Devil
.
.
.
Main Cast : Park Chanyeol & Byun Baekhyun
Rate : M
Genre : Romance, Hurt
It's Genderswitch
Don't Like, Don't Read
Note : FF ini terinspirasi dari novel-novelnya Santhy Agatha
.
.
.
Happy Reading
.
.
.
Chanyeol duduk di kursi belakang dengan tubuh Baekhyun yang bersandar padanya. Ia seperti tak ingin sedikitpun kehilangan moment bersama gadis itu. Tangannya yang kokoh dengan lembut mengelus lengan Baekhyun yang terbuka. Sedangkan tangan Chanyeol yang satu lagi sibuk dengan telepon genggamnya, ia sibuk berbicara dengan seseorang disebrang.
Gadis itu, Baekhyun, hanya memakai blouse tanpa lengan berwarna putih yang memperlihatkan belahan dadanya membuat sebagian payudaranya terpampang dengan jelas, dan Baekhyun juga hanya menggunakan rok mini berwarna soft pink, membuat siapa saja pasti tergoda oleh keelokan tubuhnya.
"Siapkan secepatnya" ujar Chanyeol mengakhiri percakapan mereka ditelepon, lalu memasukan handphonenya ke dalam saku.
Pandangan Chanyeol tak pernah lepas dari wajah Baekhyun yang terlelap, betapa Chanyeol menganggumi gadis yang ada dalam dekapannya sekarang. Gadis yang telah Chanyeol kagumi sejak lama. Chanyeol tersenyum mengingat bagaimana usahanya untuk mendapatkan gadis ini, sedikit kejam dan licik mungkin. Tapi apapun akan Chanyeol lakukan untuk mendapatkan Baekhyun. Dan akhirnya sekarang Baekhyun benar–benar jatuh ke dalam pelukannya. Baekhyun kini telah menjadi miliknya, Baekhyun adalah takdirnya.
"Kau benar–benar tidur nyenyak, hhmm? Apa kau kedinginan? tenanglah aku akan menghangatkanmu malam ini." monolog Chanyeol yang kemudian mengecup pucuk kepala Baekhyun dengan sayang. Chanyeol terus berbicara dengan Baekhyun seolah–olah gadis tersebut bisa mendengar apa saja yang dia katakan.
Mobil sport warna silver tersebut terparkir disebuah rumah mewah dengan nuansa putih. Dengan hati–hati Chanyeol membawa Baekhyun ke lantai dua rumah tersebut, ke sebuah kamar yang sudah Chanyeol persiapkan untuk Baekhyun. Nuansa kamar tersebut tak jauh berbeda dengan rumah tersebut yang di dominasi oleh nuansa putih dengan jendela besar yang menghadap langsung ke halaman belakang rumah tersebut.
Dengan hati–hati Chanyeol menempatkan tubuh Baekhyun di ranjang king size tersebut. Untuk sesaat Chanyeol tertegun menatap Baekhyun, sorot matanya menggambarkan jika Chanyeol ingin menyentuh dan memasuki tubuh itu sekarang juga. Namun pada akhirnya Chanyeol hanya bisa menahan diri untuk tidak melakukannya sekarang. Pada akhirnya lelaki itu hanya mengecup bibir Baekhyun dengan lembut. Dengan cekatan dan hati-hati Chanyeol mulai melepaskan pakaian yang melekat pada tubuh Baekhyun. Kini di tubuh Baekhyun hanya melekat pakaian dalam karena chanyeol memang sengaja untuk tidak melepasnya terlebih dulu.
"Kau milikku dan tubuh ini juga milikku." ucap Chanyeol yang kini telah memposisikan diri untuk tidur disamping Baekhyun.
Jemari Chanyeol kembali mengusap lembut tubuh Baekhyun, kulit Baekhyun benar–benar lembut, Chanyeol menyukainya. Entah untuk yang keberapa kali Chanyeol kembali memandangi Baekhyun. Chanyeol seakan tak pernah bosan untuk memandangi gadis itu. Dengan lembut chanyeol merapihkan rambut baekhyun, lalu menyelipkannya kebelakang telinga gadis tersebut dan diakhiri dengan mengecup ujung hidung Baekhyun.
Dengan leluasa Chanyeol mulai bermain–main dengan tubuh Baekhyun, ia yakin Baekhyun tidak akan menyadarinya, mengingat obat tidur yang ia berikan lumayan cukup tinggi dosisnya. Bahkan Baekhyun benar–benar tidak bergeming dari mencumbu payudara milik Baekhyun lalu turun mengelus paha putih milik Baekhyun. dengan perlahan Chanyeol mulai melepaskan pakaian dalam milik gadis itu, sehingga kini Baekhyun telanjang bulat tanpa sehelai kainpun di tubuhnya. Dengan tenang Chanyeol mulai melepaskan kemeja yang yang masih melekat ditubuhnyat dan membuat Chanyeol kini hanya bertelanjang dada. Ia kemudian memeluk tubuh mungil Baekhyun.
Ia sengaja tidur dengan bertelanjang dada dan hanya memakai boxer, tak bisa dipungkiri sesuatu dibalik celananya sudah mengeras, mati–matian Chanyeol menahan hasratnya, walaupun miliknya sudah minta untuk dipuaskan. Ia tak ingin bercinta dengan kondisi Baekhyun yang tidak sadar seperti ini, ia akan melakukannya nanti dengan kondisi Baekhyun yang sudah sadar pastinya.
"Aku akan menghangatkanmu malam ini, besok akan menjadi hari yang indah." katanya sebelum akhirnya ia terlelap dengan Baekhyun dalam pelukannya.
.
.
.
Seorang pria tinggi dengan kulit putih yang tidak terlalu pucat menunggu disebuah halte yang tak jauh dari sebuah diskotik dimana tempat Baekhyun bekerja. Dia adalah Jae Hyun, dia adalah teman Baekhyun. Bukan, dia adalah teman dekat Baekhyun, hanya sebatas teman dekat tidak lebih karena tidak pernah ada ungkapan cinta diantara keduanya. Jam sudah menunjukan pukul tiga pagi sudah saatnya Baekhyun pulang dan menemuinya disini seperti hari–hari biasanya.
Cuaca dingin semakin menusuk, berkali–kali Jae hyun melirik jam tangannya. Waktu sudah menunjukan pukul empat kurang sepuluh dini hari, berarti sudah hampir satu jam Jae Hyun menunggu di halte ini. Namun gadis mungil tersebut tidak juga menampakkan batang hidungnya juga. Berkali–kali dia mencoba menelepon Baekhyun tapi hasilnya tetap sama, nihil. Tak ada jawaban karena handphone Baekhyun tidak aktif.
Kemana dia? gumam Jae Hyun dalam hati. Ia mulai merasa khawatir dan mencemaskanny,. namun perasaan tersebut ia buang jauh–jauh. Ia mencoba berpikir positif.
Apakah aku harus menyusul ke tempat dia bekerja ? gumamnya lagi, namun kali ini dia menggelengkan kepalanya. "Tidak, jangan. Itu ide buruk bos nya pasti akan marah dan Baekhyun tidak akan menyukainya."
Jae hyun ingat beberapa waktu yang lalu ketika ia mengantar dan menjemput Baekhyun ke tempat kerjanya. Entah bagaimana bos Baekhyun bisa tahu jika Baekhyun diantar olehnya. Tanpa diduga beberapa pengawal langsung memukulinya. Sebenarnya Baekhyun sudah memperingati Jae Hyun untuk tidak melakukan hal itu semua.
Baekhyun mengatakan padanya bahwa bos tempat dia bekerja tidak menyukai jika Baekhyun diantar dan dijemput oleh seorang pria. Tapi Jae Hyun tetap saja keras kepala untuk mengantar dan menjemputnya. Dan ternyata benar apa yang Baekhyun katakan, malam itu Jae Hyun dipukuli hingga babak belur dan membuat Baekhyun dimarahi habis–habisan oleh bosnya.
Sejak saat itu Jae Hyun tidak pernah lagi mengantar dan menjemput Baekhyun, bukan karena dia takut hanya saja ia tidak ingin membuat baekhyun kembali terlibat masalah dengan bosnya. Ia ingat setelah kejadian tersebut, Baekhyun marah besar padanya. Jae Hyun tidak tahu pasti alasan bos Baekhyun bersikap seperti itu, namun yang dia dengar bahwa Baekhyun adalah asetnya yang paling berharga dan dia adalah primadona tamu–tamu penting bosnya. Entalah Jae Hyun tidak ingin terlalu memikirkannya.
Sudah satu jam lebih tapi Baekhyun tak juga kunjung datang, sudah pasti Jae Hyun cemas. Jae hyun beranjak dari halte tersebut, ia memutuskan untuk pulang kerumahnya. Lagipula ia cukup lelah hari ini karena bekerja lembur. Mungkin saja Baekhyun sudah kembali pulang ke apartemen kecilnya dan berisitirahat. Ya, mungkin saja. Jae Hyun akan memastikannya besok, ia akan mengunjungi Baekhyun ke apartemennya nanti, sekarang yang perlu ia lakukan adalah ke rumahnya dan beristirahat.
.
.
.
Baekhyun terbangun karena hawa dingin yang menyergapnya. Dengan mata setengah tertutup karena kantuk, ia mendudukan dirinya berusaha menaikan selimut untuk menutupi tubuhnya dari hawa dingin. Ia menunduk untuk menaikan selimutnya, namun gerakannya terhenti ketika ia menyadari bahwa tubuhnya kini telanjang bulat.
"Selamat pagi." Chanyeol menyapa lembut Baekhyun yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya.
Baekhyun tersentak, ia cukup kaget dan panik ketika menyadari seseorang yang kini tidur disebelahnya. Astaga mimpi apa dia semalam, hingga berakhir tidur di ranjang bersama seorang pria.
Apa yang terjadi semalam?
Ia mencoba mengingat apa yang terjadi tadi malam, namun kepalanya masih terasa pening, Baekhyun tak mampu mengingatnya. Jujur saja walaupun selama ini ia bekerja di klub malam, belum pernah sekalipun ia tidur di ranjang bersama seorang pria. Ia hanya melayani tamu–tamu tersebut untuk menuangkan bir, melayani, menggoda dan merayu para tamu tersebut untuk terus menambah minumannya. Baekhyun masih menjaga keperawananannya dengan baik selama ini. Apakah laki–laki ini telah mengambil keperawanannya?
"A…ap…apa yang terjadi?" Baekhyun beringsut mundur dan menjauh dari Chanyeol, hingga ia terhenti karena badannya menyentuh ujung ranjang tersebut.
"Tenanglah, kau hanya menemaniku tidur tak ada yang terjadi tadi malam." dengan tenang Chanyeol menjawab pertanyaan Baekhyun. Matanya menatap lurus hazel Baekhyun yang berwarna kecokelatan, ada ketakutan dan rasa panik yang terpancar dimata gadis mungil tersebut.
Benarkah pria ini tidak melakukan apapun? Jika tidak mengapa ia bertelanjang bulat ketika bangun? apa artinya ini?
Dengan cepat baekhyun segera memungut pakaiannya untuk memakainya kembali.
"Apa yang kau lakukan? kita akan sarapan."
"Aku ha…harus pulang." ucap Baekhyun yang tengah kembali memakai bajunya.
"Kau tak bisa pulang, sekarang kau milikku dan rumah ini adalah rumahmu." nada suara Chanyeol meninggi, tidak selembut tadi ketika ia menyapanya dengan hangat saat membuka mata. Ada penekanan dalam kata–kata Chanyeol.
"Apa?" Baekhyun tak percaya atas apa yang baru saja lelaki ini katakan.
Apa yang akan laki – laki ini lakukan padanya? tanyanya dalam hati.
.
.
.
TBC or End?
.
.
.
Okee …review yang banyak klo mau lanjut+ada adegan NC nya. Aku sudah menyiapkan semuanya…hehehe…*nyengir*. Makasih yang sebanyak–banyaknya buat yang udah review, fav dan follow di chap kemarin.
So review juseyo~
Saranghae~ Ppyong~
