Akihiko's POV

"Senpai…"

"Senpai…!"

"Senpai!!!"

Aku bangun sambil menggebrak meja karena kaget tiba-tiba dipanggil dengan keras tepat di samping telingaku. Kurasa yang lain ikut terkejut karena gebrakan meja yang seperti preman malakin orang.

"Jangan tidur di sini, senpai kenapa sih??" Yukari menatapku heran.

"Tidak apa-apa… Cuma ngantuk." Jawabku asal sambil menelungkupkan wajahku di meja beralaskan tanganku.

Yukari mencibir dan menumpukan kepalanya di atas tangannya. "Sudah satu hari kita mencari, kalau tanpa jejak dan pentunjuk sih susah…" Katanya.

"Aku ke atas dulu." Rasanya sangat menjengkelkan kalau mengingat aku belum bisa menemukan satu pun petunjuk tentang keberadaan Mitsuru. Aku berdiri dan meninggalkan mereka semua.

Yukari mengikuti arahku pergi, sampai aku menghilang dari pandangannya saat naik ke atas.

"Huh, kenapa sih dia…" Ujar Yukari jengkel.

"Sudahlah, pikirannya pasti sangat kacau saat ini, kalau mengingat kita belum menemukan petunjuk tentang Mitsuru-senpai." Balas Fuuka yang duduk di sebrang Yukari.

Yukari menghela nafas. "Memang iya sih… Aku juga khawatir…" Katanya.

"Saat ini memang kita bilang senpai sakit jadi tidak bisa masuk, tapi sampai kapan mau begini?" Protes Junpei dari meja di sebelah.

"Mau bagaimana lagi, kalau kita beritahu senpai hilang, seisi sekolah bisa gempar." Balas Yukari.

"Itu lebih gawat daripada senpai sakit." Tambah Fuuka.

Dan mereka bertiga menghela nafas lagi.

--

BRAK!

"Pintu itu akan hancur beberapa saat lagi…" Rasanya sejak kemarin sudah beberapa kali aku membantingnya sampai menutup. Yah, walaupun hancur, dia harus bersyukur karena tidak sehancur pikiran dan hatiku saat ini.

Aku berjalan dan membanting tubuhku sendiri ke atas tempat tidur dan memandang langit-langit kamarku.

"Ada sesuatu… Sesuatu yang terlupakan… Tapi apa??" Sejak kemarin aku sudah memikirkan hal ini, tapi jawabannya sama sekali belum ketemu. Akhirnya aku malah ketiduran di sana, berhubung kemarin malam aku tidak bisa tidur sama sekali…

--

Sore itu kami semua memutuskan untuk mencari petunjuk di sekitar sekolah dan asrama, siapa tahu ada sesuatu yang tidak mungkin ada di dalam sekolah maupun kamarnya. Tapi tentu saja sambil mencari aku terus memikirkan "hal yang terlupakan itu".

"Hey, Yukari. Kau yakin semua barang-barang Mitsuru masih ada di kamarnya?" Tanya Fuuka tiba-tiba.

"Tentu saja, aku sudah memeriksa segala penjuru. Mulai dari dompet dan handphone, sampai sepatunya juga masih ada kok di dalam. Tersimpan rapi di dalam rak sepatu, sedangkan tas beserta isinya ada di atas meja." Jawab Yukari, masih sambil melihat-lihat jalanan ini.

Aku mendengar penjelasannya sekilas, dan tidak begitu peduli. Tapi tiba-tiba sesuatu melintas di pikiranku, di ingatanku. Sesuatu… itu… ada hubungannya dengan yang dikatakan Yukari tadi!! Apa?? Ayo pikir, Akihiko! Kenapa kau ini bodoh sekali??

"Handphone?" Gumamku pada diriku sendiri.

Yang lain menatap padaku dengan tatapan heran. "Handphone? Ada apa dengan handphone?" Tanya Junpei.

"Handphone!! Itu dia!!" Kataku setengah berteriak. Akhirnya aku ingat "hal yang terlupakan" itu!

"Kenapa dengan handphone??" Tanya Yukari lagi.

"Aku baru ingat kalau handphone Mitsuru rusak!" Jawabku sambil berjalan masuk ke arah kamar Mitsuru lagi.

Mereka bertiga mengikutiku dari belakang, tidak lupa untuk menginterogasiku dulu. "Terus kalau handphone senpai rusak kenapa??" Tanya Fuuka.

Kami sampai di depan kamarnya, dan aku menoleh pada mereka sambil memegang bingkai pintu kamar Mitsuru.

"Aku… meminjamkan handphone cadanganku padanya…" Jawabku ragu-ragu. Pandangan mata mereka berubah curiga. "Yang ada GPS dan alat pelacaknya…" Lanjutku.

"APAA??!! Kenapa tidak bilang dari kemarin, Akihiko-senpai??!" Jelas, Yukari marah dan kesal.

"Maaf, aku baru ingat. Sebenarnya dari kemarin aku terus memikirkan hal yang terlupakan ini, karena kupikir pasti cuma aku yang tahu dan ingat. Sudah, kita cari dulu handphone itu, kalau tidak ketemu berarti Mitsuru membawanya." Balasku tenang.

Yang lain mengangguk, dan kami memulai pencarian baru dengan harapan baru. Aku mencari ke tempat biasanya Mitsuru menyimpan handphone—tas, di bawah bantal, laci—dan karena tidak menemukannya di tempat-tempat tersebut aku malah mencari ke rak sepatu.

"Senpai, di situ tak akan ada handphone…" Ujar Junpei.

Aku tertawa kecil dan menjauh dari rak sepatu. "Siapa tahu ada…" Kataku.

"Akihiko-san, aku menerima sms darimu dan mencari ke seluruh sekolah bersama Minato. Tapi tidak ada handphone dengan ciri-ciri seperti yang kau sebutkan." Tanpa kusadari Minato dan Aigis sudah berdiri di depan pintu.

Yukari melirik ke arahku, dan aku mengangguk seakan tahu apa yang mau ia ucapkan. "Terima kasih." Balasku sambil tersenyum puas.

"Nah, senpai. Bisa kita cari keberadaan Mitsuru-senpai sekarang?" Tanya Yukari.

Aku yakin sekarang wajahku terlihat mencurigakan karena memang mereka semua memandangku dengan tatapan curiga. "Ngg… Masalahnya… Aku sendiri tidak tahu bagaimana cara mencari alat pelacak itu…" Aku harus siap dibantai mereka semua!!

"Aku capek marah-marah padamu, senpai…" Kata Yukari sambil mengangkat bahunya dan menghela nafas.

"Memang tidak ada alat khususnya? Handphone senpai sendiri tidak bisa?" Tanya Fuuka.

"Handphoneku tidak secanggih handphone yang kuberikan padanya…" Jawabku.

"Jangan bilang kau berikan yang itu karena kau sendiri gaptek…" Ujar Junpei.

"Tidak juga sih, tapi memang agak susah untuk memakainya." Aku mengelak. Aku bisa kok memakai handphone itu, hanya saja aku tidak mungkin memberikan Mitsuru handphone yang sudah lecet dan "terluka" di mana-mana karena selalu kubawa di medan pertempuran. Sedangkan handphone dengan GPS itu masih mulus dan bagus.

"Akihiko-san, kau masih simpan kotak handphone itu?" Tanya Aigis.

"Uhm… Kurasa masih, ada di kamarku." Jawabku.

"Kurasa aku bisa melakukan sesuatu dari kode-kode yang seharusnya ada di kotak itu." Kata Aigis sambil tersenyum.

"Baiklah, akan kuambil kotaknya." Balasku.

--

Saat ini Aigis sedang mengutak-atik komputer di ruang lab yang bahkan guru-guru pun sulit untuk mengoperasikannya.

"Tolong bacakan kode yang di bawah itu." Pinta Aigis.

"Ngg… Ini ya… C090DG-H45i8F… Kode macam apa sih ini…" Yukari membacakan kode aneh itu sambil menggumam sendiri.

"Sebentar… sedikit lagi… Ini dia!! Ketemu!!" Ujar Aigis senang.

Di monitor terpampang peta lokasi yang kurasa adalah peta Tatsumi Port Island. Ada dua titik bercahaya di peta itu. Yang satu adalah Gekkoukan High School, dan satu lagi… Tentu saja, saudara-saudara, itu lokasi tempat Mitsuru sekarang berada!

"Dia tidak terlalu jauh dari sini, kita harus cepat sebelum si pelaku membawanya ke tempat yang lebih jauh!" Kata Aigis.

Kami semua mengangguk dan segera ke kamar masing-masing untuk mempersiapkan diri sendiri, termasuk aku.

"Akhirnya kutemukan… Maaf, Mitsuru. Tunggulah sebentar lagi, kami akan ke sana sekarang juga!" Pikirku saat sedang mempersiapkan senjata.

"Senpai! Sudah siap?" Fuuka berdiri di depan pintu kamarku yang terbuka.

Aku menoleh dan mengangguk pasti.

"Ayo berangkat, ke tempat Mitsuru!"

--

Yay! Chapter 2 selesai lho! Selesai lho! Selesai lho! XD

Yang jadi masalah, judul belum ketemu yang pas. Untuk sementara baru ada satu kandidat, yaitu "Bleeding Love". Masalahnya yang nolak udah ada satu yaitu saudari Nadine. XDDD

Oh iya, ada pertanyaan juga dari Nadine. Cuma ada satu pertanyaan nih, makasih ya Dine. *Muaacchh!*

Nadine : Waktu Mitsuru bersender di pundak Akihiko, mereka merasa malu ga? Atau udah biasa?

Ara: Itu sudah biasa, berhubung mereka kenal udah lama, udah sering ngobrol—enaknya punya temen deket cowok—jadi biasa-biasa aja tuh. Lagian waktu itu kan Mitsuru lagi mikirin soal waktu yang berjalan cepat, jadi biar lebih "meresapi", dia pakai pembanding antara waktu dulu dan waktu sekarang dengan tinggi Akihiko. XD

Yup, that's one question I get. Kalau di chapter dua ini ada yang mau tanya, langsung aja tanya. =)

Arigatou gozaimasu m(_ _)m