Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

Happy Reading!

.

.

"Boleh gabung?" tanya Sasuke.

"Ya, lagipula kau sudah meletakkan gelasmu di sini, kan?" gumam Sakura sambil mengaduk minumannya.

"Huh?"

"Oh, tak apa. Aku cuma bicara sendiri. Tentu saja kau boleh di sini." Dalam hati Sakura menepuk jidat menyesal. Dia yakin Sasuke tersinggung pada sambutan bodohnya tadi. Sakura jelas tidak sopan pada seniornya itu dan hampir menjatuhkan citra baiknya sendiri.

Mereka berdua pun duduk dalam diam, sambil sesekali menyesap minuman masing-masing. Sasuke melihat jam tangannya sebelum berdehem, memecah keheningan di antara mereka.

"Bukankah kau harus kembali ke studio?"

"Ya, Naruto memang menyuruhku istirahat. Sebenarnya aku memang sebelumnya berniat memesan dengan cup take-out supaya langsung kembali…"

"Lalu kenapa tidak jadi?"

"Ya..." Sakura menggantung kalimatnya, ragu jika harus mengatakan yang sebenarnya. Yah, memang tidak salah jika Sasuke mengetahuinya.
"Jangan tertawa, tapi…" Sakura pun menjelaskan seisi adegan dimana dia berjalan menuju café. Tidak lupa tingkah parnonya saat merasa diikuti sampai alasan dia lebih memilih pesan minuman yang diminum di café. Di akhir cerita, Sasuke tertawa lepas, seakan-akan tidak pernah tertawa sebelumnya.

"Aku bilang jangan tertawa!" seru Sakura pada Sasuke yang mulai berhenti tertawa dan menyeka air mata tawa.

"Maaf, maaf. Tapi itu terlalu lucu." Sasuke tersenyum membuat Sakura merasa sesuatu terbang di dalam perutnya.

Sakura meluruskan kursinya dan tetap mencoba menyeruput minumnya dengan tenang.

"Hey, senpai, kau baru saja putus kan?" tanya Sakura tiba-tiba, membuat Sasuke tersedak.
"Ya ampun, maaf." Sakura langsung panik. Sasuke pun memasang gestur terbatuk, mencoba meyakinkan gadis di depannya kalau dia baik-baik saja.

Salah Sakura juga bertanya begitu. Seolah Sakura cukup mengikuti perkembangan isu cinta Sasuke di infotainment. Tidak bisakah dia bertanya apakah Sasuke pernah berpacaran sebelumnya?

Sasuke berdehem sekali lagi dan menatap Sakura.
"Well, untuk menjawab pertanyaanmu; ya."

Sakura mengangguk, sebagaimana menerima jawaban yang dia harapkan.

"Dan setelah kau dan perempuan itu putus, apakah kau pernah merasa seperti kau ingin dia kembali?"

Sasuke menatap Sakura intens, penasaran ke arah mana pembicaraan ini berlanjut. Pemilik manik onyx itu mengernyitkan dahi.
"Bagaimana kau tau kalau orang itu adalah perempuan?"
Sakura membulatkan matanya bersamaan dengan pipinya yang bersemu merah. "Aku tidak tau kalau kau adalah… Maksudku, maaf aku… Oh ya ampun…"

Sasuke menyeringai menahan gelak, dia benar-benar bisa melihat betapa lucunya Sakura. Sakura menatapnya sebentar sebelum menyadari pemuda itu menyampirkan anak rambut Sakura entah kenapa.

"Ka-kau! Ma-maksudku, beberapa detik yang lalu aku pikir kau seorang gay, ya ampun." Sakura tergagap. Dia malu atas perlakuan pemuda di hadapannya, namun juga lega karena pemuda itu masih normal. Jadi dari tadi Sasuke bercanda soal mantannya yang bukan perempuan.

Sasuke melepas tawa sambil meraih gelasnya dan meminum isinya hingga habis. Menjilat bibirnya yang dilekati busa cappuccino. Sakura memandang ke arah lain, entah kenapa aksi pemilik manik onyx itu membuatnya merasa aneh.

"Ya, bukankah setiap orang menghormati akhir dari setiap hubungan?" Sasuke menatap kaca jendela, melihat sejauh mana tempat ini dari jalan besar.

"Yah, mana kutahu. Aku tidak pernah mengencani siapa pun," gumam Sakura pelan. Cukup pelan hingga membuatnya seolah sedang bicara sendiri.

Sasuke langsung menoleh memberi tatapan tidak percaya.
"Tidak pernah? Bohong."

Sakura hanya terkekeh. Kemudian, dijelaskannya peraturan KG Ent. yang tidak pernah membiarkannya berkencan berapa kali dia minta.

"Tapi pasti kau punya kan laki-laki baik di sekitarmu, yang membuatmu jatuh cinta mungkin. Bagaimana ya? Ya tentu mustahil perempuan secantik kau tak pernah jatuh cinta." Komentar Sasuke membuat Sakura merona.
"Tidak sepertiku yang dari awal selalu…" Sasuke tersenyum kecut. Matanya hanya menatap gelas kosong.

'Kesepian?' tebak Sakura dalam hati.

Ya begitulah. Menjalani masa training untuk menjadi artis yang terus bersinar memang tak mudah. Khususnya Sasuke yang mengikuti masa pelatihan mulai dari kecil. Di saat anak-anak lain bebas bermain selepas sekolah, Sasuke harus berlari mengejar waktu latihannya di gedung agensi. Semakin ingin kau cepat debut dan bersinar, semakin panjang masa trainingmu. Sasuke mengorbankan masa muda yang harusnya untuk mengenal teman dan cinta. Masa mudanya habis dikubur dalam untuk memanen buah manis di masa depan. Makanya Sasuke debut lebih dulu dan disebut musikus senior walau oleh artis lain yang sebayanya sekali pun.

Sakura tertawa merespons komentar Sasuke walau ada kalimat yang masih menggantung. Namun Sasuke bisa melihat tanda kesedihan dan empati dari mata hijau yang tak mungkin berkhianat. Sakura mengerti perjuangannya, itu yang dapat Sasuke simpulkan. Sasuke juga sama. Sasuke tahu pasti sulit bagi Sakura tiap dihadapkan tuntutan agensi. Tanpa aba-aba, Sasuke meraih tangan gadis itu dan menggenggamya erat. Pada dasarnya mereka sama. Dan Sasuke berniat membuat gadis itu merasa nyaman.

Sakura melihat ke arah tangannya, dia kaget. Sebelum tersenyum dan melepas genggaman Sasuke, dia balas genggaman itu pelan.
"Terimakasih, tapi aku baik-baik saja, sungguh. Ayo kembali ke pertanyaanku, akankah kau berharap dia kembali? Bisakah kau memberitahuku? Maaf, aku tak bermaksud ikut campur. Aku tau pasti sulit membawa kembali emosi lama tapi aku sedang punya masalah dengan satu lagu. Dan aku tidak mengerti cara membawa emosi yang benar untuk menyanyikannya…" Sakura bicara tak karuan lantaran frustasi.

Sasuke berpikir sejenak.
"Ehm, begini, ini seperti kau menghabiskan banyak waktumu yang berharga untuk merawat bunga matahari yang cantik. Dan karena kau menyukainya, kau ingin bunga itu menjadi milikmu, benar-benar milikmu. Jadi kau memetiknya. Dan untuk beberapa lama bunga itu membuatmu kagum. Selalu merasa hebat karena memiliki bunga itu bersamamu. Tapi, setelah beberapa lama, bunga itu mulai layu, kelopak indahnya mulai rontok. Bunga itu pun mati, hancur. Kau sangat berharap bunga itu kembali seperti sedia kala, secantik sebelum kau memetiknya. Jadi kau menguburnya di tanah, berharap tunas kecil akan tumbuh dari sana. Berharap seseorang kembali padamu, bukankah lebih baik mengambil satu langkah menuju tujuanmu? Menonton film yang sama dua kali tak akan membuat endingnya berubah kan?"

Sakura menatap Sasuke setengah menganga.
"Wah, senpai. Aku tidak tau kau sebijak itu."

Sasuke memutar bola mata bosan.
"Berhenti memanggilku 'senpai'. Itu membuatku terlihat tua. Panggil nama saja."

Sakura mendengus.
"Tidak, terimakasih. Daripada panggil nama sepertinya lebih baik pakai embel-embel 'san'," tawarnya.

Sasuke mengangguk pasrah, lalu mengeluarkan ponselnya. Sakura menatap intens, penasaran. Sakura baru akan bertanya sesuatu jika saja Hidan tak muncul dan menegur mereka.

"Maaf, kalian. Tapi kami harusnya tutup setengah jam lalu."

Sakura melihat jam di ponselnya. 02:30, Naruto pasti menunggu. Mereka tidak sadar sudah berapa lama mereka di sana dan dengan segera mereka pamit meninggalkan café. Sasuke merenggangkan kedua lengannya sambil berjalan bersama.

"Jangan khawatirkan Naruto, aku tadi mengirimnya pesan kalau aku akan mengantarmu agak terlambat."

.

.

.

"Sakura-san, aku tidak berpikir kalau bisa mengenalmu. Maksudku, bukan sekedar mengenal dari tv. Menurutku tidak buruk juga kalau kita jadi lebih dekat." Sasuke berujar santai. Apakah ini kode?

"Ya, kalau begitu jangan panggil aku dengan suffix formal," ujar Sakura yang memandang Sasuke yang mencolok earphonenya ke ponsel.
"Apa yang sedang kau dengar?" Sakura yang belum lepas dari memandang Sasuke dari atas sampai ujung kaki mulai penasaran.

"Oh, ini lagu yang sedang aku buat. Hampir selesai, tapi ada sedikit yang kurang walau belum tau apa." Sasuke memasang earphonenya di telinga Sakura, memperdengarkan lagu barunya. Kebetulan lampu lalu lintas merah jadi mereka menjeda langkah kaki mereka. Jeda perjalanan mereka berlangsung hening, mereka berdua tau kesempatan jumpa antara mereka akan segera berakhir. Dan keduanya merasa sedikit menyesal mengingat waktu perjalanan yang dirasa sebentar, walau mereka sendiri tak tau atas dasar apa rasa penyesalan itu.

TBC

A/N:

Terimakasih banyak Nurulita as Lita-san, caraswift, Gita267, adora13, raizel's wife, Miinami, & Nanau10 yang balasan review chapter lalunya ada di PM. Makasih juga readers yang ikutin ff ini dengan fav/fol.

Ini SasuSaku keduaku, ooc gak? Aku kalo nulis cerita gak diliat dulu buat char apa, kalo ceritanya udah ada, baru dicocokkin buat pair mana. Makanya ff yang kubuat pairnya gak pernah tetap. Semoga SasuSaku cocok dimainkan dalam cerita ini. Dan semoga chapter ini tak mengecewakan.

Thanks for Reading!