Stalker Conflict Chapter 4
Genre : Romance, Family, Humor
Rate : T
Disclaimer : Ehem, I don't own Brothers Conflict, I just own the story.
Realization
Ruangan kamar hotel yang cukup mewah itu begitu dingin karena suhu Air Conditioner yng disetel begitu rendah. Aku mengosok kedua lenganku dengan telapak tanganku, berusaha untuk tidak menggigil kedinginan. Di hadapanku, di sebuah sofa empuk, Futo sedang asik dengan kertas partitur musik untuk lagu barunya. Beberapa kali, cowok rambut kacang itu menggaruk-garuk kepalanya, terlihat pusing.
"Futo!"
Hening. Tak ada respon.
"Hei Futo-kun!"
Hening lagi. Futo tak bergeming dari pekerjaan yang sedang ditekuninya itu.
Aku memonyongkan mulutku, sebal. Sial, aku dikacangin. Kacang lagi mahal nih. Nggak laku!
Akhirnya, aku beranjak menuju meja kecil yang ada di samping tempat tidur dan mengambil sebuah remote televisi. Bosen tidak memiliki kegiatan yang menarik, berharap banget televisi itu bisa menghilangkan kebosananku. Aku menekan tombol on dan telivisi pun menyangkan sebuah channel berita malam.
"Hei cewek gila! Matiin tivi-nya! Aku nggak bisa kosentrasi!" seru Futo tanpa menoleh dari kertasnya.
Aku makin memonyongkan mulutku. Aku menekan tombol off, layar televisi pun menghitam lalu aku pun menghempaskan tubuhku ke kasur yang tak jauh dari tempatku berdiri. Aku duduk bersila di atas kasur. "Futo! Aku bosen! Lagian, kenapa nggak kamu biarkan aku pulang aja? Aku nggak ngerti deh, mau kamu tuh apa dengan menahanku disini?"
Futo tertawa kecil. Posisiku saat ini sedang berada di belakang Futo, aku hanya bisa melihat punggung cowok yang sebenarnya lebih muda itu namun berlagak kayak om-om genit, ehem.
"Kamu sendiri belum mau menjawab, mengapa kamu membuntutiku," ujar Futo tanpa menoleh ke arahku.
Aku terkekeh ragu. "Kan... sudah kubilang, mau menawarkan susu segar."
Futo mendesah. "Alasan bodoh itu tak mempan."
"Ya sudah. Kau tak perlu tau! Itu tak penting!"
"Kalau begitu, aku takkan memulangkanmu malam ini," balas Futo dengan nada menggoda yang bikin aku merinding.
"Aku banyak urusan tau!" seruku geram.
Futo tak menggubris seruanku.
"HEI! Kamu tuh telinganya berfungsi kan?"
Hening.
"Aku lebih tua dari kamu loh! Sopan dikit kek!"
Hening.
Urat kekesalan bermunculan di keningku.
"IDOLA-MULUT-BUSUK BAU KENCUR! KUSUMPAHIN KAMU BA-"
"Aku akan menyerangmu kalau kamu nggak tutup mulut," potong Futo dengan nada rendah yang benar-benar bikin aku merinding.
Aku terkesiap kaget. Aku bisa mendengar deru jantungku tiba-tiba mengeras, dan mulai memanasnya kedua pipiku. Aku hanya bisa membalas dengan sebuah bisikan kelu, "Kau gila."
Setelahnya, aku hanya dapat memonyongkan mulutku.
Aku bosan. Bosan. Bosan. Urgh.
Aku mengingat-ingat hal-hal apa yang kutemukan akhir-akhir ini. Ah, lagu "Anata no Mirai" milik Futo bagus. Aku bahkan tidak menyangka orang se-twisted dia bisa buat lagu seperti itu. Tanpa kusadari, aku bersenandung. Cukup lama aku bersenandung, tiba-tiba Futo memotong senandunganku.
"Kamu bersenandung?" tanya Futo dengan nada penasaran dan tubuhnya berbalik mengarah padaku, tak lagi membelakangiku. Tapi ia masih di tempat duduknya.
Aku mengangguk. "Iyalah. Aku nggak keliatan lagi ngorok kan?"
Futo terdiam sesaat. "Lagu apa?"
Aku mengernyitkan keningku. "Ha? Itu lagu Anata no Mirai, lagu punyamu. Kok nanya sih?"
Futo terdiam lagi. "Coba dinyanyikan! Jangan hanya disenandungkan!"
Keningku makin mengernyit. "Buat apa aku nyanyi buat kamu?"
"Nyanyi aja!" perintah Futo dengan tampang serius.
Aku memonyongkan mulutku, sebal. Apa-apaan sih ini cowok? Aneh deh. Memangnya ada apa dengan nyanyianku? Tapi, akhirnya aku pun menyanyikannya.
Aku terus bernyanyi sambil berusaha untuk mengkhayati. Aku jarang nyanyi sih, tidak hobi. Aku sudah melewati bagian ref, tiba-tiba sebuah ledakan tawa terdengar.
"HUAHAHAHAHAHAHA~! Gila! HAHAHAHA~!" Futo tertawa terbahak-bahak di sofa. Ia memegangi perutnya, menahan sakit karena tawa yang begitu keras.
Aku cengo. Apa yang lucu?
"HAHAHAHAHA~!" Futo guling-guling di sofanya.
"Hei! Apa yang lucu dengan nyanyianku?"
Futo masih tertawa terbahak-bahak.
Aku memonyongkan mulutku. Sial, kapan dia bakal berhenti tertawanya?
"HAHAHAHAHA~ Itu nyanyian benar-benar off-cord banget! HAHAHAHA! Hampir semua nadanya salah! HAHAHA! Kamu buta nada ya? HAHAHAHAHA~! Aduuuhhh, lucu banget nyanyiannya! HAHAHAHA~!" Futo guling-guling di sofa dengan heboh.
Aku ternganga. "Siapa yang buta nada? Aku?"
Futo beranjak dari sofa dan menghampiriku yang masih duduk di kasur. Tawanya sudah sedikit mereda. "Hahaha, orang-orang waktu dengar nyanyianmu bilang apa sih? Kamu nggak nyadar gitu?"
"Hmmm... mereka bilang nyanyianku unik. Itu aja kok! Yah, walau memang nilai seni musikku jelek sih." Aku menggaruk-garuk kepalaku.
Futo tertawa geli. Ia naik ke atas kasur dan duduk di depanku. "Unik? Hahaha, itu sih jelas-jelas mereka nyadar kalau kamu buta nada. Baik banget sih mereka. Hahahaha..."
Aku mendengus kesal, tidak mau menerima kenyataan yang ia sodorkan. "Teserah deh! Suka-suka aku mau nyanyi kayak apa!"
Futo masih tertawa lalu ia mengulurkan tangan kanannya ke hidungku lalu mencubitnya. "Kamu lucu juga ya, Aika-san."
Deg!
Itu... itu... itu pertama kalinya dia mengucapkan namaku!
Futo melepas cubitannya dari hidungku lalu turun dari kasur dan kembali duduk di sofa, mengambil beberapa kertas partiturnya. "Tidurlah, waktu sudah malam."
Mulutku menganga, tidak menduga akan sikap lembut yang ia tujukan kepadaku. Aku membaringkan badanku di kasur empuk nan hangat kemudian menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Aku bisa merasakan kehangatan di kedua pipiku dan kerasnya deru jantungku yang sudah menggila. Aku memejamkan mata, membayangkan Futo yang tawa gelinya sesekali masih terdengar, juga Lucy yang sendirian di rumah, laptop yang berisi naskah novel yang belum selesai dan email-email dari Yuusuke yang belum kubalas. Lama-kelamaan aku merasa dunia mulai menghitam dan-
Aku pun jatuh tertidur.
.
.
.
Dingin. Dimana ini? Gelap. Dimana-mana gelap. Dingin dan gelap. Aku tertawa kecil dengan nada sendu, mengejek nasibku yang memang gelap dan dingin. Aku menghela nafas, uap-uap hangat keluar dari mulutku. Suhu di sekelilingku perlahan menurun drastis. Aku mulai menggigil.
Shuuuu...
Kehangatan tiba-tiba datang. Aku tercekat. Darimana datangnya kehangatan ini?
Tak ada yang menjawab pertanyaanku. Aku kembali menatap sekelilingku. Tetap gelap seperti sebelumnya tapi... hangat.
Aku tersenyum.
Akhirnya, aku merasakan kehangatan juga,
.
.
.
Rasanya begitu berat namun aku pun memaksakan satu-persatu mataku untuk terbuka. Aku menyadari bahwa aku telah tertidur. Cahaya remang-remang masuk ke area pandangan dan aku hanya bisa melihat siluet kecoklatan. Semua yang kulihat tampak rabun. Aku mengerjapkan mata beberapa kali, lalu-
Aku tersentak oleh apa yang baru saja kusadari.
Aku terbaring di atas kasur dengan keadaan diselimuti dan, Oh My God! Demi Lucy yang emang cerewet! Futo memelukku dari samping! Tepat di depanku, aku dapat melihat jakun di leher Futo! Suara dengkuran halus pun berseliweran di sekitar telingaku, mulutnya yang mungkin-aku tak begitu yakin, karena dari sudut pandangku saat ini, aku hanya bisa melihat lehernya-terbuka sedikit, menghembuskan udara hangat yang menerbangkan beberapa helai poni rambut hitamku! Aaaahh!
Aku menelan ludah. Ah, kehangatan ini, aku ingat.
Mimpi itu...
Futo bergumam tentang sesuatu lalu kedua lengannya semakin mempererat pelukannya. Aku jadi susah nafas.
"Fu-futo," Aku berusaha meregangkan pelukannya.
"Cewek... gila." Futo bergumam.
Deg!
Apa-apaan igauan tadi? Jantungku mulai marathon dan pipiku sudah memerah. Aku makin berusaha melepaskan pelukan Futo.
Futo mulai mengigau lagi. "Ehmm... Ja-jangan..."
Ha?
"Ehmm... Dasar... mesum... kamu... cewek... gila..." Futo kembali mengigau.
... Krik krik krik...
APA MAKSUDNYA ITUUU?! teriak hatiku histeris.
Pikiranku berkunang-kunang. Detak jantungku berpacu sangat cepat dan mulutku megap-megap. Oh, demi Yuusuke yang emang Tsundere! Apa sih yang dimimpiin idola-mesum iniii~?!
Blink!
Tiba-tiba Futo membuka kedua matanya. Aku tentu saja kaget. Lalu cengiran lebar terpampang dengan sombongnya di wajah tampan itu.
"Hehehe... kamu mikir apa cewek gila?" Futo terkekeh geli. "Dasar mesum."
... Siiii~ng!
Kesadaran pun mulai kembali kepadaku. Dia membohongiku! Siaaalll~
BAKK!
"Aw!" Futo merintih.
Dan sebuah pukulan penuh dendam pun mendarat di perut idola-tak-tau-diri itu.
Grrr! Aku memejamkan kedua mataku, akal sehatku mulai kembali utuh dan aku kembali teringat betapa aku BEN-CI, ehem, sekali lagi, BEN-CI kepada cowok yang sedang merintih kesakitan itu.
.
.
.
Ruangan OSIS begitu sepi. Liburan pergantian kelas memang sedang berlangsung. Tentu saja, hanya segelintir anggota OSIS yang hadir untuk memenuhi tanggung jawab mereka. Aku dengan langkah gontai memasuki Ruang OSIS.
"Ohayou, Aika!" sapa Rumi ceria, yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris OSIS di Hakode High School.
Aku tersenyum kepada gadis manis berambut pendek sebahu itu. "Ohayou, Rumi! Sibuk?" Aku berjalan menuju sebuah sofa dan duduk disitu dengan malas.
Rumi mendesah. "Pastinya! Walau ini masih bulan maret, murid baru akan datang beberapa hari lagi dan OSIS masih belum menyelesaikan segala macam bentuk proposal kegiatan untuk murid baru. Kuharap kau masih Wakil Ketua OSIS kami." Rumi memandangku sendu.
Aku tersenyum kecut. "Aih, walau aku bukan anggota OSIS lagi, aku masih bisa bantu-bantu loh! Tapi terbatas pastinya. Aku tak terlalu suka repot di OSIS."
Rumi terkikik kecil. "Yep, Aika emang selalu sibuk dan benci hal-hal yang merepotkan. Aku sampai merasa geli sekali ketika melihatmu tak bisa menolak permintaan para murid untuk menjadi Wakil Ketua OSIS. Kau memang terkenal!"
Aku melengos. "Aku bersyukur aku bisa lepas gara-gara kasus waktu itu." Ya, karena kasus itu pula aku menjauh dari Yuusuke.
Rumi menghampiriku. "Dan memang pada dasarnya kamu pemalas. Aku bahkan kaget ketika tau kamu sibuk bekerja."
Aku memonyongkan mulut, cukup kesal. "Hei, aku bukan pemalas! Hanya bosan."
Rumi terkikik geli. "Itu sama saja!"
"Jadi," aku memajukan tubuhku ke arah Rumi, "ada perlu apa denganku? Aku sudah berbaik hati loh, mau susah-susah datang ke sini demi kamu."
Rumi tersenyum misterius. "Kau akan suka ini. Kau tau, seorang idola akan masuk ke sekolah kita dan kepala sekolah juga para guru menentukan untuk adanya aturan baru. Akan sangat kacau, kalau tidak membatasi pergerakan para murid kan. Aku ingin kau yang membuat aturan baru itu dan menjadi penanggung jawab kalau-kalau ada sesuatu terhadap idola itu. Lagian, kau lagi bosan kan?"
Aku mengernyit. "Kenapa harus aku?"
Rumi menyengir lebar. "Karena idola itu Asakura Futo."
Aku melebarkan mataku. "APPA?"
"Kau fans-nya kan? Hihi. Selamat ya! Aku sengaja loh minta ke anggota OSIS yang lain kalau kamu saja yang jadi penanggung jawabnya."
Aku tak membalas perkataan Rumi, hanya bisa menundukkan wajah dan mengurut keningku.
Sial, kenapa aku harus berurusan dengan dia lagi?
Rumi memegang pundakku, wajahnya terlihat heran. "Aika? Kok kamu nggak keliatan senang?"
"Karena aku emang nggak senang dengan permintaanmu."
.
.
.
Rumahku yang biasanya sepi cukup meriah kali ini. Hari ini tepat tanggal 31 Maret dan merupakan hari ulang tahun Yuusuke. Aku berusaha sekuat tenaga untuk meminta Yuusuke menerima perayaan ini, dan aku berhasil! Yey! Awalnya dia nggak mau loh! Dasar Pemalu!
Ema, Masaomi-san dan Ukyo-san hadir untuk memeriahkan acara. Awalnya Wataru-kun mau datang tapi sudah ketiduran ketika mau ke rumahku. Malam sih.
Aku awalnya tak menyangka mereka akan datang, rencana sih hanya mengundang Ema. Hihi, aku memang ada maksud lain. Yuusuke kan suka dengan Ema, ada niatan buat ninggalin mereka berdua tapi rencana itu pun dibatalkan sejak ada dua orang lain yang hadir malam ini.
Yuusuke menatap kue yang baru saja kuletakkan di atas meja makan. Kue dengan lapisan warna merah dan tulisan "Happy Birthday Yuusuke" itu ditatap dengan tajam oleh Yuusuke. Aku jadi heran dengan sikapnya itu.
"Kamu ngapain sih? Kuenya nggak beracun kok!" Aku menggerutu.
Yuusuke memalingkan tatapannya dari kue dan berpindah kepadaku. "Nggak, bukan itu. Aku jadi ingat waktu kau membelikanku Melon Pan waktu aku ulang tahun setahun yang lalu. Itu aja."
Aku terkikik geli. "Maaf deh, waktu itu aku kan taunya tiba-tiba. Kamunya nggak bilang-bilang sih. Sekarang kan aku sudah ada persiapan."
"Kalian dekat ya?" seru Ema memotong pembicaraanku dengan Yuusuke.
"Aaaah...," aku menggaruk-garuk kepalaku, "lumayanlah. Kita kan sekelas dulu."
"Oh." Ema mengangguk-angguk, tidak lagi terlihat penasaran.
"Tapi saya nggak nyangka loh Yuusuke bisa punya teman dekat cewek," ujar Ukyo-san heran sambil menyiapkan beberapa piring di atas meja.
"Iya. Saya juga heran," tambah Masaomi-san dengan nada heran. Pria satu itu lagi asik dengan beberapa boneka buatanku. Hihi, lucu sekali melihat seorang pria dewasa bermain dengan boneka.
Yuusuke berdehem. "Awalnya kita ketemu, sempat musuhan. Entah apa yang ngebuat kita dekat. Oya! Dia unik sih! Dia kalau sudah ngomong kadang nggak dipikirin dulu, langsung aja nyerocos tanpa sensor. Cerewet banget! Padahal lemah gitu."
Aku memonyongkan mulutku. "Hei! Kalau sudah sifat, tidak bisa diubah kan?"
Yuusuke terkikik geli. "Tuh! Liat deh! Kebiasaan lain yang aneh. Monyongin mulut. Lama-lama dower tuh bibir!"
Aku menggeram. "Yuusuke! Awas kau!"
Yuusuke masih terkikik geli.
"Tuh kan," ujar Ema dengan nada yakin. "Kalian emang dekat banget tau keliatannya!"
Yuusuke menghentikan cekikikannya.
Aku yang gantian terkikik. "Ema-chan, aku memang kalau ngobrol sama dia seperti ini kok!"
Ema gantian antara memandangiku dan Yuusuke. "Hmmm... Kalian cocok ya? Kalau pacaran pasti langgeng."
Deg.
Aku melirik wajah Yuusuke. Pucat. Aku jadi kasian.
"Kami nggak cocok buat jadi pacar. Lebih jadi sahabat, ya kan Yuusuke? Sudah ah! Ayo kita mulai tiup lilinnya! Yuusuke! Tiup lilinnya!" Aku mengelurkan dua buah lilin yang bertuliskan 17.
"Ogah ah!" seru Yuusuke yang wajahnya awalnya pucat berubah memerah. "Nggak usah ada tiup lilin!"
Aku menatap Yuusuke kesal. Mata mulai berair. Hening sejenak.
Yuusuke mendesah sebal. "Iya deh, iya! Sial!"
Aku melonjak kegirangan. "Asiiik! Masaomi-san! Jangan lupa difoto!"
Masaomi-san mengacungkan jempolnya. "Sip!"
Yuusuke menganga lebar. "Ngapain difoto? Aikaaaa! Kamu punya niatan apa haa?"
Aku menatap Yuusuke dengan bingung. "Buat kenang-kenangan lah."
"Jangan!" teriak Yuusuke dengan wajah merah.
Aku menatap Yuusuke sendu. Mata mulai berair lagi. Hening sejenak.
Yuusuke menggaruk-garuk rambutnya ganas. "Iya deh, iya! Siaaaalll..."
Aku tersenyum senang lalu memeluk Yuusuke dengan erat. "Selamat ulang tahun Yuusuke!"
.
.
.
Hari pertama ajaran baru telah tiba-tiba. Banyak sekali murid-murid dengan wajah yang tidak kukenal. Aku tersenyum menyadari bahwa aku sudah kelas 3 sekarang. Setahun lagi, aku akan bebas dari tanggung jawab untuk belajar! Yuhuw!
TAPI. Aku menghela nafas panjang. Sudah setengah jam aku keliling denah sekolah untuk mencari idola-tukang-bolos itu, namun aku belum bisa menemukannya. Dimana sih dia?
Aku menghentak-hentakkan kakiku selama aku berjalan. Aku sekarang sudah berada di sudut gedung C dimana pohon-pohon sakura bermekaran dengan indahnya. Angin berhembus dengan lembut, membawa atmosfer yangbegitu nyaman. Aih, aku jadi ngantuk.
Aku terus berjalan hingga aku melihat Ema di kejauhan. Sedang apa gadis itu disana? Ema terlihat sedang bersama seseorang. Seorang cowok. Aku mendekat perlahan sambil berusaha untuk tidak ketahuan oleh mereka berdua. Aku sedikit bisa mendengar pembicaraan mereka walau samar-samar.
Futo mendekatkan wajahnya ke arah Ema dan berkata,"Jika onee-san ingin kabur, inilah saatnya."
Ema memalingkan wajahnya dengan pipi yang memerah.
Futo tersenyum senang. "Jadi, kau takkan kabur." Futo memegang pipi Ema lembut, lalu mendekatkan wajahnya. "Aku akan melakukannya sesuka kalau begitu." Wajah Futo kian dekat dengan Ema dan jarak antar bibir mereka juga tinggal beberapa sentimeter lagi.
Nyut!
Aku memegang dadaku. Sakit. Aku menggigit bibir bawahku lalu membalikkan badanku dan mulai berlari menjauh. mejauh sejauh mungkin dari kedua orang itu. Sakit. Aku tidak tau kenapa tapi dadaku begitu perih. Air mata sudah di ujung mata tapi aku harus tetap menahannya. Kenapa? Kenapa dadaku begitu perih?
Aku terus berlari lalu menabrak seseorang. Seseorang dengan rambut berwarna merah.
"Ma-maaf." Aku menundukkan wajahku.
Orang itu tidak mengatakan apa pun tapi ia berjongkok dan berusaha untuk melihat wajahku.
"Aika? Ada apa? Kamu tampak seperti ingin-"
Tes!
Tanpa bisa lagi kubendung, aku menangis. Ya, menangis!
"Huwaaa~!"
Aku menghambur ke pelukan Yuusuke, menggenggam erat seragam cowok itu dengan sekuat tenaga sambil melepaskan semua emosi kesedihan yang ada di dada. Yuusuke awalnya kelabakan tapi akhirnya ia membalas pelukanku sambil mengusap punggungku, berusaha untuk membuatku nyaman.
Dadaku semakin sakit ketika menyadari itu.
Yuusuke menyukai Ema. tapi Ema dan Futo telah-
Ah, aku tak bisa mengatakannya. tak bisa.
Dan aku takkan memberitahu Yuusuke. Cowok itu akan sedih dan itu tak boleh terjadi. Yuusuke tak boleh sedih. Karena aku sayang Yuusuke.
To be continued...
UTS telah berakhir! Yeeeaaahhh! #jingkrakjingkrak
Hehe, maaf atas ketidakwarasan saya readers.
Nah, inilah chapter 4 dari Seri StaCon! Semoga readers suka!
Ditunggu kritik, saran dan masukannya ya!
Terima kasih banyak! #bow
