Stay With Dragon Brothers, Together The Found of The Hiryuu-King
Yona; The Girl Standing of The Blush of The Dawn/ Akatsuki No Yona
3 Dragons Warriors Old and 3 Dragons Warriors Young and Ornyuu First Generation.
Read N Reviws, Guys
Sorry Typos
Chapter 2 : Petualangan Hakuryuu dan Seiryuu dimulai.
.
.
.
.
.
"Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Ao kesal.
Ryoji hanya bisa mendesah pasrah mendengar nada kesal yang meluncur dari bibir Ao. Oh, kabar baiknya makanan mereka untuk makan malam hari ini sudah menyatu bersama tanah dan tidak ada lagi bahan makanan untuk mereka makan. Bagus. Sangat bagus.
"Maaf, ayah. Kija benar-benar minta maaf."
"Maaf tidak akan menyelesaikan masalah, bocah!" maki Ao semakin kesal. Sedangkan Kija yang sedari tadi muram makin muram mendengar kalimat yang meluncur dari mulut Ao itu.
"Ao ini bukan salah Kija" bela Shin-Ah gugup. Ao mendelik sebal pada anak asuhnya itu. Kemudian ia menyilangkan tangannya angkuh dan mengangguk pasti.
"Tentu ini bukan salah bocah Hakuryuu saja karena kau pun bekerja sama dengannya untuk membuat makan malam kita berantakan, Seiryuu."
Shin-Ah yang tak tau harus berbicara apa, memilih untuk duduk di sebelah Kija dan menundukkan wajahnya muram.
Ao yang melihat tingkah dua bocah naga yang seperti itu hanya bisa mendengus sebal sampai sebuah pukulan telak membuat kepalanya sakit.
"Apa yang kau lakukan, Ryoji!?" protes Ao marah mendapatkan rasa sakit yang mulai berdenyut di sekitar kepalanya.
"Hanya sedang memberikan hukuman pada orang yang suka naik darah tanpa mencari solusi, bodoh." Jelasnya. Ia lalu melihat Kija dan Ao yang tertunduk lesu. "Bagus. Aku sangat senang kalau kalian berdua mengakui kesalahan kalian, Kija, Shin-Ah."
Dua bocah itu hanya bisa mengangguk lemah.
"Kau.." ucap Ryoji sambil melihat Ao yang masih terlihat kesakitan akibat pukulannya. "...jaga anak-anak. Aku akan mencari makanan di sekitar hutan ini. Siapa tahu aku mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Setidaknya untuk mengganjal perut kita daripada aku harus mendengar suara perutmu yang kelaparan, Ao bodoh."
Setelah mengatakan itu, Ryoji berangsut pergi ke dalam hutan tanpa mempedulikan Ao yang saat ini mulai naik pitam.
"Sakit, sialan. Dan apa katanya? BODOH!? Siapa yang bodoh dan juga sedang kelaparan itu, Ryuji sialan!" teriak Ao kesal membuat dua bocah naga semakin tak berani menatap Ao.
~O~
"Akhirnya aku bisa pulang juga ke rumah setelah sekian lama harus berada di ibukota. Apa Ryoji dan Kija merindukan aku tidak ya?" pikir seorang wanita cantik yang baru saja memasuki desanya.
"Selamat datang kembali di desa , nyonya Maki." Salam beberapa warga desa padanya. Maki tertunduk dan tersenyum simpul atas perhatian warga desa yang antusias menyambut kepulangannya.
"Tapi dimana Ryoji dan Kija, ya?" tanyanya heran karena biasanya jika ia pulang ia akan disambut pelukan hangat dari putranya yang manis dan tampan itu beserta suaminya yang selalu tak pernah lepas mengawasi putranya. "Apa mereka sedang berada di rumah?" tanyanya lagi pada dirinya. Ayolah ia sudah mengirimkan pesan beberapa hari lalu kalau dia akan segera pulang dalam dua hari ini begitu urusannya di ibukota selesai.
"Maki."
Maki menoleh pada orang tertua di desa yang berada di atas tandu duduk dengan khidmat yang barusan memanggil namanya.
"Ibu!" panggilnya senang. Betapa bahagianya ia melihat ibu mertuanya selalu tampak begitu sehat.
"Bagaimana kabar ibu selama aku tidak ada di desa?" tanyanya.
Sang tetua desa wanita itu hanya tersenyum bijak. "Kabarku baik-baik saja. Dan maaf aku terlambat menyambut kepulanganmu hari ini." Sesalnya di akhir kalimat.
"Tidak apa-apa, bu. Tapi kalau boleh aku tahu kenapa Ryoji dan Kija tidak terlihat semenjak tadi. Apa mereka sedang di rumah? Atau sesuatu terjadi pada mereka?" Tanya Maki beruntun.
Tetua desa wanita menggeleng pelan. "Tidak ada sesuatu yang terjadi pada mereka. Jadi tenanglah, Maki. Merekapun saat ini sedang tak berada di desa."
"Lalu dimana mereka? Apa mereka sedang jalan-jalan di dalam hutan?"
"Saat ini mereka tidak di desa. Mungkin sudah sekitar satu bulan lebih mereka meninggalkan desa." Jelas tetua desa wanita itu.
Maki melebarkan matanya, terkejut dengan perkataan ibu mertuanya itu. "Apa!? Mereka sudah tidak ada di desa lebih dari satu bulan? Apa yang terjadi? Bukankah tadi ibu bilang tidak ada sesuatu yang terjadi!?"
"Tenanglah Maki."
"Bagaimana aku bisa tenang, bu? Ryoji dan Kija sudah pergi dari desa lebih dari satu bulan sementara aku tidak tahu apa-apa dan ibu tidak khawatir? Katakan padaku apa yang membuat Ryoji dan Kija meninggalkan desa, bu!?" pintanya dengan sangat mohon.
"Maka dari itu semuanya, aku menyuruhmu tenang agar aku bisa menjelaskan alasannya, Maki."
"Maaf, bu. Aku hanya begitu terkejut dan khawatir."
"Aku memahami perasaanmu. Baiklah ikut denganku ke pondok agar kita bisa berbicara dengan tenang."
Maki hanya menganguk patuh dan mengikuti ibu mertuanya dari belakang.
~O~
"Apa ayah masih marah?" tanya Kija pada ayahnya yang sedang mempersiapkan keperluan tidur untuk putranya dan Shin-Ah.
Ryoji hanya tersenyum simpul kemudian menggelang pelan. "Apa saat ini ayah terlihat menakutkan, Kija?"
"Tidak!" jawab Kija tegas.
"Lalu apa itu berarti ayah sedang marah?"
"Tidak." Geleng Kija lemah.
"Kemarilah Kija." Pinta Ryoji kepada Kija supaya mendekat.
Kija menuruti permintaan ayahnya untuk mendekat. Ia kemudian memilih untuk duduk di samping ayahnya tetapi kemudian ayahnya menggendongnya dan memindahkannya di atas pangkuan ayahnya.
"Ayah?"
"Dengarkan ayah, Kija. Suatu hari nanti kau akan tumbuh menjadi dewasa dan untuk menuju kedewasaanmu itu kau akan melalui banyak hal. Entah itu kebahagiaan ataupun kesedihan."
"Lalu?"
Ryoji mengelus kepala Kija lembut. "Lalu kau akan bertemu banyak orang yang akan membuatmu memutuskan jalan apa yang akan kau pilih kelak." Ryoji terkenang akan masa-masa saat Kija baru lahir. Sesuatu hal yang amat di sesalinya.
"Kenapa ayah terlihat begitu sedih?" tanya Kija yang melihat perubahan raut wajah ayahnya yang sendu.
Ryoji menggeleng. "Ayah tidak sedang sedih, Kija."
"Begitu ya? Syukurlah kalau ayah tidak sedih." Kija tersenyum senang mendengar penuturan ayahnya itu. "Ayah."
"Hm, apa?"
"Aku sangat sayang ayah." Setelah mengatakan hal itu, Kija langsung mencium pipi ayahnya.
Ryoji melebarkan matanya, takjub dan kemudian tertawa. "Dasar kau ini." Ia menatap anaknya yang sedang cemberut. Kemudian ia mencium kening Kija. "Ayah juga sangat menyayangimu, Kija."
~O~
Shin-Ah memilih untuk menatap langit yang penuh dengan bintang. Kemudian setetes air mata meluncur dari mata naganya. Ia teringat adegan Kija dengan ayahnya dari dalam tenda yang tak sengaja ia lihat barusan. Begitu penuh cinta dan kasih sayang.
"Disini kau rupanya, Seiryuu."
Shin-Ah terkejut dan dengan cepat ia menghapus air matanya.
"Kau pikir aku tidak tahu apa yang sedang kau lakukan, Seiryuu?" tanya Ao sangsi melihat anak asuhnya yang begitu terburu-buru –atau ketakutan?- menghapus air mata.
"Ma..ma..af, Ao" ucap Shin-Ah gugup. Mungkin ia takut dimarahi.
Ao hanya memutar bola matanya bosan dan duduk di samping Shin-Ah. "Dengar Seiryuu bodoh. Kurasa aku baru ingat kalau aku melupakan sesuatu." Ucapnya ambil memakan buah-buahan yang diambilnya dari kantong persedian makanan yang dikumpulkan oleh Ryoji.
"Ya? Apa yang kau lupakan, Ao?" tanya Shin-Ah penasaran.
"Aku sudah tak ingat lagi."
"Apa?" Shin-Ah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ao. "Bagaimana kau bisa melupakan apa yang baru saja kau ingat, Ao?" tanyanya tak percaya.
"Berisik, anak bodoh. Bukan kau yang melupakannya juga."
Shin-Ah cemberut. "Kurasa tidak ada gunanya juga kau memasang wajah aneh begitu, Seiryuu." Ucap Ao bosan.
Shin-Ah mendesah pasrah. Lalu ia menatap rembulan yang bersinar begitu terang kemudian kembali menatap Ao yang terlihat sedang asik memakan buah-buahan.
"Aku sangat sayang, Ao." Ucap Shin-Ah yang membuat Ao tersedak.
"Apa yang kau..."
"Shin-Ah." Panggil Kija dari kejauhan. Shin-Ah menoleh ke arah Kija yang mendekatinya. "Ayah menyuruhku untuk memangilmu."
"Kenapa?" tanya Shin-Ah bingung.
"Hari sudah malam, sudah saatnya bagi kalian untuk tidur karena besok kita akan mulai mencari saudara naga kalian yang lain." Ucap Ryoji yang baru saja muncul.
Shin-Ah mengangguk kemudian ia bangkit dan membersihkan tubuhnya dari daun-daun yang menempel di bajunya. Tanpa ia sadari Kija langsung memegang tangannya dan menuntunnya ke arah tenda yang sudah disiapkan oleh Ryoji.
"Mereka anak-anak yang manis ya, Ao." Ucap Ryoji melihat Kija dan Shin-Ah yang sudah memasuki tenda. Ao hanya diam sambil menutup wajahnya dengan tangannya.
"Ao? Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?" panggil Ryoji khawatir melihat tidak ada respon dari Ao.
Ao kemudian menatap Ryoji kesal. "Kau tahu? Aku hampir saja mati karena anakmu!"
"hah?" Ryoji menatap Ao bingung dan linglung.
Ao mendengus sebal lalu berjalan mendahului Ryoji yang sedang mematung memikirkan apa yang baru saja dikatakannya.
"Oh, ya Ryoji. Selamat malam."
"Menyebalkan!" ucap Ryoji yang merasa kesal karena sudah dipermainkan oleh ucapan Ao dan kemudian meninggalkan tempat ia berdiri saat ini.
Sambil berbenah untuk tidur, Ao menatap bintang di langit malam. Sebuah senyuman kecil tampak di wajahnya. Perlahan matanya tertutup lelap.
~O~
Di atas tebing, seseorang bernyanyi merdu menghadap rembulan terang yang bersinar di langit dan burung yang terbang kembali ke sarangnya.
Aku akan kembali
Bersama mimpi dan juga harapan
Memulai cerita dan mengakhiri cerita bersama-sama
Jadi, tunggulah...
Aku akan kembali
.
.
TBC
Sorry, kalo update nya kelamaan ( 2 tahun bukan lama lagi lho ==")
Mylevi baru sembuh total dari kerusakan yang tak sengaja terjadi (sebenernya kebanyakan males dan pas mau nulis lagi keburu rusak :p)
Dan maaf juga kalo kependekan. Feel ceritanya memang sengaja dibuat segitu :p
Ditunggu REVIWSnya ya, minna.
See you in the next chapter
