Chapter 3's here! ^^

Disclaimer : Persona 3 itu… punyanya ATLUS nan hebat. Karena kalau Persona 3 itu punya saya, pasti Akihiko sama Mitsuru udah jadian dari kapan tau. XD

Enjoy! ^^

--

Mitsuru's POV

Bunyi pintu besi besar yang terbuka dengan kasar membangunkanku dari tidur. Tidak, bukan tidur, tapi dibius. Sekarang ini tangan dan kakiku terikat, mulutku juga diplester, dan…

"Astaga, apa itu??" Aku terperanjat melihat makhluk yang besarnya hampir lima kali lipat lebih besar daripadaku. Untunglah sepertinya makhluk itu sedang tertidur, atau lebih tepatnya dimatikan fungsi-fungsi bagian tubuhnya. Mungkin itu semacam robot.

Kemudian suara langkah yang mendekat ke arahku membuatku terpaksa menutup mata lagi. Aku tidak akan bertindak bodoh dengan bangun dan berusaha melepaskan tali ini. Untuk sementara aku akan percaya pada teman-temanku, dan sebisa mungkin mengingat ciri-ciri orang yang masuk ini.

"Sial, dia pakai obat bius. Kepalaku pusing…" Aku masih terus berusaha membuka mata sedikit, tapi rasa pusing dan sakit ini menyerangku terus menerus sampai aku nyaris tertidur lagi.

Aku menggigit lidahku sendiri supaya tidak tertidur, tetapi orang yang masuk tadi malah menyadari bahwa aku sudah sadar. Ia mendekat ke arahku. Di dalam ruangan sebesar dan sesunyi ini, suara langkah kaki akan terdengar sangat nyaring. Apalagi orang ini adalah seorang laki-laki yang tinggi dan besar.

"Sudah bangun rupanya kau, nona." Katanya sambil menunjukkan senyum licik. Ia merenggut rambutku dan menatap wajahku. Mataku terasa sangat berat untuk dibuka, dan melihat itu ia tertawa. "Ahaha! Rupanya obat bius itu memang terlalu banyak. Tak kusangka kau baru akan bangun setelah satu hari!" Katanya.

"Satu hari?! Kenapa teman-teman belum menemukanku?? Sesaat sebelum dibius aku sempat menyambar handphone yang dipinjamkan Akihiko. Harusnya di handphone itu ada alat pelacaknya…" Sebelum aku sempat berpikir lebih jauh lagi, ia menodongkan pistolnya ke arahku.

"Tapi memang lebih baik kau tidur lagi, karena…" Ia menyeringai. "Aku akan membawamu ke tempat yang sangat indah…" Lanjutnya.

Ia menarik pelatuknya dan aku masih sempat mendengar bunyi letusan yang keras. Aku berpikir aku akan mati. Tanpa perlindungan sama sekali aku pasti akan mati. Saat kepalaku membentur lantai beton, aku baru sadar ini adalah peluru bius.

"Tenang saja, nona. Kau tak akan kubunuh sekarang! Tapi tak lama lagi…" Suara orang itu semakin samar untuk kudengar.

"Tidak… aku tidak mau kehilangan kesadaranku lagi… Kalau begini… Kalau begini… Akan sama seperti dulu…" Aku berusaha membuka mataku, tetapi mataku seakan menolak untuk kubuka. Tiba-tiba sesuatu melintas di benakku.

"Yukari, Fuuka, Iori, Aigis, Minato... Semuanya?" Aku tidak tahu apa yang terjadi. Walaupun gambar dalam benakku itu sangat samar, tapi aku dapat melihatnya. Teman-temanku yang tersenyum padaku saat kami memenangkan pertarungan… Oh, gambarnya hilang… Semua jadi putih… Hm? Ada apa itu? Kesadaranku semakin lenyap, saat gambar itu menjadi sangat jelas.

"Akihiko?"

Lalu aku masuk ke alam tanpa kesadaranku lagi.

--

Akihiko's POV

"Ah, tunggu! Kita salah belok, harusnya belokan yang tadi!" Aigis memberitahu semua orang sambil menggenggam sebuah alat pelacak pinjaman dari entah siapa.

"Apa posisinya berubah?" Tanyaku tenang sambil terus berlari bersama yang lain.

"Tidak, masih tetap di satu tempat. Tidak bergerak sama sekali—ah…!"

"Kenapa lagi?" Tanyaku.

"Sepertinya tadi alat pelacak yang ada pada Mitsuru-senpai bergeser sedikit… hanya sedikit kok, tidak masalah." Jawabnya.

"Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa…" Walaupun dari penampilan luar, orang-orang akan melihatku sangat tenang, tapi sebenarnya aku sudah merasa pusing dari kemarin, dan sekarang bertambah parah.

"Sedikit lagi sampai! Sepuluh meter lagi ada gang kecil di kiri!" Kata Aigis disusul dengan langkah kaki kami yang dipercepat.

"Semuanya, siap untuk menyerang kalau ada apa-apa." Perintahku.

Yang lain mengangguk, dan akhirnya dua titik bersinar di layar monitor milik Aigis bersatu.

"Akhirnya ketemu, ayo kita masuk." Yukari berjalan ke depan melewati yang lainnya.

"Hati-hati, kita tidak tahu ada apa di dalam sini… Tempat ini aneh…" Ujar Fuuka.

"Aku akan buka sedikit pintunya dan mengintip ke dalam, kalau aman kita langsung masuk." Setelah semua menyetujui rencanaku, aku mengendap dan membuka pintu besi yang super besar di depanku.

"Senpai? Ada apa di dalam?" Tanya Yukari sambil berbisik di belakangku.

"Gelap, sunyi, kosong… Tunggu, kurasa tidak benar-benar kosong…!" Jawabku saat aku melihat sesuatu yang sangat besar di tembok sebelah kiri.

"Ada apa?" Tanya Yukari lagi.

"Sepertinya aman, kita masuk dulu." Aku pun membuka pintunya lebih lebar sedikit dan kami semua masuk perlahan ke dalam.

"Gelap sekali, apa tidak ada lampu di sini??" Protes Junpei sambil melihat-lihat ke sekeliling walaupun ia sendiri tahu tidak akan melihat apapun dalam keadaan segelap ini.

"Kalau benar Mitsuru ada di sini, untunglah kami menemukannya dengan cepat. Kalau tidak dia bisa gila tinggal di kegelapan seperti ini…" Pikirku sambil terus menyelidiki bagian dalam gedung tak berpenghuni ini.

Tiba-tiba saat kami semua sedang terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing, suara bergemerisik terdengar dari bagian terbelakang tempat ini, membuat kami terlompat kaget.

"Sial, apa sih itu??" Lagi-lagi Junpei hanya bisa memprotes, mengangkat kedua bahunya dan melihat-lihat lagi.

Tapi tidak denganku. Aku tidak bisa membiarkan satu pun hal di tempat ini luput dari perhatian. Sayangnya monitor ini skala-nya terlalu besar.

"Aigis, skala monitormu bisa diperkecil tidak?" Tanyaku.

"Sepertinya sih bisa, kucoba dulu." Jawabnya sambil memencet beberapa tombol dan lalu memberikannya padaku. "Semoga ini berguna."

Aku memandang monitor itu dan tersenyum puas. "Ini sangat berguna. Terima kasih!" Kataku.

Dua titik yang bersinar itu sekarang tidak lagi bersatu, tapi ada jarak yang memisahkannya karena skala-nya diperkecil. Satu titik berada tepat di tengah lantai gedung ini; itu pasti tempatku dan yang lainnya berdiri. Dan satu titik lagi… Beberapa langkah dari tempatku berdiri…

Aku menarik nafas dan meminjam senter pada Minato dan berjalan ke depan sambil membawa monitor tadi bersama Aigis, karena satu titik lainnya adalah miliknya.

"Sedikit lagi… Beberapa langkah lagi…"

Duk!

"Eh? Apa ini?" Aku merasakan ada sebuah benda di lantai tepat di depanku. Aku buru-buru melihat monitor dan kedua titik tadi kini bertemu kembali. Aku mengambil senter dari kantongku dan menyalakannya, menyinari lantai di bawahku.

Dan apa yang kulihat? Seorang gadis cantik berambut merah panjang terurai yang bagaikan putrid duyung. Sayangnya kaki dan tangannya diikat, dan suara indahnya takkan pernah bisa keluar sebelum plester itu dicabut dari mulutnya.

"Mitsuru!!" Aku memanggil namanya, mematikan senter dan merangkul bahunya. "Hei! Kau bisa dengar suaraku??" Aku mencoba untuk membangunkannya, tapi matanya masih terpejam. "Mitsuru!!"

Perlahan matanya terbuka memandangku lemah, membuatku menghela nafas lega sekaligus cemas. Aku membuka plester di mulutnya perlahan.

"Akihiko…" Satu hari lebih tidak berbicara rupanya mempengaruhi suaranya.

"Jangan bicara, kita akan membawamu keluar dari sini." Aku memotong kalimatnya.

"Oops, tidak semudah itu, saudara-saudara!" Sebuah suara misterius yang berasal entah dari sudut mana di dalam ruangan ini membalas ucapanku.

"Siapa itu?!" suara Yukari menggema di ruangan besar yang sunyi.

"Aku tidak akan memperlihatkan wajahku, tapi kalian akan tetap melihat sosok asliku." Jawabnya saat sebuah bayangan muncul dari kegelapan di dinding kiri, tepatnya di sebelah robot besar yang kulihat saat pertama melihat ke dalam.

"Siapa kau? Kau yang membawa Mitsuru-senpai ke sini??" Tanya Fuuka.

"Mitsuru? Mitsuru… Ya, Mitsuru… Betul, aku yang membawanya ke sini…!" Jawabnya sambil tertawa.

"Kenapa kau lakukan itu?!" Protes Junpei. Kadang kala aku merasa kegiatan memprotes dari Junpei ada gunanya juga, jadi tidak buang-buang tenaga karena ia akan mengatakan apa yang ingin kita katakan.

"Itu semua tidak ada urusannya dengan kalian…" Jawabnya santai.

"Tentu saja ada, bodoh." Ujarku marah. "Kau telah membawa Mitsuru pergi, itu sudah cukup untuk menjadi alasan bagiku untuk menghajarmu, kau tahu?!" Lanjutku.

"Oh ya? Kalau begitu aku mau tanya. Sekarang kau menganggapku apa?" Tanyanya.

"Orang yang kubenci!" Yukari segera menjawab pertanyaan yang mungkin sangat ingin dijawabnya.

Orang itu tertawa lagi dan memandang kami semua. "Bagus, kalau begitu cobalah untuk membunuhku!" Tawarnya seperti merendahkan orang-orang yang membencinya ini.

"Kami tidak akan segan-segan lagi…!!" Ujar Yukari sambil menarik keluar panahnya. Yang lain pun bersiap dengan senjata masing-masing.

"Tunggu." Mitsuru memakai pundakku untuk duduk kemudian berdiri. "Aku ikut bertarung." Lanjutnya.

"Apa?? Oh, tidak mungkin. Tidak, tidak, tidak. Kau baru saja bangun dan berdiri pun tidak benar, dan lagipula kau tidak punya senjata. Oh, plus sepatumu masih ada di rak sepatu di dalam kamarmu." Aku mencegahnya untuk bertarung dengan berbagai macam alasan yang kupunya.

"Kalau soal senjata dan sepatu, aku sudah bawakan…" Ujar Fuuka tiba-tiba.

Aku menoleh padanya dan mendesah, lalu menggeleng. "Tetap tidak bisa." Kataku.

"Akihiko, aku punya alasan kuat untuk bertarung dengannya. Orang ini telah membawaku ke sini dan membuat semua orang repot. Dia harus membayar semua perbuatannya!" Protes Mitsuru. Sepertinya suaranya sudah kembali normal.

"Biarkan Mitsuru-senpai bertarung, Akihiko-senpai." Kata Junpei.

"Benar, ini telah menyangkut keselamatannya sendiri." Balas Fuuka.

"Mitsuru-senpai terikat dan tidak bebas melakukan apapun selama sehari lebih, sekarang ia harus bisa melakukan apapun sesuka hati!" Ujar Yukari.

Aku terdiam sejenak, lalu menyerah pada kemauan semuanya. "Baiklah, tapi jangan jauh-jauh dari kami." Kataku.

Mitsuru mengangguk pasti, dan segera bersiap untuk masuk ke medan pertempuran.

"Hmm… Sepertinya aku terlalu baik untuk memberi kalian banyak waktu. Tapi sudahlah, lebih baik kita cepat mulai!" Laki-laki tanpa nama itu mulai berbicara lagi.

"Diam dan matilah!" Yukari menggeram marah.

Laki-laki itu tertawa dan serangan balik kami dimulai. Dan sekarang, rasanya sudah hampir setengah jam kami menyerangnya… tanpa hasil.

"Apa yang terjadi?? Serangan kita memang kena, tapi tidak melukainya!" Fuuka yang bertugas men-support seperti biasa berkata dari kejauhan.

"Jangan menyerah, pasti ada suatu cara." Balas Mitsuru. Ia sendiri sudah terengah-engah karena kondisinya yang kurang mendukung untuk bertarung.

"Hei, jangan memaksakan diri." Kataku.

Mitsuru menoleh dan tersenyum sekilas. "Tenang saja." Balasnya.

Seketika itu pula perasaan tidak enak menyerangku, walaupun hanya untuk beberapa saat.

"Sudah cukup main-mainnya, aku akan lebih serius lagi sekarang!" Laki-laki tadi berkata sambil tersenyum licik. "Yang lain jangan ganggu." Lanjutnya yang membuat kami bingung.

"Aku tidak mengerti kau bilang apa tapi jangan pernah kau main-main dengan kami!" Junpei memprotes lagi dan siap menyerang, tapi tubuhnya terhenti. Bukan oleh tangan, bukan oleh senjata, orang itu bahkan tidak bergerak selangkah pun dari tempatnya.

"Hei! Apa yang kau lakukan??" Tanya Yukari kesal.

"Sial, aku juga kena." Bisikku. Aku melirik ke kanan di dekat tembok dan mendapati Mitsuru masih bisa bergerak dengan bebas.

"Ini maksudku dengan jangan ganggu. Tentu saja, akan dimulai darimu, nona cantik!" Laki-laki itu mendekat ke arah Mitsuru, dan tampaknya sekarang ia juga tidak bisa bergerak.

Dan ia pun mencengkram leher Mitsuru dengan kuat.

--

Mitsuru's POV (Sempet2nya saya ganti Point of View… XD)

"Tenanglah, ini tidak akan lama." Katanya sambil menyeringai.

"Mitsuru…!!" Akihiko dan yang lain masih berusaha menggerakkan badannya sendiri. Tapi aku tahu—walau tidak tahu bagaimana aku bisa tahu—mereka berusaha tanpa akan ada hasil.

"Selamat tinggal." Tak kusangka dua kata itu benar-benar akan jadi kata-kata yang mungkin akan menjadi kalimat terakhir yang kudengar.

Sebuah pedang besar menancap menembus tubuhku, dan ini bukan mimpi… Sempat ada jeda sedikit, saat semua orang berusaha mencerna apa yang terjadi, dan saat tangan orang itu melepaskan cengkramannya dari leherku dan aku jatuh ke lantai, terdengarlah teriakan banyak orang memanggil namaku.

"Mitsuru!!!" Seperti yang kalian duga, teriakan paling terdengar tentu saja milik Akihiko…

"Mitsuru-senpai!!" Tiga orang sekaligus—Takeba, Iori, Yamagishi—memanggilku saat masih berusaha menggerakkan badan sendiri.

"Aaaarrrggghh!! Sialan!! Ayo bergeraaaakk!!" Dan berkat usahanya, Akihiko sekarang berlari mendekatiku.

"Usaha yang bagus, Akihiko." Kataku.

"Mitsuru…! Bertahanlah! Aku akan membawamu pergi dari sini!" Balasnya.

"Terima kasih… kalian datang untuk menyelamatkanku saja aku sudah sangat senang." Bagus, sakitnya makin terasa dan pandanganku semakin buram. "Aku—" Baru saja aku mengucapkan satu kata dan kalimatku dihentikan oleh darah yang mengalir dari mulutku.

"Sudah, jangan bicara…!" Protes Akihiko.

"Aku benci darah… sebenarnya…" Kali ini aku memutuskan untuk mengakuinya.

"Aku juga tidak pernah bilang menyukai darah." Balasnya.

"Kalau kau suka darah berarti orientasi seksualmu parah." Kataku sambil tertawa yang menyebabkan aku kehilangan darah lagi.

"Hei! Sempat-sempatnya bercanda…! Sudah cukup, diam saja dan dengarkan kata-kataku!" Balasnya kesal. Tapi aku sempat melihatnya tersenyum juga. "Yukari, sudah bisa bergerak belum??" Tanyanya.

"Maaf senpai, aku sama sekali tidak bisa bergerak…" Jawab Yukari.

"Kalau begitu biar kuobati seadanya dulu, dan kutelepon ambulance. Bersabarlah." Kata Akihiko sambil mengeluarkan handphone-nya dan menelepon. Setelah selesai, aku teringat sesuatu dan mengambil sebuah benda dari kantong rok-ku.

"Ini handphone-mu, terima kasih. Berkat ini kalian bisa menemukanku." Kataku sambil mengembalikan handphone-nya.

"Bicara apa kau, simpanlah handphone itu. Jadi tiap kali kau pergi, aku tahu kau pergi ke mana." Balasnya. Ia merebut handphone itu dan mengembalikannya ke kantongku. "Sekarang diamlah, biar kuobati kau." Lanjutnya.

Maka aku menurut, aku diam, tidak bicara, dan tidak bergerak, serta menutup mataku. Dan tampaknya itu malah membuat Akihiko ketakutan.

"H-Hei, setidaknya bukalah matamu. Kau membuatku takut." Akhirnya ia benar-benar memintaku membuka mata.

"Seenaknya. Kau pikir semudah itu membuka mata dalam kondisi begini??" Protesku.

"Yaa, bukan itu maksudku. Setidaknya… buatlah aku berpikir kau masih sadar. Sudah, sudah! Jangan bicara lagi!" Balasnya jengkel.

Selama beberapa menit aku terdiam—dengan mata terbuka—dan tiba-tiba merasa sangat dingin dan hampa.

"Akihiko?" Aku memanggilnya karena mulai tak bisa merasakan sentuhannya lagi.

"Ya? Ada apa? Ah, sakit ya? Maaf…" Balasnya.

"Tidak, bukan itu… Hanya saja… kau di mana?" Tanyaku.

"Aku di sini." Jawabnya sambil menyentuh wajahku—setidaknya aku masih bisa merasakan itu.

"Jangan pergi." Kataku.

"Aku tidak mau pergi."

"Selamanya?"

"Selamanya."

Aku tersenyum. "Terima kasih." Sekarang semuanya serba putih, dan aku tidak bisa merasakan Akihiko lagi… Sedih rasanya…

"Hei… Hei! Mitsuru? … Mitsuru! Hell-o! Aku tidak menerima lelucon apa pun, oke?? Mitsuru! Hei! Jawab aku! Mitsuru!!!"

"Maaf…"

"Tunggu! Kau bilang kau akan terus berada di sisiku kan?? Kau bilang selamanya kan?? Dan kau bilang selamanya adalah selamanya kan?? Kenapa sekarang kau malah pergi?? Mitsuru!!"

"Maaf ya, Akihiko…"

"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu pergi! Kau tidak boleh pergi, Mitsuru!!"

"Terima kasih… Selamat tinggal…"

"…"

"Tidaaaaaaakkk!!!"

Suaramu menggema di kepalaku

Menembus hatiku yang kau hias

Kapankah suara itu akan menggema lembut lagi?

Haruskah ku menunggu

Saat di mana kau akan memelukku lagi

Dengan tanganmu yang hangat?

Sampai kapan?

Seberapa lamapun akan kutunggu

Sesabar apapun akan kucoba

Setinggi apapun akan kuraih

Asalkan kudapat kembali kepada pelukan itu

Sekali lagi…

--

Hiks… *Author nangis sendiri baca puisi bikinan sendiri* XD

Padahal ngga ada bagus-bagusnya juga itu puisi. XD

Tapi! Saya membuatnya dengan penuh perasaan, dan pastinya sangat berterimakasih kepada para pembaca yang telah menunggu chapter 3 ini. ^^