Chapter 5 is here!
DISLAIMER : Saya ngga punya Persona 3 (FES), semuanya milik Tuan ATLUS. ^_^
Enjoy! ^^
--
Mitsuru's POV
Entah sudah berapa lama aku tertidur, yang pasti matahari sudah tidak menampakkan dirinya, dan ruangan ini sudah agak gelap, ditambah udara yang semakin dingin. Tapi tanganku terasa hangat…
"Akihiko…" Panggilku pelan, nyaris tak terdengar.
Tapi Akihiko mendengarnya, ia bangun dan menengok ke arahku sambil tersenyum. "Kenapa?" Balasnya.
"Sekarang jam berapa?" Tanyaku.
Ia mencari jam dinding dan menemukannya tepat di atas tempat tidurku—pantas saja aku tidak bisa melihatnya… "Sudah jam tujuh malam, kau mau makan?" Balasnya.
Aku menggeleng. Baru hari ini aku terbangun dan tertidur lagi sampai hampir dua belas jam, selera makanku hilang entah ke mana. "Kau sendiri sudah makan?" Tanyaku.
"Belum." Jawabnya singkat.
"Kenapa belum?"
"Karena aku ikut ketiduran di sini."
"Dari tadi pagi?"
"Sepertinya."
"Yang benar?"
"Mungkin tidak."
"Jadi apa maksudmu??"
Akihiko tertawa dan menggenggam tanganku lebih erat. "Aku belum makan, walaupun sudah berkali-kali bangun sampai ketiduran lagi. Karena aku tidak sanggup melepas tanganmu lagi." Katanya.
"Kalau… aku memintamu untuk melepaskannya bagaimana?" Tanyaku.
"Kau mau aku melepaskannya?" Balasnya.
Aku mengangguk, dan ia melepaskan tanganku dengan mudah.
"Begini?" Tanyanya.
"Nah, sekarang kau makanlah dulu, jangan sampai kau ikut tambah kurus." Kataku.
"Sebenarnya yang lain sedang mengambil makanan di rumah, jadi tinggal aku di sini. Tadi siang mereka datang bergiliran, dan tampaknya agak kecewa karena kau belum bangun." Jelasnya.
"Kalau mereka datang lagi, apa yang harus kukatakan?" Tanyaku.
"Katakan apa saja, dan mereka akan sangat bahagia." Balasnya.
Sebelum aku sempat berkata apa-apa lagi, terdengar ketukan pintu, dan kami melihat wajah-wajah yang sangat kami kenal.
"Mitsuru-senpai!!" Yukari berjalan cepat mendekatiku dan duduk di sampingku. "Syukurlah akhirnya kau bangun juga… Aku sama sekali tidak bisa konsentrasi di kelas…!" Katanya.
"Hei, apapun keadaanya kau harus tetap konsentrasi…!" Balasku.
"Aku tahu, tapi… hanya saja…" Kalimatnya terpotong oleh air mata yang siap mengalir. "Aku bahagia sekali melihatmu kembali, senpai!!" Tanpa sadar Yukari memelukku lembut.
Aku tersenyum. "Terima kasih, Yukari." Kataku.
"Mitsuru-san, rumah sangat sepi tanpamu! Dan sepertinya Koromaru juga merindukanmu." Ujar Ken.
"Aku juga sangat merindukan kalian. Rasanya seperti sudah bertahun-tahun tidak bertemu." Balasku sambil tersenyum.
"Seminggu lagi kau bisa berkumpul bersama kami lagi." Kata Akihiko.
"Seminggu?? Apa tidak terlalu lama?" protes Junpei.
"Kau mau buat dia anemia?" Balas Akihiko.
"T-Tidak, cuma bercanda…!" Kata Junpei melindungi diri.
Kami menghabiskan waktu untuk mengobrol, sampai aku ketiduran lagi akibat pengaruh obat yang tidak ada habisnya.
Dan seminggu pun kulewati, meninggalkan satu pertanyaan besar; Kenapa Akihiko melakukan semua ini?
Hari pertama aku terbangun, Akihiko menggenggam tanganku sepanjang hari, dan baru mau melepaskannya saat kuminta.
Hari kedua, hari Minggu, dari pagi sampai sore ia tidak meninggalkan kamarku kecuali untuk membeli makan siang.
Hari ketiga, Akihiko memarahiku yang belum mau makan selama tiga hari ini, dan dia bilang dia tidak mau melihatku lebih kurus lagi dari aku yang sekarang karena wajahku jadi pucat dan dia juga bilang walaupun aku tersenyum, ia tidak akan bahagia sebelum warna kulitku tidak pucat lagi.
Hari keempat, siang hari setelah pulang sekolah Akihiko membawakan salinan catatan dari kelasku—yang entah ia peroleh dari mana—dan menempelkannya dengan sangat rapi di buku catatanku.
Hari kelima, Akihiko membuatku bingung karena ia tidak datang dari pagi sampai sore, dan aku tidak mungkin meneleponnya—untuk duduk pun masih sulit. Tapi malam harinya ia muncul membawa setangkai bunga mawar, dan minta maaf sampai kepalaku mau pecah rasanya.
Hari keenam, Akihiko bahkan tampak lebih bahagia saat mengetahui aku bisa pulang besok daripada aku sendiri.
Aku ingin tahu jawabannya, Akihiko…
--
Akihiko's POV
Hari ini sudah dua minggu sejak kepulangan Mitsuru dari rumah sakit. Tidak banyak hal yang berubah, kecuali bahwa seminggu pertama aku harus membantunya turun tangga karena obatnya belum habis juga. Tapi inilah Mitsuru, tidak pernah menolak obat-obatan itu, tidak seperti aku yang mungkin malah akan membuangnya.
Sebentar lagi Natal, dan akhir-akhir ini Mitsuru bersikap aneh di depanku. Malam ini seperti biasanya aku duduk di sofa bawah, tapi hanya berdua dengan Mitsuru.
"Hei, bagaimana keadaanmu?" Tanyaku.
"Uhm… sudah lebih baik…" Jawabnya singkat.
Aku harus bilang apa lagi ya? "Sebentar lagi Natal ya…" Akhirnya aku mengatakan apa adanya.
Mitsuru hanya mengangguk, membuatku semakin bingung dengan sikapnya.
"Akihiko… boleh aku tanya sesuatu?" Tanyanya.
Aku merasakan firasat yang sangat buruk, bahkan tidak perlu dengan Persona sejenis Lucia atau bahkan Juno, aku merasakan bencana akan datang.
"Boleh, kau mau tanya apa?" Balasku berusaha untuk tenang.
"Kau ingat apa saja yang kau lakukan di rumah sakit?" Tanyanya.
Aku mengernyitkan kening. "Apa maksudmu?" Balasku.
"Uhm… bagaimana cara menjelaskannya? Aku hanya merasa… ada yang berbeda dari segala perbuatanmu sebelum ini padaku. Lebih tepatnya, sebelum kau memberikan koran itu padaku, semuanya tidak begini…" Jelasnya.
Ah, ya. Koran bermasalah itu. Koran itu memuat kasus aneh yang berhubungan dengan masa lalu Mitsuru… yang mungkin tidak ingin dia ingat… "Aku… tidak mengerti. Maksudku, aku rasa tidak ada yang berubah pada perbuatanku, semuanya terasa… normal…!" Balasku.
"Benarkah?"
"Ya."
"Kau menjawab ini berdasarkan perasaanmu?"
Aku terdiam sejenak. "Aku…"
"Yang kutanya adalah, kenapa hanya aku?" Tanyanya.
"I-Itu… tidak, aku… argh! Sudah cukup, aku bingung bagaimana harus menjawabnya, Mitsuru!" Balasku jengkel. Jengkel dengan kata-kataku sendiri.
"Kau benar-benar tidak mau memberitahuku?"
"Bukannya tidak mau, aku tidak bisa…"
"Akihiko… Kenapa kau tidak mau membuka hatimu?" Tanyanya tiba-tiba dengan raut muka sedih.
"A-Apa maksudmu dengan membuka hati??" Balasku bingung sekaligus gugup.
"Tidak perlu kujawab, aku yakin kau sudah tahu apa jawabannya. Karena itu… Aku sekarang meminta jawaban darimu." Katanya tegas. Aku juga bingung mau sampai kapan tidak berani menatap matanya kalau sudah begini.
"Tidak bisa… kuberikan sekarang…" Balasku setengah berbisik, berusaha untuk memandang matanya, walau hanya sedetik.
Mitsuru menghela nafas. "Kalau begitu kuberi waktu empat hari, aku akan menunggu di Naganaki Shrine, jam 12 malam. Kalau kau tidak datang… Kau tahu apa yang akan terjadi…" Katanya sambil berlalu. Ya, aku memang tahu. Kalau aku tidak datang, aku akan melukainya…
Aku pun ikut menghela nafas. Empat hari? Lagipula sekarang… "Hei, kalian. Mau sampai kapan sembunyi di situ? Sampai melihatku karatan di sini?" Tanyaku.
Lalu Fuuka dan Junpei keluar dari balik dinding kaca pembatas antara lorong dengan ruang makan. "M-Maaf, Senpai! Kami tidak bermaksud menguping…!" Kata Fuuka.
"Benar, kami hanya kebetulan lewat dan tidak mau menganggu, jadi kami sembunyi…" Timpal Junpei gugup. Alasan macam apa itu? Kalau tidak mau ganggu ya pergi saja dong…
"Sudahlah, bukan salah kalian." Kataku. Kemudian aku berdiri dan masuk ke kamarku.
--
Selama empat hari itu, tentu saja aku belum bisa menemukan apa yang harus kulakukan. Tetapi bocah-bocah konyol itu malah memberiku ide secara tidak langsung.
"Stupei! Kau apakan lampu pohon natal kita?!" Yukari mengejar Junpei yang siap kabur.
"Sudah kubilang aku tidak tahu!" Balas Junpei.
"Lalu kenapa bisa pecah?!" Tanya Yukari yang akhirnya berhasil menangkap Junpei.
"Mana aku tahu?! Memang hanya aku yang tinggal di sini??" Balas Junpei kesal.
"Sepertinya bukan hanya pecah, tapi lepas dari kawatnya…" Ujar Aigis yang sedang meneliti lampu-lampu kecil itu.
"Dan juga lilitannya lepas…" Timpal Fuuka.
"Aaah… Kita sudah capek-capek melilitkannya semalaman…!" Kata Yukari.
"Ya sudah, nanti kita beli yang baru dan ulang saja. Lagipula polanya terlalu simple." Balas Fuuka.
Yukari mendelik ke arah Junpei. "Stupei, kau yang belikan lampu barunya!" Protes Yukari.
"Apa katamu lah, besok kubelikan yang baru di Paulownia Mall…!" Akhirnya Junpei menyerah.
"Lampu? Kawat? Lilitan? Pola? Paulownia Mall… Naganaki Shrine…" Sejumlah kata kunci memasuki pikiranku dan membuatku langsung berdiri dan pergi untuk menyelesaikan satu urusan penting penentuan hidup dan mati ini.
Malam itu kubereskan semuanya, berhubung besok adalah hari yang ditentukan oleh Mitsuru. Ternyata setelah dilihat, aku telah membuang banyak waktu, dan pada saat aku membutuhkan waktu, waktu itu telah hilang. Tapi tidak akan kubiarkan itu menghambat segalanya. Malam itu, semuanya benar-benar selesai… bagiku.
Satu malam berlalu, dan sekarang jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, satu jam sebelum waktu yang ditentukan Mitsuru. Ia sendiri sudah pergi dari beberapa jam yang lalu—entah ke mana. Tidak ada salahnya aku pergi sekarang, dank arena cuaca sangat dingin, aku mengambil juga syal putihku, dan siap untuk keluar rumah.
"Hei, mau ke mana kau?" Tiba-tiba seseorang menarik bagian belakang bajuku.
Aku menoleh. "Lepaskan, Yukari. Aku harus ke Naganaki Shrine." Balasku.
"Kau mau pergi dengan tangan kosong?" Entah bagaimana caranya—kemungkinan besar karena Junpei, Yukari sepertinya tahu apa yang akan kulakukan di Naganaki Shrine.
Aku tersenyum. "Aku tidak akan pergi tanpa persiapan." Kataku.
"Kau pikir aku tidak tahu apa persiapanmu?? Kau punya uang kan? Ikut aku!" Balasnya sambil menarikku pergi.
"Hei, tunggu! Pergi ke sana sekarang bisa membuatku terlambat!" Protesku.
"Tidak akan kubiarkan kau terlambat!" Balas Yukari.
Aku terdiam sejenak, lalu saat kami berada di kereta, aku memutuskan untuk mempercayakan tugas ini pada Yukari. "Kalau begitu, aku mau merepotkanmu sekali lagi, Yukari." Kataku.
"Ada apa?" Tanyanya heran.
Aku membisikkan sesuatu yang membuatnya tersenyum. "No problem, Captain." Katanya.
Dan mengunjungi Paulownia Mall membuat kami harus berlari dari Port Island Station sampai ke Naganaki Shrine. Sekarang sudah jam 11.54 malam, tinggal beberapa menit lagi.
"Cepat, senpai! Terlambat satu menit saja bisa berakibat fatal!!" Kata Yukari setengah berteriak saat kami sedang berlari.
"Aku tahu!!" Balasku.
Yukari menoleh ke belakang dan tersenyum. "Tenang saja, tidak akan kubiarkan gagal semudah itu!" Katanya.
Aku hanya bisa tersenyum.
--
Mitsuru's POV
Cuaca malam ini dingin sekali, dengan angin kencang yang berhembus membuat tubuhku semakin kedinginan. Ditambah lagi aku memakai baju yang salah untuk cuaca ini—hanya blouse coklat tangan panjang, rok hitam selutut dan sepatu boot. Sekarang sudah jam 11.57, apakah Akihiko benar-benar tidak akan datang? Memikirkan kemungkinan itu membuat hatiku ngilu. Aku sudah menunggu di sini sejak jam 10, memang perbuatan yang sia-sia, padahal aku sendiri yang bilang padanya untuk datang jam 12.
"Bodohnya aku, memaksakan kehendakku padanya. Biarlah, biar takdir yang menentukan segalanya, walaupun tak ada yang bisa kuubah, tapi aku yakin… Cinta bisa mengubah segalanya. Aku—"
"Mitsuru…" Suara yang begitu kukenal membuyarkan pikiranku.
Aku menoleh dan mendapati Akihiko berdiri di puncak tangga dengan nafas yang terengah-engah.
"Maaf, aku terlambat… Tidak, masih ada tiga puluh detik lagi, karena itu akan kukatakan dengan cepat." Katanya sambil berjalan mendekat padaku dan mengatur nafasnya.
Aku tidak bisa berkata apa-apa, dan ia menarik nafas sebelum mulai berbicara. "Aku memang bodoh dan egois, tidak memikirkan perasaanmu. Tapi tepat saat Natal tiba, akan kukatakan segalanya." Katanya. "Sebenarnya, kalau bisa dibilang, kata-kata ini sudah terpendam dalam diriku sejak lama, dan aku sangat bersyukur kau mau memberiku kesempatan ini. Satu kesempatan terakhir bagiku." Lanjutnya.
Bel berdentang dari arah Gekkoukan High School, tanda bahwa sekarang sudah jam 12 malam, waktu pergantian hari. Sekarang sudah tanggal 25 Desember.
"Karena itu… aku akan berusaha…" Tiba-tiba aku melihat lampu bersinar dari sebelah kanan dekat taman bermain di Naganaki Shrine ini. Aku menoleh dan melihat sesuatu… hadiah Natal terindah dalam hidupku. Lampu-lampu kecil dari pohon Natal dililitkan pada pagar kawat, disusun begitu rapi membentuk sebuah kalimat dengan tulisan yang indah. Kalimat itu berbunyi,
"Merry X-Mas, Mitsuru…" Kata Akihiko sambil tersenyum.
Dulu kupikir kematian ayahku akan membuatku semakin kuat, tetapi tidak pernah begitu kenyataannya. Rasanya aku ingin menangis, tapi angin ini seakan membekukan air mataku. Tubuhku malah mulai menggigil sekarang, di saat yang tidak tepat.
"Maaf ya, aku membuatmu menunggu lama. Kau pasti kedinginan…" Katanya sambil melingkarkan syal putihnya padaku. "Mitsuru… Aku datang untuk memberimu jawaban. Jawabanku adalah…" Ia menatapku lembut sebelum mengucapkan sebuah kalimat yang membuatku merasa hangat sekali. "Aku mencintaimu."
Kami terdiam beberapa saat, sampai salju turun di kota ini. "Salju…" Kataku sambil memandang langit. Lalu aku mengembalikan pandanganku pada Akihiko, dan tepat pada saat itu sebutir salju turun di ujung hidungnya.
Aku tertawa kecil dan mengulurkan tangan kiriku untuk membersihkannya. Tapi setelah selesai, Akihiko menggenggam tangan kiriku itu. "Kau tahu kenapa di antara jari-jari kita ada ruang kosong? Supaya seseorang yang lain dapat mengisinya. Bolehkah aku… mengisi ruang kosong di antara jari-jarimu?" Tanyanya.
"Tanganku dingin…" Balasku sambil menunduk. Lalu aku mengangkat kepalaku dan menatapnya dengan senyum. "Aku ingin Akihiko menghangatkannya." Kataku.
Ia balas tersenyum, lalu merogoh sesuatu dalam kantongnya, dan menggenggamnya erat tanpa bisa kulihat. "Dengar Mitsuru, aku tidak akan pernah membuat janji yang tidak bisa kutepati. Karena itu, aku membuat janji ini karena aku yakin aku mampu menepatinya." Ia mendekatkan tangan kiriku yang dari tadi ia genggam dan melingkarkan sebuah cincin yang sangat indah dan berkilauan di jari manisku.
"Aku pasti… akan membahagiakanmu." Katanya dengan nada dan tatapan yang tegas. "Ngg… Kau… tahu apa maksudnya kan…?" Tanyanya gugup.
Aku jadi tertawa melihat kelakuannya yang tiba-tiba berubah. Lalu aku memeluknya lembut. "Bodoh, aku mengerti." Kataku sambil tersenyum dalam pelukannya.
"… Syukurlah…" Aku bisa merasakan kelegaannya, dan itu membuatku tertawa lagi.
--
Yukari's POV
Aku duduk di sebelah tembok Naganaki Shrine, setelah menyelesaikan tugasku dan "menonton" live drama—ternyata sensasinya luar biasa. Aku duduk sendirian di malam Natal sambil tersenyum mengingat apa yang kulihat tadi.
"Yuka-tan? Sedang apa kau di situ??" Tiba-tiba Junpei membangunkanku dari lamunan.
"Shht! Diam, Stupei!" Aku menariknya untuk sembunyi dibalik tembok ini.
"A-Ada apa?" Tanyanya bingung.
"Kalau kau mau kau boleh mengintip, tapi segala gangguan tak akan kutoleransi." Balasku tegas.
Junpei mengangguk antusias, dan mengintip diam-diam dari balik pagar kawat. "Tidak ada apa-apa." Katanya.
"Hah? Ke mana mereka??" Balasku bingung sambil ikut berdiri dan mengintip. Memang benar, mereka berdua sudah tidak ada. Cepat sekali… Aku mengangkat bahuku dan beranjak pergi. "Ya sudah, kita biarkan saja mereka berdua dulu. Ayo, Junpei! Bantu aku lepas lampu-lampu ini. Berterima kasihlah pada Akihiko-senpai, kau tidak perlu membeli lampu yang baru lagi!" Kataku.
"Whoa, ini hadiah natal yang sangat berani." Junpei mengomentari lampu-lampu ini saat kami melepaskannya satu per satu.
Aku tersenyum. "Ya, dan dia menyiapkannya sendirian." Balasku.
--
"Kau mau ke suatu tempat, Mitsuru?"
"Tidak ada yang spesifik…"
"Mau ikut denganku?"
"Ke mana?"
"Ke tempat kau bisa merasakan seluruh alam ini begitu bersahabat denganmu."
"Boleh."
"Ayo pergi!"
--
Akhirnya… Chapter ini jadi juga… Uwah, sebenernya udah merencanakan Natalnya Akihiko dan Mitsuru dari jauh-jauh hari. XD
Chapter berikutnya… mungkin bakalan jadi chapter terakhir… =( Tapi tenaaang, kalau saya udah suka sama satu FanFic, bikin sequel pun jadi! =))
So, tunggu aja gimana keadaan setelah ini ya! ^_^
Thanks for reading, and if you're willing, please review! ^^
