Pandora Gakuen
Ch 2. Shinjiteiru.
Disclaimer : YAMAHA, Crypton Future Media
.
.
.
Disebuah rumah lusuh ditengah hutan, tinggalah beberapa orang yang secara terpaksa. Rumah itu–ralat–bangunan tua itu, yang terdiri atas dua lantai dan satu ruang bawah tanah, memiliki kurang lebih sepuluh kamar, dua kamar mandi, satu dapur, satu ruang keluarga, dan tidak ada ruang makan. Seperti rumah kebanyakan, bangunan tersebut juga memiliki beberapa masalah seperti atap yang bocor, dinding kayu yang sudah lapuk, kaca jendela yang mulai retak, hingga lantai kayu yang sudah berlubang diberbagai tempat. Jangan lupa perapian yang sudah bertahun-tahun tidak dibersihkan. Tanaman-tanaman liar menghiasi pekarangan bangunan tersebut, mulai dari ilalang dan pohon besar, lumut dan tumbuhan paku sudah menggerayangi dinding bangunan pula.
Namun tujuh orang yang menghuni bangunan tersebut tidak pernah patah semangat. Kagamine Len misalnya, seorang murid kelas satu yang setiap hari membersihkan kamar kakaknya mulai dari menyapu, mencuci pakaian yang berserakan, dan lain-lain dengan dalih masih ingin berumur panjang. Siang itu, ketika lelaki manis bersurai honey blonde itu telah menyelesaikan semua tugasnya, ia selalu duduk santai dipelataran bangunan kumuh yang harus dijadikan rumah itu. Menghela napas sembari merasakan hembusan angin–meratapi nasib–menerpa wajahnya. Seperti biasa, seseorang akan menyuguhinya dengan teh hijau, memberikan kenikmatan surgawi sesaat setelah terperangkap di neraka.
"Hari yang melelahkan?" Len dengan jelas mendengar suara merdu gadis yang sekarang juga ikut duduk disampingnya itu. Ia merasakan wajahnya menghangat ketika mencium semerbab wangi sakura dari sosok yang ada disebelahnya itu–meskipun sekarang adalah musim gugur. Selalu saja, gadis bersurai bak bunga sakura itu tidak pernah membuat jantungnya berhenti berdebar.
Len mencoba membuat suaranya setenang mungkin, "Ah, tapi mungkin aku sudah terbiasa…" balasnya sambil tertawa canggung.
Len terdiam cukup lama, menimbang apakah ia harus melangkah atau tidak.
"Nee, Luka-san…"
"Apa, Len-kun?" balas Luka–sang gadis sakura.
Entah sudah berapa lama Len memendam perasaan terhadap Luka, ia tidak pernah cukup berani untuk mengambil langkah. Lagi pula, dia hanyalah sebuah bayangan. Lelaki bermata bak langit itu mengepalkan tangannya erat. "Etto," Namun sekali saja–hanya kali ini saja–ia ingin mengambil sebuah langkah–setelah diajak bergulat oleh kakak dan sahabat kakaknya. "…besok… apakah kita bisa pergi kesuatu tempat, berdua saja?"
Keheningan menjalari seluruh tubuhnya.
"Tidak." Sebuah jawaban langsung sudah membekukan hati remaja berusia 15 tahun itu. Ia tahu 'Luka-san' adalah gadis es, ditambah lagi dia memang terbilang populer–meski tak lebih populer dari saudara kembarnya. Namun pukulan telak itu benar-benar menghancurkan hatinya.
"So- Sou ka. Aku tahu Luka-san memang populer, maaf-"
"Bukan itu." Len memberanikan diri menoleh kearah Luka, mendapati iris sapphire blue itu terpaku pada pemandangan di cakrawala. Len yang penasaran ikut menoleh kearah yang sama, melihat sebuah pilar cahaya yang menjulang menembus langit.
.
Pada saat itu, enam dari tujuh penghuni bangunan tersebut melihat phenomena yang sama.
Terpaku akan apa yang mata mereka perlihatkan.
.
"Hora, kita tidak akan bisa kemana-mana besok, Len-kun."
Keesokan harinya.
Laut terlihat begitu tenang. Kaito menatap ujung cakrawala mencari-cari keberadaan bundaran yang menyilaukan diufuk timur namun tak menemukannya. Ia beralih memperhatikan perairan, mencondongkan tubuhnya keluar kapal, memerhatikan dua ekor lumba-lumba yang nengadu kecepatan dengan kapal. Lelaki bersurai biru itu merarik napas sedalam paru-parunya dapat menerima. Ia menyadari seseorang yang berjalan mendekatinya. Seorang yang mengajaknya kepulau terpencil tersebut, membuatnya babak belur, matanya lebam, hidungnya nyaris patah, lehernya terdapat bekas cekikan, dan yang lebih parah ia hampir binasa. Kaito menghembuskan napas, berbalik memperhatikan guru olah raganya yang lumayan–ehem–seksi tersebut sembari tersenyum pahit. "Ada apa lagi, Haku-sensei..."
Wanita bersurai putih tersebut membalas senyum dengan senyum manis. "Ohayou, Kaito-kun..."
Kaito kena getahnya. Lagi.
Ia berjalan menuju kamar Miku sembari merutuki keputusannya mengikuti sang guru. Kaito mengetuk pintu kanar Miku pelan. Tak ada jawaban. Ia mengeruknya lagi, dan masih tak ada jawaban. Ia memutuskan memuka pintu didepannya perlahan, menampilkan seorang gadis tengah tertodur nyenyak dilantak bergelung bersama selimut putih. Terusan biru muda bermotif kotak-kotak makin membuatnya manis. Miku biasa menguncir dua rambut tealnya, namun ketika ia menggerainya Kaito justru berfikir ia terlihat begitu cantik, terlalu cantik bahkan.
Duduk bersimpuh dengan satu lututnya, Kaito memerhatikan paras cantik Miku, betapa stabil hembusan napasnya. Kaito menyeka juntaian helai rambut Miku yang menghalangi wajahnya sembari tersenyum lembut, "Ohayou, Miku-chan." Bisiknya.
Miku terbangun dengan disambut oleh sepasang kelereng biru tua yang menatapnya lembut, disusul dengan wajah tampan yang sama seperti pangeran yang diidamkannya selama ini. Tapi ia masih mengantuk dan tak mengerti apa yang dikehendaki otak sederhananya.
"Ohayou, Ouji-sama…" balasnya. Kaito begitu terkejut melihat senyum polos nan manis yang ditampilkan gadis tersebut.
Dengan lembut, Kaito meraih tangan Miku dan mencium punggung tangannya. "Kau harus segera bangun, tuan putri. Pelayan setiamu ini tidak akan bisa hidup tanpamu…" mulai sadar, Miku mencoba mencerna kata-kata dan suara yang didengarnya. Ia terlonjak bangun. Menatap Kaito dengan polos, lalu mengerjap beberapa kali. Berusaha mengingat kembali apa yang telah terjadi kemarin.
"My, my. Selamat pagi tuan putriku tercinta." Kaito bersumpah tidak akan pernah melupakan ekspresi wajah gadis manis itu saat ini, seberapa merah pipi halusnya, atau seberapa kecil pupilnya karena membeku, ataupun seberapa ingin ia mencium bibir cherry menggemaskan yang terbuka lebar itu. Tidak akan pernah.
Kaito duduk dikereta kuda dengan wajah kemerahan dipipi kirinya, ditambah rasa nyeri yang belum hilang. Diseberangnya, duduk seorang gadis dengan twintail teal yang membuang muka darinya, meskipun Kaito dapat dengan jelas melihat rona diwajahnya.
"Nee, sebenarnya apa yang telah terjadi diantara kalian?" disebelah Kaito, Haku duduk dengan rasa heran yang sangat besar ketika pagi tadi melihat murid seperti Kaito–yang katanya terkenal karena ke-gentle-annya–sarapan dengan wajah bekas tamparan diikuti anak kucing tengah terpicu adrenalinnya.
"Tidak ada apa-apa." Jawab Miku lugas sebelum Kaito dapat membuka mulut. "Dari pada itu, Haku-san. Apa alasanmu membawaku kesini?" mereka memang sudah saling memperkenalkan diri, tapi hanya sebatas itu saja. Dan Miku berhak mendapat penjelasan.
"Eh, mulai dari mana ya?" guru itu meletakkan sebelah tangan didagunya, tidak mungkin ia memberitahu Miku bahwa dirinya adalah pemegang kekuatan sihir yang sangat langka. Ataukah dia harus memberi tahu bahwa kakak laki-lakinya yang selama ini dianggapnya hilang sebenarnya menjadi salah satu murid terkuat di akademi? "Umm… mudahnya, sekolah kami memintamu untuk menjadi murid." Jawab Haku setelah menimbang. Ia benar-benar tidak yakin apa yang harus dikatakannya.
"Tapi aku bukanlah murid pintar." Miku mulai menundukan kepalanya. "…aku juga tidak memiliki kemampuan apa-apa seperti Shion-san…"
"Tidak juga." Entah sejak kapan Kaito tidak bisa membiarkan gadis itu sedih sedikitpun. "Miku-chan kan sudah menyelamatkanku."
Miku memerhatikan wajah tampan itu. Tapi tetap saja, Ia tidak bisa mengingat apapun setelah melihat wanita misterius itu mencekik leher Kaito. "Aku tidak ingat apa-apa."
Kaito segera menggenggam kedua tangan Miku dengan kedua tangannya, memandang lurus kekelereng hijau gadis itu. "Aku ingat." Miku dapat melihat ketegasan dilaut mata Kaito. "Aku tidak akan pernah melupakannya. Maka dari itu, percayalah padaku."
Miku yang terpaku akhirnya mengangguk dengan pelan.
.
Dan merekapun sampai ditempat tujuan.
.
Sesaat setelah turun dari kereta, Miku sudah tak bisa berkata-kata dengan apa yang telah diperlihatkan matanya. Ia membayangkan–setidaknya–sebuah bangunan yang hanya ada ditengah kota besar desanya, meskipun itu adalah bangunan lama, atau bangunan yang bergaya 'zaman dahulu'. Tapi, bangunan yang berada ditengah hutan itu sudah jauh lebih buruk dibandingkan rumah-rumah didesanya.
Tidak. Bahkan lebih jelek dibanding gubuk miliknya.
"Lebih buruk dari gubuk kakek." Ucapnya tanpa sadar, membuat seseorang yang sudah hampir merasa nyaman tinggal disana–ulangi. Sangat merasa nyaman–tertusuk. Malu pada diri sendiri. "Apakah orang-orang di kota suka tinggal ditempat jelek seperti ini?"
Ketika menoleh, dan Haku sudah siap untuk pergi. "Kuserahkan sisanya padamu ya, Kaito-kun…" ucapnya sebelum melesat pergi meninggalkan dua ekor kucing yang kebingungan.
Kaito merasa tertusuk. Dua kali.
Kaito menggelengkan kepalanya, lalu mengangkat dua koper barang bawaan Miku dan berjalan melewatinya. Sewaktu ia membawa sahabat-sahabatnya kesini dan mendapat hinaan yang lebih parah, Kaito masih bisa menerimanya. Tapi kenapa seorang gadis polos bisa merobek keteguhan hatinya? Apa karena yang menghina rumah kesayangannya itu adalah gadis desa? Kaito meratapi nasib.
Mereka berdua disambut oleh dua orang bersurai honeyblonde–seorang gadis, dan yang seorang lagi laki-laki–dengan hairclip diponinya. Si honeyblonde betina dengan pita putih dikepalanya segera berlari menghampiri Miku dengan senyum cerah, memegang tangan gadis itu dengan semangat. "Aku Rin. Kagamine Rin. Kau?" senyuman tidak pernah luntur dari wajah gadis itu, matanya yang sewarna dengan langit pagi memancarkan cahaya.
"Mi.. Miku Ha-"
"Nee, Miku-chan." Rin memotong perkenalan Miku secepat kilat. "Bakaito itu tidak melakukan sesuatu yang buruk terhadapmu kan?" Rin melirik Kaito dengan pandangan jijik ketika memanggilnya 'Bakaito'. Hal itu tentu saja memancing gadis sepolos Miku mengungat kejadian pagi tadi, membuat pipinya menjadi semerah tomat.
"Ti... tidak terjadi.. apa.. apa…"
Rin yang tertawa puas segera berlari kabur memasuki gedung. Ia tahu persis apa yang akan terjadi bila membuat Kaito kesal.
Kaito menelan ludah. Rinto Kagamine–honeyblonde yang satunya–telah mendengar kegugupan Miku dan melenggang mendekati Kaito. Ia melemparkan lengannya ke pundak Kaito.
"Hee… apa yang telah dilakukan pangeran kita ini?" godanya dengan senyum yang lebih lebar dibandingkan milik Rin.
"Aku tidak melakukan apa-apa kok, Rinto-senpai. Dari pada itu," Kaito memberikan kedua koper yang sejak tadi dibawanya kepada Rinto, "Tolong kau bawa koper ini kekamar nomor satu lantai dua. Ingat ya, lantai dua." Kaito memberi penekanan pada kalimat terakhir. Terpikir dibenak Rinto untuk membantah kata-kata Kaito, namun melihat betapa babak belurnya wajah tampan Kaito, ia menngurungkan niatnya dan dengan patuh Rinto kembali masuk kedalam.
.
Kaito pun memberikan sedikit tur kepada Miku. Mulai dari kamar-kamar–Kaito menjelaskan bahwa kamar lantai satu adalah kamar laki-laki–toilet, hingga dapur. Setelah tiga puluh menit yang melelahkan itu, mereka berdua sampai keruang tamu. Tidak ada yang berbeda dari ruangan bertatami itu, tapi setidaknya disini merupakan yang paling bersih. Diruangan itu hanya ada meja futon, dan disudut ruangan ada sebuah tv tabung yang sudah jelek.
Tiga orang duduk melingkari meja, dan ketiga orang tersebut memiliki surai honeyblonde. Miku mengenali Rin dan seorang yang dipanggil Kaito Rinto-senpai, tetapi laki-laki honeyblonde yang ketiga duduk membelakanginya, menatap televisi yang sudah buram diujung ruangan. Miku bahkan tidak begitu yakin apa yang dikatakan pembaca cuaca tersebut.
"Haa! Miku-chan..." Rin bangkit, dan menarik lengan Miku untuk duduk disampingnya. Kaito pun ikut diduduk salah satu sisi meja, ia baru menyadari betapa dinginnya udara musim gugur pagi itu.
"Nee, BaKaito. Apa yang kau lakukan disini hmm?" seperti biasa, Rin selalu mengajaknya berkelahi. Rin sudah membencinya sejauh ia bisa mengingatnya.
"Maafkan hambamu ini, Rin-sama..." Kaito sudah terlalu lelah untuk berdebat. Ia membutuhkan kehangatan.
"Maa, maa..." Rinto menepuk kedua tangannya, memotong pembicaraan sebelum Rin mulai mengamuk. "Bagaimana jika kita memperkenalkan diri pada nona manis yang akan menjadi keluarga nona ita ini..." lanjutnya dengan tersenyum.
Miku segera menegakkan tubuhnya, menghirup napas sedalam dan makin dalam sebelum memperkenalkan diri. "Hatsune Miku desu. 15 tahun."
Rinto menaikan salah satu alisnya mendengar marga gadis itu yang sama dengan sahabatnya lalu menatap Kaito dengan tatapan bertanya.
Kaito hanya mengangguk mengiyakan, dia memang adiknya.
Sementara Rin yang tidak perduli menanyakan hal-hal lain yang tidak begitu penting. Dari mana kau berasal, makana favorite, warna kesukaan, hingga tiga ukuran-Kaito melemparnya dengan gelas kosong sebelum Rin selesai menanyakannya.
"Aku Rinto kagamine." Rinto mengembalikan pembicaraan, "Aku adalah yasashii onii-channya Rin dan Len, bocah yang disitu." Rinto menunjuk si honeyblonde ketiga. Merasa terpanggil, Kagamine Len berbalik dengan wajah tesenyum kearah Miku. Ia duduk bersimpuh dengan begitu manis, membuat Miku berpikir ingin memiliki seorang adik.
"Nee, Len. Apa bagusnya sih si pembawa acara yang hampir botak itu." Rin melihat kearah televisi acuh tak acuh.
"Hee... Enak saja, Suzuki-san itu hebat. Ia tahu banyak hal..." bela shota yang satu itu dengan bangga. "Di... Dia meramalkan cuaca, dia juga selalu mengetahui apapun yang tengah terjadi didunia.. Dia juga memberikanku banyak tips... Di...dia..."
Kau terlalu banyak menonton, Len. Pikir semua orang yang ada diruangan itu, termasuk Miku.
"Tidakkah kita harus memberi tahu kalu Suzuki-san hanya membaca naskah?" Miku berbisik pada Kaito sementara Len menceritakan kebesaran pria setengah botak itu.
Sementara Kaito hanya tersenyum dan menggeleng pelan.
"Hei, jangan menggodanya begitu Rin. Adikmu itu baru saja patah hati..." Rinto memainkan gelas tehnya yang sudah kosong. Mendengar hal tersebut, wajah laki-laki yang bersangkutan langsung memerah wajahnya.
"Di... Dia tidak menolakku. Hanya tidak bisa kalau hari ini..." Len dengan panik menyangkal.
"Dia?" miku menatap Len heran.
"Hari ini?" Kaito ikut menatap Len.
"HAA!?" Rin tersadar pada siapa adiknya jatuh cinta. "Kau menembak Luka-san dan ditolak?!"
"Binggo!" Rinto menjentikkan jari. Len meledak.
Tak lama berbincang, Miku bisa mencium wangi teh hijau yang begitu kental disusul dengan wangi manis dari cokelat. Seorang gadis memasuki ruangan tersebut sembari membawa nampan yang berisi sebuah teko panas dan sepiring penuh dengan kue panggan coklat.
"Ah, Luka-chan. Tadaima." Kaito yang sejak tadi terlihat kesal segera merubah ekspresinya, Miku sedikit penasaran. Hanya sedikit.
"Kau sudah pulang? Okaeri, Kaito-kun..." ucap gadis itu sembari meletakan piring dan teko yang dibawanya ketengah meja. Lalu ia menatap Miku dengan tatapan keibuan, "dan selamat datang, Hatsune-san."
Muki tersipu mendengar suara lembut tersebut. Belum pernah ada yang membuat hatinya merasa begitu hangat seperti sekarang selain kakaknya. Kakaknya yang hilang setahun lalu. Luka kembali berdiri, berjalan kearah dapur untuk mengambil gelas baru ketika Kaito berkata "Aku tidak perlu gelas baru."
Kaito mengambil teko teh hijau dan menuangkannya kegelas kosong yang tidak diketahui pemiliknya dan meminum cairan tersebut tanpa ragu.
"Hentai-Kaito." dengus Rin.
Miku baru menyadarinya.
Itu adalah gelas Luka.
Luka kembali hanya dengan sebuah gelas, ia lalu duduk disisi yang sama disebelah Kaito, lalu menuangkan teh dan memberikannya pada Miku.
"Kau harus menghilangkan kebiasaan itu Kaito-kun." ucap Luka dengan nada tenang. "Para fansmu itu-"
Kaito membungkam mulut sahabatnya itu dengan sepotong kue. Potongan yang sebagiannya lagi telah digigit olehnya. Namun Luka mengunyah potongan tersebut dengan tenang.
Miku merasa potongan tersebut adalah potongan hatinya. Luka-san adalah gadis yang cantik dan lembut, berbeda denganku yang gadis desa... Pikirnya. Kaito yang tampan dan Luka yang cantik, mereka terlihat begitu serasi. Ia melihat kesekitar, Rin hanya fokus kepada dua kue panggang ditangannya, begitu pula dengan Rinto, dan Len sudah kembali mengalihkan pandangannya kearah televisi dengan kue dibibirnya. Tidak ada yang menganggap kejadian itu aneh, itu hanyalah 'kebiasaan'. Satu gelas dan berbagi sepotong kue adalah sebuah 'kebiasaan'.
Miku yang baru merasakan jatuh cinta kemarin, hari ini merasakan patah hati.
.
.
.
TBC
Nafu wa koko ni imasu. Jujur saya masih bingung mau update tiap berapa minggu. Kalo dua minggu kayanya kelamaan trus keburu lupa. Tapi kalo seminggu sekali takut ga kekeejar. TTATT
Mau curhat. Tadi pas pelajaran bk, dipasang lagunya Kiroro yang judulnya Mirai e. ada yang masih ingat? Itu tuh kaya lagu Bunda versi jepang. Truskan saya spontan nyanyi, jadinya diliatin yang lain… TTATT
Untuk cerita ini, yang masih mau saya bingungin itu Rin. Dia mau di pairingin ma sapa? Apa mesti dijadiin incest ama Len, apa Lennya berhasil aja ama Luka?
Nafu mau jawab review gapapa kan?
Guest chapter 1 . Nov 30
Eh… memang tadinya dikira fandom apa? Pasti Pandora heart.
fuyuki25 chapter 1 . Dec 2
haa! Yoroshiku, Fuyucchi. Ngomong-ngomong fuyu, nafu itu singkatan dari NAtsu-FUyu lho… XDDDD
yah… doain aja saya ga melupakan cerita ini dang a males dan wifi nya ngalir jadi ga males… XXD
Your Viewer chapter 1 . Dec 3
YYEEEEAAAYYYYY! Doumo arigatou…. XDDD meskipun rasanya saya masih banyak ada kekurangan… tapi nafu will do her best!
.
Untuk semuanya yang udah mau baca makasih banyak ya.
Kritilk dan saran amat dan sangat dibutuhkan.
.
-Nafu Ishida.
12/06/2016. 08.26 pm.
