Khayalan Sesaat
.
.
Sakura. H, Sasuke U
Naruto belong to Masashi Kishimoto
M for Lime and Violence
Romance, Hurt / Comfort
.
.
#WARNING : Alternative Universe. OOC, Typo's, yang berharap cerita cinta indah dan manis sebaiknya menyingkir dari fict ini. DLDR.
-00000-
"Hallo, siapa ini?" suara manis di seberang sana membuat sekujur tubuh Sakura kaku dan terasa dingin bagai tersiram es. Gadis merah muda itu ingin menjawab, atau bahkan balik bertanya, namun entah mengapa bibirnya begitu kelu bahkan hanya untuk mengeluarkan suara.
"Hallo… hallo… apa kau gadis jalang yang diajak tidur oleh kekasihku?"
DEG-
Pertanyaan itu menyentak Sakura, amat sangat. Bukan hanya karena label 'gadis jalang' yang diucapkan padanya, melainkan ucapan lain yang keluar dari bibir gadis itu. Kekasihnya? Apa Sasuke adalah kekasihnya? Apa pemuda itu begitu tega mendua di belakangnya? Setelah memperlakukan Sakura sangat buruk dan semena-mena, bagaimana mungkin Sasuke juga begitu tega menghancurkan hatinya dengan memiliki kekasih lain selain dirinya?
Selama ini Sakura merelakan harga dirinya diinjak-injak oleh kekasihnya tersebut. Merelakan dirinya disakiti sedemikian rupa hingga di luar batas kewajaran. Semua gadis merah muda itu lakukan karena dirinya teramat mencintai Sasuke sehingga apapun yang pemuda itu lakukan padanya, Sakura berusaha menerimanya. Sasuke yang menyakitinya, Sasuke yang merendahkannya, Sasuke yang memukulnya, semua bisa Sakura terima. Tapi pengkhianatan pemuda itu… inikah yang dia dapatkan dari segala yang sudah dirinya lakukan demi pemuda raven itu?
"Hallo…" suara di seberang telepon terdengar menuntut dan tak sabar. Sakura bisa merasakan dirinya sangat marah. Begitu marahnya hingga dia bahkan seolah kehilangan kata-kata. Namun gadis itu segera menyingkir dari sisi tempat tidur dan berjalan menuju ruang televisi, takut suaranya nanti akan membangunkan kekasih raven-nya. Karena Sasuke tidak suka bila Sakura mengotak-atik telepon pribadinya.
"Hallo… siapa di sana?" Sakura memberanikan diri bertanya. Terdengar dengusan sinis dari seberang telepon, mungkin gadis itu sedang meremehkan atau mengejeknya.
"Kau yang siapa ! apa yang kau lakukan dengan telepon kekasihku? Apa kau baru saja bercinta dengannya?" rentetan pertanyaan itu membuat Sakura menggigit bibir bawahnya untuk meredam emosinya sendiri. Sasuke adalah kekasihnya. Sasuke adalah miliknya. Bukan milik gadis itu. Dan Sakura tidak menyukai kenyataan bahwa diirinya harus berbagi cinta dengan gadis lain.
"Aku adalah kekasih Sasuke…" jawab Sakura dengan suara bergetar, antara marah dan sakit yang kini menjalari dirinya. Airmata sudah setia menggenang di pelupuk emerald indahnya, tubuhnya sudah gemetar menahan semua emosi ini.
"Kekasih Sasuke? Siapa ini ? siapa Sasuke ? bukankah ini ponsel kekasihku?" gadis itu memberondong Sakura dengan pertanyaan yang bahkan membuat gadis merah muda itu mengerutkan kening. Kekasih gadis ini bukan Sasuke? Apa maksudnya? Apa gadis ini sedang mempermainkannya?
"Apa maksudmu? Ini ponsel kekasihku. Uchiha Sasuke…"
"Mana mungkin. Jelas sekali ini adalah nomer kekasihku. Jangan bercanda !" sengitnya kasar.
"Memangnya siapa kekasihmu ?" Sakura berusaha bertanya baik-baik meskipun gadis itu menanggapinya dengan emosional.
"Uzumaki Naruto." Jawabnya dengan nada marah. Sakura mengerutkan dahinya, lagi. Uzumaki Naruto? Siapa itu? Apa teman Sasuke menggunakan ponsel kekasih ravennya itu dan membuat kesalahpahaman ini?
"Maaf, aku tidak mengenal siapa itu kekasih yang sudah kau sebutkan. Tapi ini adalah ponsel milik kekasihku. Kekasihku… Uchiha Sasuke." Setelah menjawabnya, Sakura mematikan teleponnya. Tidak ada gunanya melanjutkan kesalahpahaman ini. Namun saat gadis itu membalikan tubuhnya, Sakura terkejut mendapati Sasuke tengah memandanginya dari sudut kamar yang gelap.
"Darimana kau belajar lancang seperti itu, Sakura ?" suara Sasuke yang berat terdengar lebih dingin dari biasa. Sesuatu yang hanya terjadi saat pemuda itu sedang diliputi kemarahan.
Sakura yang sempet membeku beberapa saat kemudian saat tersadar mengikuti arah pandang kekasih ravennya. Onyx Sasuke tertumbuk pada ponsel pemuda itu yang kini berada di genggaman gadis merah mudanya.
"Ma-maaf Sasuke-kun… aku… aku hanya…" Sakura tergeragap mengetahui Sasuke marah karena dirinya lancang membawa ponsel kekasihnya itu.
"Apa yang kau lakukan dengan ponselku Sakura ?"
"Ada telepon… dan aku hanya menjawabnya." Gadis itu menjawab sambil menundukan wajahnya. Tanpa perlu melihat, Sakura tahu Sasuke sangat marah kepadanya.
"Apa yang aku katakan mengenai ini?" walaupun sedang tidak memandang ke arah kekasihnya, Sakura bisa merasakan gerakan Sasuke yang mendekat kepadanya. Gadis itu memejamkan mata. Menyiapkan diri menerima rasa sakit yang akan diterimanya sebentar lagi.
"Aku sudah sering memperingatkanmu agar mengerti batasan…" geraman meluncur dari bibir Sasuke sembari menarik lengan kekasihnya dengan kasar. Jemari Sasuke yang berada di lengan Sakura terasa menyakitkan karena menggenggam lengannya dengan sangat kuat.
"Tapi kau selalu saja melewati semua batasan dan memancingku untuk marah. Untuk apa kau menjawab telepon di ponselku dan siapa yang memberimu ijin untuk melakukannya, hah ?!" Sasuke membentak tepat di telinga gadisnya dan itu menyebabkan Sakura sedikit berjengit. Kemudian pemuda itu menyentak tubuh lemah kekasihnya dengan kasar.
"A-aku… hanya…" Sakura berusaha menjelaskan pada kekasih raven-nya itu namun terlambat. Karena detik itu juga Sasuke telah mencengkram rambutnya dan menjambaknya dengan keras.
"Aaahhh... sakit Sasuke-kun. Ampun! " jerit gadis merah muda itu tertahan saat sang kekasih menarik helaian merah mudanya.
"Kau tidak mempercayaiku, honey?!" Bisik Sasuke dingin.
"..."
"Kau tidak mempercayaiku selama ini dan membuatmu ingin mengetahui sesuatu dari ponselku. Iya kan?" tuntut pemuda raven itu kalap sambil kembali menarik helaian merah muda gadisnya dengan kasar. Sakura hanya bisa merintih pelan sambil menitikkan airmata. Berulang kali kekerasan ini terjadi padanya, namun tetap saja rasanya sangat menyakitkan.
"JAWAB !?" Bentak sang pemuda sambil menarik lebih keras rambut kekasihnya saat Sakura tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Sakit Sasuke-kun... kumohon hentikan!" Pinta Sakura lirih sambil menahan isakannya.
JDUAAGH- Dibenturkannya kepala sang kekasih ke tembok, lalu ditariknya kembali secara kasar.
"Aku tidak suka kau tidak percaya padaku, Sakura..."ujar Sasuke lagi. Disekanya air mata yang mengalir dari emerald indah kekasihnya, namun tangannya tetap menarik rambut Sakura.
"Jangan begini Sasuke-kun. Kumohon...!" pinta Sakura sungguh-sungguh.
Sasuke menarik kemudian menghempaskan tubuh kekasihnya kasar hingga terjatuh membentur lantai.
"Aku tidak suka sikapmu itu Sakura. Perbaiki-lah !" Titah pemuda tampan itu sambil beranjak pergi tanpa perasaan. Meninggalkan kekasihnya yang menangis kesakitan seorang diri dalam kesunyian.
-00000-
Hari ini, entah ada angin apa Sasuke mengajaknya pergi keluar. Pemuda raven tampan itu mungkin melakukannya karena merasa telah melakukan sesuatu yg kelewatan pada kekasih merah jambunya. Tapi apapun alasannya, Sakura sangat senang dengan ajakan kekasih raven-nya itu. Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu berdua seperti saat ini. Kencan yang ideal di akhir pekan adalah menonton film favorit keduanya.
Tanpa disangka, saat mengantri tiket di bioskop mereka bertemu teman sekolah Sakura saat SMA. Ino juga tampak tengah berkencan dengan kekasihnya sejak SMA, Shimura Sai. Sakura menyapa keduanya dengan wajah riang karena gadis itu mengenal mereka berdua. Ino bahkan memeluknya erat, menumpahkan rasa rindu pada sahabat merah mudanya itu. Mereka memang sudah lama tak saling berjumpa dan memberi kabar. Selain karena kesibukannya, setelah menjalin kasih dengan Sasuke, akses sang gadis untuk berhubungan dengan dunia luar praktis terputus. Meski itu dengan sahabatnya sendiri.
Sai menjabat tangan Sakura. Hanya sebuah jabat tangan biasa antar teman yang telah lama tak saling berjumpa. Namun di mata Sasuke yang over protektif, sedetik jabat tangan itu cukup memberinya alasan untuk menghajar siapapun yang menyentuh gadisnya.
BUUAAGHH-
Sasuke melayangkan tinjunya begitu saja ke arah Sai. Sai yang tidak siap menerima serangan mendadak pemuda tampan itu tampak terhuyung ke belakang,sambil menahan sakit akibat pukulan Sasuke di wajahnya. Ino menjerit, sementara Sakura hanya bisa terkesiap tanpa mampu berkata-kata.
"Jangan pernah menyentuh milikku !" Ujarnya lantang, matanya menatap nyalang ke arah Sai. Lalu dengan tiba-tiba, Sasuke menariknya dan menyeretnya paksa dari tempat itu. Meninggalkan Ino yang sibuk merengkuh kekasihnya dengan menangis. Sasuke tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang menatap ke arahnya penuh rasa penasaran. Sebaliknya, pemuda itu justru makin cepat menyeret kekasihnya untuk segera pergi dari sana.
Di tempat yang agak sepi, sang pemuda menghentikan langkahnya.
PLAK-
Ditamparnya sebelah pipi gadis merah jambunya. Sakura hanya meringis sedikit saat -lagilagi- tangan sang kekasih mendarat mulus tepat di pipinya.
"Maaf Sasuke ...!" hanya itu yang mampu Sakura katakan dengan pandangan tertunduk ke bawah. Meskipun ini bukan sepenuhnya kesalahannya namun Sakura tetap meminta maaf karena telah membuat kekasih raven-nya itu marah dan tidak nyaman. Namun Sasuke tidak mengubris permintaan maaf gadisnya. Karena pemuda tampan itu justru mendorong kekasihnya kasar dan menendang pahanya dengan keras, sementara tangannya pun menampar lengan Sakura yang terbuka hingga membekaskan memar merah di sana.
Sasuke selalu bersikap sangat protektif pada Sakura. Tak pernah dibiarkan sang kekasih dekat dengan pria manapun selain dirinya, meskipun itu adalah anggota keluarganya. Sakura adalah miliknya yang tak boleh disentuh atau dipandang oleh mata lelaki manapun selain dirinya atau dirinya akan sangat marah bila itu terjadi. Seperti saat ini.
Sakura sendiri sudah sangat memahami tabiat dan kebiasaan Sasuke. Dibalik sikap temperamental Sasuke, terkadang gadis bisa merasakan pemuda itu sungguh-sungguh mencintainya, meski dengan cara yang berbeda. Buktinya Sasuke selalu ingin Sakura hanya untuk pemuda itu. Di balik sikap kasarnya, sesungguhnya Sasuke sedang menjaga miliknya agar tidak direnggut orang lain. Sakura membiarkan dirinya menjustifikasi semua perbuatan kasar Sasuke padanya. Dia butuh justifikasi bahwa yang dilakukan pemuda itu padanya adalah bentuk lain dari cara sang pemuda mencintainya.
Namun saat keraguan melanda, Sakura hanya bisa terdiam. Mungkin memang itu sudah watak Sasuke dan bukan karena cinta pada Sakura. Atau itu hanya dirinya yang dibutakan oleh rasa cintanya pada pemuda tampan itu sehingga menerima perlakuan apapun yang diberikan kepadanya.
Tapi... bukankah kesabaran ada batasnya?
-00000-
To Be Continue
TERIMAKASIH
XOXO
Salam sayang,
odes
