Stalker Conflict Chapter 2

Genre : Romance, family, humor

Rate : T

Disclaimer : ehem, i don't own brothers conflict, so don't sue me, okay?


Kalian pasti pernah kan, mendapati diri sendiri di situasi dimana tak bisa berucap satu kata pun padahal sudah bersiap diri. Nah, saat ini, aku sedang berhadapan dengan seorang cowok yang sudah kutunggu-tunggu, ta-pi... Aaargh, mulutku! Perasaan aku nggak nge-lem ini mulut!

Oke, bisa dibilang, ehem, aku gugup.

Pemuda yang bernama lengkap Asahina Futo itu menatapku tajam, menunggu jawaban dari pertanyaan yang dilontarkannya tadi.

'Siapa kau?'

Aku membuka mulutku, berusaha mengucapkan suatu kata. Apa pun. Ayolah. Ayolah otak pintar-yang-sedang-konslet! Ayolah, apa pun, apa pu-

"KAU IDOLA-MULUT-BUSUK!" semburku. Tidak, lebih tepatnya, teriakku, yang sedetik kemudian, aku menyesalinya, sangat. Aku membeku di tempat. Tak mempercayai apa yang baru saja kukatakan.

Futo tercegang, tentu saja. Kedua matanya berkedip beberapa kali. Keningnya mengernyit, takut salah dengar. "Apa?" tanyanya, heran. Nadanya begitu rendah, menunjukkan bahwa ia juga kesal.

"A- itu..." Aku gagap.

"Ada apa iniii~?" tanya seseorang, aku menoleh.

"Tsubaki-san."

"Tadi Aika-chan kan yang teriak?" tanya seseorang lagi. Azusa-san.

Ah. Oh my god! Teriakanku tadi pasti kedengaran sampai bawah. Gimana nih?

"Fuutoo, apa yang sudah kau lakukan pada Aika-chan?" tanya Tsubaki, sambil merangkul Futo.

Futo mendecih. "Aku nggak melakukan apa pun! Gadis ini yang tiba-tiba teriak."

Tsubaki menatap Futo, terlihat tak percaya. "Heee~ Masaaa?"

Futo menarik kerah baju Tsubaki. "Tsubaki-nii~ lebih percaya sama cewek nggak jelas ini? Lagian, siapa sih dia?"

Azusa mendekati Futo. "Tetangga baru dan temannya Ema. Kau sibuk sih, jadi nggak tau," jelas Azusa, lalu menoleh padaku.

Aku keringat dingin.

Azusa menatapku heran. "Omong-omong, kenapa Aika-chan teriak seperti itu?"

Aku kehilangan kata-kata. Sial, aku kan jago ngomong. Kenapa aku jadi membisu seperti ini?

Tsubaki cekikikan. "Futo sih emang mulutnya busuuuk."

Brak! Azusa memukul kepala Tsubaki.

"Ittai~!" Tsubaki mendesis kesakitan.

Tiba-tiba, dering SMS dari handphone-ku terdengar. Aku meraih handphone-ku dari saku celana.

[From : Editor Sadist]

[Sensei, aku sudah di depan rumahmu. Sensei tidak sedang di rumah ya? Sensei, jangan bilang sensei lupa kalau malam ini kita ada meeting. Jika sensei kabur, saya akan membocorkan identitas sensei. Jangan lama-lama.]

Aku memucat. 'Kenapa dia ada disini?' teriakku dalam hati, panik.

Aku langsung berlari ke ruang keluarga dan menghampiri Ema.

"Sorry Ema-chan. Aku ada urusan mendadak!" seruku sambil mengatupkan kedua telapak tanganku, posisi meminta maaf.

"Oke. Nggak apa-apa," jawabnya, sambil tersenyum manis seperti biasa.

Setelah Ema menyutujui, aku menghampiri Wataru-kun. "Wataru-kun, maaf ya, onee-chan harus pergi sekarang."

Wataru-kun mengangguk dengan sedih. "Besok-besok nee-chan mampir lagi ya? Bawa oleh-oleh juga."

Masaomi-san mengusap rambut Wataru-kun. "Wataru, jangan ngerepotin Aika-chan."

Wataru-kun cemberut. "Tapi..."

Aku tersenyum geli. "Nggak apa-apa kok. Ntar nee-chan bawain manisan yang enak banget. Oke?" Aku menyodorkan tanganku, ingin high-five.

Prak! Wataru menerima high-five-ku.

"Minna-san, Aika pergi dulu ya!" seruku sambil membungkuk ke arah Asahina bersaudara.

"Hati-hati di jalan, Aika-chan!" seru Hikaru-san.

Aku tersenyum lalu langsung berlari menuju tangga. Sesampainya di atas, Futo berseru, "Cewek jelek, aku belum selesai denganmu. Ingat itu!"

Jantungku berdebar sesaat. Aku menjulurkan lidahku dengan reflek. Setelahnya, aku langsung berbalik dan berlari menuju lift sambil berusaha untuk tidak memperlihatkan wajahku yang memerah.

Sial, mulutnya emang busuk tapi... entah kenapa, dia tetap terlihat keren!

Aaaaarrrggghhh! Otak aku kenapa siiih?!


Aku meregangkan badanku. Layar latop didepanku menampilkan naskah novel yang baru saja kuselesaikan. Aku tersenyum.

"Akhirnya selesai juga."

Aku menundukkan wajahku dan mendapati Lucy masih setia duduk di pangkuanku. Aku tersenyum lalu mengusap lembut bulu hitam Lucy.

"Lucy, tetaplah disisiku ya," ujarku lembut. Aku sudah sungguh-sungguh sayang dengan kucing hitam satu ini.

Mata Lucy terbuka. Matanya yang hitam legam menatapku tajam. Aku tak tau dan tak bisa menerjemahkan tatapan kucing, tapi aku tau, Lucy sayang aku.

Aku menganggkat Lucy dari pangkuanku dan beranjak dari kursi.

"Lucy, tidur bareng aku lagi ya."


Supermarket Guruguru yang terkenal lengkap dan murah tampak ramai oleh pengunjung yang ingin berbelanja. Aku berusaha secepat mungkin menyelesaikan belanjaanku sebelum Supermarket menjadi penuh.

Aku berjalan di area bahan-bahan kue dan tersenyum lega tatkala menemukan apa yang kubutuhkan. Aku berencana untuk membuat Truffle Chocolate untuk keluarga Asahina. Aku sudah janji ke Wataru sih.

Aku mengulurkan tanganku untuk mengambil sekotak batang coklat namun tiba-tiba, seseorang sudah mengambil terlebih dahulu. Aku menoleh lalu terkejut saat menemukan Ukyo-san dengan troli belanja yang penuh oleh barang-barang.

"Ah, Ukyo-san! Sendiri aja?" tanyaku setelah menghilangkan kekagetanku.

Ukyo-san yang tadi tampak ikut terkejut akhirnya tersenyum. "Iya, sendiri. Aika-chan sendiri?"

Aku terkekeh. "Iyalah. Lagian, siapa yang bisa diajak bareng? Aku kan tinggal sendiri."

Ukyo sempat tercegang sesaat, seperti teringat sesuatu lalu memindahkan tatapannya ke kotak batang coklat yang ada di tangannya, dengan agak kaku. "Aika-chan butuh ini juga? Mau bikin apa nih?"

"Mau bikin Truffle. Masih coba-coba sih. Sekalian oleh-oleh buat Wataru-kun," jawabku sambil mengambil sekotak batang coklat dari rak barang lalu memasukkannya ke keranjang belanja.

"Oleh-oleh buat Wataru?" tanya Ukyo heran lalu tertawa geli. "Ya ampun, Aika-chan. Aku nggak tau kalau Aika-chan sayang banget sama Wataru."

Aku kembali terkekeh, sedikit malu-malu. "Aku suka anak kecil sih. Lagian, biasanya di panti asuhan, aku sering buat macam-macam makanan atau snack buat anak-anak panti, dan, ehem, jadinya aku seneng aja kalau bisa bikinin makanan buat Wataru."

Ukyo-san terdiam sesaat lalu tersenyum lembut. "Hemm.. kalau begitu, mau masak bareng? Aku juga jadi tertarik untuk membuat Truffle. Belum pernah nyoba juga. Gimana?" tanya Ukyo-san. Ia memandangku dengan lembutnya. Aku jadi teringat kakak yang lebih tua waktu aku di Panti Asuhan.

"Tentu saja!" seruku, senang. Walau, aku masih tak menyangka bakal bisa sedekat ini dengan keluarga Asahina.


"Jadi, kamu sekarang sudah dekat dengan keluarga idola yang kamu sukai itu? Ah, salah, 'mantan idola yang kamu sukai', benarkan?" tanya Mayu-nee, sahabatku sejak di Panti Asuhan tidak lupa menekankan kata 'mantan' pada ucapannya. Wanita dengan rambut kuncir kuda itu duduk dengan santai di balik meja kasir. Umur kami beda lima tahun, tapi karena suatu alasan yang benar-benar nggak jelas, kami berteman sangat dekat.

Aku menghela nafas. Aku menarik sebuah kursi, meletakkannya di depan meja kasir dan duduk dengan malas. Aku masih tak menjawab, hanya mengunyah dengan malas snack buat anak kecil yang di jual di toko yang sedang kudatangi kali ini. Aku memandang rak-rak snack anak-anak dan mainan murah yang dipajang di toko kecil itu.

"Toko Mayu-nee dari dulu tetep sekecil ini ya?" ujarku, tak bermaksud jahat.

Mayu-nee menggeplak kepalaku. "Diam deh! Gini-gini juga aku bisa punya ini toko dengan uangku sendiri."

Aku hanya ber-hem saja.

"Jadi, setelah ini apa yang mau kamu lakukan? Kamu mau balas dendam tapi kok tingkahmu kayak nggak sama sekali berniat untuk balas dendam terhadap, emm, siapa tuh? Furo? Tufo?"

"FUTO! Namanya F-U-T-O! FUTO! Mayu-nee ih, masa nggak tau?" seruku kesal. "Dia terkenal tauk! Ganteng lagi! Suaranya bagus dan akhir-akhir ini sering tampil di drama televisi."

Mayu-nee menatapku dengan tatapan bosan. "Kamu ini keliatannya masih suka sama itu idola ya?"

Aku tersentak. "NGGAK KOK! NGGAK! Aku BENCI! Dia sudah menjelek-jelekkan naskah drama yang kubuat. Aku sudah nggak suka dia lagi!"

Mayu-nee menghela nafas, menyerah. "Ya teserah deh. Lagian, aku nggak tertarik sama idola."

"Mayu-nee mah tertariknya sama uang kan ya," sindirku.

"Emang nggak boleh?"

Aku tak menjawab. malas.

Tiba-tiba, pintu toko terbuka. Tampak seorang pria dengan kemeja rapi, celana kerja berwarna coklat tua dan wajah yang manis, eh-

"Masaomi-san?" seruku tak percaya.

"Aika-chan! Konbanwa!" balas Masaomi-san sambil berjalan ke arahku.

"Masaomi-san mau beli apa?" tanyaku, beranjak dari kursi yang kududuki. "Disini ada berbagai snack dan mainan. Pasien Masaomi-san pasti pada suka."

Masaomi terlihat kaget. "Aika-chan kok tau saya mau beli buat pasien?"

Aku terkekeh. "Nebak aja. Kalau nggak buat Wataru-kun, ya buat pasien. Masaomi-san kan dokter anak."

Masaomi-san mangut-mangut. "Kalau gitu saya beli 30 mainan yang harganya 100 yen ya?"

Aku melirik Mayu-nee yang masih memandang Masaomi-san dengan tatapan kagum.

"Mayu-nee, aku ambilin mainan-mainannya ya? Yang 100 yen letaknya di rak pojok kan?"

Mayu-nee tersadar dari lamunannya. "Iya. Beli berapa tadi?" tanya Mayu-nee ke Masaomi-san.

"Tiga puluh."

"Jadinya, 3000 yen."

Masaomi-san mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan 3 lembar 1000 yen.

Setelah memasukkan 30 mainan ke kantong plastik, aku meletakkannya di atas meja kasir. "Ini barangnya, Masaomi-san."

"Makasih. Oh ya, saya senang loh, ketika menemukan toko ini kemarin. Toko seperti ini sudah jarang sih," tutur Masaomi-san sambil meraih kantong plastiknya.

Aku tersenyum sambil melirik Mayu-nee. "Mayu-nee punya ketertarikan yang aneh terhadap toko seperti ini sih. Jadi dia membelinya."

Masaomi-san tampak terkejut. "Anda yang punya toko ini? Wah, hebat. Masih muda sudah punya istana sendiri."

Pipi Mayu-nee tampak bersemu. "Terima kasih."

Setelah pamit diri dan mengundangku kembali untuk mengunjungi Sunrise Recidence, Masaomi-san meninggalkan toko dan menyisakan Mayu-nee yang masih blushing.

"Ehem, Mayu-nee suka Masaomi-san ya?" godaku sambil berusaha menahan tawa. jarang-jarang loh Mayu-nee suka cowok pada pandangan pertama. Jarang banget.

Mayu-nee cemberut. Pipinya masih memerah. "Diam a-"

"Kaa-chan! Lapal!" seru seorang balita berusia tiga tahun, tiba-tiba muncul di pintu belakang toko yang menghubungkan ke bagian rumah Mayu-nee.

"Ayumi-chan!" seru Mayu-nee sambil menghampiri Ayumi-chan, anak Mayu-nee. sayangnya, Ayah dari Ayumi meninggal sebelum sempat bertemu Ayumi dan menikahi Mayu-nee. Masa lalu yang cukup membuat hidup Mayu-nee jungkir balik.

Aku menghela nafas panjang. "Ayumi-chan sepertinya butuh sosok seorang ayah deh, Mayu-nee."

"Berisik! Kamu pikirin aja tuh idola yang mau dibalas dendamin!"

Aku cemberut. "Yeee, disaranin yang baik-baik malah dijudesin. Dasar! Tenang saja, aku akan cari cara yang membuat tuh idola bakal nyesel setengah mampus!"


Aku membuka bento yang kubawa dari rumah. Saat ini aku sedang ada di ruang santai sebuah studio televisi ternama. Aku menyantap dengan lahap sarapan yang belum kumakan itu. Sesekali, cengiran bahagia lolos dari mulutku. Baru saja, naskah drama buatanku diterima untuk dijadikan sebuah film layar lebar.

Ya ampun, siapa sih yang nggak senang? Hahaha.

"Ah, si cewek gila," ujar seseorang.

Aku menghentikan kegiatan makanku. Dengan hati-hati, aku mendongakkan wajahku. Uhuk! Aku tersedak dan hampir memuncratkan makanan yanga ada di dalam mulutku tatkala perkiraanku menjadi kenyataan. di hadapanku, berdiri dengan angkuh, Futo dengan tampilan yang, uugh, bisa dibilang keren. gaya rambutnya kali ini juga tampak membuatnya menjadi lebih wild.

"Sedang apa kau disini?" tanya Futo sambil duduk di kursi seberangku.

Aku tak bersuara, hanya menepuk-nepuk belakang leherku, berusaha untuk menetralkan kembali tenggorokan yang pedih.

Futo mengernyitkan dahinya. "Kau tuli dan bisu ya?"

Aku cemberut. "Aku denger kok, idola-rambut-kesetrum!"

Futo sempat menampilkan wajah kaget lalu memasang wajah kesal. "Kamu tuh kenapa sih? Omongannya nggak enak banget."

Aku memalingkan wajahku. "Kau tak perlu tau!"

"Hei cewek aneh," bisik Futo sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. Oh My God, aku yakin banget wajahku sudah memerah. Dengan jarak yang sependek itu, aku bisa merasakan nafas Futo. Aaaaa! WARNING! NEED HELP! "Kamu lebih baik nggak mengatakan hal-hal aneh lagi, oke? Atau kau bakal kuledakin hingga tak seorang pun mau berdekatan denganmu lagi."

"A-aku nggak pe-peduli!" balasku, dengan tergagap-gagap.

Futo tersenyum meremehkan. "Heh! Kamu bisa malu juga ternyata."

Aku berusaha, se-bi-sa mungkin untuk menampakkan wajah cemberut. Tiba-tiba, perutku terasa melilit. Ugh, sial banget sih.

"Dengar ya! Semua orang juga tau kalau- eh, hey, hey, hey! Mau kemana kamu?!" seruku kesal tatkala melihat Futo tiba-tiba beranjak pergi begitu saja. "Aku nggak mau dengar basa-basimu, cewek-gila," ucapnya, enteng.

"Aku nggak gila!" seruku, sangat kesal.

Ugh, awas aja! Aku bakal membuat idola-sok-keren itu bersujud di hadapanku!


"Waaaa! Tampilannya tidak seperti masakan yang baru pertama kali dicoba!" seruku ketika melihat Truffle-truffle coklat yang ada di hadapanku.

"Aika-chan cepat belajar ya. Resep yang Aika-chan pilih juga gampang dimengerti loh!" ujar Ukyo-san sambil memberikan sprinkle warna-warni di truffle terakhir.

Aku terkekeh. "Wataru-kun pasti senang."

Aku menatap layar televisi yang menampilkan iklan baju yang diiklankan oleh Futo. Aku tak yakin berapa lama aku menatap iklan itu hingga seseorang menepuk bahuku.

"Aika-chan? Halo?" seru Ukyo-san tampak khawatir.

"Ah, ada apa Ukyo-san?" tanyaku malu, tertangkap basah sedang melamun.

Ukyo-san terkikik. "Sudah beberapa kali loh saya memanggil Aika-chan tapi Aika-chan cuma melamun aja. Liat apa? Iklannya ya? Atau...Futo?"

Pipiku terasa panas. "Ukyo-san! Aku liat iklannya kok! Bukan Futo!"

"Ada apa dengan Futo?" tanya seseorang dari arah tangga dapur.

Aku menoleh dan mendapati Yuusuke dengan pakaian seragamnya.

"Hai, Yuusuke!" seruku, tidak menggubris pertanyaan Yuusuke.

"Oh, okaeri Yuusuke," ujar Ukyo-san yang sedang meletakkan Truffle yang baru saja dibuat ke dalam kulkas.

Yuusuke yang sepertinya menyadari tingkahku, menghela nafas panjang. "Kamu kok sudah pulang sih?"

Aku nyengir lebar. "Aku kan pintar Yuusuke! Nggak kayak kamu."

Yuusuke cemberut. "Sialan. Mau taruhan aku bakal masuk universitas atau nggak?"

Aku tertawa terbahak-bahak. "Sorry, sorry! Ah, mau Truffle, Yuusuke?"

Yuusuke menghampiriku yang sedang mencuci alat-alat yang sudah selesai digunakan. "Truffle? Kamu yang buat?"

Aku mengangguk cepat. "Yap! Enak loh! Aku buat bareng Ukyo-san."

Yuusuke mangut-mangut. "Hemm, boleh, boleh! Mana?"

"Tuh di kulkas! Lagi didinginin dulu. Tahap terakhir dari membuat Truffle Super A La Aika! Hehe!"

Yuusuke mencibir kalimat terakhirku. "Berharap saja aku nggak mati keselek."

"Ha? Maksud kamu apa Yuusuke?" seruku nggak terima.

Yuusuke nyengir lebar. Ia menyenderkan tubuhnya ke arahku. "Masa kamu lupa? Waktu kelas satu, salah satu kue buatanmu di Kelas Ekonomi membuatku keselek dan hampir di bawa ke UKS karena nggak bisa bernafas kan?"

Aku menganga lebar. Pipiku memanas. Cengiran lebar pun terpampang di bibirku. "Hehe. Maaf deh! Lupain aja yang itu! Aku kan nggak sengaja."

"Sampai sekarang aku masih nggak ngerti bahan apa yang ada di kue itu, yang membuat aku sampai nggak bisa bernafas," sindir Yuusuke, masih dengan senyuman gelinya.

"Ih, udah deh! Yang ini enak kok!" seruku mulai kesal. "Kalau nggak mau ya udah!"

Yuusuke cekikikan. "Oke, oke. Aku percaya kok. Habisnya, sejak kejadian itu, masakanmu selalu terasa enak. Aku suko loh!"

Aku terdiam. Sungguh, aku tidakmenyangka Yuusuke bakal bicara seperti itu. Aku tersenyum lebar. "Thanks!"

"Ehem!" Ukyo-san berdehem.

Aku dan Yuusuke menoleh ke arah Ukyo-san yang masih berdiri di depan kulkas.

Aku mengerutkan keningku. heran. "Ada apa Ukyo-san?"

"Sepertinya aku jadi orang ketiga nih ya? Atmosfirnya berat banget nih," goda Ukyo-san.

Aku dan Yuusuke tertawa. Aku menatap Yuusuke lalu berpindah ke Ukyo-san. "Idih Ukyo-san! Kita ini temen deket doang! Nggak lebih! Ya kan, Yuusuke?"

Yuusuke tersenyum lalu mengangguk. "Partner in Crime gitu deh! Haha!"

Aku cemberut. "Ugh, lupain tentang 'Partner in Crime' itu deh. Kau membuatku merinding."

Yuusuke tertawa. "Iya deh, Aika. Kamu sudah berubah banget ya."

Aku tak menjawab, hanya menatap Yuusuke yang masih tertawa akan kenangan bersama kami waktu kelas satu.

Dasar, dia sama sekali nggak berubah.


Aku membuka pintu rumahku dengan malas. Capeknyaaa...

Aku baru saja dari meeting dengan Editor novelku. Editor satu itu benar-benar tidak mau kalah. Diskusi mengenai tempat kencan aja menghabiskan EMPAT jam! Gila!

Aku mengedarkan pandanganku, mencari keberadaan kucing kesayanganku. Akhirnya, aku menemukan Lucy di sofa ruang tamu.

Aku menghampiri Lucy. Lucy yang sedang menghadap berlawanan dari pandanganku membalikkan badannya. Aku tersenyum.

"Tadaima, Lucy!"

Lucy beranjak dari duduknya dan menghampiriku.

"Okaeri, Aika."

Itu suara seorang gadis dengan ciri khas suara yang lembut.

Aku membeku. Aku mengedipkan mata beberapa kali. Aku menatap sekelilingku lalu menatap Lucy. Aku pasti salah dengar.

"A, ha, ha, aku pasti capek banget sampai berhalusinasi seperti ini," seruku pada diri sendiri sambil tertawa kaku.

"Kau tidak berhalusinasi Aika. Kita memang bisa berkomunikasi," ujar Lucy, yang ini aku yakin karena mulut Lucy bergerak sesuai dengan kalimat yang baru saja diucap.

Kakiku lemas. Aku terjatuh ke lantai.

"LUCY! KAMU BISA BICARAAA?!"


Aaargh! Akhirnyaaa!

Plot udah dari kapan tau Azura siapin, tapi waktu untuk ngetiknya benar-benar tidak ada! Kalau ada juga bawaannya tidur. Hehe

Jadi Mahasiswa itu emang susah ya. Apalagi Jurusan IT. Ck.

Oke, minna-san! Mohon R-E-V-I-E-W nya ya untuk chapter2 berikut agar lebih baik.

Ja nee!