Haloha~~~

Olla mohon maaf karena lama update. Padahal masih author baru. -_- Lw olla jelaskan alasannya, bisa sampe 2k sendiri. Jadi mohon pengertiannya aja. Olla akan tetap lanjut, tapi gx janji cepat. Ok. Terimakasih~

***MY BABY***

Disc : Naruto punya Masashi Kishimoto

Pair : SasufemNaru and Sailno

Genre: Romance, drama, friendship, hurt&comfort

Rated : T

Warning : OOC, EYD masih belajar, FemNaru, TYPO(s), abal-abal gaje dll

Tak Suka? Tekan Back.

~~~~ Enjoy~~~~

Surai pirang Naruto tergerai menutupi wajahnya karena menunduk. Kakinya yang berbalut sepatu memainkan tanah asal. Saat ini ia sedang duduk dikursi taman belakang sekolah. Menunggu lno menyelesaikan urusannya dengan Uchiha Sasuke.

Mengingat sudah berapa lama lno memuja Sasuke, membuat Naruto tidak bisa berbuat banyak. lno berencana untuk mengungkapkan perasaannya pada Sasuke. Mungkin Sai akan patah hati setelah ini. Ada kemungkinan Sasuke akan menerima lno. Yah, karena semenjak tour 2minggu yang lalu mereka berempat semakin sering bersama.

Naruto merengut, ia menopang wajahnya dengan kedua tangannya.

'Kasihan Sai yang bertepuk sebelah tangan.' batinnya.

Naruto sedang asik melamun akan nasip sahabatnya, Sai. Fikirannya melayang jauh entah kemana, sampai tidak menyadari kalau ada seseorang yang sedang mengendap-endap mendekatinya.

"BAA...!"

"HUAAA"

Bruuk!

lno tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengagetkan sahabatnya. Sedangkan Naruto mengaduh sakit sambil mengelus bokongnya yang mencium tanah.

"lno! Tega sekali kau!" Marah Naruto namun lno masih saja tertawa. Naruto cemberut. la memajukan bibirnya dan mengembungkan pipinya namun lno masih saja tertawa walau sudah ditahan dengan kedua tangannya.

"ppfft, ma-af maaf... habis kau sangat lucu tadi." ucap lno, ia mulai membantu Naruto untuk berdiri.

"Teman jatuh kok lucu! huh." ambek Naruto mulai berdiri. lno hanya nyengir disampingnya.

" Oh ya, bagaimana hasilnya?" tanya Naruto. lno mengedikkan bahu dan menjawab. "Kau pasti bisa menebaknya."

"Benarkah?"

"hu'um."

Naruto melongo, lno terlihat baik-baik saja. Tidak seperti gadis-gadis yang sedang patah hati karena cintanya di tolak. Berarti ia diterima? Memikirkan hal itu Naruto malah meringis sendiri. Ia sedih karena Sai akan patah hati setelah ini. Tapi anehnya ia juga sedih untuk alasan yang ia sendiri tidak tahu kenapa.

"Bodoh." Gumam Naruto menunduk. Aura disekitarnya menjadi buram. lno yang melihat sahabatnya murung segera menepuk punggungnya pelan.

"Sudahlah... aku baik-baik saja." ucap lno seperti salah mengerti. Namun Naruto terlalu terlarut dalam fikirannya sehingga tidak mendengar perkataan lno.

"Ah, ayo segera pulang... nanti kita kesorean!" Ucap lno ceria mencoba mencairkan suasana. la segera menarik Naruto untuk pulang dan Naruto hanya ikut pasrah.

.

.

.

Sudah kesekian kalinya Naruto berguling mengubah posisi tidurnya. Sebuah smartphone ia mainkan dengan jarinya. Jam didinding sudah menunjukkan pukul 10 malam, tapi tak diubris sama sekali.

Naruto masih asik mengetik balasan email. Sampai ia tersentak menyadari sesuatu. Masih pantaskah ia bercanda dengan Sasuke seperti ini? Saling bertanya kabar, bercanda dan saling mengejek? Hal itu memang sering mereka lakukan sejak dua minggu lalu. Tapi... mengingat bahwa Sasuke adalah kekasih lno membuatnya merasa-menjadi-pengganggu?

Mungkin Sasuke dan lno juga sedang chating. Naruto meringis sendiri. Sekarang siapa yang patah hati?

Tidak mau terlarut kedalam emosinya yang tiba-tiba membuncah, gadis itu memilih menaruh smartphonenya di meja belajar didalam kamarnya. la segera kembali naik ke kasur empuk miliknya, memeluk bantal rubah ekor sembilan dan segera terlelap.

.

.

.

Di kediaman Uchiha

Sasuke menatap layar smartphonenya penuh minat. Ia sedang duduk di ruang tengah sambil menonton tv. Namun sepertinya televisi lebar yang sedang menampilkan flim perang itu tidak lebih menarik dari layar smartphone miliknya.

" Belum tidur otou-chan." Sasuke sedikit tersentak akan kehadiran kakaknya.

"Hn." Uchiha Itachi-kakak Sasuke hanya berusaha maklum dengan jawaban absurd adiknya. Pemuda yang hampir mirip dengan Sasuke itu memilih duduk di sofa sebelah Sasuke dengan segelas susu hangat di gengamannya.

Hening diantara mereka. Hanya suara berisik Televisi yang mendominasi.

"Menunggu balasan dari kekasih huh." Itachi mendengus geli.

Sasuke menatap kakaknya. 'Kekasih?' seandainya saja. ltachi yang tidak menerima balasan, melirik Sasuke.

"Tidurlah, mungkin dia juga sudah tidur." Katanya.

"Tapi biasanya dia pamit dulu." Gumam Sasuke namun masih bisa didengar ltachi. Pemuda yang beda umur lima tahun dengan Sasuke itu mendekat ke adiknya.

"lihatlah, sudah hampir setengah sebelas. Mungkin dia tertidur dengan handphone masih melekat di tangannya." ltachi tertawa mengatakannya. Sasuke mendengus, ia merasa kakaknya sedang menyindirnya.

"Baka Nii-san." Ucapnya sebelum beranjak pergi.

"Selamat malam otou-chan... Jangan lupa cuci kaki dan gosok gigi sebelum tidur ne." Perkataan ltachi sukses mendapat salam penuh cinta dari sebelah sendal Sasuke. Ia hanya tertawa menanggapi adiknya.

"haah... adikku sudah besar rupanya." ucapnya santai menyeruput susunya, seakan ia lupa jika Sasuke sudah berumur 17tahun.

.

.

.

Naruto keluar dari mobil yang mengantarnya, ia berusaha membalas setiap sapaan teman yang dilewatinya. Kakinya berjalan menuju loker untuk menaruh sebagian barang bawaannya.

Saat Naruto menutup loker miliknya, ia mendengar suara keributan di seberang. Penasaran, ia mencoba melihat apa yang terjadi.

Betapa kaget Naruto saat melihat lno yang basah kuyub dan berlumuran tepung juga pecahan telur. Para siswa dan siswi yang mengerubuni malah menertawainya.

"Gadis payah!"

"Tidak tau diri!"

"Lancang sekali kau menembak Prince ice."

"Untung saja dia ditolak! Ha ha ha."

Dan berbagai kata hinaan dan ejekan lainnya dilontarkan pada sahabatnya. Naruto segera berlari kearah lno. Memasang badan untuk melindungi lno.

" Fans gila brengsek!" Geramnya. Cukup dengan mendengar kata-kata tadi ia sudah bisa menyimpulkan. Mata indahnya mendelik tajam mengeluarkan aura menyeramkan. lno pun sedikit kaget akan kehadiran Naruto.

"Na-naru..."

Mereka semua terdiam. Sampai seorang siswi cantik dengan berani mengeluarkan suara.

"Ta-pi Naruto... Dia berani menembak Uchiha-san!"

Naruto berdecak, ia terlihat semakin geram. "Dasar kalian semua gila!" Makinya. Tidak ada yang berani membalas. Mereka masih segan dengan Naruto yang notabene adalah cucu kepala sekolah. lno mencoba menenangkan Naruto yang mengamuk. Sedari tadi ia menarik lengan Naruto untuk pergi. Tapi tidak dipedulikan.

"Apa salahnya mengungkapkan perasaan pada orang yang disukai!?" Teriaknya.

"Kalian sendiripun pasti pernah melakukannya bukan! Ck, Fanatik girls!"

Entah siapa yang memulai. Tapi setelah Naruto berkata panjang lebar, seseorang melempar tepung ke arah mereka berdua. Suasana pun ribut kembali. Teriakan huuu, dan gumaman lainnya dilontarkan pada lno dan Naruto. lno segera menarik Naruto untuk menjauh dari kerumunan.

.

.

" Dasar gila! Sinting!" Teriak Naruto untuk kesekian kali. lno mendesah lelah, beginilah Naruto kalau sedang kesal. la memilih meneruskan membersihkan rambut panjangnya dari tepung dari pada meladeni atau menenangkan amarah Naruto.

"Fans-fans gila! Berengsekk!" Naruto semakin menjadi.

"Diamlah Naruto!" Geram lno. Naruto mendelik kearahnya.

"Aaahh, telingaku sakit mendengar suaramu!" Ucapnya sambil mengorek-ngorek telinganya.

"Aku mencoba membantumu lno! Kenapa kau malah marah!? Seharusnya kau berterima kasih padaku... huh."

" Apanya yang membantu bodoh!" lno dengan tega menjitak kepala Naruto. Naruto merengut kesal.

"Seharusnya kau tidak ikut campur masalah ini... kan kau jadi kena juga...bodoh." Suara lno merendah. la mulai menyingkirkan tepung di kepala Naruto.

Naruto hanya mendesah lelah. "Tidak mungkin aku membiarkan saja sahabatku yang sedang susahkan?" Balasnya pelan.

"Ini sudah jadi resiko menjadi fansnya Prince lce... makanya aku diam saja."

"Jadi, kau ditolak?"

lno menatap Naruto heran. "Jadi kau belum tahu?" Naruto hanya menggeleng.

"Bodoh. Ku kira kau sudah tahu..." Dengan tega lno kembali menjitak Naruto. "Ayolah... kapan Sasuke-kun melihatku!?"

"Aargth jangan pake jitak dong!"

"Biarin. Weekk,"

"Habis kau tidak terlihat patah hati." Mereka mengobrol sambil membersihkan pakaian, wajah dan rambut mereka.

"Entahlah, saat aku mendengar Sasuke-kun menolakku. Yang ada malah rasa lega, bukan patah hati seperti yang aku bayangkan."

"Kau aneh." Ino hanya menggidikkan bahu sambil tersenyum.

Teeettt (bunyi bel)

"Yahh... gimana ini lno?" Naruto nampak cemas.

"Aku sih bawa baju cadangan. Nah dirimu?"

"Hueee aku mana bawa..." Naruto semakin cemas.

"Haah kita pakai baju olahraga aja, gimana?"

"Pasti kena hukum."

"Ah, aku menemanimu!"

"kau kan ada baju ganti. Pakai saja itu."

"Biar kompak he he..."

Naruto hendak lanjut berargumen. Namun perhatian keduanya teralihkan saat mendengar bunyi "kriiyeet" pintu bilik wc. Seperti gerakan slow motion, mereka melihat pintu terbuka... dengan seorang siswa yang tersenyum canggung ke arah mereka.

"He he. Hai. Hm aku ti-tidak mau mengganggu acara kalian. Ta-tapi aku ha-harus masuk kelas." Ucapnya kaku.

Naruto dan lno terlihat syok! Keduanya saling pandang, kemudian mulai memperhatikan keadaan sekitar.

"KIYAAAAA!" Teriakan merekapun menggema di setiap lorong, berlari menjauh dari toilet pria.

.

.

Naruto baru saja pulang sekolah. Dengan wajah kusut, rambut berantakan, seragam olahraganya kotor dan tas sekolah yang diseret. Kedatangannya langsung disambut beberapa pelayan dirumahnya. Naruto balas tersenyum walau sangat terpaksa untuk membalas sambutan pelayannya. Pelayan pribadinya langsung mengambil alih barang bawaan Naruto.

"Kamu kenapa Naru-chan?" Naruto hanya tersenyum simpul menanggapi.

"Hei nona muda, ada apa sebenarnya?"

Bibir Naruto langsung manyun. la tidak suka nama panggilan yang dipakai pelayan pribadinya. Rin Nohara-pelayan pribadi yang sudah seperti seorang kakak bagi Naruto hanya terkekeh geli melihatnya.

"Ne, nee chan... Naru capek," keluhnya.

"Memangnya ada apa Naru-chan?" Tanya Rin mulai memapah Naruto naik tangga.

"Tadi Naru dan lno dihukum Asuma-sensei..." Adunya.

"Eh dihukum!? Tumben. Karna apa?"

"Karena Naru sama lno pakai baju olahraga ne." Wajah Naruto semakin merengut mengingat kejadian disekolah tadi.

"Asuma? Oh bukannya beliau itu guru sejarah ya Naru-chan?" Naruto hanya mengangguk lemas.

"Kalian sih ada-ada saja. Pantas saja dihukum." Naruto semakin manyun.

"Tapi kami terpaksa nee..."

"Tapi tadi pagi Naru pakai seragam biasa. Kenapa bisa pakai baju olahraga?"

Naruto tersentak, segera berdiri tegak, sedikit salah tingkah.

" Ne kapan kaa-san sama tou-san pulang?" Tanyanya ceria. Rin mengernyit heran.

"ne kau mengalihlan pembicaraan." sejenak Rin menatap Naruto curiga. Terlihat Naruto menjadi gugup dan gelisah.

la mendesah, mengelus puncak kepala Naruto lembut. "Tuan besar dan nyonya besar belum bisa pulang," Terselip nada sendu di ucapan Rin. Naruto mendongak untuk menatap si pelayan yang sudah seperti kakak baginya itu.

"Mungkin minggu depan. Jadi, cepat mandi dan ganti baju, kau sangat bau!" canda Rin. Dan candaannya selalu berhasil membuat bibir plum itu jadi monyong.

" Naru gak bau ni Nee..." rajuk Naruto nyodorin ketek.

"liiisk sana-sana! Kau bau sekali!" Rin menutup mulut dan hidungnya, tak lupa ekspresinya yang nelongso di lebih-lebihkan.

"Mou... Naru gak bau... makanya cium dulu!" Naruto tak mau kalah.

"Aah... cepat mandi dan segera turun untuk makan siang." Titah Rin. la membuka pintu kamar mengisyaratkan Naruto masuk.

"Baik- baik~ cerewet." jawab Naruto kurang iklas.

Selepas Naruto masuk kamar dan kembali menutup pintu, Rin masih terdiam ditempatnya. Tatapannya sendu, fikirannya mulai berkelana, ia sedih untuk nona-mudanya yang sudah dua bulan ini tidak bertemu orang tuanya. Walau Naruto memiliki banyak pelayan yang menemaninya, tapi ia juga butuh perhatian dari kedua orang tuanya. Pikirannya melayang jauh, tak sadar jika ia masih saja berdiri di depan kamar Naruto.

Tiba-tiba pintu di hadapannya kembali terbuka, membuat Rin tersadar. Kepala pirang menyempul keluar dan menatap Rin penuh minat (?).

" Nee-chan, tolong jangan beritahu hal ini pada tou-san sama kaa-san ya..." pintanya. "Kenapa? Apa masalahmu sangat besar?"

"Tidak tidak. Karena hanya masalah sepele, jadi tidak perlu tou-san dan kaa-san tau, nanti mereka bisa khawatir nee."

Rin tertegun, kemudian menatap Naruto kembali.

"Baiklah. Nee-chan tunggu di bawah ya Naru-chan..." ucapnya mengacak rambut pirang itu.

"Ha'i."

.

.

.

Hari-hari selanjutnya sangat melelahkan bagi Naruto dan lno. Bagaimana tidak? Para gadis-gadis cantik jadi sering mengejar-ngejar mereka.

Bukan untuk memberi karangan bunga atau meminta tanda tangan. Apalagi selfie besama. Karena yang mereka bawa bukan bunga, bolpoin atau kamera. Tapi ember berisi air atau lumpur, sendok, sapu bahkan ada yang bawa panci! Tepatnya sih hanya lno yang dikejar, tapi Naruto jadi kena juga.

Braakk

Pintu atap dibanting kuat. Naruto dan lno terduduk lemas. Nafas mereka masih memburu karena berlari.

"Sedang apa kalian disini?" Tanya suara baritone bernada datar pada mereka. Kedua kepala pirang itu mendongak untuk melihat siapa pria itu.

"Sasuke-kun? Sedang apa disini?" Tanya lno.

Sasuke mendengus, karena pertanyaannya malah di jawab dengan pertanyaan.

"Aku yang bertanya lebih dulu lno." Ucapnya. lno menunduk, bingung untuk menjelaskan pada Sasuke.

"Ka-mi tadi anu... Naruto!"

Belum selesai lno berbicara, Naruto segera berdiri cepat. Mendorong badan Sasuke yang hanya mundur satu langkah dan tak lupa tatapan yang tajam. Tentu Sasuke kaget dan bingung secara bersamaan, walau tidak terlihat di wajah stoic nya.

" Kau dalang semua ini!" teriak Naruto.

"Naruto! Hentikan!"

"Bisakah kau tarik kembali para fansmu itu Uchiha-san!? Kami ingin bersekolah dengan tenang!" Teriak Naruto lagi, mengabaikan lno yang memintanya berhenti.

Hening.

"Jadi, kau berfikir aku yang melakukan semua ini?" Sasuke sudah bisa menyimpulkan.

Jujur saja, Naruto sedikit merinding mendengar suara Sasuke. Datar tapi dingin dan menusuk.

"Ja-jadi siapa lagi? Kami seperti ini sejak kau menolak lno!" Nada tinggi Naruto masih bertahan, walau sedikit kesusahan. Sasuke berjalan mendekat padanya dengan aura gelap yang membuat tubuhnya semakin merinding takut.

"Ternyata, kau menilaiku sebagai pria yang seperti itu nona Namikaze. Terimakasih." ucapnya dengan jarak yang sangat dekat, kemudian melenggang pergi begitu saja.

Naruto membatu di tempatnya, menghiraukan lno yang sedari tadi memanggil dan menarik tangannya.

.

.

.

Berakhirlah kejadian kejar-kejaran itu, entah karena apa? Naruto tidak tau. Namun sekarang ia sedang berjalan sendirian di antara koridor kelas.

"Apa yang kau lakukan bodoh! Sasuke-kun tidak tahu sama sekali tentang pembullyan ini! Pokoknya kamu harus minta maaf. Titik!"

Naruto kembali menghela nafas hari ini. la kembali teringat perkataan lno. Sahabat cerewetnya itu tidak mau berbicara padanya kalau belum minta maaf pada Sasuke.

ltu yang membawa Naruto berjalan menuju kelas dimana Sasuke belajar. la sudah mencoba menelepon dan kirim e-mail. Tapi tak dijawab sama sekali. Hal ini mengingatkan ia pada dirinya sendiri yang akhir-akhir ini mengabaikan panggilan dan juga e-mail dari Sasuke.

"haah... Kenapa juga harus seperti ini..." Keluhnya. Karena berjalan sambil menunduk, Naruto tidak sengaja menubruk punggung seseorang.

"Gomen," ucapnya lesu, sedikit menepi dan kembali berjalan.

"Dobe."

Langkah Naruto berhenti. la berbalik untuk memastikan bahwa ia mendengar suara orang yang di carinya.

Saat Naruto mendongak, tatapan tajam dari onyx kelam Sasuke yang menyambutnya. Ia membatu, lidahnya serasa kelu. Menelan ludahpun susah. Segala macam kalimat yang sedari tadi disusun Naruto di dalam kepalanya pun kini hilang entah kemana.

"Ha-hai Sen-pai." Hanya kata itu yang berhasil keluar dari mulutnya.

Sasuke bergeming. Naruto pun kembali diam. la mulai memperhatikan Sasuke.

"ng... senpai lagi sibuk ya?" tanyanya basa-basi.

"..."

"ng mau ku bantu bawa buku-bukunya?"

Sasuke tak menjawab, ia hanya menatap datar Naruto.

"Senpai,"

"Menyingkirlah."

Deg

Hati Naruto mencelos kala mendengar nada dingin Sasuke padanya. la hanya diam bagai patung, bahkan saat Sasuke melewatinya.

'Separah itukah?'

.

.

Saat pintu besar itu terbuka, beberapa pelayan langsung menyambut kedatangan Naruto. Serasa dejavu, Naruto pulang dengan wajah kusut, rambut berantakan, seragam kotor dan tak lupa tas sekolah yang diseret.

"Ne ada apa lagi Naru-chan?" Tanya Rin langsung mengambil alih barang bawaan Naruto.

Naruto hanya cemberut. la membawa(tarik) Rin ke kamarnya. Sedangkan Nohara Rin hanya bisa pasrah mengikuti.

Saat di kamarpun Rin hanya menatap Naruto bingung. Sedari tadi Naruto hanya sibuk sendiri. Mengoceh dan merengek tak jelas di atas kasur queen size miliknya.

"Sebaiknya kau tenangkan diri dulu, baru cerita sama nee-chan. Ok." ucap Rin hendak pergi.

"Nee-chan, aku harus bagaimana?" rengek Naruto, ia duduk ditepi kasur dengan bantal rubah besar dipelukannya.

Rin menaikan sebelah alis, bingung.

"Masalah kamu apa Naru-chan?"

Naruto tak langsung menjawab. la terlihat gelisah.

"Ne bagaimana cara minta maaf yang benar?" Tanya Naruto penuh harap. Mata saphirenya membulat lucu.

"Jadi, cuma gegara itu?" Naruto mengangguk.

"Hm, sudah minta maaf secara langsung?" Naruto mengangguk.

"Lalu tidak di maafkan?" Naruto kembali mengangguk. Rin menghela nafas.

"Bagaimana caramu minta maaf?" Tanyanya. Naruto terdiam nampak berfikir.

"ng begini nee, tadi itu...

Flasback

Tadinya Naruto hanya berniat minta maaf pada Sasuke secepatnya. la sudah tidak tahan di diam-in terus oleh sahabat cerewetnya. Dan ia juga sadar, kalau dirinya memang salah telah menuduh sang senpai sembarangan.

Tapi niat tinggal niat. Saat sampai di ruang kelas Sasuke, gadis itu tidak bisa menemukan sang senpai. Kelas sudah sepi, hanya ada beberapa siswa yang sepertinya juga akan segera pulang.

Gadis itu sudah ingin pulang, andai saja ia tidak bertemu dengan siswa berambut ala nanas yang ia ketahui sebagai teman sekelas si senpai. Nara Shikamaru.

" Cari Sai atau Sasuke?" sepertinya ia sudah tau tujuan Naruto.

"eh?"

"ck mendokusai, ayo."

Naruto hanya ikut pasrah saat langsung digaet Shikamaru.

Ternyata Shikamaru membawa Naruto ke ruang OSIS. Disana ada beberapa siswa siswi kelas Xl dan para anggota OSlS sedang merenofasi ruangan.

"Ng untuk apa senpai membawa aku kesini?" Tanya Naruto.

"Yang kau cari ada disana," Shikamaru merangkul Naruto sambil menunjuk ke arah Sasuke dan Sai yang sedang sibuk dengan meja meja.

Mata saphire berbulu lentik itu mengikuti arah pandang Shikamaru sejenak lalu mengangguk.

"Arigatou senpai, tapi boleh senpai lepas rangkulan senpai?" katanya risih. Shikamaru berpaling menatap Naruto. Posisi mereka membuat wajah mereka cukup dekat.

BRAKK

"Kembali bekerja Shika!" Semua mata tertuju pada Sai dan Sasuke.

Shikamaru hanya berdecak kemudian kembali bekerja meninggalkan Naruto seorang diri.

"Naruto kan?" Tanya seorang siswi bercebol dua. Tenten.

"ah ya senpai. Ada apa?"

"Kebetulan sekali, kami kekurangan anggota perempuan, ayo ikut." Tenten pun langsung menarik Naruto berkumpul bersama para siswi.

Hari sudah semakin sore, dan para anggota OSIS sudah pada pulang. Tapi Naruto masih setia menunggu di depan ruang OSIS.

Saat Tenten mengajaknya pulang bersama ia tolak, begitu pun saat Sai menawarinya.

"Minggir."

Tubuh Naruto menegang, saat telinganya mendengar nada dingin tepat dibelakangnya. Saat berbalik, bola mata saphire itu langsung bertemu dengan kelamnya onyx Sasuke. Ya Sasuke, pemuda yang menjadi alasannya masih ada disini.

"Minggir, Dobe." Ucap Sasuke lagi masih dengan nada yang sama. Naruto sedikit menepi agar Sasuke bisa masuk ruangan. Pemuda berrambut raven itu segera melenggang masuk untuk mengambil tas dan barangnya yang lain.

Saat ingin kembali keluar, Sasuke hanya bisa mendengus. Naruto kembali berdiri dimulut pintu, memblokir jalan untuk keluar.

Apa ia harus bilang minggir lagi? hah~

Pemuda itu mulai berjalan kemudian berhenti tepat di hadapan Naruto. la bisa melihat gadis yang sedang menunduk itu mengepal tangan kuat.

"..."

Kesal? Ya, tentu Naruto kesal karena niat baiknya selalu di tanggapi dingin oleh Sasuke. Apalagi sekarang ia sudah lelah.

"..."

Menghela nafas pelan, gadis pirang itu mulai mendongak untuk menatap pemuda dihadapannya.

"Aku hanya ingin minta maaf senpai," Ucap Naruto pasti. Sasuke hanya diam masih dengan ekspresi datarnya.

"Aku tahu aku salah, maafkan aku! Sungguh aku menyesal senpai." Ucap Naruto sambil membungkuk.

"Sudah?"

"Eh?"

"Kalau sudah, cepat menyingkir." Perintahnya.

"arrrgt kalau tidak mau maafin bilang tidak!"

"...''

"Ya sudah. Yang jelas aku sudah minta maaf. Aku permisi." Naruto sudah mau pergi, namun Sasuke menariknya.

"Kau ingin ku maafkan, besok datang kerumah ku."

Setelah mengatakan hal itu, Sasuke langsung meninggalkan Naruto.

Flasback end

"Jadi, dia memintamu ke rumahnya?" Terdapat nada jahil di kalimat Rin. Naruto hanya mengangguk lemah.

"Dia mengajakmu kencan ne..." Rin mencolek dagu Naruto.

"Nee-chan...aku serius."

"Nee-chan juga serius ne... besokan weekend. Jadi kemungkinan dia mengajak mu kencan sangat besar ne,"

Naruto hanya terdiam. Wajahnya masih merengut, tapi jantungnya mulai berdetak tak karuan. 'mungkinkah?'

Tanpa sadar, pipi tan itu mulai merona. Dan pemandangan itupun tak luput dari pengamatan Rin.

Melihat sang nona bahagia, mengundang senyum lembut di wajahnya.

'Sepertinya aku punya tugas tambahan," batinnya.

.

.

.

Hal paling menyenangkaan di waktu senggang adalah bersantai. Menikmati angin sepoi-sepoi sambil minum juice ditambah snack ringan akan sangat menyenangkan bukan?

Hal itu yang ingin Uchiha sulung ini lakukan. la sedang berada di dapur untuk mengambil juice dan makanan ringan lainnya. la tidak ingin memerintah para maid, karena ia lebih suka melakukannya sendiri.

Langkah kakinya berhenti tepat dibawah tangga saat melihat sang adik terlihat lebih rapi dari biasanya.

"Mau kemana otou-chan?"

Sasuke sedikit terkejut akan lehadiran sang Aniki walau tak terlihat sama sekali di wajah datarnya.

"Keluar."

"Kencan?"

"Bukan urusanmu baka." Jawab Sasuke dan langsung pergi. ltachi hanya bisa mengelus dada atas ketidak sopanan otoutonya sendiri. Namun seulas senyum lembut tercetak diwajah rupawannya. Cukup jelas terlihat tadi, kalau pipi putih otou-chan tercintanya itu sedang merona.

"hah, otou-chan ku cepat sekali besar..." desahnya.

Saat pintu besar itu terbuka, tepat sebuah ducati warna orange dengan aksen merah seperti api berhenti di halaman depan rumah utama Uchiha.

Tanpa sadar, seulas senyum tipis terbit di wajah pucat Sasuke saat melihat si pengendara motor sport itu.

Bukan karena ia suka akan motor atau pakaian yang di pakai Naruto, hanya saja...

"Tidak berubah," gumamnya.

"Senpai mengatakan sesuatu?"

"Tidak." Naruto hanya mengangguk paham.

"Ayo."

.

.

.

.

Konoha land adalah tujuan Sasuke. Semua orang terlihat bahagia menghabiskan akhir pekan mereka. Tidak terkecuali untuknya. la bukan orang yang suka keramaian. Tidak! Bukan itu alasannya.

Bukan juga karena puas menikmati semua permainan yang ada. Tidak~

"Berhentilah tersenyum seperti itu senpai.." Suara ketus Naruto mengembalikan kesadarannya.

"Kau terlihat menyeramkan..." sambungnya.

Sasuke hanya menggidikkan bahu pelan. Ayolah, hanya Naruto yang mengatakan kalau senyumnya menyeramkan.

"Dan kau, ubahlah wajah bodohmu itu. Kau sudah terlihat bodoh, jangan kau tambah lagi." Ucap Sasuke santai, tidak terpengaruh oleh delikan mata saphire disebelahnya.

Naruto segera buang muka, ketus. Kembali menggerutu tak jelas namun tetap mensejajarkan langkahnya dengan Sasuke.

"lni semua salahmu!" Cicit Naruto.

"Hn."

"Kembalikan kunci motorku!" suara Naruto naik satu oktaf.

"Hn"

"Aku bisa membawanya...aku selalu membawanya kemana pun aku pergi! Aku sudah mahir senpai... itu kendaraanku semenjak SMP!" Mohon Naruto, bahkan kini sambil menarik-narik ujung kaos Sasuke.

Jitak

"Bahkan kau sudah membawanya semenjak SMP! lngat dobe, kau belum memiliki SIM. Jadi, tidak seharusnya kau membawa itu." Naruto hanya mempoutkan bibirnya mendengar nasihat Sasuke.

"Senpai seperti ayahku saja," gumamnya sambil mengelus jidatnya yang terkena jitakan sayang.

"hn"

Naruto kembali menggerutu. Ah, itu motor kesayangannya, hadiah dari kakeknya yang sudah tiada. Dan sekarang, dengan tidak berperasaannya dipisahkan dari dirinya... ingin rasanya ia merebut paksa apa yang jadi miliknya. Tapi rasanya terlalu memalukan kalau ribut di tempat ramai begini!

Naruto kembali melirik tajam Sasuke yang kini berjalan dihadapannya. Hah, Senpainya ini sulit di tebak. Kadang ia merasa sedang diperhatikan. Namun saat ia bertanya atau meminta penjelasan, hanya ekspresi datar dan jawaban ambigu yang di perlihatkannya.

Sejenak Naruto memperhatikan pakaian yang dipakainya. Sekarang ia mengenakan jeans pensil dan kemeja lengan panjang yang sengaja ia gulung sampai siku. Tiga kancing atas sengaja ia buka karena kepanasaan dan untung saja ia mengenakan tanktop putih di dalamnya. Kembali mata Saphire berbulu lentik itu melirik Sasuke. Tadinya ia mengenakan kaos besar dan sebuah hot panst. Tapi kini di ganti (paksa) Sasuke dengan alasan,

"Turuti saja perintahku, dan aku akan memaafkanmu."

Aah, apapun itu! Ekspresinya tetap datar sedatar lantai marmer yang sering mereka injak. Eh?

"Mau masuk?" Pertanyaan Sasuke menyadarkan Naruto dari lamunannya. Sejenak ia memperhatikan tempat tujuan Sasuke kini. Tanpa sadar wajahnya kembali cerah saat melihat tulisan 'ramen' dihadapannya.

"Ayo!" Seru Naruto girang, segera menarik Sasuke masuk kedalam kedai. Sasuke hanya bisa geleng-geleng kepala melihat perubahan sikap Naruto yang begitu cepat.

.

.

Kaki jenjang berbalut sepatu santai berwarna abu-abu itu berhenti tepat di sebuah toko bunga. Uchiha Sai -kini melangkahkan kakinya untuk mencari benda yang di butuhkannya.

Saat masuk, tanpa sadar senyum tulus terpantri di wajah tampannya. Mata onyxnya menyapu semua benda yang bisa dijangkaunya. 'lndah, sangat indah.' batinnya. Kembali ia melangkah masuk untuk menemui pelayan toko.

.

.

Mata saphire indah berbulu lentik itu kini sedang membulat menatap tak percaya pada apa yang ada di hadapannya. Tadinya ia kembali protes karena kembali dibawa Sasuke ketempat yang ia sendiri tidak tau tujuannya. Tapi sekarang,

"Berhentilah bersikap bodoh begitu, dobe."

Bahkan hinaan Sasuke sekarang bagai bisikan malaikat ditelinganya.

"Kyaaaa ayo cepat masuk senpai... aku sudah lama tidak menonton mereka secara live!" serunya girang.

'ck, fans girl.'

"Ayooo senpai..." paksanya. Sasuke segera mengikuti Naruto setelah memberi tiket pada penjaga.

.

.

Saat semua orang berteriak loncat-loncat menyerukan nama idola mereka, Sasuke lebih memilih memasang headphone untuk menutup telinganya. Mata onyxnya tak lepas dari gadis pirang disampingnya. la ikut tersenyum saat melihat sorot mata bahagia Naruto. Sesekali onyx kelamnya menatap tajam beberapa pria yang mencoba mengganggu gadisnya. Eh?

Untuk kesekian kalinya Naruto menatap tak percaya pada Sasuke. Setelah ia di ajak nonton konser idolanya. Sekarang ia dibawa untuk bertemu langsung dengan mereka!? Hati Naruto kembali menjerit berteriak ala fans girl.

'Sungguh mudah bagi Uchiha satu ini melakukannya?'

kriiyet

Pintu kayu itu terbuka, bersamaan dengan dua orang berbeda gender masuk kedalam ruangan. Naruto hanya diam membatu ditempatnya. Matanya membulat dan mulutnya mengaga. Sasuke memutar bola mata bosan melihat tingkah Naruto.

"Konbawa, apa kamu yang bernama Naruto?" Naruto hanya mengangguk kaku kala mendengar suara lembut gadis dihadapannya.

"Wah, senang bisa bertemu denganmu..." Ucap gadis itu sambil tersenyum.

"ck, Dobe." Naruto mendelik tajam Sasuke yang berada tepat disampingnya. lngin rasanya ia mencakar wajah tampan itu karena sudah berani menghina dirinya tepat di depan idolanya.

"Wah, kau gadis yang manis yah..." Dan suara baritone itu membuat Naruto kembali memalingkan wajahnya. Wajahnya memerah sempurna mendengarnya. Sasuke kembali memutar kedua bola matanya.

"Apa kita hanya akan seperti ini saja?" Kini suara lembut gadis itu kembali terdengar.

"ahk, tidak! Maaf, aku hanya... ano...itu..." ucapnya gelagapan.

"lngin foto bersama atau tanda tangan dulu? Atau dinner mungkin?" Ucap suara baritone itu, membuat siapapun yang mendengarnya pasti meleleh...

Naruto menggeleng cepat,

"Maaf Sabaku-san, Haruno-san, aku hanya sedikit syok." katanya salah tingkah. la melihat keduanya hanya tersenyum maklum.

''Ah, aku fans berat kalian... boleh minta tanda tangannya?" ucapnya memasang puppyeyes.

Keduanya tersenyum kemudian mengangguk. lngin rasanya Naruto meloncat girang sekarang, namun ditahannya. la segera balik badan untuk memberi punggung kemeja yang dibelikan Sasuke untuk ditanda tangani.

"sudah."

"Sudah?ah, terima kasih banyak Sabaku-san,Haruno-san." ucapnya sambil membungkuk.

"Sama-sama, kau boleh memanggil nama depan kami nona manis..."

"Benarkah?!" Keduanya mengangguk.

"Huaahhh Gaara-kun keren sekali..."jeritnya loncat-loncat. "Sakura-chan juga kawaii..."

Dan untuk kesekian kalinya, Sasuke memutar bola matanya bosan melihat tingkah Naruto. Mereka nampak asik berbincang dan mengabaikannya. Huh.

"Senpai, tolong foto kami..." Pinta Naruto memasang puppy eyes. Sasuke meliriknya lewat ekor matanya. Mendesah lelah dan lebih memilih untuk memenuhi keinginan gadis pirang dihadapannya.

"Siap?"

Naruto berdiri tepat diantara Gaara dan Sakura, tersenyum lebar sambil memasang pose peace.

"1,2,3."

Ciklik

cup

cup

"Eh?"

"Hei!" (Sasuke)

Sasuke segera menarik Naruto kearahnya, tak lupa memberi tatapan tajam mematikan pada kedua orang dihadapannya.

"Ah, sebaiknya kami kembali..."ucap Sakura.

"Sampai jumpa lagi Naru-chan..."

Setelah pintu kayu itu ditutup, hanya meninggalkan keheningan antara Sasuke dan Naruto. Naruto masih membatu seakan tanpa roh. Kalau Sasuke masih menatap tajam pintu yang tidak tau apa-apa itu.

"Aku di ci um!" cicit Naruto memegang kedua pipinya, bekas dicium Gaara dan Sakura.

Sasuke meliriknya.

Cup cup

"eh?"

"Tidak boleh ada yang menciummu." ucap Sasuke datar.

"Tapi senpai tadi menciumku!" protes Naruto.

"ck, aku hanya menghapus ciuman mereka dobe, jangan bermimpi."

Naruto hanya bisa cengo. 'Menghapus ciuman? oh.' Naruto menarik kerah baju Sasuke, dan..

Cup

ia menyerigai. "Aku ambil kembali ciumanku." ucapnya menyerupai bisikan. la segera pergi meninggalkan Sasuke yang masih membatu.

"ck, dobe."

Sasuke segera mengejar Naruto.

Yang mereka tidak tahu, sedari tadi mereka tengah dibuntuti seseorang.

.

.

(ノ´ー`)ノ(ノ´ー`)ノTBC-(口<-)

huaah akhirnya...

Ada yang tanya ini berapa chapter?

mungkin 10. he he

oh ya, ini belom masuk konflik utama. Mungkin chap depan. Sekali lagi maaf untuk keterlambatan saya...

spesial Arigatou for :

kimhaemin, yukiko senju, pena bulu, , narunaruha, uzamakiDesy, Arum Junnie, Dewi15, julihrc, , CiaSintialMAKC, zadita uchiha, altaOsapphire, Guest, sam hatake ajja, Ara Uchiha, ajbana7777 dan semua yang fav/fol fict olla... (∩_∩)

Sampai jumpa tahun depan... #plakkk

kidding ne.