Chapter 8

[REMAKE] A Romantic Story About Naruto by Santhy Agatha

Genre : Romance, Hurt

Cast : Sasuke Uchiha, Naruto Uzumaki, Gaara Sabaku and others

[SASUNARU]

Rated : M

.

Disclaimer : JTK me-remake novel yang nurut JTK pribadi bagus dan lumayan menyentuh dari Santhy Agatha. Jadi JTK bukan penjiplak atau plagiat, JTK hanya me-remake dan merubah sedikit menyesuaikan alur. Udah ijin sama yang punya novel ini, asalkan nama pengarang aslinya dicantumin itu gapapa. Kalian bisa baca versi aslinya di wattpad. Jadi ini cerita bukan milik JTK, JTK hanya me-remake doang. Dan sekali lagi JTK enggak plagiat.

Dan ini JTK remake jadi versi Yaoinya.

.

DON'T LIKE DON'T READ

HAPPY READING^^

SEKALI LAGI INI YAOI, YAOI. COWOK SAMA COWOK. JADI JANGAN BASH ATAU FLAME KALO GAK SUKA CERITA/CHARANYA. GAK SUKA GAK USAH MAKSA BACA CUMAN DEMI FLAME.

Damai itu indah bro, seindah tonjolan selangkangannya Uchiha Sasuke. *digampar*

.

.

.

.

.

"Dimana ruangan tempat perawatan Sabaku?" Sasuke berdiri di depan resepsionis. Resepsionis itu mendongak dan ternganga. Terpesona melihat penampilan dan ketampanan Sasuke.

"Ruangan perawatan Gaara Sabaku?" Sasuke mengulang jengkel karena resepsionis itu hanya menatapnya seperti orang bodoh.

"Oh...Untuk Gaara...Anda...Anda mungkin harus menemui Suster Sakura dulu, beliau suster kepala penanggung jawabnya."

"Dimana?" gumam Sasuke tak sabar.

"Lantai tiga, ruangan perawat nomor dua." Tanpa basa-basi Sasuke meninggalkan resepsionis yang masih ternganga itu.

Sasuke berjalan dengan cepat, tidak memperdulikan orang-orang yang menatapnya dengan pandangan serupa dengan resepsionis tadi. Pintu itu tertutup rapat dan Sasuke mengetukknya.

"Masuk" sebuah suara yang tegas terdengar dari dalam. Sasuke masuk dan langsung berhadapan dengan Suster Sakura. Seorang wanita dengan rambut pink cotton dan terlihat aura kedewasaannya. Suster Sakura langsung menyadari siapa yang berdiri di hadapannya. Dia tidak mungkin salah mengenali.

Penggambaran Naruto sangat akurat. Lelaki ini memang benar-benar luar biasa tampan dengan keangkuhan yang sudah seperti satu paket dengan auranya. Suster Sakura menatap Sasuke tajam, ia ingat perlakuan Sasuke kepada Naruto. Ingat bagaimsakura lelaki bersurai gelap ini memperlakukan Naruto seperti pelacur.

"Apakah yang anda lakukan disini? Mencari Naruto?" Suster Sakura berdiri dari tempat duduknya, menatap Sasuke dengan pandangan menilai.

"Ya, aku mencari Naruto"

"Apakah anda akhirnya berhasil menemukan kebenaran?" gumam Suster Sakura langsung tanpa basa-basi.

Sasuke mengernyit mendengar kata-kata Suster Sakura yang sama sekali tidak diduganya. Tapi dia lalu teringat telelepon di tengah malam yang tanpa sengaja dia angkat. Penelepon itu mengatakan dirinya adalah Suster Sakura...

"Ya," Sasuke mengakuinya pelan, "Anda sudah tahu semuanya?"

"Semuanya, dan pertama, sebelum anda menghina Naruto lagi. Saya akan jelaskan kepada anda, semalam Naruto datang kepada saya, dengan kondisi mengenaskan. Mental dan fisik yang rapuh, dan dia bilang ingin melepaskan diri dari anda, menurut saya itu wajar mengingat perlakuan anda padanya. Anda memperlakukannya seperti pelacur rendahan tanpa anda tahu alasan sebenarnya. Benar-benar tidak berpendidikkan," Suster Sakura menatap Sasuke dengan pandangan mencela yang terang-terangan hingga wajah Sasuke mengeras, "Uang yang dia pakai untuk melunasi anda, itu adalah uang pinjaman dari saya dan beberapa staff rumah sakit lain, bukan uang hasil menjual dirinya kepada lelaki lain seperti apa yang anda tuduhkan kepadanya tadi pagi."

Sebuah kebenaran lagi. Lebih keras daripada tamparan di pipi, lidah Sasuke terasa kelu.

"Saya ingin bertemu Naruto" gumam Sasuke akhirnya.

Suster Sakura mengangkat alisnya.

"Untuk apa? Ketika hubungan hutang piutang itu lunas. Tidak ada lagi perlunya kalian bertemu, lagi pula saya tidak yakin Naruto bersedia menemui anda."

"Tidak ada hubungannya dengan uang! Saya tidak peduli dengan uang!" Sasuke hampir berteriak, lalu berdehem berusaha meredekan emosinya, "Saya harus bertemu dengan Naruto, meminta maaf, saya tahu selama ini saya salah..."

"Anda bisa menyampaikan permintaan maaf anda melalui saya" sela Suster Sakura tegas. "Sekarang anda boleh pergi," tambahnya.

"Saya mohon...Saya harus bertemu dengan Naruto, saya butuh bertemu dengan Naruto."

Suster Sakura menggeleng, kemudian menekan tombol pintas di teleponnya. Berbicara dengan serius, sebelum menutupnya.

"Anda boleh pergi sekarang," Sasuke sedikit terkejut ketika ada dua petugas keamanan masuk ke dalam ruangan itu dan membawa Sasuke pergi. Wajah Suster Sakura menyiratkan ketegasan sehingga Sasuke tidak bisa berkutik sama sekali. Dan untuk pertama kalinya, Sasuke menyerahkan diri untuk diseret pergi petugas keamanan.

.

.

Ruangan itu hening terletak di lorong paling ujung. Dan Naruto hanya berdiri di depan ruang perawatan sambil menatap melalui jendela kaca lebar yang membatasinya dengan Gaara, saat ini bukan jam besuk dan Naruto tidak boleh masuk.

Pikiran Naruto terasa berat, dia tidak punya pekerjaan sekarang. Suster Sakura dan yang lain-lain bilang akan membantu, tetapi Naruto tidak mungkin menggantungkan hidupnya pada bantuan orang lain terus menerus, apalagi dengan biaya perawatan Gaara yang begitu mahal yang harus ditanggungnya setiap bulannya...

Dengan sedih Naruto menatap Gaara, lelaki itu masih terbaring dalam kedamaian yang sama, begitu pucat, hanya bunyi mesin-mesin penunjang kehidupan itulah yang menunjukkan kalau masih ada harapan hidup yang tersimpan di sana. Naruto mengusap air mata di sudut matanya.

"Ah Gaara... Sampai kapan kau tertidur begini? Aku merindukanmu kau tahu. Aku membutuhkanmu. Saat ini aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri, aku takut jika kau tidak segera bangun nanti aku akan…" lamunan Naruto terpotong dengan tangisannya. Ia benar-benar menangis, merutuki dirinya sendiri.

"Lekaki macam apa aku ini? Tunanganku terbaring sakit dan aku menjual tubuhku untuk dinikmati lelaki lain, jauh sebelum tunanganku

Saat itulah Sasuke masuk, diantarkan oleh Suster Sakura di belakangnya. Perasaan sedih yang aneh menyeruak di dada Sasuke ketika dia melihat Naruto menatap Gaara yang terbaring di balik kaca dengan tatapan sendu. Perasaan itu benar-benar menghantam dadanya, selama ini Naruto tidak pernah menampakkan ekspresi itu kepada siapapun. Termasuk kepadanya.

"Naruto..." Sasuke bergumam pelan, mendadak dikuasai keinginan yang dalam untuk mengalihkan perhatian Naruto dari Gaara. Suaranya seperti menyentakkan Naruto hingga pemuda itu menoleh kaget. Wajahnya langsung pucat pasi, tidak menduga bahwa Sasuke akan muncul di sini, matanya menatap Suster Sakura meminta pertolongan.

"Dia datang disini untuk berbicara Naruto, dan dia sudah berjanji tidak akan melakukan atau mengatakan sesuatu yang akan menyakitimu. Dia sudah berjanji kepadaku dan aku tidak akan segan-segan menendangnya jika ia melanggar janjinya," gumam Suster Sakura lembut, menyadari kegelisahan yang dirasakan Naruto, dia lalu mengamit lengan Naruto, "Mari, kuantar kalian ke ruanganku di mana kalian bisa berbicara dengan tenang, aku akan meninggalkan kalian di sana."

Seperti kerbau yang di cocok hidungnya, Naruto hanya mengikuti ketika di tuntun ke ruangan Suster Sakura, sedangkan Sasuke hanya mengikuti di belakang dalam diam.

Ruangan tetap hening lima menit kemudian ketika Suster Sakura menutup pintu ruangan dari luar.

"Aku minta maaf." gumam Sasuke dengan lembut akhirnya.

Naruto bersedekap, seolah ingin melindungi dirinya.

"Ya...Sudah di maafkan...Sekarang...Sekarang bisakah kau pergi?" Naruto mulai menahan tangisnya. Sasuke telah benar-benar melukai hatinya, kehadiran lelaki itu sekarang, berdiri di depannya, menatapnya dengan begitu lembut, benar-benar membuat emosinya bergejolak.

"Aku tidak tahu tentang semua ini Naruto, beberapa hari lalu Tsunade mengungkapkan

kebenaran di depanku. Aku tidak tahu. Tidakkah itu bisa membuat semuanya sedikit dimaklumi?" sambung Sasuke pelan. "Selama ini aku salah paham, aku berpikiran buruk tentangmu dan semakin memupuknya dari hari ke hari. Itu... Itu juga menyiksaku, antara dorongan untuk menyayangimu atau menghukummu karena jauh dilubuk hatiku aku mengira aku hanya dimanfaatkan," Sasuke mengerjapkan matanya pedih, "Kalau aku tahu tentang semua ini, segalanya akan berbeda Naruto."

"Aku sudah kemari beberapa hari lalu, tapi Sakura menyeretku keluar," tambah Sasuke lirih.

"Kau pantas mendapatkannya," Naruto berbicara lirih tapi cukup membuat Sasuke tersikap. "Itu setimpal dengan perlakuanmu," tambahnya. Membuat Sasuke seperti dilukai dari dalam. Kata-kata itu memang tidak setegas milik Suster Sakura, tapi jauh lebih ampuh untuk melukainya secara emosional, karena diucapkan oleh orang yang ia cintai.

Ya, Sasuke mencintai Naruto.

"Untuk apa kau harus bersusah payah datang kemari? Apa untuk menghinaku lagi? Untuk menyakitiku lagi? Mengobrak-abrik emosiku lagi? Aku tau kau sangat kaya bahkan kau bisa membeli isi dunia dengan uangmu, tapi bukan berarti kau boleh seenaknya menghina orang sepertiku Sasuke.."

"Karena itu aku benar-benar minta maaf Naruto, aku salah sejak awal. Salah sejak menanamkan pikiranku, menanamkan bahwa kau hanya memanfaatkan seperti itu,"

Naruto memejamkan matanya. Mau tak mau permintaan maaf Sasuke yang begitu tulus itu mulai menyentuh hatinya. Sasuke memang tidak bisa disalahkan. Dia tidak tahu. Lagipula apa yang harus dipikirkan Sasuke tentang pemuda yang melemparkan diri padanya demi uang selain bahwa pemuda itu adalah pelacur?

"Aku...Aku mengerti...tidak apa-apa, pilihanku juga untuk tidak mengatakan ini semua kepadamu," suara Naruto terdengar serak. "Dan apapun konsekuensinya aku sudah bersedia menanggungnya...Jadi kita impas."

Sasuke menatap Naruto sedih.

"Naruto... Aku..." Sasuke mengulurkan tangan hendak meraih Naruto, tapi lalu tertegun ketika Naruto mundur seperti ketakutan. Seperti membatasi dirinya dnegan Sasuke, menolak sentuhan Sasuke seperti binatang yang pernah tertombak. Kesadaran itu menghancurkan Sasuke, kesadaran bahwa Naruto takut dengan sentuhannya, mungkin akibat kekasarannya beberapa hari yang lalu.

Sasuke mengusap rambutnya dengan kasar.

"Aku... Mungkin semua sudah terlambat. Tapi aku harus mengatakannya...Aku mencintaimu Naruto, mungkin kau bertanya-tanya kenapa. Tapi aku juga tidak bisa menjawabnya. Aku juga baru menyadarinya. Itu terjadi begitu saja," Sasuke menatap Naruto yang hanya termangu dengan wajah pucat pasi, "Tapi sekarang itu tak penting lagi bukan? Kesalahanku tidak bisa di maafkan semudah itu. Dosaku terlalu besar."

Dengan ragu Sasuke melangkah ke arah pintu, terdiam sejenak.

"Semua hutangmu anggap saja sudah lunas. Aku tidak akan menuntut apapun darimu, aku akan menjauh darimu dan kau tidak perlu takut harus menghadapiku lagi. kau bebas sebebas-bebasnya. Dan kalau kau masih mau bekerja di perusahaanku. Aku akan sangat senang...Tapi aku tidak akan memaksa. Aku sudah terlalu sering memaksakan kehendakku padamu. Sekarang tidak akan lagi," punggung Sasuke tampak tegang, "Selamat tinggal Naruto." gumamnya pelan sebelum membuka handle pintu.

Naruto termangu menatap punggung yang begitu tegang itu. Pernyataan cinta Sasuke begitu mengejutkannya hingga dia tidak bisa mengatakan apa-apa, memang Sasuke telah menyakitinya, tapi ada saat saat dimana Sasuke berhasil membuat hatinya terasa hangat. Dan kalau dipikir-pikir, selama kebersamaan mereka itu. Tidak pernah sekalipun Sasuke menyakitinya dengan sengaja, kecuali saat kemarahan menguasainya kemarin.

Sekarang ketika Naruto menatap punggung Sasuke, yang tampak begitu tegang sekaligus rapuh. Sebuah perasaan hangat menyeruak ke dalam hatinya, sebuah perasaan yang bertumbuh pelan tanpa dia sadari.

"Sasuke," Naruto bergumam pelan, tapi cukup untuk membuat Sasuke membatu di tempat. Tetapi lelaki itu tidak menoleh, hanya berdiri di sana. Membeku seperti patung.

"Sasuke." kali ini Naruto mengulang lagi, lebih lembut sehingga Sasuke menoleh menatap Naruto.

Entah karena mata Naruto yang menatapnya penuh kelembutan, Entah karena Sasuke pada akhirnya sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi. Naruto tidak tahu, yang pasti ekspresi Sasuke berubah seketika.

Dia membalikkan tubuh. Menatap Naruto ragu-ragu. Dan ketika dilihatnya Naruto membuka lengan menyambutnya, Sasuke mengerang. "Aku mungkin tidak memaafkanmu semudah itu, tapi aku hanya ingin mencoba melupakannya," bisik Naruto parau. "Kau terlalu beracun untuk dimaafkan dan terlalu menyakitkan untuk pergi,"

Sasuke kemudianmelangkah tergesa ke arah Naruto, tersandung-sandung menghampiri Naruto. Sejenak mereka berdiri berhadapan. Lalu Sasuke jatuh berlutut dan memeluk pinggang Naruto, membenamkan wajahnya di perut Naruto. Napasnya tersengal menahan perasaan.

Dengan lembut Naruto memeluk dan mengelus rambut Sasuke.

"Aku mencintaimu," Sasuke berbisik dengan suara parau, wajahnya masih terbenam di perut Naruto, "entah sejak kapan aku mencintaimu. Mungkin sejak pertama kali aku melihatmu, aku..." napas Sasuke tersengal, "Aku mungkin manusia paling kejam, paling jahat...tapi aku...Aku tidak..."

"Sasuke," sekali lagi Naruto berbisik lembut. Sasuke mendongakkan wajahnya dan menatap Naruto, wajah Naruto penuh air mata, dan tiba-tiba mata Sasuke terasa panas.

"Jangan menangis," Tiba-tiba Sasuke berdiri dan merengkuh Naruto ke dalam pelukannya, memeluknya erat-erat, "Jangan menangis lagi, aku bersumpah tidak akan pernah membiarkanmu menangis lagi."

Naruto memeluk Sasuke erat-erat. Permintaan maaf Sasuke dan kelembutan sikapnya meluluhkan hatinya, menumbuhkan perasaan baru di dalam hatinya, mereka telah begitu dekat selama ini, kedekatan yang dipaksakan, tetapi mau tak mau telah membuka pembatas yang selama ini ada di hati Naruto. Lama mereka berpelukan, dalam keheningan. Naruto menumpahkan tangisnya di pelukan Sasuke dan lelaki itu memeluk Naruto erat-erat, membenamkan wajahnya di rambut Naruto.

Setelah tangis Naruto mereda, Sasuke mengangkat dagu Naruto agar menghadap ke arahnya, mengusap air mata di pipi Naruto dengan lembut.

"Pulanglah bersamaku, kembalilah bersamaku Naruto, bukan karena uang tiga ratus juta itu. Aku ingin kau melupakan masalah hutang itu, aku ingin kau bersamaku karena kemauanmu sendiri. Pulanglah bersamaku Naruto, kita mulai lagi semuanya dari awal...Dan jika...Dan jika..." Sasuke menarik napas, menahan perasaannya, "Jika kau memang belum mencintaiku, aku akan menunggu. Bahkan aku tidak akan menyentuhmu kalau kau tidak mau, aku tidak akan memaksakan kehendakku, kau bisa tenang. Aku... Aku hanya ingin kau ada di tempat dimana aku bisa melihatmu setiap hari." Naruto menatap Sasuke, dan melihat ketulusan di ssakura, melihat cinta yang tidak di tahan-tahan lagi.

Dia baru membuka mulutnya untuk menjawab ketika pintu ruangan itu terbuka. Suster Sakura membuka pintu, terlalu panik dan terengah-engah setengah merasa malu ketika menemukan Sasuke dan Naruto sedang berpelukan.

"Naruto!" Suster Sakura berusaha menormalkan nafasnya, dia tadi berlari ke sini, "Cepat! Cepat ikuti aku ke ruang perawatan! Gaara sadar! Dia terbangun dari komanya!"

.

.

.

Naruto berlari, tanpa sadar melepaskan diri dari pelukan Sasuke, dia berlari penuh air mata, ke kamar perawatan Gaara, kerinduannya membuncah, rasa syukurnya tak tertahankan.

Ketika sampai di depan pintu perawatan nafasnya terengah, dia berhenti karena pintu itu masih di tutup rapat, Suster Sakura tergopoh-gopoh mengejarnya,

"Naruto, jangan masuk dulu, dokter baru menstabilkan kondisinya."

Penantian itu terasa begitu lama, sampai kemudian Naruto diijinkan masuk, hanya lima menit untuk sekedar menengok Gaara, setelah itu dokter harus mengevaluasi kondisinya Gaara lagi. Dadanya sesak tak tertahankan ketika mata itu balas menatapnya, mata yang selama ini terpejam, tertidur dalam damai, membuat Naruto menanti, mata itu sekarang terbuka, hidup, dan balas menatapnya,

"Gaara," suara Naruto serak oleh emosi, dan tangisnya meledak, dia menghampiri tepi

ranjang, ke arah Gaara yang masih terbaring, pucat dengan alat-alat penunjang kehidupan yang masih menopangnya, tapi hidup dan membuka mata. Naruto meraih tangan Gaara dan menciumnya, lalu menangis.

"Gaara."

Banyak yang ingin Naruto ungkapkan, dia ingin mengucap syukur karena Gaara akhirnya bangun, dia ingin merajuk karena Gaara memilih waktu yang begitu lama untuk terbangun, dia ingin menangis kuat-kuat, tapi semua emosi menyebabkan suaranya tercekat di tenggorokan.

Air mata tampak menetes dari pipi Gaara, lelaki itu mencoba berbicara, tetapi tampak begitu susah payah,

"Stttt...Kau tidak boleh bicara dulu," gumam Naruto lembut, mencegah Gaara berusaha terlalu keras, "mereka memasang selang di tenggorokanmu, untuk masukkan, kau koma selama kurang lebih dua tahun."

Mata Gaara menatap Naruto, tampak tersiksa, dan dengan lembut Naruto mengusap air mata di pipi Gaara,

"Nanti, setelah mereka yakin kondisimu membaik, mereka akan melepas selang itu dan kau akan bisa berbicara lagi, kau boleh berbicara banyak seperti dulu tapi sekarang, kau cukup mengangguk atau menggeleng saja ya, sekarang..." Naruto menelan ludah, menahan isak tangis yang dalam,

"Sekarang kita harus mensyukuri karena kau akhirnya terbangun, ya?"

Gaara menganggukkan kepalanya, dan seulas senyum dengan susah payah muncul dari bibirnya,

"Sekarang istirahatlah dulu, dokter akan mengecek kondisimu lagi" bisik Naruto lembut ketika melihat isyarat dari dokter yang menunggui mereka.

Ketika Naruto akan beranjak, genggaman Gaara di tangannya menguat, Dengan lembut Naruto menoleh dan memberikan senyuman penuh cinta kepada Gaara,

"Aku tidak akan kemana-mana, aku harus menyingkir karena dokter akan memeriksamu lagi, tapi aku tidak akan kemana-mana, aku akan berada di dekat sini sehingga saat kau butuh nanti aku akan langsung datang."

Pegangan Gaara mengendor, lelaki itu mau mengerti. Dengan lembut Naruto mengecup dahi Gaara dan melangkah menjauh keluar ruangan perawatan. Air matanya mengucur dengan derasnya ketika dia melangkah menghampiri suster Sakura. Suster Sakura masih berdiri di sana dan Naruto langsung berlari ke arahnya, menangis keras-keras.

"Dia sadar suster...dia akhirnya sadar...aku masih tak percaya, selama ini aku hampir kehilangan harapan. Mulai berpikir kalau Gaara memang tidak mau bangun, mulai berpikir kalau semua perjuanganku ini sia-sia... Tapi sekarang...",

Naruto terisak, "Aku tak percaya bahwa pada akhirnya dia sadar... dia kembali dari tidur panjangnya, dia ada di sini untuk aku..." Dengan lembut Suster Sakura mengelus rambut Naruto,

"Ini semua karena perjuanganmu Naruto, Tuhan melihat keyakinanmu maka ia mengabulkannya." mata Suster Sakura juga berkaca-kaca, terharu melihat pasangan yang sudah hampir menjadi legenda karena kekuatan cintanya di rumah sakit ini, akhirnya akan berujung bahagia.

Tapi kemudian, suter Sakura menyadari kehadiran Sasuke di ujung ruangan, masih bersandar di pintu lorong ruang perawatan, dengan wajah tanpa ekspresi.

Dengan lembut dilepaskannya Naruto dari pelukannya,

"Eh mungkin aku harus pergi dulu Naruto, mungkin masih ada hal-hal yang ingin kalian bicarakan?" Suster Sakura mengedikkan bahunya ke arah Sasuke,

Baru saat itulah sejak pemberitahuan Suster Sakura tadi, Naruto menyadari kehadiran Sasuke di ruangan itu. Pipinya langsung memerah mengingat pernyataan cinta Sasuke, sesaat sebelumnya. Tapi dia sungguh tidak bisa berkata apa-apa.

Setelah Suster Sakura meninggalkan ruangan itu, suasana menjadi canggung, dalam keheningan yang tidak menyenangkan.

"Dia sadar." gumam Sasuke akhirnya, memecah keheningan.

Naruto menganggukkan kepalanya, belum mampu bersuara.

Sasuke tampak berfikir,

"Kau bahagia?" tanyanya kemudian, lembut.

Naruto mengernyitkan keningnya, Sasuke telah berubah, menjadi sedikit lebih manusiawi, menjadi sedikit mudah disentuh. Sasuke yang dulu tidak akan mungkin menanyakan itu padanya. Sasuke yang dulu pasti akan langsung memaksa membawanya pulang tanpa peduli perasaan Naruto.

"Ya, aku bahagia." seulas senyum kecil muncul di bibir Naruto, membayangkan Gaara.

Sasuke mengernyit melihat senyuman itu. Senyuman itu bagaikan pisau yang menusuk hatinya, senyuman yang diberikan Naruto ketika membayangkan lelaki lain, ketika membayangkan Gaara.

"Bagus," gumamnya datar, kemudian menatap Naruto lembut, "mungkin kita harus melakukan pengaturan kembali dengan perkembangan yang mendadak ini, tetapi aku tidak mau mengganggumu dulu, kau pasti ingin fokus dulu dengan kondisi Gaara... jadi kupikir aku akan kembali lagi saja nanti."

"Terima kasih Sasuke." akhirnya Naruto bisa berkata-kata, pelan.

Sasuke tersenyum miring,

"Aku meminta maaf, dan kau malah menjawabnya dengan ucapan terima kasih, Naruto yang aneh." dengan hati-hati Sasuke mendekat, lalu setelah yakin bahwa Naruto tak akan menjauh, dia merengkuh Naruto ke dalam pelukannya,

"Ingat kata-kataku tadi." bisiknya lembut, lalu menunduk dan memberikan Naruto sebuah ciuman yang singkat tetapi menggetarkan kepada Naruto.

Dan pergilah Sasuke, meninggalkan Naruto yang masih berdiri terpaku, memegangi bibirnya yang terasa hangat, bekas ciuman Sasuke.

.

.

.

"Dia sadar." Sasuke menyesap minumannya sambil berdiri terpaku menatap ke pemandangan dari jendela lantai atas kantornya. Tsunade, yang masih bersama Neji hanya diam terpaku. Sasuke sudah menceritakan semuanya kepada mereka tadi, tentang sadarnya Gaara dari komanya. Dan sekarang lelaki itu hanya terdiam dan mengulang-ulang kata 'dia sadar' 'dia sadar' sambil menatap keluar.

Tsunade menarik napas mulai tak sabar, sedangkan Neji hanya mengetuk-ketukkan tanggannya di lutut. Sasuke masih belum menunjukkan tanda-tanda memaafkannya jadi dia memilih diam dan tidak mengatakan apa-apa.

"Kurasa karena perkembangan baru yang tidak terduga ini, kau akhirnya memutuskan untuk melepaskan Naruto?"

Pertanyaan Tsunade itu membuat Sasuke mendadak memutar tubuhnya dengan tajam menghadap Tsunade dan menatapnya dengan mata menyala-nyala.

"Dia belum memilih," gumam Sasuke setengah menggeram. "detik terakhir sebelumnya, dia menerimaku dalam pelukannya, membalas pelukanku dan aku yakin akan menerima ajakanku untuk pulang bersamaku."

"Sudahlah Sasuke, sekarang kan tunangannya yang setia ditungguinya selama dua tahun sudah sadar, kau tidak bisa..." tanpa sadar Neji bersuara memberikan pendapat seperti kebiasaannya sebelumnya. Tapi langsung berhenti mendadak ketika menerima tatapan tajam penuh permusuhan dari Sasuke,

"Aku...aku hanya mencoba memaparkan kenyataan di depanmu." suara Neji hilang tertelan karena tatapan Sasuke makin tajam.

Tsunade menghela napas sekali lagi,

"Sasuke, Neji benar, sadarnya Gaara ini bukankah merupakan tujuan hidup Naruto selama ini? Biarkan mereka berbahagia Sasuke, mereka pantas mendapatkannya setelah tahun-tahun penuh penantian dan ketidakpastian yang menyiksa."

"Tidak!" Sasuke tetap bersikeras, "aku tidak bisa menyerah begitu saja dan membiarkan Naruto salah memilih. Dia mencintaiku. Perasaannya pada Gaara mungkin hanya kasihan."

"Kenapa kau tidak bisa berpikir kalau perasaannya kepadamulah yang mungkin hanya perasaan sesaat karena keadaan yang dipaksakan? Kau pernah dengar apa itu Stockholm Syndrome?" sela Tsunade jengkel.

Sasuke tercenung, tentu saja dia tahu apa itu Stockholm Syndrome, dan menyakitkan kalau menyadari bahwa perasaan Naruto kepadanya mungkin ditumbuhkan oleh situasi keterpaksaan. Dengan gusar diusapnya rambutnya,

"Aku akan menanyakan langsung padanya. Nanti. Setelah kondisi tunangannya lebih baik."

Tsunade tidak berkata-kata. Dan Neji hanya diam, tak tahu harus bicara apa lagi.

.

.

.

Dua hari kemudian, Naruto berdiri di depan ruangan perawatan Gaara dengan cemas, tangannya menggenggam tangan Suster Sakura setengah menangis. Matanya semakin berkaca-kaca ketika mendengar suara teriakan dari dalam.

Teriakan Gaara,

"Suster..." hati Naruto terasa di iris-iris, menyadari bahwa suara pertama yang dikeluarkan Gaara setelah 2 tahun adalah teriakan kesakitan.

"Tidak apa-apa Naruto, itu pertanda bagus, Gaara memang kesakitan, mereka sedang melepas selang di tenggorokan dan di dadanya, tetapi kalau Gaara bisa mengeluarkan suara, itu pertanda kondisinya sudah semakin membaik." Suster Sakura menggenggam tangan Naruto, membagikan kekuatannya.

Suara teriakan itu terdengar lagi, begitu serak hingga Naruto hampir tak mengenalinya. Air matanya mulai menetes satu-satu tanpa dapat ditahannya,

"Berapa lama lagi suster?" menunggu di luar seperti ini terasa bagaikan siksaan yang paling mengerikan.

"Sebentar lagi, nanti mereka akan mengizinkanmu menemuinya," dengan lembut Suster Sakura mengusap-usap Naruto, "dia harus melalui ini Naruto, dan nanti akan banyak kesakitan lagi, tapi ini proses penyembuhan, dia pasti akan sembuh."

Naruto menganggukkan kepalanya, memejamkan matanya, menunggu. Penantian itu terasa begitu lama, lama sekali sampai tim dokter dan perawat keluar dan mengizinkan Naruto masuk,

Dengan hati-hati, Naruto melangkah masuk ke ruangan perawatan Gaara. Ruangan yang sangat akrab, sangat dikenalinya. Tetapi sekarang berbeda, Gaaranya tidak tidur. Gaaranya tidak menutup mata, dia bangun, sadar dan hidup.

Hati Naruto sesak oleh euforia yang membuncah.

Naruto duduk di sebelah ranjang, dan Gaara langsung menyadari kehadirannya, tangannya membuka dan dengan lembut Naruto menyelipkan jemarinya kesana,

"Hai", sapa Naruto lembut. Gaara tersenyum, lalu mengeryit karena gerakan sederhana itu ternyata menyakitinya,

"Sa...kit", gumamnya susah payah.

Naruto tersenyum lembut, sebelah tangannya mengusap dada Gaara yang kurus, berhati-hati agar tidak menyentuh luka di dadanya,

"Mereka sudah melepas selang di tenggorokan dan dadamu",

Gaara mengeryit lagi,

"Berapa lama?", suaranya serak dan terpatah-patah,

"Apanya?"

"Tidur... Berapa lama?"

Naruto mendesah lembut,

"Dua tahun", jawabnya pelan. Dan langsung menerima tatapan penuh kesedihan dari Gaara, "Tapi dua tahun tidak terasa lama kok, yang penting kau bangun, kau berjuang dan aku bangga padamu." sambung Naruto cepat-cepat. Gaara tampak sedikit lega mendengar penjelasan Naruto, tapi lalu dia mengernyit lagi,

"Mama... Papa...?"

Naruto menggenggam tangan Gaara erat-erat,

"Mereka meninggal pada saat kecelakaan itu Gaara."

Dan hati Naruto bagaikan diremas-remas ketika melihat Gaara memejamkan mata dan menangis, dengan lembut diusapnya air mata Gaara, dikecupnya pipi lelaki itu

yang pucat dan tirus,

"Tapi aku yakin mereka sudah tenang disana. Mereka pasti bahagia sekarang, mengetahui kau sudah sadar."

Gaara membuka matanya dan menatap Naruto lembut,

"Maaf."

"Kenapa?" Naruto mengernyit.

"Karena... Kau... Ditinggal..sendiri..."

Air mata ikut mengalir di pipi Naruto,

"Aku tidak apa-apa, lihat? Aku sehat dan baik-baik saja. Aku bertahan untukmu. Dan sekarang kamu yang harus berjuang buat aku ya, kamu harus berjuang untuk pulih lagi, bersamaku."

Gaara mengangguk dan memejamkan mata, percakapan singkat itu membuatnya begitu kelelahan,

Dengan lembut Naruto mengusap rambut merah Gaara,

"Istirahatlah sayang, tidurlah, aku akan ada saat kau terlelap, aku akan ada saat kau bangun lagi."

Dengan lembut Naruto terus mengusap rambut Gaara sampai nafas lelaki itu berubah teratur dan tertidur pulas.

"Dia kuat, dia akan baik-baik saja."

Suara dari arah pintu yang terdengar tiba-tiba itu mengejutkan Naruto, dia menoleh dan mendapati dokter Tsunade sudah berdiri di sana, entah sejak berapa lama.

"Dokter Tsunade?"

Tsunade tersenyum dan melangkah mendekat,

"Yah kau pasti tidak menduga kedatanganku, aku kesini bersama seseorang." Tsunade mengedikkan kepalanya ke arah pintu, Naruto mengikuti arah pandangan Tsunade dan wajahnya memucat melihat Neji berdiri di sana, tidak melangkah masuk, hanya berdiri di ambang pintu dengan ragu-ragu.

"Dia datang untuk minta maaf." jelas Tsunade lembut begitu melihat ekspresi takut Naruto, "dia sudah meminta maaf kepada Sasuke dan Sasuke mengusirnya, menyuruhnya meminta maaf padamu karena kaulah yang dilukainya."

Sasuke. Nama itu melintas di benak Naruto. Sasuke dan pernyataan cintanya. Tiba-tiba dada Naruto terasa penuh, tapi lalu dia mengernyit. Tidak, dia harus membunuh perasaan apapun itu yang muncul untuk Sasuke. Dia harus fokus kepada Gaara,

"Mungkin kita bisa berbicara di luar?" Tsunade berucap setengah berbisik, melirik ke Gaara yang sedang tertidur pulas.

Naruto mengangguk mengikuti dokter Tsunade sampai ke ujung lorong, dengan diam-diam Neji mengikuti mereka.

"Maaf," gumam Neji ketika mereka sudah ada di lorong yang sepi, dia mengeryit sedikit ketika melihat bahwa Naruto menjaga jarak kepadanya, sedikit berlindung di belakang Tsunade, terlihat takut kepadanya.

Neji mengusap rambutnya penuh perasaan bersalah, "aku sendiri tak tahu setan apa yang menghinggapiku saat itu, aku salah paham dan berbuat fatal... Mungkin aku memang pantas menerima luka-luka akibat semua pukulan ini..."

Neji mencoba menatap Naruto selembut mungkin, menunjukkan ketulusannya sebesar mungkin agar Naruto yakin, "kumohon jangan takut kepadaku Naruto, aku minta maaf, aku benar-benar menyesal, aku malu."

Kata-kata itu merasuk ke dalam jiwa Naruto, dia menatap lelaki di depannya ini. Dia memang tidak terlalu akrab dengan pengacara Sasuke ini, mereka berinteraksi hanya kalau perlu dan kebanyakan Neji hanya berinteraksi dengan Sasuke, mengabaikannya. Tetapi sekarang lelaki ini terlihat begitu tulus, tulus dan berantakan, dengan memar di mana-mana meskipun tidak mengurangi ketampannya.

Naruto mencoba menganguk dan memunculkan senyum kecil meskipun dia masih menjaga jarak,

"Iya", jawabnya pelan.

Neji menatap Naruto dalam-dalam, mencari kepastian di mata biru bening itu, dan yang

dilihat di mata Naruto adalah ketulusan,

"Aku dimaafkan?" tanyanya pelan.

Naruto akhirnya tersenyum lepas,

"Iya."

Dengan lembut Neji membalas senyuman Naruto,

"Sekarang aku tahu kenapa hati Sasuke yang keras itu bisa melumer menjadi begitu lembut." gumamnya pelan, membuat pipi Naruto merona.

Dengan lega Tsunade menarik napas panjang,

"Kalau begini masalah sudah selesai," Tsunade menoleh ke arah Neji, "nah Neji bisakah kau ke tempat lain dulu? Aku ingin berbicara berdua dengan Naruto, percakapan dokter dengan keluarga pasien, kau tahu." Neji meringis dengan pengusiran itu, lalu mengangguk,

"Oke, telpon aku kalau kalian sudah selesai." gumamnya dan membalikkan tubuh melangkah pergi setengah diseret mengingat kondisinya yang babak belur setelah dihajar habis-habisan.

Mereka berdua menatap kepergian Neji dan Tsunade tersenyum,

"Dia sangat menyesal kau tahu."

Naruto mengangguk,

"Saya mengerti," lalu Naruto menatap Tsunade dengan penuh ingin tahu,

"Dokter ingin berbicara tentang apa kepada saya?" kecemasan tampak terdengar dari suara Naruto, apakah terjadi sesuatu dengan Gaara?

Tsunade tersenyum mencoba menenangkan Naruto,

"Tenang saja, Gaara akan baik-baik saja. Aku sudah berbicara dengan dokter yang menangani Gaara, dia bilang Gaara bisa kembali pulih meski proses pemulihannya bisa berlangsung lama," dengan lembut Tsunade menggenggam tangan Naruto,

"Naruto apakah dokter sudah memberitahukan kepadamu tentang kemungkinan... Kemungkinan bahwa Gaara bisa lumpuh selamanya?"

Naruto mengangguk, tidak tampak terkejut,

"Pada saat Gaara jatuh koma pun, dokter sudah memberitahukan kemungkinan itu kepada saya, dokter bilang kalau meskipun nanti Gaara sadar, dia bisa lumpuh selamanya."

"Tapi kemungkinannya tidak seratus persen, masih ada harapan 20 persen bahwa Gaara bisa berjalan lagi kalau dia ada di tangan yang tepat..."

"Maksud dokter?", Naruto mengernyitkan keningnya,

"Maksudku, aku merekomendasikan diriku untuk merawat Gaara, kau tahu aku sedang mendalami spesialisasi pemulihan tulang dan saraf, jadi aku bisa merawat Gaara dengan baik... Nanti ketika dia sudah boleh keluar dari rumah sakit, Gaara harus terus menjalani terapi dengan begitu masih ada kemungkinan dia bisa berjalan lagi."

"Apakah... Apakah dokter diminta Sasuke melakukannya?" Naruto menatap dokter Tsunade sedikit curiga. Kebaikan hati perempuan cantik di depannya ini tampak diluar dugaan, apakah Sasuke memaksa dokter Tsunade menawarkan ini kepadanya?

Tsunade mengangkat bahu dan tersenyum lagi,

"Sasuke memintaku memang, tapi bukan itu alasan aku ingin merawat Gaara," Tsunade menepuk pundak Naruto hangat, "Kau tahu almarhum suamiku... Dia meninggal dalam kecelakaan beruntun di jalan tol, kecelakaan yang sama yang menewaskan kedua orang tuamu dan melukai Gaara."

"Astaga", Naruto menutup mulutnya dengan jemarinya, terkejut,

"Yah astaga", Tsunade tersenyum, "dunia ini sempit bukan? Kadang kebetulan-kebetulan yang terjadi sering membuatku bertanya-tanya," tatapan Tsunade berubah serius, "tapi sungguh Naruto, kondisi Gaara ini kupandang sebagai kesempatan kedua, aku tidak bisa merawat suamiku pada saat itu, tapi kurasa Tuhan memberiku kesempatan untuk merawat korban yang selamat dari kecelakaan yang sama, itupun kalau kau mengizinkan."

Naruto menganggukkan kepalanya, terharu,

"Iya dokter, saya akan senang dan lega sekali menyerahkan perawatan Gaara di tangan dokter."

.

.

.

"Tidak enak." Gaara mengernyit, menggelengkan kepalanya, menghindari sendok berisi bubur sayuran yang disuapkan Naruto kepadanya.

Hari ini adalah tiga minggu sejak Gaara tersadar dari komanyaa, kondisinya sudah mulai membaik, dia sudah bisa duduk, sudah bisa mengucapkan lebih dari satu kalimat, dan alat-alat penunjang kehidupannya sudah mulai dilepas satu persatu, dokter sendiri memuji perkembangan Gaara yang luar biasa pesat, tekad lelaki itu kuat, maka ketika dia berniat untuk sembuh dia akan merasakannya sepenuh

hati.

"Kau harus memakannya," gumam Naruto sedikit geli dengan kemanjaan Gaara yang seperti anak-anak "ini menyehatkanmu."

"Rasanya seperti muntahan." Gumam Gaara, tapi akhirnya menurut membuka mulutnya, menerima suapan Naruto lalu mengernyit ketika menelan.

Ekspresinya membuat Naruto tergelak, tapi kemudian Gaara meraih tangan Naruto yang tidak memegang sendok, ekspresinya berubah serius,

"Naruto, tak terbayangkan rasa terimakasihku padamu...aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan cintaku, aku... Para dokter dan perawat menceritakan perjuanganmu untukku..."

"Stttt," Naruto meletakkan sendoknya dan menyentuhkan jemarinya di bibir Gaara,

"Perjuangannya sepadan, kau akhirnya bangun kan?"

"Tapi..." ekspresi kesedihan menghantam Gaara, "aku... Aku mungkin tidak akan bisa berjalan lagi. Aku mungkin lumpuh selamanya, aku hanya akan menjadi bebanmu..."

"Gaara," Naruto menyela sedikit marah, "kau tidak boleh memvonis dirimu sendiri, kesembuhanmu yang luar biasa ini juga diluar prediksi dokter bukan? Kita pasti bisa kalau kita berjuang dengan tekad dan keyakinan kuat bersama-sama, meskipun begitu...", Suara Naruto berubah sendu, "meskipun pada akhirnya kau lumpuh selamanya pun, aku akan tetap bahagia bersamamu... Kau tahu selama ini aku selalu berdoa apa? Aku berdoa yang penting kau sadar, aku tidak peduli yang lain, Tuhan sudah mengabulkan doaku Gaara... Tidakkah itu cukup?"

Mata Gaara tampak berkaca-kaca.

"Kau tidak tahu betapa aku mencintaimu..."

Suara di pintu itu mengalihkan perhatian mereka, Naruto dan Gaara menoleh bersamaan, lalu Naruto tersenyum, Dokter Tsunade ada di sana, dalam kunjungannya yang biasa, sekarang bahkan dokter Tsunade sudah mulai akrab dan berteman dengan Gaara.

Tapi senyuman Naruto langsung membeku ketika menyadari siapa yang mengikuti di belakang dokter Tsunade, itu Sasuke!

Sasuke yang sama. Sasuke yang tampan dengan penampilan bak adonis, dengan ekspresi yang dingin dan tidak terbaca. Naruto tidak pernah berhubungan dengan Sasuke lagi sejak Gaara sadarkan dari komanya, Sasuke selalu memaksakan maksudnya dengan perantaraan dokter Tsunade, seperti ketika Sasuke memaksakan untuk menanggung biaya rumah sakit Gaara dan ketika Sasuke memaksakan Naruto setuju - lewat bujukan dokter Tsunade – agar Naruto dan Gaara pulang ke apartemen yang dibelikannya ketika Gaara sudah boleh pulang dari rumah sakit nanti.

Sekarang lelaki itu berdiri di depannya, ekspresinya tak terselami dan sedikit muram, membuat Naruto bertanya-tanya, apakah Sasuke mendengarkan percakapannya dengan Gaara tadi. Apakah Sasuke tidak senang mendengarnya,

"Dokter Tsunade," Gaara menyapa ramah ketika Naruto hanya diam saja, lalu menatap ingin tahu ke arah lelaki tampan yang sepertinya hanya menatap terfokus kepada Naruto,

"Halo Gaara, aku datang untuk mengecek keadaanmu. Dua hari lagi kau sudah boleh pulang kalau kondisimu sebaik ini terus," Tsunade menyadari Gaara menatap ke arah Sasuke, lalu menyikut pinggang Sasuke untuk menarik perhatian Sasuke yang terarah lurus kepada Naruto, "Dan ini Sasuke, dia eh bosku dan bos Naruto juga."

Sasuke menolehkan kepalanya pelan-pelan, lalu menatap ke arah Gaara, menelusurinya dengan tajam dan meneliti.

Inikah laki-laki yang dicintai Naruto sampai rela mengorbankan segalanya? Tiba-tiba pikiran jahat melintas di benaknya, apa yang akan diperbuat Gaara jika tiba-tiba dia mengungkapkan bahwa Naruto sudah menjual keperawsakurannya kepadanya? Bahwa dia sudah berkali-kali meniduri tunangannya yang katanya dicintainya tadi?

"Sasuke." Tsunade bergumam ketika Sasuke hanya menatap dan tidak bersuara,

Sasuke lalu mendekat dan mengulurkan tangannya kepada Gaara,

"Salam kenal, saya adalah... Atasan Naruto di tempat kerjanya... Kebetulan kami eh cukup ... akrab." sedikit senyum muncul di bibir Sasuke ketika menyadari Naruto dan Tsunade tampak begitu cemas dengan kata-kata yang mungkin muncul dari bibirnya, Gaara menerima jabatan tangan Sasuke dan tersenyum tulus,

"Terimakasih." meskipun Gaara sedikit bertanya-tanya kenapa tatapan Sasuke seolah-olah ingin membunuhnya.

"Saya senang kondisi anda semakin membaik." gumam Sasuke tenang, tapi terdengar seolah-olah mengatakan, 'kenapa kau tak mati saja biar semua jadi mudah?'

Naruto mengernyit mendengar nada suara Sasuke itu, lelaki itu sama sekali tidak mencoba membuat suasana menjadi lebih mudah malah seolah-olah menantang Naruto untuk mengakui sesuatu ? mengakui apa? apakah Sasuke ingin agar Naruto mengakui segalanya di depan Gaara? Mengakui bahwa dia sudah menjual tubuhnya demi membiayai biaya operasi Gaara?

Naruto akan mengakuinya, itu pasti, dia tidak mungkin membohongi Gaara. Gaara mungkin akan marah dan sedih, sedih karena Naruto terpaksa melakukan semua itu demi dirinya. Lalu mungkin Gaara akan menyalahkan dirinya sendiri. Oh, lelaki itu tidak akan meninggalkan dirinya karena sudah tidur dengan Sasuke. Naruto begitu mengenal Gaara hingga yakin akan hal itu, dia lelaki berpkiran terbuka, tetapi yang Naruto takuti adalah Gaara akan semakin menyalahkan dirinya, sendiri, menyalahkan kondisinya yang tidak berdaya yang membuat Naruto harus berjuang sendirian demi dirinya, dan Naruto tidak mau Gaara mengalami itu semua, tidak di saat kondisi Gaara masih begitu rapuh dan ada di dalam proses pemulihan. Nanti, Naruto pasti akan mengakui semuanya, tetapi tidak sekarang.

Karena itu dia langsung memelototi Sasuke mengingatkan, memastikan Sasuke melihat isyarat dalam matanya, dan menggeram dalam hati ketika Sasuke malahan tersenyum meremehkan.

"Mr. Sasuke ini adalah atasanku di tempat lamaku bekerja." jelas Naruto cepat begitu melihat kebingungan di mata Gaara.

"Tempatmu sekarang bekerja Naruto, kamu masih bekerja di ssakura." sela Sasuke tajam.

Naruto ternganga mendengar bantahan Sasuke itu, kehabisan kata-kata, sementara lelaki itu tersenyum datar pada Gaara,

"Kami sempat mengalami sedikit kesalahpahaman. Saya menuduh Naruto melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak dia lakukan, Tetapi saya sekarang sudah menyadari kesalahan saya," Sasuke menatap Naruto penuh arti, "dan dengan rendah hati, saya meminta Naruto kembali kepada saya". kata-kata itu diucapkan dengan datar dan santai, tapi entah kenapa arti yang tersirat di dalamnya membuat pipi Naruto merona.

Tsunade langsung berdehem memecah kecanggungan,

"Bagus, kita akhirnya menyelesaikan segala kesalahpahaman," gumamnya ceria,

"Nah sekarang aku ingin memeriksa kondisimu Gaara."

"Saya tidak pernah merasa lebih baik dokter." Gaara tersenyum, perhatiannya teralih dari Sasuke dan Naruto.

"Dan akan lebih baik lagi, aku yakin mengingat pesatnya kondisimu," Tsunade tersenyum, lalu menatap Naruto dan Sasuke, "Kalian bisa keluar sebentar? Aku ingin memeriksa kondisi Gaara."

Dan dalam diam Sasuke dan Naruto melangkah keluar ruangan. Mereka masih berdiri diam di lorong ruang perawatan.

"Well dia tampak sehat." gumam Sasuke kemudian, menyandarkan tubuhnya di tembok dan menatap Naruto tajam,

Naruto menganggukkan kepalanya.

"Dia tidak akan bisa berjalan lagi kan?" sambung Sasuke jahat.

Naruto membelalakkan matanya mendegar kekejaman dalam suara Sasuke,

"Sasuke! Jahat sekali kau!", mata Naruto tampak berkaca-kaca, "Dokter Tsunade bilang masih ada kesempatan bagi Gaara untuk sembuh, dan aku percaya dia akan sembuh."

"Sampai berapa lama lagi Naruto? kau harus menunggu dalam waktu yang tak pasti lagi, Kenapa mencintai seseorang harus penuh pengorbsakuran seperti itu?"

Sasuke mendeses kesal, "Dan kata Tsunade dia juga mungkin tidak bisa berfungsi sebagai laki-laki normal..."

"Sasuke!" Naruto setengah berteriak, menghentikan kata-kata Sasuke, pipinya memerah mendengar ucapan Sasuke yang begitu vulgar.

Sasuke mengangkat bahunya tanpa rasa bersalah,

"Aku cuma mengungkapkan apa yang dikatakan Tsunade kepadaku," tiba-tiba dia mendekat dan merengkuh pundah Naruto, "Bagaimana Naruto? Bagaimana jika dia tidak dapat berfungsi sebagai lelaki normal? padahal aku tahu...", mata Sasuke menyala-nyala, "aku tahu betapa kau pria kecil yang penuh gairah, betapa kau menyambut setiap sentuhanku dengan gairah yang sama, betapa kau menyukainya... Bagaimana kau nanti bisa tahan tidak merasakan itu semua...tidak disentuh.. tidak di..."

"Hentikan!" Kali ini Naruto benar-benar berteriak, matanya berkaca-kaca. Membuat Sasuke terdiam dan tidak melanjutkan kata-katanya. Naruto tampak begitu rapuh sekaligus begitu kuat dengan wajah pucat pasi dan mata berkacakaca seperti itu, membuat Sasuke ingin melumatnya...

"Kau terlalu picik kalau selalu memandang sebuah kasih sayang hanya dari kemampuan melakukan hubungan fisik," desis Naruto tajam,

"aku mencintai Gaara, aku hanya butuh kehadirannya di sampingku, itu saja... Kalaupun.. kalaupun dia nantinya tidak bisa memelukku dengan bergairah, aku tidak peduli, yang penting dia hidup dan ada di sisiku, aku tidak butuh yang lain lagi..."

"Tidak butuh yang lain lagi?" Kata-kata Naruto yang penuh cinta kepada Gaara itu menyulut kemarahan Sasuke, dengan kasar direngggutnya Naruto ke dalam pelukannya, "Kalau begitu bagaimana dengan yang ini?!"

Dengan tanpa diduga-duga, Sasuke mencium bibir Naruto, pertama kasar, meluapkan kemarahannya dissakura, melumat bibir Naruto dengan menyakitkan seolah ingin menghukumnya. Oh! betapa dia ingin menghukum pemuda ini karena menyakitinya! Oh berapa dia merindukan pemuda ini! Ciumannya melembut ketika merasakan bibir yang sangat dirindukannya, yang sudah lama tidak disentuhnya, yang sudah lama tidak

dirasakannya. Kerinduannya meluap, dipeluknya tubuh Naruto erat-erat, dilumatnya bibirnya dengan seluruh gairahnya, dipujanya bibir itu.

Naruto yang tidak menyangka akan dicium dengan seintens itu semula hanya terpaku, lalu dia memejamkan matanya, aroma Sasuke, kemaskulinannya menyeruak di dalam dirinya. Membangkitkan kenangan lama akan kedekatan mereka, dan secara alami, Naruto membalas pelukan dan lumatan Sasuke. Entah berapa lama mereka berciuman sampai kemudian Sasuke melepaskan tautan bibir mereka, terengah-engah.

Dengan lembut Sasuke menunduk, masih berpelukan, dahinya menyatu dengan dahi Naruto, napas mereka yang panas menyatu, bibir mereka masih berdekatan.

Kemarahan Sasuke mereda seketika oleh ciuman itu, kini dadanya dipenuhi oleh perasaan lembut yang menyesakkan dada,

"Jangan bilang kau tidak merindukan sentuhanku." bisik Sasuke lembut, Naruto memejamkan mata berusaha menggeleng,

"Aku tidak merindukannya." erangnya mencoba melawan, Sasuke menundukkan kepalanya, menghujani telinga dan leher Naruto dengan ciuman-ciuman lembut seringan bulu, membuat tubuh Naruto gemetaran,

"Teruslah berbohong? bisik Sasuke di telinga Naruto, "Tapi tubuhmu tidak bisa membohongiku, tubuhmu merindukanku Naruto, dan aku merindukanmu." Bisik Sasuke di sela-sela kecupannya.

Naruto mengerang, mencoba melawan kebenaran yang menyiksanya. Dia merindukan Sasuke, dia memang merindukan lelaki itu. Sering di malam-malam dia berbaring di sendirian di sofa rumah sakit, menunggui Gaara. Dia merindukan Sasuke, merindukan pelukannya yang melingkari perutnya dengan posesif, merindukan lengannya yang selalu menjadi bantal tidurnya, merindukan desah napas teratur Sasuke di telinganya ketika tertidur pulas. Tapi Naruto menahannya, mencoba mengenyahkannya. Perasaan itu tidak boleh ditumbuhkan. Dia sudah mempunyai Gaara, Gaaranya, tunangannya. Kekasih yang dicintainya. Kekasih yang ditunggunya tanpa putus asa selama dua tahun.

Kekasih yang sekarang sedang berjuang untuk pulih kembali demi dirinya.

Air mata mengalir deras di pipi Naruto, ia menarik diri dan menatap Sasuke. Kata-kata Sasuke tadi berputar dalam benaknya, mencoba menyulut emosinya.

"Tidak," tamparan telak jatuh di pipi Sasuke. Perasaan hangat yang menyelimuti Sasuke seketika sirna. "Aku memang memerindukanmu, tapi tidak untuk saat ini. Kau seolah-olah berusaha membuat Gaara terpancing dengan semua omonganmu Sasuke," nafas Naruto terengah karena emosinya.

"Aku bukan lagi pemuda tiga ratus juta yang pernah kau beli. Bukankah kau yang memberikanku kebebasan kemarin? Dan sekarang kau memperlakukanku dengan tidak sopan, kembali memperlakukanku seperti jalang yang pernah kau perkosa," Sasuke seperti tersedak lidahnya sendiri. Ia menatap Naruto dengan keadaan bingung.

"Aku memang mencintaimu Sasuke, tapi hidupku telah kulimpahkan untuk Gaara. Dan aku, mencoba memaafkanmu bukan berarti telah memaafkanmu. Sekarang selamat sore tuan Sasuke," Naruto pergi meninggalkan Sasuke yang terpaku. Begitu cepat, begitu pedas, dan begitu panas semuanya menjadi satu memenuhi Sasuke.

Ia hanya menatap kepergiaan Naruto dengan perasaan penuh penyesalan.

Untuk yang kedua kalinya.

.

.

.

To be continued~

.

.

2 chapter lagi dan akhirnya ending. Wooo~~ semakin rada beda dari cerita awalnya -_- oke maaf.

Keterlambatan update disebabkan mrs word di rumah sedang rusak, jadi cuman bisa plonga-plongo doang di depan laptop. Dan baru bisa keluar hari ini buat numpang ngetik di warnet, jadi aduh, jtk jadi sungkan buat minta maaf terus. Nelaaat banget kan? Sebenernya mau di up pas abis olimpiade kemarin, tapi berhubung lagi rusak, dan kecanduan COC (dan game lainnya) jadinya yah begini. Ditambah lagi kesibukan dan tugas yang ewh -_- I don't have enough rest -_- dan begitu banyak bashers dan flamer yang bikin jtk rada males nulis. Keamrin ada yang bilang kalo ini fanfic plagiat, kan udah aku jelasin ini remake-an. Terus semua fanfic aku dikata plagiat. Salah satu faktor juga kenapa aku beralih profesi jadi gamers.

Aku secara pribadi beneran minta maaf karena buat kalian menunggu, 2 chap depan uda aku cicil, sebelum april smeoga uda bisa post^^ aku mau aktif nulis lagi setelah ini, setelah semua kesibukanku kelar.

Makasih buat review kalian kemarin, aduh terharu banget sampe ada yang nyempatin pm segala, aku beneran terharu. Makasih banyak kalian yang ga sempat aku sebutin satu persatu, yang ngasih semangat aku. Makasih banget.

.

Akhir kata, mind to review again? Terima kasih~