Pagi itu suasana di Seoul Performing Art School sangat ramai oleh siswa-siswa berseragam kuning yang merupakan ciri khas dari SOPA-sebutan beberapa orang untuk sekolah tersebut.
Mereka memenuhi lapangan outdoor, taman dan sepanjang lorong kelas. Sekedar memgobrol biasa sambil menungu bel masuk berbunyi.
Donghyuk sedang merapikan beberapa alat pratikum di lab IPA ketika seseorang datang dengan langkah bagaikan seorang tentara. Menghentak-hentak dengan cukup keras. Namja itu mengalihkan pandangannya ke arah orang tersebut, namun ketika tau siapa, Donghyuk memilih mengabaikannya dan melanjutkan acara merapih-rapihkannya.
"Menyebalkan!" orang yang baru masuk itu menggerutu. Membuat Donghyuk kembali memperhatikannya. "Kenapa, Jae? Pagi-pagi sudah mengomel. Cih!'
Seseorang yang ternyata Jaemin itu menatap Donghyuk gusar. "Aku diomeli ibuku!"
Setelah meletakan mikroskop kedalam lemari kaca dan memastikan bahwa semuanya sudah tertata rapi, ia berjalan mendekati Jaemin. Menarik kursi dan duduk di sampingnya.
"Biar kutebak! Pasti telat pulang kan?" ia terkekeh setelah mengatakannya. Sudah cukup tau dengan kebiasaan Jaemin yang suka lupa waktu untuk pulang ke rumah.
"Ck! Kenapa wanita itu selalu menganggapku seperti anak kecil! Aku kan sudah kelas satu SMA!"
Kau memang masih kecil,Jae. Pikir Donghyuk.
"Yuta hyung yang suka pulang larut malam saja tidak diomeli!"
Nafas panjang dihembuskan oleh Donghyuk. Mempunyai teman yang tingkahnya saja mirip seperti anak SD, cukup menyebalkan.
Donghyuk dengan lengan ringannya, memukul kepala Jaemin dari belakang.
"Yuta hyung kan sudah dewasa." ucapnya datar tanpa memperdulikan celotehan Jaemin yang mengomelinya.
Rasa nyeri di belakang kepalanya, ia usap dengan perlahan. Tatapan tajamnya yang sedari tadi terpasang, memandang Donghyuk geram. "Tapi tetap saja-"
"Sudahlah Jae, ini masih pagi... jangan sampai guru kedisiplinan datang memarahi kita!" Kedua bola mata Jaemin berputar, terlalu lelah untuk mengomeli Donghyuk yang hobi menyela ucapannya.
"Aku sudah kebal dengan guru itu!"
"Kau kan memang pelanggan setianya." Donghyuk tertawa ketika ekspresi Jaemin kembali berubah kecut. "Oh iya Jae, omong-omong soal Yuta hyung, kenapa kalian bisa sangat akrab? Bukankah-"
"Kyaaaa!"
"Oppa! Look at me,pleaseeeee!"
"Choi Hansol aku padamu!"
"He's so handsome, is'nt he!?"
Keributan dari luar ruangan mengusik Donghyuk dan Jaemin. Mereka saling tatap dan tanpa kesepakatan terlebih dulu, dua siswa yang sedang di dalam laboraturium tersebut segera berjalan keluar. Walaupun itu tak perlu dilakukan. Karena siapa lagi yang bisa menghasilkan pekikan-pekikan para siswi, selain Choi Hansol atau yang biasa dipanggil.. Vernon?
Choi Vernon, namja asal New York Amerika Selatan itu bagaikan seorang model di SOPA. Kemanapun ia pergi,selalu saja ada yang menyapa disertai pekikan-pekikan para siswi jika ia mengedipkan sebelah matanya ke mereka.
Bahasa Koreanya cukup fasih karena ia sudah tinggal di negeri gingseng ini cukup lama.
"O-oppa... ini-"
Jaemin dan Donghyuk sudah membaur dengan beberapa siswa yang entah sejak kapan sudah berkumpul, mengeliling Vernon dan seorang gadis yang pipinya terlihat bersemu.
Koridor yang tadinya lenggang, kini berubah menjadi padat.
Jaemin mendekatkan mulutnya ke telinga Donghyuk, dan berbisik pelan, "Donghyuk-ah, kita taruhan. Menurutmu, si Hansol itu akan menolaknya dengan halus, atau tidak?"
"Kalau dilihat dari tatapannya, dia tidak akan menerima maupun menolak. Kemungkinan besar, si Hansol itu akan mengabaikannya." jawab Donghyuk sambil berbisik pula. Jaemin menjepit dagu menggunakan jarinya. Gayanya sekarang sudah seperti seorang detektif yang sedang mencoba memecahkan kode-kode rahasia.
Lebay sekali.
"Jadi intinya ia akan menolak dengan halus, begitu?" Donghyuk mengangguk. "Baiklah coba kita lihat nanti."
Gadis yang pipinya bersemu tadi, menyodorkan sebuah surat ber-amplopkan merah muda cerah. Mungkin itu cerminan dari suasana hatinya saat ini.
Bisikan-bisikan yang didominasi para siswa itu, membuat Vernon menghela nafas panjang. Mungkin ia sudah bosan mendengarnya.
Bola mata beriris cokelat terang berputar ke samping, namun kemudian kembali menatap kedepan.
Gadis itu masih menatapnya dengan berharap-harap cemas agar surat yang dibuatnya akan diterima Vernon.
Selangkah maju, Vernon mengambil surat tersebut menggunakan tangan kanannya. Sedangkan yang kiri, ia selipkan ke kantung celana.
"Kim Yeri, kan?" bahasa Korea dengan logat Amerika itu mengalun di koridor yang kini sudah lebih tenang dari bisikan-bisikan para siswi. Gadis bernama Yeri itu mengangguk cepat. Kacamatanya yang melorot, ia naikan menggunakan jari tengahnya.
Srak!
Mata yang berbinar tadi langsung mengeluarkan sorotan sendu dan kaget. Para siswa yang berkumpul juga merasa terkejut.
Yeri merasakan nyeri di dada kirinya saat melihat surat yang sudah susah payah ia buat, malah dengan mudahnya dirobek menjadi serpihan-serpihan kecil oleh Vernon, bahkan namja itu belum membaca isinya. Gadis itu merasa matanya memanas.
Vernon dengan santainya menjatuhi robekan kertas tersebut ke atas kepala Yeri. Membuat benda itu jatuh ke lantai dengan perlahan dan sebagian menempel di rambut Yeri.
Vernon mengangkat sebelah tangan, memberi gestur kepada dua orang temannya yang berada di dibelakang untuk pergi dari situ. "Mingyu, Seungkwan, ayo kita kembali ke kelas." ucapnya yang diangguki oleh temannya tersebut.
Beberapa siswa, termasuk Donghyuk dan Jaemin memandang Yeri dengan pandangan prihatin.
Yeri dengan cepat membalikan tubuhnya dan mengejar Vernon yang sudah berada beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Gadis itu memeluk lengan Vernon dengan amat kencang, membuat sang empunya merasa terganggu. "Tunggu sebentar opp-"
Vernon menghempaskan tangannya dengan kasar. Membuat Yeri melepaskan tautannya dan terjatuh dengan bunyi bedebum yang keras.
Gadis itu menunduk, tak ingin air matanya dilihat oleh para siswa lain.
"Kenapa?" lirihnya.
"Kenapa? Kau tanya kenapa? Bukankah cukup jelas? Kau bukan tipeku!" ucapan pedas itu membuat Yeri semakin sesak.
Melihat adegan dramatis itu, Jaemin tanpa sadar menggumamkan kalimat yang membuat Donghyuk harus mengorek kupingnya sendiri. Takut-takut ia salah dengar.
"Cih! Jika dibandingkan dengan Mark hyung, jelas Mark hyung yang lebih keren!"- Jaemin.
"Hah?"-Donghyuk.
"T-tapi bukankah waktu itu kau mengatakan kalau kita cocok?! Kenapa sekarang-"
"Tch semua yeoja memang sama saja! Terlalu lemah hanya dengan rayuan seperti itu!"
Yeri kembali bangkit, dan lagi-lagi menarik-narik lengan Vernon.
"Kau- KAU BRENGSEK!" bentakan yang cukup nyaring itu membuat para siswa terkejut untuk kedua kalinya.
Vernon memandang tajam Yeri, emosinya tersulut dengan cepat.
"Kau bilang aku apa?!"
Gadis itu sudah menutup matanya ketika Vernon mengangkat tinggi-tinggi tangannya. Ia sudah siap merasakan panas jika telapak tangan itu akan mendarat di pipinya.
Namun...-
GRAB
"Apakah ini caramu memperlakukan seorang yeoja? Kau namja kan?"
Mata Jaemin membulat ketika melihat Mark yang menurutnya seperti pahlawan kesiangan itu, sedang menggenggam pergelangan tangan Vernon. Mengakibatkan tangan tersebut tak jadi mendarat di pipi Yeri.
"Si bodoh itu kenapa ikut campur segala?!" umpatnya kesal.
Vernon menarik kembali tangannya, lalu berdecih remeh saat memandang Mark. "Siapa kau? Berani sekali denganku!"
"Memangnya kenapa aku harus takut padamu? Kau bukan Tuhan ataupun guru kedisiplinan yang galak itu." Mark membalasnya santai, membuat Vernon mengeraskan rahangnya.
Jaemin ingin tertawa ketika perkataan itu terucap lancar dari Mark, namun sikutan keras mengenai telak tulang rusuknya. Merasa tak terima, ia menatap tajam Donghyuk yang dibalas tatapan 'bukan waktunya untuk tartawa' oleh teman sekelasnya itu.
"Kau menantangku?!"
"Tidak. Aku tidak menantangmu."
Vernon yang emosinya sudah diujung kepala, langsung mengangkat tangannya kembali. Mengarahkan kepalan tangannya itu ke arah tulang pipi Mark, menghantamnya dengan sangat keras.
BUK!
Beberapa siswa panik dan memekik histeris melihat adegan saling pukul yang dilakukan Mark dan Vernon. Meskipun awalnya Mark hanya diam, namun ketika wajahnya dua kali mendapatkan pukulan telak, saat itulah emosinya tersulut. Namja itu akhirnya membalas setiap pukulan yang diarahkan padanya.
BUK!
Mark meninju perut Vernon hingga sang empunya terbatuk-batuk.
"Brengsek!" kembali ia menghantam sudut bibir Mark. Menyebabkan bagian itu robek dan mengeluarkan sedikit darah.
Jaemin yang sudah jengah melihatnya, tanpa berfikir panjang langsung ingin mendekati kedua siswa yang sedang adu kekuatan itu. Namun tarikan pada lengannya membuat ia menoleh. Donghyuk menggelengkan kepalanya, "Jangan, Jae! Nanti kau bisa kena masalah juga! Sebaiknya kita panggil guru Shin!"
Jaemin mengangguk dan kemudian ia bersama Donghyuk berusaha keluar dari kerumunan siswa-siswa itu berniat untuk melaporkan kejadian ini ke guru kedisiplinan yang terkenal sangat galak tersebut.
Namun sebuah derap langkah yang terburu-buru disertai ketukan tongkat yang menghantan lantai, membuat Jaemin dan Donghyuk berhenti. Mereka berbalik badan dan melihat para siswa yang tadi membentuk lingkaran, kini sebagian sudah bergerak menepi, seakan memberikan jalan bagi sang guru killer yang wajahnya terlihat murka.
"HENTIKAN!" bentak guru itu ketika melihat dua muridnya yang masih berkelahi. Pria itu berjalan mendekat. Tiap langkah yang ia buat, membuat bulu kuduk seluruh siswa berdiri.
Tongkat kayu yang selalu ia bawa tersebut, langsung diarahkan ke masing-masing bokong Mark dan juga Vernon. Pukulan itu mungkin sangat sakit, karena suara yang ditimbulkan pun sangat keras. Namun hal itu berhasil menghentikan perkelahian dua namja tampan tersebut.
Wajah mereka sudah lebam dibeberapa bagian, dan pakaiannya pun sudah teramat acak-acakan. Membuat sang guru kedisiplinan lagi-lagi mengeram marah.
"KALIAN BERDUA PERGI KE RUANGAN SAYA SE-KA-RANG!-" guru itu mengalihkan tatapan tajamnya ke arah para siswa yang masih berkumpul, "-dan kalian semua, cepat masuk ke kelas masing-masing!"
.
Tbc
Dikit ya?
Aku mah emang begini kalo bikin ff berchapter :'v
Di wattpad aja belum kelar-kelar ini ff.
Review?
