"Hyung?"

Saat ini Jaemin dan Mark sedang berjalan berdampingan di sebuah kawasan perumahan.

"Apa?" balas Mark sekenanya. Pandangan matanya tetap lurus kedepan.

"Kaki ku pegal," keluh Jaemin dengan mata yang memelas, namun sayang tidak dilihat oleh Mark.
Perumahan ini sangat besar serta luas. Sebenarnya Jaemin sering bermain ataupun sekedar berkunjung ke rumah Mark, namun meski begitu, ia tetap kesulitan menghafal dimana rumah Hyung-nya itu. Jaemin hanya ingat blok-nya, yaitu Blok F dan sebuah pohon maple yang tumbuh subur di perkarangan rumah Mark.

"Baru jalan beberapa meter saja sudah mengeluh. Kau namja bukan?" Pertanyaan mengejek Mark disambut kerucutan bibir oleh Jaemin.
Memangnya seorang namja tidak boleh mengeluh?,omel Jaemin dalam hati.

"Kau mengejekku?"

Mark memilih mengabaikan, namja itu berkata, "Sudahlah,aku sedang tidak ingin berdebat. Lagipula jaraknya tidak jauh lagi. Sebentar lagi juga sampai."

" 'Tidak jauh' versimu itu bisa dua ratus meter lagi Hyung!" Gerutu Jaemin dan hanya dibalas kekehan Mark.

.

Mereka berdua sudah sampai di depan sebuah gerbang besar berwarna hitam dengan ujung-ujungnya yang terlihat lancip. Sekitar enam meter dari tempat Mark dan Jaemin berdiri, terdapat sebuah rumah cukup mewah yang dicat dengan warna cokelat tua,muda,dan cokelat pastel. Ada sebuah taman dan kolam kecil di samping rumah itu. Jaemin ingat pernah memberi makan ikan-ikan dalam kolam tersebut.

Setelah membuka pintu gerbang, dua namja berseragam kuning itu langsung masuk kedalam.
Jangan tanyakan kenapa bukan satpam yang membukakan pintu, karena Mark bisa melakukannya sendiri.

"Bibi! Aku datang!" suara Jaemin menggema didalam rumah besar tersebut. Rumah itu sangat besar dan juga sangat sepi, berbeda dengan rumahnya yang meskipun tidak sebesar rumah Mark, tetapi banyak orang orang hangat didalamnya.
Pikiran seperti, 'pasti Mark hyung sering kesepian' sering berseliweran di kepala Jaemin.

Derap langkah seseorang mendekat. Seakan tau, Jaemin pun berjalan mendekatinya. Dan tiba-tiba saja pelukan super maut menimpa tubuhnya.
Urgh ia tidak pernah dipeluk seerat ini oleh ibu-nya sendiri.

"Akhirnya kau datang juga! Bibi sudah menunggu-nunggumu sedari tadi. Setiap kali bibi menyuruh Mark untuk membawamu kemari, dia selalu bilang kalau kau sedang sibuk karena banyak tugas sekolah. Benar begitu?"

Jaemin mengangguk disertai senyuman lebar yang terus terpasang sejak tadi. Ia cukup merasa senang karena kehadirannya ditunggu-tunggu. Dan ocehan bibi Lee yang entah kenapa mirip dengan Mark, membuatnya terus terkekeh dalam hati. Mungkinkah karena mereka ibu dan anak?

"Benar,Bi! Akhir-akhir ini tugas sekolah menumpuk. Dan aku harus super sibuk untuk menyelesaikannya. Untung saja Mark hyung terkadang membantuku!"

"Kalau itu sih memang Bibi yang menyuruhnya." Bibi Lee merangkul pundak Jaemin yang lebih tinggi darinya itu untuk menuju ruang tamu, lalu wanita tersebut menyuruh Jaemin duduk di sofa. Sedangkan ia sendiri pergi ke dapur untuk membuat minuman.

Jaemin duduk bersandar di sofa putih itu. Merasa nyaman karena ia sudah menganggap rumah ini sebagai rumahnya sendiri.
Tiba-tiba seseorang meloncat dari balik sofa lalu duduk disamping Jaemin. Menyalakan televisi dan memakan sebuah snack.

"Hyung!"

"Kenapa?"

"Mengaggetkanku saja! Kenapa kau sudah ganti baju saja? Sejak kapan?!"

Mark melirikan matanya sekilas, lalu kembali fokus pada televisi yang sedang menayangkan acara musik Show Champion.

"Sejak kau dan ibuku 'melepas rindu'" balas Mark dengan penekanan pada kalimat 'melepas rindu'.
Jaemin cemberut. Entah kenapa jawaban yang terkesan cuek itu membuatnya kesal.
Tetapi, baru saja ia ingin memprotes, bibi Lee sudah kembali dengan sebuah gelas ditangannya.

Wanita itu dengan santai memukul kaki Mark yang menghalangi jalannya. Tentu saja dibalas gerutuan dari sang empunya kaki.

"Kau pasti haus kan? Ayo diminum, bibi membuatkannya spesial untukmu!" ucap bibi Lee pada Jaemin.

"Spesial apanya? Hanya sirup biasa!" Celetuk Mark yang disambut lirikan maut dari sang ibu.

"Aku minum ya bi!" Jaemin menenggak air itu hingga hanya tinggal setengah. Jujur, dia memang sedang haus. Berjalan ke rumah Mark pada siang hari, membuat dehidrasi datang dengan cepat.

Setelah itu, obrolan-obrolan kecil menjadi kegiatan utama di rumah besar tersebut. Obrolan yang diselingi candaan antara Jaemin dan bibi Lee, sedangkan Mark hanya menjadi pendengar setia meskipun pandangan matanya seolah-olah terfokus pada benda tipis di depannya.

Seakan teringat sesuatu, Mark bangun dari duduknya dengan cepat disertai ucapan yang cukup keras. Membuat Jaemin dan bibi Lee berhenti tertawa. Sorotan aneh terlihat dimata mereka ketika menatap Mark.

"Jae!" seru Mark. Jaemin menekuk sedikit dahinya, lalu membalas, "Kenapa sih hyung?"

"Ikut aku! Ayo!"

Jaemin terlonjak kaget ketika tangannya ditarik. Manaiki tangga dengan tergesa-gesa, sedangkan suara bibi Lee yang mengomeli Mark terdengar dibawah sana.

Cklik (sfx pintu :3)

"Kenapa ke kamarmu,hyung?" tanya Jaemin ketika mereka sudah di dalam kamar Mark yang didominasi warna hitam dan putih.

"Aku butuh bantuanmu," Mark berjalan mendekati meja belajarnya lalu mengeluarkan seseuatu dari dalam laci yang ada disana. Setelah ia berbalik, dua benda yang diambil tadi, ia angkat tinggi-tinggi. Cengiran lebar juga terpasang diwajahnya.

"-bantu aku bermain game ini!"

Efek blink-blink akibat melihat dua cd game yang dipegang Mark, membuat Jaemin terlihat seperti seekor kucing yang baru saja menemukan daging ayam dengan ukuran jumbo.

Tanpa berfikir panjang, namja muda itu langsung menyetujuinnya sambil mengangguk mantap.

Awalnya mereka bermain dengan sangat semangat disertai antusias yang tinggi. Tombol-tombol pada josytick yang dipegang masing-masing, seolah-olah sedang merintih kesakitan akibat ditekan terlalu kencang oleh kedua namja tersebut.
Namun kemenangan berturut-turut Jaemin, membuat semangat Mark turun. Bagaimana bisa ia kalah telak berkali-kali?!

Namja blasteran itu akhirnya memilih membaringkan tubuhnya dengan paha Jaemin sebagai bantalnya.
Merasa beban di pahanya, Jaemin menunduk, dan detik itu juga, rasa gugup menjalar keseluruh tubuhnya.

Deg

Deg

Deg

'Apa ini?!' batin Jaemin ketika merasakan dentuman keras dari dalam rongga dada kirinya. "Hyung-"

"Punggungku sakit karena terlalu lama duduk. Aku pinjam sebentar paha-mu ya!" Mark berucap cepat. Memotong ucapan Jaemin yang ia yakini ingin memprotes.

Cukup lama Jaemin terdiam karena terlalu fokus pada sesuatu yang menjalar di dadanya. Namun kemudian, ia mengangguk lalu kembali bermain dengan rasa canggung yang entah dari mana datangnya. Kecanggungan yang hanya dirasakan oleh Jaemin.

.

.

.

Tbc

Ini langsung publish lagi buat ganti kesalahan yang kemarin :'v