Paginya, ketika dirinya terbangun dari tidurnya dan mendapatkan pesan dari Hansol-Hyung; "Maaf Jaemin-ah, hari ini Hyung tidak bisa mengantarmu pergi sekolah, tidak apakan jika kau naik bus? Jika terjadi sesuatu beritahu Hyung. Hyung mencintaimu."
Jaemin tersenyum, kemudian ia mengetik membalas pesan tersebut: "Tidak apa, Hyung. Lagi pula aku sudah merasa sehat kembali. Dan nanti sepulang sekolah aku langsung bekerja."
Ia berjalan menuju kamar mandi, bersiap-siap untuk pergi ke sekolah dan mengabaikan pesan terakhir dari Hyung-nya itu. Saat semuanya sudah selesai dan rapi, ia berjalan keluar flat, turun dengan lift, dan jadi patung di depan flatnya. Jeno, dengan segala ketampanannya sudah berada di depan bangunan flatnya. Dengan gaya bertumpu pada motor besarnya pemuda itu jadi di lihatin banyak orang. Tak terkecuali gadis-gadis yang kebetulan lewat di depan flatnya. Mampu membuat mereka tersipu malu ditatap balik oleh Jeno. Ia jadi sedikit risih, dan dengan segala keberanian yang ia punya. Ia menyerukan pemikirannya.
"Jeno-shi, jika kau merasa bersalah karna kejadian yang menimpaku waktu itu, kau tak perlu jadi seperti ini. Aku sudah memaafkan segala perbuatan yang pernah kau lakukan padaku. Aku mohon kau tidak perlu melakukan sampai sejauh ini. Jadi kita bisa berteman dengan baik."
Terakhir, ia menghela nafas lega. Tapi Jeno hanya tersenyum membuat Jaemin menyatukan alisnya.
"Yasudah, karna kita berteman makanya aku menjemputmu." Jaemin membolakan matanya,
"Tap—
"Naiklah!" Jeno melemparkan helm yang dikenanya kemarin, dan mau tak mau ia menuruti ajakan yang sebenarnya perintah dari Jeno. Ia menggeram untuk pertama kali dalam hidupnya.
Tidak sampai di situ, sampai di sekolah Renjun terus memberinya pertanyaan yang sebenarnya berulang-ulang. Membuatnya ingin menjambak rambutnya sendiri.
"Kenapa bisa?"
"Apa yang terjadi?"
"Apa yang di lakukannya?"
Bukan hanya Renjun, semua tatapan di kelas tertuju padanya. Ia tidak mengerti kenapa Renjun bisa secerewet ini padanya. Dan Jaemin hanya menjawab seadanya, membuat teman-temannya yang lain mendesah kecewe ketika ia bilang,
"Entahlah." Kenapa anak itu tiba-tiba saja sudah ada di depan flatnya.
Tidak ketika mau pergi saja, jam istirahatpun Jeno sudah berada di depan kelasnya. Semua orang menatap tertuju kearahnya. Jeno sudah menarik lengannya, membawanya pergi ke tempat dimana semua orang tidak dapat menemukan mereka. Atap gedung. Dan lagi, pemikirannya ingin menyerukan sesuatu.
"Jeno-shi, jika kau menggunakanku sebagai pengalihan agar Renjun mau berpaling darimu, aku rasa itu percuma. Karna Renjun sekarang sudah memiliki kekasih." Ini baru. Baru diberi tahu Renjun tadi ketika ia sampai di kelas setelah selesai dengan pertanyaannya.
Tapi wajah di depan sana hanya menampakkan wajah datarnya. Sempat terdengar dengusan keluar dari bibir tipisnya. Lalu menatap Jaemin dengan tajam.
"Dengar Na Jaemin. Aku sama sekali tidak melakukan hal yang kau pikirkan di kepalamu itu. Hal yang kulakukan ini untuk berteman denganmu dan tidak ada bermaksud jahat di dalamnya, semua ini murni karna aku ingin berteman denganmu."
Dan ya! Jeno membuktikannya selama seminggu penuh ini. Selalu menjemputnya ketika ia ingin pergi sekolah, dan mengantarnya ke tempat kerja ketika pulang sekolah. Lalu menjemputnya lagi ketika jam kerjanya usai. Dan demi apa mereka menjadi dekat. Bahkan Jeno mampu mengalihkan atensinya ketika dirinya sedang berbicara dengan Renjun. Awalnya sih sedikit risih, dan sekarang semakin risih ketika mereka menjadi teman dekat. Beberapa minggu berteman dan Jeno mau tinggal bersamanya.
Tinggal bersamanya?
Tinggal,
Bersama—
—Nya!
Jaemin hampir saja menjatuhkan bola matanya ketika pertama kali mendengar penuturan tersebut. Meninggalkan (sebenarnya tidak meninggalkannya secara permanen) seluruh kehidupan mewahnya dan hidup sederhana bersama dirinya? Pasti dia bercandakan? Nyatanya tidak, pemuda itu serius dengan ucapannya. Sekarang seluruh sekolah mempertanyakan hubungannya bersama Jeno.
Jaemin menghelas nafas dengan keseriusan Jeno untuk tinggal bersamanya. Benar-benar niat untuk tinggal bersamanya. Berdiri di depan pintu dengan membawa koper besar yang jumlahnya ada tiga. Oh satu hal lagi! Karna mereka sudah berteman, adegan skinship sudah sering terjadi. Ia baru tahu kalau ternyata Jeno suka dengan skinship. Pemuda dengan eyesmile itu tidak segan-segan memeluknya jika sedang tertawa bahagia. Dan itu semua di lakukan di depan publik. Jadi tidak masalah jika mereka nanti akan seranjang, lagi pula itu hal yang biasa karna sebelum pemuda itu memutuskan untuk tinggal bersamanya, pemuda itu sudah pernah beberapa kali menginap di flatnya.
Jaemin tidak tahu apa yang telah ia perbuat pada Jeno, ia sama sekali tidak melakukan apapun. Pemuda itu sendiri yang mau tinggal bersamanya, mengubah gaya hidupnya. Bayangkan saja anak orang kaya, yang dimana ayahnya adalah pemilik perusahaan di bidang otomotif terkenal seantereo negara, tiba-tiba saja hidup bersama dengan Jaemin. Yang notabennya berada jauh di bawah selera hidup Jeno. Tapi mau bagaimana lagi? Pemuda itu meninggalkan rumahnya dengan alasan: "rumahku sangat sepi, tidak ada yang bisa di ajak bicara disana." Jadi, jangan salahkan Jaemin.
Ia tidak memiliki lemari untuk menyimpan pakaiannya, tapi ia memiliki ruangan di kamarnya yang ia gunakan untuk meletakkan serta berganti pakaian disana. Gini-gini, Hansol-Hyung memberikan yang terbaik untuknya (selain memiliki restorannya sendiri. Ayahnya adalah pemilik flat ini dan memiliki satu gedung apartement lainnya). Keluarga Hansol-Hyung benar-benar memanjakannya, beruntungnya Jaemin memiliki mereka semua. Dan ia hanya mampu memberikan yang terbaik di sekolah sebagai bayarannya.
Tiga hari. Hidup sederhana memang tidak biasa bagi Jeno, yang biasanya ia akan selalu bermain serta hangout bersama kawannya kini sudah tidak ia lakukan. Sekarang, kegiatannya setelah pulang sekolah adalah duduk manis di flat kecil Jaemin sambil menonton tv (yang baru di tambahkan Jeno ketika tinggal disini) dengan pemandangan Jaemin yang tengah sibuk berkutat di dapur. Karna sekarang ia tidak tinggal sendirian lagi, ia lebih sering memasak untuk di rumah. Ujian sebentar lagi, dan Jaemin di berikan cuti untuk fokus pada pelajarannya terlebih dahulu. Yah, bisa di lihat mereka seperti keluarga bahagia. Sayang mereka tidak ada status. Sekedar info: sebenarnya Jeno memiliki perasaan pada Jaemin semenjak kejadian di gudang itu, hanya saja ia belum berani mengungkapkannya pada Jaemin. Takut, perasaannya pada Jaemin akan sama seperti Renjun. Bertepuk sebelah tangan.
Jeno menghampiri Jaemin yang tengah sibuk berkutat di dapur. Tangannya melingkari pinggang ramping itu, membuat yang di peluk terpekik kaget. Ia hanya tersenyum, menumpu kepalanya di bahu Jaemin.
"Aku lapar, Jaemin-ah~"
Adunya dengan nada manja, Jaemin mendengus geli mendengar hal itu keluar dari mulut Jeno. Terlihat seperti anak-anak. Lebih manja. Ia merasa tidak risih dengan hal seperti ini, padahal dirinya tengah memasak. Jaemin mendorong kepala Jeno yang tersampir di bahunya ketika masakan yang ia buat sudah selesai. Miyeokguk. Soup rumput laut. Kesukaan Jeno.
Selesai makan. Jeno melanjutkan kegiatan sebelumnya, menoton tv. Di temani Jaemin yang duduk di sebelahnya sambil memakan es krim. Kepalanya ia sandarkan di bahu Jaemin, lengannya juga melingkar di pinggang ramping itu.
"Jeno-ya?" Jeno membalas dengan deheman. Jaemin yang masih memakan es krimnya, segera ia tuntaskan.
"Kenapa kau dulu suka menggangguku?"
Jeno mengangkat kepalanya. Ia tidak suka membicarakan topik seperti ini. Padahal waktu itu pemuda di depannya ini sudah bilang memaafkan kesalahannya dulu, tapi kenapa sekarang di ungkit lagi? Tapi mau bagaimana lagi, anak itu sudah bertanya.
"Aku hanya cemburu, karna kau bisa berdekatan dengan Renjun—
"Kenapa kau tidak melakukan hal yang seperti kau lakukan padaku?" Heol, untuk pertama kalinya ia berani memotong ucapan seseorang.
Jeno hanya terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa. Ia bangkit dari posisinya, menggaruk belakang kepalanya yang langsung terasa gatal. "Eungh...itu..."
Jaemin memutar bola matanya, dirinya yakin sekali bahwa Jeno tidak akan dapat menjawab pertanyaannya itu. Jaemin menggelengkan kepalanya kemudian beranjak untuk meletakkan gelas yang ia gunakan untuk makan es krim tadi ke dapur. Jeno mengekor dari belakang tanpa Jaemin sadari. Ketika pemuda manis itu tengah mencuci gelasnya barulah Jeno dengan lancarnya memeluk Jaemin dari belakang, membuat pemuda itu berjengit kaget.
"Maaf."
"..."
"Aku tidak bermaksud untuk membuatmu sebagai pelarian. Tapi sekarang, aku merasa lebih nyaman saat bersamamu." Jeno membalik tubuh kurus yang mematung. Dengan mata yang saling menatap, Jeno mendekatkan wajahnya. Menghapus jarak di antara mereka. Mencium bibir itu dengan lembut. Jaemin yang terbuai dengan permainan Jeno, menutup matanya, mengikuti adegan di film-film yang pernah ia tonton dengan memiringkan kepalanya sedikit.
Jeno melepas ciuman itu dengan senyuman yang merekah di wajah tampannya, jangan lupakan eyesmile-nya yang juga tertampil di sana. "Jadi..."
"Jadi?" Jaemin memiringkan kepalanya, wajahnya mendadak imut di saat-saat seperti ini.
"Aku mencintaimu." Setelah mengucapkan itu, Jaemin menundukkan kepalanya malu mendengar pernyataan Jeno. Semburat merah menghiasi wajah manisnya. Lalu Jeno menarik tubuh itu.
"Kemana?"
"Ke kamar."
"Mau ngapain?" Jaemin menautkan alisnya.
"Membuatmu jadi milik aku seutuhnya." Tautan alisnya semakin bersatu. Jeno langsung menutup pintu ketika sudah ada di dalam kamar. Kali ini ia menyapu bibir Jaemin dengan beringas. Mengecupnya berkali-kali dengan senyuman yang terlampir di bbibir mereka berdua. Tangan Jeno meraba tubuh Jaemin, melepas baju yang di kenakan pemuda manis itu. Tangannya menahan tubuh Jeno untuk menghentikan aksinya. Baru saja ia ingin bertanya, Jaemin sudah menutupi tubuhnya yang kurus itu. Jeno tersenyum, hal yang di lakukan selanjutnya membuat mata Jaemin melebar. Ia membuka seluruh pakaiannya.
"Yak!" Jaemin memalingkan wajahnya, wajahnya semakin memerah ketika Jeno bertelanjang di depannya. Tapi dasar Jeno-nya saja yang jahil, ia mendekati tubuh Jaemin. Menahan erat pinggangnya.
"Aku mencintaimu." Ujarnya. Ia melesakkan ciuman di leher Jaemin yang terekspos.
"Eunghh...jeno-ya." Jaemin mengepit kepala Jeno yang membuatnya terasa geli dengan perbuatan Jeno. Tangan Jeno pun tidak tinggal diam, dengan ligat ia melepas celana yang di kenakan Jaemin tanpa di sadarinya. Jeno mengangkat kepalanya, melepaskan ciumannya pada leher Jaemin yang sekarang ada bekas ke merah-merahan di sana.
Jeno mendorong tubuh Jaemin ke ranjang. Menimpa tubuh itu juga melayangkan ciumannya secara bertubi-tubi. Tangannya mengangkat kedua kaki Jaemin, tetapi langsung di tahan oleh Jaemin.
"Kau tahu kita masih illegal untuk melakukan ini 'kan?"
Jeno hanya tersenyum, "Selama bersamamu, aku tidak keberatan untuk melanggarnya."
Jeno melumuri jari-jari miliknya dengan saliva, mengarahkan tangannya itu untuk mengelus anus Jaemin yang berkerut merah muda. Satu jari ia masukkan. Jaemin menahan desahnya ketika jari telunjuk Jeno memasuki lubang sempit. Perlahan telunjuk Jeno bergerak keluar masuk memenuhi lubang Jaemin, agar lubang itu terbiasa nantinya sebelum di ganti dengan miliknya. Tubuhnya menegang, melengkung membentuk busur ketika satu jari lagi memasuki lubangnya. Dengan senyuman matanya, ia mengocok lubang Jaemin, melebarkannya lalu melepas tautan itu.
Sempat bernafas lega ketika jari-jari Jeno keluar dari lubangnya. Kakinya diangkat oleh Jeno dan di sandarkan di bahu pemuda itu. Dengan lihai, tangan tegap itu memegang pinggang ramping Jaemin. Sebelah tangannya membimbing penisnya masuk ke lubang Jaemin, memasukkannya perlahan hingga nafas Jaemin tersengal-sengal dibuatnya.
Setetes liquid berhasil lolos dari mata Jaemin, menahan rasa sakit ketika penis itu benar-benar sudah masuk pada lubangnya. Jeno menghentikan aksinya, dirinya memberikan kesempatan pada Jaemin untuk bernafas terlebih dahulu.
Matanya memandang wajah Jaemin yang terlihat seperti orang kesusahan bernafas. Usil, ia mulai menggerakkan pinggangnya, menumbuk prostatnya dengan sekali hentakan.
Jaemin mendesah keras ketika Jeno menggerakkan pinggulnya, rasa sakit sebelnya sudah berganti menjadi lebih nyaman. Ia mengisyaratkan Jeno untuk melakakukannya lagi, menumbuk prostatnya dengan dengan kuat serta berulang kali. Dengan senang hati, pemuda Lee itu menyeringai menyanggupi.
Semakin cepat Jeno menumbuk lubangnya, semakin keras Jaemin mengeluarkan desahannya. Tubuhnya mengelinjang kenikmatan. Di tambah lagi dengan sensasi aneh pada penisnya yang seperti ingin mengeluarkan sesuatu.
"Jenh...akuh.."
Argh! Cairan itu keluar sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. Jeno menyunggingkan senyumannya, dirinya semakin mempercepat memompa lubang Jaemin saat dirasa ia hampir mencapai puncaknya juga.
Desahan Jaemin membuatnya gencar untuk menumbuk lubang itu lebih kencang lagi. Bokong Jaemin memanas akibat tamparan yang di hasilkan dari peraduan kulit mereka.
Cairan Jeno keluar di dalam lubang milik Jaemin, menyembur rongga itu hingga penuh.
Jaemin membalas senyuman Jeno di saat keduanya terengah-engah. Jeno melepas penisnya dari lubang Jaemin, lalu membaringkan diri di samping pemuda manis itu. Membalut tubuh mereka berdua dengan selimut hingga sebatas dada. Lagi, dengan nafas tersengal Jeno memberikan senyumannya pada Jaemin, melingkari lengannya di pinggang Jaemin. Keduanya tersenyum, Jeno mengecup bibir itu sekilas.
"Jadi?" Jaemin menampikkan wajah bingungnya. "Kau belum membalas ucapanku." Lanjut Jeno.
"Setelah apa yang kita lakukan, apa perlu membalasnya?" Seringaian tercetak di wajah manisnya. Jeno menimpa tubuh itu lagi, memenuhi wajah Jaemin dengan kecupan-kecupan maut darinya.
"Ya, aku juga mencintaimu, Lee Jeno."
.
"Jeno kenapa sih? Akhir-akhir ini dia terlihat dekat denganmu."
Kepalanya menoleh pada Renjun yang sedang membereskan buku di perpustakaan. "Apa lagi... Kalian terlihat mesra sekali jika udah berduaan. Kalian pacaran ya?"
"Kau ini bicara apa sih? Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Jeno." Sebaliknya, wajah Jaemin bersemu merah ditanya seperti itu.
Renjun dengan seringaian manis di wajahnya mendekati Jaemin yang terlihat malu-malu. "Apa kau yakin?"
"Ish!"
"Nana-ya!" Keduanya menoleh kearah sumber suara. Di pintu sudah ada Jeno yang melambaikan tangannya dengan senyuman yang terpancar di wajah tampannya. Menghampiri kedua orang yang tengah sibuk membantu petugas perpustakaan membereskan buku-buku dan dengan tidak tahu malunya, pemuda bermarga Lee itu langsung memeluk tubuh Jaemin yang langsung di tatap horror oleh Renjun, mengabaikan degupan jantung Jaemin yang berdetak cepat. Wajahnya memerah ketika jarak wajahnya dengan Jeno semakin dekat, pemuda itu menumpu kepalanya pada bahu Jaemin, membuat anak manis itu gelagapan dengan tingkahnya.
"Yah, jadi obat nyamuk lagi deh."
END
Maaf kalau mengecewakan, alurnya jadi gak jelas kayak gini. Karna masih ingat dengan jalan ceritanya langsung aja aku tulis cepat-cepat tapi malah jadi hancur kayak gini /di tulis ampe pagi/ jadi maklumin aja yee...
Review? Please?
