali aku melihatmu telanjang, dan kau melakukan semuanya dengan sukarela kan? Demi uang tiga ratus juta...", Suara Sasuke terdengar jijik, dia melangkah maju mendekati ranjang dan secara otomatis Naruto langsung beringsut mundur menjauh.

"Aku membeli tubuhmu seharga tiga ratus juta, seharusnya tubuhmu itu bisa kupergunakan semauku, tetapi aku terlalu baik padamu, memberimu kemewahan, tidak menyentuhmu di saat kamu sakit, merawatmu...itu semua terlalu baik untukmu," Mata Sasuke tampak menyala, "Dan kau dasar pelacur tak bermoral! Bukannya mensyukuri kebaikan hatiku, kau malah merayu sahabatku...!"

"Kau salah paham Sasuke," Naruto mulai menangis terisak.

Tetapi Sasuke tetap mengeraskan hatinya.

"Aku tidak mungkin salah paham dengan apa yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri."

Dengan gerakan secepat kilat Sasuke meraih kedua lengan Naruto, sebelum Naruto sempat menghindar dan menempelkan tubuh Naruto ke tubuhnya sendiri.

"Kalian berciuman! kau membiarkan dia menciummu! menjijikkan sekali dimataku."

Napas Sasuke mulai terengah-engah, lalu mendorong Naruto ke bantal membuatnya terbanting kasar disana. Naruto berusaha menghindar, berusaha melepaskan diri dari tindihan badan Sasuke yang keras dan berat, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Sasuke yang kuat dan tanpa ampun. Jika ia bisa ia ingin dunia menelannya hingga kemarahan Sasuke mereda.

Tetapi lelaki itu terlalu kuat, terlalu marah, bahkan tidak menyadari kalau kekasarannya melukai tubuh Naruto yang rapuh.

Lelaki itu seperti kerasukan setan. Matanya menyala penuh kebencian ketika dia menatap Naruto. Dengan ketakutan yang amat sangat, Naruto berusaha memberontak dan turun dari ranjang, tetapi Sasuke menangkapnya, membantingnya di ranjang lagi dengan kasar, lalu menindihnya. Kemudian menampar pipi Naruto keras-keras. Naruto mengernyit merasakan kesakitan.

"Sakit Teme...kumohon..."

"Diam!" seru Sasuke marah, dan ketika Naruto meronta ketakutan, hal itu makin mendorong kemarahan Sasuke, lelaki itu merobek baju Naruto dan mencoba membuka pahanya.

Naruto berteriak ketakutan, dia tidak siap dan Sasuke pasti akan melukainya. Sasuke gelap mata, ia mengambil ikat pinggangnya sendiri dan mengikat kedua tangan Naruto di kepala ranjang. Naruto menjerit ketakutan. Tetapi Sasuke tidak peduli. Ketika merasakan Naruto tidak basah dan tidak siap, lelaki itu tetap menyatukan dirinya.

Bagi Naruto itu adalah kesakitan yang luar biasa, sakit di tubuhnya dan sakit di hatinya, diperlakukan seperti pelacur rendahan yang tak ada harganya. Seluruh tubuhnya terasa tersobek-sobek oleh gesekan tubuh Sasuke, tapi Naruto menahan diri, digigitnya bibirnya hingga berdarah, di tahankannya air matanya meskipun matanya terasa begitu perih. Dan di tekannya hatinya dalam dalam yang mulai hancur menjadi serpihan berkeping-keping.

.

.

Naruto berbaring memunggungi Sasuke, matanya nanar, penuh air mata. Napasnya sesak karena isakan yang ditahannya. Setelah semua usai, Sasuke menjauh dari tubuhnya dan berbaring hening di sebelahnya, sampai napas yang terengah berubah menjadi tenang dan hening. Naruto bisa merasakan bahwa bagian belakangnya lecet dan mengeluarkan darah karena kekasaran Sasuke.

Naruto tahu Sasuke tidak tidur, lelaki itu masih berbaring nyalang di sebelahnya, terlentang menatap langit-langit kamar. Tetapi Naruto langsung membalikkan badan dan berpura-pura tertidur. Dirasakannya Sasuke bolak-balik menghadap ke arahnya, seperti ingin mengajaknya bicara tetapi kemudian ragu dan mengehentikan dirinya di detik terakhir.

Saat-saat hening itu terasa menyiksa. Tubuh Naruto tegang meskipun dia berakting sudah tidur dengan baik, dijaganya agar nafasnya teratur, dijaganya agar tubuhnya tidak bergerak sama sekali.

Lama-lama dia merasakan tubuh Sasuke berangsur-angsur santai dan lelaki itu tertidur. Naruto menanti menit demi menit, menyakinkan diri kalau Sasuke sudah terlelap, dan setelah cukup yakin, pelan-pelan dia bergerak.

Tubuhnya terasa sakit. Itu tadi benar-benar perkosaan, dan Sasuke sama sekali tidak mau repot-repot bersikap lembut. Bibir Naruto memar akibat ciuman yang terlalu kasar, lengannya sedikit lebam karena genggaman yang terlalu keras, dan masih ada kesakitan-kesakitan lainnya. Di seluruh tubuhnya, di dalam tubuhnya.

'Tetapi yang paling sakit adalah hatiku.'

Air mata mengalir tanpa suara dari pipi Naruto, tapi dia menahan isakan dengan menggigir bibirnya yang sakit. Dengan hati-hati Naruto duduk di tepi ranjang, mengamati pakaiannya yang berserakan di lantai, dan pakaian dalamnya yang setengah dirobek oleh Sasuke saat lelaki itu melepaskannya dengan marah tadi. Pelan-pelan, agar tidak menimbulkan gerakan di ranjang tempat Sasuke berbaring miring dan tertidur pulas, Naruto bangkir berdiri dan memungut pakaiannya satu persatu. Langkahnya goyah, dan tubuhnya gemetar, tapi Naruto menguatkan diri.

Dipakainya pakaiannya pelan-pelan sambil menatap ranjang dengan was-was, bersiap-siap jika ada satu gerakan sesedikit apapun dari Sasuke. Tetapi lelaki itu tidur dengan tenang sampai Naruto selesai berpakaian. Naruto lalu mengambil tas kerjanya dan melangkah keluar, tetapi di pintu dia ragu-ragu, menoleh dan menatap Sasuke yang masih tertidur pulas.

Sasuke pasti akan maklum jika dia pergi begitu saja. Setelah perkosaan brutal dan kejam itu, Sasuke pasti maklum jika Naruto menjauh darinya. Tapi kemudian Naruto mengernyit, teringat kemarahan Sasuke ketika Naruto menghilang tanpa pamit untuk menunggui Gaara di rumah sakit hari minggu lalu.

'Kalau aku pergi tanpa pamit, apa yang akan dilakukan Sasuke? Apalagi dengan perjanjian tiga ratus juta itu...' Ketakutan mewarnai perasaan Naruto, menahan langkahnya. Lalu Naruto mengeluarkan kertas dan menulis.

'Maaf Sasuke, aku harus pergi sementara. Butuh waktu sendirian. Tapi Kau bisa tenang, aku tidak akan melarikan diri dari hutang-hutangku. Aku tidak serendah itu kau tahu.

Sampai jumpa di kantor besok pagi

Naruto.'

.

.

Pagi itu Sasuke duduk di kantornya dengan muram. Hari masih pagi, para karyawan belum datang ke kantor, tapi Sasuke sudah ada di situ. Dia tak tahan berada di kamar apartement itu sendirian.

Tanpa Naruto.

Dia terbangun pagi-pagi sekali, karena terbiasa mencari Naruto untuk dipeluk, tetapi yang ditemukannya hanya bantal kosong. Dengan marah Sasuke langsung bangun dan murka.

'Berani-beraninya pelacur itu meninggalkannya?'

Tetapi kemudian, kertas yang diletakkan di bantal Naruto itu agak meredakan kemarahannya. Sebuah pesan singkat sederhana yang ditulis dengan huruf yang sangat rapi.

Naruto bilang "Sampai jumpa di kantor besok pagi" jadi Sasuke menahan diri dari kemarahannya dan memutuskan bersiap-siap dan berangkat ke kantor saat itu juga.

Sekarang dia duduk sendirian di ruangannya, memikirkan perbuatannya semalam dan mulai merasa cemas. Ia terlalu kasar. Ia tahu itu. Ia terlalu kuat dan Naruto terlalu rapuh untuk menahan kemarahannya.

Tapi tidak tahukan Naruto kalau pemandangan Naruto yang sedang dipeluk dan dicium oleh Neji itu benar-benar membuatnya marah? Seharusnya hanya dia yang boleh memeluk Naruto ! Seharusnya hanya dia yang boleh mencium Naruto!

Saat itulah pintu diketuk dengan pelan. Sasuke terdiam penuh antisipasi, dia sudah menunggu. Siapa lagi yang datang sepagi ini kalau bukan Naruto?

"Masuk."

Pintu itu terbuka pelan, dan Naruto muncul disana. Hati Sasuke langsung bagaikan dihantam oleh palu ketika melihat keadaan Naruto. Pemuda itu masih memakai pakaiannya yang semalam meskipun kelihatan segar setelah mandi. Tapi wajahnya kelihatan pucat dan rapuh. Dan bibirnya sedikit lebam akibat ciuman-ciuman kasarnya kemarin.

'Kenapa kau pucat sekali sayang?'

Sasuke berdehem, menahan perasaannya.

Detik itu juga Sasuke memutuskan dia akan memaafkan Naruto. Dia tidak bisa menyalahkan Naruto karena merayu Neji, tidak ada yang bisa melarangnya kan? Tidak ada tertulis dalam perjanjian mereka bahwa Naruto tidak boleh menjalin hubungan dengan lelaki lain, disitu hanya tertulis bahwa Sasuke berhak memiliki Naruto sesuka hatinya.

Oleh karena itu dia akan segera memastikan adanya klausul tambahan dalam perjanjian itu, bahwa Naruto tidak boleh disentuh lelaki lain, bahwa tubuh Naruto adalah hak eksklusifnya, miliknya.

Untuk sekarang, Sasuke yakin Naruto akan memohon maaf padanya, dan itu bukan masalah, Sasuke siap memaafkan Naruto atas pengkhianatannya semalam. Dia siap menerima Naruto lagi. Dia belum mau melepaskan Naruto.

"Duduk." perintahnya, berusaha sedatar mungkin.

Dengan patuh Naruto duduk, tapi pemuda itu tidak berkata apa-apa, hanya meremas tangannya dengan gelisah.

"Sebenarnya kau ingin bicara apa hingga harus menunggu sampai di kantor?"

'Dimana kau tidur semalam? Apakah kau baik-baik saja ? Apakah aku menyakitimu?' pertanyaan-pertanyaan itu yang bermunculan di benak Sasuke, tetapi lelaki itu menahankannya.

Naruto mendongakkan kepalanya, matanya tampak penuh tekad ketika menatap Sasuke. Takut, tapi penuh tekad.

"Aku...ingin melunasi semua hutangku dan mengakhiri perjanjian kontrak kita."

Sasuke tertegun.

Rasanya seperti seluruh aliran darahnya dihentikan seketika. Ini adalah jawaban yang sama sekali tidak disangkanya. Sasuke begitu terkejut hingga membatu seperti patung.

Tetapi ketika keterkejutannya usai. Kemarahan langsung merayapinya. Seperti api yang membakar pelan-pelan, makin lama makin berbahaya.

"Apa?" desis Sasuke di antara giginya, tangannya terkepal.

Dengan sedikit gemetar, Naruto meletakkan sebuah kertas di meja Sasuke.

"Ini cek sebesar tiga ratur empat puluh juta, untuk melunasi hutangku sebesar tiga ratus juta, dan hutang ke perusahaan sebesar empat puluh juta, dan ini..." Naruto meletakkan sebuah amplop di meja, "Surat pengunduran diriku dari perusahaan ini."

Hening cukup lama. Sasuke hanya duduk di situ, mengamati Naruto dengan mata yang menyala-nyala. Kemudian lelaki itu memajukan tubuhnya dan menatap Naruto sambil tersenyum dingin.

"Lunas sepenuhnya? Jadi malam-malam selama kau melayaniku itu kau anggap service gratis untukku?" Wajah Naruto pucat pasi mendengar hinaan tersirat itu.

"Aku...Aku hanya ingin melepaskan diri dari perjanjian itu..." Sasuke mendesis gusar, lalu mengambil cek itu dan mengamatinya, alisnya terangkat, kemarahan tampak semakin membakarnya.

"Kau bisa memperoleh uang sebanyak ini dalam semalam, apakah kau menemukan korban lain yang bisa memberimu uang untuk melepaskan diri dariku?"

Naruto membelalakkan matanya tak percaya akan kesimpulan negatif yang di ambil Sasuke,

"Jangan menuduhku serendah itu! Aku...aku bukan pelacur seperti yang kau kira!"

"Kau pernah dengan sukarela menjadi pelacurku demi uang tiga ratus juta! Bagaimana bisa aku tidak berpikir kau bersedia melacurkan diri pada orang lain demi melepaskan diri dariku hah?!" Sasuke menggebrak meja dengan begitu kerasnya, hingga Naruto terlonjak kaget dari tempat duduknya.

Lalu tanpa di duganya. Sasuke mengambil surat pengunduran dirinya di meja. Dan merobek-robeknya bersama dengan cek yang diberikannya. Naruto hanya ternganga, kaget dengan tindakan tak terduga Sasuke itu. Sementara lelaki itu berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan mengancam sambil merobek-robek surat dan cek itu menjadi serpihan-serpihan kecil.

Ketika Sasuke mulai mendekati Naruto, Naruto langsung berdiri menjauh, waspada.

"Kenapa kau merobek cek dan surat itu?" tanya Naruto gugup, takut akan suasana hati Sasuke yang begitu muram.

Sasuke makin mendekat. Lalu berhenti dan tersenyum sinis ketika melihat Naruto mundur lagi menjauhinya.

"Aku tidak akan melepaskanmu begitu mudah Naruto, kau pikir aku akan diam saja kau bodohi? Aku akan membuatmu menerima balasan setimpal sebelum akhirnya melepaskanmu..."

Tiba-tiba Sasuke bergerak cepat meraih Naruto sebelum dia bisa menghindar. Naruto mencoba meronta, tapi ia sadar dari pengalamannya bahwa percuma saja dia melawan kekuatan dan kemarahan Sasuke, jadi dia hanya diam dengan wajah pucat pasi ketakutan.

"Katakan padaku Naruto...Pria yang membayari hutangmu itu...Apakah dia sudah menidurimu?" mata Sasuke menggelap penuh kemurkaan, "Apakah dia sudah menyentuhmu?" napas Sasuke mulai memburu, "Apakah ciumannya sebaik ciumanku? Atau dia hanya pria bodoh yang tertipu oleh kepolosan palsumu yang..."

"Lepaskan aku!" entah darimana Naruto seperti mendapatkan kekuatan untuk mendorong Sasuke dan melangkah menjauh. "Aku sudah membayar hutangku. Aku sudah tidak terikat denganmu! Kau tidak berhak melecehkanku lagi!"

"Melecehkan katamu? Kau bilang itu pelecehan? Kau menyambutku dengan hangat setiap aku mendatangimu dan kau bilang itu pelecehan?"

PLAK!

Tangan Naruto tanpa disadari melayang sendiri menampar pipi Sasuke sekeras mungkin, kata-kata Sasuke yang luar biasa menghina itu sangat menyakiti hatinya.

Sasuke berdiri disana mengusap pipinya lalu tersenyum jahat.

"Kenapa menamparku? Apakah kau merasa malu karena kekotoran moralmu terungkap disini?" gumamnya sinis.

Dengan bergegas Naruto melangkah ke pintu, sedikit lega karena Sasuke tidak mengikutinya.

"Aku akan mengirimkan lagi cek yang baru, berikut surat pengunduran diriku...Bagiku semua sudah lunas di antara kita" gumamnya lirih.

"Bagiku belum," desis Sasuke tenang, "Kau boleh kabur kemanapun Naruto, dan aku bersumpah akan mendapatkanmu. Dan ketika itu terjadi aku tidak akan main-main lagi, aku bahkan akan merantaimu di kamar jika perlu. Dan tak usah repot-repot mengirimkan cek ataupun surat apapun, aku akan merobekrobeknya lagi."

Tangan Naruto yang memegang gagang pintu gemetaran.

"Kenapa kau begitu kejam padaku...?" Rintihnya putus asa, matanya berkaca-kaca.

Sejenak Sasuke terpaku. Naruto tampak begitu hancur, begitu luluh, hingga seketika itu juga Sasuke ingin memeluk Naruto dan menghiburnya, meminta maaf atas kata-kata kasarnya. Tapi akal sehatnya segera mengambil alih. 'Itu akting,' teriaknya pada diri sendiri, jangan tertipu, 'pemuda ini pandai memanipulasi orang dengan berpura-pura rapuh. Kau sendiri sudah merasakannya bukan?'

"A...Aku tetap akan pergi..." Naruto bergumam ketika Sasuke hanya berdiam diri, "Kau boleh memaksaku semaumu, tapi aku akan melawanmu sekuat tenaga."

Dengan cepat Naruto membuka handel pintu. Lalu menolehkan kepalanya untuk menatap Sasuke, mungkin untuk yang terakhir kalinya.

Diserapnya sosok itu baik-baik, sosok dingin yang berdiri kaku, menatap Naruto dengan penuh kebencian. Disimpannya sosok itu baik baik, dan tiba-tiba saja hatinya terasa teriris. Air mata mulai menetes dari sudut matanya, dan dengan segera Naruto melangkah keluar dari ruangan itu.

Setengah berlari dia memasuki lift tanpa mempedulikan tatapan bingung sekertaris Sasuke.

Di lobby, suster Sakura yang menunggu dengan gelisah dari tadi langsung berdiri begitu melihat Naruto muncul di lift.

"Bagaimana...?"

Pertanyaannya tak terjawab karena Naruto langsung mengajaknya keluar dari lobby menuju parkiran, menaiki mobil jemputan rumah sakit yang diminta suster Sakura mengantar mereka ke sini tadi. Di mobil air mata Naruto tak terbendung lagi dan suster Sakura langsung memeluknya untuk menenangkannya.

"Ssshhh...Semuanya tak berjalan baik ya?"

"Dia...Dia tidak mau menerima uang itu..." Naruto tersedak oleh tangisan yang dalam, "Dia...Dia menuduhku menjual diriku kepada lelaki lain demi mendapatkan uang itu..." tangis Naruto meledak lagi dengan kuatnya. Dan suster Sakura langsung memeluknya. Matanya sendiri berkaca-kaca melihat penderitaan Naruto.

"Apakah...kau mencintainya, Naruto?" tanya suster Sakura hati-hati.

Naruto langsung tersentak, menatap Suster Sakura dengan pandangan nanar.

"Apa...? Itu...Itu tidak mungkin..."

"Naruto, mungkin kau tidak menyadarinya, tapi kebersamaan kalian selama ini mungkin saja menumbuhkan sesuatu yang dalam di antara kalian..." suster Sakura menatap Naruto lembut, "Dan kau...Tidak mungkin menangis semenderita ini jika kau tidak punya perasaan apa-apa kepada Sasuke, sayang." Naruto hanya termangu. Air matanya masih mengalir, hatinya sakit sekali. Dan memang benar, penghinaan dan perlakuan kasar Sasuke telah menyakitinya lebih daripada yang seharusnya. Tapi Naruto tidak mau memikirkan kemungkinan apapun. Dia tidak mau, dan tidak bisa. Ada Gaara di sisinya bukan?

Suster Sakura mendesah melihat kediaman Naruto.

"Yah, setidaknya, suatu saat ketika Sasuke menyadari kesalahannya, dia akan menyesal dan kuharap aku ada di sana ketika dia memohon maaf padamu."

.

.

Suster Sakura benar, Sasuke memang menyesal. Tidak perlu waktu lama, hanya selang satu jam dari kepergian Naruto.

"Aku menerima kalian di sini hanya demi Tsunade," gumam Sasuke dingin, suasana hatinya benar-benar buruk saat itu.

Ketika sekertarisnya menelepon dan memberitahu bahwa Tsunade dan Neji ada di ruangan depan, ingin bertemu dengannya, Sasuke hampir saja mengamuk seketika itu juga. Dia sudah menegaskan pada sekertarisnya bahwa dia sedang tidak ingin diganggu. Tetapi Tsunade memaksa, dan seperti biasanya,

paksaannya berhasil.

"Kami harus memberitahumu sesuatu yang penting." gumam Tsunade penuh tekad, tidak peduli akan tatapan membunuh yang berkali-kali dihujamkan Sasuke kepada Neji yang hanya duduk diam tanpa suara di belakangnya.

"Sasuke," Tsunade mencoba menarik perhatian Sasuke yang terus menerus mempelototi Neji. "Ada suatu fakta penting tentang Naruto yang harus kau ketahui."

Sasuke langsung tertarik. 'Fakta apa lagi? Sebuah kebohongan lagi yang belum diceritakan kepadanya? Sebuah kepalsuan lagi yang akan menyulut kemarahannya?'

Dia diam dan menunggu, bersiap-siap untuk meledak lagi, kepalanya terasa berdenyut dan mulai nyeri.

"Sasuke..." Tsunade mengernyit cemas ketika melihat Sasuke tampak kesakitan,

"Kau tidak apa-apa?"

"Aku tidak apa-apa! Cepat selesaikan yang ingin kau katakan, dan bawa dia pergi dari ruangan ini!" Sasuke bahkan tidak mau repot-repot menyebut nama Neji.

Tsunade menarik napas panjang.

"Kau...Kita...Mengambil kesimpulan yang salah tentang Naruto." dengan cepat Tsunade membentangkan artikel itu di meja Sasuke, "Baca ini."

Sasuke melirik artikel itu, semuala tidak tertarik, tetapi kemudian mengenali gambar di artikel itu sebagai Naruto, lebih muda beberapa tahun, tapi dia tak mungkin salah.

"Apa yang...Oh Tuhan!" baru separuh artikel yang dibacanya, tetapi dia

pucat pasi. Dengan gemetar dia membaca artikel itu. Membacanya berulang-ulang kemudian, mencoba mencari kesalahan. Tapi kebenaran yang tertulis di sana tak terbantahkan lagi.

"Benar Sasuke, keluarga Naruto, kedua orangtuanya terenggut pada kecelakaan yang sama di jalan tol, kecelakaan yang sama yang menewaskan suamiku", mata Tsunade berkaca-kaca ketika kenangan itu kembali.

"Oh Tuhan!" Sasuke berpegangan pada meja untuk menopang tubuhnya, Ini sebabnya Naruto selama ini sebatang kara dan sendirian?

"Kedua orang tua saya sudah meninggal dunia, saya hidup sendirian" itu jawaban Naruto waktu pemuda itu terpaksa menumpang mobilnya di pagi yang hujan. (chapter 2)

Lalu uang tiga ratus juta dan hutang puluhan jutanya di perusahaan itu... Sekali lagi Sasuke mengernyit.

"Tunangannya, Gaara, masih terbaring koma sejak kecelakaan itu. Naruto berjuang mati-matian untuk mempertahankan hidupnya. Hutang-hutangnya di rumah sakit mungkin untuk membiayai biaya perawatan Gaara, dan hutangnya kepadamu tiga ratus juta mungkin karena pemuda itu putus asa," Tsunade memandang Sasuke, dan tiba-tiba merasa kasihan, Sasuke tampak hancur berkeping-keping, "Aku menelepon rumah sakit tempat Gaara dirawat Sasuke, Gaara saat itu harus menjalani operasi pengangkatan ginjal karena salah satu ginjalnya rusak akibat obat-obatan yang terus menerus...biaya operasi itu sangat mahal, hampir mencapai tiga atus juta rupiah...Mungkin itu alasan Naruto menjual dirinya padamu, pemuda itu putus asa."

Sasuke memejamkan matanya, mengingat hari berhujan dimana Naruto membuat penawaran gila itu padanya. Bagaimana mungkin dia dulu tak menyadarinya? Waktu itu Naruto memang terlihat putus asa, panik dan putus asa.

"Neji bercerita bahwa Naruto hilang seharian di hari minggu dan kalian mencarinya kemana-mana," Tsunade mengedikkan bahunya pada Neji yang hanya diam dan menundukkan kepalanya, "Itu hari di mana operasi Gaara dilaksanakan."

Sebuah hantaman lagi yang menerjang Sasuke. Dia mengernyit, rasanya berat sekali ketika dia sudah berpegang teguh pada suatu keyakinan bergitu lama tapi kemudian dihancurkan begitu saja.

Naruto pemuda baik-baik. Dia bukan pemuda bermoral rendah seperti dugaannya selama ini. Pantas saja waktu itu dia masih pertama kali bercinta. Hal yang seharusnya untuk tunangan yang dicintainya dikorbankannya. Sasuke langsung disengat rasa cemburu yang tajam. Naruto pasti begitu mencintai tunangannya kalau sampai berjuang mati-matian seperti itu.

"Kecelakaan itu terjadi hanya beberapa hari sebelum pernikahan mereka Sasuke," Tsunade menoleh secara terang-terangan kepada Neji, "Biarkan Neji yang menjelaskan sisanya kepadamu."

Sasuke menoleh kepada Neji dengan muram, masih terbayang adegan ciuman waktu itu di matanya. Dan kemarahannya langsung membara, kalau begitu kenapa Naruto ada di pelukan Neji dan Neji bilang Naruto rela menjual diri padanya?

"Waktu itu semua sudah kurencanakan, Sasuke," gumam Neji pelan seolah bisa membaca pikiran Sasuke, lalu mengernyit ketika menerima tatapan menusuk itu lagi, "Aku... Waktu aku mendampingimu mencari Naruto yang menghilang waktu itu, aku melihat betapa emosionalnya dirimu, itu menggangguku karena kau berubah, tidak seperti biasanya, aku berpikir Naruto telah menimbulkan pengaruh buruk padamu...Jadi aku mengambil keputusan...aku merekayasa semuanya...Ciuman itu adalah paksaan dariku...Naruto sama sekali tidak sukarela, dia menolakku sekuat tenaga. Dia memanggil namamu..."

Sasuke langsung merangsek maju dengan marah, tanpa diduga. Langsung meraih kerah kemeja Neji. Tak peduli tubuh Neji yang memar dan lebam akan kesakitan menerima sentuhan seringan apapun.

"Brengsek kau Neji! Brengsek kau! Aku mempercayaimu!" Sasuke menggeram di antara ke dua giginya, "Kau tahu malam itu aku memperlakukannya sebagi pelacur rendahan?! Aku memperkosanya!"

"Sasuke, tenanglah dulu", gumam Tsunade hati-hati, berusaha membuat Sasuke melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Neji, "Kau menyakiti Neji, tidakkah kau sadar kau sudah cukup menyakitinya kemarin? Lepaskan dia Sasuke", bujuknya lembut.

Sasuke bergeming, sejenak seolah-olah akan menghajar Neji, tapi kemudian dia melepaskan lelaki itu dengan kasar.

"Harusnya kubunuh saja kau sekalian!", desisnya geram sambil mengacak rambutnya,

Lalu sebuah pertanyaan merasuk di benaknya.

"Kenapa harus Naruto yang menanggung seluruh biaya perawatan Gaara? Kenapa bukan keluarga Gaara?"

"Gaara tidak punya keluarga." Neji yang menyahut setelah berhasil meredakan napasnya yang terengah karena perlakuan kasar Sasuke tadi, "Dia pengacara juga, kebetulan aku mengenalnya", suaranya tertelan melihat tatapan bermusuhan Sasuke, tapi dia bertekad melanjutkan, " Sebenarnya aku tidak begitu mengenalnya, tetapi Gaara cukup terkenal di kalangan profesi kami karena reputasi baiknya, aku... Eh... Melakukan penyelidikan singkat tadi dan mendapati bahwa Gaara dibesarkan di panti asuhan, dia sebatang kara...karena itulah kabar setelah kecelakaan yang menimpanya menjadi simpang siur, dia menghilang begitu saja dan gosip yang beredar mengatakan Gaara sudah meninggal, tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya Gaara masih hidup dan ada dalam kondisi koma", Neji menatap Sasuke sungguh-sungguh, "Aku menyesal dan aku meminta maaf Sasuke. Aku memang bodoh dan gegabah, aku juga menyesal setengah mati"

Sasuke tercenung. Lama tidak mengatakan apa-apa. Sejenak ruangan itu begitu hening.

"Sasuke, mungkin lebih baik kita melepaskan Naruto, sudah cukup berat beban yang dia tanggung," gumam Tsunade pelan memecah keheningan. Lalu dia berubah ragu-ragu dan berhati-hati dengan reaksi Sasuke, "Mengenai hutang-hutang Naruto baik kepadamu dan kepada perusahaan, aku bersedia menggantinya."

"Tidak."

"Tidak?" Tsunade mengernyit mendengar gumaman pelan Sasuke itu.

"Tidak akan kulepaskan. Aku tidak peduli dengan uang itu. Naruto tidak akan kulepaskan."

"Sasuke!", Tsunade mengernyit jengkel. "Hentikan! Kau tidak tahu betapa banyak penderitaan yang ditanggung Naruto selama ini! tidak bisakah kita biarkan dia tenang bersama tunangannya? Lagipula kau bisa mencari orang lain untuk memuaskanmu bukan? Kau bisa mendapatkan pengganti Naruto dalam beberapa menit!"

Sasuke mengusap wajahnya, tampak begitu menderita,

"Tidak, aku tidak bisa Tsunade." erangnya parau. Mata Tsunade melebar melihat ekspresi Sasuke, tidak pernah sebelumnya Tsunade melihat Sasuke begitu penuh emosi.

'Apakah ini berarti Sasuke benar-benar mencintai Naruto?'

"Dia punya tunangan Sasuke, jangan lupa, semua yang dilakukannya adalah demi menyelamatkan Gaara."

Kebenaran itu menyakiti hati Sasuke, sengatan cemburu itu kembali melukainya.

"Kalau begitu aku akan membuatnya memilihku," mata Sasuke penuh tekad,

"Dimana alamat rumah sakitnya?"

.

.

To be continued..

.

.

Jtk mau ngasih pemberitahuan kalau fanfic ini bakal diupdate sekitar Kamis malam atau Jumat malam dikarenakan jtk sedang ujian. Keep sabar ya gaes '-')/

Big thanks for my reader dan reviewers, makasih banyak. Karena kalian jtk selalu semangat buat update dan ngerapihin remakenya. Sebenernya akhir-akhir ini mood sedang dalam keadaan buruk jadi males banget buat nulis, atau buka laptop. Mau nerusin solstice aja masih mikir-mikir, juga fanfic soal daddy kink -_- banyak basher sama flamer malah dari temen seperfandoman sendiri dari sebelah :v coeg makin males :v

Spoiler dikit ye soal fanficnya karena udah mau ending. Disini Naru mpreg, jelas nanti ada kejadiannya. Dan, ini yang bikin beda. Gaara bakalan dapet pengganti Naruto, dan itu enggak terduga sama sekali siapa dia :v dan bagaimana kisahnya :v

So, mind to review again?