Minna, inilah chapter 6, chapter terakhir dari FanFic Series ini. Karena chapter terakhir, maka saya buat agak special, yaitu menjadi sebuah SongFic.
Lagu: Katachi Aru Mono by Kou Shibasaki. OST Sekai no Chuushin de, Ai wo Sakebu (drama)
DISLAIMER: Saya ini bukan pemilik Persona 3 (FES), semuanya milik ATLUS. Saya juga tidak membuat, atau menyanyikan lagu Katachi Aru Mono secara resmi, saya nyanyi lagu ini cuma kalau di kamar mandi aja kok. XD Lagu ini milik Kou Shibasaki-san.
Enjoy! ^^
--
Yozora ni kieteku hoshi no koe
Hakanage ni hikaru nibi iro no tsuki
Futari de oyoida umi wa naze,
Tsuka no ma ni iro kaete yukun darou?
The voices of the fading stars in the night sky
The fleeting
light of the dark grey moon
I wonder why the colors of the sea we
swam together,
Have in an instance begun to change colors?
Mitsuru's POV
Akihiko membawaku pergi ke sebuah tempat, tempat yang tak pernah kukunjungi sebelumnya. Dia bilang, aku terlalu lama berada di "high-class family", makanya aku tidak tahu tempat semacam ini.
"Dulu aku sering bermain di sini." Katanya sambil menggandeng tanganku dan berjalan untuk mencapai tempat utamanya. "Tapi lama kelamaan aku seakan melupakan tempat ini." Lanjutnya sambil tertawa kecil.
Aku tersenyum padanya, lalu ia menunjuk sesuatu di hadapan kami. Aku menoleh dan mendapati laut luas dengan pasir putih yang indah, membentang dari ujung keujung.
"Tempat ini indah…" Komentarku.
"Kau menyukainya? Kalau begitu kita harus lebih sering ke sini." Balasnya.
Lalu kami berjalan mendekat ke air laut, dan duduk di tepi pantai, menikmati angin laut yang cukup kencang dan suara ombak yang menenangkan hati. Rasanya sudah lama sekali tidak merasakan ini.
"Aku boleh… bersama Akihiko sampai kapan?" Tanyaku tiba-tiba.
Ia tampak heran dan memandangku dalam-dalam. "Apa maksudmu? Kita akan bersama, selamanya." Katanya tegas.
Aku bisa merasakan pipiku merona merah, jadi aku memalingkan wajahku supaya ia tidak melihatnya. "B-Benar, kita sudah berjanji…" Balasku.
"Matahari terbenam di sini sangat bagus, kita pulang setelah melihatnya ya." Katanya.
Aku mengangguk, dan kami memutuskan untuk bermain sebentar di laut.
"Kau pernah ke tengah laut, Mitsuru??" Tanyanya saat kami masuk ke dalam laut yang dangkal.
Aku menggeleng, merasakan firasat buruk. Dan benar saja, setelah tersenyum lebar ia menggendongku di punggungnya dan membawaku ke tengah lautan.
"Hei, tunggu! Apa yang kau lakukan, Akihiko?!" Protesku, tapi aku tidak berusaha untuk turun.
"Aku ingin kau merasakan rasanya berada di tengah laut. Tenang saja, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian." Balasnya sambil tersenyum.
"Tapi turunkan aku…!" Kataku.
"Tidak, kau pasti kabur kalau kuturunkan. Nanti kalau sudah sampai di tengah aku turunkan!" Balasnya sambil tersenyum nakal.
Aku hanya bisa menghela nafas saat ia terus berjalan menggendongku ke tengah laut. Sampai air menutupi setengah badan kami.
"Nah, di sini sudah cukup." Katanya sambil menurunkanku. "Rasanya menyenangkan, kan? Berada di tengah lautan begini." Lanjutnya.
"Menyenangkan apanya? Aku merasa kesepian di sini…!" Protesku.
Lalu Akihiko menggenggam tanganku erat. "Kalau begini, tidak kesepian lagi kan?" Katanya lembut. Aku hanya bisa terdiam. "Sebentar lagi matahari terbenam. Melihatnya dari tepi pantai sudah biasa, makanya kubawa kau ke tengah lautan." Jelasnya.
"Baiklah, kuturuti. Tapi lain kali kau tidak akan kuizinkan membawaku ke tengah laut lagi." Kataku.
"Ya, lain kali kita ke tengah laut dengan kapal!" Balasnya sambil tertawa.
Sesaat kemudian warna orange bercampur merah menyebar ke langit luas di atas laut berombak tenang. Aku menengadah dan menatap sang surya dengan kagum, merasakan betapa ia sangat hebat, dapat mengubah segalanya di dunia ini.
"Aku yakin, setiap orang yang melihat matahari terbenam saat ini… telah diisi hatinya oleh kebaikan dan ketenangan." Kataku.
"Ya, warna ini adalah warna yang tepat… Lihat, warna lautnya juga bagus." Balasnya.
Aku mengalihkan pandanganku dari langit ke laut di sekitarku. Benar kata Akihiko, lautnya sudah berganti warna. Warna biru tua dan muda yang bergolak pelan telah dicampur dengan warna orange dan merah.
"Andai saja… semua orang dapat berubah secepat matahari mengganti warna laut…" Bisikku pelan, tapi aku yakin Akihiko dapat mendengarnya.
"Bodoh, kalau semua orang secepat ini berganti, kita pasti akan kebingungan!" Balasnya sambil menepuk lembut kepalaku.
"Tapi waktu juga berganti sama cepatnya dengan laut yang berganti warna, Akihiko. Laut ini bagaikan waktu, dan kita berenang di antaranya. Warna yang berganti seperti waktu yang berjalan cepat, dan tanpa kita sadari, kita tenggelam di antaranya." Jelasku.
Akihiko menghela nafas sambil tersenyum. "Tapi kau tidak seharusnya memikirkan hal itu lagi, kau tahu? Ayo, sekarang sudah semakin gelap, kita kembali dulu." Balasnya sambil menarikku berjalan ke tepi pantai. Tapi aku menahannya, membuatnya berhadapan denganku. "Ada apa? Mitsuru?"
Kono mama nemutte shimaitakunai
Anata wo mada kanjitetai…
Like this, I don't want to sleep yet
I still want to feel you…
Aku memandang air di bawahku. "Tinggallah bersamaku… lebih lama lagi…" Kataku. Air laut semakin mendingin, matahari telah sepenuhnya terbenam, bulan dan bintang telah menggantikan tugasnya. Angin malam berhembus, membuat tubuhku yang setengah basah mulai merasa kedinginan.
Akihiko tersenyum dan memelukku. "Kalau kita di sini terus, bisa-bisa kita sakit. Ayo, kita pulang dulu. Aku janji, besok kita akan pergi ke suatu tempat lagi." Balasnya.
Aku menoleh menatapnya. "Ke tempat lain?" Tanyaku.
Ia mengangguk, lalu menggendongku lagi sampai ke tepi pantai, dan kami duduk di pantai untuk beberapa saat.
"Aku suka tempat ini." Kataku.
"Aku juga." Balasnya. "Lain kali kita ke sini lagi ya." Lanjutnya sambil tersenyum.
Aku balas tersenyum lalu mengangguk. Kemudian aku merebahkan tubuhku di atas pasir putih yang dingin.
"Bintangnya lebih banyak dari biasanya…!" Kataku agak terkejut melihat banyaknya bintang di langit.
Akihiko ikut berbaring di sebelahku dan menatap langit di atas. "Benar, andai setiap hari seperti ini ya…!" Balasnya.
Aku menutup mata sambil tersenyum, rasanya damai sekali. Akihiko mengambil tanganku dan menggenggamnya lembut.
"Kau mengantuk?" Tanyanya.
Aku menggeleng. "Aku tidak mau tidur." Balasku.
"Kenapa?"
"Kalau aku tidur, aku akan kehilangan hari ini, aku akan kehilangan perasaan ini, aku akan kehilangan Akihiko yang sekarang…"
"Hei, kau tidak boleh berkata begitu. Apa pun yang terjadi, tidak akan ada yang bisa menghentikan waktu."
"Aku tahu." Kataku sambil duduk kembali, diikuti olehnya. "Aku tahu, tapi…" Aku menyenderkan kepalaku di pundaknya. "Aku masih ingin… merasakan Akihiko…"
Ia terdiam sejenak, tetapi lalu memelukku erat. "Aku tidak akan kehilanganmu… tidak akan pernah lagi…"
Moshimo anata ga sabishii toki ni
Tada soba ni iru koto sae dekinai, kedo
Nakusu itami wo shitta anata wa
Hoka no ai wo tsukameru
Sou inotte iru
If you are in your lonely time
I can't be by your side, but
You, who knows the pain of losing something
Will grasps hold of another love
That's what I pray for
"Aku tidak akan mau kehilangan apa pun lagi." Lanjutnya.
"Kau sudah cukup kehilangan banyak hal, Akihiko." Balasku.
"Aku tidak akan percaya kalau kau bilang kau tidak cukup kehilangan banyak hal, Mitsuru."
"Memang iya. Siapa bilang aku tidak kehilangan banyak hal?"
"…"
"Tapi bukankah karena itu kita bisa belajar tentang banyak hal? Kalau… Kalau ayahku tidak meninggal, aku tidak akan tahu bagaimana rasanya kehilangan. Kalau Akihiko tidak kehilangan Shinjiro dan Miki, Akihiko tidak akan pernah bersiap untuk kehilangan hal yang lebih besar. Semuanya… tidak terjadi tanpa suatu alasan."
"Tapi biar bagaimanapun juga aku tidak ingin kehilangan apa pun yang lebih besar dari itu."
"Dasar keras kepala."
Kami terdiam sejenak, membiarkan angin mengisi keheningan ini. Tapi saat kami merebahkan tubuh kami di atas pasir lagi dan aku memandang langit, aku melihat sebuah bintang jatuh. Entah itu benar atau tidak, yang pasti aku langsung duduk dan memohon satu hal saja.
"Bintang jatuh? Baru pertama kali aku melihatnya." Kata Akihiko sambil ikut duduk di sampingku.
Aku terdiam, tetap berdoa, dan sesaat kemudian aku tersenyum ke arahnya. Ia tampak bingung dan tidak bisa menahan pertanyaannya.
"Kau memohon apa?" Tanyanya.
"Aku berharap, semua rasa sakit karena kehilangan, akan memberi kesempatan untuk merasakan kebahagiaan yang lebih baik." Jawabku.
"Dan kau memohon itu untuk…?" Tanyanya lagi.
"Akihiko." Jawabku singkat dan santai.
Akihiko tertawa kecil, lalu menepuk kepalaku lembut. "Terima kasih. Maaf aku tidak sempat memohon apa pun untuk Mitsuru, karena itu akan kulakukan di Naganaki Shrine saja." Katanya. "Sudah malam, ayo pulang." Tambahnya sambil berdiri dan mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri.
Aku menyambut tangannya dan sebelum kami meninggalkan tempat ini, aku memandang ke laut hitam sejenak, lalu mengikuti Akihiko yang sudah beranjak duluan.
--
Akihiko's POV
Pagi ini entah kenapa aku bangun lebih awal, sebelum alarmku berbunyi pun aku sudah mematikannya dan keluar dari kamarku. Tapi rupanya tetap tidak terlalu pagi untuk Mitsuru dan yang lainnya sudah berada di bawah.
"Pagi, senpai. Tumben bangun pagi, sekarang masih jam enam lho." Sapa Fuuka yang masih mempersiapkan makan pagi.
"Ah, pagi. Entahlah, aku tahu-tahu bangun sendiri." Balasku asal. "Di mana yang lainnya?" Pertanyaan bodoh, bukan?
"Junpei tentu saja masih tidur, senpai." Jawab Yukari cuek saat aku duduk di sofa yang sama dengan Mitsuru.
"Maksudku Ken." Balasku singkat.
"Entahlah, mungkin sebentar lagi turun." Kata Fuuka. "Ngomong-ngomong, hari ini kau ada acara, senpai?" Tanyanya.
"Uhm, oh ya, ada. Kenapa?" Balasku.
"Oh, tidak apa. Kalau senpai tidak ke mana-mana aku ingin mengajak kalian semua jalan-jalan, paling tidak untuk merayakan Natal." Jelas Fuuka.
Yukari tertawa kecil. "Soal Natal sih sudah dirayakan besar-besaran ya, senpai?" Katanya dengan nada mengejek.
Aku memasang ekspresi 'diam kau!', dan ia malah semakin tertawa, sementara aku hanya bisa pasrah dan melihat Fuuka yang bingung sekaligus cuek. Tapi Mitsuru hanya diam saja, maka aku menengok ke arahnya dan melihat matanya terpejam.
"Mitsuru?" Panggilku.
"Shht, jangan dibangunkan. Entah karena apa senpai sepertinya sangat capek." Ujar Yukari cepat.
"More or less, sepertinya itu salahku." Balasku menyalahkan diri sendiri.
Yukari tampak semakin bingung. "Kau apakan dia?" Tanyanya dengan nada mencurigakan dan mencondongkan badannya ke arahku dari seberang sofa ini.
"Apa maksudmu? Aku hanya membawanya jalan-jalan kemarin sore." Jawabku santai.
"Oh." Balasnya singkat sambil menyenderkan tubuhnya lagi.
"Senpai, jangan-jangan maksudmu hari ini ada acara itu adalah—"
"Sepertinya iya, Fuuka." Potong Yukari sambil tersenyum mengejek.
"Apa salahnya, hah?" Protesku.
Dan mereka berdua hanya tertawa.
--
Itsuka anata ga yoru ni mayoi
Futo ano hi wo mitsume kaesu nara
Mabushii tsugiru taiyou no naka de
Hohoemu watashi wo omotte, ne?
If one day you ever lost within the night
Come to suddenly face again that day
When you are under the shine of the sunlight
Remember the smiling me, okay?
Siang itu juga kami berangkat, sebenarnya dengan setengah mengendap-endap, karena kalau Junpei sampai tahu, dia bisa mengikuti kita sampai ke mana pun. Apalagi hari ini aku berniat mengajak Mitsuru ke tempat yang lebih jauh, lebih indah, dan lebih terang. Cuaca hari ini juga mendukung, jadi aku tidak mau menunggu apa-apa lagi dan langsung mengajaknya pergi saat itu juga.
"Maaf ya, Mitsuru. Mungkin aku akan membuatmu lebih capek lagi." Kataku di tengah perjalanan.
"Tidak apa, hasilnya seimbang kok." Balasnya sambil tersenyum.
Aku balas tersenyum, dan sesaat kemudian akhirnya kami sampai. Tempat ini jauh dan jarang dikunjungi, maka rasanya tidak ada salahnya mengajak Mitsuru ke sini. Memang agak panas, tapi di musim dingin begini udara pasti jadi terasa lebih dingin, tapi tetap saja tadi aku memintanya memakai baju yang tidak terlalu tebal dengan tetap membawa jaket.
"Sepertinya kau tahu banyak tempat yang jarang dikunjungi orang lain." Komentar Mitsuru saat kami berjalan kaki untuk menuju tempat yang aku ingin ia lihat.
"Begitulah nasib anak kecil yang senang menjelajahi dunia seorang diri tanpa ada orang dewasa yang menemaninya." Balasku sambil tertawa. "Nah, ini tempat kencan kedua kita!" Kataku menunjukkan sebuah padang bunga yang terhampar luas disambung langit biru dan gunung yang tidak terlalu jauh.
Mitsuru tersenyum melihat pemandangan di hadapannya. "Anginnya terasa menyenangkan…" Katanya.
Aku menggenggam tangannya dan mengajaknya turun ke antara bunga-bunga indah ini. "Percayalah, kau tidak akan puas sebelum duduk di antara bunga-bunga ini." Kataku.
Dan di sanalah kami, duduk di padang bunga, menikmati angin lembut yang berhembus dari arah gunung di hadapan kami sambil mengobrol pelan.
Mitsuru's POV
Akihiko berdiri dan menengok ke arahku yang masih duduk dengan kaki terlipat di samping karena sesuai permintaanya, hari ini aku memakai rok selutut warna krem.
"Tunggu di sini, aku segera kembali." Katanya sambil tersenyum dan berjalan ke tengah-tengah padang bunga.
Selagi ia pergi, aku melihat-lihat ke sekeliling, menikmati warna indah dari kombinasi kupu-kupu dan bunga yang tumbuh di tempat ini. Entah sejak kapan tempat ini ada, tapi bunga-bunga ini pasti telah memberikan kehidupan baru pada bunga yang lainnya, sehingga tempat ini ada sampai hari ini. Tiba-tiba aku mendengar suara Akihiko memanggilku.
"Mitsuru!" Panggilnya.
Aku tersenyum dan berlari ke arahnya dengan hati-hati supaya tidak menginjak satu pun bunga. Seketika setelah aku berjarak lima puluh senti darinya, ia menyerahkan sesuatu.
"Suatu saat akan kuganti dengan buket pengantin yang betulan." Katanya sambil menyerahkan buket bunga berwarna putih bercampur dengan bunga warna kuning dan pink.
Aku menerimanya dengan pipi yang bersemu merah. "Terima kasih." Balasku sambil tersenyum.
Akihiko balas tersenyum, lalu memandang langit biru. Matahari tepat berada di atasnya dan menyinari dirinya. Saat itu entah kenapa aku merasa sangat cemas, khawatir sesuatu akan membawanya pergi dariku. Aku mendekatinya dan memeluk lengannya.
"Akihiko…" bisikku pelan. "Aku ingin memohon satu hal padamu." Kataku.
"Apa itu?" Balasnya.
"Saat… saat Akihiko sedang berada di bawah sinar matahari, di bawah kebahagiaan, di bawah kesenangan, maukah… Akihiko mengingat diriku yang sedang tersenyum?" Pintaku.
Kasane awasete yuku "suki" no tsuyosa
Nakukoto sae ai ni kaeta
The strength of many words of "love" comes together
Even if it turns into a love filled with tears
Entah kenapa sebelum Akihiko menjawab, air mata menetes dari kedua mataku.
"Tentu saja, kenapa tiba-tiba menanyakan hal seperti itu?" Balasnya sambil menghapus air mataku.
"Maaf… aku… aku…" Kenapa air mata ini tidak mau berhenti?
"Aku mencintaimu." Entah kenapa Akihiko mengucapkan satu kalimat yang malah membuatku semakin banyak meneteskan air mata. Aku berkali-kali menghapusnya, tetapi mereka menolak untuk berhenti.
"Walaupun aku tahu, aku tidak akan bisa memberi kebahagiaan sewajarnya padamu, walaupun aku tahu cinta ini akan dipenuhi air mata, tapi bukankah Mitsuru sendiri yang mengatakan bahwa segala rasa sakit akan memberikan kebahagiaan yang lebih?" Jelasnya.
Aku hanya bisa mengangguk, takut kalau suaraku hilang saat aku mau bicara. Lalu ia memegang bahuku dan menatapku lembut.
Tsuyogaru ai no yowasa ryoute ni
Kakaete moroi kizuna wo tashikameteta
Demo kono toki wo ikiru anata wo
Zutto, zutto mimamoru
My love, sono kokoro ni
See that the weak hands of a strong love
Hold the fragile bond
But this time,
I will protect the living you forever and ever
With my love from this heart of mine
"Jangan menangis." Katanya sambil menghapus air mataku lagi.
Aku mendongak dan menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca—aku sendiri tidak mengerti kenapa aku menangis.
"Walaupun cinta ini rapuh, tangan kita akan dikuatkan supaya kita bisa menjaganya." Katanya.
"Aku janji, aku akan selalu menjaganya, walaupun hal ini akan membahayakan hidupku." Balasku.
"Mitsuru tidak akan membuat janji yang tidak bisa dipenuhi kan?"
"Tentu saja."
"Sejujurnya aku tidak ingin Mitsuru membuat janji seperti itu. Tapi…" Akihiko memelukku erat, aku balas memeluknya juga. "Aku akan melindungi Mitsuru yang ada di hadapanku sekarang, selama-lamanya, dengan hatiku yang dipenuhi cinta kepadamu." Potongan dari mahkota bunga berterbangan ditiup angin, daun-daun yang hijau menemani kupu-kupu berwarna-warni yang terbang di sekitar kami, saat seperti ini… aku sangat menyukai saat ini… aku sangat menyukai Akihiko yang sekarang, aku menyukai kehangatanmu…
(Author's note : Sejak kapan Akihiko jadi gombal begini?? Maaf ya saudara-saudari…)
Akihiko's POV
Malam itu aku mengunjungi Naganaki Shrine, sekedar untuk berdoa. Waktu itu aku sudah berjanji akan berdoa untuk Mitsuru, tapi tujuanku ke sini ada satu lagi. Aku ingin berdoa pada Miki dan Shinji, rasanya sudah lama sekali tidak bertemu dengan mereka.
Aku pergi sendiri, tanpa ada yang menemani. Mitsuru memang tahu aku pergi, tapi ia juga tahu aku ingin pergi sendiri.
Saat ini aku sangat bingung, aku takut akan kehilangan sesuatu lagi. Aku butuh seseorang yang bisa kujadikan pelampiasan… tapi siapa? Tidak mungkin aku menarik Yukari, Fuuka, Aigis, dan Ken ke dalam penderitaanku. Tidak mungkin juga aku bercerita pada Junpei yang tidak bisa dipercaya, dan bercerita pada Koromaru malah akan membuatku terlihat seperti orang bodoh. Dan itu menyisakan… Mitsuru…?
Nakitai toki ya, kurushii toki wa
Watashi wo omoidashite kurereba ii
Yori soeru basho tooi natsu no hi
Nukumori ikiru yorokobi
In the times you want to cry, as well as the painful times
It will be alright if you remember me
A place we nestled together on that faraway summer days
A joy of the warmth that dwells
Sepulang dari Naganaki Shrine, entah ini yang disebut takdir atau nasib, Mitsuru lah yang satu-satunya yang sedang duduk di sofa bawah. Sepertinya saat ini hanya dia yang bisa kujadikan "tempat sampah".
"Ada apa, Akihiko?" Ternyata di saat-saat begini, insting manusia bisa bekerja dengan baik ya?
"Mitsuru…"
Mitsuru's POV
"Kenapa?" Tanyaku heran.
Akihiko berjalan mendekat dan duduk di sampingku. "Aku merasa kacau." Jawabnya.
"Kacau? Uhm… kacau yang bagaimana?" Balasku.
"Kacau yang… membutuhkan seseorang untuk pelampiasan…" Katanya. Dari raut wajahnya yang sedih, aku sepertinya bisa menebak saat ini ia merasa sakit dengan kenangan-kenangannya.
"Akihiko kan sudah janji akan selalu mengingatku." Ujarku. Ia menatapku dengan bingung. "Karena itu, di saat Akihiko sedang sedih pun, semuanya akan baik-baik saja kalau Akihiko mengingatku." Lanjutku sambil tersenyum lembut.
Akihiko terdiam sejenak, lalu tersenyum sambil tetap menunduk. "Ya, benar. Setiap kali aku mengingatmu, rasanya segalanya menjadi jauh lebih mudah." Katanya.
"Waktu kita menghabiskan waktu duduk di pantai saat musim panas yang lalu di malam hari—apa Akihiko ingat?" Tanyaku.
"Di Yakushima ya? Aku ingat." Jawabnya.
"Sepertinya sekarang aku sudah sadar, mengobrol, menghabiskan waktu walaupun hanya dengan berdiam, tetapi kalau bersama Akihiko… aku merasakan kehangatan dari kebahagiaan." Kataku.
Akihiko memutar badannya menghadapku, lalu menggenggam tanganku erat. "Aku akan memberikan kehangatan itu terus pada Mitsuru." Katanya tegas.
Aku tersenyum. "Ya, dan kita akan menjaga kehangatan ini bersama, kan?" Balasku.
Akihiko mengangguk, dan kami saling bertatapan.
Subete no kokoro ni…
Within my whole heart…
"Akan kujaga dalam hatiku, selamanya."
Kata-kata yang kami ucapkan bersamaan itu telah mengaktifkan sesuatu dalam diri kami. Kami akan terus mengingat janji yang kami ucapkan ini, supaya saat kami mengucapkan janji resmi di hadapan semua orang yang kami kenal, janji in itidak akan terhapus.
Janji bahwa kami akan mencintai satu sama lain dalam keadaan apapun.
…Fin…
--
Author: *nangis*
Hiks… Entah bagaimana… walaupun lama banget jadinya, tapi… tapi… hiks… malah saya sendiri yang nangis… =((
Minna, inilah chapter terakhir dari Akihiko x Mitsuru: Love Changes Everything. Seperti yang saya katakana sebelumnya, suatu saat akan saya buat sequel, sehingga cerita ini tidak berakhir begitu saja. Karena itu, saya sangat berterima kasih pada teman-teman dan para pembaca yang telah mendukung saya dalam pembuatan FanFic ini, sehingga FanFic 6 chapters ini bisa tamat dengan sukses!
Sekali lagi, terima kasih sebanyak-banyaknya. m(_ _)m
Akihiko x Mitsuru forever!
