Stalker Conflict Chapter 3

Genre : Romance, Family, Humor

Rate : T

Disclaimer : Ehem, I don't own Brothers Conflict, I just own the story.


"LUCY! KAMU BISA BICARAAA?!"

"Ada masalah dengan itu?" seru Lucy kalem.

"Perasaan aku masih waras kok! Atau ini mimpi?" Aku mencubit lenganku dengan sangat keras. "AWW! Sakiiit," desisku.

Lucy terkekeh, "Tak menyangka kau akan sekaget ini Aika. Tentu saja aku bisa bicara. Tapi, hanya denganmu."

Aku mengernyitkan keningku. Kakiku sudah tidak lemas lagi. Mungkin karena aku mulai menerima hal aneh ini. Haha, lagian, siapa sih yang nggak bakal shock kalau melihat kucing bisa bicara. Tunggu ! Hanya denganku?

"Apa maksudmu hanya aku yang bisa bicara denganmu?" tanyaku heran.

Lucy melangkah mendekatiku yang masih terduduk di lantai. Anak kucing hitam yang sekarang udah cukup besar itu duduk ala kucing di depanku ketika kami hanya berjarak 30 sentimeter.

"Sebenarnya tidak hanya denganmu, tapi juga dengan Guardian yang lain. Sebut saja aku ini makhluk penjaga. Yah, tak semua manusia memiliki Guardian seperti kami. Karena kamilah yang memilih. Dan aku memilihmu Aika," jelas Lucy panjang lebar. Oh my gosh! Demi Futo-idola-mulut-kasar itu! Aku yakin Lucy sedang menyeringai.

Aku mengurut keningku yang mulai pening. Meski begitu, aku merasakan kehangatan di dadaku. Suatu kehormatan jikalau ada seseorang yang mau memilihmu, meskipun itu seekor kucing. "Guardian? Jenis makhluk apa itu? Semacam peri pelidung atau apa? Apa kau punya kekuatan juga? Kalau iya keren banget!"

Lucy tertawa. Tawanya terdengar renyah di telingaku. "Kami tak memiliki kekuatan. Kami seperti entitas yang selalu menemani dan melindungi, meskipun kami tak memiliki semacam kekuatan spiritual. Aku malah lebih ingin menjadi teman, ah, sahabat, ya, sahabat bagimu Aika. Tak boleh?" Kedua mata kucing itu menatapku lekat. Oke, aku nggak begitu yakin. Tapi aku melihat kedua mata itu bersinar lembut, mengalirkan semacam sinyal tarik-menarik yang kasat mata.

Akhirnya aku tersenyum lalu meraih kucing itu ke pelukanku. "Tentu saja boleh. Bahkan aku sudah menganggapmu sahabatku yang paling imut!"

Lucy tersenyum, ala kucing pastinya. "Baguslah. Terima kasih Aika."

"Sama-sama, Lucy."

.

.

.

Aku menatap layar laptopku dengan puas. Di layar laptop merk Grape itu, terpampang tampilan sebuah website yang bernama 'Anti-Fan Asakura Futo Cafe'. Aku terkekeh ketika registerku telah diterima oleh sang admin.

"Kau yakin akan melakukan ini Aika?" tanya Lucy yang sedang asik menggulung badannya di pangkuanku.

"Tentu saja!" seruku yakin.

"Aku harap kau takkan menyesal Aika."

Aku mendengus. "Kenapa aku harus menyesal? Mau taruhan?"

Tatapan Lucy seperti mengejek dan hal itu membuatku panas.

"Ayolah! Kalau aku menyesal nantinya, aku akan membelikan makanan kucing mahal buat kamu selama setahun. Bagaimana?"

Lucy terkekeh. "Aku tak butuh itu. Bagaimana kalau kau kuliah saja? Terima saja itu beasiswa dari Universitas Jouyo. Hem? Bagaimana?"

Aku menelan ludah. Ugh, sungguh! Kuliah itu adalah pilihan terakhirku setelah lulus SMA. Yang kuinginkan bukan duduk di kelas dan menerima pelajaran dari guru yang materi kuliahnya bisa aku hapal dan mengerti dalam sekian menit, tapi pemandangan indah nan mempesona kota-kota eksotis di Eropa, atau pandang rumput luas di Afrika. Intinya, aku ingin jadi traveler sambil melanjutkan pekerjaanku sekarang yaitu seorang penulis.

Aku menatap Lucy malas. "Kamu maunya itu?"

Lucy menyeringai, ada nada menyindir di perkataannya. "Apa? Kau tak yakin?"

Aku cemberut. "Yakin kok! Yakin! Oke, aku terima persyaratanmu!"

Lucy menggelengkan kepalanya lalu memejam matanya. Sepertinya ia mengantuk. "Baguslah! Sepertinya aku bakal melihatmu duduk manis di bangku kuliah."

Aku mendengus untuk kesekian kalinya. Sedikit kesal dengan perkataan Lucy. Katanya sahabatku, kok malah nggak mendukung sih? Aku kembali ke layar laptop lalu mencari tombol 'new post' kemudian tersenyum.

"Okay! Let's begin!"

.

.

.

Keringat dingin mulai terasa di telapak tanganku. Aku gugup. Aku diminta untuk menjadi Juri pada Audisi Film 'Flamingo Dress' yang sedang berlangsung hari ini. Aku senang bisa menjadi salah satu bagian dari penjurian film yang akan diangkat dari naskah buatanku.

Hari ini adalah hari ketiga, hari penjurian untuk audisi Katagiri Yuuya, adik tiri si tokoh utama wanita yang nantinya akan jadi orang ketiga. Aku menatap peserta nomor 6. Well, cowok keren dengan tatapan menarik. Tapi, entah kenapa ia tak cocok dengan peran Yuuya. Auranya ketika acting kurang karena dalam pikiranku, Yuuya adalah seorang cowok yang memiliki aura gelap yang memikat.

Aku menghela nafas. Ternyata jadi juri capek juga.

Sebenarnya aku masih lelah setelah dibombardir oleh editor sadisku. Entah apa yang ada dipikiran editor sinting itu. Apa sih bedanya rambut belah tengah dan rambut belah samping pada tokoh cewek perkasa? Heran deh. Gitu aja dimasalahin. Sial banget aku hari ini.

Akhirnya, giliran peserta nomor 7. Aku sedikit berharap dengan peserta ini. Hahaha, alasannya sih karena aku suka nomor 7.

Pintu ruang audisi terbuka dan sosok seorang pemuda berambut coklat pun hadir di ruangan. Beberapa juri berbisik-bisik, terdengar nada suka pada pembicaraan mereka.

Kalau aku? Aku hanya bisa cengo.

Ya, peserta nomor 7 adalah Asakura Futo, si idola-sialan yang kubenci. Terasa denyutan aneh di kepalaku. Pusing. Aku hanya bisa menyumpah serapah di dalam hati.

Sungguh, kenapa aku sial banget hari ini?

.

.

.

Oke, kalau berteriak-teriak kesetanan di tempat umum itu tidak memalukan, pasti sudah kulakukan. Tapi, karena aku masih punya rasa malu, aku hanya bisa mengetik sms panjang penuh cacian pada Mayu-nee yang dibalas 'Oh, gitu. Kasian banget kamu. Ha-ha-ha.' oleh Mayu-nee.

"Mayu-nee nggak peduli amat sih?" gumamku kesal campur sedih. Suasana ramai nan berisik di cafetaria studio yang sedang kudatangi itu membuatku merasa terkucilkan.

Tapi, kalau dipikir-pikir, dari semua peserta, acting Futo lah yang paling pas dan mengena. Aku menghela nafas panjang. Mengingat kembali bagaimana para juri lain yang langsung memutuskan bahwa Futo akan berperan sebagai Yuuya. Aku hanya bisa diam dan mengangguk tatkala diminta persetujuan.

Aaargh! Kenapa aku malah mengangguk? Kenapa nggak kasih alasan buat nolak itu idola-rambut-kacang?

Dihadapanku, sup jamur dengan jus tomat kesukaanku jadi terlihat tidak menggiurkan sama sekali. Aku mulai menyendok sup jamurku ketika seseorang duduk di kursi yang ada di hadapanku.

"Yo!" seru orang itu terdengar bersemangat.

Aku memutar bola mataku, sudah mengira siapa orang kurang kerjaan di depanku ini. Wajahku yang menunduk ke meja makan tak kugerakkan. Aku juga tak membalas sapaannya. Aku kembali menyuapkan sup jamur ke mulutku. Wajahku masih kutundukkan. Berlagak tidak mendengar gitu deh.

"Hei! Kamu budek ya?" tanya Futo terdengar jengkel kali ini.

Aku masih membisu. Aku kembali menyendok supku kemudian menyuapkannya ke mulutku hingga-

"Fuuh!" Sebuah aliran udara hangat membelai telinga kananku.

Aku mendongak kaget dan menyadari bahwa Futo baru saja meniup telingaku. Darah mengalir deras ke kepalaku. Jantungku pun sudah berdetak dengan cepat ketika menyadari apa yang baru saja dilakukan idola-tak-tau-diri itu.

Brak!

Aku berdiri dari kursiku. "A-apa yang baru saja kau lakukan bodoh?!" seruku panik, juga gugup. Aku memegang kedua telingaku. Kedua tanganku gemetaran.

Futo nyengir lebar. "Kenapa ?Kau tak suka? Lagipula, salahmu sendiri mencoba untuk mengabaikanku."

Aku mendengus kesal. "Aku cuma nggak mau bicara sama kamu tauk!"

Cengiran Futo melebar. "Heeee~! Kenapa gitu?"

"Nggak mau aja! Weeeek!" Aku menjulurkan lidahku. "Lagian kamu sendiri ada urusan apa sih? Kalo cuma mau gangguin mending pergi aja! Aku ogah deket-deket kamu! Waktu itu, pas aku ngomong, kamu juga nyuekin aku kan. Langsung melenggang pergi begitu saja! Huh! Apaan! Nyebelin! Pergi ke laut aja sana!"

Aku tersentak. Ah, aku sudah terlalu banyak omong. Suaraku nyaring lagi! Aku melirik ke kiri dan ke kanana. Beberapa pasang mata yang beradius 5 meter dari mejaku menatap kami berdua dengan penasaran. Aaaargh, tuh kan. Banyak yang ngeliatin jadinya!

Aku menatap Futo. Loh, kok dia diem gitu?

"Wahahaha!" Futo tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

Aku mengernyitkan keningku, tanda heran. Dia gila apa? Aku memiringkan kepalaku. "Apa yang lucu?"

Futo berusaha berbicara disela-sela tawanya. "Haha! Ini pertama kalinya aku ketemu Tsundere selain Yuusuke-nii. Hahaha!"

Hah? Siapa yang Tsundere? Aku gitu?

"Siapa yang Tsundere?" seruku tidak terima.

Futo masih tak bisa menghentikan tawanya. Aku mendengus kesal lalu meraih tasku dan melenggang pergi dari cafetaria. Sebelum benar-benar meninggalkan Cafetaria aku masih bisa mendengar Futo memanggil-manggil namaku. Sumpah deh! Aku tidak mengerti dengan hatiku. Aku kesal tapi... kenapa aku juga merasa senang? Senang atas apa?

Aku menghela nafas panjang.

Aku memang sial hari ini.

.

.

.

Saat ini, aku sedang bersama Yuusuke di sebuah Arcade. Sepulang sekolah, entah kenapa, Yuusuke mengajakku untuk bermain bersama. Kuterima saja. Habisnya, aku juga kangen main bareng sama Yuusuke.

Aku menatap sekumpulan boneka kelinci dengan berbagai warna yang ada di dalam Crane Game. Ugh, aku pengen banget boneka Rabby itu. Rabby adalah boneka Kelinci yang lagi populer. Ia adalah salah satu tokoh karakter di anime anak-anak saat ini.

Yuusuke berkacak pinggang. "Ayo cepetan pilih! Mau yang mana? Jadi cewek lama amat!"

"Iya, sabaran!"

Aku ber-hem lagi. Masih bingung. Warna pink? Jangan, aku udah punya banyak. Hijau? Biru? Ah, yang biru warnanya unik. Tidak terlalu muda dan juga tua. "Aku ingin yang biru!" seruku pada Yuusuke sambil menunjuk boneka Rabby yang berwarna biru, yang uniknya sisa satu di dalam Crane Game.

Yuusuke mengepal jari-jarinya, bersiap-siap untuk memainkan Crane Game yang terkenal susuah untuk dijinakkan itu.

"Ayo Yuusuke! Ganbatte!" Aku berteriak mendukung Yuusuke yang mulai memainkan permainan penghisap uang itu.

Dan akhirnya Yuusuke dengan hebatnya berhasil mendapatkan Blue Rabby untukku. Aku senang banget pas Yuusuke memberikan boneka itu padaku.

"Arigatou Yuusuke! Ini keren banget!" Aku memeluk erat Blue Rabby pemberian Yuusuke.

Yuusuke tersenyum senang sambil menggaruk-garuk telinganya. "Ini sih nggak seberapa. Asal kamu senang, aku juga ikut senang."

Aku menyikut perut Yuusuke. Yuusuke spontan merintih kesakitan.

"Ow! Apaan sih Aika?" gerutunya tidak mengerti akan seranganku.

Aku terkekeh. "Kamu manis banget deh. Ada apa denganmu, hah?"

Yuusuke cemberut. "Cih! Aku cuma mau memberikan sesuatu di reuni kita ini, kamu malah nyikut-nyikut. Sakit tau!"

"Ya maaf deh!" ujarku tapi terlihat sekali tak merasa bersalah.

Yuusuke menggelengkan kepalanya, berusaha menerima tingkahku yang memang suka aneh.

Setelah itu, kami berdua main bermacam-macam game dan pastinya aku selalu menang dan setelahnya diikuti dengan tantangan-tantangan tak berujung dari Yuusuke yang nggak mau kalah. Walau akhirnya, aku kalah juga olehYuusuke karena kehabisan tenaga. Aku dan Yuusuke akhirnya keluar dari arcade setelah tenaga kami sudah benar-benar terkuras.

Langit telah berubah warna menjadi hitam dengan hiasan bintang yang berkelap-kelip. Setelah arcade, kami mampir ke kedai ramen dan memesan satu mangkok jumbo untuk Yuusuke dan satu mangkok biasa untukku. Kali ini, aku nggak bisa ngalahin Yuusuke dalam cepat-cepatan menghabiskan makanan. Aku memang lemah kalau sudah yang beginian.

"Akh, kenyang banget nih!" seru Yuusuke ketika kami berjalan menuju stasiun kereta.

"Ya iyalah! Jumbo gitu! Kalo nggak kenyang, perut kamu itu nggak normal!" Aku menunjuk perut Yuusuke yang sedikit membesar.

Yuusuke tiba-tiba mengacak-acak rambutku. "Kamu kalau udah berhubungan dengan tenaga selalu paling bongkok."

"Bongkok?"

"Iya, paling bawah maksudnya."

Aku memonyongkan mulutku, kesal.

Yuusuke terkikik. "Tuh, kalo kamu sering monyong-monyong gitu, mulut kamu bakal kayak ikan loh!"

Aku mendorong bahu Yuusuke. "Aku bukan ikan! Lagia-" Aku menghentikan ucapanku dan juga langkahku ketika sebuah Advetisement Television yang memiliki layar yang lebar menampilkan iklan toko alat musik yang diiklankan Futo. Aku memandang iklan itu hingga selesai. Sebuah tepukan di bahuku menyadarkanku dari lamunan.

Aku menoleh dan mendapati wajah masam Yuusuke. "Apa?" tanyaku heran.

Yuusuke mendecih. "Kamu kalau udah menemukan sesuatu yang berhubungan dengan Futo, bakal langsung lupa ama yang lain."

"Haaah? Aku?" Aku mengembungkan kedua pipiku, berusaha menyanggah perkataan Yuusuke. "Masa?"

"Iya kok. Dari dulu, sejak kita kelas satu, kalo udah ngomongin Futo kamu langsung berseri-seri." Yuusuke mulai berjalan kembali, membuatku berusaha untuk menjajarkan langkahku dengan langkahnya yang lebar.

"Itu dulu! Sekarang udah nggak! Aku benci dia!" seruku berusaha meyakinkan Yuusuke. Dalam hati, aku mulai bingung gimana caranya agar Yuusuke tidak salah paham.

Yuusuke melirikku dengan ujung matanya. "Aku nggak tau apa yang sudah terjadi di antara kalian, tapi, kamu nggak keliatan seperti membencinya."

Aku reflek menggaet lengan kanan Yuusuke untuk menghentikan langkahnya. "Percaya deh! Aku benci Futo! Dia sudah mengejek naskah buatanku. Dia mengacuhkan ketika aku sedang berbicara dengannya. Dia seenaknya meniup telingaku. Dia mengataiku gila. Dia sombong dan nggak suka dicuekin. Nyebelin kan? Ogah banget aku ketemu dia! Aku sudah nggak suka lagi." Aku mengehela nafas lalu menengadahkan kepalaku dan menatap mata Yuusuke lekat. "Aku... benci Futo."

Hening.

Mata kami masih saling menatap dengan intensitas tinggi. Aku bisa melihat pantulanku di matanya yang jernih. Ya, Yuusuke adalah cowok jujur dan baik hati. Walau dia pemalu sih.

"Lebih baik kita cepat-cepat ke stasiun. Sudah malam," ujar Yuusuke, memecah keheningan di antara kami.

Aku terhenyak. "Ah,iya. Yuk, cepetan."

Kami pun berjalan dengan langkah cepat dan lebar menuju stasiun yang sudah terlihat di kejauhan.

"Aika," panggil Yuusuke tanpa menoleh.

"Apa?"

"Kamu Tsundere ya?"

"Haaaaa?" Aku mengernyitkan keningku kuat-kuat. Aku memonyongkan mulutku. Kali ini aku kesal banget. "Aku nggak mau dengar itu dari kamu. Kamu nggak pantas ngomong gitu tau!"

"Haa? Maksud kamu?" Kali ini Yuusuke menoleh padaku dengan wajah heran.

"Kamu nggak perlu tau," jawabku tak memandang Yuusuke.

Yuusuke tak menggugat lebih jauh. Kami pun sampai di stasiun dan langsung membeli tiket. Ditengah-tengah membeli tiket, Yuusuke menatapku lama.

"Apa lagi?" tanyaku sambil berkacak pinggang.

"Kamu makin pendek ya. Mungil gitu," ucap Yuusuke, atau lebih tepatnya bergumam.

Aku menatap Yuusuke tak percaya. Nih cowok! Aku pendek dari mananya? "Aku nggak pendek! Kamu aja yang tambah tinggi!" Dasar!

Malam itu, aku kembali merasakan kesenangan dan kehangatan yang selalu bisa kurasakan ketika bersama Yuusuke. Sama seperti dua tahun lalu. Ya, dua tahun lalu sebelum aku menjauh darinya.

.

.

.

Jalan pada malam hari tampak begitu remang-remang. Aku bersenandung-ria sambil mengayunkan plastik belanjaku. Aku baru saja dari Supermarket Guruguru untuk membeli susu dan beberapa cemilan. Susu segar yang dijual di Supermarket Guruguru selalu enak. Aku suka banget.

Aku terus melangkah dengan santai menuju rumah. Akan tetapi, tiba-tiba aku melihat sebuah sosok yang rasanya kukenal. Aku menghentikan senandunganku dan berjalan tanpa suara menuju sosok yang kuduga adalah Futo. Aku mengendap-endap beberapa meter di belakangnya. Itu benar-benar Futo! Mau kemana dia malam-malam gini?

Aku tersentak. Aku baru menyadari bahwa Futo tidak sendiri. Seorang wanita dengan rambut panjang kecoklatan dan balutan 2 in 1 Dress berwarna hitam serta Zip Back Wader Boot coklat. Wanita itu terlihat elegan dan ketika aku bisa melihat wajahnya walau sebagian karena melihat dari belakang, aku yakin seratus persen wanita itu cantik.

Ngapain Futo jalan bareng wanita yang lebih tua malam-malam gini? Pertanyaan itu lah yang mulai menghantuiku selama aku membuntuti kedua sosok yang mulai berjalan menuju Hotel Charlton Saphire yang terkenal. Hotel? Hoteeelll?

Aku mulai berkeringat dingin dan aku juga bisa mendengar detak-detak jantungku yang semakin nyaring di telingaku. Aku membuntuti mereka hingga mereka memasuki Pintu Hotel menuju Lobby.

Sebelum masuk, aku memandang tampilanku malam ini. Open Shoulder Shirt hitam dengan corak mutiara disertai celana pensil putih dan wedges hitam. Yap, penampilanku cukup cocok untuk masuk ke Lobby Hotel itu.

Aku pun memasuki Lobby yang terkesan sangat mewah dan bertemakan classic 70's. Aku menatap sekelilingku, banyak sekali foreigner yang berada di Lobby dan Lounge. Aku hanya bisa berharap suatu saat nanti bisa menginap di Hotel ini.

Aku pun kembali membuntuti Futo dan si wanita. Mereka terlihat sedang memesan kamar hotel. Setelah itu, mereka memasuki sebuah Lift. Aku menunggu hingga angka yang menunjukkan posisi lift berhenti di suatu lantai. Angka yang menampilkan posisi lift berhenti di Lantai 9. Aku pun masuk ke lift yang ada di sebelahnya, yang kebetulan kosong daan menekan tombol angka 9.

Setelah sampai di Lantai 9, aku keluar dari lift dengan terburu-buru, berharap masih bisa menemukan dua sosok itu. Aku mencari secara acak ke lorong-lorong kamar hingga-

Grep!

Seseorang menarikku dari belakang ke dalam sebuah kamar. Aku terbelalak kaget dan berusaha untuk berteriak tapi tak ada suara yang keluar dari mulutku. Aku terlalu shock. Orang yang menarikku langsung menutup pintu kamar dan mendorongku ke dinding. Kepalaku pusing dan berdengung karena benturan ke dinding yang sangat tidak manusiawi itu.

Aku meringis lalu mengangkat kepalaku, ingin tau siapa yang melakukan hal ini kepadaku. "Hei, si-" Sekali lagi aku terbelalak.

Di hadapanku, Futo berdiri dengan wajah memuakkan disertai cengiran lebar. Kedua tangannya di kedua sisi badanku, mengunciku agar tidak bisa kabur. Badannya ia condongkan ke arahku, pun wajahnya hanya tinggal sekian sentimeter dari wajahku. Jantungku berdetak keras dan keringat dingin mulai terasa di seluruh badanku.

Futo bergumam, "Sedang apa kau disini cewek-gila?"

Aku mendengar suaranya samar-samar. Yang terdengar nyaring di telingaku hanya suara jantungku yang berpacu dengan cepat. Aku tak lagi bisa menggunakan akalku dengan baik, aku hanya bisa berkata, "Hai, Futo. Mau susu segar?"

To Be Continued...


Wahahaha ! Akhirnyaa~! Sekali lagi, akhirnyaaa~! #gulingguling

Kalau saja tugas kuliah bisa diabaikan, Azura sudah membuang jauh-jauh ke laut deh.

Sebelumnya, terima kasih buat Yumeeee, Natsumi Kyoko dan mariarengganis karena sudah me-review. Arigatou~

Nah, minna-san dan para senpai dimohon saran atau kritik yang membangun agar fic ini bisa menjadi lebih baik kedepannya.

Ditunggu ya!

Terima kasih sudah mau membaca ! See you again ! #bow