.

Stalker Conflict Chapter 5

Genre : Romance, Family, Humor

Rate : T

Disclaimer : Ehem, I don't own Brothers Conflict, I just own the story and few OCs.

.

.

After Effect

Udara dingin bertiup di sekeliling badanku yang sedang meluncur di atas Skate Ring. Aku terus meluncur dan meningkatkan kecepatanku hingga pemandangan di sekitarku melebur. Selagi meluncur, aku melakukan beberapa trick dengan gerakan cepat dan-

BRUKK!

"Argh." Aku terjatuh ke depan dengan pipi yang lebih dulu menyium lantai es.

"Aika!" teriak seorang cewek manis berambut sebahu keriting sambil meluncur menghampiriku.

Aku yang terjerebab ke depan memegang pipiku yang perih. Aku merintih kesakitan tatkala merasakan pipiku yang tergores es.

"Aika! Kamu nggak apa-apa? Waaa! Kamu luka!" Yuki, salah seorang temanku yang merupakan atlit Ice Skating tampak panik ketika melihat luka di pipiku.

Aku berusaha tersenyum. "Aku nggak apa."

Yuki mengulurkan tangannya dan aku menerimanya. Yuki membantuku berdiri dan mengantarkanku keluar Skate Ring. Setelah di obati oleh Intruktur Jenny, aku kembali ke Skate Ring dan mulai bermain meskipun Yuki dengan cerewetnya melarangku kembali bermain. Aih, temenku satu itu emang cerewet dan over-protective. Ck ck.

Aku terus meluncur, melakukan beberapa trick sampai aku yakin tenaga dan pikiranku tidak lagi mengingat kejadian kemarin.

Setelah puas bermain, aku mengepak sepatu skate-ku, bersiap pulang dan tidak lupa melambai ke arah Yuki yang masih asik berlatih untuk pertandingan nasional yang tidak lama lagi.

"Aku pulang ya! Bye, Yuki-san!"

Yuki balas melambai dengan semangat. "Bye bye, honey! Hati-hati pulangnya! Jangan keluyuran malam-malam!"

Aku tersenyum kecil dengan petuah Yuki. Dasar, padahal dia hanya lebih tua setahun dariku.

Aku melangkah menuju pintu keluar gedung Ice Skating dan terkejut mendapati Yuusuke sedang bersender di salah satu pilar gedung. Ketika Yuusuke melihatku, ia langsung menghampiriku.

"Kau lama." Yuusuke cemberut. Pipinya sedikit memerah hampir menyaingi warna rambutnya karena udara dingin. Walau ini sudah musim semi, udara malam ini cukup dingin hingga cukup membuatmu malas untuk keluar rumah.

Aku menatapnya bingung. "Ngapain kamu disini?"

Yuusuke tidak menjawab pertanyaanku dan malah meraih tanganku dan menariknya. Aku diseret dengan paksa. "Ikut aku."

"Mau kemana sih?"

Yuusuke tidak membalas dan terus menarikku menuju halte bus.

Aku menatap punggung Yuusuke dan menghela nafas panjang. Rasa itu masih menggelayut di dadaku. Begitu menyesakkan dan perih.

Kami pun naik Bis dan duduk di kursi paling belakang. Yuusuke masih menggenggam tangan kananku, aku tersenyum ketika menyadari betapa sikapnya membuatku sedikit lebih baik.

Bis berjalan dengan lambat, gambaran toko-toko bergerak membawa warna-warni di malam hari yang dingin ini. Aku melirik Yuusuke yang lagi asik mengutak-atik handphone-nya.

"Hei, Yuusuke."

"Hm?" balas Yuusuke tanpa mengalihkan pandangannya dari layar handphone-nya.

"Genggaman tanganmu hangat juga ya," ujarku dengan cengiran lebar.

Yuusuke menatap tangan kami yang masih bertaut dan langsung melepaskannya ketika menyadari apa yang sedang ia lakukan. Aku sedikit kecewa dengan tindakannya.

"Go- gomen." Wajah Yuusuke sedikit memerah.

Aku terkikik geli. "It's okay. Aku merasa lebih tenang ketika kau menggenggam tanganku. Hangat. Rasanya mungkin bakal seperti ini jika punya kakak."

Yuusuke menatapku lekat lalu tersenyum malu-malu. "Heee, kakak? Boleh juga tuh."

Aku memonyongkan mulutku. "Jangan ge-er deh! Anyway, kamu mau bawa aku kemana sih?"

Yuusuke nyengir lebar. "Seperti biasa, bersenang-senang. Main di arcade. Makan sampai kenyang. Gimana?"

"Haa? Ogah ah. Besok kita masih sekolah tau!" seruku malas.

Yuusuke mengacak-acak rambutku. "Sudah deh! Terima aja. Kemarin kamu murung banget, aku jadi khawatir tau."

Aku menatap mata Yuusuke lalu tersenyum. "Aku baru sadar, kalau kamu bareng aku Tsundere-mu nggak terlalu nampak ya."

Yuusuke mencibir. "Siapa yang Tsundere?"

"Kamu lah. Siapa lagi? Liat aja pas kamu bareng Ema, muka kamu kayak kepiting rebus mulu. Omongannya juga gagap-gagap gitu." Aku menatap jendela dengan sebuah senyuman. "Aku cukup senang loh, karena itu membuktikan kalau kamu nyaman bersamaku." Walau kau tak mencintaiku.

Yuusuke tak langsung menjawab perkataanku, tapi ia mencubit pipiku dan terkekeh, "Kamu kan sahabatku."

Aku memindahkan tatapanku dari jendela ke wajah Yuusuke. "Yuusuke, aku..." Aku terdiam.

Yuusuke balas menatapku lekat. "Apa?"

"Aku minta maaf. Waktu itu, aku menjauhimu." Aku menundukkan wajahku. Aku kembali teringat setahun lalu tatkala dengan bodohnya menjauhi Yuusuke hanya karena hal sepele. Ah, bukan, itu bukan hal sepele sebenarnya. Itu bahkan…

"Kamu nggak perlu minta maaf. Aku ngerti kok."

Aku menengadahkan wajahku. "Benarkah?"

Yuusuke tertawa geli. "Ya iyalah. Kamu itu gampang ketebak tau! Kamu menjauhiku karena nggak ingin aku ikut terbawa-bawa kasus penggelapan soal ujian itu kan?"

Aku meringis dalam hati tapi aku hanya bisa diam, tidak mengiyakan maupun menangkis.

Yuusuke menghela nafas panjang. "Kamu itu pintar tapi kadang bego juga ya."

"Ha? Siapa yang bego?" seruku tak terima.

"Iya, bego. Hal gitu aku rela kok ikut-ikutan, karena aku jadi bisa melindungimu."

Aku bisa merasakan pipiku memanas. "Cukup! Yuusuke yang gombal bukan Yuusuke!"

Pipi Yuusuke sedikit memerah tapi ia menampakkan wajah cemberut yang lucu. "Teserah kamu deh. Ck."

Aku terkikik geli.

Hening beberapa saat. Yuusuke akhirnya memecah keheningan yang sedikit membuat atmosfer menjadi berat.

"Kamu nggak bakal menjauh lagi kan?" tanya Yuusuke, lebih tepatnya berbisik.

Aku terperangah, sempat ragu tapi pada akhirnya tersenyum. "Nggak bakal. Lagian, aku masih punya misi untuk membuatmu jadian dengan Ema. Hehe."

Wajah Yuusuke memerah. "Kamu nggak perlu ikut campur!"

"Hahaha, iya deh."

Tapi, bohong, batinku.

.

.

.

Aku sedang asik berkeliling studio yang kebetulan hari ini adalah pencocokan baju bagi para aktor dan aktris. Aku pun menggunakan kesempatan ini untuk berdiskusi dengan para pemain jikalau ada hal yang perlu dipertanyakan tentang peran mereka.

Setelah berdiskusi dengan kedua pemain utama, aku pun saat ini berjalan menuju ruangan tempat Futo berada. Aku membuka pintu ruangan dan menemukan Futo sedang bergaya di depan cermin besar. Ia sedang mengenakan Yukata yang, kalau menurutku, sedikit berantakan. Tsk, tapi kenapa ia selalu terlihat tampan sih.

Futo menoleh tatkala mendengar suara pintu dibuka.

"Baliknya cepat sekali, Louis-nii. Sudah menemukan ca- Cewek gila? Sedang apa kau?" wajah Futo tampak sedikit kaget tapi tidak lama, setelahnya ia malah tampak senang.

"Hai," ujarku sedikit berbisik. Aku menutup pintu di belakangku dengan perlahan.

"Ada urusan apa kamu? Aku nggak yakin kau sedang melakukan pedekate denganku," ujarnya sambil nyengir lebar.

Aku memonyongkan mulutku. "Siapa yang mau pedekate? Mimpi aja kamu!"

"Jadi," mata Futo mengerling, "apa tujuanmu?"

Aku tak langsung menjawab. Aku menatap yukata yang dikenakan Futo lalu menghampiri Futo yang berada di depan cermin, meraih obi yang berantakan dan berusaha memperbaikinya. Futo yang menyadari niatku, langsung mengangkat kedua tangannya, membuatku jadi lebih mudah merapikan Yukata Futo.

Karena kegiatan mengencangkan dan merapikan obi ini, tubuhku dan tubuhnya hanya berjarak beberapa senti. Akibatnya, aku jadi dapat mencium wangi tubuh Futo. Aku mengerutkan keningku, berusaha untuk fokus.

"Selesai," ujarku puas sambil menatap penampilan Futo.

Futo tersenyum geli lalu memajukan tubuhnya ke arahku. "Aika-san ternyata datang untuk menggodaku ya."

Aku bisa merasakan aliran darahku memacu dengan cepat, tapi aku berusaha untuk terlihat tetap tenang. Aku memindahkan tatapanku dan beralih menatap sekeliling ruangan.

"Aku kesini untuk berdiskusi," aku mengawali.

"Hm~ oh iya, kamu penulis naskah film ini ya. Hee~ lalu?"

"Bagaimana interpretasimu mengenai peran Yuuya? Sudah cukup kenal dan menguasai?" lanjutku, menyelidik.

Futo tampak berpikir. "Aku cukup mengerti karakter Yuuya, tapi…" ia terdiam sesaat lalu wajahnya berubah jengkel. "Aku tidak suka dengan pilihan dia pada akhirnya."

Aku memutar bola mataku. "Maksudmu, ketika ia mengalah?"

Futo nyengir. "Tuh, tahu."

Aku memonyongkan mulutku. "Hmph! Aku berani bertaruh, kamu pasti nggak bakal mau menyerahkan gadis yang kamu suka pada orang lain ya? Meskipun gadis itu tak menyukaimu."

Futo tertawa geli. "Kamu benar-benar mengerti aku."

"Tapi, itu menunjukkan seberapa dangkal cintamu padanya," ujarku dengan nada sarkastik.

Futo berhenti tertawa, ia memandangku tajam. "Apa maksudmu?"

"Ketika kita mencintai seseorang, hal yang paling penting adalah kebahagian orang itu. Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Tapi, itu menurutku sih. Kalau menurut kamu itu adalah caramu mencintai, aku nggak punya hak lebih untuk berkomentar. TA-PI, kamu harus ingat, Yuuya berbeda denganmu. Mengerti?"

Aku melirik Futo yang masih tidak bergeming. Aku merasakan mual di perutku. Aduh, biasanya aku tak seperti ini. Aku biasanya mengeluarkan apa yang menurutku benar tanpa berpikir panjang, tapi, kalau berhadapan dengan Futo, berpikir saja tidak bisa apa lagi berbicara terus terang. Rasanya susah sekali.

"Hei, Aika-san. Apa ini berdasarkan pengalaman?" Tanya Futo, kembali dengan cengiran meremehkannya.

Aku terdiam. Sekelebat memori melintas di kepalaku. Aku menggigit bibirku.

"Tidak. Ini berdasarkan buku-buku yang kubaca," bohongku.

Cengiran Futo melebar. Ia mulai melangkah mendekatiku. Aku merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi, dan dengan reflek aku melangkah mundur. Mataku terpaku pada wajah Futo yang tampak senang.

"Ma- mau apa kamu?" bisikku.

Futo mengulurkan tangannya ke wajahku, matanya menatapku tajam, membuatku terpaku, dan-

Ckrek! Suara pintu terbuka.

"Futo, Rika-san bakal kembali sepuluh menit lagi. Ah- hemmm…" matanya berkilat senang, "Aika-chan?"

Aku menoleh ke sumber suara. Di pintu masuk, seorang pria berambut light ash brown bergelombang yang diikat ke belakang menatap penasaran ke arah kami. Aku memutar otakku. Kalau tidak salah…

"Louis-san?"

Louis-san tersenyum. "Ini pertama kalinya… kita ketemu…"

Aku balas tersenyum lalu menghampiri Louis-san, meninggalkan Futo yang mendesah kesal.

Uwaah, aku selamat!

"Halo, Louis-san! Senang bisa bertemu denganmu," aku mengulurkan tanganku.

"Senang bisa bertemu denganmu juga, Aika-chan." Louis-san menerima uluran tanganku. Wah, pria ini memiliki senyuman yang manis.

"Tahu darimana tentangku, Louis-san?" tanyaku penasaran.

"Chii-chan pernah… bercerita tentangmu. Ah, beberapa… kali. Ia… tampak menyukaimu dan aku pernah ditunjukkan… fotomu olehnya," jawab Louis-san lembut. Aah, suaranya bikin aku ngantuk. Ehem.

"Oh, begitu."

"Louis-nii balik terlalu cepat!" seru Futo, terdengar sedikit kesal. Sedikit. Karena, dari suara dan sikapnya, aku juga bisa menangkap betapa pemuda itu menghormati Louis. Hmmm.

Louis-san tertawa geli. "Oh. Apa aku perlu pergi lagi?"

"JANGAN!" teriakku, spontan. Ah-

Louis-san memiringkan kepalanya, menatapku heran. "Aika-chan?"

"A- anu…" pipiku memanas. Aduh, kenapa aku teriak sih.

"Buh- hahahaha…!" Futo tiba-tiba tertawa. "Hahaha! Aika-san memang tidak pernah mengecawakanku! Hahaha!"

Aku memonyongkan mulutku. "What do you mean, Futo-kun?"

"Hahaha! Seperti biasa…" Futo mengangkat kedua tangannya, "tak terduga! Hahaha!"

"Hmph," Aku mengembungkan kedua pipiku, "berhenti tertawa! Aku bukan badut!"

Beberapa detik kemudian, tawa Futo pun reda. Argh, kepalaku berasa panas. Kesal campur malu. Memangnya aku punya bakat jadi badut apa? Lagian, apa yang lucu sih?

"Balik ke topik. Ada hal lain yang ingin kau diskusikan mengenai peranmu?"

Futo nyengir, "Tidak ada, mungkin."

Aku memutar bola mataku. "Oh, ya sudah." Aku menatap Louis-san. "Louis-san, lain kali, aku berharap bisa berbincang-bincang denganmu lagi. Aku mohon pamit."

Louis-san tersenyum hangat. "Ya, tentu saja."

"Hei, hei. Sudah mau pergi?" Tanya Futo, terdengar sedikit kecewa.

Deg! Sesuatu di dadaku menghangat.

Aku melirik Futo. "Iya. Kalau lama-lama bareng kamu, takutnya aku bisa cepat tua!"

Futo terkikik geli.

"Hei, Futo!"

"Hm?"

"Aku menunggu lagu di film ini yang kamu buat."

Futo menaikkan sebelah alisnya. "Wah, aku tak tau kalau kau fans-ku juga."

"Aku bukan fans-mu!" ujarku, dengan penekanan di kata 'bukan'. "Di dirimu, yang bagus cuma lagumu! Jadi, jangan buat aku kecewa!"

Futo tampak terperangah lalu kembali dengan cengiran menyebalkannya. "Oke. Tenang saja. Aku kan jenius!"

"Hmph! Good then. Bye." Aku melirik Louis-san dan tersenyum," see you again, Louis-san."

"See you again, Aika-chan," balas Louis-san sambil sedikit terkikik.

Terkikik? Ah, mungkin cuma perasaanku saja.

.

.

.

Aku menatap kesal ke deretan post-post aneh bin nggak masuk akal. Walau aku membenci Futo, tapi, ketika aku membaca post yang berada di website Anti-Fan Futo Café ini membuatku mual. Ya ampun, orang-orang ini nggak punya otak apa!

"Kamu terlihat kesal, Aika," ujar Lucy kalem. Aku bisa merasakan nada sindiran di perkataannya. Seperti biasa, kucing itu sedang berbaring di pangkuanku ketika aku bermain laptop.

"Orang-orang ini bodoh. Ah, tidak. Beberapa dari mereka. Membaca post mereka membuatku geram."

"Itu tandanya kau masih fans Futo."

Aku mendengus. "Aku punya alasan yang jelas kenapa aku membenci Futo dan itu cukup untuk membuatku berhenti menjadi fans-nya. Walau aku masih menyukai lagu-lagunya."

Lucy ikutan mendengus. "Sama saja."

Aku memonyongkan mulutku. "Beda."

"Sama."

"Beda."

"Sama."

"Beda."

"Beda."

"Sama." Jeda, aku mengerutkan keningku, "Eh-"

Lucy terkikik geli. "Kena kamu."

"Lucy~! Awas kamu!"

.

.

.

Aku menatap langit pagi. Hm~ sejuk sekali. Pagi hari di musim semi itu memang menyenangkan. Apalagi, kalau harinya hari minggu. Makin mantap deh. Aku bersenandung sambil menyirami tanaman di kebun halaman depan rumahku. Beberapa kuncup bunga sudah tampak.

Badanku gemetar karena senang. Asik, asik. Sebentar lagi aku bisa melihat bunga dari bibit yang dikasih Iori-san. Walau pemuda itu sedikit seram, entah karena apa, tapi aku tak bisa memungkiri akan kesenanganku ketika mendapat bibit-bibit bunga ini.

Tanpa bisa kucegah, bibirku memulas sebuah senyuman senang.

"Ohayou, Aika-chan!"

Aku menoleh. "Ema-chan."

Nyut! Sesaat, dadaku terasa sakit. Tapi, aku berusaha untuk mengabaikannya.

"Ohayou!" seruku sambil mematikan keran air.

Ema-chan memasuki halaman rumahku, gadis manis itu tampak cantik dengan atasan soft pin, rok putih selutut dan sandal berhias bunga. "Lagi menyiram bunga?"

"Iya. Ada apa?" tanyaku, penasaran.

"Aku, Tsubaki-san dan Azusa-san mau berbelanja kebutuhan rumah menggantikan Ukyo-san yang sibuk. Aika-chan mau ikut? Aku kangen jalan bareng Aika-chan," jelas Ema-chan menggebu-gebu. Ia tampak begitu semangat.

"Wah, tumben Tsubaki-san dan Azusa-san libur."

"Iya, katanya kebetulan aja lagi nggak ada kerjaan."

Kalau dipikir-pikir, aku sudah menyerahkan naskah novelku untuk jatah bulan ini, jadi aku tak ada kerjaan lagi.

"Oke! Aku ganti baju dulu ya! Masuk aja dulu ke dalam," tawarku.

Ema-chan mengangguk senang. "Ya. Tsubaki-san dan Azusa-san bakal dating lima menit lagi."

"Wah, kalau begitu aku harus cepat-cepat."

.

.

.

Aku menatap dua pria dan satu gadis yang kini sedang berjalan di depanku sambil menenteng plastik belanjaan. Entah kenapa, aku merasakan aura tak enak yang dipancarkan dua seiyuu itu antara satu sama lain. Aku makin bingung ketika Tsubaki-san dan Azusa-san terlihat seperti berebut perhatian Ema-chan ketika kami berbelanja tadi.

Apa firasatku saja ya. Menurut dari yang kulihat sejauh ini, Tsubaki-san dan Azusa-san sepertinya suka dengan…

Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Tidak, tidak, tidak. Mereka kan saudara! Tapi… bukan saudara kandung sih. Lalu, bagaimana dengan Futo? Bukannya Ema-chan dan Futo waktu itu berci- ugh. Pokoknya begitu! Lalu, sekarang Tsubaki-san dan Azusa-san? Lalu, Yuusuke juga. Lagipula, bukannya selama ini aku membantu percintaan Yuusuke? Hmmm, ternyata banyak banget yang suka dengan Ema-chan dan semuanya saudara tirinya. Hmmmm….

Aaaargh, kepalaku pusing!

Aku mengacak rambutku karena tak bisa menyimpulkan keadaan ini.

"Aika-chan?" panggil Ema, khawatir.

Aku menghentikan aktivitas mengacak-rambut-gila-gilaan-ku dan tersenyum manis ke Ema-chan. "Ada apa, Ema-chan?"

"Kamu tidak apa-apa kan?"

"Hahaha, aku tadi kepikiran hal tidak enak saja. Aku nggak apa-apa kok sekarang."

"Beneran baik-baik saja?" Kali ini Azusa-san yang tampak khawatir.

Aku mengangguk yakin.

Azusa tersenyum lembut. "Syukurlah."

Tsubaki-san mendekatiku lalu menatapku lekat-lekat. "Kamu keliatan baik-baik saja, tapi kalau sakit bilang ya. Jangan bikin repot okeee~?"

Aku tersenyum mengiyakan. "Okee~!"

Ema-chan masih tampak khawatir. Aduh, gadis manis satu ini hatinya lembut banget sih. Aku berasa kotor nih. Huwhuw.

Ketika kami mulai berjalan lagi, dari kerumunan orang di seberang jalan aku melihat sosok yang sudah lama tak kutemui. Sosok yang menurutku menyenangkan sekali kalau digoda dan sangat dewasa sehingga aku nyaman bersamanya. Sosok yang sejak ARKara's Game Project selesai aku tidak lagi bertemu dengannya. Senyuman merekah di bibirku. Tanpa kusadari, aku sudah meneriakkan nama sosok itu keras-keras. Berharap sosok itu akan menyadari keberadaanku.

"NATSUMEE-CHAAANNN!"

Sosok itu menoleh lalu raut wajahnya berubah kaget ketika melihatku kemudian berubah pucat. Ia mengambil ancang-ancang berlari.

Aku yang menyadari itu langsung saja berlari menuju zebra cross, mengejar sosok berambut orange yang sudah berlari menjauhiku.

.

.

To be continued

.

.


OKE! INI GILA! Bener deh! #ngacak-ngacak_muka

Sempat-sempatnya saya menyelesaikan chapter ini ditengah-tengah tumpukan tugas. Wow. #palm_face

Tapi, yah, lagi ada mood-nya jadinya langsung trobos aja! Hehe!

Jadi readers, mohon kritik saran dan masukan yang membangun agar kedepannya fic-fic saya menjadi lebih baik lagi.

Oh ya, terima kasih sebesar-besarnya untuk BlackLapiz karena terus me-review fic ini. #tears

Dan juga terima kasih untuk para readers karena sudah mau membaca fic saya ini.

See you again, minna! #wave_hand